[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] The Ending Scene (Oneshot) – Shaekiran

PicsArt_04-20-09.56.01.png

The Ending Scene

A Fanfiction by Shaekiran

Dedicated for Xi Luhan’s Birthday

Xi Luhan & Hyekim’s | OC Kim Hyerim

with EXO’s Chanyeol & OC’s Lee Yara

family | AU | sad | angst | romance | slice of life

PG-17 | Oneshot

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Warning, typos bertebaran.

Happy reading!

.

Warning! Terdapat konten dewasa, dimohon kebijakan dari para pembaca sekalian. Terimakasih.

.

.

“Sebuah akhir yang

telah menjadi garis takdir.”

.

.

16 April 2017

 

Pip…Pip…..Pip….

Trakk.

Brugh.

Shit.” Si lelaki mengumpat seiring dengan suara yang memenuhi telinganya secara berurutan itu. Nampak jam weker digital yang tadi berbunyi di atas nakas kini sudah tergeletak mengenaskan begitu saja di atas lantai yang dingin, efek si lelaki yang baru saja dengan tidak sengaja menjatuhkan jam wekernya itu karena belum terbangun sepenuhnya.

Lelaki itu —Xi Luhan namanya— nampak menyesuaikan matanya yang baru saja terbuka dengan sinar keemasan yang masuk ke dalam kamarnya lewat celah kecil di kaca jendela. Ia mengucek matanya perlahan, lalu teringat sesuatu yang cukup penting untuk ia sadari ketika ia menemukan dirinya terbangun di tempat yang lain dari tempat dimana ia biasanya terbangun.

“Aku diman—ah, benar juga, aku sedang ada di Seoul, bukan Beijing.” Luhan menarik nafasnya sambil membatin setelah mengingat keberadaannya sekarang, lalu memposisikan dirinya untuk bangun sepenuhnya dari tempat tidur meski lelaki bersuarai kecoklatan itu masih setengah mengantuk. Dengan wajah bantal dan langkah terseok-seok, Luhan memungut jam wekernya yang untung saja tidak rusak dan kembali memposisikan benda berwarna hitam itu di atas nakas.

Sekon selanjutnya Luhan membawa dirinya menuju kamar mandi. Tak butuh lama bagi Luhan untuk membasuh dirinya, terbukti karena 10 menit kemudian Luhan sudah keluar dengan menggunakan jubah mandi berwarna putih dan rambut basah. Luhan melangkahkan kakinya menuju lemari di sudut kamar, lalu segera mengganti jubahnya dengan sebuah kemeja hitam dan celana panjang berwarna senada dengan atasannya.

Luhan mempatri dirinya di depan cermin, ia tersenyum samar ketika sekelebat bayangan seorang gadis yang tiap pagi biasanya akan memeluk pinggangnya dengan erat dari belakang muncul dalam pikirannya. Luhan terkekeh, mengenyahkan semua bayang yang seakan mengejeknya tiap pagi menyinsing itu. Selanjutnya Luhan mengenakan topi hitam miliknya, lalu melangkah menuju pintu kamar dan meraih sepatu pantofel hitam mengkilat yang akan menjadi pelindung kaki-kaki rapuhnya hari ini.

“Lu, kau mau kemana?” tanya seorang gadis yang masih mengenakan celemek berwarna biru muda ketika melihat Luhan keluar dengan berpakaian rapi padahal hari masih belum genap menunjukkan pukul 7 pagi.

“Chanyeol belum bangun?” Luhan mengalihkan pembicaraan, malas menjawab pertanyaan yang dilontarkan si gadis. Gadis itu —Lee Yara— pun lantas menggeleng dengan cepat. “Dia masih tidur, mungkin kelelahan?” jawab Yara dengan yakin. Mendengarnya Luhan pun segera terkekeh, ia menaikkan ujung bibirnya, lalu tersenyum miring pada gadis bermarga Lee itu sambil menaik-turunkan alisnya. “Kelelahan kenapa?” tanyanya yang membuat pipi Yara segera memanas.

“Dia capek bekerja Xi Luhan, jangan bicara yang aneh-aneh!” pekik Yara cukup keras dengan pipi semerah kepiting rebus. Melihat reaksi Yara yang Luhan sendiri sudah tau artinya —padahal tadi ia hanya tengah bercanda— Luhan pun segera mengacak-acak surai Yara dan tertawa kecil hingga menunjukkan deret giginya yang putih bersih.

“Sudahlah, aku pergi dulu,” pamit Luhan kemudian mengakhiri aksinya menggoda Yara pagi ini tentang apa yang gadis bermarga Lee itu lakukan dengan Chanyeol —lelaki yang sudah resmi menjadi suami gadis itu sejak beberapa bulan yang lalu.

Ya! Jawab dulu kau mau kemana!” teriak Yara, namun naas, Luhan malah tidak peduli dan sudah menutup pintu rumah Chanyeol, meninggalkan Yara yang kini berkacak pinggang karena Luhan yang lagi-lagi merahasiakan sesuatu darinya.

 

 

Luhan memarkirkan mobil Audi hitam miliknya, lalu segera turun dari kendaraan mewah beroda empat itu. Ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya mengenakan topi yang tadi ia lepas saat mengendarai mobil, lalu menutup pintu mobilnya dengan perlahan. Yakin sudah mengunci mobilnya, Luhan pun segera meninggalkan area parkir itu dan merajut langkahnya menuju tempat tujuannya yang sudah ramai pengunjung; Gyeonggi Do Ansan Memorial —tempat peringatan para korban Kapal Sewol.

Luhan menghela nafasnya sangat dalam ketika sudah berada dalam kerumuman orang yang memenuhi tempat peringatan itu. Ia tersenyum samar ketika menemukan apa yang ia tuju, sebuah foto gadis yang sangat ia kenali dan masih terpatri dalam ingatannya dengan begitu jelas meski 3 tahun sudah berlalu begitu saja.

Anyeong Hyerim-ah, apa kau baik-baik saja di sana?”

Luhan tersenyum tipis, memaksakan dirinya untuk tampak bahagia di depan foto gadis bermarga Kim yang sudah mencuri hatinya sejak dulu itu. Namun senyumnya hanya bertahan sedetik, karena sekon selanjutnya sebuah bulir bening kini jatuh meleleh di pipi Luhan. Lelaki itu menangis, ya, dia tidak akan pernah bisa berpura-pura bahagia di depan gadisnya. Hati Luhan hancur tanpa perlu panjang lebar ia definisikan berapa milyar retakan yang sudah tercipta ketika memori Hyerim pergi meninggalkannya terbayang dalam benak Luhan. Ia merindukan Hyerim, bahkan sangat merindukan gadis yang selalu memeluknya tiap pagi itu—saat ia dan Hyerim masih ada di alam yang sama.

 

 

16 April 2014

 

“Kau harus pergi?” Luhan nampak duduk resah di atas tempat tidur, sementara gadis yang ia ajak bicara malah asyik mendandani diri di depan cermin. Gadis itu meraih lipbalm-nya, lalu mulai mengoleskan benda berwarna peach pink itu di bibir tipisnya.

Ya! Kim Hyerim, jawab aku.” Luhan menaikkan suaranya, namun si gadis masih saja tidak peduli —atau malah pura-pura tidak peduli karena si gadis sekarang malah tengah tersenyum-senyum kecil dibalik aksinya memoles bibir.

Tak tahan tak diacuhkan oleh gadisnya sendiri, Luhan pun mengambil inisiatif berdiri dari posisi duduknya di kasur empuk milik gadis itu —karena nyatanya ia tengah berada di kamar si gadis— lalu segera melangkahkan kakinya menuju sosok Hyerim yang masih mematut diri di depan cermin.

Grep!

