[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] ADELLE -by AYUSHAFIRAA

adelle

Kartu hitam penukar jadwal kematian.

`ADELLE`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Xi Luhan x Park Seul as Xi Hana, feat. Wu Yifan`

|| Drama, Family, Fantasy, Sad ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

WattpadKakaostory

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

“Biar kuberitahu ya,”

“Dua anak kalian akan meninggal tepat di hari ke-7 setelah hari ini karena kecelakaan. Mobil yang kalian pakai untuk mengantarkan mereka ke sekolah akan mengalami kecelakaan fatal yang menyebabkan nyawa mereka melayang.” Pria bersetelan jas serba hitam dan memiliki tatapan mata tajam itu duduk menghadap pasangan suami istri berusia 40 tahunan.

Mendengar kabar tersebut langsung dari malaikat yang akan mencabut nyawa anak mereka, pasangan suami istri itu pun gemetar. Saking gemetarnya, meja yang menjadi pemisah antara mereka dan malaikat pencabut nyawa itu ikut bergetar.

“Tapi, keluarga kalian mendapat jatah 3 kartu Adelle.” Pria muda nan tampan yang menyebut dirinya sebagai malaikat pencabut nyawa itu memunculkan tiga buah kartu remi berwarna hitam yang ia sebut Adelle dari tangan kanannya. “Dengan kartu ini, kalian bisa menukarkan jadwal kematian kalian dengan jadwal kematian anak kalian. Kalau kalian tidak mau memakainya pun, kalian tetap akan mati.”

“Kau sebagai istri, akan meninggal 4 tahun kemudian. Dan kau sebagai suami, akan meninggal 6 tahun kemudian setelah istrimu.” Lanjut pria itu.

Sang suami kemudian menggenggam tangan sang istri, saling bertatap untuk meyakinkan keputusan mana yang akan mereka ambil.

“Kami akan menggunakan kartu itu, biarkan kami menukarkan jadwal kematian kami dengan anak kami. Mereka masih sangat belia, biarkan kami saja yang meninggal di kecelakaan nanti.” Ucap sang suami diikuti anggukan persetujuan dari sang istri.

Whush~ Dua kartu hitam yang ada di tangan kanan si pria menghilang bagaikan asap yang tertiup angin, menyisakan satu kartu tersisa.

“Kenapa kartunya menghilang?” tanya sang suami keheranan.

Malaikat pencabut nyawa itu tersenyum, “Karena kalian berdua sudah menggunakannya.”

“Kalian akan meninggal 7 hari lagi, jadi jangan sia-siakan waktu berharga kalian bersama anak kalian. Jangan sampai kalian menyesal di kehidupan selanjutnya.”

.

.

.

“Begitulah singkatnya cerita tentang orang tuamu saat kutemui 4 tahun yang lalu.” Ucap sang malaikat pencabut nyawa yang meski 4 tahun sudah berlalu, tak ada perubahan berarti dari dirinya. Berbeda dengan pemuda tampan yang saat ini menempati tempat duduk di seberangnya. 4 tahun yang lalu, pemuda itu masih berusia 23 tahun dan masih terlihat seperti anak kecil. Sekarang, ia sudah berusia 26 tahun dan terlihat semakin dewasa saja.

“Waktu berlalu begitu cepat ya, Xi Luhan. Tak terasa, waktu liburku sudah habis dan mau tak mau harus kembali bekerja.” Malaikat itu mengeluarkan tablet berukuran 7 inchi dari balik jas hitamnya. “Pekerjaanku berikutnya adalah mencabut nyawa adikmu yang bernama Xi Hana, 7 hari lagi.”

Bola mata pemuda bernama Xi Luhan itu melebar seketika saat mendengar nama adiknya disebut dalam daftar pekerjaan sang malaikat maut.

“Jangan bercanda! Dia baru 19 tahun! Ba-bagaimana bisa… bagaimana bisa kau mencabut nyawa adikku yang masih sangat muda itu?!” tanya Luhan dengan nada meninggi, tak terima.

