[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in DONGDAEMUN — IRISH’s Tale

 

HOL(M)ES

HOSPITAL in Dongdaemun  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Luhan

Special appearance EXO`s Sehun & l18hee`s OC Kwon Runa with HyeKim`s OC Kim Hyerim

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH & HyeKim

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Lu Han ex EXO

Previous story:

Hol(m)es in Songpa-gu [Sehun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Luhan, sudah hidup sedikit lebih lama hingga dia bisa bangga pada sepah-manis kehidupan yang telah dia lalui. Semuanya tentang Luhan adalah sebuah kebetulan. Berawal dari belasan tahun lalu, saat dia secara tidak sengaja—atau sengaja?—ditinggal oleh kapal pesiar yang berlabuh ke Timur Tengah, dimana keluarganya—termasuk ibu tiri dan dua kakak tirinya—berada.

Usia Luhan baru menginjak tiga belas tahun saat itu, ketika dia kemudian diasuh oleh sekelompok kriminal dan akhirnya tumbuh menjadi sosok yang sama pula. Namun, di balik didikan buruk yang didapatnya, Luhan masih menyimpan sisi baik.

Sayang, sisi baiknya baru saja dihancurkan oleh seorang pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya, namun lebih suka menggurui Luhan dengan kisah kehidupan yang sudah didapatkannya.

Byun Baekhyun, nama pria itu. Yang beberapa saat lalu meninggalkan Luhan sendirian di rumah—tempat persembunyian kecil yang dijadikannya naungan—dengan kalimat-kalimat mengerikan mengenai fakta di balik kehancuran kota Seoul ini.

“Sialan!” umpatan itu akhirnya lolos dari bibir Luhan.

Belum pernah, sebelumnya dia merasa begitu terganggu pada apa yang pemerintah lakukan. Luhan sendiri tidak pernah mengakui diri sebagai warga negara manapun. Dia lebih suka hidup bebas tanpa terikat aturan, tapi sayang hidup nampaknya tak pernah sesuai dengan ekspektasi.

Luhan hanya bisa duduk diam sekarang. Tunangannya lah yang jadi satu-satunya orang tempat Luhan mengadu. Sayang, sampai jam menunjukkan angka lima sore hari, gadis itu belum tampak juga. Diam-diam Luhan tersadar. Gadis yang berstatus sebagai tunangannya itu harusnya sudah ada di rumah sejak jam tiga tadi mengingat dia hanya mengisi dua jam kelas bahasa asing di sebuah lembaga pembelajaran.

Apa yang menghambat gadisnya?

Luhan berusaha menerka-nerka. Apa tidak ada bus yang bisa membawa tunangannya pulang? Sialan. Membayangkan hal itu entah mengapa sekarang membuat Luhan merasa jadi pria paling bodoh di dunia.

Bukankah dia seharusnya sadar tentang hal ini sejak satu setengah jam yang lalu?

Lekas, Luhan bangkit dari tempatnya sedari tadi terpekur tanpa hasil. Diraihnya salah satu kunci mobil yang ada di atas meja, sementara tangannya yang lain menarik jaket kulit berwarna cokelat tua yang tersampir di bahu sofa.

“Aku harusnya ingat kalau dia mungkin tidak mendapat bus kem—”

“—Aku pulang.”

Suara familiar segera menyapa pendengaran Luhan, sekaligus menghentikan usahanya. Bisa didengar Luhan, langkah asing yang mengekori gadisnya. Sekarang, Luhan justru mengejang waspada. Bagaimana jika tunangannya datang dengan seseorang yang tidak Luhan harapkan untuk menemukannya?

“Luhan?” panggilan itu terdengar menyapa.

Mendengar langkah asing yang terus mengikuti gadisnya, Luhan akhirnya tidak tinggal diam. Pelan-pelan ia melangkah mendekati laci yang ada di bagian bawah rak buku milik gadisnya, dikeluarkannya sebuah revolver dari dalam sana, ia masukkan tiga butir peluru yang tersisa sebelum langkahnya ia pacu mengdatangi si gadis.

“A-Akh! Pelan-pelan, tolong. Rasanya sangat sakit.” Luhan menyernyit saat mendengar suara kesakitan gadisnya. Apa dia terluka?

Tanpa pikir panjang, Luhan segera membawa dirinya melangkah ke ruang tengah rumah, didapatinya pemandangan cukup mengerikan dimana gadisnya tengah dibantu untuk duduk oleh seorang pria tak dikenal. Dan ada tiga orang gadis tidak dikenal lainnya di belakang pria itu.

“Hyerim!” Luhan berseru, ia letakkan revolvernya di atas meja lampu, langkah panjang segera ia membawa dirinya menghampiri Hyerim yang tengah tertatih.

“Luhan, maaf pulang terlambat. Kau tahu, anjing hitam yang selalu mengikutiku saat pulang hari ini tiba-tiba saja menyerangku.” si gadis—Hyerim, menjelaskan.

Ada rasa cemburu yang membakar hati Luhan saat dilihatnya lengan Hyerim melingkar di leher pria tidak dikenal tersebut. Memang, sih, tujuannya hanya untuk membantu saja. Tapi Luhan masih juga merasa kesal.

