[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) Chapter 11

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 11

Author                      : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast               :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                       : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Hyojin POV*

 

Aku mengepalkan tanganku kuat. Memang tidak se-terkejut kemarin, tapi tetap saja, heran. Apa Park Chanyeol punya semacam rutinitas untuk mengerjai kekasihnya? -eh, maksudku gadis yang menjadi kekasihnya?!.

 

Oke, oke, memang benar kalau aku adalah pacar Park Chanyeol, si pria tinggi bertelinga lebar yang baru kembali dari Thailand beberapa waktu ini. Tapi, kan, yah… aku mengencaninya bukan untuk kesenangan semata atau memuaskan perasaan diri sendiri yang menyukainya. Kami menjadi sepasang kekasih agar aku lebih mudah mengamankannya dari Lee Dae Ryeong, setidaknya itu tujuanku.

 

Jadi kenapa aku harus mengikuti kemauannya untuk menjadi sukarelawan lagi?!.

 

“Yak! Park Chanyeol!, kau benar-benar ingin menguji kesabaranku huh?”

 

“Hyojin-ah! Berhentilah mengeluh terus, oke?” jawabnya dengan tersenyum lebar. Sekarang aku tahu kalau dia adalah pria yang tidak bisa mengerti perasaan kekasihnya.

 

Heh! Memangnya dia pernah menganggapku sebagai kekasih betulan?. Entah sadar atau tidak, selama ini kami seperti cuma bermain ‘rumah-rumahan’dengan akting yang payah!.

 

“Aku tidak punya waktu untuk melakukan ini.” Tegasku seraya berbalik. Seharusnya aku kabur dari pria konyol ini dari tadi, lalu mencari pekerjaan untuk menambah tabungan uang kuliah yang raib begitu saja. Bukannya melakukan ‘kencan’ di panti jompo!.

 

Bukannya aku ini gadis penggila uang yang tidak cinta pada sesama, wanita yang mencintai pria kaya yang menyedot harta mereka, maupun seorang pemilih dan ‘anti-miskin’ dan semacamnya. Hanya saja, jika aku terlahir dari keluarga berada maka aku tak akan sibuk kesana-kemari mencari pekerjaan paruh waktu. Dan daripada itu aku pasti mengungkapkan perasaanku pada Chanyeol dengan setulus hati, berkencan karena alasan suka. Tak akan mengeluh pada pilihannya untuk mengajakku ke panti jompo atau panti apapun itu.

 

Bukannya aku tak bersyukur dengan keadaan ekonomi keluargaku sih, bagaimana pun juga aku sangat berterima kasih pada Tuhan sebab bisa kembali bersama mereka setelah aku hampir menyerahkan harga diriku pada Lee Dae Ryeong untuk dijadikan alat bisnisnya. Oke, aku pernah menjadi cucu pemilik perusahaan Jaeguk yang terkenal itu. Tapi, yah, hubunganku dengan presdirnya sangat buruk.

 

“Hyojin-ah!”

 

Chanyeol mengehentikanku, menahan lenganku agar aku mau berhenti sejenak dan mendengarkan penjelasannya yang membosankan. Meskipun aku sedikit tergerak akan skinship darinya, tapi tetap saja, aku selalu merasa aneh jika hanya berduaan dengan Chanyeol sejak dia pulang dari Thailand. Apa aku yang terlalu paranoid?.

 

“Dengar, setelah ini aku yakin kau pasti akan menyukainya. Tidak seburuk di tempat penampungan hewan atau panti asuhan kok!” ujarnya berusaha meyakinkanku.

 

“Yak, aku bahkan tak masalah kalau kau tak pernah mengajakku kencan sekalipun. Kenapa kau terus membawaku ke tempat yang aku benci?”

 

Pria itu berdecak sebelum menjawab, “Mana boleh seperti itu?. Kita kan sudah resmi sekarang jadi apa yang kita lakukan haruslah berkesan bukan?. Dan hei!, kenapa kau membenci tempat yang penuh kasih ini?”

 

Aku melepaskan tangannya dari lenganku. Sudah cukup main-mainnya, aku perlu mengumpulkan uang. Bukannya bekerja sukarela, menguras segala tenagaku tanpa dibayar sepeserpun!.

