[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Understanding – Baby Gum

timeline_20170420_001537

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Understanding – Baby Gum

|| EXO’s Oh Sehun, OC’s Nami | Angst | PG ||

Botol kaca itu digenggamnya erat-erat. Netranya kabur sudah. Tak jelas lagi dimanakah dia atau apa yang ia lakukan di sana. Tak tahu arah. Tak tahu harus ke mana. Bahkan sang bayu seolah tak berhembus, enggan memberi petunjuk kepadanya yang kalut. Maka dibiarkannya raga tanpa asa itu mengalir bersama darahnya.

Ada luka yang tertinggal, bekasnya besar tapi tak berwujud. Pun tak bernoda merah seperti wine yang ia tenggak. Tapi rasanya, oh, sungguh menyakitkan! Tak ada penawarnya, apalagi obat. Hanya dia yang dapat merasakannya. Tak ada seorangpun yang tahu, tak ada. Paling tidak itu menurutnya.

Maka Oh Sehun –nama pria itu– terus berjalan sempoyongan. Matipun kini bukan masalah baginya. Bila ia dapat bertemu dengan penoreh luka di hatinya, kenapa tidak? Namun, tidakkah ia ingat bahwa selalu ada yang terlupa olehnya saat sedang mabuk? Tidak pernah ingat mesti hampir setiap malam selalu ada saat dirinya hilang kesadaran? Bodohnya kau, Oh Sehun yang malang.

Di antara langkah gontainya itu, ada langkah kecil yang datang melawan arah langkahnya. Kecil-kecil namun cepat, diiringi suara napas yang terengah-engah. Sehun tak sengaja menabraknya –atau malah orang itu yang sengaja menabrak Sehun– dan membuat lawannya itu terdorong mundur beberapa sentimeter. Karena dalam kondisi mabuk, Sehun sudah hampir meledak dalam amarah, namun terhenti oleh sebuah pelukan cepat dari yang ditabraknya itu.

“Aku mencarimu, Sehun! Ini sudah larut malam dan kau belum juga kembali!” Omel orang itu, yang ternyata adalah Nami, rekan Sehun yang tinggal di asrama putri. Gadis itu kemudian mencium aroma wine dari napas Sehun, semakin marah karena kebiasaan bodoh sahabatnya yang satu itu.

“Kau mabuk lagi, Sehun?! Setiap malam kau begini! Kenapa? Kenapa kau suka sekali mencari penyakit begini?!”

“Aku ingin mati.” Ujar Sehun. Nami tercekat. Meski setiap malam hal ini selalu terjadi berkali-kali seperti rutinitas, Nami tak pernah bisa menahan rasa dalam dirinya. Bulir-bulir bening itu akan selalu menyeruak keluar, membasahi wajahnya, setiap malam, setiap kali ia temukan Sehun seperti ini.

“Kau sia–”

“Ini aku, Nami.” Gadis itu memotong cepat-cepat pertanyaan Sehun. Karena lelaki itu tak akan pernah mengingatnya. Akan selalu bertanya setiap kali bertemu. Apa yang Sehun ingat memangnya selain nama gadis yang telah membuatnya begitu bahagia namun enggan mengajaknya mencicipi kebahagiaan abadi di surga?

“Oh.” Adalah jawaban yang Sehun berikan. Kemudian ia menarik napas panjang dan berujar, “Aku memang sudah sakit, bukannya mencari penyakit.”

Nami mengambil botol wine kosong di tangan Sehun dan membuangnya ke tempat sampah. Kemudian menuntun Sehun untuk pulang, dalam diam, dalam pedihnya tangis yang tertahan.

“Aku rindu Juhee. Apa dia sudah kembali ke kamar asramamu?” Tanya Sehun, masih tetap sempoyongan karena Nami tak cukup kuat untuk menahan berat tubuh lelaki jangkung itu.

“Sehun, sadarlah! Juhee sudah pergi! Dia tak akan kembali, Hun!” Bentak Nami, sesak dadanya karena tangisnya pecah lagi.

“Tidak! Juhee cuma pulang sebentar. Kau tak mengerti, Nami! Dia sudah berjanji akan kembali! Kau tak mengerti! Kau–” ucapan Sehun terputus. Kali ini kristal bening juga menghampiri matanya.

“Kau tak tahu betapa sakit luka ini! Juhee tak memenuhi janjinya untuk– untuk–” lelaki itu terbatuk-batuk. Tak kuasa menahan kesedihannya.

“Biarkan dia pergi, Hun… Dia tak bermaksud melukaimu. Dia tak berniat mengingkari janjinya. Hanya saja… Hanya… Tuhan memanggilnya lebih cepat.”

“BICARA SEPERTI ITU MUDAH, NAMI!” Sehun sungguh meledak kali ini. “KAU TAK TAHU RASANYA JADI AKU! KAU TAK TAHU RASANYA LUKA HATI KARENA DITINGGALKAN YANG TERKASIH!”

Nami terkejut. Bukan main letupan rasa Sehun kali ini. Maka ia berbisik pelan, “Aku tahu Sehun, aku tahu…”

“Jangan sok tahu! Kau belum pernah merasakannya!”

Nami menatap mata Sehun lekat-lekat. “Berhenti minum, Sehun.”

“Kenapa? Apa pedulimu?”

Gadis itu berujar lembut, melontarkan afeksinya.

Sebab aku tak mau tahu rasanya luka hati karena ditinggalkan yang terkasih.

End

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s