[EXOFFI FREELANCE] The First Snow (Oneshot)

poster the first snow

 

The first snow

Author : Bacon14

Genre : Sad Romance, Songfic

Length : Oneshot

Disclaimer : FF ini aku share di fbku sendiri Ayu Meylianawati Santoso, pageku EXO Fanfic Indo,https://www.fanfiction.net/u/8926667/, wattpad @AyuMeyliana dan blog EXO Fanfiction. So kalo ada yang pernah baca ff ini selain link” diatas itu namanya plagiat.

Main Cast :

– Park Chanyeol

– Oh Nana

Happy Reading๐Ÿ˜

Chanyeol POV

Sore ini salju turun dengan lebat, aku hanya terdiam menatap salju dari balik jendela rumahku. Tanganku menggenggam erat secangkir coklat hangat. Aku merindukannya. Aku berharap dia ada di sampingku, menggenggam tanganku dengan erat dan tubuhnya memelukku dengan erat. Aku membayangkan dirinya bercerita banyak hal dan aku dengan senang hati mendengarkannya. Andai saja aku bisa meneleponnya saat ini dan mengatakan bahwa aku sangat merindukannya dan aku kesepian tanpa kehadirannya. Malaikatku yang menggemaskan. Akankah kau kembali lagi padaku?

( Flashback On)

1 tahun yang lalu

25 November 2016

“Yeollieeeee….. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Kau harusnya duduk disini bersamaku. Aku bosan.” Aku melirik Nana dengan mata lelah. Pekerjaanku sangat banyak dan melelahkan. Aku juga ingin bersamanya tapi pekerjaan ini juga tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Aku ingin memeluk tubuhnya dan menyesap wangi strawberry menyegarkan darinya. Aku ingin melakukan banyak hal dengannya. Sayangnya, aku harus berkutat dengan laptop dan dokumen yang tidak ada habisnya.

Nana berdiri dan menghampiriku. Ia menaruh secangkir coklat hangat di atas meja dan memeluk leherku. Kepalanya ditaruh di pundakku dan ia mengembungkan pipinya. Aku tahu ia sedang merajuk dan sedang bosan. 1, 5 jam lebih aku mengacuhkannya karena pekerjaanku. Aku tahu dia sangat bosan apalagi Nana adalah yeoja yang sangat hiperaktif. Setidaknya harus ada seseorang yang paling tidak mengajaknya berbicara kalau tidak dia akan mati kebosanan.

“Mian. Sebentar lagi aku selesai, ne?” Aku mengecup keningnya dan mengacak poninya. Sepertinya dia benar-benar marah karena dia mengacuhkanku. Dia melepas pelukannya dan duduk kembali di sofa. Tak lama kemudian dia berdiri dan berlari ke arah jendela. Karena penasaran, aku mengikutinya.

“Salju, Yeollie… Salju pertama!!” Nana berteriak kegirangan dan memelukku erat. Aku tahu dia sangat suka dengan salju pertama. Dia menarikku keluar apartemen dan bermain di bawah salju. Aku menyukai bagaimana dia tertawa dengan bebas. Aku menyukai caranya tersenyum saat salju-salju dingin itu menyentuh tangannya. Aku menyukai semuanya.

“Ayo.. Kesini, Yeollie! Kau harus bermain salju juga.” Nana menarik tubuhku ke tempatnya tadi. Salju-salju dingin itu menempel di kepalaku. Rasanya dingin, basah dan geli. Aku tidak tahu apa daya tariknya tapi aku tahu Nana sangat menyukainya. Apapun yang membuat Nana tersenyum adalah kebahagiaan untukku.

Aku mengangkat tubuh Nana dan menjatuhkannya di atas tumpukan salju. Aku menatap wajah cantiknya yang sedikit memerah karena kedinginan. Tangan dinginku menyapu pipinya yang menghangat. Matanya menatapku seperti terhipnotis. Aku menyukainya saat dia terpesona denganku. Sangat menggemaskan.

