[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Who’s Teasing Who by ShanShoo

f1e96b6685c55350ff53263680cb0801

credit picture here

ShanShoo’s present

 

Luhan . OC

romance, fluff, friendship // vignette // PG-15

-o-

WordPress : ShanShoo | wattpad : @Ikhsaniaty

 -o-

Genap dua minggu setelah hari pernikahan Park Chanyeol, Lu Han jadi sering bermanja-manja saat laki-laki pemilik senyuman manis itu bertandang ke flat kekasihnya. Luhan selalu menunjukkan perilaku menggemaskan, bahkan terkadang laki-laki itu tak segan mengeluarkan aegyo yang entah mengapa membuat Dana merasa mual. Dana sudah menanyakan beberapa kali perihal perubahan sikap Luhan yang begitu drastis, tapi Luhan juga sering melontarkan jawaban yang sama: “Aku sedang ingin bermanja dengan kekasihku sendiri.”

Bae Joohyun selaku sahabat dari Song Dana pun tak bisa menyembunyikan senyuman menggodanya di saat Dana menceritakan tentang sikap Luhan. Ia tak henti membuat Dana mencebik kesal lalu memukul bahu Joohyun tanpa asa. Ini bukan saatnya bagi Joohyun untuk mengeluarkan candaannya, pikirnya. Tetapi, pemikiran itu pupus sudah kala Joohyun berujar, “Mungkin Luhan sudah tidak sabar ingin segera menikah denganmu.”

Dana menatap Joohyun lurus, mencari apakah Joohyun masih saja bercanda seperti sebelumnya atau tidak. Namun Dana sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari. Hanya ada manik penuh keseriusan yang malah membuat roman Joohyun jadi terlihat berbeda. Dan, Dana tidak menyukai ekspresi serius itu, entah mengapa.

“Tapi, waktunya masih lama,” bisik Dana sedikit canggung, begitu ia ingat kalau masa perjanjian untuk tidak menikah dulu berkisar empat bulan lagi.

Bae Joohyun menyodorkan satu kap kopi hangat kepada Dana, yang ia beli saat ia tiba di lobi utama perusahaan. “Yah, mungkin itu sebabnya mengapa Luhan jadi bertingkah layaknya seorang bocah yang membutuhkan perhatian dari orang tuanya,” sahut Joohyun, nadanya masih terdengar serius.

“Kau yakin?” tanya Dana ragu, sementara sebelah tangannya menerima sodoran kopi hangat itu dan meminumnya perlahan.

“Menurutmu?” Joohyun bertanya balik, turut meminum kopinya sendiri. “Yang bisa kusarankan padamu adalah … cobalah mengerti setiap sikap yang Luhan tunjukkan kepadamu,” katanya. “Walaupun baru pertama kalinya aku bertemu dengan Luhan saat di pesta pernikahan Chanyeol, aku yakin, dia adalah laki-laki yang baik dan memang pantas bersanding dengan gadis yang baik sepertimu juga.”

Mau tak mau, Dana mengembangkan senyuman. Gadis itu mencoba untuk menenangkan debaran jantungnya yang tidak keruan setelah mendengar saran dari Joohyun.

“Terima kasih,” ujar Dana pada karibnya, yang segera dibalas Joohyun dengan anggukan mantap. Selebihnya, mereka kembali pada kesibukan masing-masing. Berkutat dengan papan ketik serta layar komputer di kubikel mereka dan mulai membicarakan seputar pekerjaan tanpa melibatkan masalah pribadi seperti tadi.

-o-

“Song Dana!” Luhan berseru ketika maniknya mendapati Dana yang berjalan ke arahnya selepas jam kerjanya selesai. Luhan memang memberi tahu Dana bahwa ia akan mengantarnya pulang. Lagi pula, kesibukan Luhan hari ini juga tidak terlalu banyak. Luhan hanya perlu menandatangani beberapa berkas perusahaan dan juga melakukan beberapa presentasi dalam acara rapat rutin di perusahaan tempatnya bekerja.

