[EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart Chapter 1

 

(Broken) Black Heart Chapter 1©

Author

Riona Spring

Main Cast

EXO’s Baekhyun and OC’s ???

Supporting Cast

VIXX’s Leo aka Leo Jeind Anderson, Son Jina (OC), EXO’s Xiumin aka Xiu Minleyw, and more

Genre

Mystery, supernatural, slice of life, and maybe romance

Length & Rating

Chaptered ~ PG-13

DISCLAIMER

Cerita dan plot adalah milik author. Tokoh dan segala macam yang ada di cerita ini hanya muncul sebagai unsur cerita dan tidak terikat dengan kenyataan aslinya. Dimohon untuk tidak menjadi plagiator dan menjiplak atau mengambil fiksi ini.

  Kehidupan itu sulit ditebak. Siapapun akan merasa sulit bahkan hanya untuk mengira bagaimana akhirnya.

Summary

                                                                     

 

 

Author view-side

Pagi yang cukup cerah hari ini. Matahari bersinar, memancarkan seluruh sinar lembutnya ke permukaan bumi. Awan-awan putih tipis berarak-arak ringan di langit, tak menghalangi sinar matahari yang hangat itu.

Udara terasa sangat segar. Pusat kota Seoul yang padat terlihat lebih ‘segar’ dari biasanya. Namun, suasananya tetap sama. Orang-orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Sebagian dari mereka berjalan dengan tergesa-gesa, membawa banyak barang bawaan berat dan beban keseharian.

Di antara semua itu, seseorang berjalan melewati semua orang. Ia terlihat mencolok—dengan pakaian aneh serba hitamnya—melangkahkan kaki santai sembari tangan kanan memegang sebuah buku hitam. Tampak mencurigakan, karena orang-orang melewatinya sama sekali tidak memedulikan eksistensinya.

“Manusia lemah tak berguna.”

Gumaman lolos dari mulutnya. Ia menatap orang yang berlalu-lalang dengan sinis. Tatapannya menajam. Seakan menambah sisi kemisteriusan, aura gelap secara tiba-tiba meliputi tubuhnya. Angin dingin menerpa rambutnya, membuat orang di sekitarnya menyingkir dengan wajah bingung.

Orang itu bukan manusia. Dua kata mendeskripsikan orang itu dengan tepat.

Malaikat maut.

Malaikat maut itu mengumpat kali ini. Beberapa kali ia melewati manusia super sibuk itu, beberapa kali pula ia mendengar keluhan dan umpatan. Dan yang konyol baginya, hal yang para manusia itu umpatkan adalah masalah cuaca.

Yap, benar. Cuaca.

Walau cuaca saat ini dapat digolongkan ke dalam kata ‘cuaca bagus’, namun nampaknya hal itu tidak berpengaruh pada suhu alam. Suhu saat ini menyentuh angka 4 derajat celcius. Suhu yang termasuk kategori dingin untuk awal musim semi seperti saat ini.

Asap putih keluar ketika Leo—nama malaikat maut itu—mendengus. Manusia-manusia itu memang tidak pernah bersyukur. Faktanya, suhu saat ini masih jauh lebih baik dari beberapa hari lalu, yang bahkan turun mencapai suhu minus 7 derajat.

Namun, Leo akhirnya memilih tidak peduli. Ada hal lebih penting menanti daripada ikut mengumpat gara-gara manusia lemah itu. Ia membuka buku hitamnya, membalik halaman-halaman kertas kuno buku itu dengan seksama.

Malaikat maut itu berhenti pada satu halaman, yang menampilkan gambar seorang kakek tua dengan rambut beruban. Kalimat-kalimat dengan tulisan aneh tertera di samping gambar.

“Kim Yunseong. Rumah sakit Soral. Jam 11 lewat 7 menit. Baiklah.”  Leo bergumam. Ia menutup bukunya cepat. Kali ini matanya menerawang ke depan, bersiap-siap menggunakan kekuatan khususnya—teleportasi. Ia tidak boleh terlambat sampai di tempat tujuannya.

 

***-***

 

“BYUN BAEKHYUN!!”

Suara serak menggema di ruangan suatu gedung. Seseorang dengan paras pendek berambut setengah botak menilik ruangan pengap itu dengan tatapan singa kelaparan. Sangat mengerikan.

Ruang itu hening seketika. Teriakan tadi sukses membuat ruangan yang semula penuh kebisingan, berubah seolah menjadi ruang kedap udara. Orang-orang yang berlalu lalang bahkan tampak berhenti sejenak, menoleh ke arah suara dengan tatapan ketakutan.

