[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SONGPAGU (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

SURGEON in Songpa-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Sehun

Special appearance Xi Luhan & l18hee`s OC Kwon Runa with HyeKim`s OC Kim Hyerim

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH & l18hee

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Sehun of EXO and Lu Han

Previous story:

Hol(m)es in Songpa-gu [Sehun]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Sama sekali Sehun tak bisa membiarkan telinganya lengah barang sesaat. Usai mempersilakan dua saudari yang baru saja bertemu setelah sekian lama, si lelaki memang melangkah keluar tenda. Namun bukannya pergi mencari hal lain yang perlu dikerjakan, ia malah memaku diri di sekitar tenda; berkonsentrasi akan apa yang hinggap dalam rungunya.

Hampir semua pembicaraan anatara Jia-yi dan Jin-yi tercerna dalam otak Sehun. Alisnya saling berkolaborasi membentuk siku-siku, tandanya si empu tengah berpikir serius. Saking seriusnya sampai tak sadar masih ada manik yang setia memerhatikannya sedari tadi. Oh, itu manik Runa, omong-omong. Sirat penasaran yang Runa pancar begitu terlihat. Entah karena bosan terlalu lama diam, gadis ini memutuskan untuk menghampiri Sehun. Niatnya sih, mengajukan beberapa pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Kala ia mencapai jarah satu meter dengan sosok tujuannya, Runa bisa melihat ada aura serius yang terpancar. Bukan serius yang biasa milik seorang Oh Sehun, kali ini sepertinya kadar keseriusannya berbeda.

“Ingin sebuah bantuan?” tawar Runa, mencoba membuat suasana lebih rileks. Yang ada Sehun justru menatapnya lurus, sepertinya tidak ingin melakukan hal lain selain diam dan berpikir.

“Kurasa aku bisa membantumu mengurus gadis bernama Wang Jia-yi itu. dia terlihat… spesial, kukira.” Melihat mata Sehun memicing, Runa lekas menambahi, “Bukan dalam konotasi negatif, kau tahu.” Ah, harusnya Runa lebih bisa menyaring apa yang akan ia letupkan dari bibir terlebih dahulu. Sehun bukan sedang berkecimpung dalam mode santai‒walau sebenarnya santai tidak santai sama-sama jarang senyumnya.

Lama Sehun memandang gadis di depannya dalam hening, hingga ia memutuskan untuk membuka mulut, “Tidak. Kau bisa membantu yang lain.” Dan ia begitu saja berbalik untuk masuk kembali ke dalam tenda. Dari celah yang ada Runa bisa melihat Sehun mengucapkan sesuatu pada Jin-yi. Terjadi obrolan singkat sebelum gadis tersebut memeluk saudarinya dan melangkah pergi dari sana.

“Oh, Runa? Tidak masuk?” Begitu mendapati Runa tak jauh dari tempatnya keluar, Jin-yi berbaik hati bertanya. Untung saja Runa mahir mengatur ekspresi, dia berhasil menunjukkan raut biasanya alih-alih wajah penasaran dan curiga. “Dokter tidak memberi izin. Ah, omong-omong, apa saudarimu punya alergi? Aku ingin membuatkan kudapan untuknya.”

Pengalih topik yang dilontar sama sekali tak dianggap aneh oleh si lawan bicara. Jin-yi mungkin tidak terlalu memerhatikan Runa yang mencuri lirik ke dalam tenda dengan hati yang diam-diam membatin, makin penasaran.

Wang Jia-yi. Apa alasan Oh Sehun punya perlakuan khusus padanya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Menurut Sehun, hari ini mungkin bisa dimasukan dalam hari paling gila dalam daftarnya. Coba bayangkan, sedang di tengah kegentingan bisa-bisanya dia mau diminta menemani dua gadis berkeliling di Lotte World. Jika bukan karena rasa ingin tahunya pada Jia-yi, Sehun mana mau begini.

Tapi jika dipikir-pikir, lumayan juga mengunjungi tempat mewah penuh wahana permainan yang biasanya penuh sesak, kini malah begitu lengang. Wajar saja, Korea tengah dalam keadaan genting dan banyak tempat terkena evakuasi besar-besaran.

“Adakah hal yang lebih penting dari ini yang bisa kalian lakukan?” Sehun bersidekap, menatap Jia-yi dan Jin-yi yang dengan santainya bermain-main di atas wilayah ice skating. Sayangnya Sehun tak dipedulikan, kedua gadis tersebut terlalu asik melepas rindu.

“Kenapa Baekhyun hyung ingin mempertemukan mereka?” satu lagi tanya yang hinggap di kepalanya. Sehun sampai pusing sendiri, kenapa rasanya memikirkan masalah yang ada kaitannya dengan Baekhyun pasti tak selesai-selesai? Seberapa lama pun Sehun menjalin tali pertemanan dengan si lelaki, tetap saja ada beberapa hal yang tak ia tahu. termasuk perihal Jia-yi‒atau mungkin Jin-yi.

“Baekhyun hyung.” Ini bukan sebuah panggilan, namun kesengajaan pengucapan nama yang Sehun lakukan. Kedua gadis tadi menoleh, Sehun langsung buka suara, “Apa hubungan salah satu di antara kalian dengan Baekhyun hyung?”