“Sini, aku akan membantumu.” berusaha menekan rasa tak nyaman karena tindakan tersebut, ia paksakan diri untuk mengambil alih Hyerim begitu saja.

Diangkatnya Hyerim ke dalam pelukan, dalam otak Luhan, sudah tersusun rencana-rencana kecil tentang membawa Hyerim ke kamar untuk beristirahat sementara Luhan akan memasak makan malam dan merawat luka yang Hyerim dapatkan.

“Lukanya cukup parah, Bung. Dia perlu ke rumah sakit.” si pria asing berkata.

“Aku akan mengobatinya.” Luhan menyahut.

“Apa kau seorang dokter?” tanya pria tersebut dengan nada sarkatis yang membuat Luhan melemparkan pandangan. “Tidak. Memangnya kau sendiri dokter? Aku tahu semua hal tentang luka-luka kecil semacam ini, Tuan.”

Mendengar perkataan Luhan, Sehun akhirnya mengembuskan nafas panjang.

“Ya, aku dokter omong-omong. Dan juga, siapa yang mengatakan kalau gadis ini akan baik-baik saja? Dari sudut pandang dokter, kuberitahu kau kalau dia membutuhkan perawatan medis. Ototnya hampir robek karena gigitan anjing. Dan jika dibiarkan, dia mungkin saja bisa lumpuh jika otot penggeraknya ikut terserang.”

Kecanggungan pun segera mendominasi, Luhan yang berkeras tak mau kalah.

“Aku akan mengobatinya.”

“Kalau begitu aku akan menunggu di sini.”

“Apa?!” segera Luhan melempar pandang tak senang.

“Dia adalah pasienku. Dan sudah jadi kewajiban bagi seorang dokter untuk memastikan pasiennya baik-baik saja.” Sehun menuturkan.

“Memangnya siapa yang mengatakan kalau kau adalah dokter untuknya?” tanya Luhan dengan nada menyindir. Sehun sendiri bersikap tenang, menyunggingkan senyum meledek sebelum dia berucap.

“Dia sendiri yang menyetujuinya.”

“Ap—”

“Sudahlah, Luhan. Dia hanya ingin membantu. Lagipula, mereka sedang dalam perjalanan jauh. Tidak salah bagi kita untuk membantu, bukan?”

Membantu? Duh, Hyerim seperti tidak paham saja bagaimana keadaan mereka selama ini. Jangankan punya kuasa untuk membantu seseorang, untuk bertahan hidup dan berlari dari kejaran polisi saja keduanya sudah kesusahan.

“Tapi Hyerim—”

“—Tidak apa-apa, Luhan.” Hyerim memotong, memberi sebuah isyarat kecil pada prianya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Luhan sendiri masih berkeras, dalam batinnya, tidak ada hal yang bisa dipercayanya selain kenyataan bahwa dia dan Hyerim adalah buronan. Dan membawa orang-orang ke tempat persembunyian mereka, bukankah itu berarti bunuh diri?

“Kuharap kalian pergi dari tempat ini sebelum fajar esok tiba.”

“Tak jadi masalah,” vokal kalem seorang wanita lantas menyahut, membuat Luhan menoleh padanya. Jia-yi, dirinya menghunus Luhan dengan tatapan agak tajamnya. “Tapi yang terpenting sekarang ialah mengobati wanitamu dulu. Lebih baik dirinya dibawa ke rumah sakit.”

Gelengan mutlak menjadi jawaban Luhan. “Tidak, sudah kubilang aku akan mengobatinya di sini. Aku sudah membiarkan kalian semua untuk tinggal sementara di sini, bahkan dengan terpaksa mengizinkan pria yang katanya dokter ini untuk turut andil mengobati Hyerim.” tak luput Luhan melirik Sehun dengan binaran tajam kala membawa-bawa pria tersebut pada perkataannya.

Tahu dirinya dihadiahi lirikan tak bersahabat, Sehun hanya menghela nafas sembari memejamkan netra. “Pertama, aku ini memang dokter,” ucap si pemuda Oh setelah dirinya membuka manik kembali serta menatap Luhan, “Dan kedua, Jia-yi benar. Hyerim-ssi lebih baik dibawa ke rumah sakit. Digigit anjing bukan perkara sepele, Tuan.” ada penekanan akan lafal kata ‘tuan’ yang Sehun kumandangkan, sembari melipat tangan didepan dada.

“Bukannya dirimu dokter? Jadi perkara yang tidak sepele bisa menjadi sepele bila ada dokter, bukan?”

“Tapi tetap—“

“—Ya sudah, cepat bawa aku ke kamar. Bila lama-lama berdebat, yang ada lukaku tidak akan sembuh,” segera Hyerim  memotong ucapan Sehun serta menatap pria yang menyelamatkannya itu tuk mengalah saja lantaran dirinya tahu betul kekerasan kepala Luhan. Sebenarnya Hyerim juga keras kepala, namun karena terbiasa bersama Luhan yang lebih keras kepala, dirinya jadi sudah terbiasa mengalah.