 

“Kau saja yang menjadi manusia baik. Aku tak se-religius dirimu, puas?!”

 

“Hyojin-ah~”

 

Aegyeo huh?. Tak mempan!.

 

“Chanyeol oppa!”

 

“Woori-ya!”

 

Ah, sial!.

 

***

 

“Wuaah! pacarnya ya?”

 

“He he he… kau tidak lihat? Chanyeol nampak lebih cantik daripada gadis itu he he he…”

 

“Kau sangat beruntung karena mendapatkan pria tampan dan baik seperti Chanyeol, nak!”

 

Pujian, pujian, dan pujian teruntuk Park Chanyeol, para manula ini sepertinya begitu mengagumi Chanyeol. Haruskah aku bertepuk tangan heboh?. Dan coba lihat!, harus ya dia tersenyum bangga sambil menyenggolku hanya karena pujian seperti itu?.

 

“Wah! K-kau Park Chanyeol kan?” seorang nenek menghampiri Chanyeol, berteriak histeris seperti baru saja melihat seorang Lee Jong Suk berada di hadapannya.

 

Nenek itu memeluk Chanyeol, lalu Chanyeol balas memeluknya, dengan hangat. Seolah-olah wanita yang tak punya hubungan darah dengannya itu adalah anggota keluarganya sendiri, bertanya tentang kabar, bagaimana nenek itu menjalani hidup selama dia berada di Thailand, bahkan mengetahui fakta tentang cucu nenek tersebut yang baru lahir. Wow, sebaik itukah sikap Park Chanyeol yang kukenal selama ini?. Benarkah dia Chanyeol yang aku kenal itu?.

 

“Huhuhu… senang sekali bisa melihatmu lagi secara langsung.” Kata nenek berambut keriting itu sambil menghapus air mata yang sebenarnya tidak ada, “Belakangan di tempat ini tidak ada sinyal, aku jadi sulit menghubungimu lewat video call.”

 

Aku hampir tersedak ludahku sendiri. Hebat!, selama kurang lebih empat tahun Chanyeol berada di Thailand, tak sekalipun dia menghubungiku bahkan mengirim pesan! Tapi nenek ini bahkan melakukan video call dengannya?!.

 

“Seharusnya kau berkencan dengan nenek itu daripada aku.” Gumamku kesal tanpa alasan. Ukh, aku ingin cepat-cepat pulang. Benar-benar tak nyaman berada di lingkungan yang akrab dengan Chanyeol tapi asing bagiku.

 

“Eoh! Kau datang bersama Woori rupanya!” seru nenek itu seraya melirik gadis kecil disebelahku, yang sejak tadi memeberiku tatapan sinis kepadaku.

 

“Iya nenek Yoona! Aku kan kekasih Chanyeol oppa! Jadi harus selalu bersamanya dan membantunya kapan pun juga!”

 

Bicara apa anak kecil ini?. Pendidikan anak-anak belakangan ini sepertinya kurang tegas ya?.

 

“Bukannya mengeluh dan memasang wajah masam apalagi mengaku-ngaku sebagai belahan jiwanya. Iya kan oppa?”

 

Ah sial! Rupanya dia masih mengungkit soal itu!.

 

“Mengaku apa? Siapa belahan jiwa siapa?… siapa gadis itu?”

 

Ada berapa kata siapa yang diucapkan nenek ini?. Aku berdiri secepat kilat, membungkuk dengan canggung pada nenek… Yoona?. Haha, yang benar saja, semoga itu cuma panggilan.

 

“Ehem! Se-sebaiknya saya membantu pekerjaan di dapur, hehe, permisi.”

 

Ugh! Dasar don’t WOORI be happy menyebalkan!.

 

*Author POV*

 

“Jadi, kalian saling mengenal?” tanya Kimberly, sebagai basa-basi sekaligus mengawali obrolan setelah diam selama lima menit, menunggu Yongguk dan Mira selesai saling menatap sambil melempar seringai kejam.