Mendadak saja Jin-yi dan Jia-yi terjatuh, bersamaan dengan goncangan yang tiba-tiba terjadi. “Gempa!” Keduanya lantas saling membantu untuk berlari ke tepi wilayah skating. Sehun mendongak demi mendapati pemandangan kastil-kastil buatan dengan cepat retak dan roboh.

“Lari kembali ke pintu di mana kita masuk!”

Ketiganya berlari, yang paling sering tersandung‒hampir tersandung‒malah Jin-yi, untunglah Jia-yi dengan cekatan membantu si adik.

Sedikit pun Sehun tak menduga jika gempa akan melanda ketika dia berkeliaran di bangunan mewah nan megah seperti ini? Dia berlari cepat, mencoba menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Kala Jin-yi tersandung lagi, Sehun menghentikan larinya dan berbalik menghampiri Wang bersaudara tersebut.

Di tengah itu semua bisa dengan jelas Sehun melihat satu tiang penyangga roller coaster bergetar. Tidak ada waktu banyak. Alas yang mereka pijak getarannya bertambah hebat. “Berpegangan!” seiring dengan seruannya, Sehun sudah menyahut tangan Jia-yi lalu berucap sejelas mungkin, “Tidak akan membutuhkan waktu lama untuk keluar kalau kita berlari cepat.” Tepat saat itu, tiang yang sempat Sehun perhatikan makin bergoyang, kemudian membengkok dan jatuh layaknya adegan slow-motion.

Tak ada waktu untuk menikmati bagaimana tiang roller coaster tersebut bercumbu keras dengan kubangan air di bawah dan memberi retakan pada tanah. Suaranya menderu, mengerikan untuk diresapi telinga. Perlu fokus pada keseimbangan yang lebih dari biasanya bagi mereka bertiga saat mengayun kaki. Selain itu mereka juga harus menghindari tersandung bola-bola kaca berisi replika tokoh kartun yang tengah tersenyum yang menggelinding bebas, ah, jangan lupakan tiang lampu bernuansa klasik yang langsung roboh begitu tertimbuh wahana permainan.

Sehun masih sempat melirik wahana Gyro Swing yang terayun kecil ke kanan-kiri. Jangan sampai wahana yang mirip piring itu terlempar, bisa fatal akibatnya. Kastil di bagian outdoor sudah pasti retakannya makin melebar, bahkan beberapa atapnya jatuh karena tak sanggup menahan goncangan dari bumi.

Hampir saja Sehun berseru memalukan tatkala tiang lampu tepat di depan pintu masuk mendadak roboh. Mereka masih beberapa meter lagi untuk melewati pintu utama ketika getarannya mulai mengecil.

“Cepat!” Jin-yi makin memacu larinya. Tak ingin berbahagia dulu menyadari gempa mulai mereda. Siapa tahu hanya sementara, bukan?

Begitu melewati pintu utama, dari kejauhan sudah terlihat beberapa orang melambai-lambaikan tangan. Panik karena ada beberapa orang yang masih berkeliaran di daerah yang sudah dievakuasi, mungkin. Hampir saja Sehun limbung karena ada goncangan singkat yang lumayan hebat sekitar dua atau tiga detik ke depan. Dia menoleh ke belakang dan mendapati sebagian pintu utama sudah roboh, menyisakan beberapa celah yang tak terlalu besar.

Seiring dengan menurunnya goncangan, mereka sampai kembali ke tenda. Begitu saja Sehun memisahkan diri usai memastikan Jia-yi dan Jin-yi baik-baik saja. Lelaki ini berlari kecil seraya menebar pandang ke mana pun fokusnya bisa ditebar.

“Kwon Runa!” Pada akhirnya ia berseru untuk menarik atensi si pemilik nama. Berharap yang dipanggil segera memunculkan kepala di salah satu sudut. Nyatanya malah Sehun berhenti karena lengannya ditarik oleh seorang gadis.

“Dia tak bersamamu? Kau sama sekali tidak bertemu dengannya?”

Ada hawa tak enak yang dapat Sehun rasakan. Tak perlu baginya untuk bertanya agar gadis tersebut kembali angkat bicara, “Runa mengikutimu ke Lotte World.”

“Sialan!”

Satu gerakan membalikan tubuh dan Sehun memacu langkahnya lebih cepat. Dia bisa berlari lebih stabil karena gempa yang tak lagi terjadi. Memang masih ada kemungkinan gempa susulan akan datang, akan tetapi mana bisa Sehun duduk tenang menunggu Runa sendiri yang pulang.

“Dasar gila!” Yang keluar dari mulutnya sedari tadi hanyalah umpatan. Usai masuk kembali ke kawasan Lotte World, Sehun ingin merutuk keras. Di tempat seluas ini bagaimana ia menemukan Runa dengan cepat?

“Berpikir, Oh Sehun!” Ia berhenti, matanya terpejam dengan kerut dalam. Saat ia membuka mata lagi, larinya embali tercipta. Bersamaan dengan seruan yang sekuat tenaga ia keluarkan, “Kwon Runa!” Pandangannya sebisa mungkin awas menelusuri sudut-sudut yang ia lewati. Jangan sampai gadis yang dia cari tertimbun tembok atau besi besi wahana. Tidak, tidak, membayangkan saja Sehun tak mau.