Helaan nafas terjadi kembali pada Sehun. Pasrah, dokter marga Oh itu pun mengangguk. “Baiklah,” lalu ia menolehkan atensi pada Runa dan Jin-yi yang sedari tadi beraksi diam. “Runa, tolong siapkan obat-obat yang kubutuhkan.”

Sedikit tersentak, Runa membelokan kepala kepada Sehun dan mengedip sekali, barulah didetik berikut si gadis Kwon mengangguk serta memberikan jawaban, “Baik.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Setelah debat tak penting yang sebenarnya membuang banyak waktu. Finalnya, sekon ini, Hyerim tengah berbaring di ranjang kamarnya. Proses pengobatan luka yang ditorehkan anjing liar itu sedang diobati oleh Sehun dan Runa—yang berperan sebagai asisten si dokter Oh itu. Luhan sendiri memposisikan duduk di samping ranjang dengan tangan menggengam tangan Hyerim, namun fokus kilatan netranya tertancap pada Sehun dengan dwimanik menyipit, seakan-akan bila si Oh satu itu salah penggerakan pada luka Hyerim, binaran matanya dapat menghancurkannya yang seakan-akan memancarkan sinar laser. Runa yang tahu signal kilatan manik Luhan, hanya memasang tampang risih.

Akh!” mimik kesakitan tercetak diparas Hyerim, pun pekikannya terlolongkan tatkala Sehun menekan luka yang terlukis lebih dari 1 cm dikakinya, menggunakan handuk bersih lantaran darah yang terus keluar dari sana.

Melihat reaksi wanitanya yang nampak kesakitan, Luhan menghunus Sehun lebih tajam sembari mengelus tangan Hyerim yang ia genggam. “Hey! Tidak bisakah kau pelan-pelan?” ujar Luhan yang menyebabkan decakan Sehun bahkan Runa, tercetuskan.

Dengan layangan netra tak suka apalagi dari tadi sikap Luhan sudah sangat menyebalkan dari kacamatanya, Runa menyahut sarkas. “Tenang saja, yang dilakukan Sehun di sini adalah mengobati tunanganmu, bukannya membunuhnya. Harusnya dirimu jangan banyak berdumel.” oh nyatanya si gadis Kwon sudah kepalang sebal sampai tak sadar telah berkata agak pedas.

Walau hasrat dalam diri ingin membalas sahutan sarkas Runa, tetapi yang Luhan lakukan sekarang hanya mengunci mulut dengan tatapan datar karena Hyerim meremas kuat tangannya—kode agar Luhan tak menjalin konversasi debat tak penting layaknya beberapa waktu kebelakang.

“Runa, neosporin dan perban,” titahan Sehun memecahkan hening canggung yang sempat terjalin, dengan tangan tersodorkan pada Runa tanpa mengalihkan fokus dari luka Hyerim. Segera, Runa memberikan barang yang Sehun minta—yang sedari tadi berada ditangannya.

Waktu kedepan, salep antibiotik telah dioleskan disertai perban yang sedang dipasang oleh Sehun untuk menutup luka Hyerim. “Aku harap tidak ada infeksi lebih lanjut karena tidak dibawa ke rumah sakit,” bibir Sehun bersuara setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia menatap Luhan dengan tatapan menyindir.

Hyerim menuntun tubuhnya untuk duduk di atas ranjang, lantas melayangkan tatapan lembut pada Sehun dengan sunggingan kurva serupa. “Terima kasih, Sehun-ssi. Terima kasih banyak.”

Respon Sehun hanya anggukannya disertai tubuhnya yang mulai berdiri dari posisi berjongkok di sebelah ranjang Hyerim. “Terima kasih kembali,”

“Kau sudah selesai ‘kan? Kalau begitu bisa keluar?” ucap Luhan yang lebih terdengar sebagai usiran kasar. Lantas membuat kedua makhluk yang merasa diusir secara tak langsung itu, menatapnya tak suka. Well, Sehun dan Runa memang sudah menaruh ketidaksukaan pada Luhan sejak awal.

Di lain sisi, Hyerim menatap serta memasang wajah tak enak sekaligus meminta maaf akan sikap Luhan pada kedua tamu yang bahkan telah menolongnya. “Sehun-ssi, Runa-ssi, maaf, bisa kalian keluar dulu? Mungkin ada sesuatu yang ingin Luhan katakan padaku. Kalian juga bisa ke dapur dan bergabung bersama Jia-yi dan Jin-yi. Anggap saja rumah sendiri.”

Usiran Hyerim yang lebih halus, membuat Sehun dan Runa mengangguk serta memutar tubuh tuk diiring keluar dari kamar pasangan tersebut yang kala ini sedang membutuhkan privasi.

Tatkala Sehun dan Runa telah menghilang dari pandangan matanya juga sah keluar dari kamarnya, Luhan menggeret langkah ke arah pintu dan menguncinya. Setelah itu, ia kembali ke titik tumpu Hyerim berada. Wanita Kim itu tengah menatapnya penuh tanda tanya sekarang.

