[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Spring Day – Xohanrie

timeline_20170416_092716

[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Spring Day – Xohanrie || Luhan&OC|| Sad|| G


Aku berjalan di jalanan setapak. Di sisi kanan dan kiri ku terdapat pohon sakura yang berbaris rapi. Aku mendongak dan menatap langit biru lalu menutup mata. Angin musim semi berhembus ringan menerbangkan helai-helai rambutku. Aku tersenyum kecil.

Musim semi datang lagi. Aku membuka mataku dan menendang kerikil di depanku. Aku merasa kesal.

Musim semi kali ini akan kuhabiskan dengan sendirian. Ah, dia ada dimana? Meninggalkan ku sendiri. Jahat sekali.

Aku mertawai diriku yang miris sekali. Haha. Aku berharap musim semi berlalu dengan cepat.

Pandanganku jatuh ke sepasang kekasih yang tertawa bersama. Sial. Mereka menertawaiku? Aku juga bisa seperti kalian tapi itu dulu.

Aku berjalan cepat meninggalkan pemandangan yang membuatku muak. Ah, kenapa di sini banyak sepasang kekasih?.

Lelah berjalan, aku memutuskan untuk duduk di kursi. Aku memakan kimbap segitiga yang kusimpan di saku celana. Ketika aku mengunyah makanan, dua anak kecil duduk di sebelahku. Aku menoleh dan aku tersenyum.

Mereka duduk bersama dan berbagi makanan. Anak laki-laki memberikan susu pisang dan anak perempuan memberikan biskuit. Lalu, mereka memakan bersama dan tertawa bersama manakala pipi mereka mengembung karena terlalu banyak biskuit di mulut mereka. Aku mendengus geli.

Setelah dua anak kecil itu pergi, selang beberapa menit, sepasang kakek dan nenek duduk di sebelahku. Mereka pasangan lansia rupanya.

Mereka bercerita tentang kenangan manis semasa muda. Aku mendengarkan cerita mereka. Mereka mengingatkanku pada sosok gadis musim semi.

Gadis musim semi yang bersamaku tahun lalu. Dia yang mengisi hari-hari ku dengan canda tawa, kasih sayang, dan begitu banyak yang ia beri padaku. Aku menghela napas.

Dulu aku sangat menyukai musim semi tapi sekarang aku tidak tahu apakah aku masih menyukai musim semi atau tidak.

Aku beranjak dari kursi. Tujuanku adalah ke taman bermain. Tempat dimana aku dan dia menghabiskan waktu bersama. Taman bermain akan sepi saat musim semi karena semua orang akan bermain ke tempat yang penuh bunga sakura kecuali kami.

Aku mendudukkan diriku di papan ayunan kemudian menggerakkannya maju dan mundur. Ketika angin hangat musim semi menerpa wajahku, aku memejamkan mata. Aku merasa nyaman saat ini.

Aku menghabiskan waktu ku di taman bermain hingga malam hari.

“Luhan-ssi,” panggil seseorang. Suara itu seperti suara gadis musim semi. Ah, mungkin itu halusinasiku.

“Rusa Cantik.” seru seseorang dengan suara yang sama. Aku membiarkannya.

Tunggu, Rusa Cantik?.

Aku membuka mata dan menatap gadis di depanku. Gadis musim semi tepat berada di hadapanku. Aku terkejut. Dia tersenyum manis.

“Chien?” Seruku. Aku berlari ke arah Chien dan memeluknya erat. Chien membalas pelukan tak kalah eratnya denganku.

“Kau kemana saja?” tanyaku. Kami sekarang duduk di kursi taman.

“Aku tidak kemana-mana kok, aku selalu berada di sini untuk menunggu mu.” jawab Chien dengan senyum manis. Ah, aku merindukan senyuman itu.

“Ah, kenapa kau pergi meninggalkan ku? Aku sendirian. Huh, menyebalkan.” keluhku. Chien memelukku tiba-tiba.

