[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Verwirrtes Leben – HyeKim

| Verwirrtes Leben |

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

—Lu Han  x  Kim Hyerim—

Romance, slight!Comedy, Marrige Life, Psychology  — PG-17 — Oneshot

standart disclaimer applied, copy-paste without permission and plagiat are prohibited

—Dedicated to my beloved guy’s birthday, Luhan—

Kala membuka kelopak matanya di pagi hari, Hyerim pun menjalani hidup yang membingungkan tatkala mendapati seorang pria membangunkannya bahkan seranjang dengannya. Dan gilanya lagi, pria bernama Luhan itu mengaku-ngaku sebagai suaminya. Wait, kapan Kim Hyerim menikah? Dirinya ini kan masih mahasiswi dan bahkan tak memiliki kekasih.


HAPPY READING

       

“Sayang,” vokal seorang pria berhasil mengusik Kim Hyerim dari alam bunga tidurnya. Tubuh Si Wanita menggeliat namun tak kunjung membuka kelopak matanya. “Sayang, bangun.”

Panggilan yang terdektesikan tuk menariknya sadar, kembali menyentil telinga Hyerim. Suara pemuda dan memanggilnya dengan kata sayang. Wait, memangnya dirinya tidur seranjang dengan seorang pria? Ditambah lagi kapan ia memiliki kekasih? Well, mungkin Hyerim salah dengar karena biasanya di pagi hari ia hanya disapa oleh suara kucingnya yang bising. Efek terlalu lama single nyatanya sangat magis, dari suara ‘meong’ menjadi ‘sayang’, bukan begitu?

“Kim Hyerim sayang, buka matamu,” kali ini suara tersebut mendekat tepat ditelinganya, suara bisikan lembut dengan hembusan napas hangat tepat di samping telinganya, terkesan nyata dan bukan angan semata.

Lantas Kim Hyerim membuka matanya dengan rasa terlonjak akan keterkejutannya. Kedipan obsidiannya saat ini sedang teraksikan, binaran yang terpancar pun sangat linglung. Apalagi pandangannya disapa oleh figur lelaki yang tengah menyematkan senyum lembut tepat di hadapan wajahnya beberapa jengkal, pun napasnya menyapa lembut muka Hyerim.

“HEI! APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriakan Hyerim di pagi hari yang semestinya tenang, pecah dengan wajah marah yang terlukis.

Luhan—pria yang membangunkan Hyerim, tersentak kaget dan segera menjauhkan wajah untuk memberi spasi lebar antaranya dengan wanita Kim tersebut. Dengan gusarnya, Hyerim menarik tubuh untuk duduk di atas ranjang king size tempatnya berba—tunggu, kenapa ranjang tidurnya bertipe king size juga seprai dan selimutnya kenapa berwarna putih, bukannya single bed dengan seprai serta selimut biru langit. Kepala Hyerim terstirkan guna menyensor sekeliling ruangan kamar tempatnya bernaung. Rahang Hyerim seakan ingin jatuh dari penempatannya tatkala Si Wanita membuka mulutnya menciptakan celah yang sangat besar. Ini… bukan kamarnya.

“Hyerim, ada apa?” eksitensi pria yang tadi membangunkan serta berada di sebelahnya, disadari kembali oleh Hyerim saat Si Pria bersua kembali.

Berputarlah kepala Kim Hyerim ke arah Luhan yang berada tepat di sampingnya. Pria yang tidak ia ketahui ini, melayangkan tatapan khawatir dengan mimik nan seirama. “Kau…” mata Hyerim menyelidik dengan tubuh agak condong ke belakang tuk berhati-hati pada Luhan. “… siapa?” frasa Hyerim teruntai kembali dengan wajah waspada yang membingkai.

Pria di hadapannya ini nampak memejamkan alat melihatnya, napasnya juga terhela, bahkan kelelahan campur kefrustasian terbingkai diparasnya. Sekon mendatang, dwimanik Si Pria membuka kembali.

“Aku Luhan,” kesabaran terpancar dari paras Luhan. Sementara Hyerim hanya menggaruk belakang kepalanya tambah linglung, karena tentu tak mengenal nama asing tersebut. “Dan aku ini… suamimu.” Luhan menguntai frasa dengan pita suara hati-hati yang lantas membuat Hyerim seakan terhantam sesuatu.

WHAT?! APA KAU BILANG?! SUAMI?!”  dan respon perempuan berkeluarga Kim itu ialah pekikan nyaring menyerupai teriakan dahsyat. Di depannya, Luhan hanya memejamkan manik dengan kerutan dahinya.

       

“Gila. It’s so damn crazy, Hyer. When did you get married? You’re still a  student. You still twenty years old, woman! (Ini benar-benar gila, Hyer. Kapan kamu menikah? Kamu masih mahasiswi. Kamu masih berusia dua puluh tahun!)” dengan tungkai mondar-mandir dan jari-jari tangan terpaut dengan remasan resahnya, Hyerim mendumel demikian.

Well, Hyerim dilanda kebingungan sekon ini. Mana mungkin ia sudah menikah. Baru enam bulan lalu ia lulus dari SMA dan mulai memasuki jenjang perkuliahan. Dirinya adalah mahasiswi sastra Inggris di Universitas Stanford, San Frasisco, California, Amerika yang tinggal seorang diri—coret, sebenarnya ia tinggal dengan kucing persia kesayangannya, dan kedua orang tuanya berada di Korea Selatan. Juga ia seorang introvert yang tidak memiliki banyak kawan, bahkan di kampus ia belum memiliki teman dekat ditambah dengan shock culture antara Amerika dan Korea yang jelas-jelas berbeda. Dirinya introvert, masih mahasiswa, jadi mana mungkin sudah menikah? What the hell is this?

“Jangan mondar-mandir terus, Hyer. Aku pusing melihatnya,” sebuah ayat kata mengintrupsi menyebabkan tungkai Hyerim mempause penggerakan disertai kepala terstir ke bibir suara yang mengitrupsinya. Luhan, pria itu menatapnya dari tangga rumah yang berada beberapa meter di depan Hyerim.

Derapan langkah Luhan terurai untuk mendekati Hyerim yang ia bilang adalah istrinya. Si Dara Kim itu tampak menatapnya lekat dengan obsidian melebar. Otak Hyerim terperas kuat. Pria bernamakan Luhan ini mengatakan keduanya sudah menikah selama satu tahun dan hampir memiliki seorang anak bila beberapa waktu lalu Hyerim tidak keguguran, juga—Oh, penjelasan pria sinting itu jelas bukanlah sebuah realita kecuali namanya yang benar. Ya untungnya pria yang mengaku-ngaku suaminya itu tidak memanggilnya dengan nama lain, setidaknya Luhan mengatakan bahwa namanya adalah Kim Hyerim, yang jelas-jelas memanglah namanya.

Luhan sudah sah berpijak tepat di hadapan Hyerim lalu melayangkan tatapan lembut dengan kurva yang sama. “Apa dirimu masih bingung?” tangan Luhan melayang serta menjatuhkan diri dipuncuk kepala Hyerim, elusan lembutnya pun teraksikan setelah itu.

Tolol, aku memang bingung. Umpatan dalam hati Hyerim terlolongkan. Setia mengelus lembut puncuk surai wanitanya, Luhan kembali melafal kata, “Sepertinya kebingunganmu masih terjadi, ya?”

Tak merespon, Hyerim malah meneguk salivanya dengan menatap Luhan risih. “Heung, begitulah,” akhirnya Hyerim menyahut dengan bahu agak sedikit terangkat. “Eheheh, sudahlah, turunkan tanganmu dari kepalaku.” Hyerim berucap risih dengan muka serupa, pun binar kelerengnya membiaskan hal begitu.

