[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 7)

LIT2.jpg

Title                 : Love in Time [Chapter 7]

Author             : Ariana Kim

Cast                 : Kim Ara

Kim Jongin

Oh Sehun

Park Hana

Genre              : Family, Romance, Angst, School Life

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary         : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar? Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer       : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. Hargai kerja keras penulis ☺ FF ini pernah dipost di blog pribadi author.

HAPPY READING ☺

.

***

.

“Semakin aku berpikir, semakin aku mengerti jika kehidupan tidak pernah sesuai dengan apa yang aku pikirkan…”

.

***

.

Chapter 7

“Gwaenchana?”

Ara tidak mampu menjawab. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan apakah penglihatannya ini benar atau salah. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, terlebih saat jarak antara dirinya dan lelaki itu begitu dekat. Pikiran Ara melayang, ia bingung. Kenapa dalam sehari ia harus berhadapan dengan Oh Sehun???

Lamunan Ara terhenti saat ia merasakan lengannya disentuh oleh seseorang. Buru-buru Ara menjauhkan dirinya dari Sehun dan merapikan seragamnya yang sedikit kusut. Tanpa sadar matanya berpapasan dengan Jihyun dan ia cukup terkejut melihat ada gadis itu di dekatnya. Hei, kenapa gadis itu bisa ada disana?

“Kau tidak apa-apa, ‘kan?” Sehun kembali bertanya, membuat Ara menoleh padanya.

“Eoh, ak-aku baik-baik saja.” Jawab Ara cepat. Ia ingin segera pergi dari sana karena merasa terganggu dengan Jihyun yang menatapnya penuh dengan tatapan – seperti penuh kebencian. Entahlah.

“Hei,” Sehun menahan tangan Ara yang hendak pergi dan menunjukkan sesuatu, “Bukumu, kau hampir melupakannya.” Sambungnya.

Buru-buru Ara mengambilnya tanpa susah payah mengucapkan terimakasih dan melangkah pergi dari sana. Bisa ia rasakan tatapan tajam dari Jihyun yang hampir menembus punggungnya. Ia benar-benar tidak suka ditatap seperti itu karena ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Ia hanya tidak sengaja menabrak Sehun dan hampir jatuh hingga terjadi sedikit skinship yang tidak diharapkannya. Oh, Ara tahu. Jihyun pasti merasa cemburu melihatmya karena ia masih mengharapkan Sehun untuk kembali padanya. Ugh, mengingat surat Jihyun tempo hari membuatnya kesal. Ia tidak mau berurusan dengan gadis itu lagi, terlebih setelah semua kebenaran yang ia saksikan waktu itu.

“Sehun…”

Jihyun menyentuh punggung lelaki itu saat dirasa perhatian Sehun terus tertuju pada Ara yang sudah menghilang ke dalam kelas. Ia merasa kesal. Gara-gara gadis itu melintas diantara mereka dan berlagak mencari perhatian pada Sehun, percakapannya harus terhenti dan kini Sehun yang sudah susah payah ia cari sejak tadi malah tidak lagi memperhatikannya.

“Yak, Oh Sehun!” Panggilnya dengan meninggikan sedikit volume suaranya.

“Oh, kenapa?” Sehun akhirnya menoleh pada Jihyun.

“Cih..” Jihyun mencibir sambil memutar bola matanya dengan kesal. Lelaki ini benar-benar… “Aku menunggu jawabanmu, Oh Sehun.” Ia menegaskan sekali lagi.

Sehun terdiam cukup lama. Ia bingung harus menjawab apa. “Ehm… aku harus memikirkannya dulu.” Jawabnya dan tak berniat memperpanjang percakapannya dengan Jihyun.

“Hei, hubungi aku jika kau sudah memutuskan.” Teriak Jihyun saat melihat Sehun pergi menjauhinya. Sepeninggalan lelaki itu, Jihyun menoleh kearah perginya Ara. Ia menatapnya penuh rasa kebencian seolah Ara memang berdiri di sana dan tengah menatapnya juga, “Kim Ara.. aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan semuanya.”