Malaikat itu terkekeh untuk sesaat sebelum pandangannya menatap lurus ke arah Luhan,

“Kematian bukan hanya tentang umur yang masih muda atau tua, Luhan. Bahkan bayi yang belum sempat dilahirkan pun bisa menghadapi kematian. Kematian tidak hanya mengincar orang-orang yang sudah lanjut usia. Kematian, bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, tanpa pandang bulu.” Jelas sang malaikat.

“Tapi seperti apa yang sudah kuceritakan padamu tentang kematian kedua orang tuamu…” Malaikat itu mengulang kembali adegan 4 tahun yang lalu di depan mata Luhan, memperlihatkan sebuah kartu hitam yang bisa merubah takdir secara cuma-cuma. “Keluargamu masih memiliki satu kartu adelle, kartu yang bisa menukarkan jadwal kematian.”

“Menukar jadwal kematian? Aku dengan adikku?” Luhan menatap malaikat itu dengan bulir airmata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.

Pria berpakaian serba hitam itu mengangkat bahunya, “Ya… kalau kau tidak mau, kau bisa membiarkan adikmu mati di umur 19 tahun dan kau akan menemui ajalmu 6 tahun kemudian.”

.

.

.

Luhan mematung di depan kalender yang terpajang di ruang tamu rumahnya. Tepat seminggu lagi adalah tanggal 20 April 2017, di mana pada tanggal itu, umurnya akan bertambah tua satu tahun. Hidup itu, singkat sekali.

Oppa! Apa yang sedang kau lakukan? Sedaritadi kulihat kau berdiam diri saja di depan kalender seperti patung.” Adik perempuan Luhan, Xi Hana turun dari tangga dengan langkah setengah berlari menghampiri kulkas dan langsung meneguk air mineral dingin untuk menghilangkan dahaganya.

Luhan berpaling ke arah adiknya, “Kalau kau tahu aku sedang berdiam diri, untuk apa kau tanya lagi?” lanjut lelaki itu, ketus.

Hana mengelap mulutnya, lalu melirik sinis sambil berdecih pelan, “Sewot sekali! Aku kan cuma bertanya!”

“Oh iya, kau jadi mengantarku ke kampus, kan?” tanya Hana selanjutnya, tangannya sibuk merapikan kembali kuncir rambutnya yang merosot.

“Kau mau kuantar?”

“Tentu sa-“

“BAYAR!” sambar Luhan dengan lidah yang menjulur dan wajah konyolnya, meledeki sang adik.

“YAK, XI LUHAN BODOH!” Bantal di sofa adalah benda satu-satunya yang dapat diraih Hana, dengan gerakan cepat, gadis itupun melempar bantal tersebut tepat ke arah kepala Luhan.

PRUK! Namun sayang, Luhan dapat dengan mudah menghindari amukannya.

“Dasar payah! Huuu~”

“Cih, menyebalkan sekali!”

Luhan tertawa kecil, “Sudah cepat pakai sepatumu!”

Ekspresi marah Hana seketika berubah menjadi binar bahagia, “Jadi kau mau mengantarku, Oppa?”

“Ya! cepatlah! Sebelum aku berubah pikiran.”

I’M COMING!~~~” Hana berlari menghampiri kakaknya setelah memakai sepatunya asal. Sang kakak yang sudah siap dengan kunci mobil yang berputar-putar di jari telunjuknya hanya bisa menatap Hana dengan wajah aneh, “Kau ini mau kuliah atau menjadi gembel?”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya,

“Aku bisa membenarkannya di mobil, ayo cepat!~” ucapnya dengan nada super manja, mendorong-dorong tubuh kakaknya agar cepat keluar dari rumah.

Sepanjang perjalanan, Hana sibuk membenarkan sepatu ketsnya yang tadi ia pakai asal. Setiap gerakan yang dilakukan Hana saat memakai sepatu di dalam mobil itu benar-benar mengganggu fokus Luhan hingga akhirnya memilih untuk memberhentikan laju mobil mereka di pinggir jalan.

