[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Fake-Elnano

timeline_20170417_232528

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Fake-Elnano

Oh Sehun & Aruna || Romance || Ficlet || PG.15

.

.

.

.

Terus berlari.

Kaki mungilnya mengayun cepat. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, memastikan sesuatu.

Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, pasokan udara mulai menipis, ia terengah.

Laju larinya mulai melambat, tenaganya hampir terkuras. Ia menyeka dahinya, menyingkirkan anak rambut nakal yang hinggap di sana.

Suara langkah kaki di belakangnya semakin terdengar keras. Oh tidak!

Langit malam yang aram temaram tanpa sinar bulan membuat pandangannya tidak jelas. Berlari di antara gang sempit yang merangkapnya, gadis itu berbelok ke kiri lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menahan napas, tubuhnya semakin merapat tatkala ketukan sepatu yang beradu dengan permukaan bumi mendekat ke arahnya. Iramanya masih konstan, tidak berhenti saat melewatinya.

Angin mendesau menampar lembut wajahnya saat seseorang itu berlari cepat melewatinya begitu saja.

Satu menit terlewati. Ia masih menahan napasnya meski suara langkah kaki itu sudah tidak terdengar lagi.

Satu, dua, tiga. Akhirnya ia menarik napas sebanyaknya. Matanya terpejam, menikmati udara yang sejak tadi menggoda untuk ia hirup.

Lega. Ia lega tidak lagi dikejar oleh seseorang tadi. Nasibnya sedang tidak beruntung. Ia tidak pernah menyangka kejadian ini. Semua ini salahnya. Jika saja dirinya tidak berbuat konyol dengan memberikan kejutan, ia tidak akan mengalami hal ini.

Sesaat ia maju satu langkah, hendak berbelok ke kanan melarikan diri kembali. Namun naas, dewi fortuna tidak berpihak padanya hari ini. Ia menelan saliva kasar saat dinginnya besi menyentuh kulit lehernya.

“Kena kau. Sudah puas bermainnya, sayang?”

Manik membulat, keringat menyeruak, seluruh badannya tremor. Bisikan lembut bagai malaikat kematian tak ayal membuatnya bergidik ngeri.

Memeluknya dari belakang, pergerakannya terkunci. Si gadis mengulurkan tangannya ke belakang, meraba wajah pemuda yang bersandar di bahu mungilnya. Gadis itu yakin, si pemuda pasti membungkuk karena perbedaan tinggi badan mereka.

Si pemuda tanpa merasa bersalah menghirup feromon yang menguar di ceruk leher sang gadis. Terkekeh saat tangan yang terulur di wajahnya sedikit menyakitinya.

“Kukumu tajam sekali.” Si pemuda berbisik di telinga sang gadis, “wanita itu tidak boleh berkuku panjang, jelek, harus dipotong. Aku punya tang di rumah, mau mencoba?”

Takut. Nyali si gadis menciut. “S-Sehun….”

“A-a-apa?” Sehun menjawab tersendat seperti si gadis, mengejeknya.

Kata serapah sudah siap si gadis lontarkan, namun urung menyadari situasi.

Mereka berdiam durja. Si gadis pasrah menunggu keputusan. Sehun diam memainkan mangsanya. Menarik ulur rasa takut si gadis, sesekali besi dingin bergeser sedikit.

“Mana janji kamu yang akan menerima aku apa adanya, hm?”

Ah, janji itu. Sesal kini mendera si gadis. Harusnya ia tidak terikat dengan janji konyol itu. Ia pikir bukan kekurangan ini dalam diri Sehun. Jika tahu, ia tidak akan menerima janji sekaligus cintanya waktu itu.

“Hm? Mengapa diam? Ah! Kamu panas dalam, ya? Kalau begitu cukup angguk dan geleng saja jika aku bertanya, ya?”

Gadis itu mengangguk. Tidak ingin mencari masalah dengan kekasihnya yang PSIKOPAT.

