[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 1)

Screenshot_2017-03-10-16-50-29.png

After The Wedding (Chapter 1)

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung. Kim Jong In.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: “Aku menyukai namaku.”-Jae Ra.

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

Waktu telah menunjukan pukul 9 malam. Langit malam kota Seoul kali ini cukup dipenuhi banyak bintang karna bulan ini musim panas akan segera tiba. Berbarengan dengan akan berakhirnya masa semester sekolah, sepasang suami istri ini tengah asik berdiskusi tentang sekolah yang cocok untuk putri semata wayang mereka yang akhir bulan ini akan segera lulus dari sekolah menengah pertamanya.

“Bagaimana kalau Avsen High School, bukankah itu sekolah yang cukup bagus?” ucap seorang wanita yang kini tengah sibuk berdiri dihadapan sebuah cermin full body yang merefleksikan dirinya dengan gaun malam berwarna hitam miliknya.

“Kau yakin?” tanya pria jangkung seraya memeluk wanita pertamanya yang malam ini cukup terlihat menggoda. Pria ini memilih memeluk sang wanita dari belakang karna ia tak mau mengganggu kegiatan istrinya yang tengah membetulkan gaun malamnya.

“Ya, Jae Ra bilang beberapa teman sekolah pertamanya juga banyak yang melanjutkan disana.” ucap Hye Ra melirik Sehun dari pantulan cermin.

“Jae Ra harus punya banyak teman, jangan terus menerus bergaul dengan orang yang sama. Bukankah beberapa teman Jae Ra yang sekarang adalah teman sekolah dasarnya dulu?” tanya Sehun yang lalu mencium tengkuk Hye Ra.

“Memang. Jadi maksudmu kau ingin memisahkan persahabatan mereka?” tanya Hye Ra sedikit tajam.

“Tidak begitu Hye Ra, maksudku..-“

“Berpisah dengan sahabatmu adalah hal yang paling menyebalkan didunia, Sehun!” Hye Ra yang kini benar-benar menatap kembali Sehun melalui pantulan cermin dihadapan mereka.

Sehun menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. “Yahh.. baiklah, terserah kau dan Jae Ra. Aku ikuti kemauan kalian.” Ucap Sehun yang lantas melepaskan pelukannya dari tubuh wanitanya ini.

“Kau marah?” Tanya Hye Ra seraya menggapai wajah prianya. Menahan sesaat agar Sehun tak berlalu pergi.

“Tidak, aku hanya heran mengapa aku selalu mengalah pada pilihan kalian berdua?” jawab Sehun.

Hye Ra hanya tersenyum menanggapi ucapan Sehun. Wanita ini menarik wajah Sehun untuk lebih dekat pada wajahnya. Tepat. Hye Ra mengecup bibir Sehun untuk beberapa detik. Setelahnya mereka saling bertatapan seraya tersenyum kagum akan satu sama lain.

“Aku akan pergi ke kamar Jae Ra, memastikan apakah dia sudah tidur atau belum.” ucap Sehun. Hye Ra hanya menggangguk pelan untuk meng-iyakan ucapan Sehun. Sesaat pria itu langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk segera pergi kekamar putrinya.

Sehun masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu kedalam kamar ini. Seseorang dari masa lalu yang pernah menempati kamar ini membuat Sehun terbiasa untuk terus bersikap seperti ini meskipun kini sang penghuni telah berganti menjadi putrinya.

“Kau masih belum tidur juga, Honey?” tanya Sehun saat melihat putri pertamanya yang masih asik dengan beberapa buku tebal diatas meja belajarnya. Ya, ia masih dalam masa-masa menegangkan. Melewati hari-hari dimana ia dihadapkan dengan begitu banyaknya soal yang harus ia jawab dengan tepat demi mendapatkan nilai kelulusan yang bagus.

“Sebentar lagi.” ucap Jae Ra sedikit dingin.

Sang gadis masih asik dengan isi kepalanya. Entalah, kali ini Sehun tak bisa menebak apa yang ada dikepala putrinya, entah berbagai teory dan rumus Fisika ataupun pemuda tampan yang minggu lalu menabrak Jae Ra tanpa sengaja.