“Sepatumu sudah sempit ya?” tanya Luhan setelah melihat dampal kaki sang adik tak masuk seluruhnya ke dalam sepatu itu. Luhan perlahan mulai mengerti mengapa adiknya tadi bertingkah seperti asal saja memakai sepatu. Bukan karena memang berniat asal-asalan, melainkan sepatu adiknya sudah tak muat lagi untuk dipakai. Maklum, setelah hari kepergian ayah dan ibu mereka 4 tahun lalu, Luhan mana sempat memikirkan masalah sepatu sang adik yang tidak pernah diganti lagi?

“Kenapa kau tidak bilang saja sih?”

“Aiii~ tidak apa-apa, Oppa. Toh masih bisa kupakai meski harus sedikit dipaksakan, hehe.” Timpal Hana dengan sedikit tawa kecil di akhir.

Luhan menghela nafasnya, “Tidak apa-apa bagaimana? Cepat lepas sepatumu!”

Hana menurut, alhasil terpampang jelaslah jari-jari kakinya yang memerah serius karena terlalu sering dipaksakan memakai sepatu yang tak sesuai dengan ukuran kakinya. Detik itu juga, Luhan merasa gagal menjadi seorang kakak. Selama 4 tahun ini, mana pernah Luhan menilik-nilik kaki adiknya? Sungguh, ia kakak yang tidak berguna.

PRUK! Luhan melempar sepatu Hana ke tempat sampah. Gadis itu langsung menatap kakaknya tak percaya.

“Yak, kenapa kau malah membuangnya?”

“Sudah waktunya bagi sepatumu itu untuk dibuang. Hari ini kau tidak usah masuk kuliah, kita pergi beli sepatu baru untukmu saja.” jawab Luhan bernada dingin yang seketika dapat membuat Hana bungkam seribu bahasa.

.

.

.

Mulut yang rasanya terlalu kaku untuk berucap kata maaf, menciptakan suasana tak biasa antara Luhan dan Hana. Sudah sekitar 30 menit berada dalam satu ruangan hangat yang sama, tidak ada percakapan diantara kakak-beradik itu, sama sekali. Hana menunduk, yang secara tidak langsung juga membuatnya harus melihat luka-luka lecet di kakinya. Sementara itu, Xi Luhan, hanya menatap punggung sang adik yang duduk di atas kasur dengan membelakangi dirinya.

“Aku akan berusaha membelikanmu sepatu,” ucap Luhan akhirnya setelah berpuluh-puluh menit menutup mulut. “Kau tidak usah khawatir, aku akan mendapatkan sepatu baru itu untukmu.”

“Tidak perlu,” balas Hana, tenggorokannya sedikit tercekat. “Aku kan bisa pakai sepatu Oppa untuk sementara waktu.”

Luhan tidak jadi membeli sepatu untuk Hana. Uang yang ada di buku tabungan mereka semakin menipis. Selama ini, Luhan tidak bekerja dan hanya mengurus rumah saat Hana pergi menuntut ilmu. Saat orang tua mereka masih hidup pun, mereka tidak termasuk golongan keluarga kaya raya. Jadi, ‘mengirit’ adalah cara terbaik untuk melanjutkan hidup tanpa orang tua.

“Ya, selagi aku mencari tambahan uang, kau pakai saja sepatuku.”

Hana berbalik dan mengukir sebuah senyuman ceria, “Begitu dong! Sepatu Oppa kan keren-keren!”

Gadis kecil itu… bisa saja membuat Luhan tersenyum tanpa paksaan di saat seperti ini.

“Kakimu yang lecet, jangan lupa untuk cepat-cepat diobati! Kau mengerti?”

Hana bangkit dari posisinya, menghampiri Luhan yang masih berdiri di dekat pintu kamarnya. “Aku mengerti, Bos! Sudah ya! tidak baik anak laki-laki berlama-lama di kamar anak gadis! Hus! Hus!” Hana mengusir Luhan seperti orang yang sedang mengusir anak ayam.

“Aish! Iya! Iya! Lagipula siapa juga yang mau berlama-lama di kamarmu? Pede sekali!” balas Luhan nyinyir.

.

.

.