Tahu Si Wanita tak nyaman oleh kegiatan mengelus rambut yang diaksikannya, Luhan menarik lengannya dan mengulas senyum tipis. “Mungkin kamu akan ingat setelah melihat ini. Ayo ikut aku.”

Kepala Luhan bergerak dengan isyarat untuk pergi sekaligus Hyerim yang harus mengekorinya. Meski ragu, Hyerim pun menggeret langkah saat Luhan mulai mengayunkan tungkai turun melalui tangga rumah menuju satu tempat.

       

“Bukalah, ini album foto berisikan foto-foto kita. Dari mulai menjadi sahabat dekat di SMA, lalu berpacaran, juga menikah,”

Setelah disuruh menunggu dengan duduk di sofa ruang keluarga, akhirnya Luhan melihatkan batang hidungnya sambil menyodorkan album berwarna putih dengan hiasan dua bunga pink di samping atas kirinya. Netra Hyerim menatap benda tersebut dengan alis menyatu. Pada finalnya, Hyerim mengambil album dari tangan Luhan dengan perasaan ragu membelit dirinya.

Lembar pertama tertampakan kala Hyerim membukanya, sebuah potret dirinya yang memakai baju seragam bersama dengan Luhan yang mengenakan seragam juga. Hyerim yang lebih pendek pun terlihat karena kepala Si Gadis yang pas di bawah dagu Luhan, tangan Hyerim membentuk kepalan tinju yang diarahkan ke bawah dagu Luhan disertai kepalanya yang mendongak seakan fokus untuk meninju Luhan sungguhan. Sementara Luhan menghadap kamera dengan senyuman serta tangan kiri  menarik pipi kiri Hyerim.

“Itu saat kita sudah dekat menjadi sahabat. Aku merupakan murid pindahan dari China dan masih terbata berbicara bahasa Korea. Maka dari itu, Guru Nam selaku wali kelas memintamu untuk membimbingku. Saat itu kita teman sebangku,”

Oh ternyata lelaki ini orang China. Kepala Hyerim mengangguk-angguk mengerti. Dirinya paham menjadi murid baru di negara baru. Saat memulai hari pertama di Stanford pun ia kesulitan lantaran perbedaan budaya. China dan Korea yang kadar budayanya berbeda sedikit saja sudah menjadi rintang kesulitan untuk Luhan. Apalagi Hyerim yang kuliah di Amerika.

Lembar kedua album pun terbuka menit ini. Reaksi Hyerim pada foto-foto yang tersebar di lembar kedua benar-benar syok bukan main. Mulutnya menciptakan celah dan matanya melebar. Hell, di lembar kedua banyak sekali foto ciumannya bersama Luhan dengan berbagai latar dan macam ciuman. Cium pipi, kening, kepala, bahkan… bibir. Dibagian bibir hanya ada sebatas menempel juga melumat dengan tangan Hyerim yang terkalungkan dileher Luhan. Sepertinya Hyerim yang lain ini kelewat sinting bersama dengan Luhan untuk menjadi pasangan.

Di sebelah Hyerim, Luhan yang terduduk pun menggaruk tengkuk malu dengan wajah merahnya. “Ahhh, itu saat kita sudah berpacaran eheheh. Ya untuk informasi, kita punya ciuman rutin perhari. Hanya emmm… morning kiss saja kok dan kadang kita suka berakhir di ranjang kembali,”

Hah? Morning kiss menjadi ciuman rutin? Bahkan kadang berakhir di ranjang kembali?  Sialan pasangan ini memang gila. Hyerim merutuki hal tersebut dalam hati, secara sendiri juga mimiknya membiaskan kengerian. Tak punya pilihan, Hyerim hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja untuk menyahut respon Luhan perihal ciuman sinting itu.

Kemudian, Hyerim menggerakan tangan guna melihat foto di lembar berikut dan untungnya potret foto-foto di situ normal, tidak seperti sebelumnya. Malahan sekarang perasaan iri membelit Si Dara Kim ini. Terlihat figur dirinya dan Luhan yang sedang menjalani acara sakral membahagiakan sekali seumur hidup. Yeah, pernikahan, apa lagi? Tanpa sadar, mukanya membingkaikan keirian akan jepret-jerpret foto yang tersebar di laman album yang ia buka. Iris Hyerim pun membiaskan keirian juga serta melekat pada foto tatkala Hyerim dan Luhan saling menyematkan cincin pernikahan. Saat terjatuh pada jepret penukaran cincin, ujung manik Hyerim terstir pada jari manisnya. Terlihat sebuah cincin elegan melingkar dijari manis miliknya. Lalu ia pun melirik jari manis Luhan, cincin yang serupa melingkar sempurna juga disana.

“Ini saat kita menikah,” Luhan berkata ditengah keterlarutan Hyerim. Si Jaka Lu itu menarik ujung kurvanya untuk melihatkan kebahagian dalam diri tatkala mengingat salah satu momen paling berharga dalam hidupnya itu. “Kamu sungguh sangat cantik saat itu.”

Brengsek. Entah mengapa Hyerim malah merasa pipinya panas sekarang, pasti merah. Sialan Kim Hyerim, pria ini memuji Hyerim istrinya, bukan Hyerim dirimu. Dalam hati Hyerim mewanti-wanti. Setelah menetralkan diri, kembalilah Hyerim membuka lembaran berikut. Disapalah matanya oleh jepret dirinya sendiri yang sedang mengandung, kira-kira berusia dua bulan. Juga dirinya berfoto dengan Luhan yang mengelus perutnya, memeluknya dari belakang sambil menyarangkan ciuman dipipinya, dan yang lainnya.

Jari telunjuk Luhan terarahkan pada salah satu foto yang menjepretkan Luhan yang mengendong Hyerim bridal. “Dirimu sangat manja saat mengandung anak pertama kita. Lihatlah, kamu sampai minta digendong olehku,” kekehannya lolos difinal frasanya. Reaksi Hyerim hanya berupa jari tangan yang menggaruk kepalanya yang agak dimiringkan posisinya.

Sembari mencetuskan angguk-anggukannya, “Ah jadi selama satu tahun menikah kalian—ah tidak, maksudnya kita baru akan dikaruniai seorang anak?” Hyerim bertanya demikian. Jawaban Luhan pun adalah iya yang diwakilkan dengan kepala mengangguk.

“Iya, tapi sayangnya tiga bulan yang lalu dirimu keguguran karena tertabrak oleh motor di Jamsil-dong, Songpa-gu.

Kejadian yang mengenaskan nan tragis itu terputar secara refleks dibenak Hyerim. Bibir bawahnya tergigit otomatis. Walau bukan ditimpa oleh dirinya tapi wanita yang bernama sama dengannya, Hyerim tahu bahwa insiden itu merupakan hal yang mengiris kalbu.

“Sayang sekali,” sajak Hyerim dengan iris sedih yang terpancar. “Kukira kalian sudah memiliki  lima anak.” Hyerim bersajak lagi namun anehnya ada nada sarkas didalamnya, bahkan ia melirik Luhan sedikit tajam.

Sajak kata dara di sampingnya, membuat Luhan tersedak ludahnya sendiri juga melolongkan batuk, “Uhuk,” serta tangannya terangkat guna menepuk-nepuk dadanya. Sambil menatap profil samping Hyerim, kembali Luhan melafal aksara, “Kenapa bepikir begitu?”

Bahu Si Wanita berstatus istrinya ini terangkat dengan wajah acuh. “Yah, bayangkan saja morning kiss saja menjadi hal rutin bahkan berakhir kembali di ranjang. Setidaknya setiap pagi kalian melakukan hal itu, bukan? Ckckckck,” kepala Hyerim menggeleng-geleng tak habis pikir seraya berdecak.