“Kwon Runa! Jawab aku!” terus begitu, mengataan hal yang sama berulang-ulang sampai tenggorokannya sakit. Napasnya terengah, mungkin dia terlalu banyak berlari hari ini. “Bodoh! Lemparkan apa saja yang membuat suara!” Setengah frustasi Sehun sampai melongok ke area skating yang sudah tak berbentuk di beberapa bagian.

“Kau punya mulut tidak, sih?!” Sehun memenuhi peparunya dengan oksigen, berteriak lagi, “Runa!” Dia baru selesai menutup mulut ketika mendengar suara besi yang dilempar—atau sejenis itu kedengarannya. Tanpa pikir panjang Sehun kembali memacu langkah. Hatinya semakin berharap banyak ketika suara tersebut terdengar lagi, kali ini berimbuh teriakan serak seseorang.

“—di sini!”

“Runa!” Mata Sehun sepenuhnya menyipit, mencari sumber suara.

“Dokter!”

Nah, Sehun bisa lihat sebuah besi terayun-ayun lemah di udara, di antara tiang roller coaster. Degubnya semakin cepat, takut kalau-kalau ada hal parah yang terjadi. “Kwon Runa!” Dia tidak tahu cara menghentikan seruan yang sama. Bersamaan dengan ia yang makin mendekat ke arah suara besi terbentur tadi, Sehun bisa melihat warna rambut Runa yang dia hafal. Manik si gadis, juga.

“Dokter!” Runa berteriak, ingin menangis saja rasanya, tubuhnya terkungkung rangka tiang roller coaster—kecuali bagian tangan kanan. Berkat beberapa patahan tiang yang bisa menahan rangka yang tak langsung menindih tubuhnya, Runa masih bisa bernapas dengan baik Akan tetapi dalam hati, menyesal setengah mati akan rencananya mengikuti Sehun, Jia-yi, dan Jin-yi kemari. Persetan dengan apa yang bakal Sehun tanyakan nanti, yang penting Runa ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.

“Bodoh! Kenapa mengikutiku?!” Entah kesal atau panik, Sehun langsung mengambil besi lain yang lebih kuat dan meletakkan di celah rangka paling bawah setelah lebih dulu menumpunya dengan reruntuhan lain; mencoba membuat katrol. Diinjaknya ujung besi dengan kuat, hingga rangka sedikit terangkat. Setelah dirasa lumayan lebar, Sehun menggunakan tenaga lengannya juga. Tak perlu sebah instruksi bagi Runa agar dia membawa diri keluar dari bawah rangka.

Gadis itu merangkak, perlahan mementaskan diri dari tumpukan benda padat yang menyiksanya sedari tadi. Suara besi-besi berbenturan terdengar saat Sehun melepaskan pegangannya pada rangka. Langsung saja ia beralih pada Runa.

“Aku baik-baik saja, Dokter. Hanya sedikit—” Tidak banyak tenaga yang bisa Runa kerahkan untuk berucap karena tubuhnya lebih dahulu tertarik masuk dalam sebuah pelukan tiba-tiba. Bisa dengan jelas Runa merasakan Sehun menempelkan kening dan mata di pundaknya. Napas si lelaki memburu, diselingi sedikit batuk-batuk. Tanpa seuntai kata pun.

Sialan, bagaimana Runa tidak susah bernapas sekarang?

“Gempa!” Mendadak Runa panik, merasakan guncangan lagi. “Gempa susulan!”

Refleks Sehun bergerak cepat. Menyudahi acara pelukan, ia membantu Runa untuk beranjak. “Bisa berlari?” Tanpa susah menjawab, Runa sudah membalas gandengan tangan Sehun dan memacu langkah. Sementara gempa makin kuat.

Sumpah, ini adalah situasi paling dramatis yang pernah Runa alami. Berlarian di antara berbagai hal yang bisa dengan mudahnya roboh karena gempa. Dia sedikit terlonjak kaget karena Gyro Swing sudah rusak parah, piringannya terlempar dari tempat seharusnya. Bungee saja sudah retak di mana-mana—tinggal sentuh dan roboh saja.

“Masih kuat?” Harusnya Runa yang bertanya begini pada Sehun, bukan sebaliknya. Runa yakin Sehun terlalu banyak berlari hari ini, dengar saja batuk-batuknya di sela napas tersengalnya.

“Kau baik-baik saja?” Runa belum sempat mendengar jawaban karena ia lebih dulu menarik Sehun mundur. Sebuah patung ksatria hampir saja menghantam di lelaki. Entah sopan atau tidak, Runa tak kunjung melepaskan pelukannya pada lengan Sehun. “Kau yakin tahu jalan keluarnya di mana?”

“Aku tidak terlalu yakin.” Saat mencari Runa tadi, Sehun tak terlalu memerhatikan jalan. Akibatnya ia harus memutar otak lebih keras, antara mengingat jalan yang sempat ia lewati dan peta lokasi yang pernah ia lihat sebelumnya. Keduanya limbung, sedikit pusing karena pandangannya pun bergoyang.