“Gadis pintar.” Si gadis merasakan kepala Sehun mengangguk-angguk. “Langsung pada inti saja. Jadi, kamu pilih lanjut hubungan atau ‘main’?”

Menggeleng pelan. Gadis itu meringis.

“Hm? Main atau lanjut hubungan? Atau tidak memilih keduanya?”

Kesal. Si gadis mulai dirundung amarah. Menjawab ini salah, itu pun salah. Sangat menjengkelkan. Terserah saja. Ia tidak peduli jika akhir hidupnya sampai di sini.

“Aku membencimu Sehun. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini karena kau pembunuh! Aku tidak sudi menjadi kekasih psikopat sinting sepertimu!”

Sehun terkekeh, lagi. Sepasrah inikah gadisnya sampai tidak sadar diri dengan situasi?

“Kamu lebih memilih main, ya?”

“TENTU SAJA BODOH! KAU PIKIR AKU MAIN-MAIN?”

Tertawa keras. Sehun terpingkal pada cercaan gadisnya. Berteriak ke depan padahal Sehun berada di sampingnya. Siapa yang gila sekarang?

Mendengus, Sehun menyeringai menghadapi satu fakta yang menyayat hati, tidak ada yang menginginkannya di dunia ini.

“Kupikir kau berbeda, Runa. Ternyata aku salah, kau sama saja seperti wanita sampah lainnya!”

Runa tertegun. Bukan terhina oleh Sehun. Melainkan lara yang tersirat dalam sarkasme. Sehun pasti sakit hati.

“Maaf,” lirih Runa. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, maniknya bertemu dengan manik kelam Sehun, “maaf karena tidak bisa menjadi wanita yang diharapkan olehmu.”

Runa tersenyum. Tidak mengindahkan nyeri pada lehernya yang basah.

Genggaman pada besi putih melonggar, tangan Sehun gemetar. Tekadnya mulai goyah.

“Jangan membenciku, Runa.” Seperti anak kecil. Sehun merengek layaknya bocah lima tahun yang mengaku salah. Oh! Di mana sisi garang yang mengancam Runa tadi?

Menghela napas panjang, Runa menatap Sehun masih dengan senyum. Ia berkata, “kupikir kau mencintaiku, nyatanya kau memperlakukanku sama dengan orang lain. Orang yang menjadi target mainanmu.”

“Aku hanya ingin kamu tetap di sisiku, Runa. Hanya itu.”

Manik masih bersinggungan. Menyelami sorot tulus yang terpancar masing-masing. Jarak tipis di antara mereka menyebabkan dapat merasakan embusan napas masing-masing. Sehun tanpa sadar memangkas jarak tipis itu.

“Yak! Menjijikan! Aku tidak mau mengambil peran itu! Yang benar saja! Seharusnya dari awal aku tidak membiarkan otak kriminalmu menulis naskah! Dasar mesum.” Aku berteriak kesal pada gadis berwajah sok tanpa dosa di depanku. Ia hanya mengerutkan kening. Sialan.

“Kita sudah kelas 12, Sehun. Bisa dikatakan dewasa. Wajar jika menambahkan adegan ciuman di drama nanti. Cukup terima saja. Kau hanya perlu berakting, itu yang penting. Lagipula, otak sempitmu mana bisa membuat naskah lebih keren dariku.”

Jika saja Runa bukan seorang gadis, jika saja Runa tidak kusukai, jika saja Runa bukan partner tugas Seni yang cerdasnya hampir menyaingi Einstein, sudah kutebas lehernya. Berani sekali mengejekku, meski pada kenyataannya otakku memang tidak bisa menciptakan naskah seperti itu. Aih, pokoknya Runa tidak seharusnya mengatakan itu!

Pada akhirnya, aku tetap mengambil fotokopi naskah menjijikan tadi. Runa si watados telah memasang ancang-ancang akan memukulku jika aku mengeluarkan suara lagi. Cih, gadis sialan. Kucium sampai kehabisan napas baru tahu rasa dia. Apa? Mengapa menatapku seolah aku mesum? Runa pacarku, masalah?

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s