 

“Tentu saj-”

 

“Seharusnya begitu kan?. Mira-ssi! Bukannya kau bertemu kami beberapa hari yang lalu? Bagaimana bisa kau bersikap seolah ini adalah pertemuan kita yang pertama?” potong Jun Hong sebelum Mira dan Yongguk menyelesaikan jawaban mereka untuk pertanyaan Kimberly.

 

Yongguk terkekeh, membuat Lee Young sempat terkejut dan merinding karenanya. “Gadis ini kan bodoh, tolol, idiot, juga bebal. Sudah lama aku dengar berita tentang Jang Mira yang menjual otaknya di toko kelontong.”

 

Mira menyeruput kopinya, terdiam sejenak sambil melihat ponselnya, kemudian membalas, “Tepatnya di toko barang antik. Dengar, aku punya banyak uang dari keluargaku yang kaya raya, untuk apa aku harus menjual otak yang tidak pernah kau miliki sebelumnya?” sambil tersenyum puas.

 

“Untuk membayar hutang keluargamu yang sebelumnya, mungkin?. Kau punya dua keluarga kan?” lagi-lagi sarkasme dari mulut Yongguk.

 

Lee Young dan Kimberly yang baru pertama kali bertemu yongguk saja sudah gugup tak karuan, apalagi Mira yang harus menghadapinya?. Disaat kawan-kawannya khawatir, Mira justru santai memainkan ponselnya.

 

“Kenapa leader bisa begitu tenang?” bisik Kimberly pada Lee Young.

 

Gadis berwajah bulat yang selalu terlihat marah itu mengendikan bahu, “Yang lebih aneh, darimana dia begitu baik dalam mangumpat?. Apa dia mencarinya di situs pencarian online?” ia malah balik bertanya.

 

“Yah, itulah kenapa aku berteman dengan pria yang punya dua ibu sepertimu. Kan?”

 

Jun Hong dan Himchan saling lirik penuh kewaspadaan, takutnya Yongguk tak bisa meredam emosinya dan malah menghajar Mira habis-habisan karena sudah membahas tentang ibunya. Yah, walau sebenarnya agak mustahil mengingat Yongguk tak mau punya masalah dengan wanita.

 

“Bu-bukankah lebih baik kalian menjawab pertanyaanku?” Jun Hong mencairkan suasana, “Benar! Dan… Kimberly-ssi, apa kau berasal dari bintang? Kenapa kau bisa secantik ini?” timpal Himchan, membuat yang lain memandangnya tak percaya.

 

“Dasar playboy brengsek.” Ujar Lee Young Tanpa menyadari situasi kalau orang yang dimaksud bisa mendengarnya dengan jelas.

 

“Aku tidak menyadarinya waktu itu.” Mira menjawab pertanyaan Jun Hong. Tentu saja dia tak menyadari keberadaan Yongguk, yang dia lihat hanyalah Hyojin, Sehun, Jong In, serta minuman milik mereka yang membuat Mira haus kala itu karena sibuk mencari keberadaan Sehun. Dan Yongguk?, pastilah dia tak sadar keberadaan Mira yang dia kenali karena fokus pada permainannya, mengaku kepada Hyojin.

 

“Jadi, kau sudah dua kali berada di kampus ini?. Apa kau mencari pria lain untuk dijadikan kekasih? -ops maaf! Maksudku tambang uang dan kesenangan, ya, kan?”

 

Rupanya Yongguk masih belum puas menghina Mira, dan gadis yang nampak kesal itu pun menghela nafas lelah. Ia kembali mengetik sesuatu pada ponselnya, membuat teman-temannya pensaran. Hampir saja Lee Young dapat merebut ponselnya dan mengetahui apa yang sebenarnya dia lakukan sehingga bisa membalas umpatan Yongguk.

 

“Eoh? Bukankah itu Oh Sehun?” tanya Himchan, entah ditujukan kepada siapa. Yang jelas, siapapun yang berada di dekat pria itu pasti dapat mendengarnya.

 

Termasuk Lee Young yang langsung berdiri dan pamit ke kamar mandi dengan wajah gugup.

 

“Sendirian?” tanya Kimberly dan mendapat anggukan kepala sebagai jawabannya.

