[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Present – LeeIndah7

timeline_20170415_140555

[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Present – ©LeeIndah7

Xi Luhan, Yoon Haera || Love || PG-17

⭐⭐⭐

Positif

Bodoh! Memang bodoh!

Gadis itu meremas kertas hasil uji lab dan melemparnya ke sembarang arah.

Memang tak seharusnya ia terjebak dan berakhir dengan hal memalukan seperti ini. Hamil. Bahkan bukan dengan kekasihnya.

Apa yang akan dikatakannya pada orangtuanya? Apa yang akan kekasihnya pikirkan?

Air matanya kembali berderai. Gadis itu menatap sebuah botol di depannya. Ia mulai meraihnya dan membukanya. Haruskah ia mengakhiri hidup sekarang?

Tangannya bergetar hebat. Ia memejamkan matanya dan hendak meminumnya. Namun, niatannya terhenti begitu mendengar nada dering khusus ponselnya.

Luhanie is calling

Ia menatap ponselnya sendu kemudian meraihnya dan mengangkat telponnya.

“Haera-ya… aku sudah melihat ucapan ulang tahunmu. Aku sengaja tidak tidur karena tahu kau akan mengucapkannya tepat waktu. Ohh iya! Kosongkan jadwalmu besok. Ehh maksudku hari ini. Ini kan sudah berganti hari. Hehe…” Ujar suara lembut seorang pria dari seberang sana.

“Haera-ya… Aku akan menjemputmu pukul tiga sore. Ohh! Ada yang datang! Sepertinya seseorang akan memberikanku surprise. Kututup ya? Saranghae…”

“Nado…” Jawab Haera kemudian menjauhkan ponselnya. Ia menatap lekat-lekat potret Luhan yang tertawa lebar pada lockscreen ponselnya.

Tidak… dia tidak boleh mati seperti ini. Setidaknya… ia harus melakukan sesuatu.

⭐⭐⭐

Yoon Haera sudah bersiap dengan balutan dress soft pink selutut dan rambut yang ditata dengan cantik. Matanya yang sembab ia sembunyikan dengan foundation.

Ting Tong

Suara bell rumah yang berbunyi membuatnya menghela nafas lalu mengambil tas di atas sofa dan berjalan ke arah pintu.

Seorang pria dengan celana jeans dan kaus putih yang dibalut kemeja biru langit yang tak dikancingkan tersenyum dengan lebar begitu ia membuka pintu.

“Ohh daebak! Kekasihku benar-benar cantik!” Pujinya takjub.

Haera hanya tersenyum tipis. Luhan meraih tangan Haera dan menariknya.

“Kajja!”

“Ehh… kita mau ke mana?” Tanya Haera yang terkejut.

Luhan tak menjawabnya melainkan tertawa dan mempercepat langkahnya. Membuat Haera mau tak mau harus berlari kecil untuk menyesuaikan langkah Luhan.

Mereka memasuki gang sempit dan berhenti pada sebuah taman tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi dengan danau buatan di tengahnya.

Taman tersebut sudah terhias oleh pernak-pernik cantik dan juga rangkaian bunga mawar merah yang berbentuk hati dengan lubang di tengahnya.

Luhan tersenyum kemudian menuntun Haera untuk duduk di tengah-tengah rangkaian bunga.

“Seharusnya aku yang membuat surprise untukmu.”

“Aku tak butuh surprise. Aku hanya membutuhkanmu.” Ujar Luhan kemudian mencubit pipi Haera pelan sedangkan Haera hanya tersenyum miris.

“Ahh! Aku punya hadiah untukmu.” Ujar Haera kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua.

“Gomawo… padahal dirimu saja sudah cukup.” Ujar Luhan setelah menerima kotaknya.

“Aku harus memberi sesuatu yang special hari ini.”

“Boleh kubuka?” Tanya Luhan dengan senyuman lebar. Haera tersenyum tipis kemudian mengangguk.

Luhan membuka kotaknya dengan antusias. Menampakan sebuah jam tangan berwarna hitam dengan corak merah di dalamnya. Mata Luhan seketika membulat.

“Rolex?!”

Haera tersenyum dan mengangguk.

“Astaga… kau menghabiskan berapa uang untuk membeli ini?” Tanya Luhan seraya memperhatikan jam tangan barunya. “Seharusnya kau simpan saja uang itu.”

Haera memeluk Luhan dari samping dan menyandarkan kepalanya pada dada Luhan. “Pakai saja. Aku sudah membelinya khusus untukmu. Aku membelinya dengan cinta kau tahu?”