Sebuah pajangan bola raksaksa menggelinding dari tempatnya. Bukan sebuah kekhawatiran karena jarak Sehun dan Runa masih terlalu jauh untuk dijangkau bola tersebut. Mereka memutuskan untuk berlari lagi. Ingin lekas menyudahi momen dramatis ini, Sehun berusaha mencari arah yang benar sesuai ingatannya.

“Itu!” seru Runa, layaknya mendapatkan kembali kesempatan hidupnya ia menunjuk pintu utama. Tak perlu dikomande untuk cepat, keduanya sudah paham dengan keadaan. Walau sesekali salah satu di antara mereka tersandung kecil, setidaknya tak sampai berguling-guling.

Tatkala telah berhasil melewati dan berlari sekian belas meter dari pintu utama Lotte World, goncangan gempa mengecil. Kendati begitu, Sehun tak ingin ambil risiko dan memilih terus menarik Runa untuk berlari.

Alangkah terkejutnya Sehun dan Runa ketika mendapati tenda pengungsian mereka sudah porak poranda. Melihat bayak orang di sekitar tenda yang hancur, Sehun bisa menduga tak ada korban di sana. Jika ada korban yang tertindih tenda, pasti keadaanya bakal makin panik.

Tak menunggu sampai di gerombolan orang-orang, tanpa kata, mereka langsung merebahkan diri di bawah seraya terengah lelah. Berlomba meraup oksigen untuk paru-paru mereka.

Beberapa orang yang melihatnya langsung berniat membantu, namun Sehun memberi kode menolak. “Biarkan kami bernapas dulu.” Dia menoleh pada Runa yang terbatuk-batuk kecil, “Bagaimana dengan lenganmu?”

Entah dari mana Sehun bisa tahu Runa sedikit merasakan nyeri pada lengannya. Akibat tertimpa reruntuhan kecil wahana roller coaster tadi, sejujurnya.

“Tidak apa-apa.” Terbatuk kecil, Runa mengatur napasnya lagi. Ia memejamkan mata untuk menenangkan diri. Seolah mengerti, Sehun lantas diam. Memilih memandang si gadis dalam hening.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Lirikan Sehun jatuh pada Runa yang baru memberikan botol air pada Jin-yi. Hanya sebentar karena lelaki ini sedikit malu mengingat apa yang baru terjadi sekian puluh menit yang lalu. Bagian mendekap Runa dalam pelukan itu bukan hal yang termasuk dalam gerakan sadar Sehun, pikir si lelaki begitu. Ah, omong-omong beberapa orang sudah dipindahkan ke tenda pengungsian terdekat tadi.

“Jadi?”

Seketika Sehun sadar ada konversasi yang ingin ia mulai bersama Jia-yi barusan. Untung masalah mengatur mimik muka adalah perihal gampang, jadi Sehun tak perlu susah payah khawatir wajahnya memerah. “Jadi, aku ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi di Seoul?”

“Maksudmu?” Jia-yi jelas sedang sok tidak paham. Ah, atau mungkin itu sikap yang ia gunakan untuk berjaga-jaga?

“Aku paham apa yang kau bicarakan dengan Jin-yi kemarin—omong-omong, maaf aku menguping.” Kedikan bahu Sehun tunjukkan, lalu ia berucap lagi, “Dari mana kau tahu banyak soal sinkhole?”

“Kau mengatakannya seolah-olah aku baru mencuri informasi darimu,” ucap Jia-yi remeh. Sebuah balasan yang di awali dengusan napas ia dapatkan dari Sehun, “Apa hubunganmu dengan Baekhyun hyung?”

Seketika kelopak mata Jia-yi menyipit. Tak ingin membuang waktu lebih banyak, Sehun memberi kode dengan menunjuk lehernya, “Kalungmu, itu pemberiannya. bisa kau periksa?” Bukannya sedang hemat kata, Jia-yi memang terlalu fokus pada secuil keterkejutannya. Ada sebuah kertas kecil yang Baekhyun selipkan dalam liontin kalung. “Minimap.” Jia-yi mengatakannya seolah ia begitu yakin sekian puluh ribu persen. Ia mencoba mencari apa saja alat agar ia lebih bisa melihat peta tersebut agar lebih jelas.

“Ada beberapa titik merah di sini. Tempatnya sama persis seperti lokasi sasaran bom, aku yakin.”

Sehun terdiam cukup lama. Mereka saling menatap penuh arti.

“Sekarang aku tidak lagi perlu bertanya tentang apa yang kau tahu dan bagaimana kau bisa mengenal Baekhyun hyung.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Bukankah kau berasal dari Hunan?”

Seorang pemuda mendongak tatkala didengarnya vokal familiar menyapa. Seorang pria berdiri di ujung pintu garasi yang terbuka separuhnya, menginterupsi kegiatan mencuci mobil yang sejak tadi ditekuni pria tersebut.

“Ada perlu apa ke sini, Baekhyun?” tanya pria itu acuh tak acuh.

Baekhyun—si pria yang berdiri di ujung pintu garasi tersebut—merajut langkah mendekati pria yang diajaknya bicara. “Hanya ingin memastikan, kau berasal dari Hunan atau tidak, Luhan.”

