[Vignette] A Painful Rain – by Gxchoxpie & Audrey_co

2017-03-26 03.32.46 1.jpg

A PAINFUL RAIN

.

Romance, Slice-of-life, Hurt-Comfort, Song-fic || Vignette || PG-13

.

Starring
EXO’s Baekhyun, OC’s Byun Sungrin

.

Inspired from
Rain by Baekhyun & Soyou

.

© 2017 by Gxchoxpie and Audrey_co

.

We own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“At the bus stop as it rained, your eyes that looked at me.
Do you remember?”
–Rain (Baekhyun & Soyou)

.

Mendung yang berarak masih setia menemani tatkala seorang pemuda melangkahkan tungkainya menyusuri trotoar di sebuah jalan yang terbilang sepi. Di sebelah kiri pemuda itu berjajar beberapa bangunan, dari mulai kafe hingga bank. Sang lelaki terus menguntai langkah diiringi senandung kecil yang dihasilkan pita suaranya. Sepasang netra kelabu mengabsorp sebanyak mungkin pemandangan di sekitar, seraya satu per satu memori mulai bermunculan di benak.

Usai berjalan sepanjang beberapa meter, pemuda bernama asli Byun Baekhyun pun menghentikan langkah, tepat di depan sebuah kedai kopi berplang besar bertuliskan “Coffee X!”. Ditatapnya pintu masuk lekat-lekat, mengabaikan orang yang lalu-lalang masuk dan keluar melalui pintu tersebut, pun tak menghiraukan tatapan aneh yang dilontarkan oleh sang pramusaji penjaga pintu.

Jujur saja, Baekhyun sama sekali tak punya niatan untuk membeli kopi. Indikasinya untuk terus menatap kedai kopi yang didominasi oleh warna cokelat kayu tersebut adalah karena tempat itu memiliki banyak kenangan tentang dirinya dan sang mantan kekasih. Dulu, saat mereka masih bersama, kedai kopi ini menempati urutan pertama daftar tempat yang sering mereka kunjungi. Sang gadis menyukai kopi hitam, dan tak pernah absen menemani acara kencan mereka di akhir pekan, didampingi Baekhyun dan iced cappuccino-nya. Biasa mereka duduk di pojok kedai dekat jendela, agar dapat menikmati pemandangan insan yang lalu-lalang di luar. Terkadang mereka bertukar kisah, membahas pandangan hidup, atau sekadar mampir untuk menikmati suguhan live music.

Baekhyun mendesah, seraya kepalanya tertunduk. Mengizinkan kenangan-kenangan tersebut muncul di benak membuat perasaannya memburuk. Menyebabkan ia semakin frustrasi, bagai tak mampu merangkai kembali cermin yang sudah pecah. Atas dasar itulah Baekhyun memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahnya, meninggalkan kedai kopi penuh kenangan.

Terlalu terfokus pada jalan membuat Baekhyun tak memperhatikan keadaan sekitar, termasuk mendung di angkasa yang kini tak kuat menahan beban uap air. Satu per satu tetes mulai turun membasahi bumi. Diawali dari tetes demi tetes yang mengalihkan atensi para pejalan kaki, kemudian berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur. Para pengguna bahu jalan panik, berlarian, berusaha menyelamatkan diri dari serbuan air hujan. Termasuk Baekhyun.

Well, Baekhyun sebenarnya membawa payung lipat, namun hujan yang turun ternyata lebih ganas dari yang ia perkirakan, maka ia memutuskan untuk berteduh barang beberapa saat. Penuda Byun tersebut menghentikan derap di bawah naungan sebuah halte bus, membiarkan serbuan air hujan kini menghantam kanopi di atasnya, menghasilkan suara gemeletuk yang riuh.

Lagi-lagi memori dari masa lalu menyambangi, kala Baekhyun menyadari hal-hal kecil pada halte bus tempatnya berdiri. Ini adalah halte bus tempat ia dan mantan kekasihnya bertemu untuk pertama kali, dulu. Seorang gadis yang kebingungan karena tak membawa payung, dan Baekhyun terpaksa mengantarnya pulang. Satu payung untuk berdua. Itulah pertemuan pertama mereka.

Seulas senyum pahit terukir pada bibir Baekhyun. Dalam hati ia berharap agar kenangan-kenangan yang sudah lampau cepat enyah dari benaknya. Memilukan.

“Aduh!”

Seruan kecil tersebut mengusik pendengaran Baekhyun, diiringi suara kecipak air. Baekhyun menoleh. Seorang gadis sudah berdiri satu setengah meter di sebelah kirinya, sedang sibuk membersihkan air hujan yang sempat membasahi tangan dan rambutnya.