“Aku bisa bekerja apa saja!” kurang lebih itulah yang dikatakan Luhan pada setiap pemilik toko yang didatanginya tiap kali ia melamar pekerjaan paruh waktu. Setelah 2 hari bersusah payah mencari kerja ke sana kemari, akhirnya Luhan mendapat pekerjaan sebagai pelayan toko sepatu karena penampilannya yang enak dilihat.

“Oppa, kau benar-benar sudah bekerja?” tanya Hana di seberang line telepon sana.

Saat ini lelaki itu tengah mencuri-curi waktu untuk menghubungi adiknya di toilet tempatnya bekerja.

Mendengar pertanyaan sang adik yang seakan tak percaya padanya, Luhan terkekeh, “Kenapa? Kau tidak percaya? Aku ini tampan! Jadi siapa yang berani menolakku?” ucap Luhan sedikit menyombongkan diri, padahal entah ada berapa puluh toko yang sudah menolak lamaran pekerjaannya.

“Oh iya! Oppa kan harus membelikanku sepatu baru! Semangat, Oppa! Kutunggu sepatu barunya ya!”

Lelaki itu memindahkan letak ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan sambil tak kuasa menahan senyum, “Pokoknya kau tenang saja, aku pasti akan membelikanmu sepatu baru!”

“Eoh? Luhan? Kau sedang menelepon siapa?” Wu Yifan, rekan kerja Luhan di toko sepatu itu bertanya santai sambil melangkah mendekati Luhan. Pria berpostur proporsional itu bercermin sambil merapikan gaya rambutnya, memandangi pantulan wajahnya yang ia rasa memang lebih tampan dari rekan kerja barunya itu.

“Aku menelepon adik perempuanku, Yifan.” Jawab Luhan tersenyum ramah.

Adik perempuan?

“Oh ya? kau punya adik perempuan? Cantik tidak?” pria tinggi satu itu menyiku lengan Luhan, berharap Luhan menjawab ‘Ya’ dan memperkenalkan sang adik padanya.

“Sebentar,” Luhan menutup sambungan teleponnya dengan sang adik lalu mengotak-atik ponselnya sebentar untuk membuka galeri foto yang akan menjawab pertanyaan Yifan tanpa perlu banyak bicara.

“Ini foto adikku.”

ffbc4f2439bebf2f7c4fd361efa4eefe

luhanpark5eul

“Wah! Dia benar adikmu?!” tanya Yifan setengah terpukau dan sedikit tak percaya juga, “Daripada jadi adikmu, dia lebih cocok jadi calon istriku.” Lanjut lelaki itu diakhiri dengan tawa khasnya.

Luhan ikut tertawa, “Dia masih 19 tahun, Yifan!”

“Oh iya, tadi aku tak sengaja mendengar percakapanmu di telepon, adikmu itu sedang butuh sepatu baru ya? kalau boleh aku tahu, nomor sepatunya berapa?”

“Ck, memangnya kalau kau tahu kau mau membelikannya sepatu?”

.

.

.

Di dapur, Hana sibuk membuat kue ulang tahun untuk sang kakak. Tepat di hari spesial ini, kakaknya masih saja sibuk bekerja untuk membelikannya sepatu baru dan mencari tambahan uang untuk kehidupan mereka ke depannya. Setelah melalui beberapa langkah-langkah, akhirnya Hana sampai juga di tahap akhir.

“Ah! Akhirnya selesai juga!”

“Ya Tuhan! Xi Hana kau pintar sekali! Aku sayang padamu!” ucap Hana menirukan suara Luhan, sekaligus berharap Luhan akan memujinya dengan kata-kata yang sama.

“Halo, Oppa! Hari ini pulanglah lebih cepat ya! aku tunggu di rumah, lho!” tutur Hana sesaat setelah ponselnya terhubung ke nomor Luhan. “Sudah jangan banyak bertanya! Pokoknya kau harus pulang cepat sebelum aku menunggu terlalu lama, marah dan tak mau berbicara padamu lagi! kau mengerti?!”

.

.

.