 

“Kenapa dia? sembelit?” Himchan penasaran, siapa tahu dia punya jurus jitu untuk membalas ledekan gadis itu tadi. Kimberly hanya mengendikan bahu dan tak membahas lebih lanjut. Pria itu ikut mengendikan bahu sembari melambai pada Sehun dan Jong In yang baru datang ke kantin untuk makan siang.

 

*Hyojin POV*

 

Pesan lagi. Ada apa sih dengan Jang Mira?!. Dengan siapa dia berdebat sampai setiap detik harus mengirimiku pesan untuk memberitahunya balasan yang tepat?!. Memangnya dia pikir aku tidak sibuk?!. Lain kali akan kubuat aplikasi atau situs keren yang bisa membuat setiap orang bisa menang dalam berdebat dan menjadi hebat soal umpatan. Menjadi pandai sendirian itu tak menyenangkan, jadi tak ada salahnya berbagi ilmu pada orang lain kan?. He he he.

 

“Wah… jadi kau kekasih Chanyeol ya?”

 

Aku hampir melempar ponselku atau parahnya mengalami serangan jantung kalau aku punya riwayat penyakit jantung. Untung tidak ada, jadi aku masih bisa melanjutkan kehidupan sebagai gadis keren Lee Hyojin hehey.

 

“Ditanya malah melamun huh!”

 

“Ma-maaf, nek. Saya sedikit kerepotan mengepel lantai. Euh… iya, saya ke…kas-ih Chanyeol. He he.”

 

‘He he’ kepalamu pecah?!. Ahk, memalukan sekali mengakui diri sendiri sebagai kekasih bocah tinggi itu. Tidak aneh kan?. Meskipun aku menyukainya, bahkan yang mengaku duluan padanya -ukh mari lupakan itu- tetap saja aku masih belum terbiasa, toh ini pertama kalinya aku berpacaran.

 

“Heee… kenapa mengepel disini sendirian?, kan bisa memanggil sukarelawan lain yang bertugas?” saran nenek yang belum aku ketahui namanya ini dengan ramah. “Oh iya!, berapa lama kalian pacaran?”

 

“Ba-baru…” ya ampun!, aku lupa berapa hari setelah permintaanku untuk menjadikan Chanyeol kekasih. Kira-kira, sudah seminggu belum ya?.

 

“Baru?”

 

Jawab seadanya saja lah.

 

“Baru-baru ini kok, nek. Sekitar… seminggu lah.”

 

Nenek ini mengerutkan alis, yang mana membuat keriputnya semakin terlihat. Entah kenapa terlihat lucu, mengingatkanku pada mendiang nenekku. Meski ingatan tentang beliau tak begitu banyak.

 

“Loh, kenapa kesannya ragu begitu?. Kau… tak begitu mencintainya ya?”

 

Wajah nenek ini tampak kecewa, seperti ekspresi seorang ibu yang tahu kalau calon istri anaknya cuma kasihan terhadap putranya.

 

Hah?! Aku bilang apa tadi?!.

 

“Bu-bukan begitu… aku hanya tidak ingin membebani Chanyeol untuk merayakan tiap hari peringatan kami.” Tipuan yang bagus, wahai ahli tipu!.

 

Seketika ekspresi nenek berubah menjadi haru. Matanya berkaca-kaca dan ia mulai mengusap punggungku lembut. “Kau anak yang baik rupanya, pilihan yang tepat untukmu Chanyeol, ya kan?”

 

Senyumanku luntur ketika nenek bicara begitu, apalagi arah pandangannya bukan padaku melainkan seseorang dibelakangku, Park Chanyeol. Aku menegak ludah susah payah begitu melihat raut muka Chanyeol yang berubah muram, menatapku dengan pandangan kesal namun berubah ramah terhadap nenek.

 

Wah, pertanda mau perang ya?.

 

“Kalian tampak serasi sekali loh!”

 

Dan… blush!. Mukaku terasa panas seketika. Tutupi Hyojin… jangan sampai ada yang menyadarinya termasuk Chanyeol!.

 

“Yah, meskipun yang perempuan jauh lebih pendek.”

 

“-Pfftttt! Hahahaha!”

 

Puas tertawanya, huh?!. Terima kasih loh nenek sudah mengatakan yang sejujurnya! Terima kasih sekali! Hmp!.