Pemilik nama, Baekhyun, meringkuk di kursinya. Degupan jantung tak terelakkan lagi terdengar jelas berdetak cepat berbarengan dengan kegugupannya. Dari sejauh yang ia alami, jika teriakan itu terdengar, pertanda buruk akan menghampiri bagi pemilik nama yang diteriakkan.

“Kau tau apa yang kau lakukan, Byun Baekhyun-ssi?” orang dengan kepala setengah botak itu berhasil menemukannya. Kalimat yang baru saja ia lontarkan terdengar sangat dingin.

Baekhyun menunduk. Pemuda Byun itu tidak berani macam-macam. Jika ia bertindak sedikit saja, kemungkinan ia dipecat dapat meningkat berkali-kali lipat.

“Maafkan saya, Pak Kepala Bagian.” ucap Baekhyun sambil membungkuk sejajar lantai. Hanya itu yang berani ia katakan sekarang. Ia merasa luar biasa tegang saat ini.

Lawan bicaranya mendengus kasar. Ia membanting map kuning yang ia bawa ke meja. Baekhyun tersentak sedikit, namun masih dalam posisi membungkuk.

“Sebaiknya Anda bersikap serius, Baekhyun-ssi. Saya tidak bermain-main kali ini.” Pak Kepala Bagian itu melanjutkan kalimat tajamnya.

“Perbaiki ini. Dengan. Benar. Jika proyek ini lebih buruk dari keadaan sebelumnya, aku akan menskorsmu selama sebulan.” bos Baekhyun memberi peringatan, tetap dengan nada menyeramkan.

Baekhyun membungkuk sekali lagi. “Saya akan mengerjakannya ulang dengan sungguh-sungguh, pak. Sekali lagi maafkan saya.” Baekhyun berujar pelan.

“Bagus.”

Bos berambut hampir gundul itu melenggang pergi. Baekhyun bangkit dari posisinya pelan-pelan. Setelah melihat bosnya itu keluar dari ruangan itu 10 detik kemudian, Baekhyun langsung merebahkan dirinya ke kursi sambil menghela napas.

“Kau baik-baik saja, kawan?” sebuah kepala muncul dari sisi kiri sekat meja Baekhyun. Wajah tampan dengan bibir tebal menawan tersenyum padanya. Pemuda tadi kemudian menggeser bangkunya, mencoba mendekat.

“Um.” Baekhyun menggumam mengiyakan. Pemuda berkulit putih pucat itu memajukan kursinya, lalu menyalakan komputer. Perasaannya saat ini sangat tidak menentu. Maka dari itu Baekhyun memilih untuk bertindak seminimal mungkin. Ia tidak mau memikirkan kemungkinan buruk lain jika saja ia tidak diam di tempatnya.

Menjadikan pemuda di sampingnya ini menjadi sasaran kemarahan, misalnya.

Bukan hal yang bagus. Karena hal yang baru ia pikirkan malah akan membuatnya terjebak di masalah lain. Masalahnya saat ini sudah sangat menumpuk, jadi pemuda Byun itu merasa cukup akan itu.

“Tetap semangat, Byun Baek.” pemuda di sampingnya menepuk pelan bahu Baekhyun sembari tersenyum manis. Baekhyun mau tak mau menoleh, mendengar nada suara seperti tadi. Ia mengangkat sudut bibirnya, menyunggingkan senyum tipis.

Manik mata Baekhyun kemudian menoleh ke arah baju orang di hadapannya. Ia menangkap tiga kata yang merangkai sebuah nama.

‘채형원’

Nama orang itu adalah Chae Hyungwon.

Baekhyun menatap bola mata pemuda itu. “Terimakasih, Hyungwon-ssi.”

 

***-***

 

*Lunch Time*

 

Penuh dan sesak.

Kata-kata tersebut mencerminkan situasi saat ini di ruang makan suatu gedung. Ruang itu penuh dengan orang-orang berseragam formal, yang di dominasi oleh para pegawai perusahaan itu.

Mereka tampak mengantri, ingin mengambil jatah makan siang mereka. Cuaca yang dingin ditambah dengan beban pekerjaan yang tidak berkurang membuat tubuh sangat menginginkan untuk diisi. Terlihat jelas sekali di wajah mereka. Beberapa tampak menghentakkan kaki tak sabar, dan beberapa tampak mendorong orang depannya, berusaha agar segera mendapat bagian.

Beberapa pegawai lainnya—yang telah mendapat bagian—tampak duduk berkelompok. Sambil menyuap makanan, mereka berbincang ringan. Beban pekerjaan seakan terlupakan, seolah menguap bersama tawa keceriaan.