Sehun kini hanya duduk ditepi ranjang milik Jae Ra. Ia tengah asik melihat punggung putri satu-satunya yang kini telah beranjak dewasa. Usianya sudah menginjak usia lima belas tahun di hari ke tiga bulan April lalu. Semakin hari Jae Ra semakin terlihat seperti ibunya. Entah dari fisik maupun sikapnya. Itu semua benar-benar mengingatkan Sehun akan kerinduannya pada Ibu kandung Jae Ra.

“Appa?” ucap Jae Ra yang kini membalikan tubuhnya menatap Sehun yang berada tepat dibelakangnya. Lamunan Sehun tadi sempat terpecah karna kini fokusnya tengah mengarah pada Jae Ra.

“Ya, Honey?” tanya Sehun yang terlihat menyilangkan kedua tangannya dihadapan dada bidangnya.

“Boleh aku bertanya?”

“Kenapa? Kau sulitan dengan tugasmu?”

“Tidak, Appa.”

“Lalu?”

Gadis ini hanya menggigit bibir tipisnya karna gugup untuk bertanya pada sang ayah. Tapi lebih tepatnya dia sedikit ketakutan pada Sehun.

“Heii?” ucap Sehun memastikan. Pandangan Sehun benar-benar terfokus pada Jae Ra yang masih juga terdiam.

Gadis ini mulai bangkit dari tempat duduknya dan beralih memposisikan dirinya disamping sang Ayah.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun membelai rambut hitam milik Jae Ra.

Jae Ra masih terdiam. Ia malah asik menatap mata coklat milik sang Ayah. Ayahnya benar-benar terlihat tampan meskipun ia tau bahwa umur Sehun tidak muda lagi. Terlebih lagi kini indra penciuman gadis ini menangkap aroma tubuh Ayahnya, wangi yang benar-benar membuat Jae Ra begitu betah untuk terus berada didekat Sehun.

“Appa?” ujar Jae Ra yang masih berusaha menatap sang Ayah.

“Hmm?”

“Nenek bilang.. aku..-“ Jae Ra kini mulai sedikit menundukan kepalanya. Ia menggantungkan pertanyaannya karna takut atas jawaban yang akan Sehun berikan  jika ia melanjutkan pertanyaannya.

“Heii.. kenapa anak Appa terlihat tak berani?” ucap Sehun seraya menaikan dagu lancip milik Jae Ra. Menyuruh gadis ini untuk kembali menatap mata miliknya.

“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Sehun dengan begitu lembut.

Jae Ra hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Sehun. ia sedikit memperlihatkan senyum tipisnya.

“Lalu, nenek bilang kau apa? Lanjutkan ucapanmu, Honey!”

Jae Ra kembali menatap Sehun. Kali ini ia tengah berusaha sedikit memberanikan dirinya.

“Nenek bilang, aku memiliki dua Ibu, apa itu benar?”

Sehun mematung, tapi senyum langsung terukur dibibirnya. Pria ini kembali mengelus lembut rambut Jae Ra.

“Kau sudah mengetahuinya?” tanya Sehun.

Jae Ra mengangguk, setelahnya gadis ini terdiam. Ia tengah menunggu jawaban dari sang Ayah.

“Ya, kau memang memiliki dua Ibu.”

Jae Ra sedikit kaget dengan jawaban Sehun yang terdengar begitu lembut. Ada jeda yang tercipta antara mereka setelah Sehun mempertegas jawabannya.

“Lalu, kenapa hanya ada Hye Ra Omma?”

“Omma mu yang satu lagi tengah berada diluar negeri, Honey. Namanya Jae Mi.” jelas Sehun yang lalu diikuti senyumannya.

“Jae Mi?”

“Ya, kau tau? Appa memberi namamu Jae Ra karna Appa menggabungkan nama kedua Ommamu. Jae Mi, Hye Ra, menjadi Jae Ra.” ucap Sehun tersenyum seraya menyentuh hidung Jae Ra.

“Aku menyukai namaku.” Jae Ra tersenyum. Tepat. Senyum Jae Ra lah yang 15 tahun belakangan ini menjadi favorite Sehun.