“Bagaimana? Masih sakit?” sembari memposisikan tubuh duduk di samping ranjang, Luhan melontar tanya dengan manik menatap Hyerim lembut, sikap dingin yang menguarkan aura tak bersahabatnya seakan lenyap terluluhlantahkan kala berhadapan dengan wanitanya.

Seuntas senyum lembut terulas dibibir Hyerim. “Sedikit,” jawabnya, lalu Luhan meraih tangannya untuk ia genggam. Lantas rasa hangat menjalar dari genggaman tersebut kesuluruh tubuh Hyerim. “Aku tahu dirimu tidak suka saat aku membawa empat orang tadi. Tapi cobalah bersikap lebih baik, Lu. Mereka tetap tamu kita.” Hyerim seketika memberikan ceramahaan dengan kelereng mata membiaskan ketajaman, tak suka dengan sikap kelewat kasar tunangannya pada keempat tamu yang singgah di kediaman keduanya.

Luhan hanya membuang nafasnya, lantas ia menyarangkan tatapan lurus-lurus pada Hyerim. “Kau juga harusnya tahu bahwa membawa orang asing ke rumah, sama saja dengan bunuh diri,”

Gantian, Hyerim pun membuang nafasnya. “Tapi mereka berniat membantuku,” balas Hyerim dengan tatapan dan muka yang mencoba mendapatkan pengertian Luhan.

Kepala si pria menggeleng. Lihat, keduanya sama-sama keras kepala, bukan?

“Tetap saja, Hyer. Bagaimana bila mereka—“

Mulut Luhan seketika bungkam tatkala Hyerim menggerakan tangannya untuk mengatupkan bibir prianya, pun ranumnya berdesis. “Ssshhh… sudah, yang penting mereka sudah mengobatiku ‘kan? Seperti kata Runa, jangan banyak berdumel.” Hyerim tersenyum simpul diakhir katanya, yang mana hal tersebut membuat Luhan bergeming lantaran terpaku pada sunggingan kurva manis wanitanya.

Pada akhirnya Luhan mengalah dengan mengangguk pelan, membuat Hyerim makin menarik bibir untuk tersenyum. “Tapi tetap saja kau harus hati-hati. Apalagi dirimu ini sampai terluka dan pulang-pulang dituntun dengan seorang pria.”

Peringatan Luhan dengan sorot tajamnya itu, bukannya membuat Hyerim takluk bahkan takut, namun malah kekehan lepas dengan kepala mendongaklah yang terjadi pada wanita tersebut. “Kau cemburu?” setelah berhasil menetralkan diri, Hyerim bertanya dengan tatapan geli juga senyum menahan tawa. Luhan sendiri hanya buang muka dengan wajah kesal, akhirnya lidah Hyerim bercakap kembali. “Kau cemburu, Lu?”

Dengan wajah merah juga sorot tajam, Luhan menoleh kembali ke arah Hyerim. “Iya, cemburu. Puas? Jangan menggodaku atau kubungkam bibirmu dengan milikku.” Luhan mendekatkan wajahnya dengan wajah Hyerim, lantas hembusan napasnya menyapa paras wanitanya.

Bola mata Hyerim berputar mendengarnya. “Setiap pagi juga kau suka melakukannya,” kemudian, Hyerim membawa tubuhnya untuk berbaring dikarenakan kelelahan sudah menjerat dirinya, ditambahi oleh luka kakinya yang masih menghantarkan sakit. “Aku ingin istirahat. Bila tidak mau menemaniku, keluarlah.”

  Dipandangi sebentar Hyerim yang memunggunginya, sebelum akhirnya Luhan ikut menarik diri ke atas ranjang juga memposisikan tidur menyamping ke arah Hyerim. “Hyerim-ah,” Luhan memanggil dan dengan cepat gumaman Hyerim menjawabnya. Sejenak, Luhan mengambil nafas terlebih dahulu. “Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu.”

Alis Hyerim berjungkit kala gendangnya dijejali perkataan begitu dari Luhan. Digerakan oleh si wanita tubuhnya untuk berhadapan dengan Luhan, namun masih dalam posisi menyamping. Kilatan manik Hyerim membiaskan rasa penasarannya.

“Apa yang ingin kau katakan? Jangan bilang dirimu punya selingkuhan di luar sana,” tilik Hyerim dengan muka serius serta bola mata melebar.

Luhan mendengus kelewat geli, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi wanita yang tepat berada di depannya ini. “Jangan melucu, sulit berpaling darimu, tahu,” mau tak mau, Hyerim tersenyum tipis juga mendengarnya. Bibir Luhan pun kembali melanjutkan perkataannya. “Aku hanya ingin mengatakan padamu, kau harus hati-hati bila keluar dari rumah. Maksudnya, saat dirimu berjalan sendiri apalagi di tempat ramai, kau harus hati-hati, Hyerim.”

Dahi Hyerim berkerut dalam, mencoba menelaah perkataan Luhan yang mewanti-wantinya itu. “Maksudmu apa? Memangnya ada apa?” ranum wanita garis Kim ini menodongkan tanya, masih juga dengan dahi berkerut tak paham.