.

.

***

.

.

Jongin menguap beberapa kali. Dilihatnya jam yang menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit. Ia mendesah. Jam pulang masih sangat lama dan Jongin sudah mengantuk bukan main. Ia bahkan tidak bisa menahan kantuknya dan beberapa kali matanya terpejam tanpa keinginannya. Matanya melihat sekeliling, dimana teman-temannya tengah sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka. Jam terakhir adalah pelajaran bahasa Inggris dan kebetulan guru yang mengampu sedang berhalangan hadir jadilah beliau memberikan tugas untuk dikerjakan siswanya. Jongin sendiri sudah selesai mengerjakan sejak lima belas menit yang lalu. Harus Jongin akui jika bahasa Inggris adalah satu-satunya pelajaran yang ia kuasai, itupun karena ia pernah bersekolah di Kanada.

Hampir saja Jongin merebahkan kepalanya ke atas meja saat ponsel yang ia letakkan di laci meja bergetar. Dengan malas, Jongin mengambil ponsel itu dan segera membacanya. Itu adalah pesan dari grup chatting teman-teman SMP-nya dan ia penasaran mengingat sudah cukup lama grup itu sepi. Jongin membacanya dan nyaris terjungkal ke belakang saking terkejutnya.

“Pesta di rumah Shin Nahyun??” Jongin mengulang lagi pesan yang baru diterimanya. Ia membacanya kembali dan baru paham apa maksudnya.

“Kau sudah membacanya?” Sehun nampak menoleh pada Jongin dengan ponsel di tangannya. Jongin mengangguk tanda ia mengerti kemana arah pembicaraan lelaki itu.

“Bukankah Nahyun itu mantan pacarmu?” Dari arah belakang Yian nampak bersuara. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, tepat di belakang punggung Jongin.

“Tumben sekali gadis itu mengundangku ke pestanya.” Gumam Jongin sambil terus menatap layar ponselnya.

“Katanya dia akan pindah ke New York?” Sehun menimpali, dengan tatapan yang juga tertuju pada ponsel, membaca seluruh komentar teman-temannya.

Jongin menatap ponsel itu dalam diam.

‘Kudengar keluarganya akan pindah ke New York bulan depan.’

‘Hebat sekali dia.’

‘Aku penasaran apakah Nahyun masih tetap cantik seperti dulu?’

‘Tentu saja. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di butik Ibuku kemarin dan apa kalian tahu dia bersama siapa? Dia bersama seorang lelaki berwajah blasteran.’

‘Heol, jadi dia sudah punya pengganti Jongin?’

‘Katanya dia hanya mencintai Jongin selamanya.’

‘Hei, untuk apa mengharapkan cinta dari lelaki yang sudah mencampakkanmu.’

‘Yak! Yak! Kalian harus tahu. Ternyata itu adalah pesta pertunangan Nahyun.’

‘Heol, daebak!!’

‘Aku penasaran bagaimana reaksi Jongin setelah tahu jika gadis yang sudah ia campakkan akan bertunangan dengan lelaki yang 10x lebih hebat darinya.’

‘Jongin bodoh.’

‘Dia pasti akan patah hati dan menangis di tempat.’

‘Ya, kita lihat saja.’

“Sialan!!” Jongin mendesis sambil melempar ponselnya ke atas meja, “Apa mereka tidak tahu jika aku juga membacanya?”

Terlihat Sehun dan Yian tertawa setelah membaca komentar di grup chatting tersebut. Sehun menepuk punggung Jongin dan berusaha menenangkannya, “Tenanglah, Sobat. Kau harus membuktikan jika kau tidak seburuk itu.”

Lagi-lagi Jongin mendengus, “Bagaimana cara membuktikannya? Pacar saja aku tidak punya.” Ucapnya membuat Yian tertawa.

“Hahaha.. malang sekali hidupmu. Aku sih tidak berniat untuk datang ke pesta itu.” Ucap Yian, “terlebih aku juga tidak terlalu mengenal Nahyun.”