Kegelian nyatanya menerjang Luhan, kurvanya juga teruntas menahan tawa. “Dirimu ingin membuat anak denganku sekarang dibanding di pagi hari? Ayo kita lakukan sekarang saja.”  

Segera, ujaran Luhan disambut oleh Hyerim yang menyarangkan tatapan tajam. “Dasar sinting!” desis Kim Hyerim seraya menutup album serta menjadikannya alat menyerang Luhan dengan memukuli kepala pria itu dengan album berisikan foto-foto manis keduanya.

Tangan Luhan terangkat tuk menghindari serangan wanitanya, pun wajahnya merintih sakit. “Aw! Aw! Hyerim, hentikan. Aku bercanda, sayang.”

Namun kata-kata Luhan hanya berupa semilir angin yang melewatinya saja lantaran Hyerim terus memukuli pria yang katanya suaminya itu.

       

Hari membingungkan dihidupnya ini nyatanya masih berlanjut sampai malam hari. Dengan piyama berwarna pink tosca dengan motif beruang-beruang lucu berwarna coklat, Hyerim berpijak di depan sebuah wastafel yang berada di kamar mandi yang ada di kamar tidurnya. Kegiatan yang terjalin di sana oleh Hyerim ialah menggosok gigi.

Tiba-tiba, gerakan tangan Hyerim memelan tatkala pikirannya bercabang ke sana-ke mari. Netranya menerawang bahkan gerakan menggosoknya resmi terpausekan begitu saja. “Kenapa aku bisa menjalani hidup yang membingungkan begini? Sebenarnya apa yang terjadi? Masa iya seperti drama Secret Garden yang tertukar tubuhnya dengan orang lain? Memangnya aku minum teh ya sebelum perkara ini terjadi?” monolog Hyerim dengan busa odol yang masih terlihat dimulutnya, wajahnya terlihat bingung setengah mati.

Ya well, at least, dirinya tidak sepenuhnya seperti drama Secret Garden. Bayangkan saja, hidupnya akan lebih membingungkan bila berada ditubuh lelaki, right? Bahkan rasanya Hyerim so lucky lantaran terjebak ditubuh perempuan yang bernama juga berwajah sama dengannya. Pusing dengan berbagai pikiran hilir hudik, pada akhirnya Hyerim menunduk dalam dengan pukulan pelan yang disarangkan disamping kepala.

“Ya Tuhan. Aku bingung. Sudah berapa kali aku mencubit diri sendiri dan hasilnya sakit. Ya ampun, ayah, ibu, juga Hyena, aku merindukan kalian,” gumam Hyerim dengan kepala mangut-mangut, bahkan Hyena—nama kucingnya, ia absenkan.

Acara gosok giginya mencapai finish. Setelah berkumur dan meletakan gosok giginya ke tempat semula, kaki Hyerim tergeret keluar petak kamar mandi tersebut. “Sudah gosok giginya?” nyaris meloncat kaget dan berakhir tragis dengan merangsek di atas lantai kamar, vokal Luhan menyapa kala dirinya keluar kamar mandi dan sah berada di kamar tidurnya.

Sosok Luhan yang sedang duduk menyender ke headboard ranjang dengan sebuah buku ditangannya serta melempar senyum padanya, menyadarkan Hyerim bahwa dirinya harus berbagi ranjang dengan lelaki marga Lu itu malam ini. Dengan lakon kikuk, Hyerim mengangguk serta mengayunkan langkah ke ranjang.  Akhirnya sahlah Hyerim duduk di atas ranjang tepat di sebelah Luhan yang kembali menarik fokus pada buku yang ia baca barusan. Namun acara membaca Luhan menarik atensi Hyerim lantaran maniknya tak sengaja membaca sekilas sederet aksara yang tertoreh di dalam buku. Tahu-tahu, Si Kim ini sudah menyarangkan tatapan pada profil samping Luhan. Memperhatikan lekuk wajah jaka tersebut yang sialannya sungguh-sungguh tampan dengan kacamata bertengger dipangkal hidung. Shit! Rasanya Kim Hyerim yang menikahi Luhan ini sangat beruntung, Hyerim berpikir demikian.

“Ingin ikut membaca jurnalmu juga?” tersadarlah Hyerim tatkala Luhan meliriknya dari ujung irisnya dengan senyuman.

Merasa tertangkap basah, langsung saja Si Dara salah tingkah. Tetapi, diwaktu kemudian, kelereng matanya mengedip. “Jurnal?” ulang Hyerim dengan alis berjungkit.

Luhan mengiring tubuh untuk mendekati Hyerim sampai bahu keduanya menyapa. Disodorkan pula oleh Luhan buku kecil dengan sampul kulit  berwarna coklat tua itu ke hadapan istrinya. “Iya, ini jurnalmu. Tulisan tanganmu bagus bahkan tulisan-tulisanmu juga indah, aku suka membacanya.”

Aksara oh panjang tergaungkan oleh Hyerim dengan mulut membentuk huruf o seraya kepalanya mengangguk beberapa kali. Selanjutnya, Luhan mengiring tangannya untuk membuka lembaran jurnal tersebut.

Amantes sunt amentes, artinya orang yang sedang jatuh cinta itu tampak gila,” baca Luhan pada aksara yang tertulis, nyatanya bahasa-bahasa asing yang tertoreh lah awal mula Hyerim menarik atensi pada buku yang dibaca Luhan. Kembali Luhan melanjutkan tuk membaca. “Amor animi arbitrio sumitur, non ponitur, artinya kita memilih untuk mencintai seseorang, tapi kita tidak memilih untuk berhenti mencintai. Ini kata-kata favourite kita berdua.” sejenak, Luhan menatap Hyerim dengan senyum lembutnya. Kebetulan wanita tersebut langsung menatapnya kala berucap begitu dan lantas membuat manik keduanya saling sapa.

Kepala Luhan terstir kembali hingga atensinya jatuh lagi pada aksara pena istrinya. “Amor caecus est, yang berarti cinta itu buta, seperti kata-kata dalam bahasa Inggris, love is blind. Lalu amor meus amplior quam verba est, yang artinya cintaku lebih dari sekedar kata-kata. Oh ya Tuhan, Hyerim, dirimu memang manis sekali, sayang,” disarangkan oleh Luhan cubitan pelan dipipi Hyerim tanpa mengalihkan fokus dari torehan bait kata di jurnal tersebut. Hyerim sendiri hanya tersenyum paksa.

Amor vincit omnia, berartikan cinta mengalahkan segalanya. Kemudian ada finis vitae sed non amoris, dan artinya akhir dari hidup, tapi bukan akhir dari cinta. Dan ini kata-kata kesukaan kita yang lain, sine amor, nihil est vita yang artinya tanpa cinta, hidup tidak ada artinya. Dilanjutkan oleh tempus fugit, amor manet dan berarti waktu berlalu, cinta tetap tinggal. Setelah itu…”

Terus saja Luhan melafalkan aksara cinta yang dituliskan olehnya—ralat, oleh Kim Hyerim yang notabene istrinya. Sementara Hyerim yang merasa bukan istri dari Luhan ini, hanya melayangkan binaran netra jengah pada profil samping Luhan. Oh ayolah, kenapa ayat-ayat aksara yang dituliskan kelewat alay dan berlebihan? Namun anehnya, hati Hyerim menghangat seakan-akan Kim Hyerim, istri dari Luhan lah yang sedang mendengar suaminya ini mengucapkan kata-kata manis tersebut.

Te amo, una in perpetuum, nunc scio quid sit amor, in aeternum te amabo…” Luhan berkata dengan binaran mata makin menghangat dengan kurva ranum mengembang sempurna, “… itulah kata-kata terakhirmu untukku. Artinya, aku mencintaimu, bersama untuk selamanya, sekarang aku tahu apa itu cinta, aku akan mencintaimu selamanya,” kepala Luhan berbelok untuk menancapkan fokus pada Hyerim yang sudah menatapnya lebih dahulu. Hangat serta cinta terpancar dari obsidian Luhan yang langsung membuat Hyerim terpana. “Banyak sekali kata-kata di jurnalmu dari bahasa latin untuk mengungkapkan perasaan padaku. Pada intinya, aku juga mencintaimu, Hyer.”