Sejenak, netra Luhan menerawang dan kembali merangkai kata. “Aku tak tahu pastinya, tapi tempat ramai apalagi mewah dan penting di Seoul akan hancur, Hyerim. Lotte World, kau pasti belum lihat berita ‘kan bahwa tempat permainan itu hancur hari ini.”

Mata Hyerim sontak melebar, terkejut akan informasi yang diberitahukan Luhan. Ya, dirinya baru tahu kalau wahana permainan terbesar di Korea itu hancur, karena hari ini ia sibuk bekerja di lembaga pembelajarannya. Di lain sisi, Luhan menatap Hyerim lurus-lurus, menjalin atmosfer serius dalam ucapannya.

“Intinya kau harus hati-hati. Pemerintah lah yang merencanakan gempa-gempa yang menghancurkan beberapa titik di kota Seoul.”

Dwimanik Hyerim mengerjap beberapa kali, memastikan telinganya masih berkerja normal saat vokal Luhan mengatakan hal tersebut. “Ke—kenapa? Kenapa begitu?” tak mau menampik, walau dirinya perempuan yang pemberani, Hyerim juga merasa cemas bila nyatanya kota tempatnya bernaung akan dihancurkan oleh para petinggi negaranya sendiri.

Tarikan dan hembusan nafas Luhan tercetuskan, dirinya sedikit mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Maka dari itu aku akan mencaritahunya. Informasi ini aku dapat dari kenalanku, juga. Tanpa aku sendiri tahu kepastiannya.” merasa konversasinya dengan Hyerim sudah cukup, Luhan menarik selimut untuk membaluti tubuh keduanya. “Dan sekarang, lebih baik kita tidur. Bukannya kau lelah?” ucap Luhan sambil menarik Hyerim kedalam pelukannya diiiringi maniknya yang mulai terpejam.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jia-yi mengayunkan tungkai menuju meja counter dapur yang berada di rumah Hyerim dan Luhan. Setelah makan malam yang ia dapatkan dari izin Hyerim untuk mengobarik-abrik dapur rumahnya, Jia-yi sama sekali tidak bisa tidur. Sementara, tiga orang lainnya—termasuk Jin-yi, sudah terlelap di sofa ruang keluarga yang lebar—terkecuali Sehun yang memilih tidur di karpet ruangan.

Tegukan Jia-yi pada air mineral yang tadi ia ambil, selesai. Diletakkan lah olehnya gelas yang ia pakai di wastafel pencucian piring. Saat dirinya memutar tubuh dan siap mengurai langkah, terdengar suara bising dari kamar yang sempat ia ketahui adalah kamar Hyerim yang berdekatan dengan dapur. Niatnya tuk beranjak tertunda, mata Jia-yi pun tersarangkan ke pintu kamar tersebut yang lalu menjeblak terbuka, lantas figur gusar Luhan menyambut korneanya.

“Oh? Kau masih bangun? Di mana Sehun?” kala mendapati Jia-yi berada beberapa meter di depannya, Luhan langsung menodongkan pertanyaan  pada gadis tersebut, wajah Luhan terlihat cemas setengah mati dan membuat Jia-yi heran.

“Di ruang keluarga,” jawaban Jia-yi tak direspon Luhan yang langsung mengayunkan kaki ke tempat Sehun berada.

Merasa ada yang aneh, Jia-yi yang tadinya melekatkan tatapan heran pada tempat terakhir punggung Luhan terlihat, akhirnya memutar kepala pada pintu kamar yang menjeblak terbuka. Dengan langkah perlahan, Jia-yi mengiring diri untuk mendekat ke kamar pasangan tersebut. Penglihatan Jia-yi langsung disuguhi sosok Hyerim yang berwajah pucat serta sedang menggeliat resah sambil merintih pelan. Khawatir, si gadis Wang pun makin mendekat hingga berada tepat di samping ranjang Hyerim, dirinya meletakan punggung tangannya di dahi wanita Kim itu.

Sontak, iris mata Jia-yi melebar dengan wajah terkejut.

“Panas,” gumam Jia-yi, spontan. Kemudian dirinya menjatuhkan atensi pada Hyerim yang tampak membuka setengah matanya. Panas yang menyapa telapak tangannya adalah panas diatas rata-rata, dan hal tersebut menandakan  Hyerim demam.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Sudah kubilang, bahwa ia harus dibawa ke rumah sakit. Kau sendiri yang berkeras!” entah sudah berapa kali, vokal Sehun berteriak kelewat sebal pada Luhan. Ia menatap tajam pria Lu itu. Coba saja bila Luhan tidak keras kepala, kondisi Hyerim tidak akan separah ini kan? Dan juga waktu tidurnya tak akan tersita, bayangkan saja, ini sudah tengah malam.

Di sisi lain, Jia-yi sedang membuka perlahan perban yang dipasangkan Sehun dikaki Hyerim. Tatkala perban berhasil ia buka, netranya disuguhi kaki si wanita yang memerah serta bengkak. “Hyerim sungguh terinfeksi,” ujar Jia-yi, setelah itu mengiring kepala kepada Luhan untuk menatap lelaki itu. “Kau harus mau membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak, kemungkinan dirinya bisa terkena rabies.” Jia-yi menghunuskan tatapan seriusnya.