Secara paksa, Luhan memutar posisi tubuh Hyerim hingga gadis itu kini berada tepat di depan wajah Luhan. Dengan gerakan secepat kilat, Luhan pun segera mendaratkan bibir miliknya di atas bibir Hyerim yang sudah berbalut lipbalm berwarna peach pink itu.

Cup!

Luhan memejamkan matanya, sementara Hyerim kini masih membulatkan mata dengan aksi tiba-tiba Luhan hingga bahkan gadis Kim itu tidak sadar bahwa ia sudah menjatuhkan lipbalm kesayangannya ke lantai kamar.

Luhan yang sejatinya jauh lebih dewasa dari Hyerim pun segera memimpin permainan. Awalnya ia hanya mengecup seisi permukaan bibir Hyerim yang memabukkan, namun perlahan kecupan milik Luhan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Dengan aksi sedikit nakal, Luhan pun menggigit sudut bibir Hyerim hingga gadis itu memekik kaget dan segera membuka mulutnya. Tak mau kehilangan kesempatan, Luhan pun segera melesatkan lidah miliknya ke dalam mulut Hyerim, mengabsent satu per satu isi mulut gadis itu sebelum akhirnya mereka berakhir dengan aksi saling perang lidah.

Hyerim yang awalnya masih kelabakan dan terkaget dengan apa yang sedang dilakukan Luhan nampaknya sudah bisa mengimbangi gerakan-gerakan nakal yang sedang dilakukan lelaki itu padanya. Dengan satu fakta bahwa Hyerim tidak suka kalah —apalagi kalah dalam berciuman— gadis itu pun segera memperdalam ciumannya dengan Luhan, merubah angle kecupan panas mereka, juga melumat lidah Luhan yang kini beradu dengan lidahnya. Kini bahkan tangan Hyerim sudah dengan liar melingkar di leher Luhan sambil sesekali mengacak surai Luhan dengan gerakan yang menurut pemuda Xi itu sangat sexy.

Merasa permainan semakin memanas, Luhan pun tidak tinggal diam. Masa bodoh meski hari bahkan belum genap pukul 7 pagi atau Hyerim yang harus pergi ke sekolah dan melaksanakan study tour. Nyatanya, entah sejak kapan Luhan sudah membawa Hyerim ke atas ranjang empuk milik gadis itu dengan posisi Luhan ada di atas Hyerim.

Luhan melepaskan pagutannya dengan Hyerim, membiarkan ia dan gadis itu untuk mengambil nafas sejenak. “Dasar gadis nakal,” decak Luhan, namun Hyerim malah hanya tertawa kecil sembari mencuri-curi waktu untuk mengisi oksigen. “Aku bisa lebih nakal lagi, ahjusii.” lirih Hyerim sambil mengigit bibir bawahnya sementara tangannya kini bergerilya di dada Luhan yang hanya berbalut kemeja putih tipis. Demi Tuhan, hanya dengan sentuhan-sentuhan kecil itu Hyerim sudah merasakan perut Luhan yang terbentuk enam tingkatan kotak-kotak dengan baik.

Eugh…Hyer..” Luhan merasa dirinya menjadi gila ketika Hyerim —entah sengaja atau tidak— kini membuka kancing kemeja Luhan yang teratas sambil mengigit bibir bawahnya setengah tertawa.

“Jangan salahkan aku kalau kali ini kau hamil Kim Hyerim,” putus Luhan akhirnya karena ia merasa sudah benar-benar lepas kendali padahal hari masihlah sangat pagi. Dengan gerakan cepat, Luhan pun segera memagut bibir milik Hyerim lagi yang segera di balas gadis itu dengan lumatan tak kalah memabukkan bagi Luhan.

Puas dengan bibir milik gadisnya, Luhan pun kini beralih ke leher jenjang milik Hyerim. Ia mengecup leher Hyerim berkali-kali, bahkan hingga meninggalkan tanda kepemilikan di leher jenjang gadis itu.

Eughh….Lu….Han….ahh….” desah Hyerim karena kini ia merasa jemari Luhan sudah bergerak ke dalam kemeja seragam miliknya, lalu menggerayangi bagian-bagian sensitif Hyerim dibalik pakaian putih itu. Hyerim seperti lepas kendali. Bukannya menghentikan Luhan yang sepertinya sudah kalap, Hyerim malah menarik Luhan hingga kini wajah pemuda Xi itu sudah berada tepat di atas dada Hyerim tanpa jarak sedikitpun, benar-benar tanpa satu milimeter pun.

Eughh…”

Drtttt…… Drtttt…..

Luhan tidak peduli. Ia masih setia berada di atas Hyerim, masa bodoh kalau sekarang ponselnya berdering tanpa henti.

Drtttt…. Drtttt….

Eugh…Lu…ponselmu…..”

“Biar saja,” jawab Luhan cepat tanpa menghentikan aksi tangannya bermain di dada Hyerim, namun gadis itu malah beralih menjambak rambut Luhan kuat hingga lelaki itu memekik kesakitan.

Mwo? Kenapa kau menjambakku?” kesal Luhan sambil bangkit berdiri dengan ogah-ogahan. Ia menatap Hyerim —yang entah sudah berwajah seperti apa sakin merahnya namun tetap cantik di mata Luhan— setengah memicing, semenatara gadis 18 tahun itu balas mempelototi Luhan.

“Suaranya membuatku tidak fokus Luhan. Matikan, lalu kembali ke sini,” pelotot Hyerim sambil menepuk-nepuk ranjang. Luhan yang sudah bangkit berdiri dan menapakkan kakinya di atas lantai balas menatap Hyerim yang masih berbaring itu dengan tatapan tidak percaya. Memang, gadis itu super luar biasa anti mainstream. Padahal tadi Luhan pikir Hyerim akan menyuruhnya mengangkat telfon dengan dalih mungkin saja itu telfon penting, namun Hyerim malah menyuruh sebaliknya; mematikan ponsel sialan milik Luhan. Oh astaga! Karena inilah Luhan kadang berpikir begini, Hyerim masih benar-benar 18 tahun? Kenapa dia sangat luar biasa tidak polos?

“Baiklah, aku akan mematikannya sayang,” vokal Luhan selanjutnya sambil menggerakkan tungkai kakinya menuju nakas —tempat ponselnya berada.

From: Sekretaris Zhang
Direktur Xi, anda punya rapat mendadak hari ini. Presdir Xi memerintahkan anda untuk melaporkan berkas mengenai projek bulan lalu.

Luhan memijit pelipisnya, sedikit memaki ketika menemukan pesan itu terpampang di layar ponselnya. Ia menatap Hyerim sebentar, memeriksa reaksi gadis itu.

“Siapa?” tanya Hyerim sambil menaikkan sebelah alisnya, seakan sadar kalau sekarang Luhan mungkin sedang meminta pendapatnya.

“Sekretaris Zhang.” Jawab Luhan sambil terkekeh pelan.

“Urusan pekerjaan?” Luhan mengangguk, membuat Hyerim kini mengulum senyum sambil bangkit dari tempat tidur dan memperbaiki kemeja sekolahnya.

“Pergilah, kau akan terlambat nanti.” vokal Hyerim lagi sementara Luhan kini hanya bersandar santai ke dinding sambil memangku tangannya di depan dada.

“Kau tidak apa?” tanya Luhan, sementara gadis itu hanya tertawa setelahnya.

“Aku akan ke Jeju, tentu saja aku tidak apa-apa. Sudahlah, pergi sana, aku juga ingin pergi ke sekolah sekarang. Kau tau, aku sangat berpotensi untuk datang terlambat.” jelas Hyerim sambil memakai jaketnya, lalu jemarinya bergerak meraih tas ranselnya dan menyampirkan benda itu di punggungnya.