Jurnal tersebut ditutup serta ditaruh di atas naskah yang berada tepat di sampingnya, Luhan mengasikan hal tersebut tanpa membuang torehan pandangnya pada Hyerim juga mempertahankan tatapan lembut serta sematan senyuman yang sama lembutnya. Lakon dungu Hyerim masih terjalin padahal sekarang Luhan sudah makin mendekat ke arahnya, lantas ranum pria tersebut menyarangkan kecupan didahinya dengan mata terpejam. Sementara Hyerim malahan mengerjapkan manik beberapa kali.

Luhan sudah memberi spasi kembali diantaranya dan Hyerim yang masih memasang air wajah bodoh. Sembari mengelus sayang rambut istrinya dengan kurva menyunggingkan senyum lembut, Luhan berkata. “Mau kupeluk saat tidur? Biasanya kamu sering minta dipeluk.”

Barulah dwimanik Hyerim mengerjap dan terarah pada Luhan setelah menerawang tak menentu. Lalu dirinya menyematkan senyum agak risih dengan lekuk muka serupa. “Tak usah, eheheh.”

Penggerakan Hyerim selanjutnya adalah tidur memunggungi Luhan yang sudah menjatuhkan lengan dari kepalanya. Buru-buru cengkeng matanya ia tutup, tak ingin terlarut pada perasaan yang seketika menghampiri. Sial, adrenalin Hyerim memuncak dengan pacuan jantung gila-gilaan karena Luhan. Tidak, tidak, Luhan berperilaku begitu karena menganggap dirinya Hyerim istrinya, sementara dirinya ini bukanlah Hyerim yang dimaksud. Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar dipinggang Hyerim disertai wajah yang tenggelam dipunggungnya. Gerakan hati-hati terjadi dikepala Hyerim guna menoleh ke belakang. Benar sesuai prediksinya, Luhan lah yang kala ini memeluk serta menenggelamkan wajah dipunggungnya. Sambil mengumpat pelan setelah menarik kepala kembali ke arah depannya, Hyerim mewanti-wanti lagi bahwa Luhan adalah suami Hyerim yang berwajah sama dengan dirinya. Ia tak boleh terlarut pada perasaan yang well sudah membuat jantungnya berdisko ria sekon ini.

       

Singsingan cahaya matahari dari celah jendela diikuti alarm menyebabkan Luhan keluar dari alam mimpinya. Sambil mengiring tubuh untuk bangun, matanya yang masih setengah terpejam menyisir ke tempat sebelahnya, Hyerim sudah bangun ternyata. Tungkai Luhan pun akhirnya tergeret menuju kamar mandi seraya mengacak-acak surainya, layangan tangannya terjatuh pada kenop pintu dan lantas kepalanya terangkat tuk menelaah kamar mandi. Namun baru seperkian detik—bahkan mungkin sedetik,  Luhan menelaah, dirinya mendapati Hyerim sedang menikmati guyuran shower dan—

“AKHHHH!! TUTUP PINTUNYA! TUTUP PINTUNYA!” teriakan kelabakan dari bibir Hyerim terlolongkan diiringi tangannya menyilang di depan dada dengan wajah merah padam.

Luhan belum berkutik dan malah mengedipkan matanya beberapa kali. Kesadarannya masih terengut entah ke mana. Dengan lagak agak tololnya, tubuh Luhan berputar dan menutup pintu kemudian berbalik lagi kepada Hyerim yang—

“Heh! Kubilang tutup pintunya! Berarti kau keluar juga!” bibir Hyerim mengaum kembali, wajahnya panik luar biasa. Oh, tak perlu dijelaskan lebih detail perkara yang terjadi kan?

Aksi Luhan tentu digeluti kelinglungan. Akan tetapi, melihat Si Wanita Kim panik diambang batas dan menyarangkan tatapan intimidasi bila lama-lama di dalam kamar mandi. Luhan pun memilih opsi untuk keluar dari sana. Tatkala dirinya berada sah di luar, manik Si Pria Lu menyarangkan tatapan pada pintu kamar mandi. Terpancar kebodohan ditambahi kebingungan dimimik serta dwimaniknya. Sebenarnya apa yang salah? Yang Luhan lihat kan istrinya sendiri yang sedang mandi. Ditelengkan ke ka kanan dan kiri lah kepalanya oleh Luhan, kemudian ia pun menggeleng pelan.

“Ya Tuhan. Kenapa dirinya harus panik begitu? Kukira ia kode minta dimandikan seperti saat itu, makanya aku hanya menutup pintu tadi,” sambil menggaruk kepala dengan telunjuknya, Luhan menggumamkan monolognya.

Di dalam kamar mandi, Hyerim sudah menyelesaikan acara mandinya. Jubah mandi pun turut melilit ditubuh rampingnya. Namun, tubuhnya belum berniat mencetuskan penggerakan sama sekali serta mematung di hadapan pintu. Si Dara Kim ini memejamkan netra serta mengambil oksigen diwaktu yang sama lalu membuang karbondioksidanya. Anggukan beberapa kali mewakilkan aksi geming yang akan ia selesaikan.

“Santai Hyerim, santai. Luhan dan Hyerim yang bernama juga berwajah sama denganmu ini sudah biasa saling melihat tubuh masing-masing. Jadi, bertingkah biasa, oke?” dirinya menenangkan diri sambil mengangguk mantap terakhir kali, saat inilah dipilih Hyerim untuk meraih kenop pintu dan membukanya.

Pintu agak berdecit seraya melihatkan celah setelah itu, Hyerim melongokan kepala guna mengintip. Baru saja ia mengiring manik untuk menelaah sekitar, “Sudah selesai, sayang?” vokal khas Luhan main menyentil telinga hingga nyaris menyebabkan Hyerim tersungkur jatuh karena kaget.

Tubuhnya yang diposisikan membungkuk harus membuatnya sedikit menatap menerawang ke atas tuk menjatuhkan pandang tepat pada Luhan yang sedang menyematkan senyum yang, oh brengseknya membuat jantungnya guling-guling tak jelas. Ayolah Kim Hyerim, pria ini suami orang yang kebetulan nama serta wajahnya mirip denganmu.

Anggukan terlakoni, “Eung,” serta ranum Hyerim pun menjawab super singkat.

Terulurkan tangan Luhan untuk mengacak sebentar rambut Hyerim, sematan ranumnya juga masih terpartri lembut bahkan rasanya ingin sekali Hyerim tampar saking lembut serta membuatnya hilang arah.

“Baiklah, kalau begitu aku mandi sekarang. Maaf aku main masuk tadi.” Luhan berkata lalu mengikis jarak tuk menyarangkan ciuman dipuncuk kepala Hyerim, membuat wanita itu merasa pipinya kebarakan bahkan matanya melebar.

Tak sadar akan istrinya yang kebakaran jenggot mendadak, Luhan mengayunkan kaki untuk menapaki kamar mandi. Namun, Hyerim malah bergeming di depan pintu kamar mandi. Pikirannya hilir hudik tak tentu arah, sebuah ribuan pikiran berkecamuk dalam benaknya kala ini.

“Luhan! Aku ingin gendong!”

“Luhan! Aku ingin cium!”

“Manja sekali, mentang-mentang hamil.”