“Aku juga tidak akan datang.” Jongin akhirnya memutuskan. Ia kembali merebahkan kepalanya ke atas meja.

“Yak! Kau harus datang dan melihatnya menyesal telah memilih pria lain selain dirimu.” Sehun mengompori, membuat Jongin kesal.

“Kalau begitu, carikan aku gadis yang seratus kali lebih cantik dari Nahyun!!” Katanya sambil menggebrak meja dan seisi kelas langsung menatapnya dengan heran.

Jongin menyenderkan punggungnya pada kursinya dan melipat kedua tangannya di dada, seolah tak peduli dengan sekitarnya. “Masalahnya tidak ada gadis yang lebih baik dari Nahyun. Dia itu pintar, cantik, baik hati dan kaya.”

“Hei, bagaimana kalau Kim Ara saja? Kim Ara dari kelas 2-A.” celetuk Baekhyun yang sejak tadi hanya diam. Baik Sehun, Jongin maupun Yian, sama-sama terkejut dan menatap Baekhyun penuh tanda tanya. “Kim Ara bahkan lebih cantik dari Nahyun. Sayangnya dia cukup galak dan mengerikan.” Sambungnya.

.

.

***

.

.

Hana merapikan buku-bukunya yang berserakan diatas meja saat bel pulang berbunyi. Dilihatnya Ara yang telah selesai mengemasi barang-barangnya dan berjalan keluar dari kelas. Dengan sedikit tergesa-gesa, Hana memasukkan bukunya asal dan langsung mengejar gadis itu yang belum cukup jauh darinya. Susah payah ia berlari hingga akhirnya ia berhasil menyejajarkan langkahnya dengan langkah Ara.

“Kim Ara, kenapa buru-buru sekali?” Hana langsung bertanya, membuat Ara yang sejak tadi terdiam menoleh padanya. Ara menatap Hana sejenak.

“Ini sudah waktunya pulang dan aku memang harus pulang sekarang.” Jawab Ara ringan, dan terus melanjutkan langkahnya.

Hana merasa kikuk melihat perlakuan Ara padanya, “Biasanya kau selalu menungguku.” Katanya setelah memilah kata yang tepat untuk dikatakan.

Tiba-tiba Ara menghentikan langkahnya, ia menatap Hana dengan pandangan yang sulit diartikan. “Sejak kapan kita jadi sedekat itu?” tanyanya, membuat Hana terkejut.

Hei, bukankah mereka sudah berteman?

“Oh, mobilku sudah datang.” Ucap Ara setelah cukup lama keheningan diantara keduanya. Ara hendak masuk ke dalam mobil, namun gerakannya terhenti saat sadar jika Hana sejak tadi berdiri di sampingnya, “Masuklah, aku akan mengantarmu pulang.” Tawarnya.

Hana bimbang. Ia ingin menolak tawaran Ara, namun ingatannya kembali saat gadis itu memintanya untuk pulang bersamanya dengan menaiki mobilnya namun Hana menolaknya dan justru mengajaknya untuk naik bus. Jika ia menolaknya lagi, Hana takut Ara akan tersinggung dan tak menanggap serius pertemanan mereka.

“Baiklah.” Akhirnya Hana menjawab dan ia pun duduk di samping Ara.

.

.

***

.

.

Malam harinya Jongin memutuskan untuk menanyakan langsung pada Ara. Ia sudah memikirkan usul Baekhyun untuk menjadikan Ara sebagai pacar pura-puranya. Awalnya ia pikir itu adalah hal paling gila yang tidak akan pernah ingin ia lakukan seumur hidup. Namun, mengingat keadaannya sekarang, ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin dibuat malu hanya karena ketahuan tidak memiliki pacar setelah putus dengan Nahyun beberapa tahun yang lalu. Yah, harus Jongin akui jika ia hanya pernah sekali pacaran – sama seperti Sehun. Walaupun kebanyakan siswi di sekolahnya menjulukinya sebagai ‘badboy’, sebenarnya ia tidak pernah terlibat hubungan dengan seorang gadis manapun setelah ia putus dengan Nahyun. Gadis-gadis itu menjulukinya demikian hanya karena ia sering memberikan harapan palsu pada mereka.