Serta merta dwimanik Baekhyun membola. Makin diperhatikan, rasanya Baekhyun makin terkejut, dan juga tidak percaya.

Dari sekian banyak orang yang bisa ia temui di halte bus, mengapa ia malah bertemu dengan Byun Sungrin, mantan kekasihnya?

Baekhyun bimbang. Haruskah ia menyapa gadis itu, atau bertindak layaknya dua orang yang tak saling kenal?

“Sungrin-ah.

Mulut Baekhyun berucap tanpa disadari.

Gadis surai hitam kebiruan itu menoleh. Raut terkejut terpancar jelas di wajahnya ketika ia mendapati sosok Baekhyun. Pemuda Byun itu paham, ia juga merasakan keterkejutan yang sama beberapa saat yang lalu.

“Berteduh di sini juga?” tukas sang gadis.

Baekhyun mengangguk. “Ya. Hujan deras. Berteduh.”

Kembali hening. Baik Baekhyun maupun Sungrin tak ada yang punya ide bagaimana menjembatani kecanggungan yang membisukan mereka. Baekhyun pun mengalihkan wajah, menatap genangan air yang kini terlihat lebih menarik.

Baekhyun rasa, menjalin percakapan tidak ada salahnya. Hanya ada mereka berdua di halte bus itu, dan hujan belum menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Duduk diam menunggu hujan reda dalam kesunyian tentulah sesuatu yang menjemukan. Toh kalau dikaji lebih lanjut, mereka bukanlah dua orang yang tak saling kenal. Sebelum insiden pertengkaran yang berujung pada berakhirnya hubungan manis mereka tiga bulan lalu, mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.

“Apa kabar?” Baekhyun mencoba mengawali dengan sedikit basa-basi.

Gadis itu menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga. “Baik. Kau sendiri?”

“Seperti yang bisa kau lihat sendiri,” pungkas Baekhyun.

Sang dara tak menyahut apa-apa, lebih asyik dengan kegiatan menggoyangkan kedua tungkainya ke depan dan ke belakang.

“Kau ingat tempat ini?” Baekhyun berceletuk.

Sungrin mengedarkan pandangan ke sekitar untuk beberapa saat, lantas menggeleng. Ia melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada Baekhyun.

“Ini adalah tempat pertemuan pertama kita. Ingat?” jelas Baekhyun. “Situasi yang serupa seperti hari ini. Kau berteduh dari hujan karena tak membawa payung,” tambahnya.

“Ya, aku mulai ingat,” ujar gadis itu tanpa minat. Netra kelamnya memilih memperhatikan tiap butir air yang jatuh dari langit yang menurutnya begitu indah. Bukannya ia tak sopan pada orang lain, ia hanya tidak ingin membicarakannya. Niatannya kemudian ia tunjukkan dengan sikapnya seperti ini—datar dan terkesan dingin.

Baekhyun tentu saja paham dengan sikapnya yang seperti itu. Tapi, katakanlah Baekhyun ingin kembali mengingat kenangan manis yang mereka perbuat dulu. Ketika mereka berada dalam situasi rumit yang dinamakan cinta, ketika mereka harus membagi waktu satu sama lain, juga ketika mereka melakukan sesuatu yang pertama kali bagi mereka sebagai pertanda seberapa besar cinta yang mereka miliki. Tentu saja, jika bukan karena kejadian itu mereka takkan saling melepas diri dengan terpaksa.

Semua adalah takdir; Baekhyun sedang mencoba menerima itu. Menerima semua garis kehidupan yang sudah direncanakan Sang Pencipta untuknya, mencoba untuk mengerti. Namun, jujur saja, ia tak mampu. Sesekali ia marah dan menyalahkan takdir, namun melihat gadis di sebelahnya ini begitu tenang tentu membuatnya berpikir betapa lemahnya ia sebagai lelaki. Lihatlah, bahkan gadis itu kini menatapnya sambil tersenyum tipis.

Baekhyun seketika sadar dari lamunannya. “Ada apa?”

“Aku baru sadar, sepertinya kau sering ke sini,” ungkap Sungrin tanpa melepas senyumnya. “Bukan untuk menunggu bus. Kau paham maksudku, ‘kan?”

“Ya, kau benar,” jawab Baekhyun mengaku. “Aku hanya ingin mengingatmu. Apa itu salah?”

Setelahnya hening kembali.

Sungrin mengulum bibirnya sebelum akhirnya memalingkan wajah dari hadapan pria itu. Sepertinya ia paham apa yang terjadi di sini. Pria itu—Baekhyun—masih mengingat hubungan mereka yang berakhir tiga bulan lalu. Menurutnya, Baekhyun masih terjebak dalam kenangan tentang dirinya. Tidak sepenuhnya salah, tapi Sungrin merasa itu terlalu berlebihan. Maksudnya, cukuplah itu ia kenang sesekali. Gadis itu tak ingin munafik; ia juga masih mencintai Baekhyun seperti dulu. Tapi jika ia bisa kembali ke masa lalu, ia memilih untuk tidak pernah mengenal seorang Byun Baekhyun—pria yang sialnya sangat ia cintai.