“Lu, Lu, uhuk, tolong,”

Insiden terakhir membuat obsidian Hyerim memejam dengan kengerian mendominasi dan ketakutan tersuluti. Terlihat dirinya sendiri berlumuran darah dengan perut yang sakit, oh dirinya mengandung dan merasa janin dalam perutnya meronta tuk dibebaskan. Darah terus merembes sementara ranumnya memanggil Luhan untuk meminta tolong. Beberapa momen bersama pria itu yang tidak ia ketahui, memasuki otak Hyerim. Lelaki itu yang mencium, menggendong, mengelus, bahkan menyuapinya. Dirinya tak pernah merasa melakukan itu, tapi kenangan itu menerobos benaknya sekarang. Mata Si Dara Kim mengabur dan ia merasa dunianya terjungkir.

“HYERIM!”

Hanya itu yang ia terakhir tahu, sosok Luhan yang meneriaki namanya serta berlari ke arahnya. Setelah itu, tubuh Hyerim yang pingsan pun dibawa kegendongan Luhan dengan gaya bridal.

       

Alat berjalan Luhan terus digeretkan resah, tangannya pun terpaut menjadi satu, lelaki dengan garis Lu itu mondar-mandir dengan wajah cemas. Di dalam kamarnya, Hyerim sedang diperiksa oleh dokter pribadi yang sudah menangani Hyerim selama tiga bulan terakhir.

“Luhan,” bariton yang menyentilnya langsung menyebabkan Luhan mengiring fokus pada Kim Minseok—dokter pribadi Hyerim sekaligus teman karibnya,  yang sedang berdiri beberapa jengkal di hadapannya.

Tanpa menanti lama, Luhan langsung mengiring diri ke hadapan Minseok, wajahnya masih sama yakni mencetakan kecemasan. “Bagaimana dengan istriku?” panik jelas terlihat dari pita suara pria Lu ini, bahkan Luhan meraih tangan Minseok serta menggoyang-goyangkannya.

Napas terhela dari bibir Minseok, hal tersebut membuat Luhan tersuluti rasa takut. Netra karibnya menerawang ke bawah, “Kondisi Nyonya Lu-mu tersayang, sudah lebih baik…” tangan Luhan turun dari lengan Minseok seraya bernapas lega dengan muka yang sama, pandang Minseok yang menerawang ke bawah pun berganti melekat pada Luhan. “tapi, dirinya masih butuh perawatan. Kamu tahu sendiri, ‘kan, Lu. Istrimu selama tiga bulan ini mengalami skizofrenia bahkan amnesia. Dirinya depresi kala ia keguguran tiga bulan lalu.”

Kembali, Si Dokter garis Kim membuang napas dengan kepala menunduk. Luhan sendiri hanya mematung dengan menyematkan senyum getir. Benar, Kim Hyerim mengalami depresi. Istri marga Kimnya itu depresi berat saat kehilangan janin dalam kandungannya dalam kecelakaan tabrak lari di Jamsil. Wanitanya itu sering sekali histeris dan berteriak sendiri, bahkan kadang mencoba bunuh diri. Final depresinya tak kunjung terjadi, malah kondisi Hyerim makin parah, wanita itu malah mengalami amnesia disosiatif—penyakit mental yang melibatkan gangguan atau kerusakan memori, kesadaran, identitas, dan persepsi, juga  membuat individu menghilangkan ingatannya karena depresi tersebut. Bahkan saking depresi dan hilang ingatan atau amnesia, Hyerim juga mengalami skizofrenia— gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Bahkan Si Penderita pun mempunyai dunianya sendiri.

Inilah sebabnya Hyerim linglung setengah mati saat kondisinya membaik dan kembali kekehidupan nyatanya. Dirinya merasa mempunyai hidup yang lain, yaitu; masih menjadi mahasiswi dan belum menikah. Bahkan ia juga tak ingat Luhan. Padahal kehidupan yang Hyerim anggap ada hanyalah imajinasinya. Juga alasannya tak mengingat Luhan karena amnesianya belum sepenuhnya pulih.

Luhan mengacak surainya gusar, pun air wajahnya mencetak jelas betapa gusar dirinya kala ini. Minseok yang ada di depannya hanya menepuk-nepuk bahu Luhan pelan serta menyarangkan tatapan prihatin. “Tapi setidaknya kondisi Hyerim membaik, bukan, setelah mengalami banyak terapi kognitif dengan obat-obatan antipsikotik. Dirinya juga rutin mengonsumsi obat-obatan yang kuberikan. Kemarin juga kamu bercerita, Hyerim sudah sadar dari alam halusinasinya namun masih mengira alam halusinasinya itu benar-benar ada ditambah ingatannya belum pulih.”

Setidaknya, penjabaran Minseok yang panjang lebar itu membuat Luhan tenang. Ya, Hyerim sudah lebih baik dan skizofrenia dalam dirinya mulai sembuh. Lengkungan kurva Luhan tercipta, dirinya harus lebih sabar dan memberikan perhatian lebih pada Hyerim agar istrinya itu bisa lebih cepat sembuh.

“Aku pamit, ngomong-ngomong,” Minseok bersajak tatkala melirik arlojinya, lantas kembali melirik Luhan. “Hyerim masih tertekan dan mungkin tidak sadarkan diri untuk beberapa waktu. Saat ia bangun, jangan lupa berikan ia obatnya, mengerti?”

       

“Hyena-ya, ke marilah,”

Entah berada di mana, Hyerim melihat sosoknya sendiri sedang terduduk di tepi ranjang dengan sedikit membungkuk. Dirinya yang lain itu menepuk-nepuk tangannya dengan seuntas senyum, kembali ia memanggil ‘Hyena’ yang katanya kucingnya.

“Ahh, Hyena. Dirimu sungguh lucu,”

Sontak Hyerim membulatkan mulut juga matanya, tak percaya akan objek yang tengah kilatan netranya suguhi. “Jadi… jadi… Hyenaku ini… selama ini, hanya sebuah bantal?!” Hyerim menggumam shock tatkala melihat dirinya yang lain menggendong bantal kecil sambil mengelus-ngelusnya sayang layaknya seekor kucing.

“Nyonya Lu masih mengalami halusinasi pada kehidupannya yang lain,” vokal perempuan di arah belakangnya, merengut atensi Hyerim tuk meliriknya. Perempuan tersebut ialah seorang suster yang tengah menatap dirinya yang lain dengan tatapan simpati.

Kemudian, antensi Hyerim terengut oleh eksitensi pria yang berpijak di sebelah suster dengan rambut menggulung ke atas itu. Pria yang menatapnya dalam dengan senyum lemah, pria yang beberapa waktu lalu ia temukan di sebelah ranjangnya serta membuatnya menjalani kehidupan yang membingungkan.

“Sampai kapan istriku akan tetap seperti ini?” Luhan—pria yang merengut fokus Hyerim, bersua dengan kepala menatap profil samping suster di sebelahnya.

Sembari menunduk dengan helaan napas berat, suster tersebut menggeleng. “Saya tidak tahu, Tuan Lu. Tapi, akhir-akhir ini keadaan Pasien Kim Hyerim sudah mulai sedikit membaik. Mungkin beberapa minggu lagi, anda bisa membawanya ke rumah untuk rawat jalan akan terapi kognitifnya.”

Rasanya kepala Hyerim berdengung hebat. Halusinasi? Jadi dirinya selama ini sakit atau apa? Tapi, mengapa ia juga tak mengingat Luhan. Dengungan terus menyerang kepalanya. Refleks Hyerim mengangkat tangan guna menyentuh kepalanya yang pening seakan berlari-lari di dalam sebuah labirin dengan beribu jalan yang tak ia ketahui. Bayangan objek yang terpancar dari netranya lantas memudar, makin pusinglah Hyerim dibuatnya, namun disekon mendatang, pemandangan lain menyambut netranya.

“Hyerim,” panggilan lembut itu menyadarkan Hyerim, menyebabkan kepalanya terstir pada Luhan yang sedang mengurai langkah mendekat pada sosoknya yang lain.