Di sudut ruang itu, tampak pemandangan berbeda. Seorang pegawai berkulit pucat tampak duduk sendirian. Tak ada yang peduli, apalagi mau menemani. Ia terlihat menyedihkan. Tatapan mata pemuda itu sudah mirip orang kehilangan jiwa. Kosong dan tidak terfokus, membuat orang yang melewatinya bahkan tidak mau memalingkan kepala sedikitpun.

“Byun Baekhyun!”

Suara perempuan memanggil pemuda menyedihkan itu. Tapi, ia tak menjawab. Dapat dilihat dari ekspresinya, pemuda Byun itu tampak terkurung di dalam imajinasi dan pikirannya sendiri.

Perempuan itu mendekat. Di tangannya terdapat nampan makanan. Tanpa menghiraukan panggilannya tidak dijawab, perempuan dengan wajah manis itu duduk di hadapan Baekhyun.

“Kau tidak makan, Baekhyun-ah?” ucapnya memulai konversasi, sembari tangan kanannya meraih sumpit. Ia menyuap sepotong tempura ke dalam mulut.

Baekhyun tetap terdiam.

“Baekhyun?” kali ini perempuan itu mengangkat kepalanya. Manik matanya seketika berubah. Baekhyun yang termenung itu terlihat sangat mengawatirkan.

Tatapan mata kosong dan tidak merespon. Ditambah dengan kulit pucat dan kantung mata yang menghitam.

‘Apa dia sekarat?’  

“Byun Baekhyun!!”

Orang di hadapan Baekhyun itu memilih untuk menjerit. Suara sopran itu berhasil masuk ke telinga pemuda itu. Baekhyun pelan-pelan menggerakkan bola matanya. Bola mata itu kemudian mengarah ke depan, dan secara perlahan menajam dan akhirnya berhasil menangkap raut cemas perempuan itu.

“Ah, waeyo, Jina noona?” akhirnya ia merespon, walaupun masih dengan keadaan setengah tidak sadar. Baekhyun otomatis menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau tidak apa-apa, Baekhyun-ah?” perempuan itu, Jina, bertanya cemas. Baekhyun masih tidak meresponnya, masih terlihat berusaha memusatkan pikirannya yang melayang jauh.

Baekhyun mengerjap beberapa kali. “Aku baik-baik saja … noona.” jawabnya pelan. Pemuda Byun itu menyambar sendoknya, lalu menyuap nasi ke mulutnya terburu-buru, ingin menunjukkan kalau ia memang ‘baik-baik saja’.

“Kau tidak usah menyangkal, Baekhyun-ah. Aku tahu kau tidak baik-baik saja.” Jina berucap sambil tersenyum simpul. Baekhyun menatap ke arah lain, tak berani melihat tatapan noona-nya itu.

“Kau masih memikirkan kejadian tadi ya?” perempuan berwajah manis itu kembali bertanya. Nadanya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Ia tahu, pertanyaan yang baru saja ia lontarkan bersifat sensitif. Maka dari itu ia tidak ingin membuat keadaan menjadi bertambah buruk.

Jina mengatupkan rahangnya, sedikit mengantipasi tanggapan Baekhyun. Namun pemuda itu bergeming. Bibirnya terkatup, menunjukkan ekspresi datar. Ia seakan mengubah telinganya menjadi pipa, membuat suara apapun hanya masuk tanpa nyangkut sedikitpun di kepalanya.

“Lupakan saja, Baekhyun-ah. Semakin kau memikirkannya, kau malah menambah beban pikiranmu.” Jina berujar bijak, kemudian menyela waktu dengan menyesap tehnya. Baekhyun tidak menanggapi. Pemuda itu sekarang menatap ke jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di dinginnya udara.

“……”

Kening Baekhyun tiba-tiba berkerut. Matanya menyipit, seperti melihat sesuatu yang asing. Jina, yang sedang sibuk dengan makan siangnya, mengangkat kepala. Secara kebetulan manik matanya bertabrakan dengan milik Baekhyun. Pemuda itu tidak menatap matanya. Tetapi dengan melihat tatapan mata itu, Jina secara otomatis mengikuti arah pandang Baekhyun, yaitu melihat ke jendela besar yang berada tepat di belakangnya.

“Ada apa, Baekhyun-ah?”

Lagi-lagi, Baekhyun tidak menjawab. Ia tetap tidak mengubah arah pandangnya. Dan hal tersebut membuat lawan bicaranya ikut mengerutkan kening, bingung dengan kelakuannya.