Runa yang kebetulan sudah kelewat sebal dengan sikap yang Luhan tunjukkan sejak awal, menghadiahi pria itu delikannya. “Jangan keras kepala. Bawa tunanganmu ke rumah sakit sekarang! Si dokter jarang senyum ini juga tak bisa mengobatinya. Hyerim butuh ke rumah sakit!” ujar si gadis Kwon penuh akan hasrat kekesalannya.

Diserang oleh ketiga orang tersebut, Luhan merasa tertekan apalagi melihat Hyerim yang terbaring lesu di atas ranjang serta menatapnya kesakitan, membuat hatinya seakan dicubit. Kepala Luhan menunduk sambil menghela nafas, kemudian kembalilah ia mengangkat kepalanya.

“Baiklah, kita bawa Hyerim ke rumah sakit. Aku mempunyai kenalan di salah satu rumah sakit, kita ke sana sekarang.” Luhan memantapkan pilihan. Langsung saja ia mendekati Hyerim dan membawa wanitanya kegendongan dengan gaya bridal.

Disaat Luhan sudah mulai merajut langkah untuk segera pergi. Sehun bergeming menatapi Runa dan Jin-yi—yang ngomong-ngomong sedari tadi hanya memilih aksi patung. Pria marga Oh itu  menatap lekat Runa dan Jin-yi dengan benak dimasuki sebuah pemikiran.

“Runa, Jin-yi. Lebih baik kalian tinggal di rumah. Aku tak ingin mengambil banyak resiko,” adalah kata-kata Sehun setelah beberapa saat memandangi dua gadis itu lekat.

Tentu saja, Runa dan Jin-yi membingkai wajah tak setuju. “Tidak. Aku ingin ikut bersama kakakku!” sahut Jin-yi bersikeras. Dan sahutan Jin-yi pun disambut anggukan Runa. “Ya, Oh Sehun. Aku tak ingin berada di rumah.”

Sehun memasang wajah memelas agar kedua gadis ini mengerti. “Kalian harus tahu bahwa akan banyak resiko bila kalian ikut. Di luar sana sangat berbahaya.”

Nampak Jin-yi ingin buka suara untuk membantah, namun dirinya kalah telak saat Jia-yi lebih dulu bervokal. “Sehun benar, kalian lebih baik tinggal di rumah. Tempat ini aman, sementara di luar sana sangat berbahaya. Akan banyak resiko nantinya.”

Ucapan Jia-yi membuat mulut Jin-yi maupun Runa, bungkam. Meski tercetak jelas diparas keduanya, bahwa kedua gadis ini tak menyetujui Sehun dan Jia-yi. “Kakak, tapi—”

Jia-yi mengalihkan antensi pada adiknya yang mencoba membujuk, lantas ia melihatkan kurva tersenyum tipis.

“Tinggalah di rumah bersama Runa, Jin-yi. Aku pasti akan kembali dan menemuimu lagi di sini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Finalnya, Luhan, Sehun, berserta Jia-yi dan Hyerim lah yang pergi ke rumah sakit di pusat kota yang berada di perbatasan distrik Dongdaemun, menggunakan mobil milik Sehun. Di sebelah Sehun yang mengemudi, duduklah Luhan yang sedang asyiknya bersuara mengenai betapa bahayanya keluar dari daerah rumahnya. Sementara di jok belakang, terduduk Jia-yi berserta Hyerim yang memeluk lengannya sendiri serta menahan rintihan kesakitan yang berasal dari lukanya.

“Kau harus tahu, keluar dari daerah rumahku bisa saja mempertaruhkan nyawa. Kita tidak akan pernah tahu akan shinkhole atau gempa lain terjadi di daerah lain,” ucap Luhan dengan kepala terarah ke luar jendela, memperhatikan jalan yang dilewati mobil Sehun ditengah kegelapan malam.

“Ya, aku tahu. Apalagi dengan banyaknya kejadian-kejadian mengerikan di Seoul akhir-akhir ini. Tempat-tempat mewah di Seoul tinggal menunggu giliran untuk hancur,” Jia-yi yang duduk di jok belakang, menyahut santai. Segeralah, Luhan mengalihkan fokus kepada gadis Wang itu melalui kaca spion depan.

“Bagaimana bisa kau tahu itu?” tanya Luhan dengan mata menyipit kepada bayangan Jia-yi yang terpancarkan di kaca spion yang ia tatapi.

Ditengah kesibukan menyupirnya, Sehun memberikan lirikan sekilas dari ujung matanya pada Luhan yang berada di jok bangku sebelahnya. “Dia memang tahu segalanya,” vokal Sehun menyahut sama-sama santai.

Rasa penasaran membelit diri Luhan dan Hyerim juga yang menjadi pendengar. Namun Hyerim tak punya waktu untuk melancarkan aksi penasarannya, sebab luka dikakinya lebih penting sekarang ini. Akan tetapi, berbeda dengan Luhan, pria yang merupakan tunangan Kim Hyerim itu melirik bergantian Sehun dan Jia-yi dengan curiga.

“Sebenarnya siapa kalian?” pertanyaan Luhan dikeluarkan dengan aura intimidasi dalam diri pria itu.