“Mau ku antar? Hm, ini ulang tahunmu, dan aku sebenarnya sedikit kesal karena kau harus studytour ke Jeju padahal aku mengharapkan malam yang romantis untuk kita berdua hari ini.” Luhan begerak memangkas jarak dengan Hyerim, hingga kini ia dan gadisnya itu hanya berjarak sekian jengkal lagi.

“Kita rayakan saat aku pulang saja Lu, di hari ulang tahunmu, arraseo? Aku akan pulang tanggal 20 nanti, sayang. Tak apa, aku minta diantar Park ahjussi saja,” Hyerim merapikan pakaian Luhan, lantas gadis itu tersenyum saat Luhan kini mengecup pucuk kepalanya.

“Selamat ulang tahun sayang.” frasa Luhan sambil menatap lekat Hyerim yang sudah memeluknya dengan erat.

“Terima kasih Lu, kau manis sekali.” balas Hyerim. Detik selanjutnya gadis itu mundur selangkah, melepaskan diri dari pelukan eratnya dengan Luhan.

“Aku pergi, arraseo? See you in 20th!” kata Hyerim ceria lalu mulai merajut langkahnya menuju pintu kamarnya. Luhan melambaikan tangannya, membalas lambaian tangan Hyerim.

“Aku akan mengirim pesan kalau kapalnya berangkat, bye sayang!” ucap Hyerim sebelum menutup pintu kamarnya, lalu mulai melangkahkan kaki menuju Park ahjussi —salah satu supir Luhan— yang sudah menunggunya dibalik kemudi.

Bingung? Ya, Hyerim sendiri bingung kenapa ia terjerat dengan Luhan sejauh ini. Awalnya ia hanya dijodohkan dengan pemuda Xi itu karena urusan bisnis ayahnya dengan perusahan Xi. Tentu saja awal mulanya gadis itu menolak. Siapa juga yang mau dijodohkan dengan pemuda dewasa berumur 23 tahun ketika kau adalah gadis cantik berusia 18 tahun yang punya pacar tampan —nama mantan pacar Hyerim sebelum melabuhkan hati pada Luhan adalah Oh Sehun; si pangeran sekolah— dan juga menjadi idola para kaum lelaki di sekolah? Bukannya menyombong, tapi Hyerim adalah ratu sekolahan, dan tentunya gadis itu tidak mau saja dijodohkan dengan lelaki yang 6 tahun lebih tua darinya, apalagi sang ayah mengatakan bahwa mereka akan dinikahkan sehari setelah Hyerim lulus SMA.

“Ayah gila!” reaksi gadis bermarga Kim itu ketika sang ayah mengantar Hyerim ke rumah Luhan yang terpisah dari keluarganya, singkatnya ia dan Luhan akan tinggal serumah, dan hanya akan ada mereka berdua di rumah itu. “Akan dinikah selepas tamat SMA, dan sekarang disuruh tinggal bersama, bukankah ayah gila?” tolak Hyerim pada ide ayahnya itu, namun si ayah tetap tidak peduli.

Namun siapa yang tau takdir?

Nyatanya sekarang Hyerim jatuh begitu jauh ke dasar hatinya Luhan. Ya, Luhan, lelaki keturunan China itu sudah membuat Hyerim dimabuk cinta.

Jauh dari kata benci menjadi cinta, atau Luhan yang pada awalnya galak pada gadis itu dan membuat Hyerim menjadi babu di cerita-cerita drama atau novel, kisah Hyerim dan Luhan berjalan begitu sederhana hingga gadis itu sendiri tidak sadar kapan ia telah terperangkap dalam jerat pesona Luhan.

Hyerim-ah, boleh aku panggil begitu saja kan? Kau cantik, hehe. Oh iya, namaku Xi Luhan, 26 tahun. Hm, kalau aku memperkenalkan diri sebagai calon suaminya Kim Hyerim, gadis cantik berusia 18 tahun, tidak apa kan? Baiklah, let’s fall in love, Kim Hyerim.”

Dari awal perkenalan itu saja, Hyerim sudah terpesona. Awalnya ia pikir ia akan dijodohkan dengan lelaki tua yang jelek hingga tidak ada wanita yang mau menjadi istrinya, tapi nyatanya? Hyerim malah dihadapkan dengan Luhan, calon pewaris tunggal Grup Xi yang notabene keluarga konglomerat. Tidak hanya itu, Luhan pun ternyata berparas tampan dan punya senyum yang manis. Kalau Luhan tidak mengatakan usianya, Hyerim mungkin berpikir bahwa Luhan itu sepantaran dengannya. Ah, asal kalian tau saja, Luhan tiu benar-benar babyface, wajahnya tidak boros sama sekali. Hyerim sampai pangling rasanya.

Luhan tersenyum sangat hangat pada Hyerim, ia bahkan membantu gadis itu mengangkat koper ke dalam kamar, menawarkan bantuan untuk mengantar gadis itu ke sekolah, mengajari si gadis tentang Matematika yang sangat gadis itu benci, merawat Hyerim ketika sakit, mengajak Hyerim jalan-jalan dan selalu menyempatkan diri untuk makan malam di rumah bersama Hyerim di waktu sesibuk apapun itu. Luhan tergolong sangat dewasa dalam berpikir, juga sangat mengerti seorang Kim Hyerim luar dan dalam meski mereka baru mengenal dalam waktu singkat.

Dan Hyerim tidak mau menjadi gadis naif yang muluk-muluk. Jelas saja ia terperangkap dengan sikap dewasa dan pengertian yang diberikan Luhan padanya. Tidak butuh waktu lama, Hyerim sudah jatuh cinta dengan Luhan dan dengan mudah gadis itu mengakhiri hubungan dengan pacarnya di SMA demi memantapkan hati hanya untuk Luhan seorang.

“Kau baru datang?” Hyerim tersadar dari lamunannya, lalu segera menoleh ke kanan dan mendapati Lee Yara —sahabatnya— sudah berdiri di sebelahnya sambil memangku tangan.

Hm, aku barang datang.” jawab Hyerim singkat sambil tersenyum tipis, membuat Yara kini menaikkan sebelah alisnya. “Kau melakukan apa saja tadi dengan si Luhan itu? Biasanya kau tidak pernah datang di menit-menit terakhir.” selidik Yara yang segera membuat tawa Hyerim menguar ke permukaan.

“Dia itu kakakmu bodoh,” kekeh Hyerim sambil menepuk bahu Yara cukup keras.

“Tiri.” Ralat Yara yang terang saja membuat Hyerim tiba-tiba saja sewot.

“Tetap saja, dia itu tetap kakak lelakimu.” lanjut Hyerim sementara Yara kini malah mendecih. Ya, salah satu alasan Hyerim makin menyukai Luhan adalah fakta bahwa kekasihnya itu adalah kakak sahabatnya sendiri, tentunya ia makin bahagia ketika mendapati bahwa calon iparnya adalah teman dekatnya kan?

Ya! Kau masih saja marah padanya karena melarangmu berkencan dengan Chanyeol oppa?” tebak Hyerim lagi yang segera mendapat tatapan tajam dari Lee Yara.

“Wajar saja. Chanyeol oppa kan terkenal playboy, apalagi dia adalah junior kakakmu saat kuliah dan dia juga saingan kakakmu di dunia bisnis kan? Salahmu sendiri mencari pacar yang adalah pewaris Grup Park, kau tau sendiri kan kalau perusahan kekasihmu itu saingan Xi Grup? Apalagi Chanyeol lebih tua 3 tahun darimu, wajar saja kalau Luhan tidak suka.”

Plak.

Ya! Jangan memukul kepalaku!” pekik Hyerim karena baru saja Yara menempeleng kepalanya.