“Besok kuliah pagi. Aku malas sekali. Ish, tapi bila malas untuk apa susah-susah kuliah di Stanford?” dirinya yang lain itu sedang mondar-mandir dengan bibir mengerucut.

Dari ujung mata, Hyerim melihat reaksi Luhan yang malah tersenyum simpul. “Dunia halusinasimu sepertinya indah, ya? Dirimu, ‘kan bermimpi kuliah di Stanford dari dulu. Tapi karena aku tak mau menjalani hubungan jarak jauh, dirimu hanya berakhir di Yonsei bersamaku.” Luhan menyahut kemudian berjalan mendekati Hyerim yang sekarang menelungkupkan diri di atas ranjang sambil mendumelkan kemalasannya untuk kuliahnya besok.

Tak dapat ia bendung, likuid hangat itu terpancar siap meluncur dari obsidiannya. Figur Luhan yang sedang duduk di sebelah sosoknya yang sakit akibat depresi, mengelus kepalanya sayang, bahkan dengan sabar membujuk dirinya untuk minum obat.

“AKHHH!” namun yang Luhan dapat dari Hyerim adalah pemberontakan serta teriakan histerisnya. Tetapi, Luhan tak patah arang.

Melihat hal tersebut secara langsung, membuat hati Hyerim tergetar serta meloloskan air matanya. Walau pikirannya hampa, hatinya mewakilkan semua rasa itu, menghantarkannya pada satu titik yang benaknya belum bisa cerna. Selanjutnya, kepalanya kembali pening. Kali ini bukan hanya pandangan kabur yang merengut Hyerim, keseimbangan tubuhnya oleng dan pada akhirnya tumbang dengan kesadaran yang terbang.

       

Tarikan seakan menyentakan jiwa ditubuh wanita yang tengah berbaring berbalut selimut putih di ranjang king sizenya, sekon berikut netranya terbuka dan mengerjap beberapa kali tuk menghantarkannya kembali ke realita. Sebuah langit-langit kamar lah yang menyambut pandang Kim Hyerim detik ini, terpancar pula kegelapan yang menandakan malam hari tengah menyambut bumi. Tersadar akan eksitensi yang semestinya menyambut netranya kala terbuka, Hyerim menyisir daerah sekitar dengan menengokan kepala ke kanan dan kiri. Luhan. Sosok itulah yang ia cari.

“Luhan,” suaranya akhirnya berani memanggil nama jaka tersebut, obsidiannya masih menyensor kamarnya ini. Ia tahu betul bahwa kehidupan yang ia klaim sebagai hidupnya yang membingungkan adalah kehidupannya yang sesungguhnya. “Luhan,” vokal Hyerim kembali bersua, terselip nada kekecewaan serta rasa sesak membelit karena figur yang ia cari hilang entah ke mana.

Diiring oleh Hyerim tubuhnya tuk duduk di atas ranjang serta bersender pada punggungnya. Tubuhnya rasanya kaku hanya untuk sekedar ia gerakan turun dari ranjang. “Luhan di mana?” gumaman Hyerim tercetuskan lagi, intonasinya lirih tercampur serak. Bahkan matanya mengkilatkan air mata yang siap jatuh kapanpun.

Tangan Hyerim meremas selimut yang membaluti tubuhnya. Tanpa dikomando, kristal hangat menyusuri pipi tirusnya, isakan berusaha ia tahan dan malahan berakhir ia cegukan. Dihapus kasar pulahlan air mata yang kian turut membasahi pipi. Hyerim menunduk dalam.

“Dia tidak mungkin pergikan?” Hyerim menggumam disela tangisnya yang masih terjalin. Waktu kedepan, ia menggeleng kuat-kuat, menyangkal akan pikiran yang tercetuskan oleh otaknya tadi. “Tidak mungkin Luhan pergi, tidak mungkin. Saat aku sakit parah, dirinya ada disisiku. Apalagi saat aku sudah sembuh, ‘kan?” sangkal Hyerim dengan gelengan mantap.

Menghapus jejak likuid yang tadi menganak sungai diwajah, Hyerim mengangguk tuk memantapkan gerakan selanjutnya yakni turun dari ranjang dan mulai menggeret tungkai. Kepala Hyerim menelaah mencari tubuh tegap Luhan di labirin-labirin rumah mereka yang gelap lantaran pencahayaan lampu belum dinyalakan—dan hal tersebut menandakan Luhan sudah pergi sebelum malam menyapa. Bendera putih dikibarkan Hyerim. Si Wanita pun bersimpuh di sebelah sofa dengan lesunya, tangannya memegang samping sofanya. Lantas netranya kembali berkaca-kaca dengan ranum bergetar-getar.

“Luhan,” kembali ia mengaumkan nama suaminya. Dada Hyerim naik turun, tak kuasa membendung rasa sesak yang menggerogoti. Mata Si Wanita garis Kim terpejam dengan air mata kian menyusuri pipi, isakannya turut andil didalamnya. “Hiks, beginikah dirimu pergi disaat aku sudah mengingat semuanya? Disaat aku sudah sembuh dari depresiku? Apa dirimu lelah karena penyakitku selama tiga bulan terakhir?”

Saking larut akan  tangis serta rasa sedihnya, Hyerim sampai-sampai tak menangkap jelas suara yang semestinya memantul jelas kegendang telinganya. Buahan suara tersebut berasal dari pintu rumah yang baru terbuka, tubuh lusuh Luhan menampakan diri sembari membuka sepatu pantofel serta menarik dasi yang serasa mencekiknya dari kerah kemeja putih kerjanya yang kusut.

Kepala Luhan mendongak dengan iris melebar saat sebuah isakan memantul keselaput dengarnya, “Hiks,” matanya mengerjap, memastikan akan isakan tersebut. Perlahan, Luhan mengayunkan kaki dan meraih saklar lampu yang lantas membuat lampu di sebagian rumahnya mulai nyala.

Dengan sikap hati-hati, Luhan melangkah pelan dan akhirnya berhasil mencapai bibir ruang keluarga. Dwimaniknya langsung disuguhi sosok wanita yang sangat ia kenali meski berposisi memungunginya. Bahu Si Dara naik turun, bertanda akan tangis yang sedang ia aksikan. Tak salah pula juga telinga Luhan yang tersentil akan suara isakan perempuan di malam pekat ini. Raut waspada Luhan tersapu menjadi mimik khawatirnya, sedikit dipercepat juga langkahnya untuk menghampiri Hyerim.

Saat sudah berada tepat di belakang istrinya yang menelungkupkan wajah dibalik lipatan tangannya di atas tangan sofa, “Hyer,” Luhan pun memanggil pelan dengan wajah cemas.

Nyatanya, keterlarutan Hyerim sangat dalam hingga tak menyadari akan absen hadirnya Luhan di belakangnya detik ini. Dirinya masih sibuk menangis dengan isakan yang kadang mendominasi dan kadang pula ia tahan. Tak tahan, Luhan pun berjongkok  kemudian menarik Hyerim untuk berbalik haluan ke arahnya, setelahnya memberikan sebuah rengkuhan.

Hyerim tersentak, otomatis tangisan dengan isakannya berhenti, matanya membola lalu mengerjap beberapa kali guna memastikan lengan kekar yang merengkuhnya bukanlah sebuah angan semata.

“Kenapa menangis?” selembut simfoni, suara Luhan pun bertanya membuat bibir Hyerim bergetar untuk menangis kembali. Wanita tersebut tak percaya akan hadirnya figur Luhan kembali tatkala ia menangis karena merasa kehilangan pria itu. “Dirimu tak sadarkan diri selama tiga hari, aku khawatir sekali. Apalagi saat tahu dirimu bangun, kamu malahan menangis seperti ini. Apa kepalamu pusing?” Luhan mengelus punggungnya lembut.