Dana akhirnya sampai di depan Luhan. Maniknya terlihat berbinar melihat bagaimana penampilan Luhan di sore hari yang tak ada bedanya ketika mereka bertemu tadi pagi. Luhan masih terlihat segar, dengan tatanan rambutnya yang agak berantakan namun tidak meninggalkan kesan menawan dalam dirinya.

“Aku membelikan banyak fortune cookies untukmu,” kata Luhan sambil menaikkan sebelah tangannya yang tengah menggenggam sekantung plastik berlabel toko kue yang ia datangi. “Kau menyukai kue ini, bukan?”

Dana mengangguk membenarkan. “Terima kasih,” sahutnya, lalu mengambil alih kantung plastik itu. Sebelum Luhan membukakan pintu mobilnya untuk Dana, kemudian ia berlari kecil mengitari mobil depannya dan memasuki mobilnya untuk segera dilajukan.

-o-

Lagi dan lagi, Luhan menunjukkan sikap yang jarang sekali ia tunjukkan selama usia satu setengah tahun hubungan mereka. Luhan ber-aegyo ria, Luhan yang sering cemberut, Luhan yang selalu merajuk, semua itu tak henti membuat Dana menggelengkan kepala.

Tapi anehnya, sore ini, Luhan tidak melihat adanya gurat kekesalan di wajah sang kekasih. Yang ada hanyalah senyuman terkulum dan semburat merah di kedua pipinya. Padahal Luhan sudah memperlihatkan wajah merajuknya saat ia meminta Dana membuatkan sesuatu untuknya di pantri dapur.

“Kau baik-baik saja, Dana?” tanya Luhan keheranan, tepat setelah mereka menghempaskan bokong ke atas sofa panjang.

Yah, seharusnya pertanyaan itu terlontar dari bibir Dana, bukan Luhan. Mengingat, Luhan-lah yang selama hampir dua minggu ini terlihat ‘tidak normal’ di mata Dana.

“Menurutmu?” tiba-tiba Dana mengubah ekspresinya begitu saja. Semburat merah di kedua pipinya lenyap sudah. Luhan tak lagi melihat adanya kuluman senyum di bibir Dana. Melainkan wajah datar dan juga sedang menahan kesal.

Dana kenapa?

Luhan berdeham. Tidak tahu harus menyuarakan kalimatnya seperti apa. Ia takut salah dalam berbicara hingga menyebabkan tensian darah gadis ini naik lagi seperti beberapa hari yang lalu.

“Kau jadi terlihat aneh, Tuan Lu,” lanjut Dana, tak mengacuhkan bagaimana gusarnya Luhan di mata Dana.

“Aku?” Luhan menunjuk dirinya sendiri. “Apa yang aneh dariku?”

“Sikapmu,” tandas Dana. “Akhir-akhir ini kau begitu berbeda. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tuduh Dana, menyebabkan kedua mata Luhan membelalak sempurna.

Hell! Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu!” Luhan tidak sadar kalau dia baru saja melontarkan perkataan kasar, namun Dana tidak terlalu memedulikan hal itu. Melihat wajah Luhan yang terkejut saja sudah membuatnya mati-matian menahan tawa.

Well, bermain-main dengan Luhan bukanlah sebuah kesalahan besar, kan? Lagi pula, Dana juga sudah cukup lelah menghadapi tingkah Luhan selama dua minggu belakangan. Dan rasa lelah itu berakhir begitu ia mendengar saran Joohyun saat di perusahaan tadi.

Mungkin, ini saatnya bagi Dana untuk membalas setiap perilaku Luhan kepadanya.

Tapi tolong, jangan berpikir kalau Dana adalah gadis yang jahat.

“Benarkah itu, Tuan Lu?” Dana selalu memanggil Luhan seperti itu kalau dia sedang marah.