“Aku pergi karena sebuah nasib yang tak bisa diubah. Hahaha.” tawa Chien. Aku mengerutkan dahiku. Aku tidak paham dengan perkataan Chien.

“Itu takdir namanya. Nasib bisa diubah tapi takdir itu bisa. Ah, kau ini aneh sekali.” kataku. Chien tergelak.

“Kita belum berpisah, ‘kan?” tanya Chien. Aku mengangguk. Tentu saja belum berpisah, dia kan tidak mengatakan apapun saat akan pergi.

“Bagus. Datang lah kemari besok!” seru Chien dengan sangat bersemangat. Aku tersenyum dan mengiyakannya. Dia tampak sangat senang. Aku turut tersenyum melihatnya.

“Gege, hari sudah mulai malam. Ayo kita pulang!” ajak Chien. Aku beranjak dan menarik tangan Chien.

Ketika aku hendak berjalan keluar dari pintu taman bermain, Chien berhenti melangkah dan menarik tangannya dari genggaman tanganku.

“Kenapa?” tanyaku. Chien tersenyum lebar dan berkata, “Aku akan menunggu ayah. Ayah akan menjemputku.”

Ayah menjemput Chien? Chien menunggu sendirian di malam hari? Bagaimana jika ada orang jahil? Tidak, aku harus menemaninya.

“Aku temani.” ujarku. Chien menggeleng. Terjadi perdebatan, aku yang memaksanya untuk kutemani tapi dia tetap tidak ingin.

Akhirnya, aku pergi meninggalkannya. Sebelumnya, aku memberikan banyak nasihat kepada Chien dan dia mengiyakanku begitu saja.

Esoknya, aku berjalan menuju taman bermain. Sesuai janji, aku duduk di kursi taman yang kami duduki kemarin.

Sekarang, taman bermain menjadi lumayan ramai. Banyak anak-anak kecil bermain dengan kedua orangtuanya dan sepasang kekasih pun ada.

Aku menunggu Chien datang. Beberapa menit berlalu, aku mengedarkan pandanganku namun aku tak menemukannya. Aku tetap diam dan akan mengirimkannya pesan saat terdengar suara seorang wanita berteriak.

Aku menoleh dan wanita itu bukan Chien. Wanita itu tersungkur di tanah yang penuh bunga sakura. Aku menghampirinya dan bertanya alasan dia berteriak.

Jari wanita itu menunjuk ke arah tanah yang sangat penuh tumpukan bunga sakura. Aku mengernyitkan dahiku.

Bagaimana bisa ada tumpukan bunga sakura sebanyak ini? Ini seperti selimut salju saja.

Aku menyingkirkan bunga-bunga itu dengan kedua tanganku. Tak sengaja, kaki ku menyentuh sesuatu. Aku menunduk dan melihat sebuah kaki berkulit putih pucat.

Aku terkejut. Aku menyingkirkan semua bunga sakura. Aku menemukan sosok gadis cantik tengah memejamkan mata.

Sosok yang tengah berbaring.

Sosok itu yang baru saja kutemui semalam.

Sosok itu adalah gadis musim semi.

Ya, dia adalah Chien.

Aku terjatuh. Tubuhku menjadi lemas. Dunia seakan terhenti. Aku mendekati tubuh kaku Chien. Aku merengkuhnya dengan erat. Aku menangis. Aku berteriak. Aku marah. Aku menyesal.

Aku berdiri di depan nisan gadis musim semi. Aku menaruh buket bunga melati di depan nisan.

Dokter ahli forensik mengatakan bahwa Chien telah meninggal seminggu yang lalu. Bau busuk tubuhnya tak tercium karena tertutupi oleh aroma bunga sakura.

Bodoh. Ini namanya takdir. Chien, kau bodoh. Kau jahat. Ini kah kejutanmu?.

Aku terduduk di depan makamnya. Aku menangis, meluapkan segalanya.

-END

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s