Luhan menatap layar ponsel pintarnya. Di sebelah kirinya kini sudah tersimpan kantong belanjaan yang berisi sepatu baru untuk Hana. Untunglah, hasil kerja paruh waktunya selama 5 hari sudah lebih dari cukup untuk membeli beberapa pasang sepatu untuk sang adik tercinta.

Kaki Luhan mulai menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan normal menuju rumah tempat di mana sang adik mungkin masih menunggunya dengan bermanyun ria.

“Oppa, kau di mana sih?! Lama sekali!” protes Hana di telepon.

Lelaki itu tertawa kecil, “Sebentar lagi sampai kok! Tidak sabaran sekali adikku yang cantik ini!”

“Cih! Gombalanmu tidak akan mempan sama sekali tahu! Aku sudah terlanjur ingin memukul kepalamu sekarang juga, jadi bagaimana ya?!”

Luhan merengut, “Galak sekali! Kalau aku sudah sampai rumah dan kau tahu apa yang kubawa untukmu awas saja kalau kau sampai tersenyum!”

“Tidak ak-“

PRAK!

“Awh… Op-pa…” lirih Hana yang terdengar sangat kesakitan di seberang sana.

“Hana? Hana kau baik-baik saja?! apa yang terjadi?!”

Hana terdengar menangis pelan, mungkin menahan rasa sakitnya. Sementara itu, Luhan dilanda kecemasan yang luar biasa tanpa tahu apa yang terjadi pada sang adik. Sedetik kemudian, pandangan Luhan mengarah ke layar ponselnya yang menyala dan menampilkan tanggal hari ini.

DEG!

20 April 2017, ini adalah hari ke-7.

“Hana! Hana! Kau bisa dengar aku?! Hana, tunggu aku! kau harus bertahan! Hana kumohon! Bertahanlah!”

Jarum penunjuk kecepatan mobil Luhan terus bergerak ke arah kanan, pertanda sang pengemudi meningkatkan kecepatan mobilnya jauh di ambang batas normal. Lelaki itu sudah kehilangan rasa takutnya menghadapi kematian, yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia bisa cepat sampai ke rumah dan menyelamatkan nyawa Xi Hana.

“KENAPA?! KENAPA?! KENAPA?!” teriak Luhan frustasi. Seharusnya bukan Hana yang merasakan kesakitan itu, tapi kenapa malah Hana?!

CKIIITTTT!

Luhan berlari secepat yang ia bisa, masuk ke dalam rumah dan mencari-cari sosok sang adik. Matanya melebar, saat dilihatnya sang adik terkapar di dekat tangga dengan darah yang mengalir dari kepalanya.

“Hana! Xi Hana! Kau bisa dengar aku?! Yak! Xi Hana! Jawab aku!” Luhan mengguncang tubuh tak berdaya adiknya hingga tanpa ia sadari airmata mulai menetes dari pelupuk matanya.

“Jangan… Jangan hari ini! KUMOHON! JANGAN HANA! JANGAN ADIKKU!”

Tangan lemah Hana bergerak hendak menggapai wajah Luhan, Luhan menggenggam tangan Hana dan menempelkan tangan lembut yang mulai dingin itu ke pipinya yang panas.

Oppa… apa aku akan mati?” tanya Hana dengan suara seraknya.

Luhan menggeleng cepat, “Tidak! Kau tidak akan mati! Kau dengar? Kau tidak akan mati, Xi Hana!”

Mendengar itu, Hana tersenyum tipis, “Selamat… ulang tahun, Oppa-ku sayang.” Lanjut gadis itu terbata sebelum perlahan akhirnya kedua manik matanya meredup. Bayangan Luhan yang menangisinya perlahan tergantikan oleh kegelapan yang sempurna.

.

.

.

[6 tahun kemudian]

Apapun yang terjadi, jangan pernah kau salahkan dirimu. Kau harus bahagia, Xi Hana. Aku menyayangimu, tidak, aku sangat sangat sangat mencintaimu! –Luhan.