“Sungguh?” tanya Sehun, Jae Ra mengangguk. “Appa senang mendengarnya.” Sehun tersenyum.

“Tapi kenapa aku belum pernah bertemu dengan Jae Mi Omma?”

Sehun dibuat terdiam oleh pertanyaan Jae Ra. Otaknya langsung berputar merangkai berbagai kata agar maksud ucapannya nanti sampai kepada Jae Ra dengan baik.

“Maafkan aku Appa.” Jae Ra memeluk Sehun, ia sadar karna dirasa ia telah lancang memaksa Sehun untuk kembali mengingat masalalunya.

“Tidak, mengapa kau meminta maaf?” ucap Sehun seraya membalas pelukan Jae Ra.

“Jae Mi Omma tinggal dengan saudara kembarmu disana. Mungkin ia terlalu sibuk.”

“Saudara kembar?” tanya Jae Ra yang langsung menatap Sehun.

“Yahh, kau punya saudara kembar.” jawab Sehun tersenyum.

“Sungguh?” Jae Ra dengan wajah berbinarnya.

“Appa tak bercanda untuk yang satu ini. Kau memang punya saudara kembar.” Sehun yang kini sedikit memperlihatkan wajah seriusnya.

“Namanya..-“

“SEAN!! Wake up, now!!”

Kembali. Wanita berusia 33 tahun ini harus membangunkan putra satu-satunya yang selalu susah untuk bangun dipagi hari. Padahal wanita ini harus segera pergi ke kantor untuk bekerja setelah memastikan putranya benar-benar sampai di sekolah.

“Ahh, Mom.. Please, five minute again!” ucap seorang pemuda dibalik selimut tebalya.

“No!! Wake up now! You have to go to school!” ucap  Jae Mi yang langsung menyibakan selimut yang tengah menutupi tubuh Sean.

Sean kembali memejamkan matanya. Ia belum mau bangun dari tidurnya. Terlebih lagi pagi ini ia tak mau memperdulikan teriakan Jae Mi, Ibunya sendiri.

“Kau ingin Mom kembali menyita ponselmu?” ucap Jae Mi seraya menyeret bantal yang tengah menyanggah kepala Sean dan berhasil membuat pria kecil ini mengerutkan dahinya kesal.

“Why you always threatens me?” ucap Sean dengan nada yang sedikit meninggi.

Jae Mi dibuat terdiam, ia melirik kearah Sean dengan mata kosong. Baru kali ini Sean berani berucap padanya dengan cara yang seperti itu.

“I just wont you be a goodboy, Sean!” ucap Jae Mi yang menjatuhkan bantal dari tangannya keatas lantai dan bergegas pergi meninggalkan kamar Sean.

“Ahh, Sh*t!!” keluh Sean yang sadar bahwa ia telah berhasil membuat ibunya marah.

15 tahun lalu Jae Mi berhasil membawa bayi laki-lakinya ke London. Ia memilih untuk meninggalkan kota Seoul dengan berbagai kemelut yang menyeretnya meskipun itu bukanlah masalah pribadinya. Disinilah kini ia berada. Hidup berdua dengan putra satu-satunya yang ia miliki.

Sean kini telah terlihat rapih dengan dengan kaos polosnya yang berwarna hitam serta sebuah topi yang tengah ia gunakan. Sekarang ia telah siap untuk berangkat sekolah.

Pemuda ini melangkahkan kakinya menuju dapur untuk sekedar mengisi perutnya yang pagi ini masih terasa sangat kosong karna tadi malam ia lupa untuk makan.

Sean tengah melihat Ibunya yang sedang sibuk membereskan sebuah tas coklat. Ia tau, sebentar lagi sang Ibu akan segera berangkat kerja.

Sementara dimeja makan terlihat ada sepiring roti panggang dan segelas susu yang sudah Jae Mi siapkan untuk Sean.

“I’m apologize, Mom!” ucap Sean yang kini berdiri tak jauh dari Jae Mi. Ia tengah berusaha meminta maaf atas kesalahannya tadi.