“Kau tidak sadar diri Kim Hyerim? Aku hanya beda 3 tahun, lalu kau beda berapa tahun, huh? Enam, enam tahun Kim Hyerim!” pekik Yara sambil menaikkan 6 jemarinya ke depan Hyerim.

“Tapi kakakmu terlihat seperti berumur 7 tahun.” bela Hyerim yang segera membuat Yara mendelik kesal.

“Satu lagi, jangan bicarakan si Chanyeol brengsek itu.” lanjut Yara makin kesal yang segera membuat Hyerim penasaran, “Kau bertengkar dengannya?”

“LEE YARA!”

Atensi keduanya langsung teralih pada sesosok lelaki tinggi yang kini berteriak ke arah mereka. Yara membulatkan matanya ketika menemukan Chanyeol sudah ada di depan gerbang sekolahnya, lalu melambaikan tangan ditambah berteriak super keras yang terang saja membuatnya segera menjadi pusat perhatian seisi sekolah.

“Kau bertengkar dengannya kan?” lagi, Hyerim bertanya sambil berbisik pada gadis bermarga Lee itu yang segera di balas Yara dengan sebuah helaan nafas berat.

“Kemarin dia selingkuh lagi, memang si brengsek itu.” Hyerim terkekeh, ia tau kalau Yara sering memergoki Chanyeol selingkuh dengan banyak wanita seperti julukan lelaki itu —international playboy— namun Yara tetap saja cinta dengan si jangkung bermarga Park itu. Mau bilang apa kan? Katanya cinta itu buta dan saling memaafkan.

“Aku duluan ya Kim Hyerim. Sepertinya aku harus menemui si brengsek itu sebelum dia membuat kekacauan di sini.” vokal Yara sambil menunjukkan sebuah pesan yang terpampang di layar ponselnya yang berisi ancaman Chanyeol akan mengacau kalau Yara masih saja tidak mau menemuinya.

Hm, arraseo. Pergilah, pacarmu sepertinya mau minta maaf.” jawab Yara sambil tersenyum tipis. Yara jelas mengangguk, “Tandatangani namaku, nanti aku akan menyusul ke pelabuhan,” pesan Yara sebelum akhirnya gadis Lee itu berlari ke arah gerbang sekolah untuk menemui Chanyeol.

 

Pengumuman untuk semua siswa dan siswi agar segera berbaris di lapangan apel. Sekali lagi pengumuman bagi…….

 

Hyerim segera berjalan menuju lapangan apel yang dimaksud. Disana, semua siswa dan siswi di-absent —seperti pesan Yara, Hyerim juga menandatangi nama gadis itu—lalu mendengar beberapa ceramah dari kepala sekolah dan para guru pendamping studytour.

Tak lama, Hyerim dan siswa-siswi lainnya masuk ke dalam bus yang akan membawa mereka ke pelabuhan. Setengah jam kemudian mereka sampai di pelabuhan dengan selamat. Hyerim menghela nafasnya berat ketika tidak menemukan Yara di pelabuhan.

Ting!

Suara notifikasi pesan segera membuat Hyerim mengerjap. Ia meraih ponselnya di dalam saku, lalu segera berdecih ketika menemukan bahwa Yara yang telah mengirim pesan padanya.

From: Calon Adik Ipar
Aku berbaikan dengan Chanyeol. Maaf Hyerim-ah, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut studytour, hehe. Jangan bilang Luhan kalau aku bolos studytour, arraseo? Selamat liburan Hyerim, aku juga akan menikmati 4 hari bahagia bersama Chanyeol di Seoul.

Jemari Hyerim segera bergerak mengetikkan pesan balasan pada sahabatnya itu dengan setengah kesal. Ternyata Yara lebih memilih Chanyeol daripada Hyerim dan perjalanan studytour ke pulau Jeju.

To: Calon Adik Ipar
Terserahmu saja. Aku tidak akan memberitahu Luhan asal saat aku pulang 4 hari lagi kau tidak dalam keadaan hamil.

Beberapa detik kemudian sebuah pesan balasan dari Yara.

From: Calon Adik Ipar
Sialan, aku tidak akan hamil. Oh, kau tau? Chanyeol baru saja memberiku cincin, hehe.

Hyerim menatap pesan itu dengan datar. Ia menutup ponselnya, selain karena para guru sudah menyuruh para siswa untuk naik ke atas kapal feri, ia juga malas untuk mendengar celotehan Yara karena tengah kesal pada calon adik iparnya itu.

To: Ahjussi Ganteng
Lu, aku sudah ada di atas kapal. Sampai jumpa 4 hari lagi sayang. Aku menyayangimu :*

Selesai mengetikkan pesan untuk Luhan, Hyerim segera menonaktifkan ponselnya, lalu segera bergabung dengan teman-temannya yang lain yang sudah mulai sibuk ber-selfie ria di atas kapal. Ya, Hyerim hanya ingin menikmati studytour terakhirnya di jenjang SMA ini. Hyerim ingin menciptakan kenangan bahagia sebagai penutup masa sekolahnya.

 

From: Istriku
Lu, aku sudah ada di atas kapal. Sampai jumpa 4 hari lagi sayang. Aku menyayangimu :*

Luhan menatap pesan yang terpampang di layar ponselnya. Ia baru saja sampai di rumah dan duduk di atas sofa setelah menghidupkan televisi karena ingin menonton berita saham. Sedikit rasa bersalah membesit di hati Luhan karena baru membaca pesan Hyerim. Wajar saja, rapat tadi sangat panjang dan Luhan tidak mungkin bermain ponsel saat para petinggi perusahaan tengah rapat penting. Dengan gerakan cepat, Luhan pun segera mengetikkan pesan balasan pada gadisnya itu.

To: Istriku
Selamat bersenang-senang sayang. Aku merindukanmu :*

Selesai dengan pesannya, Luhan kini mengalihkan atensinya ke layar televisi yang tengah menampilkan berita kenaikan saham. Ia tersenyum ketika menemukan bahwa sahama Grup Xi naik signifikan dan masih memimpin di posisi pertama. Namun senyum Luhan seketika luntur karena berita sahamnya terganti dengan sebuah berita breaking news. 

“Baru saja dilaporkan sebuah kapal Sewol tujuan Jeju tenggelam kurang lebih 20 km di lepas pantai barat daya Korea Selatan. Kapal Sewol dilaporkan mulai miring ketika hendak berlayar menuju Pulau Jeju, pun kini proses evakuasi masih berlanjut hingga sekarang. Penumpang kapal Sewol diantara adalah para siswa-siswi SMA Dawon yang ingin melakukan studytour ke Pulau Jeju. Sampai sekarang belum dipastikan berapa jumlah korban yang meninggal dalam kecelakaan ini.”

Luhan terdiam. Ia mengedip-kedipkan matanya berulang-ulang kali, seakan sadar ada sesuatu yang mengusiknya ketika melihat berita kecelakaan besar itu.

 

Lu, aku sudah ada di atas kapal. Sampai jumpa 4 hari lagi sayang. Aku menyayangimu :*

 

DEG!

 

Luhan memegangi dadanya yang tiba-tiba jadi berdetak semakin kencang, pun jantungnya terasa sakit entah kenapa. Bayangan Hyerim yang tersenyum sambil melambaikan tangan padanya tadi pagi pun seketika muncul bersamaan dengan isi pesan Hyerim sebelum berangkat ke Jeju.

“Tunggu, Jeju…Kapal…Siswa SMA…. Hyerim, tidak, tidak mungkin!”

Luhan memegangi kepalanya, berpikir sangat keras tentang fakta yang sekarang tengah bergumul memenuhi otaknya. Dia ingat Hyerim bersekolah di SMA Dawon, ya, sangat ingat sekali karena dia selalu menyempatkan diri mengantarjemput Hyerim beberapa bulan terakhir ini.