“Apa …” Baekhyun membuka mulutnya.

“Hm, ada apa, Baekhyun-ah?”

Baekhyun berhenti mengamati jendela sejenak dan menatap Jina dengan wajah penasaran. “ … ada pegawai baru disini, noona?”

Jina menaikkan alisnya. Perempuan itu kembali menatap jendela di belakangnya. Sesaat kemudian, ia membalikkan badan.

“Pegawai baru?” Jina bertanya, menegaskan sekali lagi. Seingatnya tak ada orang baru di gedung itu. Ia mengetahuinya, karena selama inilah ia termasuk orang yang mengurus data pegawai di bawah direksi kepala bagiannya.

“Kurasa tak ada pegawai atau orang baru di perusahaan ini, Baekhyun-ah.”

Mata Baekhyun kini menatap mata perempuan di depannya. “Tapi itu …” jari telunjuknya menunjuk jendela. Keningnya berkerut.

“Perempuan itu … sedang menatapku sekarang. Ia tidak mengenakan pakaian kantor. Pakaiannya abu-abu, wajahnya pucat sekali.” pemuda Byun itu menjelaskan secara rinci, membuat Jina semakin heran.

Karena perempuan itu tidak melihat apa-apa di belakangnya.

“Sepertinya …” Jina menghela napas berat. Ia meletakkan sumpitnya. Baekhyun mengarahkan manik matanya pada Jina yang menatap meja.

“Kau harus pergi ke dokter, Baekhyun.”

 

***-***

 

*Psychologist Centre (3 days later)*

 

“Ada keluhan apa?” sebuah suara memecah keheningan yang melanda.

Baekhyun menelan ludah. Saat ini ia duduk di depan orang berjas putih dengan kacamata tebal bertali. Pria yang tampaknya berusia di pertengahan usia 60 tahun itu menatapnya tajam. Membuatnya teringat akan sesuatu yang tidak asing.

‘Psikolog : Seo Byungjoon’

Tulisan itu terukir di papan kaca bening di hadapannya. Baekhyun menyatukan kedua alisnya, mengingat-ingat kejadian yang sepertinya baru terjadi beberapa hari lalu.

“Kau sebaiknya tidak main-main, Baekhyun-ss—

“Maaf, apa anda mendengar pertanyaan saya barusan, …”

“Saya Byun Baekhyun, dokter.”

Laki-laki paruh baya itu mengangguk. “—Byun Baekhyun-ssi?”

“Ah, maafkan saya, dokter. Saya tiba-tiba teringat sesuatu.” pemuda Byun itu mengembangkan senyum salah tingkahnya. Sekon kemudian, untuk melenyapkan aura canggung, Baekhyun berdeham pelan.

“Ehm. Baiklah. Alasan saya kesini karena ingin berkonsultasi masalah psikologis saya, dokter.” ucap Baekhyun ringkas. Pemuda itu lalu memantapkan posisi duduknya, ingin memberi kesan baik.

Psikolog itu mengambil penanya. “Dan menurut anda, bagaimana keadaan anda sekarang?” tanya dokter bermata tajam itu.

Baekhyun berpikir sejenak. “Saya belakangan ini sering mengalami halusinasi dokter.”

“Halusinasi …” dokter itu sedikit bergumam sambil mengusap dagunya dengan dua jari. “Apa anda sedang mengalami tekanan atau stress?”

“Ya, beban pekerjaan saya sedang banyak di awal musim semi ini, dok. Tiga minggu yang lalu saya sakit, sehingga banyak pekerjaan yang terlantar. Saya sering tidak tidur untuk menyelesaikannya.”

Pria paruh baya itu menulis satu kalimat di catatannya. “Bagaimana bentuk halusinasi yang ada alami, Baekhyun-ssi?”

“Saya …” tiba-tiba pemuda Byun itu merasa ragu untuk menjawab. “melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, dokter.” Baekhyun berucap dengan nada pelan, merasa ragu-ragu.

“Sejak kapan itu terjadi?” dokter itu langsung melompat pada satu titik penting. Baekhyun menelan ludahnya sekali lagi. Entah mengapa ia merasa tempat ia duduk sekarang ini malah membuatnya semakin tertekan.

“Itu terjadi sekitar 3 hari yang lalu dokter. Ia selalu muncul di hadapan saya. Awalnya saya merasa ketakutan, dan selalu berteriak karena terkejut ketika ia muncul. Namun, keberadaannya sekarang malah membuat saya terganggu, karena orang-orang memandang saya seperti sudah tidak waras. Itu alasan utama saya kesini, dok.”