 

“Bukan cuma pendek, Hyojin ini juga pemarah sekali loh, nek!” ujar Chanyeol pada nenek, kemudian menjulurkan lidahnya, meledekku. Ahahaha, dia pikir aku tak bisa membuatnya terlihat jelek didepan nenek yang masih belum kuketahui namanya ini huh?!.

 

“Dan Chanyeol itu suka menjahili orang lain!, nenek harus hati-hati!” aku balas meledeknya.

 

“Siapa yang menjahili siapa? Kau itu yang pemarah makanya aku tidak tahan untuk mengganggumu!”

 

“Wah, bicara apa orang ini!. Memangnya kapan aku marah kepadamu?”

 

“Lihat! Lihat! Lihat!, sekarang ini kau sedang marah sambil memelototkan matamu itu!, ah menyebalkan!”

 

“Siapa yang kau sebut menyebalkan itu hah?, super menyebalkan!”

 

Ugh, rasanya tiap bersama Chanyeol kami selalu saja berdebat. Heran, kenapa pria ini senang sekali memancing emosiku sih?. Dulu bersikap sok tampan, lalu bersikap sok tahu pada kehidupan seseorang dan sok ikut campur, sekarang sok benar!.

 

“Sudah, sudah, kalian pasangan kekasih kok malah bertengkar sih.”

 

Aku menatap Chanyeol tajam, begitupun sebaliknya. kalau tidak ingat sedang ada nenek, atau aku mengabaikan tempat kami berada yang banyak dilihat orang, sudah kupukul dia sejak tadi. Bahkan sebelum kami memasuki panti jompo ini!.

 

“Jadi, kapan kalian akan menikah?”

 

Hah?!.

 

Entah perasaanku saja atau pipi Chanyeol memerah?. Dia segera mendorong punggung nenek dengan pelan, memintanya untuk tidak bicara yang aneh-aneh dan segera beristirahat di kamarnya.

 

“Kalian kan sudah berada diusia matang untuk berumah tangga?” nenek masih bersikeras.

 

“Nenek bicara apa sih?, kami kan masih muda… pacaran juga baru sebentar. Mana mungkin langsung menikah?” kata Chanyeol dengan senyuman canggungnya.

 

“Heee… dulu, pasangan seusia kalian sudah punya tiga anak loh!”

 

Chanyeol makin salah tingkah, nenek tidak bisa dicegah, dan kenapa aku cuma diam saja dan memperhatikan segalanya?!.

 

“I-i-itukan dulu nek. Se-sekarang kan beda, menikah muda itu selain karena organ -yah, nenek tahu lah organ apa yang aku maksud- belum matang, mentalnya juga belum siap untuk membangun rumah tangga. Be-begini-begini aku calon psikolog, nek!”

 

Meskipun terdengar vulgar, tapi ini penjelasan yang bagus kan supaya nenek berhenti membicarakan soal pernikahan?. Karena rasanya jadi makin canggung kalau terus-terusan dibahas.

 

“Bicara apa sih?, jadi, kapan kalian menikah?”

 

Nenek, kumohon, pengertianlah pada kami…

 

*Author POV*

 

“Ini.”

 

Myungsoo meletakkan sebuah flashdisk diatas meja Jiyeon. Gadis cantik berambut panjang yang sedang belajar sambil mendengarkan musik itu melepas salah satu earphone-nya, menatap heran pada benda kecil penyimpan data tersebut.

 

“Apa maksudnya?” tanya Jiyeon, mengambil flashdisk pemberian Myungsoo, mengamatinya sekaligus heran, kenapa pria yang baru kembali kuliah beberapa waktu ini tiba-tiba datang padanya untuk memberikan benda itu.

 

“Aku tak sengaja mendapatkannya, kukira isinya akan berguna untuk membuatmu kembali waspada.” Jawab Myungsoo, mengelilingi rak besar berisi segala macam buku bacaan milik Jiyeon yang tersusun rapi berdasarkan huruf awal pada judulnya. “Gila, kau punya waktu untuk mengatur semua ini?”