Dengan gerak cepat Luhan pun segera meraih ponselnya, mencoba menghubungi Hyerim.

“Kumohon, jawablah!” batin Luhan, namun hingga panggilan ke-5 pun belum ada jawaban selain suara operator yang mengatakan bahwa ponsel gadisnya itu sedang tidak aktif.

“Sial! Ah, berpikir positif Luhan, mungkin ponselnya lowbat,” batin Luhan menyemangati dirinya sendiri. Ia mengacak rambutnya kasar, lalu teringat sesuatu yang sempat ia lewatkan. Ah, betapa bodohnya Luhan tidak mengingat bahwa adik tirinya sendiri adalah teman sekelas Hyerim.

Yeobseyo?” Luhan tersenyum saat Yara menjawab panggilan telfonnya. Seketika rasa gugupnya hilang.

“Dimana Hyerim?” tanya Luhan cepat yang segera dijawab panik oleh gadis di seberang sana.

“Hyer—Hyerim? Ah….Hmm…..Aku..A—ku…….”

“Lee Yara, cepat jawab aku. Dimana Hyerim?” tanya Luhan lagi karena Yara nampak bingung menjawab pertanyaan Luhan. Apa terjadi sesuatu? Pikir Luhan tiba-tiba tidak tenang.

Yeobseyo?” Luhan mengerjap ketika suara lawan telfonnya sekarang berbeda, suara nyaring Yara kini tergantikan suara berat yang sepertinya sangat Luhan kenal.

“Siapa ini? Mana Yara?!” bentak Luhan, dan lawan bicaranya di seberang sana nampak mulai ketakutan sendiri.

“Ini Chanyeol hyung, Yara ada di sebelahku. Maaf, tapi—“

“—KEPARAT!” bentak Luhan cepat karena tebakannya ternyata benar, itu adalah suara Chanyeol; rival bisnis sekaligus kekasih adiknya itu.

“Maaf hyung aku—“

“—berikan telfonnya pada adikku, BRENGSEK!” bentak Luhan, dan detik berikutnya suara lawan bicara kini kembali menjadi Lee Yara yang sudah ketakutan setengah mati. Bagaimanapun juga, meski hanya kakak tirinya, Luhan tetaplah saudara gadis itu yang punya hak penuh akan Yara karena kedua orangtua mereka sibuk.

Yeob—“

“—Mana Hyerim? Kemana Kim Hyerim?”

Dia di Jeju. Tadi, dia tetap berangkat studytour.” jawab Yara akhirnya jujur.Toh, ia sudah ketahuan membolos studytour dan malah pergi berkencan dengan Chanyeol hingga larut malam seperti ini.

“Me—memangnya kenapa? Kau tidak bisa menghubungi Hyerim? Tenanglah, dia pastiChan, tunggu, jangan ganti siarannya. Andwae, tidak mungkin, tidak, tidak mungkin, hiks…..”

“Kau kenapa Yara-ah, Ada apa?”

“Itu—itu seharusnya adalah kapal yang aku naiki ke Jeju, hiks…. Tidak mungkin. Ah, teman-temanku. Hyerim-ah…hiks….hiks..”

Luhan terdiam. Ia masih menempelkan ponsel itu ke telinganya, pun kini tangis Yara dan percakapan si gadis dengan Chanyeol masih terdengar di rungu Luhan. “Tidak, tidak mungkin!” batin Luhan lagi sementara kini tangisnya jatuh berderai mengenai pipi.

“Ah, hyung, kau masih di sana? Maaf, tapi sekarang Yara sedang menangis hebat.”

“Ke—kenapa?” tanya Luhan terbata karena sekarang Chanyeol yang sudah menjadi lawan bicara Luhan.

“I—itu, kau sudah menonton berita tentang kapal karam di perairan barat daya Korea Selatan? Kapal yang menuju Jeju? Yara bilang, itu adalah kapal yang mengangkut siswa sekolahnya, katanya itu adalah kapal studytour mereka.”

DEG!

Luhan merasakan sakit itu lagi, rasa mencabik yang sekarang sudah menggerogoti jantungnya sejak mendengar penjelasan Chanyeol.

“Yara juga menyebut-nyebut Hyerim, hyung, kekasihmu ikut studytour hari ini?”

Dan detik itu juga pandangan Luhan menggelap. Ia tidak peduli meski kini ponselnya jatuh begitu saja ke lantai, atau raganya yang kini membentur keramik yang dingin dengan begitu keras. Tangis Luhan jatuh seiring pandangannya yang mengabur. Yang ia ingat saat itu hanya Hyerim dengan senyumannya di pagi hari, tidak, bukan ini yang Luhan mau. Hyerim hanya mengatakan sampai jumpa 4 hari ke depan, bukannya sampai jumpa di kehidupan yang selanjutnya. Tidak, Luhan tidak pernah mau ini!

“Hyung, gwenchana? Hyung!”

 

“Hyerim!” pekik Luhan sambil bangkit dari tempat tidur, membuka matanya dengan paksa. Senyum Luhan seketika merekah ketika menemukan gadisnya itu ada di sebelahnya, tersenyum sangat manis kepada Luhan.

“Kenapa sayang? Aku ada di sini bersamamu. Ah, aku bahkan hanya pergi selama 4 hari tapi kau sudah sebegitunya merindukanku?” Gadis bernama Kim Hyerim itu membelai pipi Luhan halus, menatap lekat netra Luhan yang kini berair entah kenapa.

“Wae? Kenapa kau menangis, huh? Kau mimpi buruk? Tenanglah, aku akan tetap di sini bersamamu sayang, tenang saja.” lagi, gadis itu kembali berfrasa kepada Luhan, namun entah kenapa Luhan merasakan sesuatu yang janggal di hatinya. Ia menatap Hyerim, menggenggam erat jemari gadis itu yang begitu hangat dan pas dengan jemarinya sendiri.

“Hyerim-ah, hiks….” Luhan menangis, sementara Hyerim masih saja tersenyum padanya sambil membelai surai Luhan. Gadis itu menarik Luhan ke dalam pelukannya, lalu mendekap Luhan sangat erat.

“Aku akan tetap bersamamu Lu, tenang saja, aku mencintaimu ahjussi sayang.”

Sayang

Sayan….

Saya

Say….

Sa

S

DEG!

“Lu—Luhan, Lu—Luhan sadar eomma!”

“Astaga, Yara, cepat panggilkan dokter!”

Luhan mengerjapkan matanya, pandangannya mengabur, pun kini terasa sangat tidak nyata dalam penglihatannya.

Eomma?” ucap Luhan ketika menemukan ibunya Yara—sekaligus ibu tirinya— memandangnya sambil menangis tersedu-sedu.

“Iya ini eomma Lu. Tenang saja, appa-mu sudah ada di perjalanan.”

“Luhan, ah syukurlah, kau sudah sadar nak?” seperti panjang umur, kini yang baru saja dibicarakan—Tuan Xi; ayah kandung Luhan— sudah ada di depan Luhan setelah memasuki ruangan serba putih itu sambil berlari sekuat tenaga.

Appa?” ucap Luhan seperti orang bodoh, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini.

“Luhan!” sekarang lelaki itu menemukan Yara —adik tiri yang tidak pernah mau memanggilnya dengan sebutan oppa ataupun gege— baru saja masuk sambil membawa seorang lelaki cukup berumur yang Luhan tebak adalah seorang dokter karena jas putih dan stetoskop yang bertengger di leher sosok yang dibawa Yara itu.