Lagi-lagi, dokter itu menulis sesuatu di kertasnya. “Sudah saya duga.” ia berucap pelan. “Anda mengalami stress tingkat akut, Byun Baekhyun-ssi. Dan seperti yang anda katakan, itu semua disebabkan oleh beban anda. Saya sarankan, anda harus meluangkan waktu untuk beristirahat atau bersantai yang cukup.”

Dokter itu merobek secarik kertas dari notes kecilnya dan menulis sesuatu dengan cepat. “Ini resep obat penenang. Minumlah sesuai dosis. Dan di bawah ini ada obat insomnia. Jika anda sulit tidur, anda boleh meminumnya.” dokter itu menerangkan, masih dengan nada sedikit dinginnya.

“Asal anda tidak meminumnya sembarangan, obat insomnia itu aman, jadi anda tak perlu khawatir akan efek sampingnya. Datanglah kembali jika anda masih melihat ‘hal’ tersebut.”  Dokter itu berdiri, lalu menyerahkan kertas kecil itu.

Baekhyun menerimanya. Ia berdiri, kemudian membungkuk dalam. “Terimakasih banyak, dokter.” Baekhyun lalu melangkah keluar dari ruangan itu.

“Bagaimana konsultasinya, Baekhyun-ah?” suatu suara familiar menyambutnya begitu ia menutup pintu. Jina, dengan wajah sumingrahnya menatap Baekhyun dengan penuh pengharapan.

“Hasilnya … aku tidak gila, noona. Jadi, kau tidak perlu khawatir.” Baekhyun berucap dingin. Dalam hati, pemuda itu merasa sedikit kesal. Alasan utama keberadaannya di rumah sakit ini adalah karena Jina memaksanya. Perempuan yang beberapa tahun lebih tua darinya itu cemas akan keadaan jiwanya yang ia pikir sudah masuk pada tahap ‘bahaya’.

“Benarkah? Apa yang beliau katakan?” Jina menyamakan langkahnya dengan Baekhyun yang sudah berjalan lebih dulu.

“Tanya saja sendiri.” jawab Baekhyun ketus. Kali ini ia tidak peduli lagi dengan kehadiran Jina. Tanpa menoleh, ia melenggang pergi, meninggalkan Jina yang melebarkan matanya karena marah.

Ya! Kau sudah berani berkata tidak formal padaku sekarang, Byun Baekhyun?!”

 

***-***

 

*8.20 pm

Beberapa saat berlalu. Saat ini, Baekhyun telah berada di rumahnya. Jina yang mengantarnya, setelah sebelumnya singgah di apotek terlebih dahulu untuk membeli obat menggunakan mobil pribadi perempuan itu.

Baekhyun menghempaskan diri di sofa ruang tengah rumah kecilnya. Plastik berisi obat yang ia beli entah kemana ia lempar. Baekhyun tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar ia bisa beristirahat dengan tenang dan tentram.

Dirinya tiba-tiba mengingat perjalanan pulang tadi. Jina terus menggerutu sepanjang jalan. Ia menganggapnya sebagai ‘orang yang tidak tahu diri’ karena ia duduk di belakang dan secara tidak langsung membuat Jina menjadi ‘supir’ yang mengantarnya pulang ke rumah.

Namun, Baekhyun tak mau mendengarkan. Ia masih kesal pada perempuan itu. Dengan cuek ia memasang headset di telinga, meski ia tidak menyambungnya ke perangkat musik sehingga apa yang Jina omelkan terdengar dengan baik.

“Haaah …” Baekhyun menghembuskan napas panjang. Diedarkannya tatapan ke penjuru langit-langit rumahnya. Cahaya lampu yang menyilaukan seketika masuk ke mata cokelatnya.

Baekhyun tak menutup mata akibat cahaya itu. Pikirannya langsung melayang pada satu hal. Atau lebih tepatnya, banyak hal. Beban hidupnya sudah menumpuk layaknya pakaian bekas di gudang W Incheon.

Triring triring ♫

Deringan handphone membuyarkan semua yang ia pikirkan. Baekhyun mencari sumber suara itu, lalu sekitar lima sekon kemudian berhasil menemukannya terjatuh dekat kaki sofa.

Yoboseyo?” tanpa melihat nama yang tertera, Baekhyun mengangkat telepon itu.

“Oh, Baekhyun-ah. Bagaimana kabarmu?” suara bariton di seberang berbicara. Baekhyun mengernyit, merasa aneh mendengar suara itu.

“Maaf, anda siapa ya?”