Pria yang disapa Luhan itu mengembuskan nafas cukup keras.

“Ya, aku berasal dari Hunan. Puas?”

Baekhyun, menyunggingkan sebuah senyum kecil sebelum dia akhirnya menyandarkan tubuh dengan santai di pintu mobil milik Luhan—yang membuat pria itu mendapatkan lirikan tajam dari pemilik mobil.

“Jauhkan tubuhmu dari mobilku. Kau sudah terlalu banyak merusak kepemilikanku.”

Ah, untuk sekedar informasi. Luhan adalah seorang informan bagi Baekhyun. Pria itu mungkin terlihat sebagai pengangguran, tapi sebenarnya dia punya puluhan juta won dalam depositonya. Dan well, kehidupan yang ia jalani tentu bukan kehidupan yang mudah pula.

Jika ditanya, darimana orang-orang mendapatkan senjata atau kendaraan selundupan dari China? Maka nama Luhan pasti akan tercetus dari bibir mereka. Luhan merupakan satu dari segelintir orang-orang yang bekerja di sindikat perdagangan ilegal China. Kekayaan yang didapatnya dari pekerjaan itu tentu saja tidak sedikit.

“Apa kau tidak dengar dari ‘Dia’ kalau Korea sedang dihancurkan? Kau masih mau bersantai di sini sambil mengelap koleksi mobilmu untuk kemudian membiarkannya hancur, begitu?” Baekhyun bertanya dengan nada sarkatis.

Keduanya jelas tahu kemana arah pembicaraan ini. Herannya, dua orang itu seolah sama-sama enggan kalah berargumen. Terbukti dengan bagaimana bibir Luhan langsung membuka dan menyahut setelah mendengar ucapan Baekhyun barusan.

“Siapa peduli? Tempat ini tidak masuk dalam list yang sudah Dia buat. Aku tidak perlu khawatir.” Luhan berucap santai. Ia kemudian melempar sebuah lirikan pada Baekhyun, “Dan bagaimana denganmu? Kau tidak punya tempat tinggal, tidak juga punya siapapun di sini. Mengapa menanyaiku soal Hunan?”

Mendengar kata Hunan terlontar dari bibir Luhan, ingatan Baekhyun diam-diam tertuju pada seseorang yang telah ditinggalkannya. Baekhyun jelas bukan orang bodoh. Dia sudah tahu begitu banyak tentang gadis bermarga Wang itu untuk bisa datang pada Luhan dan bertanya tentang Hunan.

“Apa kau punya kontak di Hunan? Kupikir aku akan mengirim dua orang wanita ke sana, dalam waktu dekat.” tutur Baekhyun.

“Wanita? Sejak kapan kau peduli pada wanita?” tanya Luhan dengan nada tidak percaya.

Baekhyun mengedikkan bahu acuh, “Sejak aku tahu kalau ada wanita lain yang lebih menarik daripada Reen, mungkin.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Selama ini Runa kira Sehun adalah orang biasa, yang sederhana, dan yang merelakan gaji untuk diberikan orangtua. Namun begitu mendengar frasa ‘milikku’ yang Sehun lontar saat ditanya mengenai kepemilikan mobil mewah yang terparkir manis di tepi jalan, Runa membatin curiga. Bertanya-tanya dalam hati akan apa yang sebenarnya Sehun coba sembunyikan di sini.

Kendati sudah duduk di samping Sehun dan memastikan Jia-yi dan Jin-yi sudah masuk mobil, Runa masih menekuk keningnya. Cara Sehun mengendarai mobil ini pun bisa dikatakan seperti sudah terbiasa. Entahlah, Runa pikir segala hal yang dilakukan Sehun terasa perlu ditanyakan sekarang.

Tahu jika tengah menjadi sasaran tatap, Sehun akhirnya membiarkan katup bibirnya terbuka, “Tanyakan saja.” Ia seolah paham. Terlanjur basah, Runa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertanya, “Kau ini siapa?”

Akan sangat lucu jika Sehun menanggapi dengan lelucon dan tetap keras kepala mengatakan bahwa ia adalah dokter bedah biasa. Lagipula, lelaki ini mulai tak bisa menahan diri untuk menutupi segalanya di depan si gadis. Setelah membelokkan mobil ke persimpangan, Sehun menambatkan pandangan pada Runa.

“Seseorang yang tak pernah masuk dalam daftar dugaanmu dan mungkin tak ingin kau kenal.”

Diam-diam Runa menggigit bibir dalamnya, makin penasaran setengah mati. Tapi kala mendapati Sehun memutus tatap untuk kembali fokus pada jalanan, gadis ini tahu bahwa belum ada jawaban jelas yang akan didapatkan sekarang. Ia memainkan jemari dan mengedar pandang keluar jendela, mengembus napas kecil. Sama sekali tak tahu bahwa Sehun sempat menatapnya melalui sudut mata.

Di sisi lain, Jia-yi baru saja meraih tangan sang adik dalam genggaman. Hening sesaat sebelum ia berucap pelan, “Jangan khawatir. Kita akan pulang ke Hunan.”

“Secepatnya?” Kalau bisa, Jin-yi mau kembali ke Hunan sekarang. Begitupun dengan Jia-yi, ia memutuskan untuk memberi lengkung kurva di wajahnya, berbisik pelan:

“Kuharap begitu.”