“Se—sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Luhan bingung karena sekarang semua anggota keluarganya berkumpul di dalam satu ruangan yang Luhan sendiri tidak tau dimana karena seingatnya kamarnya tidak punya interior membosankan seperti ini, pun kamarnya lebih luas dan tidak pernah beraroma menyengat seperti aroma…..rumah sakit? Ah, Luhan menyadari sesuatu. Dia tengah berada di rumah sakit, ya, tebakannya kali ini tidak mungkin salah lagi.

“Dia baik-baik saja, hanya syok ringan. Syukurlah dia sudah sadar. Mungkin kita butuh satu check up menyeluruh lagi untuk mengetahui keadaan selengkapnya pasien. Takutnya ada pendarahan yang tidak kita ketahui terjadi, dan keadaan sadar Tuan Xi sekarang akan memudahkan untuk mendeteksi kemungkinan tersebut. Saya akan menjadwalkan pemeriksaan itu besok siang. Tuan Lu, tolong banyak-banyaklah istirahat, arraseo? Kalau begitu, saya permisi.”

“Ne, terima kasih banyak Professor Yoon,” ucap sang ibu kemudian sambil mengantar dokter yang dipanggil Professor Yoon itu keluar dari ruangan Luhan.

“Se—sebenarnya apa yang terjadi, huh? Ke—kenapa aku disini, eoh? Hyerim, ya, Hyerim, dimana Kim Hyerim?” tanya Luhan selepas kepergian dokter itu. Ketiga orang yang disana sukses menatap Luhan iba, bahkan sekarang tangis Yara sudah jatuh dengan hebat.

Ya, kenapa kalian menangis, huh? Ja—jawab aku. Tadi, Hyerim sedang memelukku, tapi ternyata aku malah terbangun dan bertemu kalian di sini. Hyerim, dimana dia?” tanya Luhan lagi dengan mata memanas, Entah kenapa, ia merasakan firasat yang tidak enak sama sekali. Seperti misalnya apa yang ia anggap mimpi buruk itu adalah nyata dan benar-benar terjadi. Tidak, Luhan tidak pernah mau itu.

“Sayang, kau sudah pingsan selama 3 hari di sini dan kau—“

“—Aku tanya dimana Hyerim?!” Luhan meninggikan suaranya, hingga membuat ketiga orang itu hanya saling berpandangan sambil menghela nafas berat.

“Hyerim sudah pergi nak, dia sudah pergi ke surga.”

“A—Apa? Tidak, tidak mungkin, Hyerim tidak mungkin meninggalkanku begitu saja! Bohong, kalian pasti bohong kan? Hyerim tidak mungkin begitu padaku! Dia sudah berjanji akan pulang dan merayakan ulang tahunku!” Luhan berteriak histeris, bahkan sekarang ia sudah menyakiti dirinya sendiri karena bangkit dari tempat tidur dan melepas infus yang bersarang di punggung telapak tangannya dengan kasar.

“Luhan, sadarlah, Hyerim sudah pergi! Kau pikir hanya kau yang sakit hati, hah? Aku juga, aku juga Luhan! Dia sahabatku, dan kau tau bagaimana remuknya aku saat menemukan kenyataan bahwa Hyerim sudah pergi untuk selamanya? Sadar Luhan, sadar! Hyerim sudah tidak bersama kita lagi. Jangan seperti ini, arraseo? Hyerim pasti tidak suka melihatmu seperti ini, hiks…”

Yara menahan pergerakan Luhan hingga sekarang Luhan jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Meski demikian Luhan tetap memberontak. Ia berteriak meraung hingga beberapa detik kemudian beberapa orang perawat masuk berbondong-bondong ke kamar rawat Luhan dan mengehentikan aksi-aksi gila lelaki itu yang seperti ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Orangtua Luhan menatap putranya iba, sementara Yara kini pergi begitu saja dari kamar Luhan karena tidak tahan melihat Luhan bersikap demikian karena kepergian Hyerim.

“Hyerim-ah! Hyerim-ah! Andwae, jangan pergi Hyerim-ah!”

 

 

16 April 2017

 

“Jangan pergi Hyerim-ah.” lirih Luhan sambil tersenyum miris pada foto gadis cantik di depannya. Ia tersenyum pahit, sekeras apapun ia mengucap demikian, nyatanya Hyerim tetap pergi dari Luhan tanpa mengucapkan kata perpisahan apapun.

“Kau bilang sampai jumpa 4 hari lagi, tapi nyatanya sudah 3 tahun berlalu dan kau tidak kunjung kembali. Kau jahat, Kim Hyerim.” frasa Luhan lagi sambil menatap foto yang kini mengabur dalam pandangan Luhan karena terhalang genangan air mata yang sudah memenuhi manik lelaki itu.

“Kau bilang kau akan merayakan ulang tahunku sayang, tapi kau tidak pernah merayakannya sekalipun, hiks…” Luhan menangis, mulai mengeluarkan semua keluh kesahnya pada Hyerim yang sudah tenang di atas sana.

“Aku merindukanmu Kim Hyerim, sangat merindukanmu,” lanjut Luhan lagi sambil mengelap air matanya yang tumpah, merasa malu karena sudah menangis di depan gadis yang sangat ia cintai meskipun yang ada di depannya sekarang hanyalah potret 2 dimensi dari gadisnya yang kini telah tiada.

“Sudah kuduga kau pasti ada disini Xi Luhan.”

Luhan mengerjap, lalu dengan cepat ia menoleh ke belakang dan menemukan Yara sudah berdiri di sana sambil membawa 2 buah rangkaian bunga. Oh, jangan lupakan eksistensi Chanyeol —adik iparnya Luhan— yang dengan setia menemani sang istri untuk melayat tempat peringatan tragedi kapal sewol yang merenggut nyawa teman-teman gadisnya itu, terutama Kim Hyerim—sahabat kentalnya Lee Yara.

“Ah, kau datang juga rupanya.” respon Luhan kaku, malah kini pandangannya mulai bertanya saat Yara menyodorkan satu rangkaian bunga padanya.

“Kau pasti lupa membawa bunga kan? Ah, kau memang selalu lupa itu setiap tahunnya Luhan. Ambillah, Hyerim suka bunga mawar.” ucap Yara sambil meletakkan rangkaian bunga mawar merah di tangan Luhan, sementara gadis itu sendiri memegangi bunga lili kuning untuk Hyerim.

Luhan menerima sodoran bunga itu ragu-ragu, namun akhirnya ia menerima juga karena dipaksa Yara. Yah, setiap tahun mereka akan seperti ini. Entah kenapa Luhan selalu terpergok adik tirinya itu saat melayat Hyerim.

“Semoga kau baik-baik saja di sana Kim Hyerim, disini aku juga baik-baik saja.” lirih Luhan sambil meletakkan bunga mawar itu di dekat potret gadisnya.

“Hyerim-ah,” sekarang giliran Yara. Gadis Lee pun kini meletakkan bunga lili miliknya di sebelah bunga mawar milik Luhan.

“Apa kau baik-baik saja disana? Ah, aku di sini baik-baik saja, hehe,” kekeh Yara kemudian meski sekarang tangis Yara mulai jatuh. Chanyeol menggenggam erat jemari Yara, menguatkan istrinya yang bahunya mulai bergetar hebat karena tangis.

“Kau tau, bukankah aku sangat beruntung? Aku masih sehat sampai sekarang dan bahkan aku sudah menjadi istrinya Chanyeol, hiks. Aku merasa sangat bersalah pada kalian semua karena selamat sendirian. Terutama kau, Kim Hyerim, maafkan aku, hiks. Kalau aku tau akan jadi seperti ini, harusnya aku menarikmu untuk ikut membolos bersamaku saat itu. Maafkan aku.”