“Aku mencintaimu, Nana. Jadilah istriku.” Aku mengecup kening, mata, hidung dan terakhir bibirnya yang mungil. Rasa hangat menjalar di tubuhku. Memberikan sengatan-sengatan listrik yang menyenangkan. Membuat jantungku berdebar-debar. Aku menatap matanya yang teduh. Dia adalah rumahku, kebahagiaanku, dan cinta terakhirku.

“Aku mau menjadi istrimu.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku ingin sekali mendengar jawaban manisnya. Mungkin terdengar klise tapi aku benar-benar jatuh cinta berkali-kali dengannya. Apapun yang ia lakukan membuatku jatuh cinta berkali-kali. Aku tidak tahu pesonanya akan membuatku ‘buta’.

( Flashback Off)

Aku mengambil salah satu fotoku dengannya. Foto yang kuambil saat pre-wedding tanggal 20 desember. Nana tersenyum bahagia dalam gendonganku. Aku berencana menikahinya tanggal 25 desember. Dia yang merencanakan hal itu karena ia sangat menyukai suasana natal. Namun semua hanyalah kenangan. Andaikan aku memutar satu tahun lagi.. Akankah sekarang kita bersama? Mungkin ini hanyalah pemikiran bodoh tapi andaikan saja… Mungkin sekarang aku bahagia dengan dia yang ada di genggamanku dan pelukanku. Tersenyum hanya untukku. Tertawa hanya untukku.

Jika aku bertemu denganmu lagi, akankah air mata ini menetes? Aku menyesal meninggalkanmu saat itu. Harusnya aku memintamu untuk berhenti. Harusnya aku tidak terbawa emosi dan membiarkanmu pergi. Bodohnya aku tidak bisa berkata sepatah katapun. Ingin sekali aku mendengar kau mengucapkan ‘Hi!’ย  ‘merry christmas’ย  atau ‘bagaimana kabarmu’ untuk terakhir kali. Membiarkan aku mendengar suaramu untuk terakhir kali. Harusnya aku tidak melepaskanmu saat itu agar tidak ada kata perpisahan di antara kami? Apakah hati yang terluka ini bisa pulih kembali?

ย 

ย 

ย 

ย 

( Flashback on)

24 Desember 2016

Aku menelepon Nana berkali-kali tapi Nana tidak menjawabnya. Aku mengiriminya banyak pesan tapi tidak ada satupun yang dibalas. Kemana malaikatku? Aku hanya berpikir satu tempat. Apartemennya. Aku segera mengambil kunci mobil dan melajukan mobiku secepat mungkin ke apartemennya. Besok adalah pernikahan kami. Setidaknya aku ingin melihatnya sebagai seorang yeojachingu karena besok dia akan menjadi istri resmiku.

“Jonginnie.. Jangan pergi. Aku takut.” Aku terdiam dan berhenti di depan pintu. Siapa Jonginnie? Aku menempelkan telingaku dan berusaha mendengar lebih lanjut.

“Aku takut besok menikah. Aku sangat gugup. Hanya kau satu-satunya yang bisa kuandalkan. Hiks… Kenapa kau pergi saat aku akan menikah besok?”Malaikatku menangis. Aku ingin masuk tapi suara berat namja menginterupsi.

“Gwenchana.. Kau kan bisa menemuiku di Jepang. Aku hanya tidak bisa melihatmu menikah dengannya. Kau tahu kan? Aku sangat mencintaimu.. ” Aku membuka pintu kamar dan mendapati namja itu memeluk Nana. Tanganku terkepal erat. Mataku menggelap dan aku memukuli namja itu. Nana berusaha menghentikanku namun aku mendorongnya entah kemana.