Terdengar suara tertawa. “Aigoo … Kau tidak apa-apa, Baekhyun-ah? Aku ini pamanmu, baek-ah. Yaa … baru tiga minggu tidak bertemu, kau sudah melupakan suaraku?”

Pemuda Byun itu terkesiap. Ia langsung mengetuk kepalanya berkali-kali, mengutuk dirinya sendiri. “Ah, maafkan aku, samchon. Sepertinya aku sudah terlalu stress saat ini, hehe.” Baekhyun terkekeh pelan, berusaha menyembunyikan beban yang ia miliki.

Wae? Ada masalah di kantormu?” suara di seberang seketika berubah cemas.

Aniyo. Hanya beban karena 3 minggu lalu, samchon. Tidak terlalu banyak.” Baekhyun menjawab cepat karena takut terbata-bata.

“Begitukah? Tapi, kau baik-baik saja di sana, Baek-ah? Maafkan pamanmu ini yang tidak bisa sering menengokmu. Belakangan ini aku sibuk sekali. Banyak kasus yang harus kutangani. Hah, negeri ini makin lama makin memburuk saja.” Paman Baekhyun itu mengeluh. Baekhyun mendengar pamannya itu mendesah panjang.

Sebagai hakim, pamannya tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu saja. Dan Baekhyun sangat mengerti akan hal itu. Ia  bahkan merasa tak masalah sama sekali jika paman itu lebih mengurus pekerjaan dan keluarganya, daripada mengurus dirinya yang hanya menambah beban lain untuk pamannya itu.

“Ah, disini tak ada masalah, samchon. Aku baik-baik saja selama ini. Lagipula, aku ini sudah 25 tahun. Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri.”  suara Baekhyun terdengar meyakinkan pamannya.

Paman Baekhyun itu terdengar menggumam. “Aku bersyukur kau baik-baik saja, Baek-ah. Lain kali, kalau kau ada waktu, mampirlah kesini. Sepupumu sepertinya sud—“

Hyung!!!” belum selesai paman Baekhyun itu berbicara, sebuah suara memotongnya.  Suara yang mirip seperti suara anak laki-laki.

“Hongmin-ah!” tak kalah ceria, Baekhyun menjawab panggilan itu sambil tersenyum senang. Suara itu adalah suara adik sepupunya, yang berusia 15 tahun di bawahnya.

“Aku kangen dengan hyung! Kapan hyung mau kesini? Seomin juga ingin main dengan hyung!!” sepupu Baekhyun itu berteriak gembira di seberang telepon. Sekilas, terdengar suara paman Baekhyun yang meminta handphone-nya dikembalikan.

“Benarkah? Kalau begitu, hm… kapan ya, bisa datang? Karena hyung belum bisa janji …” Baekhyun sengaja memotong kalimatnya. Belum sedetik, terdengar keluhan kecewa Hongmin di seberang.

“Tapi, kalau hyung datang, hyung janji akan bawakan daging sapi! Nanti kita panggang daging sama-sama. Bagaimana? Oke?”

“Asyikk!!”  Hongmin bersorak gembira.

“Kembalikan itu, Lee Hongmin! Appa ingin bicara dengan hyung-mu.” paman Baekhyun kembali terdengar. “Oh, Baekhyun-ah. Kalau kau tidak sibuk, datanglah kemari. Sepupumu itu terlalu rindu denganmu.  Mereka selalu menanyakanmu hampir setiap minggu! Aku sampai pusing mendengarnya.”

Baekhyun tertawa. “Baiklah, samchon. Ah, ngomong-ngomong, bagaimana kabar samchon sendiri dan imo?”

“Aku? Aku baik. Hanya banyak hal saja yang harus kuurus—seperti yang kubilang baru saja. Jisook imo juga baik. Ia sekarang sibuk dengan kateringnya. Hongmin dan Seomin selalu berisik, tapi aku senang mereka tumbuh dengan baik.” paman Baekhyun menghela napas, terdengar senang. Baekhyun diam-diam tersenyum kecut.

“Wah, pasti mereka tumbuh dengan baik. Imo selalu menyuruh mereka makan sayur, bukan?” pemuda berkulit pucat itu berkelakar.

“Hahaha… Benar sekali. Pamanmu ini terkadang harus ikut campur di dalamnya.”

Senyum Baekhyun makin mengembang. Tapi, tatapan sedihnya ikut terlihat. Ia menghirup napas dalam-dalam. “Samchon, aku ada sesuatu untuk diurus. Aku sudahi dulu ya?”

“Ah, baiklah-baiklah. Maaf sudah menganggu waktumu, Baek-ah. Selalu semangat!” suara paman Baekhyun menggema, memberinya sedikit pencerahan.