Belum sempat lontaran jawaban disuarakan oleh Sehun ataupun Jia-yi. Seketika, bumi tempat mobil Sehun melintas, bergetar hebat. Sebuah guncangan yang tak sedahsyat yang pernah Jia-yi rasakan sebelumnya, terjadi. Mobil Sehun bergetar tak karuan. Rasa terkejut juga takut pun terjadi pada keempat penumpang yang ditampung oleh mobil milik Sehun.

‘CKRITTTT!’

Pedal rem diinjak Sehun secara mendadak, dirinya memutar-mutarkan stir mobilnya tidak karuan dengan tampang pias. “Pegangan!” intrupsi Sehun kencang dan langsung dituruti ketiganya yang berpegangan pada benda terdekat. Jia-yi seakan merasakan déjà vu kala labirin otaknya memutar ulang insiden terakhir dirinya menyabung nyawa untuk melewati kobaran api menggunakan mobil di Hongdae.

Dengan gila-gilaan, Sehun memainkan gas juga rem mobilnya, tangannya pun mengiring stirnya tak karuan, berusaha melawan guncangan yang terjadi. ‘Krakkk!’ sial, tanah di hadapan mobil yang menampungi keempatnya sedikit terbelah, menyebabkan seluruh netra melebar. Dengan kadar kewarasan ditingkat paling bawah, Sehun menginjak kuat-kuat pedal gasnya dan tambah tak karuan mengiring stir mobilnya. Detik berikutnya, mobil Sehun berputar-putar di atas jalanan aspal dengan ban berdecit nyaring. Para penumpang pun merasa pusing tak kepalang akan putaran gila-gilaan yang terjadi oleh mobil yang menampung keempatnya ditambah juga guncangan gempa mini yang mendominasi.

‘BRAKKKK!’

Putaran tersebut mencapai akhirnya kala sisi depan mobil Sehun menabrak lampu jalanan. Tubuh keempat manusia yang berada di dalamnya, sedikit terdorong ke depan saat tabrakan terjadi namun seatbelt menyelamatkan mereka yang tak berakhir tragis tatkala tabrakan terjadi. Napas keempatnya terengah-engah dengan jantung berdegup keras.

Eunghhh,” suara lenguhan Hyerim terlolongkan, membuat radar Luhan menyala dan menengokan kepala dengan wajah cemas ke arah Hyerim yang tampak memasang wajah menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya.

“Hyerim, apa kau baik-baik saja?” Luhan bertanya panik dengan wajah terlukis luar biasa khawatir.

Kepala Hyerim terangkat, dirinya membalas tatapan khawatir Luhan dengan binar mata menenangkan. “Aku baik-baik saja, Lu. Hanya lukaku ini makin terasa sakit,” vokal Hyerim tersuarakan dengan serak, si wanita juga tampak memegangi pergelangan dekat luka dikakinya itu.

Jia-yi yang nyatanya tengah menaruh fokus pada titik luka Hyerim, juga menemukan fakta bahwa luka itu makin memerah. “Cepat Sehun, kita harus kembali berjalan. Hanya kap mobilmu yang penyok ‘kan? Ayo cepat jalan!” Jia-yi berkata agak mendesak, takut-takut keadaan Hyerim akan lebih parah nantinya.

Punggung serta tubuh Sehun yang menempel sempurna  di sandaran kursinya pun terpaksa mengakhiri posisi nyamannya itu tatkala Sehun mulai menegakan tubuhnya. Dirinya menghirup oksigen untuk menetralkan diri agar tenang selayaknya sebelum gempa mini tadi menerjang. Mulailah lelaki berprofesi dokter itu meletakan tangannya kembali ke stir mobilnya. Sebelum membawa jalan mobilnya, Sehun melirik Luhan yang masih melekatkan obsidiannya pada Hyerim dengan kepala menoleh ke wanita garis Kim itu.

“Bisa kau sebutkan ulang nama rumah sakitnya?” Sehun bertanya yang terselipi meminta.

Pertanyaan Sehun menyebabkan Luhan mengalihkan fokus dwimanik juga kepalanya ke arah pemuda marga Oh di sebelahnya. Dengan wajah datar yang memang khasnya, Luhan menjawab.

“Rumah Sakit Hanmyung.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kegilaan menyambut ketika mereka sampai di Rumah Sakit Hanmyung. Benar-benar di luar dugaan Luhan, tempat ini justru porak poranda. Bukan karena gempa, sungguh, tapi karena manusia. Entah, dunia yang mendadak berubah rotasi dalam semalam sehingga membuat orang-orangnya berubah sikap, atau memang bencana berhasil membuat mereka terdesak dan akhirnya bersikap tidak masuk akal.

Luhan sendiri tidak tahu.

Yang jelas, saat mereka tiba di laman parkir rumah sakit, pemandangan yang menyambut adalah raungan dan tangisan dari orang-orang yang memangku tubuh tidak berdaya keluarga—atau mungkin hanya kenalan?—mereka.