Tiba-tiba saja angin kencang menerpa kulit mereka, membawa serta hawa dingin khas hujan. Sungrin memeluk lengannya demi mereda hawa dingin yang menusuk, dan tentu saja itu tak luput dari pantauan Baekhyun. Segera mungkin pria itu membuka jaket yang ia kenakan, menyamatkannya di pundak sempit gadis itu dan memilih berjongkok di depannya. Tangan kekarnya dengan lembut menggenggam tangan Sungrin, meniup nafasnya sekadar menghangatkan tangan sang gadis yang mulai keriput terkena air hujan.

Seulas senyum menghiasi wajah Baekhyun. Hari ini, hujan seolah memberinya kesempatan untuk bertemu dengan Sungrin. Tangan mungil yang begitu pas dalam genggamannya, wajah oriental yang menenangkan, surai hitam yang selalu diurainya, Baekhyun merindukan itu semua. Pria itu sudah jatuh terlalu dalam dengan gadis yang dulu mengisi relung hatinya ini.

Meski ia terlihat cuek, jujur saja Sungrin merasa gugup saat ini. Kenangan saat kencan pertama mereka kembali terputar. Dan entah takdir apa bukan, baik Baekhyun maupun Sungrin kini tengah memikirkannya bersamaan.

***

Flashback on

 

Hari itu adalah hari yang sibuk, terbukti dengan banyaknya orang yang berjalan di trotoar di waktu senja. Tak mengherankan memang mengingat pada saat itu adalah jam pulang kerja, pastilah orang berbondong-bondong untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Salah satu dari sekian banyak umat yang berjalan di sana adalah Sungrin. Gadis itu baru saja pulang dari rumah sahabatnya yang baru saja tiba dari Kanada. Dengan langkah terburu, ia berjalan menuju halte bus yang masih jauh di depannya. Sesekali ia melirik langit yang mulai menghitam, ini bukanlah pertanda baik. jadilah gadis itu semakin mempercepat langkahnya.

Kekhawatirannya terjadi. Hujan deras seketika mengguyur seluruh kota, menghantam siapa saja yang masih belum mendapat perlindungan. Sungrin menggunakan tas selempangnya guna melindungi kepalanya dan berlari kencang menuju halte bus yang sudah ramai dengan pekerja kantoran juga siswa SMA. Tepat pada langkah terakhirnya, ia baru saja ditinggal bus yang mengarah ke perumahannya. Sungrin menghela nafas, setidaknya ia harus menunggu tepat jam tujuh nanti. Itu berarti satu jam dua puluh lima menit harus dia habiskan dengan merenung atau memandangi rintik hujan yang turun dari langit.

“Permisi.”

Suara bariton khas pria mengejutkan Sungrin yang tengah melamun. Spontan ia menoleh ke samping dan mendapati perawakan seorang pria manis dengan senyum square lips yang menenangkan, “Boleh aku duduk di sebelahmu?”

Pertanyaan yang bahkan tak perlu ditanyakan, pikir Sungrin. Gadis itu tersenyum kikuk dan menggeser sedikit dari duduknya, mengisyaratkan jika pria itu boleh duduk di sampingnya.

“Mahasiswa?” tanya pria itu tiba-tiba, memecah keheningan yang tercipta. Sungrin menoleh dan mengangguk membenarkan.

“Aku juga. Tapi satu bulan lagi masa magangku selesai,” celetuk pria itu bercerita. “Aku Baekhyun. Kau?”

“Sungrin. Byun Sungrin.”

Setelahnya mereka bersalaman, sekadar formalitas saja. Pria bernama Baekhyun itu selalu saja tersenyum, membuat sang gadis mau tak mau ikut menyunggingkan senyum berharganya. Maksudnya, Sungrin sangatlah jarang tersenyum. Mengherankan jika ia tersenyum hanya kepada pria yang baru ia kenal ini.

Wush~

Angin berhembus cukup kencang selama beberapa detik, membuat kedua insan ini merasakan hawa dingin yang menusuk hingga tulang. Sungrin memeluk lengannya erat, mencoba menghangatkan tubuhnya.

Tindakannya ini tak luput dari pandangan Baekhyun. Ia adalah pria yang empati pada semua orang, dia juga cukup peka jika gadis itu sedang kedinginan sekarang. Dengan segala keberanian yang ia kumpulkan, ia berdiri dari duduknya, melepas jaket kulit yang ia kenakan dan menyematkannya di pundak Sungrin.