“Dia milikku. Bagaimana bisa kau mencintainya? Aku tidak peduli siapa kau. Jauhi dia!!!!” Aku memukulnya lagi dan lagi hingga namja itu tidak bisa bangun lagi. Aku mendorongnya ke lantai dan aku lagi-lagi tidak percaya saat Nana mendekat ke arahnya lalu memeluk tubuhnya. Dia mengambil ponsel dan memanggil ambulans.

“CHANYEOL!!!ย  Harusnya kau tidak memukulinya seperti ini! Dia tidak bersalah… Hiks.. Jongin.. ” Aku tidak suka dia menangisi namja lain padahal calon suaminya ada di depannya. Aku benar-benar diliputi amarah. Aku menarik tubuh Nana menjauh dari namja itu.

“Tidak bersalah katamu? Dia memelukmu dan kau juga membiarkannya. Aku benci melihatnya memelukmu seperti itu. Dia juga mencintaimu. Kau tahu itu dan membiarkannya? Apa kau juga mencintainya?” Nana terdiam dan menangis. Aku mencengkram bahunya dan sebuah ringisan lolos dari bibir mungilnya.

“Apa kau mencintainya juga? Katakan padaku… Apa kau tidak mencintaiku lagi?” Aku lihat Nana diliputi emosi juga. Ia melepas cengkramanku dan menatap mataku tajam.

“Lalu… Kalau aku mencintainya bagaimana? Dia bahkan lebih baik dari kau. Dia lebih pengertian. Dia tidak tergila-gila dengan pekerjaannya. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia tidak pernah mengacuhkanku. Bagaimana dengan kau? Kau sangat tergila-gila dengan pekerjaanku dan sering kali kau melupakan janjimu. Kau berkata akan kencan denganku tapi kau melupakannya. Kau berkata ingin dinner denganku dan sampai restoran itu tutup kau tidak muncul juga. Apa itu yang kau sebut sayang?” Aku tertohok dengan semua ucapannya.

“Aku bisa jelaskan itu semua. Maafkan aku. Aku terlampau cemburu dengannya. Aku hanya tidak menyukai caranya memelukmu. Seakan-akan kau akan menjadi miliknya. Kau tahu aku hanya mencintaimu seorang.” Aku terlihat lemah di hadapannya.

“Aku lelah, Chanyeol. Aku tidak bisa menjadi yeojachingu yang perfect seperti yang kau harapkan. Aku yeoja yang rapuh. Aku juga membutuhkan kasih sayang bukan sekedar materi. Aku tidak bisa terus diabaikan seperti ini. Aku selalu bersabar dengan sikapmu karena aku yakin dengan hatiku yang masih sangat mencintaimu tapi batinku lelah. Kita akhiri saja, Yeol.” Rasanya aku seperti terjatuh dari ketinggian. Yeoja yang kucintai mengakhiri hubungan kita. Hubungan yang sudah kubina selama 5 tahun lebih dan besok kami akan menikah. Bagaimana bisa dia mengakhirinya begitu saja? Apa dia tidak memikirkan perasaanku juga?

“Kita akhiri? Apa maksudmu? Kau memutuskanku? Besok kita akan menikah..” Aku mencoba bersikap lembut di hadapan Nana tapi aku melihat matanya. Matanya yang sangat lelah. Lelah dengan segala kemauanku. Lelah dengan diriku yang tidak peduli dengannya.

“Setelah kau tenang, kita bisa membicarakannya kembali. Tapi aku tidak tahu apakah hubungan kita akan kembali seperti dahulu… ” Setelah berkata seperti itu, Nana pergi dengan beberapa petugas ambulans yang membawa Jongin.

25 Desember 2016

Aku menemuinya di sebuah kafe kesukaannya. Matanya terlihat gugup menatapku. Aku berharap ada sebuah keajaiban yang akan mengembalikan hubunganku kembali dengannya. Aku tidak mau kehilangannya. Dia adalah yeoja yang selama ini kucintai.. Bagaimana mungkin aku melepasnya begitu saja?