“Terimakasih, samchon. Samchon juga.” Baekhyun mengakhiri panggilannya dengan nada ceria. Ia menggeser logo merah di layar handphone-nya, memutus sambungan.

“…….”

Baekhyun kembali menatap langit-langit rumahnya. Ia menerawang, lalu menghembuskan napas kasar. Semua hal yang terjadi tiba-tiba memasuki pikirannya.

Pekerjaannya. Rumahnya. Pamannya. Hidupnya. Dan juga … orangtuanya.

Orangtua yang amat ia sayangi. Ayah … juga ibunya.

Tanpa sadar, air mata mengalir di pelupuk mata Baekhyun. Ia merindukan orangtuanya. Teramat sangat. Terkadang pemuda itu larut dalam kesedihan. Meratapi kesalahan dan beban yang ia miliki. Memikirkan seberapa ia merepotkan paman dan bibinya. Menyusahkan Jina dan juga … mengutuk kehidupannya yang begitu kelam seperti terdampar di pulau asing.

Kali ini, Baekhyun tak tahan. Ia menangis keras di tengah suasana hening rumahnya. Air mata sudah tak terbendung lagi, mengalir begitu deras bersama semua pikiran dan kenangan yang ia miliki.

Baekhyun menyambar obatnya yang terletak di bawah meja lampu. Tanpa memedulikan dosis, ia menelan kapsul itu. Entah berapa butir yang ia telan. Tetapi, secara tiba-tiba pandangannya kabur. Tubuhnya terasa amat ringan. Baekhyun tersenyum. Sebelum obat itu mengambil kesadarannnya, terdengar gumaman keluar dari mulutnya.

“Eomma … Appa … Aku sangat merindukan kalian.”

 

***-***

 

Keadaan hening meliputi rumah seorang pemuda di Minggu pagi. Burung-burung pipit tampak bertengger rapi di atap rumah itu, bersiul merdu menghiasi pagi yang cerah ini. Cahaya matahari menyilaukan menyinari rumah yang terlihat sangat sepi itu.

Jika masuk ke dalam, terlihat seorang pemuda berkulit pucat tertidur dengan posisi menyedihkan. Setengah tubuh bagian atas bersandar pada dudukan sofa, sedangkan setengah tubuhnya lain menjuntai ke lantai. Terdengar suara dengkuran halus, yang menandakan ia sedang tertidur dengan pulas.

Tiba-tiba, mata pemuda itu membuka perlahan. Sinar matahari nampaknya membangunkannya dari dunia mimpi indahnya. Sebelum ia sadar sepenuhnya, ia menggerakkan tubuhnya sebentar, dan kemudian bangun dengan keadaan yang lebih baik.

“AAAA!”

Belum sempat ia berdiri dengan benar, pemuda itu berteriak. Sesosok perempuan dengan tubuh transparan muncul, berdiam di pojok ruangan menatap dirinya. Baekhyun, yang notabenenya nama pemuda itu, menggenggam kausnya erat, tanda terkejut luar biasa.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali, sebelum ia kemudian berdiri kembali, dan mendelik tajam pada sosok itu

“AH!!!” Baekhyun berteriak frustasi. Bukannya ketakukan karena sosok itu terlihat seperti hantu, Baekhyun melampiaskan kekesalannya dengan berteriak. Sosok itu selalu berdiri di pojok kamarnya setiap kali ia bangun. Ia seperti sedang menunggunya untuk terbangun dari tidur nyenyaknya.

Tunggu. Satu kata tiba-tiba melintas di kepala Baekhyun.

Kamar.

Baekhyun menatap sekeliling. Yang ia temui bukanlah tempat tidur dan benda yang biasanya ada di kamar, namun suasana ruang tengah dingin yang tampak berantakan.

“Dasar idiot!”

Pemuda itu mengumpat tertahan, lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia melupakan keberadaan sosok itu. Baekhyun seketika merasa sangat bodoh. Kejadian tadi malam merupakan hal paling ‘sinting’ yang pernah dilakukannya.

Sambil melompat-lompat karena frustasi, Baekhyun mengedarkan pandangannya pada bawah sofa. Bungkus obat berceceran di atas lantai, tergeletak menyedihkan karena ulahnya semalam.

Noona benar. Aku ini memang gila!” Baekhyun tertawa layaknya orang kehilangan akal sehat di keadaan hening rumahnya, menyadari betapa konyol apa yang ia lakukan. Ia kemudian membalik tubuhnya.