 

“Memang apa isinya?” Jiyeon mengacuhkan sarkasme dari Myungsoo barusan, lebih memilih bertanya pada si pemilik flashdisk daripada membukanya sendiri menggunakan laptop pribadinya.

 

“Percakapan orang-orang mengenai kasus lama… yang melibatkan dirimu.”

 

Jiyeon menghela nafas panjang, memijit kepalanya yang kembali terasa sakit. Ia meraih botol obat yang tutupnya sudah terbuka diatas meja, mengeluarkan beberapa pil lantas menelannya tanpa pikir panjang. Myungsoo memperhatikannya sambil tersenyum, ia hampir tertawa puas begitu melihat Jiyeon menggeram kesal setelah menonton video darinya.

 

“Orang-orang brengsek ini…” gumam Jiyeon, menarik rambutnya kuat-kuat, symbol kemarahan.

 

Myungsoo menutup buku yang sempat ia ambil dari rak buku, tanpa mengembalikan ke tempat asalnya, ia meraih buku lain yang membahas tentang gangguan kecemasan.

 

“Sehebat apapun pengaruh dari keluargamu, tetap saja kotoran yang kau simpan akan tercium juga baunya.”

 

Jiyeon melempari Myungsoo dengan benda apapun yang ada dihadapannya, termasuk flshdisk atau pun botol beserta obat yang baru dikonsumsinya, membuat kamarnya berantakan.

 

“Berhenti bicara sesuatu yang menjijikan. Jangan bersikap seolah kau itu suci!” pekik Jiyeon penuh amarah.

 

“Hahaha… oke, oke.” Pria itu terkekeh puas, “Hanya saja, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

 

“Apa?”

 

“Untuk apa kau mengincar Lee Hyojin?. Sebelum Park Chanyeol menceritakan skandal yang terjadi bertahun-tahun yang lalu itu padanya, Hyojin tak tahu menahu tentang kebiasaan lamamu kan?. Apa motivasimu hingga membuatnya dituduh mencuri kalung imitasi itu?”

 

Jiyeon berbalik, mengatur nafasnya yang tak teratur gara-gara berteriak emosi kepada Myungsoo. Ia tangkupkan kedua tangannya, menutupi sebagian wajah yang kini memasang ekspresi sinis.

 

“Dia tahu… dia mengetahui penyakitku. Tapi diam saja dan pura-pura dungu, padahal aku yakin, dia pasti merencanakan sesuatu untuk mengancamku.” Ujar Jiyeon dengan dinginnya.

 

“Jika tidak?”

 

Jiyeon menggeleng, menyanggah pendapat Myungsoo tentang apa yang dia pikirkan mengenai Hyojin. “Tidak mungkin, semua orang begitu kan?. Setelah mereka mengetahui kelemahanku, mereka akan memanfaatkannya, kalau tidak begitu… mereka akan mengasihani diriku, lantas menyebarkannya.”

 

Myungsoo cuma bisa menghela nafas sambil mengalihkan pandangannya, prihatin pada Jiyeon yang masih belum berubah sejak mereka pertama bertemu. Pria itu turut berempati pada Hyojin yang sepertinya akan mengalami masa sulit di kampus, dimana penyebabnya sedang berada di ruangan yang sama dengan Myungsoo saat ini.

 

“Karena itu, sebelum dia mengacau, aku yang akan bertindak duluan.”

 

***

 

Sehun menggosok tengkuknya, merasa tak nyaman, lantas menoleh dengan cepat, memperhatikan sekeliling namun tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Teman-temannya menjadi penasaran akan hal apa yang membuat Sehun gelisah.

 

“Kenapa denganmu?” Himchan merasa risih pada sikap waspada Sehun.

 

“Entahlah, seperti ada seseorang yang sedang memperhatikanku.”

 

“Stalker?” tanya Kimberly dengan pengucapannya yang bagus, membuat para pria yang duduk satu meja dengannya berdecak kagum, bahkan Bang Yongguk sekalipun.

 

“Tak usah kaget, dia memang bule kok!” jelas Mira dengan mulut penuh sosis. Jong In memukul kepalanya sampai beberapa sosis keluar begitu saja dari mulutnya. Jun Hong yang duduk di depan Mira sampai terkejut sebab ludah gadis itu mengotori pakaiannya.