Tangan Hyerim terangkat serta berakhir memeluk Luhan lebih erat daripada pelukan yang Luhan torehkan. Wajahnya ia tengelamkan didada bidang prianya, bahunya kembali naik turun tuk menahan tangis.

“Aku sudah tiga hari tak sadarkan diri?” suara serak Hyerim bertanya, anggukan Luhan merupakan respon. Setelah menarik hidungnya yang tersumbat, Hyerim melayangkan tanya lagi. “Dirimu ke mana saja tadi? Aku mencari-carimu tahu. Aku kira dirimu meninggalkanku karena lelah menghadapiku yang tidak sembuh-sembuh dari depresi.” Hyerim tak bisa menahan lagi, spontan sajalah likuid hangat itu banjir dan matanya terpejam erat dengan isakan pelan yang lolos.

Wajah Luhan sedikit tersentak dan menggambarkan keterkejutannya lantaran ayat kata Hyerim barusan. Tunggu… apakah istrinya ini… “A—ku, a—ku tadi menghadiri rapat penting dengan rekan kerjaku untuk membahas proyek baru, sayang,” rangkai kata Luhan sampai tak sempurna karena pemikiran Hyerim yang mungkin sepenuhnya telah sembuh, membuatnya kaget bukan main.

Sambil mengeratkan pelukan, Luhan berusaha berfrasa sebaik mungkin. “Dan dirimu tadi mengatakan… apa?” Luhan melonggarkan pelukan dan menatap Hyerim yang berada dibawah kuasa rengkuhannya dengan penuh harap.

Kepala Hyerim mendongak, maniknya menghunus netra Luhan dalam. Obsidiannya masih berkaca-kaca dan hidungnya merah sekali, begitupula matanya yang bengkak. “Sebenarnya aku masih sedikit, sangat sedikit bingung,” agak tercekat saat mengatakan hal tersebut, Hyerim pun menerawangkan fokusnya ke bawah. “Sebenarnya aku ini Hyerim istrimu atau Hyerim, seorang mahasiswi yang tinggal sendiri di San Frasisco untuk menempuh pendidikan juga—“

Ayat kata ranumnya terpenggal saat Luhan dengan segera menarik dagu Hyerim untuk menatapnya. Secepat kilat pula, Luhan menghapus spasi antaranya dan Hyerim membuat bibir keduanya berpangutan. Mata Luhan terpejam kala mulai memberikan lumatannya. Setelah mengerjap beberapa kali, barulah Hyerim memejamkan mata dan membalas perilaku Luhan diranumnya. Mata wanita garis Kim itu meneteskan aliran sungai hangat dipipinya. Lumatan keduanya terus terjadi ditengah bibir keduanya yang berpangutan. Seluruh keping ingatan yang terhapus dibenaknya, mulai belarian memasuki otak Kim Hyerim. Kenangannya bersama Luhan yang terhempas jauh dari memorinya mulai terjejali kembali mengisi ruang otaknya nan kosong. Pangutan itu lepas tatkala Luhan menjauhkan diri serta menatap Hyerim lembut. Timbal balik Hyerim hanya berupa tatapan kosongnya, jiwanya seakan terbang sesaat karena ingatannya yang baru pulih benar.

Tiba-tiba, sebuah ciuman dikening Hyerim disarangkan Luhan, membuat wanita tersebut mengedip sekali lalu mengalihkan fokus netra pada Luhan yang menyunggingkan kurva manis. “Sudah ingat semuanya?” tanya Luhan sambil mengangkat tangan kanan mengelus pipi Hyerim.

Dengan tersirat lakon bodoh, kepala Hyerim mengangguk spontan. “Ciumanmu magis. Kenapa tidak dari dulu menciumku saja agar aku ingat semuanya?” dengan manik polos, Hyerim mengeluarkan ujaran yang lebih kelewat polos.

Kekehan Luhan lolos secara spontan sampai kepalanya menunduk. Beres terkekeh, ia kembali menatap Hyerim dan menyentil dahinya. “Aduh,” refleks mata Hyerim terpejam sambil mengaduh. Kemudian ia membuka mata tuk menatap Luhan tajam.

Dengan senyum geli, Luhan berkata. “Bilang saja ingin kucium,” tangannya lantas menarik pipi kanan Hyerim membuat wanitanya makin memberengut dengan kurva mengerucut.

Detik berikut, secara tiba-tiba, Luhan membawa Hyerim kegendongannya dengan gaya bridal. Spontan, Hyerim mengalungkan tangan dileher Luhan walau sedikit tersentak kaget. “Aku mengantuk, ke kamar saja, ya?” ujar Luhan sambil tersenyum lalu mengiring  langkah ke kamar keduanya.

Kala sampai di kamar, Luhan membaringkan tubuh Hyerim perlahan di atas ranjang. Perempuan bernama Kim Hyerim itu hanya terfokus pada lekuk wajahnya dari tadi. Tangan kanan Luhan mengusap pipi Hyerim saat tubuh istrinya itu sudah berbaring di atas ranjang dengan tangan kirinya yang masih berada dipunggung Hyerim.

“Ada apa?” tanya Hyerim sambil menatap Luhan intens.

Masih setia mengelus pipi Hyerim, Luhan melolongkan kata. “Aku merindukanmu tahu.”

Tak dapat Hyerim tahan lengkungan senyum yang pada akhirnya terlukis. “Meski aku merasa hidupku ini membingungkan pada awalnya aku terbangun beberapa hari lalu. Tapi sekarang, aku bahagia dengan dirimu yang ada di sini.”

Lengkungan bibir Luhan juga makin tercipta. “Ingin memulai semuanya dari awal denganku?”

Timbal jawaban Hyerim adalah iya dengan anggukannya, “Asal dirimu jangan main pergi seperti tadi.” bibir Hyerim cemberut dengan gemasnya, tak tahan juga Luhan untuk tidak menyarangkan cubitan diujung hidung Hyerim.

Kembali, ranum dua insan itu menyapa. Terbuai akan pangutan serta lumatan panjang yang mewakili kerinduan yang terbendung selama ini. Luhan memutar tubuh hingga tidur menyamping di sebelah Hyerim yang tidur menyamping juga ke arahnya. Pangutan bibir keduanya masih terjadi. Setelah beberapa saat, Luhan melepaskan ciuman lembut tersebut, mengelus pipi Hyerim dengan lembut kembali disertai senyum, sebelum akhirnya menarik wanita yang amat ia cinta kedalam pelukan erat. Selimut ditarik Luhan untuk membaluti keduanya yang lantas memejamkan mata.

Hyerim harap, kala membuka mata kembali esok hari dan esoknya lagi, kehidupan yang ia klaim membingungkan ini kembali menerjangnya. Tak ada lagi dunia halusinasinya, karena ia hanya perlu Luhan dikehidupannya.

—Finale—


HAPPY BIRTHDAY TO MY BELOVED GUY, LUHAN! ❤

Ya lord tak menyangka Si Pangeran Hati  udah nginjek usia 27, kapan lamar aku Mas?

Wish you all the best aja, sayang. Sering-sering buat khilaf ya LOL.

Dan kuingin mengucapkan terimakasih pada soulmateku yang ada d Jerman eyak, yang telah ngasih kata romens dalam bahasa latin di atas wkwkwk. Dan sudah membenahi kata judul FF dalam B.Jerman ini wakakakak.

Jadi di sini ada yang masih gak paham sama ceritanya? Ya jadi Si Hyerim ini amnesia sama kena skizofrenia (yang udah kujelasin penyakitnya di atas) makanya pas dia bangun, dia bilang dia ini mahasiswa dan tinggal di Amerika padahal itu imajinasi dia doang. Dia gak inget Luhan pun karena dia amnesia.