“Mian… ” Aku tidak biasanya memulai percakapan dengannya. Biasanya dia yang selalu memulai percakapan dengan nada riang dan senyumnya yang manis.

“Aku juga minta maaf. Kemarin aku terbawa emosi juga. Tapi.. Kalau ini masalah hubungan kita.. Mian, Chanyeol. Kita batalkan saja pernikahan kita. Mianhae.. ” Aku menggenggam erat tangannya dan menatapnya lekat. Nana menundukkan kepalanya dan berusaha melepas tangannya. Sayangnya tanganku terlalu erat menggenggamnya. Aku tidak ingin melepas tangannya lagi.

“Aku lelah, Chanyeol. Kau juga tahu itu. Mungkin aku bukan yeoja yang tepat untukmu. Sesuai janjiku, aku akan menjelaskannya semuanya tentang Kai. Kai adalah sahabatku sejak SMP. Jauh sebelum aku bertemu denganmu, aku telah mengenalnya. Saat kita SMA, dia pindah ke China dan setelah itu aku berpacaran denganmu. Aku hilang kabar dengannya. Dia hanya meninggalkan surat berisikan perasaannya padaku. Aku tidak tahu ingin membalas apa karena saat itu aku telah memilikimu. Saat kita kuliah, dia kembali. Mungkin kau lupa, aku pernah mengenalkannya padamu tapi kau hanya membalasnya dengan dingin. Aku tidak tahu perasaannya masih sama. Aku menyakitinya tanpa sengaja. Aku selalu menceritakan apa saja dengannya termasuk tentang hubungan kita. Aku tidak tahu dia mencintaiku saat itu. Aku tidak tahu perasaannya masih sama. Aku kira perasaannya sudah hilang tapi tidak begitu. Kemarin malam, ia mengungkapkannya kepadaku. Aku menolaknya hanya untukmu. Dia akan ke Jepang dan tidak akan pernah kembali ke Korea. Salahkah dia memelukku? Aku hanya menganggapnya sahabatku. Tidak lebih. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi melihat sikapmu dan kau juga meragukan perasaanku. Aku ragu.. Kita bisa bersama, Chan.” Aku terkejut dan tidak bisa berkata apapun lagi. Jadi kemarin malam itu hanya kecemburuanku semata? Karena sikap kekanak-kanakanku, aku kehilangannya.

“Tidak bisakah kita kembali seperti hubungan kita dulu? Kita akan memulainya dari awal lagi. Kita akan membuka lembaran baru bersama.” Perlahan Nana melepas tanganku dan menggelengkan kepalanya. Bulir-bulir air mata jatuh di kedua pipinya. Aku ingin menghapusnya tapi rasanya sangat berat. Aku seperti namja pecundang yang membiarkan seorang yeoja menangis di hadapanku tanpa melakukan apapun termasuk menghiburnya.

“Mianhae, Chanyeol. Kita akhiri saja. Berbahagialah dengan yeoja yang lebih baik dariku. Aku yakin kau akan menemukannya. Hari ini aku akan pergi ke New York dan aku tidak akan kembali ke Korea. Maafkan aku telah menyakitimu. Aku mencintaimu.” Nana mendekatkan kursinya dan mencium bibirku. Dia menangis saat menciumku. Aku tahu itu. Ciuman perpisahan yang sangat menyakitkan.

“Aku mencintaimu, Chan. Annyeong.” Nana mengulas senyum manis sambil menghapus air matanya. Ia mengambil tas dan keluar dari cafe. Bahkan tubuhku tidak bisa bergerak sejengkalpun. Aku terpaku dan aku sangat menyesal. Kenapa aku tidak mencegahnya pergi? Kenapa aku hanya diam dan membiarkannya pergi? Kenapa aku tidak mengejarnya dan hanya duduk seperti orang bodoh?

“Aku juga mencintaimu, Nana.” gumamku.