Ya, Jongin dengan ketampanan, kharisma dan kemampuannya bermain basket, tentu saja membuat para gadis akan langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Banyak gadis yang menyatakan cinta padanya dan memintanya untuk menjadi pacar, namun selalu Jongin abaikan. Jongin tidak menolaknya, ia hanya diam dan menunggu sampai gadis-gadis itu bosan dan menyerah dengan sendirinya. Sudah puluhan hadiah yang ia terima dari gadis-gadis itu namun berakhir dengan ia berikan pada setiap pelayan di rumahnya. Jongin tidak pernah ingin menyimpannya karena ia memang tidak mengharapkan hadiah dari siapapun. Dengan uang yang keluarganya miliki, ia bisa membeli hadiah itu bahkan beserta tokonya.

“Ara, kau sudah tidur?” Jongin bersuara sebelum membuka pintu.

Terdengar jawaban dari dalam, “Belum. Masuklah.”

Mendengar jawaban itu, Jongin membuka pintu dan melangkah masuk. Matanya langsung mendapati Ara yang tengah berkutat dengan buku-buku tebal dengan kaca mata bulat besar yang bertengger di hidungnya. Jongin melirik jam dinding di atas nakas. Pukul sepuluh lebih dua puluh menit. Dalam hati Jongin berseru. Ara adalah gadis ajaib. Bagaimana bisa ia masih belajar pada jam selarut ini?

“Ada apa?” Ara bertanya tanpa mengalihkan tatapan matanya pada buku.

Jongin mendudukkan dirinya pada ranjang tak jauh dari tempat Ara duduk. “Kenapa jam segini belum tidur? Biasanya kau tidur jam sembilan malam.” tanya Jongin, mencoba berbasa-basi.

Ara menoleh dan melepaskan kaca matanya. “Langsung saja pada intinya.” Desaknya tak sabaran. Ia tahu persis Jongin pasti memiliki tujuan tertentu, karena tidak biasanya Jongin akan mengunjungi kamarnya malam-malam begini.

“Baiklah.” Jongin mengalah, ia menatap Ara serius. “Kau ada waktu Sabtu malam ini?” tanyanya.

Ara mengerutkan keningnya, ia berpikir sebentar. “Memangnya kenapa dengan Sabtu malam? Kau ingin mengajakku belanja ke mall?” tebak Ara.

Dengan cepat Jongin menggeleng. “Tidak. Aku ingin meminta tolong padamu.”

“Mwo?”

“Tolong temani aku ke pesta pertunangan mantan pacarku.” Jongin mengucapkan permintaannya dengan cepat, tanpa keraguan.

Raut wajah Ara langsung berubah begitu mendengar ucapan Jongin. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan sejuta pertanyaan di wajahnya. “Aku tidak berniat mencampuri urusan pribadimu.” Tegasnya. “Lagipula, gadis mana yang bertunangan di usia tujuh belas tahun?”

“Dia pacarku saat SMP. Aku tidak ingin datang ke pesta itu sendirian dan mempermalukan diriku sendiri.” Jongin membela diri.

“Jadi, kau ingin menjadikanku sebagai pacar pura-puramu, begitu?” tebak Ara dan langsung dijawab anggukan oleh Jongin. “Sayang sekali, aku tidak berminat.” Sambungnya.

Jongin mendesah kecewa. “Tolonglah, Ara. Kali ini saja. Tidak akan ada yang mengenalimu di pesta itu. Percayalah padaku.” Katanya setengah memohon.

Ara nampak tak bersimpati sedikitpun walaupun raut wajah Jongin sudah memelas. Ia bangkit dari kursinya dan berdiri tepat di depan Jongin. “Uruslah masalahmu sendiri, Jong. Aku tidak tertarik dengan kehidupanmu sama sekali.” Katanya, “Keluarlah, aku ingin tidur.” Sambungnya lalu ia berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil baju baby doll yang biasa ia kenakan saat tidur.