Yara menangis hebat, bahkan sekarang meski Chanyeol sudah mendekapnya sangat erat, Yara masih menangis hebat di dada suaminya itu. Gadis itu benar-benar merasa bersalah pada semua teman-temannya yang kini sudah menghembuskan nafas terakhirnya di perairan yang dingin karena kapal karam itu. Takdir memangnya siapa yang tau kan? Kalau saja Yara tidak membolos bersama Chanyeol waktu itu, mungkin potret Yara pun sudah ada di tempat ini dengan teman-temannya yang lain.

“Aku pergi dulu, tolong tenangkan si cengeng ini,” kata Luhan pada Chanyeol sambil menepuk punggung Yara yang masih saja menangis.

“Eh? Tapi kenapa hyung? Kita bisa pulang bersama saja,” respon Chanyeol karena Luhan sepertinya nampak tidak baik sama sekali.

“Aku bawa mobil, jangan khawatir. Aku pergi, arraseo?”

“Goodbye, Kim Hyerim.”

 

 

20 April 2017

 

“Dimana kau, huh? Luhan sialan, aku bilang kan tunggu sampai tanggal 20 brengsek. Harusnya kami merayakan ulang tahunmu di Seoul! Eomma dan appa merindukanmu sekkia!”

Luhan menjauhkan ponselnya dari gendang telinga karena pekikan Yara yang begitu kencang. Setelah merasa sang adik sudah berhenti mengoceh, Luhan pun kembali mendekatkan ponselnya ke telinga dan kembali bersuara.

“Aku di Spanyol, ada rapat penting.” jawab Luhan jujur, toh memang ia datang ke salah satu negara di benua Eropa ini karena urusan bisnis. Setelah kepergian Hyerim, Luhan seperti manusia robot monoton yang gila kerja. Entahlah, Luhan sendiri bingung kenapa ia begitu rajin bekerja padahal sekarang adalah tanggal 20 April— hari ulang tahunnya yang harusnya ia habiskan dengan keluarga namun malah berakhir dengan ia yang terpisah benua dengan keluarganya karena masalah pekerjaan. Nama CEO Xi Luhan benar-benar bukan main sibuknya kan?

“Spanyol? Si brengsek ini benar-benar. Ya! Aku sudah memesan kue ulang tahun raksasa untukmu Xi Luhan, pulang ke Seoul sekarang juga!”

Luhan terkekeh ketika Yara makin meninggikan suaranya. Ia hanya tertawa kecil, lalu segera berbicara lagi setelah meneguk cappucino panas yang ada di tangan kirinya.

“Kapan kau akan memanggilku oppa atau gege, eoh? Kau benar-benar tidak sopan Lee Yara. Kita ini terpaut jarak 6 tahun, harusnya kau itu jadi gadis yang sopan terlebih sekarang kau sudah menjadi istri, hm? Memangnya kau mau apa kalau sewaktu-waktu nanti kau dipulangkan keluarga Chanyeol ke rumah karena mereka menganggap kau itu menantu yang kurang ajar dan tidak sopan sama sekali?” ceramah Luhan tiba-tiba yang segera membuat urat emosi Yara naik ke permukaan.

“Mati saja kau Xi Luhan, dasar brengsek!”

Pip!

Selesai mengumpat kakaknya sendiri, Yara pun segera mematikan panggilan internasional itu hingga Luhan hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal di Spanyol sana. Adik tirinya itu memang benar-benar frontal, benar kan? Tidak sopan sama sekali pada orang yang lebih tua.

“Lihatlah dia, bukankah dia benar-benar seperti anak ke—“

BRUGHH.

Ya! Kalau jalan lihat-li—“ Luhan menghentikan aksinya yang ingin memarahi siapapun yang baru saja menabraknya hingga cappucinonya jatuh mengenai jas Luhan padahal ia ingin mengenakan jas itu untuk rapatnya nanti malam. Namun, ucapan marah Luhan segera terhenti ketika menemukan seorang gadis belia lah yang baru saja menabraknya.

“…….”

Gadis itu berucap dengan bahasa yang tidak Luhan mengerti, hingga barulah saat manik keduanya bersitatap, gadis itu segera memukul jidatnya sendiri.

Asian? Oh my God, I think you’re a Spanish. I’m sorry sir, I really did not accidentally hit you. How is this? I’m really sorry for your Coffee. Please forgive me, sir. (Orang asia? Astaga, aku pikir kau adalah orang spanyol. Maafkan aku tuan, aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu. Astaga, bagaimana ini? Maafkan aku karena kopimu tumpah. Tolong maafkan aku.)

Luhan mengerjap, diam terpaku di tempat. Bukan, bukan karena ia tidak paham dengan kalimat berbahasa internasional yang sedang gadis itu lontarkan padanya, namun karena ia terpaku dengan paras gadis di depannya itu. Luhan mengucek-ucek matanya, membayangkan kalau mungkin saja ia sedang berhalusinasi, namun nyatanya tidak. Luhan pun menampar wajahnya sendiri hingga rasa sakit kini menerpanya dengan cepat yang berarti Luhan tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Demi Tuhan, gadis itu benar-benar mirip Kim Hyerim!

Hm sir? Are you okay? (Hm Tuan, kau baik- baik saja?)” tanya gadis itu lagi sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya Luhan. Sadar karena sudah melamun, Luhan segera menegakkan posisinya berdiri dan menggaruk tengkuk belakangnya dengan malu. Pastinya gadis ini berpikir bahwa aku sudah gila, pikir Luhan tiba-tiba.

Hm, I’m okay (Aku baik-baik saja).” jawab Luhan akhirnya yang membuat gadis itu tersenyum lebar. Seketika Luhan merasakan jantungnya berdegup sangat cepat. Bahkan caranya tersenyum sama persis dengan cara Kim Hyerim tersenyum padanya.

So, you forgive me, right? (Jadi, kau memaafkanku kan?)” tanya gadis itu lagi yang segera dijawab dengan anggukan singkat dari Luhan.

So, I’ll go then. Thanks for your forgive sir (Jadi, aku akan pergi sekarang. Terima kasih untuk maafmu Tuan).”

Grep!

Entah keberanian darimana, Luhan sekarang sudah menahan pergelangan tangan gadis asing itu hingga si gadis kaget bukan main.

What’s wrong (Ada apa?)” tanya gadis itu, dan Luhan segera memasang senyum canggungnya.

Sorry, but can I know what your name is? You really look like someone I know (Maaf, tapi bisakah aku mengetahui siapa namamu? kau benar-benar mirip dengan seseorang yang ku kenal).”

Gadis itu tersenyum, lalu segera mengangguk sambil melepaskan pegangan tangan Luhan di pergelangan tangannya.

Sure. My name is Hyekim, but you can call me Elsa. I’m asian too (Tentu, namaku Hyekim, tapi kau bisa memanggilku Elsa. Aku orang Asia juga).

Senyum Luhan segera terukir di bibir tipisnya. Lantas ia menyodorkan tangannya ke arah gadis yang mengaku bernama Elsa itu, mengajaknya berjabat tangan.

I’m Luhan, nice to meet you Elsa (Aku Luhan, senang bertemu denganmu Elsa).”

Nice to meet you too Mr.Lu (Senang bertemu denganmu juga, Tuan Lu).

 

 

20 April 2021

 

Mr. Xi Luhan, are you willing to accept Miss Elsa Kim to be your life companion in joy and sorrow? Do you promise to love and honor Miss Elsa Kim from this day until death separates the two of you? (Tuan Xi Luhan, apakah anda bersedia menerima Nona Elsa Kim menjadi pendamping hidup anda dalam suka maupun duka? Apakah anda bernjanji untuk mencintai dan menghormati Nona Elsa Kim sejak hari ini sampai sampai kematian memisahkan kalian berdua?)