 

“Ah sial!” keluhnya sambil berdiri, membersihkan jaket denim-nya dengan tisu yang disodorkan oleh Himchan.

 

Mira meminta maaf, sekaligus menatap Jong In tajam, pelaku yang membuat image-nya rusak padahal ia tak merasa punya salah pada pria berkulit lebih gelap darinya itu.

 

“Oh, sorry, kebiasaan.” Ucap Jong In enteng, menggunakan logat yang lucu hingga membuat Kimberly tertawa. “Aku teringat pada Hyojin jadi tanpa sengaja… ya begitulah.”

 

“Lebih baik kau bersihkan di toilet, liur gadis bermarga dua ini bisa menyebarkan virus rabies.” Saran Yongguk, membuat Mira semakin sebal.

 

Jun Hong pun pergi tanpa mengatakan apapun selain gerutuan. Dan ketika pria itu sudah tak berada di kursinya, Mira teringat sesuatu mengenai temannya yang satu lagi, yang pergi sejak sepuluh menit yang lalu ketika Sehun dan Jong In datang.

 

“Kenapa Lee Young belum kembali juga?” tanyanya pada Kimberly, membuat fokus Sehun dari makan siangnya sempat teralihkan sejenak.

 

“Eoh?, jadi anak itu juga ikut bersama kalian?”

 

“Ya. Tadi pamit ke toilet, sampai sekarang belum kembali. Apa dia tersesat ya?”

 

Sehun berkata tanpa menoleh, “Dia kan sudah dewasa, paling-paling sedang berkeliling kampus. Menikmati hal yang belum pernah dia rasakan setelah lulus sekolah tahun lalu.”

 

“Oh, benar juga.”

 

“Kau membawanya kan?”

 

Mira terdiam sejenak, lalu mengangguk setelah tahu apa yang Sehun maksudkan. Tak ada pertanyaan lagi, Sehun kembali sibuk dengan makanannya dan Mira lebih memilih mengobrol dengan Kimberly serta orang-orang baru yang mulai akrab dengannya. Tanpa mengetahui kalau gadis yang mereka bicarakan sedang mengintip dari balik pintu masuk sejak sepuluh menit yang lalu. Memperhatikan Sehun diam-diam sebagai seseorang yang mengaguminya.

 

“Sedang apa kau disini?”

 

Lee Young hampir memaki Jun Hong yang mengejutkannya jika saja tempat mereka berada sekarang tidak sedang ramai orang.

 

“Bukan urusanmu.”

 

Stalker-ing ya?”

 

Lee Young memberikan ekspresi datar, “Bukan urusanmu!” seraya kembali mengamati Sehun.

 

Jun Hong mengikuti arah padangan gadis itu, tersenyum jahil dan tiba-tiba berteriak keras, “OH SEHUN STALKERMU ADA -hmmppfft… hmppff!” Lee Young yang kelabakan langsung membekap mulut Jun Hong dan membawanya jauh dari jangkauan mata ‘penduduk’ kantin terutama Sehun. Sambil harap-harap cemas ia tak ingin pria itu mendengar teriakan konyol Jun Hong.

 

“Kau mendengar sesuatu?”

 

Jong In, Himchan, Mira, Kimberly dan Yongguk menggelengkan kepalanya bersamaan. Sehun bergidik, tiba-tiba merinding disiang hari yang terik ini. sementara itu Lee Young yang sudah menyeret Jun Hong menjauh, melepaskan tangannya yang sedikit basah oleh ludah pria itu, mengumpat pelan.

 

“Sialan!, menyebalkan sekali sih!”

 

“Seharusnya aku yang bilang begitu!” sentak Jun Hong kesal.

 

Lee Young segera meninggalkan Jun Hong tanpa berkomentar apapun, membiarkan pria itu emosi sendiri seperti orang gila.

 

***

 

“Iya, noona, iya, jangan khawatir… iya aku baik-baik saja kok…”

 

Hyojin hampir saja mengganggu percakapan antara Chanyeol dan kakaknya di telepon, gadis itu menunda niatnya memberikan minuman kepada Chanyeol yang sudah membantu tugasnya tadi, bergegas meninggalkan gudang tempat yang telah mereka bersihkan  sebelumnya sampai percakapan berikutnya membuat Hyojin tersentak.