Jongin menurut walaupun setengah hati ia masih ingin membujuk Ara. Setelah Jongin keluar dari kamar Ara, dengan cepat gadis itu menutup pintu dan menguncinya dari dalam, membuat Jongin yang masih berjarak sepuluh inci dari pintu terkejut. Bagaimana gadis itu bisa memperlakukan saudara kembarnya sekasar ini? Jongin tidak habis pikir. Ara memang tidak akan pernah berubah sama sekali. Ia merasa menyesal telah meminta tolong pada gadis keras kepala itu.

Berjalan menuju kamarnya, Jongin mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Apa ia tidak usah datang ke pesta itu saja? Tapi jika ia tidak datang, berita akan cepat menyebar dan image-nya akan langsung turun saat gadis-gadis itu tahu jika ia hanyalah seorang pecundang yang tidak berani datang ke pesta pertunangan mantan pacarnya hanya karena ia tidak memiliki seorang gadis untuk dibawa. Mau ditaruh dimana wajah tampan Jongin??

.

.

***

.

.

Bel pergantian jam berbunyi. Ara membereskan buku-buku dan peralatan menulisnya yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam laci. Pelajaran selanjutnya adalah biologi dan beberapa siswa di kelasnya nampak sudah mulai keluar menuju laboratorium, tempat kelas biologi berlangsung. Ara berjalan beriringan dengan Hana yang nampak diam hari ini. Bahkan dalam sehari ini ia tidak berkomunikasi dengan Hana selain hanya bertegur sapa saat bertemu di gerbang tadi pagi. Tapi Ara tidak memusingkannya. Ia justru senang Hana tidak lagi mengganggunya dengan hal-hal aneh yang bahkan ia tertarik sama sekali.

Ara masuk ke dalam laboratorium dan memilih duduk di samping Hana. Ia mengamati sekeliling dan melihat kelas lain juga masuk ke ruangan itu. Dilihatnya jadwal yang tertempel pada dinding lab dan ia baru tahu jika pelajaran biologi digabungkan antara kelas 2-A dengan 2-C. Ara hanya ber-oh ria dalam hati dan meletakkan buku yang sudah ia bawa ke atas meja.

Pembelajaran di laboratorium itu dibentuk melingkar dimana guru berada di tengah-tengah dengan murid-murid yang mengelilinginya. Itu cukup efektif sehingga guru bisa melihat siswanya dari sudut manapun dan memastikan semua siswa fokus pada materi yang tengah disampaikan. Namun perhatian Ara teralih saat tak sengaja matanya bertemu dengan tatapan Sehun yang duduk di samping Jongin. Ia menghentikan kegiatan menulisnya dan menatap lelaki itu yang duduk di seberangnya.

Ia memiringkan kepalanya agar bisa melihat lelaki itu lebih jelas lagi. Hampir sepuluh detik Ara menatap Sehun dan lelaki itu sama sekali tak memindahkan tatapannya pada Ara, membuat Ara bingung. Ara bisa berasumsi jika sejak tadi Sehun menatapnya dan ia sama sekali tidak mengelaknya karena tidak bergerak sekalipun saat Ara memergokinya. Ara menggelengkan kepalanya dan saat itu matanya bertemu pandang dengan Jongin. Lelaki itu menatapnya dengan kening berkerut, sepertinya Jongin memergoki Ara yang tengah menatap ke arahnya. Ara langsung mengalihkan pandangannya, ia kembali fokus pada pelajaran dan melanjutkan kegiatan menulisnya.

Hingga jam pelajaran usai, Ara masih bisa merasakan tatapan Sehun yang terus tertuju padanya hingga ia merasa risih. Dirapikannya bukunya dan ia memastikan tak ada barangnya yang tertinggal sebelum meninggalkan laboratorium. Namun sebuah tangan langsung menahan lengannya yang hendak beranjak keluar dan menariknya ke sudut ruangan yang agak tertutup. Ara memekik namun dengan cepat mulutnya ditutup oleh sebuah tangan.