Berusaha menghindari pemandangan mengerikan yang mungkin saja akan mempengaruhi kesehatan Hyerim secara psikis, Sehun akhirnya membelokkan mobilnya ke bagian belakang rumah sakit yang berada dekat dengan pintu samping—Luhan yang memberitahu Sehun tentang jalur itu, omong-omong.

“Cepat, kita tidak punya waktu. Tempat ini sudah jadi mengerikan.” Luhan berkata. Ingatannya jelas menangkap bagaimana orang-orang di luar sana mengantri untuk mengobatkan diri, sementara pintu menuju ruang gawat darurat pun telah ditutup.

Bukan karena rumah sakit tersebut menolak pasien yang berdatangan, tapi karena mereka sendiri sudah kewalahan akibat antrian panjang tersebut.

“Aku tahu jalan ini dari rekanku, kita bisa sampai di ruang perawatan.” Luhan menjelaskan, ia melepaskan seatbelt yang dikenakannya sebelum pria itu melangkah ke luar mobil, membuka pintu penumpang dan serta-merta membawa Hyerim dalam gendongannya.

“Ada kursi roda di sana, kau tidak harus bersikap dramatis dengan menggendongnya kemanapun.” Sehun melontarkan sebuah sindiran sarkatis atas sikap Luhan yang dianggapnya terlampau berlebihan.

Untuk kedua kalinya, dengan menahan kekesalannya pada Sehun, Luhan akhirnya menurut. Ia dudukkan Hyerim di atas sebuah kursi roda yang bersandar di dekat pintu masuk mereka, sementara menunggu Jia-yi dan Sehun turun dari mobil.

“Aku harus cari kendaraan lain untuk kembali nanti, kalian pergilah duluan.” Sehun berkata.

“Aku akan bawa Hyerim ke  dalam.” Jia-yi berkata. Gadis itu bergerak mendorong kursi roda yang Hyerim kenakan, sementara Luhan mengikuti keduanya.

Sebenarnya, saat tadi Sehun mengobati luka Hyerim saja dia sudah tahu jika luka itu akan jadi mengerikan. Tapi Jia-yi juga tidak bisa menyelesaikan masalah itu. Membiarkan luka itu terinfeksi agar Luhan mau membawa gadis itu ke rumah sakit.

Luhan sendiri juga sudah tidak banyak bicara. Pria itu melangkah mengikuti Jia-yi sebelum maniknya terpaku pada sebuah pemandangan mengejutkan.

“Arshavin…”

please wait for the next story: Hol(m)es in Dongdaemun (2) —

Elsa`s Note:

EKHEM, EKHEM, jadi ceritanya di sini ane baru sempet buat author’s notenya. AND FINALLY! Kolab ini akhirnya beres juga, gaes wkwkwk. Bukan modal H-1 lagi tapi H-Hour XD Ingin kuhaturkan makasih ke Kak Rish yang bersedia jadiin aku partner collab di series Luhan ini ahahaha. Aku seneng sekali pas diajak kolab buat nistain hyerlu dengan fic politic yang waw ini wkwkwk /plak/

Maafkan aku kalo gak banyak bantu ya Kak Rish, yang ada malahan membuat keabsurdan tak jelas begini wkwkwkw. Eh di sini pada akhirnya Hyerim-Runa bertemu lagi bersama pasangannya Sehun-Luhan, kubahagia wakakakakak. Ini sampe berapa words kak dalam 1 malem? Rasanya ini kekhilafan yang berkah wkwkwkwk.

Udah gak mau banyak ngomong, semoga series-series selanjutnya dari HOL(M)ES sukses.

Terakhir, meski udah lewat.

HAPPY BIRTHDAY LUHAN ~

*dari seorang fangirl yang terlalu mencintaimu walau hanya jumpa via monitor :”)

Irish`s note:

YAAMPUN, AKHIRNYA EH AKHIRNYA, pucuk dicinta ulam pun tiba. Berhasil juga kolab sama Elsa, dan enggak nyangka banget holmes bisa bertahan buat dikerjain dengan sistem SKS selama beberapa series.

Antara seneng sama merasa terpukau sebenernya, LOOOOL.

Terus juga, ngejadiin Luhan buat jadi jahat itu sedikit berat. Itulah kenapa dia bolak balik jadi robot, LOL. Sekali lagi, tenks a lot buat Elsa dan keterlibatannya dalem petualangan Jia-yi {}

Sekian dariku, kurang lebihnya mianek ~

Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

12 pemikiran pada “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in DONGDAEMUN — IRISH’s Tale

  1. Jia-yi seakan merasakan déjà vu kala labirin otaknya memutar ulang insiden terakhir dirinya menyabung nyawa untuk melewati kobaran api menggunakan mobil di Hongdae.
    -SECARA TIDAK LANGSUNG REEN DIMENSYEN DI SINI
    YASH YASH YASH!!!

    betewe ini keknya aku pernah baca di jalan tapi ternyata aku belom komen ya, maapkan aku siders ternyata buakakkakakak /digampar ramerameee..
    aku cuuuss lanjut lah yaah mumpung bos ga ada, moga ga ditelpon audit internal wkwkwkw

  2. Ping balik: [BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in DONGDAEMUN [2] — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s