“Aku tidak ingin merusak harapan kalian. Tapi kurasa, rencana untuk pergi dari kota ini tidak akan semudah yang kalian bayangkan.” tiba-tiba saja vokal Sehun menginterupsi.

Bukannya menyemangati dua korban mental di kursi belakang, Sehun malah makin menghancurkan asa mereka dengan berkata seperti itu.

“Memangnya kenapa? Apa mereka menutup akses penerbangan atau semacamnya dengan tujuan mengurung sebanyak mungkin warga Korea di sini dan menonton mereka semua terbunuh?” tanya Jia-yi, paham benar kemana arah pembicaraan yang tengah Sehun mulai.

“Sejenis itu, kurasa. Sebelum tiba di Songpa-gu, aku bersama dengan salah seorang rekanku, dia katakan dia akan pergi ke New York dan mengamankan diri di sana. Tapi beberapa hari kemudian kutemukan tubuhnya sudah tidak bernyawa di tengah reruntuhan.

“Menurutku, seseorang yang sekarang duduk manis dan menonton kehancuran Seoul ini pasti akan berusaha mencegah siapapun untuk keluar dari kota. Tidakkah kau pikir begitu?”

Mendengar pembicaraan berat dengan alur tidak jelas yang sedang terjadi di depannya, Runa hanya bisa jadi pendengar. Dia tidak mengerti, Sehun dan Jia-yi ini sudah saling mengenal selama bertahun-tahun atau bagaimana, tapi cara mereka bicara entah mengapa terdengar begitu akrab di telinga Runa.

Atau ini hanya karena dia cemburu saja?

“Aku sarankan kita menunggu di tempat-tempat tanpa tanda yang ada di minimap itu. Kita bisa mencari perbekalan makanan sebanyak mungkin, mencari tempat tinggal sementara untuk mengamankan diri. Pilihan itu terdengar lebih baik daripada sekedar berlarian tanpa arah dan menjadikan nyawa sebagai taruhan.” Sehun memberi saran.

Tidak buruk juga, pikir Runa. Karena mengamankan diri adalah jalan terbaik saat ini. Meskipun Runa masih punya keluarga, sudah berhari-hari ia tidak berhasil menemukan keluarganya. Jangankan menemukan keluarga, berusaha mendekati rumah saja dia tidak mampu.

Seoul sudah berubah menjadi empat, tidak, lima kali lebih luas dari yang pernah orang-orang bayangkan. Jika selama ini mereka hidup dengan menggunakan kendaraan pribadi, atau kendaraan umum. Sekarang, membawa diri berlari dengan benda-benda itu justru akan memperlambat saja.

Pertama, jika di tengah-tengah perjalanan terjadi gempa, sudah bisa dipastikan jika kematian akan jadi hal dominan yang menanti. Kedua, hampir separuh jalanan di kota Seoul sudah hancur. Membawa kendaraan untuk pergi ke tempat yang jauh hanya akan membuang waktu.

Tapi, Sehun sekarang sedang membawa mereka dengan menggunakan kendaraan. Mengapa Runa pikir sedari tadi dia tidak melihat jalanan-jalanan rusak di sekitarnya?

“Kemana kita akan pergi? Aku pikir tempat ini tidak seperti kota Seoul yang hancur.” komentar Runa mengutarakan kebingungannya.

“Kita menghindari bahaya-bahaya itu, Runa. Semakin jauh kita pergi dari pusat kota, kemungkinan untuk menyelamatkan diri akan semakin besar. Itulah mengapa kukatakan, mengharapkan bisa pergi dari Seoul adalah hal yang mustahil saat ini.”

Ya, mungkin penjelasan Sehun sekarang sudah menjadi sebuah titik terang bagi Jia-yi. Sehingga gadis itu sedari tadi hanya berdiam, mendekap sang adik yang terlelap dalam pelukan sementara maniknya menatap kosong ke luar sana.

“Ah, kupikir dengan pergi dari Seoul kita bisa aman.” ucap Runa, pemahamannya pada teori yang berusaha Sehun sampaikan masih belum sampai pada titik paham.

“Bayangkan, Runa. Berapa banyak orang yang akan berusaha pergi dari kota Seoul? Kau pikir kita akan kebagian tiket pesawat? Ah, jangankan tiket. Kupikir lahan parkir saja sudah berubah menjadi antrian untuk membeli tiket.

“Bagaimana jika secara tiba-tiba saja gempa terjadi di sana? Tentu saja… semua nyawa orang-orang yang menunggu waktu untuk meninggalkan Seoul akan berubah jadi antrian menuju kematian.” kali ini Runa mengangguk-angguk mendengar penuturan Sehun.

Sedikit-banyak dia sudah paham apa yang sedang berusaha Sehun sampaikan. Meski belum sepenuhnya, sih. Runa juga paham benar, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mencecar Sehun dengan puluhan pertanyaan.

Mereka setidaknya butuh privasi. Runa, lebih tepatnya, yang butuh privasi.

“Astaga!”

CKIIIITT!!