DAN BTW ANE MO CURCOL. ANE IKUTN PROJECT LUHAN INTER BUAT BIKIN VIDEO NGUCAPIN ULTAH KE LUHAN DAN VIDIO ANE KEPILIH ANJIIIIRRRR. MANA JELEK LAGIIIII, DAN VIDEO PROJECT ULTAH LUHAN 2016 TAHUN LALU ITU DITAYANGIN DI KONSER LUHAN. NAH KALO ITU VID PROJECT ANE DITAYANGIN JUGA GIMANA SIYAAALLLL

Tuh ane yg pojok kanan atas. Pake baju item malu-maluin nzer. Cek videonya di sini  https://t.co/sJMJChR1F0

Okay, kutunggu cinta kalian di box comment ya!

Bonus suami tercinta yang lagi ultah /?

Kindly Visit My WordPress

[www.hyekim16world.wordpress.cm]

Iklan

18 pemikiran pada “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Verwirrtes Leben – HyeKim

  1. Ya mudaan aku dong… Aku tuh 03 line, smp kls 2 tp serasa kuliah, bentar lg aku mo naek kls dong, jd sebenarnya baca ff adalah perilaku terlarang *ngelantur. Aku lahir tglnya sm kyk luhan oppa, trus blnnya sm kyk lay thnnya sm kyk anggota smrookies yg masih unyu2 itu, entah siapa ku lupa namanya. Sama satu lg aku adek officialnya suho oppa yg udah diakui diseluruh dunia liat aja tuh marga ama namaku kan hampir sama tuh ama dia, trus aku tuh istrinya pcy ganteng sedunia yg baru nikah pas ultah cy thn 2016 kmrn, aku mantan pacarnya sehun yg baru putus 2 thn yg lalu dgn alasan mo nikah ma cy oppa, aku sempet ketauan mo selingkuh ama l oppa trus aku dimarahin, kmrn aku jln ma taehyung jg dimarahin, trus tadi ketauan pelukan ma bbh langsung dicium ma suamiku itu *hayo complicated an siapa coba, ff eonni ato hidupku?. Wkwkwk. Yah daripada bnyk bacot aku mo bilang, jadi intinya eonni tuh eonni aku dan luhan itu kakak iparku tercinta /plakk/

  2. CIEEE YG BIKIN FF BUAT KADO ULTAH SUAMINYA… Sekarang maenannya bhs jerman yeee. Btw ffnya keren, ucul ucul gmn gt. Buat suamimu kucapin hbd kakak iparku tercinta /ehh/ *kan ceritanya cuyeon adeknya eonni nih. Selamat ya eon, vidionya eoonni kepilih, keren kok. Aku bangga padamu kak!

    • Eh tapi sebenernya kita ini tuaan siapa yak? Wkwkwk aku mau nanya itu dari kemarin 😂😂
      Ini project rutin blog sinih, karena suami yg ultah ya direalisasikan dongs wkwkwk, bikos pake B.Jerman lebih beken dibanding Spanyol sama Inggris buat arti judulnya say wkwkwk. Makasih udah mampir yaa wkwkwk. Dan makasih juga ucapan selamatnya walau aslinya aku sendiri lebih gimana ya wkwkwkwk, abisnya komuk sekali vidnya.

      Kata Luhan : Makasih Sooyeon ❤😄

  3. Judulnya bebs susah dilafalkan elah :’v
    Jika diriku jadi Hyerim mungkin bakal pingsan 3 hari karena kaget ada cogan mendadak mendekat nyaris kissing XD
    .
    .
    AND ASTAGA LUCKY BANGET KALIAN!! DINOTIS UNTUK DITAMPILKAN DI KONSER LULU~ TvT YOU’RE SO LUCKY hueee /nangis bombay/

    • Bahasa Jerman itu memang samting :v enakan bahasa Spanyol dums wkwk tapi B.Spanyol dari kata judul ff ini tuh kurang match dan B.Inggris juga rada aneh, makanya dibuat pake B.Jerman sambil nanya sama temenkuh yg tinggal di Jerman wkwkwk

      WAKAKAKAK NYARIS KISSING WAKAKAK MEREKA KISSING KOK AKHIRNYA JUGA /PLAK/

      Lucky? -_- ya Allhamdulilah wasyukurilah walau aslinya ane rasanya heung :/ soalnya itu aib lah njerrr. Kalo project taun kemarin emang masuk konser Luhan, kalo yg taun sekarang (yg ada anenya) gak tau bakal dikemanain

  4. Campur aduk mah baca ini ff els rasanya, kek nano-nano. 😂😂
    Bayangin hyerim astaga, kaget pasti nemu cogan di kamar. 😂
    Astaga, itu kata”nya romens sekali. Btw, ink judulnya artinya apaan ya els? Soalnya pas baca jurnalnya hyerim itu gak ada deh, atau eki yg gak fokus? 😂😂
    Entah kenapa salfok ke bagian ciuman rutin dan 5 anak, sama isi foto albumnya, langsung hmz, nampak bagian ranjang sama kata ‘itu’ yg di italic, kol ngekek ya els, eki jadi berpemikiran kotor. 😂😂😂
    Overall, ff ini jjang banget els, serius, wkwk, 😆
    Habede luhan, suaminya hyerim~ (atau Elsa?) 😂

    • Wae kak eki XD XD rasanya nano-nano ahahahah
      Nemu cogan di kamar, seranjang, mana deket wajah banget, lalu si cogannya bilang kalo dia itu suami dia adohhh Hyerim beruntung nian kamu nak :”)

      Wkwkwk itu bahasa latin yg romens2 kak, dikasih temen jadi weh aku masukin. Kalo judulnya pake B.Jerman, emang gak ada kak di jurnalnya Hyerim. Artinya Confused Life, bikos Si Hyerim ngerasa hidupnya bingung pas bangun-bangun ada di tempat asing sama nemuin cowok yang ngenalin diri sebagai suaminya wkwkwk.

      WKAKAKAK SI HYERLU MAH RATED MULU YAKKK. NGEKEK YA LORDD SALAHKAN YG NULIS AJA MENCEMARI OTAK PEMBACA /KABUR SEBELUM DITIMPUK/

      Thanks u so muchhhh kak ekihhhhhhhhhh, lavyuuu udah mampir ❤❤

      Suami dua-duanya boleh kok /plak/ kalo di real lifeu itu suami Elsa, kalo di fiksi itu suami Hyerim /iyain aja/ kata Luhan, makasih kak eki wkwkwk

    • FF ANE LEBIH RATED ELS/PLAKK/ GA/ XD
      pantes, bingung banget itu idupnya, pas disebut Confused Life XD
      Kalo ane sih kejang-kejang kalo jadi hyerim els :3
      Iya, Luhan milik kalian berdua yakan ya? XD

    • UDH BACA ANE SUKA KOK /DIGAMPAR/ AKU KEJANG2 BACANYA /GAK GITU/

      Bingung tapi barokah kalo asliannya gitu wkwkwk udah kejang-kejang gimana kita mah
      Iya milik kita berdua walau aku lagi jambak-jambakan sama Hyerim soalnya dia protes kok di dunia fiksi aku ngembat Luhan akhir-akhir ini /plak/

  5. Yaaakk luhan sabr banget nunggu sampe 3 bulan buat hyerim kmbali kesemula😢btw thor gk kejang kejang kan pas vidio nya kepilih😂mungkin kalo aku jadi kaka aku udah pingsan mungkin sangking gk percaya nya😢😂

    • Wkwkwk iya ya si Luhan ini suami tabah bin tegar :3 unch lah suamiable

      Aku boro-boro kejang2 malahan bengong dan malahan kemarin-kemarinnya berpikir gak usah kepilih aja, abisnya jelek banget akunya sama malu-maluin wkwkwkwk😂😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s