Gadis itu sangat terkejut dengan perlakuan tak terduga dari pria asing yang baru saja dikenalnya. Seketika perasaan hangat itu datang—bukan dari badannya yang terbungkus jaket Baekhyun—perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Tak sadar ia menyunggingkan senyum manis kepada pria itu sebagai ucapan terima kasih.

Baekhyun hanya mengangguk dan kembali menatap air hujan yang terlihat menari di atas aspal hitam pekat. Dalam hati ia merutuki dirinya yang tak bisa berkata-kata di depan gadis itu. Pada akhirnya terjadi keheningan yang panjang di antara mereka, membiarkan gemuruh air hujan menjadi soundtrack suasana canggung yang sedang terjadi.

Flashback off

***

“Aku yakin kau tak melupakan sedikitpun kenangan kita,” ucap Baekhyun setelah sadar dari lamunannya.

Sungrin tersenyum samar. “Aku memang tidak lupa, namun bukan berarti aku ingin mengingatnya.”

“Bukankah itu sebuah ironi?”

“Apa?”

“Tak peduli berapa kalipun kita mencoba membuang sebuah kenangan, namun bila hati kita menolak, tetap saja kenangan tersebut akan muncul kembali. Baik itu kenangan yang menggembirakan bahkan memilukan sekalipun.”

Sang gadis hanya membisu dengan tungkai yang mengayun.

“Orang-orang bilang kalau kita tidak bisa melupakan suatu memori, itu berarti memori tersebut mempunyai kesan yang teramat dalam bagi diri kita. Bagaimana menurutmu, Sungrin-ah? Kau setuju?”

Bis yang berhenti tepat di depan halte tersebut bagai menyelamatkan Sungrin yang memang tak ingin menjawab pertanyaan terakhir Baekhyun. Keduanya berdiri, namun Sungrin cepat-cepat berujar, “Akan lebih baik kalau kita pulang secara terpisah. Tak keberatan, ‘kan, menunggu bis berikutnya datang?”

Baekhyun menghela napas. Terlihat jelas bahwa Sungrin benar-benar tak ingin terlibat lagi dengannya. Gadis itu ingin menjauhkan diri dari Baekhyun. Memilukan, memang. Apakah hubungan mereka harus berakhir seperti ini? Menjadi dua orang yang tak saling kenal?

Namun, bila ini keputusan Sungrin, maka Baekhyun harus menghormatinya.

“Baiklah,” lirih Baekhyun akhirnya.

Sungrin menggerakkan tungkai untuk mulai memasuki bis. Tetapi panggilan Baekhyun menghentikan gerakannya sesaat.

“Ada apa?”

Baekhyun menyodorkan payung lipat kuning di tangannya. “Untukmu.”

Gadis itu menatap Baekhyun tak mengerti.

“Meski hujan sudah mereda, namun kau tetap membutuhkan payung. Ini, untukmu. Kau tak perlu mengembalikannya padaku. Anggap saja, ini sebagai pemberian terakhirku padamu.”

Meski tanpa senyum, kata-kata yang Sungrin ucapkan kemudian cukup membuat Baekhyun lega. “Terima kasih.”

Gadis itu masuk, duduk persis di sebelah jendela, dan bis mulai berjalan meninggalkan halte. Baekhyun menghela napas, seraya menatap langit mendung bergerimis. Akankah ia menemukan gadis yang dapat menggantikan posisi Sungrin di hatinya? Dapatkah ia melupakan Sungrin? Bisakah ia dan gadis itu bahagia dengan jalan hidup yang mereka tempuh masing-masing?

Hanya Tuhan yang tahu.

.

“Rain is falling, again today.
A painful rain, like the day I let you go.”
–Rain (Baekhyun & Soyou)

-fin-

Gxchoxpie’s Note:

So, I was too immersed with this song… Lagunya enak banget sumpah, liriknya juga bikin baper bareng… Dan terpikir untuk mengeksekusi lirik di dalemnya jadi fanfiksi, dan TADA!
Big thanks kuucapkan sama Hening Kurnia aka Audrey_co yang mau kuajakin collab hihihi… Pan kapan kita nulis bareng lagi ya 😀
Anyway, mind to review? 🙂

.

Audrey_co’s Notes:

Hai hai..
Ini project kedua bareng kak gecee hahaha. Kali ini Baekhyun jadi main castnya. So, aku yang notabenenya ngebiasin Baekhyun jadi fangirlingan sendiri pas ngetik naskahnya. Hahaha.
Gatau mau ngetik apa lagi, jadi udahan yah. Nantikan project kami berikutnya. Hahaha 😀

Iklan

Satu pemikiran pada “[Vignette] A Painful Rain – by Gxchoxpie & Audrey_co

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s