Mobil yang sejak tadi melaju dengan kecepatan tinggi itu tiba-tiba saja berhenti paksa saat Sehun menginjak rem sekuat-kuatnya. Tidak jelas apa yang sekarang jadi fokus yang membuyarkan perhatiannya dari jalanan kosong di depan sana.

“Runa, ayo turun. Seseorang terluka di sana.” Sehun dengan cepat melepaskan seatbelt-nya.

Masih tidak memahami tentang objek yang sedang Sehun bicarakan, Runa menurut saja. Sementara itu Jia-yi menatap dari jendela mobil. Bisa dilihatnya apa yang mencuri perhatian Sehun sekarang.

Seorang gadis di tengah rerumputan pendek tengah berusaha mengusir seekor anjing hitam yang menggigit kakinya. Tubuh ringkih gadis itu jelas saja tidak akan jadi ancaman bagi si anjing. Entah, apa yang sudah terjadi sebelumnya. Tapi yang jelas Jia-yi paham kalau Sehun tidak akan sampai hati membiarkan seseorang dalam keadaan seperti itu.

Di lain sisi, Runa sudah berhasil memahami apa yang sedang Sehun lakukan. Beruntungnya, ada beberapa perban dan obat-obatan kecil yang Runa kantongi di jaket tebalnya. Sehingga dia tidak harus jadi orang bodoh yang berlari bolak-balik dari mobil ke tempat ini—karena berlari ke tempat ini saja menghabiskan lebih dari satu menit.

Hey! Hey! Apa kau baik-baik saja!?” bisa Runa dengar teriakan Sehun di depan sana. Dengan penuh keberanian pria itu mengambil benda apapun yang bisa digapainya, bahkan ia tak sungkan melepas jaketnya dan mengibas-ngibaskannya pada si anjing supaya lekas melepas gigitan di tungkai si gadis dan pergi.

Usaha Sehun berhasil ketika ia memberanikan diri mendekat, meski Runa bisa melihat sedikit keraguan di sikap Sehun saat akan mendekati anjing liar tersebut, tapi setidaknya keberanian pria itu berhasil terkumpul dan usahanya tidak sia-sia.

Sekarang, tinggallah Runa yang berlari tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalannya karena tungkainya tidak bisa merajut langkah sebesar yang Sehun lakukan.

“Siapa namamu?”

“Apa kau baik-baik saja?”

Runa sampai di sisi Sehun. Ia menyernyit ngeri saat melihat bekas luka robek cukup parah yang ada di betis bagian bawah gadis berambut panjang di depannya.

“Ya… Aku baik-baik saja.”

Runa dengar lirih suara si gadis menyahuti ucapan Sehun. Sementara Runa sendiri cepat-cepat berjongkok di sebelah Sehun, mengeluarkan semua peralatan medis yang ada di kantongnya, berharap pengobatan-pengobatan sederhana bisa menolong si gadis.

“Siapa namamu?” Sehun mengulang pertanyaannya yang belum sempat dijawab si gadis.

Gadis itu sendiri meringis saat Sehun mengecek lukanya dengan tangan terbalut sarung tangan bedah. Meski Sehun sudah sangat berpengalaman di dunia kedokteran, tapi Runa tidak bisa menjamin bagaimana keselamatan gadis itu.

Hey, dia baru saja digigit anjing liar. Seingat Runa, hal itu bisa membuat si korban terkena rabies.

“Hyerim, Kim Hyerim…”

Terdengar hembusan nafas panjang lolos dari bibir Sehun.

“Baiklah, Hyerim-ssi. Aku tidak bisa berbuat banyak pada lukamu. Kau harus pergi ke rumah sakit dan mendapatkan vaksinasi secepatnya. Aku akan memberimu tumpangan jika kau tidak keberatan.”

Nah, sekarang Runa yakin kalau rencana Sehun membawa mereka ke tempat sepi akan berubah karena kejadian tidak terduga ini.

please wait for the next story: Hol(m)es in Dongdaemun

Nida`s Note:

DEMI APA, COBAAN BIKIN KOLAB FF INI SAMA KAKIRIS INI BANYAK SEKALI! Kalo gak percaya tanya kakiris /kurang gawe kalok kalian sampe gini/ /gaaa/

Serius, dimulai dari KakIris yang kerjaannya banyak dan sampe malem, terus aku yang kebetulan lagi UTS, terus merembet ke masalah sana-sini yang … yhabegitulah. Sampe aku sendiri bingung ini mau nulis a/n apa wkwk Gak bisa nulis banyak. Intinya aku BAHAGIA NGETSS bisa kolab sama KakIris wkwk ini kolab pertama kami looh wkwk (KOLAB PERTAMA YANG CUMA BERDUA KAWAN EA CEM KENCAN/NID).

Dan dengan kurang ajarnya aku cuma ikut andil sekian persen :’v Tapi udah seneng ngets EAK muah lah pokoknyah. Seneng deh fiksi kolab ini bisa rilis WAHAHA UNCH LAH.