“No prob” ucap Jae Mi tanpa menatap Sean terlebih dahulu. Tangan Jae Mi sudah memegang kunci mobil serta tas selendangnya telah tertantung dipundak kanannya. Jae Mi akan segera berangkat kerja.

“May I go to school with you?” tanya Sean. Ternyata ia tak mau pergi sekolah dengan menggunakan bus sekolah.

Jae Mi terdiam, kini ia menatap wajah Sean yang sedikit terlihat merasa bersalah.

“Let me finish my breakfast.” ujar Sean.

Jae Mi menghembuskan nafasnya. Ia menarik sebuah kursi lalu duduk menemani Sean menghabiskan sarapannya terlebih dahulu sebelum mereka pergi bersama.

Hening. Sean sadar bahwa ia selalu membuat Ibunya marah setiap pagi karna selalu susah dibangunkan, namun untuk kali ini ia merasa ia telah membuat kesalahan fatal dengan membentak Ibunya sendiri.

“Would you come on my graduation?” tanya Sean mencoba keluar dari keheningan pagi ini.

“I promised you.” jawab Jae Mi.

“After that we’ll move to Seoul, right?”

Jae Mi terdiam.

“You also promised for that.” Sean yang kini menatap Jae Mi.

“Okay, I lost.” ucap Jae Mi.

Sean tersenyum, dan tanpa Jae Mi sadari ia pun juga ikut tersenyum karna ulah pria kecilnya ini.

Suasana semakin mencair saat Jae Mi dan Sean asik mengobrol didalam mobil seraya mendengarkan beberapa lagu yang tengah diputar diradio.

Hari ini adalah hari terakhir Sean ujian. Jadi tak salah jika ditangan Sean terlihat sebuah buku yang sedari tadi tengah ia coba hafalkan. Namun nihil, perbincangan pagi ini dengan sang Ibu terlihat lebih mengasikan dibandingkan dengan isi tulisan pada buku miliknya.

“Take care, Sean! Wish you luck!” ucap Jae Mi tersenyum saat melihat Sean akan segera turun dari dalam mobil karna mereka telah sampai didepan sekolah.

“Thanks, Mom..” ucap Sean. Kali ini Sean sedikit ragu untuk segera keluar dari dalam mobil, karna ada sesuatu yang belum tersampaikan pada ibunya.

“Why?” tanya Jae Mi.

“Mom.. I just want to met with dad, even just once.”

“Love you, Mom!” ucap Sean yang langsung mencium pipi Jae Mi dan segera keluar dari dalam mobil bergegas pergi menuju halamanan sekolah.

Jae Mi hanya tersenyum. Ia memang mendidik Sean untuk tak membenci ayahnya meski sedari kecil mereka tak hidup bersama.

“Sean?” tanya Jae Ra.

“Ya. Kembaranmu adalah laki-laki. Appa yakin wajahnya setampan Appa.” ucap Sehun dengan penuh percaya diri.

“Appa jelek.” ucap Jae Ra seraya melirik sang ayah.

“Lalu apa kabar saudara kembarmu?”

Jae Ra tertawa karna ulah Sehun. Lelaki ini memang sangat mahir mencairkan suasana yang melibatkan hati putrinya.

“Appa sudah pernah bertemu dengannya?”

“Terakhir appa melihat Sean saat umurnya baru satu hari. Dia sangat tampan seperti appa.”

Kali ini Jae Ra hanya cukup tersenyum menanggapi ucapan Sehun. “Aku ingin bertemu dengan mereka berdua, Appa!”

Sehun terdiam, lalu kembali tersenyum “Appa juga, mungkin Hye Ra Omma juga. Tinggal menunggu waktu yang tepat, Honey!”

“Ku harap secepatnya!” ucap Jae Ra yang langsung memeluk tubuh Sehun.

Appa sudah lebih dulu mengharapkan itu dari 15 tahun yang lalu, ucap batin Sehun.

“Ya, Appa juga berharap seperti itu.”ucap Sehun seraya kembali mengelus kepala Jae Ra.

