[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] A Boy Like You – cussonsbaekby

Cast : Oh Sehun, Kim Jina (OC)
Genre : Romance, hurt/comfort
Rate : G
Lenght : Drabble

“Jina…” Sehun masuk ke ruang kesehatan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia memanggil nama Jina berkali-kali hingga matanya melihat tubuh Jina sedang terbaring lemah di brankar paling ujung.

Sehun mendekat, duduk di pinggiran brankar tersebut lalu mengamati wajah Jina yang tengah memejamkan mata. Lelaki tinggi itu tersenyum geli saat mengetahui mata Jina berkedip-kedip samar.

Sehun merendahkan wajahnya hingga bibirnya sejajar dengan telinga Jina. “Hey, buka matamu. Aku tahu kau tidak tidur,” bisik Sehun diiringi kikikan di akhir kalimat.
Jina sama sekali tidak bergeming, tetap memejamkan matanya dan mengabaikan Sehun, hal itu membuat lelaki itu gemas. Ia melihat sekeliling dan tersenyum saat menyadari bahwa hanya ada mereka di ruang kesehatan itu.

Sehun mengecup pipi Jina berkali-kali hingga perempuan itu membuka lebar kedua kelopak matanya. Jina menatap garang pada Sehun yang masih saja melempar senyuman kepadanya.

“Menjauh dariku!” ujar Jina sambil mendorong dada Sehun yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Sehun yang mendapat perlakuan seperti itu pun terkejut, apalagi saat mendapati Jina menghindari kontak mata dengannya.

“Ada apa, Jina-ya?” tanya Sehun heran, Jina hanya menggeleng. Sehun tahu Jina sedang berbohong. Jika tidak sedang merajuk, Jina tidak akan bersikap seperti ini padanya. Bahkan biasanya Jina akan sangat manja padanya jika sedang sakit, sedangkan sekarang, menatap matanya pun Jina enggan.

Sehun meraih pundak Jina lalu membimbingnya untuk menatap matanya. “Kau menghindariku. Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Sehun lagi. Ia tahu ada sesuatu yang Jina pikirkan, ia menemukan secercah keraguan di mata Jina saat mata itu menatapnya. “Apa demammu sangat tinggi? Kepalamu sangat sakit?”

Jina menghela napas kasar, jika dipikirkan kembali ia sedikit tidak adil pada Sehun, menghindari lelaki itu tanpa Sehun ketahui alasannya. Saat melihat raut kekhawatiran yang sangat terlihat di wajah Sehun, Jina pun akhirnya luluh.

“Sehun…” Jina bangkit dari berbaringnya, hingga membuat Sehun mau tidak mau ikut beranjak dari posisinya. Sehun duduk di pinggiran brankar sambil menghadap ke arah Jina. Ia mengamati perempuan yang tengah menunduk sambil memilin ujung selimut yang dipakainya. Bibir Jina membuka dan menutup seperti ingin mengatakan sesuatu, Sehun sabar menunggu hingga Jina berujar lirih, “Sebenarnya apa alasanmu mempertahanku jadi pacarmu?”

Pertanyaan Jina membuat Sehun mengernyit, heran dengan alasan mengapa Jina tiba-tiba bertanya-tanya tentang hal itu. Setahunya, Jina bukanlah seseorang yang akan mempersulit diri dengan memikirkan hal-hal seperti ini. Sehun tetap diam hingga Jina mendongak dan menatap padanya. Tatapan sendu dan ingin tahu yang terpantul di mata Jina membuat hati Sehun terenyuh juga. “Aku tidak cantik, pemarah, kurang perhatian, tidak bisa menjadi pacar seperti yang kau inginkan.”

Hening selama beberapa detik, namun tatapan mereka masih saling bertaut.

“Iya, aku juga,” jawab Sehun. Lelaki tinggi itu mengusap surai halus Jina dengan sayang. Saat mendengar jawaban Sehun, Jina pun menggeleng tidak setuju dan segera menyahut.

“Tidak, Hun. Kau perhatian, tampan, baik dan sabar juga.” Sehun tersenyum mendengar jawaban Jina. Ia mendekatkan wajahnya pada Jina hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Jina bermaksud menjauhkan wajahnya dari Sehun, namun telapak tangan Sehun menangkup wajahnya yang menghangat. Entah karena demam yang dideritanya atau karena tindakan Sehun.

“Maksudku aku juga tahu jika kau itu tidak cantik, pemarah dan kurang perhatian.” Jina semakin sedih mendengar perkataan Sehun. Jadi benar apa yang dikatakan orang-orang. Sehun hanya bermain-main dengannya. Entah karena efek dirinya yang tengah demam atau bagaimana, hati Jina sangat sakit saat mendengar fakta itu dari Sehun sendiri.

Jina memutuskan kontak mata dengan pacarnya itu dan berniat kembali membaringkan tubuhnya sebelum Sehun mencegah dengan menyentuh bahu Jina.

“Dengar,” mata berkaca-kaca Jina beradu tatap dengan tatapan serius Sehun, “Aku menjalin hubungan dengan seseorang bukan karena fisiknya, tapi karena orang itulah yang aku inginkan, aku sayang dan bisa membuatku nyaman.” Jina merasakan hangat saat jemari Sehun menyentuh pipinya, mengusapnya dengan perlahan. Ia tenggelam dalam mata Sehun yang menatapnya lembut, membuat hatinya pun ikut menghangat. “Jika rasa cinta hanya diukur dari fisik, bagaimana kau mencintai Tuhan yang tidak berupa?”

Air mata Jina mengalir melewati pipi pucatnya, Sehun menanggapinya dengan senyuman manis. Jemari panjang Sehun bergerak menghapus jejak air mata di pipi Jina lalu mengecupnya. “I love you…”

Jina tertawa lalu menarik Sehun ke dalam dekapannya. Ia menertawai dirinya sendiri yang terpengaruh perkataan orang lain mengenai hubungannya dengan Sehun. Menertawai dirinya sendiri yang meragukan perasaan Sehun untuknya. Seharusnya ia lebih mempercayai teman, sahabat, sekaligus pacarnya ini daripada ucapan orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Pelukan itu terlepas dan mereka pun saling melempar senyum. “I love you too, Sehun.”

Sehun mengecup bibir Jina berkali-kali hingga Jina tertawa, namun karena terlalu banyak tertawa, rasa pusing di kepalanya kian menjadi. “Menjauhlah, Sehun. Nanti kau tertular sakitku.”

Sehun tidak mendengarkan dan tetap menciumi wajah Jina sambil terkekeh. “Masa bodoh.”

FIN

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s