“Sungguh!” tegas Luhan. Tanpa sadar ia menggigiti bibir bawahnya. “Katakan padaku, apa yang membuatmu berpikiran aku sedang menyembunyikan sesuatu darimu?”

Dana terdiam, mempelajari wajah Luhan yang begitu gusar. Ingin rasanya Dana meledakkan tawanya, tetapi ia tak bisa. Setidaknya, tidak untuk sekarang. Dana masih ingin bermain peran sebagai seorang kekasih yang mencurigai pasangannya.

“Kau tidak berselingkuh di belakangku, kan?”

Rasanya, Luhan tidak lagi merasakan debaran jantung di balik tulang rusuknya.

“Selingkuh?!”

Dana mengangguk santai.

“Oh, Ya Tuhan! Song Dana! Kenapa kau―”

“Sikapmu yang seperti ini tentu saja membuatku berpikiran bahwa kau menyembunyikan sesuatu dariku.” Dana menjeda kalimatnya sejenak. “Lagi pula, siapa yang tahu kau melakukan sesuatu yang jarang kaulakukan kepadaku adalah karena untuk menebus kesalahanmu itu.”

Luhan menangkup kedua pipi Dana dan menatap matanya begitu lekat. Ia ingin memastikan kalau gadisnya ini sedang bercanda, atau sedikitnya menemukan segaris senyum sebagai tanda bahwa gadis itu tengah menahan tawanya yang akan meledak. Tapi sayang, Luhan tidak menemukannya. Wajah gadisnya sukar untuk dibaca. Begitu datar dan dingin.

Oh, apa mungkin Dana sudah cukup pintar untuk mengendalikan ekspresinya di hadapan Luhan?

“Dana, listen to me. I never think to cheating on you, really.” Luhan mendesah panjang. “I just love you, now and forever.

Sekarang, Dana mulai berpikir dua kali. Apakah ia tetap melanjutkan aktingnya atau tidak. Karena kini, mereka telah memasuki suasana terlampau serius, suasana yang Dana buat sendiri.

I just want to marry you, living with you and loving you as I can.” Tak dapat dipungkiri, Luhan merasa sakit mendengar tuduhan tak berdasar yang diberikan Dana padanya. Bagaimana bisa Dana mengatakan Luhan berselingkuh, sementara laki-laki itu tak pernah sedikit pun berniat untuk berpaling darinya.

“Luhan.” Baiklah, sepertinya Dana harus segera menyudahi permainannya. Ia lekas memeluk tubuh Luhan dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “I’m so sorry, I never think that you’re cheating on me.” Dan tak lama, Luhan mendengar isakan pelan Dana di sana.

Luhan termenung di tempat. Kedua tangannya tak beranjak membalas pelukan yang Dana berikan.

“Maaf jika bercandaku kelewatan,” bisik Dana di tengah tangisannya.

“Apa?”

“Aku hanya bercanda.” Dana berujar tegas, bukan berupa bisikan lagi. Ia menarik wajahnya dari sana lalu menatap Luhan lekat-lekat. Ada gurat kekagetan yang kembali menyapa wajah laki-laki itu. “Aku sungguh tidak bermaksud untuk menuduhmu yang tidak-tidak.”

“Lalu?”

“Yah, anggap saja kalau aku sedang membalasmu, atas sikapmu yang selalu berlebihan seperti ini?”

Bukannya merasa kesal, Luhan justru tertawa ringan. Sebelah tangannya lantas mengusak puncak kepala Dana gemas. “Biar kutebak,” katanya. “Kau pasti merasa terganggu oleh sikap ‘aneh’ku selama dua minggu belakangan, kan?”

Dana merengut kesal, detik berikutnya ia mengangguk mengiakan.

Mengangkat sebelah bahunya, Luhan berkata, “Yah, anggap saja aku sedang menunjukkan rasa bahagiaku karena tak lama lagi, kau dan aku akan menikah.”

Dana diam, dan Luhan memberi cengiran lebar kepadanya.

“Aku tentu ingat, masa habis perjanjianmu tersisa empat bulan lagi, benar?”