 

“Hyojin?. Iya… kami sudah berkencan kok…”

 

Senyum gadis itu mengembang, yang awalnya mau pergi kini memutuskan untuk menguping sebentar. Toh tak ada pembicaraan rahasia antara kakak beradik itu kan, pikir Hyojin.

 

“Seperti mereka berencana balas dendam saja… hi hi hi.” Bisiknya pelan, bersembunyi, bersandar pada dinding samping pintu.

 

“Yah, kuakui prediksi noona terjadi, Hyojin masih menungguku, bahkan dia yang mengaku duluan. Hei… sejak awal kan dia begitu menyukaiku.”

 

Entah kenapa perasaan Hyojin jadi tak enak.

 

“Tentu saja!, mana mungkin aku lupa pada rencana kita!. Jadi kapan noona kembali? Ayah dan ibu masih butuh bantuan di Thailand kah?”

 

“Tak lama lagi, kok. Tunggu saja. Oh iya Chanyeol, aku mendapat kabar aneh dari rekan kerjaku di Korea, mereka bilang ada seseorang yang mencari informasi tentangku.”

 

“Hah? Siapa? Untuk apa?, jangan-jangan… Presdir Lee itu masih belum puas mengerjai kita?” nada bicara Chanyeol meninggi.

 

“Sepertinya bukan, pencari informasi itu hanya menyelidiki soal diriku, bukan keluarga kita termasuk bisnisnya. Karena itu aku menyelidiki lagi, meminta bantuan rekanku dan menemukan sebuah nama yang familiar ditelingaku, entah kau mengenalnya atau tidak, tapi orang ini menyuruh orang lain yang punya aliansi tinggi.”

 

Chanyeol menggigit bibir bawahnya khawatir, “Siapa? Siapa orang kurang kerjaan itu?”

 

“Oh Sehun. Putra dari pengacara sekaligus politisi ternama, Oh Byun Seo. Rival ayah ketika masih menjadi jaksa penuntut dulu.”

 

“A-apa? Oh Sehun?. Untuk apa dia mencari tahu tentangmu?” tanya Chanyeol, memastikan telinganya tidak salah mendengar.

 

“Kenapa? Kau mengenalnya?. Aku mencoba mencari tahu dan sekilas mengingat wajahnya, tapi aku lupa dimana kami pernah bertemu… Ah! Aku ingat sekarang!”

 

Seruan sang kakak mengejutkan Chanyeol, begitu pula sosok Hyojin yang muncul secara tiba-tiba, berjalan menjauh dari tempat Chanyeol berada, membuat pria itu curiga kalau Hyojin tak sengaja mendengar percakapan antara dirinya dan sang kakak, atau lebih parah… menguping.

 

 

~To Be Continue~

 

Maafkan atas update yang telah ya~ huhuhu~

Laptop author sempat eror beberapa hari yang lalu dan sekarang baru bisa dipakai lagi… maklum lah, sudah tiga tahun lamanya (aslinya sih author emang orangnya ceroboh T.T)

Nah, misteri demi misteri mulai bermunculan nih kekekeke~ tapi scene ChanJin udah lumayan kan ya? Kalau masih kurang romantis, mohon maafkeun aauthor yang kurang pengalaman dalam percintaan ini atuh kekekeke~ saya akan berusaha lebih keras buat percintaannya duo serigala -eh, duo insan per FF-an ini pokoknya… ahir kata~

 

RCL Juseyooooo~~~~

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) Chapter 11

  1. woahhh chanyeol misterius….
    apa sehun udah merasa ada yg aneh makanya dia minta mira buat nyelidikin…
    cepet ada kejelasan, kasihan hyojin terus”an jadi orang yg gk tau apa”…

  2. Wkwkek.. yoona ternyata udh jd nenek”ya…
    Butuh asupan momen chanjin kak
    Kurang banyak 🙂 hehe
    Banyakin dong momen chanjin’nya okee
    Ditunggu next chapnyaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s