Fuh! Hana membantu meniupkan lilin ulang tahun Luhan yang ke-33 tahun. Lelaki itu perlu dibantu karena lelaki itu sudah tak bisa lagi meniup lilin ulang tahunnya sendiri. Gadis berambut panjang terurai itu akhirnya lebih memilih untuk mengikat rapi rambutnya. Sambil meminum air mineral dingin, Hana terus menatap kesal tulisan Luhan di kertas kecil yang lelaki itu tempelkan di kulkas mereka.

“Bahagia? Cih! Apanya yang bahagia! Katanya cinta! Katanya sayang! Tapi tetap meninggalkanku sendirian! Apanya yang cinta kalau begitu caranya!” rutuk Hana pada Xi Luhan yang nyatanya tak lagi ada di sampingnya. Kalau saja kakaknya itu masih ada, ia pasti sudah berubah menjadi psikopat dan menguliti kakaknya sendiri.

Hana meraih ponselnya di atas kulkas, lalu dengan malasnya ia kembali masuk ke kamar dan membanting diri ke kasur. Dengan cepat, gadis itu menyeleksi foto mana yang bagus untuk ia posting ke sosial media di hari yang spesial bagi kakaknya ini.

“Sepertinya ini bagus!”

Caption-nya apa ya?” Hana kebingungan sendiri.

Akhirnya, caption ‘I miss him so much. C u, ma luf.’ lah yang dipilih Hana. Ya, meski ia sendiri sadar kalau caption yang ia tulis itu sedikit lebay. Tapi, setidaknya perasaannya  selama ini sudah terwakili dan tersampaikan oleh caption lebay itu.

14705205_971432113000813_1127547847139393536_n

“Hei, Xi Luhan bodoh!” mata Hana mulai berkaca-kaca saat memandangi foto-foto Luhan di ponselnya. “Aku sangat merindukanmu tahu!”

Hana melirik rak sepatunya yang sudah dipenuhi oleh sepatu pembelian Luhan 6 tahun lalu. Ia lalu menghapus sendiri airmatanya dan bersumpah akan memukuli Luhan untuk melampiaskan rasa kesalnya jika ia bertemu lagi dengan Luhan di surga nanti.

“Sampai bertemu lagi, bodoh! Awas saja! nanti, kau tidak akan bisa kabur dariku apalagi meninggalkanku lagi!”

luhanpark5eul-in5tagram

.

.

.

“Aku akan mengambil kartu terakhir. Tapi, bisakah kau menjamin hidup adikku setelah ini? aku tidak ingin meninggalkannya dengan penuh kekurangan. Setidaknya, selama 6 tahun terakhir hidupnya, ia bisa kembali merasakan kebahagiaan.”

Malaikat maut itu tersenyum, “Adikmu akan bahagia di sisa hidupnya. Adikmu akan selalu mengingat-ingat kebahagiaannya saat bersamamu dan bersama orang tua kalian. Xi Hana akan hidup seperti Adelle yang ceria dan menikmati hidupnya. Karena sebenarnya, kartu Adelle ini memang memilih adikmu sejak awal meski awalnya adikmu lah yang seharusnya lebih dulu mati. Adikmu itu, satu dari seribu orang teristimewa.”

Mendengar itu, Luhan bisa bernafas lega pada akhirnya. Meninggalkan sang adik tercinta tentu tidaklah mudah, tapi apapun, demi kebahagiaan sang adik, Luhan akan melakukannya.

“Terimakasih banyak, Tuan Malaikat.”

 

Adelle ―end.

Iklan

2 pemikiran pada “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] ADELLE -by AYUSHAFIRAA

  1. Salfok ke bagian foto, apalagi foto yg terakhir. 😂😂
    Akun Hana yg satu lagi akun exoffi ya mak? Apalagi yg like ada Elsa sama kak nid. 😂😂
    Hoho lu tercengang, jjang! 😍
    Habede luhan, Hana menunggumu, wkwk. 😆🎉

    • Njrit wkwk iya waktu itu soalnya lagi pake akun exoffi pas mau ngedit fotonya hihi maaf lawak 😂 masalah like itu soalnya mereka ngelike foto di akun luhan jadinya weh tercapture wkwk 😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s