Kini penyesalan Sehun atas kejadian 15 tahun lalu kembali membuat luka batinnya menjadi semakin perih saat mendengar bahwa putrinya ingin segera berjumpa dengan sang Ibu dan saudara kembarnya. Sehun hanya terdiam membakas pelukan Jae Ra. Setidaknya dekapan dari tubuh kecil Jae Ra sedikit membuat dirinya tenang atas penyesalanya.

“Baiklah, kita berbincang lagi lain kali. Sekarang waktunya kau tidur! Appa tak mau kau pergi tanpa menghabiskan sarapanmu hanya karna kau takut telat datang ke sekolah lagi!” keluh Sehun. Jae Ra melepaskan pelukannya dan langsung menatap Sehun.

Ya, Jae Ra memang selalu punya masalah saat pagi, ia hanya akan memakan sesendok santapan sarapannya lalu bergegas pergi karna takut terlambat sekolah. Ini semua karna gadis itu terlalu susah untuk bangun pagi.

“Okay, besok pagi aku akan bangun lebih awal! Aku akan menghabiskan sarapanku dengan baik!”

“Appa pegang janjimu!” ucap Sehun diikuti anggukan serta senyum Jae Ra.

“Selamat malam, Honey!” ucap Sehun yang langsung mencium kening Jae Ra dan bergegas pergi untuk mempersilahkan putri kecilnya beristirahat.

“Selamat malam, Appa!” Jae Ra.

-To Be Continue-

Note: Makasih buat yang masih setia nungguin sekuelnya ‘The Wedding’, dan ini lah ‘After The Wedding’, Yeeee..

Makasih juga buat Fidela atas rekomendasi nama ‘SEAN’ nya.. aku suka banget, iyaa keren huhuhu..

Ok, sampe ketemu di next part yaa 🙂

Jangan lupa tinggalkan komentarr.. hehehe

*sumpah aku semangat banget sama After The Wedding ini. Bakal begitu banyak kejutan soalnya #Gaknanyajuga 😀

Iklan

19 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 1)

  1. Happy ending akan di tunggu tunggu pastinya.
    Makasih ya kak udah nepati janji lanjutin the wedding menjadi after the wedding.
    Di tunggu lanjutannya
    Aku yakin kk author punya happy ending buat mereka.
    Aku selalu penasaraaaaannnn.

    Fighting ☺

  2. Maaf bukan karna ceritannya jelek thor. Ini bagus kokk… hanya masalahnya aku takut kalo baca kayak gini2. Dulu udah pernah baca salah satu chapter dan aku jadi ngarasa sakit ati banget. Jadi biar gak parah hati ini jadi aku gak baca lagi. Karena gak tahan mian thor😢😢😊

  3. Jujur aku dulu duka takut kalo mau baca ff the wedding makanya sebelum baca aku lebih milih baca2 komentarnya dulu ketimbang cerita wkwk takut kalo hyera dapetin hal yg lebih nyakitin lg, gimanapun aku kan cewe jadi ngeri aja rasanya ngebayangin penderitaan hyera. Semoga aja ending nya memuaskan, ga ampe ngerusak hubungan yg udah terbentuk dr lama /apa ini/ wkwk

  4. maaf tapi aku memutuskan untuk tidak lanjut membaca ff ini, di season sebelumnya (The Wedding) saya terlalu mendapat banyak luka (in Hye Ra side). saya tidak mau kembali mendapait luka tersebut. terlalu takut menghadapi fakta bahwa jaemi akan kembali ke sehun.
    maaf saya terlalu dramatis. tapi itu keputusanku. annyeong~ bye bye

    • Halo Rara. Huhu sedih nihh.. Emang gak penasaran sama jalan cerita ‘After The Wedding’? Seru loh.. Gak penasaran juga sama Ending nya? Bakalan banyak kejutan ko, gak bakalan terlalu menyakitkan untuk dibaca (sampe ending) :).

      Tapi jika memang itu keputusan kamu, silahkan.. Aku sebagai author hanya berusaha menghargai.

      Have a nice day, ya, Rara.. 🙂
      Terimakasih udah sempet baca The Weddingnya. 🙂

      WhiteB.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s