Luhan mendengus kemudian mengenakan jamnya. “Baiklah baiklah… kau menang. Aku memakainya. Gowamo.” Ujarnya kemudian membalas pelukan Haera.

“Ini belum selesai.”

“Belum?!” Tanya Luhan terkejut. “Astaga… yang seperti ini kau bilang tidak memberi surprise?”

Haera tersenyum kemudian mempererat pelukannya. “Hari ini… kau boleh melakukan apapun yang kau mau padaku.”

“Jinjja? Ba-”

“Kecuali melamarku.” Potong Haera yang membuat Luhan memanyunkan bibirnya.

“Kau bilang apapun.” Umpat Luhan.

“Mianhae…”

“Bagaimana kalau menciummu? Aku belum pernah melakukannya. Padahal kita berkencan sudah dua tahun.”

“Kenapa harus izin?” Tanya Haera sedikit mendongak.

“Ya… kupikir… kau takkan suka jika aku menciummu.” Jawab Luhan polos seraya menggaruk tengkuknya.

Haera tertawa pelan kemudian memejamkan mata. “Lakukan saja.”

Luhan tersenyum kemudian mulai mecium Haera.

‘Mianhae Xi Luhan… Annyeong-hi kyeseo…’

***

Mentari sudah menyapa bumi sejak tadi. Namun, pria berparas manis ini baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.

Dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah dapur untuk meminum segelas air. Ponselnya berdering. Dengan mata yang menyipit, ia melihat nomor tak dikenal tertera pada layar ponselnya.

“Hallo?”

“Selamat siang! Apa ini benar dengan Tuan Luhan?”

“Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”

“Apa anda mengenal Nona Yoon Haera?”

“Iya. Ada apa ya?”

“…”

Prang!

Seketika gelas yang berada di genggamannya terjatuh dan pecah berkeping-keping. Matanya membulat dan tubuhnya mendadak lemas bahkan ia hampir terjatuh.

Dengan wajah pucat, ia berlari ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya dan melesat pergi.

‘Tuan…, Nona Yoon ditemukan tewas gantung diri di kamarnya.’

⭐⭐⭐

“Haera?!” Dengan wajah panik Luhan menerobos kerumunan orang-orang di depan rumah dan melesak masuk.

Deg!

Seketika ia jatuh berlutut. Air mata melesak keluar dari sudut matanya. Ia melihat sendiri tubuh kaku Haera yang baru saja diturunkan.

Gadis itu masih mengenakan gaun soft pink yang kemarin dipakainya. Wajahnya membiru dan terdapat bekas jeratan tali pada lehernya.

“Haera!” Dengan sisa tenaganya, ia merangkak ke arah tubuh Haera.

“Andwae! Andwae!” Ujar Luhan frustasi dan mengusap rambut Haera.

“Haera! Tolong bangun dan katakan kalau ini semua tipuan!” Teriak Luhan kemudian memeluk tubuh dingin Haera.

“Wae Haera? Wae?! Kemarin kau masih tertawa bersamaku Haera.”

“Tuan…” Panggil seorang polisi menyentuh bahu Luhan. “Kami menemukan ini.”

Polisi itu menaruh laptop di dekat Luhan dan memutar sebuah video.

“Annyeong Luhanie!!!”

“Ketika melihat video ini, aku sudah tidak ada di sisimu. Mianhae Luhan… Aku harus mengakhiri hidupku. Masa depanku sudah hancur. Aku… aku… hamil.”

Haera yang berada dalam video menutup mulutnya dan terisak.

“Aku tak bisa menjaganya. Aku menyakitimu. Aku menyakiti orang tuaku. Aku bukan lagi gadis polos yang baik. Aku tak pantas untukmu.”

“Lanjutkan hidupmu dengan baik. Carilah gadis lain. Menikahlah dengannya dan bangun keluarga kecil bahagia. Aku akan mengawasimu meskipun mungkin aku tak berada di tempat yang baik. Gomawo… untuk semua kebahagiaan yang kau berikan. Mianhae… karena aku tak bisa lagi berada di sisimu. Saranghae… Xi Luhan…”

Dan…, video berakhir. Luhan terlihat kacau.

“Kenapa kau melakukan ini Haera-ya? Bangunlah… jebbal…!” Luhan kembali menangis dan memeluk tubuh Haera. “Bahkan aku mau jadi ayah dari anak ini…”

“Inikah hadiah untukku?”

“Haera!!!”

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s