( Flashback Off)

Hubungan kami telah berakhir dan aku tidak bisa memperbaikinya. Aku meneleponnya dan pergi ke New York berkali-kali untuk menemuinya tapi dia seperti menghilang ditelan bumi. Mungkin dia sengaja menghindar dariku. Aku menyesal kenapa saat itu aku tidak mengejarnya dan meneguhkan hatinya agar tetap bersamaku?

Hati yang terluka tidak akan mudah untuk kembali. Sama seperti Nana yang tidak akan pernah kembali lagi padaku. Malaikatku yang biasanya menyinariku telah menghilang dan tinggallah aku dalam kegelapan diantara semua orang yang tengah berbahagia. Aku sangat menyesal telah melepaskannya pergi dan membiarkannya bahagia bersama namja lain. Aku menyesal membiarkan emosi menguasai diriku hingga aku melepaskan malaikatku pergi. Maafkan aku baru menyadari fakta bahwa kau adalah hidupku satu-satunya.

Natal tahun ini, aku lalui dengan kesendirian. Tanpa suara ceria darimu yang biasanya mengisi hariku. Apartemen kosong membuatku tertekan dengan kesendirianku. Lagi-lagi bayanganmu berdiri di hadapanku. Tersenyum manis dan menatapku dengan gemas. Tanganku meraih wajahmu namun hanya udara dingin yang kusentuh.

“Aku merindukanmu, Nana.” Aku menatap salju dari balik jendela. Bayangan saat kau bermain salju muncul lagi di pikiranku. Tawamu yang lepas saat melempar bola salju ke arahku. Aku sangat merindukan setiap inchi dari dirimu.

Akankah kau akan kembali seperti dahulu?

Apa kau bisa mencintaiku lagi seperti aku yang masih mencintaimu?

Akankah kau merindukanku seperti aku yang sangat merindukanmu?

Chanyeol POV end

Penggalan lagu The First Snow

(์‹œ๊ณ„๋ฅผ ๋˜๋Œ๋ ค)1๋…„ ์ „์œผ๋กœ ๊ฐˆ ์ˆ˜ ์žˆ๋‹ค๋ฉด

(๋งˆ์Œ์„ ๋˜๋Œ๋ ค) ์ง€๊ธˆ ์šฐ๋ฆฐ ๋‹ฌ๋ผ์กŒ์„๊นŒ

yeah ๋ฐ”๋ณด ๊ฐ™์€ ์†Œ๋ฆฌ์ง€,

๊ทธ๋ž˜๋„ ๋งŒ์•ฝ

๋„ˆ๋ฅผ ๋งŒ๋‚˜๋ฉด ๋ˆˆ๋ฌผ ์ฐจ ์˜ฌ๋ผ

๋ฐ”๋ณด ๊ฐ™์€ ๋‚œ ์•„๋ฌด ๋ง ๋ชปํ•ด

๋งํ•ด์ค˜ ๋ฉ”๋ฆฌ ๋ฉ”๋ฆฌ ํฌ๋ฆฌ์Šค๋งˆ์Šค,

์•ˆ๋…• ์ž˜ ์ง€๋‚ด๋Š”๊ฑฐ์ง€

๋ˆˆ์ด ๋‚ด๋ฆฌ๋ฉด ๋ฉ๋“  ๊ฐ€์Šด์ด

๋ชจ๋‘ ํ•˜์–—๊ฒŒ ๋‹ค ๋ฎ์—ฌ์ง€๊ฒŒ ๋ ๊นŒ ๋ฏธ์•ˆํ•ด ์ž˜ํ•ด์ฃผ์ง€ ๋ชปํ•ด

ํ›„ํšŒ๋งŒ ๊ฐ€๋“ ๊ฐ€๋“ ํ–ˆ๋˜,

๊ทธ ํฌ๋ฆฌ์Šค๋งˆ์Šค

‘์‚ฌ๋ž‘ํ•ด, ๋‚˜๋‚˜.’

END

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The First Snow (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s