BIG TENGKYU BANGET buat segala ide yang KakIris bikin tentang HOL(M)ES ini. Makasih juga udah ngebikin Sehun dan Runa jatuh pada sumur yang sama/nid? Aku rela mereka ada di sumur yang sama terus sampe gaada yang mau nolongin/paan sih nid. Semoga lain kali bisa kolab lagi pas waktu senggang :’) (SERIUS, SEJAK KAPAN KITA JANJIAN PEN KOLAB KAK? INI BARU TEREALISASI SEKARANG!) Aku gabisa nulis banyak, intinya maaciw buat KakIris dan buat kalian yang baca Hol(m)es apalagi yang ini wkwk/dasar.

Wes pokoke gitu, aku seneng dan lumayan puas dan suka dan waw, sesungguhnya ini marathon sekali wahaha. Sukak deh. SUKAK LAH ❤ S U K A K K K K K K :3

.kecengan Sehun; nida

Irish’s Note:

INI FITNAH. Kalo Nida bilang dia cuma andil dikit doang di besdey ini, ITU FITNAH KAWAN-KAWAN. Sesungguhnya, sistem kolab sama Nida lebih astral lagi daripada yang kemarin-kemarin. Sama Nida ini udah ngerjainnya H-1, ngerjainnya masing-masing 1 part lagi LOOOOOOOOOOL.

Fyi, di sini 95 % Nida yang buat. Diriku cuma kasih storyline dan Nida bisa berkarya, menistakan Sehun sekaligus membuat Sehun-Runa punya storyline sendiri. Meski belum sekentel susu bendera romens mereka, tapi setidaknya mereka bisa bersamo. WKWK.

Next, Luhan dan Hyerim yang jadi korban ~ DENGAN MODAL H-HOUR MALAH. WKWK.

Sekali lagi, thanks a lot Nid karena udah mau kurepotkan dengan kolaborasi enggak jelas ini. Semoga tahun depan diri ini sudah terbebas dari pekerjaan yang njelimet sehingga bisa ngajakin staff di sini buat kolab egen, EAK /kek Nida/ /gagitu Rish/.

Sekali lagi, diri ini undur diri :”)

Iklan

13 pemikiran pada “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SONGPAGU (2) — IRISH’s Tale

  1. SEKSESKSEKKKKKKKK, KELUAR JUGA YANG INI.
    cieee sehun-runa makin deket ciyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee, yang nguntit sehun lalu ditolongin wkwkwk dan cieeee pelukan ciee wkwkwkwk.
    Eh ini si reen masih aja dinotais, baek udah baekk kalo kamu gak cinta lagi ya udah, reen juga udah gak cinta sama kamu /ga/wkwkwkwk. Kok bau-baunya ini romensnya itu BaekJiayi? Di bday series sebelumnya malah ChanJi kan ya heunggggggg.

    EH LUHANKU, perannya baddas ahahahah kusuka dia dibuat kayak gitu wkwkwk dibanding kalem adem ayem wkwkwkwk. Ini kode ya Luhan yang bakal terlibat sama kepulangan Jin-yi plus Jia-yi, atau gak? XD XD XD

    Dan akhirannya ehhhh ketemu Hyerim WKWKWKWK, akhirnya yashhh! Hyerim-Runa dapet 1 screen lagi bersama Sehun-Luhannya sekarang, gak kayak pas itu kita membunuh bahkan ngemakan kekasih sendiri /plok/ @nidakhaanbar

  2. Baekhyun mengedikkan bahu acuh, “Sejak aku tahu kalau ada wanita lain yang lebih menarik daripada Reen, mungkin.”
    SUDAHLAH BEKYUN SUDHAAHH!! AKU SUDAH KEPALANG KECEWA SAMA KAMU BEKYUN. DULU KAU BILANG AKU YANG PALING CANTEKS, SEKARANG KAU BILANG ADA WANITA LAIN YANG LEBIH MENARIK DARI PADA AKU. SUDHAH BEK SUDHAH. AKUH KECIWAH.

    INI BETEWE YANG BIKIN KALIMAT ITU SIAPA? RUNA? SINI TABOK DULU /PLAK

    Tadinya tak pikir collab sama aku uda luar binasa karena h-1.. dan kalian lebih luar binasa lagi. kesibukan real life emang gabisa dianggep enteng.. :”(
    TAPIH AKUK SUKAK IH SUKAK SI REEN YANG UDA MATI AJA DI MENSYEN MENSYEN TERUUSS.
    IH MENSYEN TERUS YAH APALAGI NANTI PAS SERIES BEKYUN! HAROS! HAROS ADAK PLESBEK KAWINAN REEN BEKYUN! /plak /bodoamatkak /serahkamokak

    NANTI JUGAK PAS UDAH SAMPE DI CHENCHEN KAN ADA ARIN KAN PASTI REEN DI MENSYEN LAGIH KAN. YASH!
    TEROS LAGI YAH PAS DI ICING LAGI TERAKHER YAH DI MENSYEN YAH, CERITANYA SI JIAYI NYA PLESBEK PAS DIA AMPIR MATI DI MOBIL GEGARA CIWI GILA EH MALAH DISELAMATIN SUAMINYA. YASH! REEN BERTAHAN SAMPE AKHIR YASH!
    /malah ngebahas Reen bukan ngebahas FF /plak /ditabokin

    Tapi isyumpah di sini rasanya rame beuudd, seruh. Adak tehun bekyun lulu, adak hyerim sama runa sama reen di mensyen! /Reen lagi /plak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s