Luhan menatap Elsa sebentar ketika pendeta menanyakan janji sucinya, ia meremas tangan gadis itu, menggenggamnya sangat erat sebelum akhirnya ia menjawab dengan begitu mantap di hadapan pendeta dan ribuan tamu yang hadir memadati gedung gereja.

Yes, I will (Ya, saya bersedia)

“And you, Miss Elsa Kim, are you willing to accept Mr.Xi Luhan to be your life companion in joy and sorrow? Do you promise to love and honor Mr. Xi Luhan from this day until death separates the two of you? (Dan anda Nona Elsa Kim, apakah anda bersedia menerima Tuan Xi Luhan menjadi pendamping hidup anda dalam suka maupun duka? Apakah anda bernjanji untuk mencintai dan menghormati Tuan Xi Luhan sejak hari ini sampai sampai kematian memisahkan kalian berdua?)

Elsa tersenyum mantap, dan dengan senyum mengukir gadis itu segera mengangguk. “Yes, I will,” ucapnya yakin sambil menatap Luhan yang balas menatapnya dengan haru.

And now, through the virtue authorized to me as a minister of the gospel of Jesus Christ our Lord, and as pastor of this beloved church, before God and witnessed by the congregation, I declare you as husband and wife, not two but one In attention, in destiny, in love, and in life, forever.(Dan sekarang, melalui kebajikan yang dikuasakan kepada saya sebagai seorang pelayan dari Injil Yesus Kristus Tuhan kita, dan sebagai pendeta dari jemaat yang terkasih ini, dihadapan Allah dan disaksikan oleh jemaat, saya mengumumkan anda sebagai suami dan istri, bukan lagi dua melainkan satu, satu dalam perhatian, dalam takdir, dalam kasih, dan dalam hidup, sampai selamanya).”

Sekarang Luhan berdiri berhadap-hadapan dengan Elsa, ia tersenyum haru, sementara gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu malah sudah menangis bahagia.

I love you Elsa.” lirih Luhan sambil menggenggam erat kedua tangan istrinya itu.

“I love you too, Luhan.”

Well, now you can kiss your bride (Baiklah, sekarang kau bisa mencium pengantimu).”

.

.

Ketika engkau terluka karena ia pergi dan tak pernah kembali, jangan pernah salahkan orang lain, terlebih jika engkau menyalahkan Tuhan. Tapi bukalah hatimu, tempatkan ia yang telah pergi dalam suatu ruang khusus dalam malarindumu, hanya tempatnya seorang yang kau anggap spesial meski ia telah pergi menjauh darimu. Tersenyumlah, karena kepergiannya jua adalah rencana Yang Maha Kuasa. Ketahuilah bahwa Sang Pencipta Skenario Kehidupan sudah menciptakan akhir paling sempurna untuk semua kisah manusia.

.

.

 

  –FIN


Author’s Note

Eki gak tau gimana reaksi kamu els, wkwkwk XD

Maaf yak, ini resepsinya secara kristen, soalnya eki cuma tau yg begitu, hehehe XD

INI TEMBUS 6,7 K WORDS LO, BHUAKAKA/PLAKK/ XD

HABEDEH LUHANNN, HABEDEH UGHA BUAT ELSA, ISTRINYA LUHEN, BHUAKAKA. LANGGENG YA KALIAN, HMZ, EKI MENDUKUNG. MAAFKAN KALAU ADEGAN YARA DAN CEYE NYEMPIL DIMARI, DAN MAAF KALAU YARA TIBA-TIBA JADI ADIKNYA LUHEN, CUMA DI CERITA INI KOKZ, BHUAKAKA  😀

ELS, MATURENYA EKI BUAT EMANG KHUSUS BUAT KAMU LO, KAN HMZ GITU YEKAN >.<

WISH ALL THE BEST DEH BUAT KALIAN BERDUA, HOHO 😀

Iklan

8 pemikiran pada “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] The Ending Scene (Oneshot) – Shaekiran

  1. Ahhh ffnya bgus bgt ching, feelnya dpet bgt, gue ae ampe mewek pas baca, huhuhu aku kira ini bkal sad ending, ternyata happy ending,, betewe HBD buat luhan dan juga Elsa*telat, ciee yg ultahnya dibulan yg sama..!

    • eh sedih dong aku baru bisa bales ucapan ultah ini :’) makasih ya ucapannya walau udah lewat, dan emang aku plus hyerim sama luhan jodoh terselubung. Sama-sama lahir bulan april /ga

  2. ANJAY KEZELEK AKU LANGSUNG KEZELEK. PAS KE SPANYOL ITU KEZELEK ANJR LG BELAJAR BUKANNYA DENGERIN /DIGAMPAR/ INI LAGI JAMAN2NYA SI HYERIM DIGANTIIN POSISINYA SAMA ELSA DI FF? KEMARIN2 DI FF KAK IRISH, SEKARANG KAK EKI. YA TUHAN, ANE PANAS DINGIN ASLIAN /PLAK/

    Tadi ane kira maturenya bukan ekhem ekhem kan takut kusudah berspekulasi ekhem ternyata bukan ekhem /ngomong apa Els?/ aku kira Luhan bakal saiko gimana gitu apalagi tampilan dia yg smcm orang ngelayat itu kan kan kan item-item semacem pembunuh bayaran /ga/plak/

    Dan pas liat…
    Sewol
    16 april
    Di hari ultah ane kapal sewol kan tenggelem

    ANJIRRR ANE MENGUMPAT KARENA UDAH NEBAK PASTI SI HYERIM KORBAN SEWOL YA TUHAAANNNNNN ANE BAPERRR MEWEK KAK MEWEK /KESURUPAN/
    EH Yara cameo jadi adek ipar ntap banget wkwkwkwk. DAN AKHHHHHHH AKHHHH KUBAPER APALAGI PAS FLASHBACK, INI KENA SINDROM AHJUSSI SARANGHAEYO LAGI GARA2 PERBEDAAN UMUR DAN HYERIM BILANG AHJUSSI WKWKWKWK. DAN SIYAL KAK EKI ANE MENGUMPAT BENERAN PAS ADEGAN MATURE AHAHAHAH KHUSUS BANGET SI HYERLU MAH COCOK BUAT MATURE YAK /DITAMPOL ABIS-ABISAN/

    DAN TAMBAH KAMVRET PAS LUHAN NGEMENG “Jangan salahkan aku kalau kali ini kau hamil Kim Hyerim,” Wuanjay siyal

    Sumpah ini kumewek baperrrr. Apalagi pas Luhan mimpiin Hyerim itu atidakkk tidakk plss kubaperrr. Hueee T.T KUKIRA INI AKAN ANGSTABLE, KUKIRA LUHAN BAKAL BUNUH DIRI SETELAH NGELAYAT HYERIM KAN BIAR ASIKEUUUU MEREKA MATI SAMA-SAMA /DITAMPAR/

    EH

    TERNYATA

    JODOH

    SAMA

    SI

    ELSA

    ANJAYYY, KUPANAS DINGIN YA ALLAH NIKAH LAGI MEREKA. HYER MAAF AKU NIKUNG KAMU KARENA DI REAL LIFEU EMANG AKU ISTRINYA LUHAN AHAHAHAHAHAH. /DIGAMPAR RAME-RAME/ INI AKU BERASA LIAT MASA DEPAN AKU NIKAH SAMA LUHAN /DITAMPOL/

    Last, hepi besdey suami kesayangan ❤😚 dan makasih ya kak Eki atas ff dan ucapannya. Maturenya kusuka /plak/ walau kucinta hyerlu yg bersama, tapi luhan-elsa juga gwenchana /labil/ditendang/

    P.S : SEHUN ITU EMANG COCOK JADI PENENGAH HYERLU WKWKWK SEK KUKEZELEK PAS TAU HYERIM SAMA SEHUN PACARAN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s