“Kau!!!” pemuda itu membentak sosok transparan yang masih diam di tempatnya. Sosok perempuan yang terlihat jauh lebih pucat dari Baekhyun itu terlihat sedikit tersentak. Namun, ia tidak melakukan apa-apa setelahnya.

“Kau tahu betapa menderitanya aku akibat hidup menyedihkan ini?!” pemuda Byun itu kembali berteriak melampiaskan emosinya.

“Kenapa kau harus muncul, HAH! kau tahu rasanya dipandang seperti orang sinting? orang yang tidak punya otak? KAU TAHU?!”

Baekhyun terjatuh, dengan lutut menopang tubuhnya. Ia menjambak rambutnya, merasa frustasi akibat beban yang sudah terlalu banyak menumpuk di pundaknya.

Beberapa saat pemuda itu tetap dalam posisi tersebut. Ia menyumpahi dan mengutuk dirinya sendiri dengan suara tertahan, agar tidak menarik perhatian orang luar yang bisa saja mendengar suaranya.

“Kau …”

Baekhyun tiba-tiba meyudahi sumpahannya. Tangannya tidak lagi menarik rambut hitamnya. Pemuda itu perlahan berdiri, lalu memalingkan wajahnya menatap sosok transparan yang berdiri di pojok ruang.

Tatapan itu … terlihat sangat menyeramkan.

Ia melangkah mendekat ke ujung ruang. Sosok itu terlihat ketakutan. Wajahnya yang pucat semakin memucat. Tanpa sadar, ia mundur satu langkah.

Namun Baekhyun tak peduli. Ia terus melangkah, hingga akhirnya tersisa jarak satu langkah antara ia dan hantu itu. Baekhyun menatap tajam mata di depannya, sebelum kemudian nada dingin terucap dari mulutnya.

“Siapa kau sebenarnya?”

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

A/N :

Hi! I’m back with chapter 1! How was it?

Tbh, author gak bisa namatin chapter gitu aja tanpa ngomong sedikitpun. Tbh (lagi) aku ini sukaaaaaa banget yang namanya ‘bicara’ di real-life, jadi rasanya agak kurang sreg kalo gak ngomong sebagai cuap-cuap di akhir cerita. Jadii … harap maklum! (Part ini tidak mesti dibaca karena kemungkinan isinya cuma celotehan author saja :v #waks)

JENG JENG. Siapa tokoh barunya? Monsta X’s Hyungwon aka Chae Hyungwon! Seperti yang aku bilang di prev chap, bakal ada tokoh baru yang muncul! Penting kah tokoh ini? Hehehe, silahkan tunggu chap2 yang akan datang~~ *modusdetected

(Other cast will be revealed soon!)

Ah, mari lompat ke topik yang sedikit lebih penting, reader-nim! Bagaimana pendapat kalian tentang chap 1 ini? Disini aku lebih ke part-nya Baekhyun, yang aku buat sebagai tokoh yang 180 derajat sangat berbeda dari kehidupan aslinya (Yaitu cabe internasional yang udah mirip anak anjing lupa dikerangkeng). Tapi, apa ada yang suka? Kkkkk~~

Dan …… entahlah. Bingung mau bahas apalagi. Ato ngomong apalagi. Mode gabut lagi on sepertinya ~~ Mau gimana lagi … Maafkeun tiba-tiba berhenti di tengah-tengah, hehehe. Aku akan sambung omong-omongnya di chap 2! ^O^ (Meski tidak berharap ada yang nunggu omongan abal2 ini, wkwkwk)

See ya, all my dear! Leave some ‘step’ on the comment section(?) juseyo!  ♥ U all!! :3

 

P.s : Call me as Rion, juseyo^^! That’s better than ‘author’ for me … Thank thank!

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart Chapter 1

  1. kalo ini cerita diangkat dlm bentuk visual kayanya aku ga berani nonton wkwkwk gegara si cewe dipojokan itu. anyway aku sukaa kalo biasku di nistakan wkwkwk baekhyun yg lemah, baekhyun yg frystasi aku sukaaaa wkwkw

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 3B | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 2 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Siapa wanita hantu itu ? Apa dia ada hubungannya dengan baekhyun atau ada hubungannya dengan leo ? Makin penasaran sama kelanjutannya. Fighting

  5. Waaahhh makasih udah jadiin Leo cast disini….
    Dari pertama liat poster aku udah senyum2 liat ada Leo….😆😆
    Dan perannya ga tanggung2 jadi grim reapper 👍👍
    Btw, ceritanya agak serem yaa, mana bacanya malem2 lagi….😫😫

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s