Gadis itu merasa kedua pipinya kembali memanas.

“Itu artinya, aku harus menyiapkan segalanya sampai masa penantianku untuk melamarmu berakhir.” Luhan tersenyum puas di akhir kalimat. “Tindakanku sudah cukup tepat, kan, Dana?”

Satu kecupan ringan di pipi Dana, dan itu berhasil membuat kerja jantung sang gadis meningkat drastis. Sedangkan Luhan sama sekali mengabaikan bagaimana usaha Dana untuk menetralkan lagi detak jantungnya yang terlampau cepat.

“Mau kubuatkan lemon tea juga, Sayang?” tawar Luhan sambil beranjak berdiri. “Oh, benar. Kau tidak boleh menolak segala apa yang kuinginkan, kuberikan atau kutawarkan kepadamu,” ucapnya tegas, seakan tak mengizinkan Dana untuk mengeluarkan suaranya sedikit pun.

Dana mendongak, kemudian matanya membelalak lebar di saat Luhan mengecup ringan bibirnya sebanyak tiga kali. “Termasuk yang ini,” bisiknya sensual.

Dana ingin memukul Luhan sekeras mungkin, tetapi laki-laki itu sudah keburu meninggalkannya ke ruang dapur demi menyiapkan dua cangkir lemon tea sebagai pelengkap fortune cookies yang Luhan beli tadi.

“Sayaang, kau ingin perasan lemon yang banyak atau sedikit?” teriak Luhan, meski sebenarnya Luhan tidak perlu berteriak. Mengingat ruang konter dan ruang duduk hanya berjarak sekitar tiga meter.

“Terserah!” Dana berseru, seraya sibuk menutupi wajahnya yang sudah merah padam sehabis mendapat tiga kali kecupan dari Luhan di bibirnya.

“Sayang, aku melihatmu!”

“….”

“Kau menginginkan kecupan yang lainnya, ya?”

“Diamlah!”

-end

Anjaaaay! Ini kenapa ngaco begini dah? Malu daku x(

Jangan lupa tinggalkan komentarnya sehabis membaca yaa ^^

Terakhir, pibesdey bias kesayanganku setelah Baekhyun :*

Gak tau deh mau ngetik apa lagi. intinya, semoga karir Luhan makin sukses, tetep sehat sama tetep sayang sama Isan /g

Salam sayang,

ShanShoo ❤

Iklan

9 pemikiran pada “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Who’s Teasing Who by ShanShoo

  1. Aduuh luhan, itu foto nya bikin aty meleleh 😐 . Rasanya, luhan tuh ngasih kode ke buat dipeluk. Dan itu apa?! Aty juga mau dipeluk dong sama luhaan. Kak, romance nya itu kerasa bangeet. Empat bulan lagi, dan nanti tinggal seminggu lagi mau nikah. Hadeuh, aty tunggu deh mereka, meskipun aty cemburu 😥 . 😀 😀 😀 ❤ ❤ ❤ ❤

  2. Wah dana wah dana wahdanilah wahdanilah*kosidahan/kemudianditabok
    Ciee dana…. merah nih merah mukanya hahaha…. si luhan sih tingkahnya kelewat absurd jadi si dana-nya jengkel? Jengkelin?*ngaco

    Buat kak shansoo 👍ceritanya jjang! Tetep mangatse ya….

    Oh, ya. Hbd lulu…

    • Wkwkwk kok ngakak ya xD
      Lagian siapa yg gak bakalan bersemu kalo digoda sama pacarnya? XD
      Eheheh makasih ya … (Aku gak tau nama kamu 😂)
      Ohiya, panggil aku Isan aja, 97L 😂

    • Jangan ngakak kak, nanti keselek. Eh, terserah juga sih, itu kan hak asasi manusia untuk hidup bahagia?

      Iya, sama-sama kak isan. Panggil aku nano atau mel aja. Melon juga boleh.
      Aku 99L

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s