Kesadaran Ara langsung mengambil alih saat ia melihat wajah Sehun yang begitu dekat dengan wajahnya. Ia melirik sekelilng dan laboratorium sudah sepi. Pandangannya beralih pada Sehun yang mulai melepaskan tangannya dari mulut Ara.

“Apa yang kau lakukan?!!” Hardik Ara begitu ia bisa bernafas dengan lega. Didorongnya dada bidang Sehun hingga lelaki itu mundur beberapa langkah.

Bukannya menjawab, Sehun hanya diam sambil terus menatap Ara. Ia terlihat tidak berkedip sama sekali dan hal itu membuat Ara bingung. Ara merasa tengah dipermainkan sekarang dan ia berniat untuk pergi namun lagi-lagi Sehun mencegahnya. Dihembuskannya nafasnya kasar hingga helai rambut yang menutupi sedikit wajahnya bergerak terkena hembusan nafasnya.

“Sebenarnya apa yang-“

CUUUP

Mata Ara sukses membulat sempurna saat merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirnya. Ia membeku. Tubuhnya kaku dan otaknya tidak dapat bekerja dengan baik. Wajahnya dengan wajah Sehun teramat dekat hingga ia bisa melihat betapa putih dan mulusnya wajah lelaki itu. Perlahan ia merasakan pergerakan di bibirnya. Ara terkejut setengah mati mendapati ia sedang berciuman dengan lelaki itu. Bibir lelaki itu bergerak dengan lembut melumat bibirnya, berusaha mencecap setiap inci dari bibirnya. Ciuman itu begitu lembut dan memabukkan hingga Ara hampir terhanyut karenanya. Buru-buru ia mengembalikan akal sehatnya dan mendorong lelaki itu sekuat tenaga.

PLAKK

Sebuah tamparan yang cukup keras mengenai pipi Sehun hingga menimbulkan bekas kemerahan. Ara menatap lelaki itu nyalang. Pandangannya menyiratkan emosi yang meluap-luap sedang Sehun nampak tenang, seolah sudah mengetahui jika hal itu akan terjadi padanya.

“Brengsek! Berani sekali kau menciumku!” Bentak Ara setengah berteriak. Ia tidak peduli jika ada yang mendengar umpatannya.

“Aku tidak akan menyesal karena sudah menciummu.” Sehun akhirnya bersuara setelah keheningan yang cukup lama.

“Apa kau bilang? Kau benar-benar lelaki brengsek, Oh Sehun!!”

Mata Ara sudah memerah karena menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Ingin sekali ia memukuli lelaki yang telah mengambil ciuman pertamanya itu hingga mati. Ia merasa marah, malu dan terhina di saat yang bersamaan. Bagaimana bisa lelaki yang tidak ia kenal dan tidak memiliki hubungan apapun berani mencuri ciuman darinya?

“Aku minta maaf. Tapi sungguh, aku tidak bisa menahannya hanya dengan melihatmu, Ara.”

Ara terdiam mendengarnya. Apa maksudnya lelaki itu? Apakah Sehun berpikir Ara adalah gadis gampangan yang bisa cium sesuka hati? Memangnya Ara ini pelacur apa? Ia tidak sedang ingin bercanda dengan lelaki itu.

“Kau gila! Aku bahkan tidak mengenalmu dan kau menciumku semudah itu?” Ara masih tidak habis pikir. Lebih baik ia pergi dari sana dan mendinginkan kepalanya sebelum ia meledak seperti bom. “Ku harap ini yang pertama dan terakhir kalinya.” Sambungnya lalu beranjak pergi.

“Sebenarnya ini yang kedua kali.”

Langkah kaki Ara terhenti. Ia yang hampir menuju pintu keluar mendadak berhenti dan menoleh, menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Yang kedua kali?”

.

.

***

.

.

“Mau ke kantin bersamaku?”

Hana bertanya pada Ara yang tengah bermain dengan ponselnya saat bel istirahat berbunyi. Ara mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan menatap Hana sebentar.

“Tidak. Aku bawa bekal.” Ucapnya dan kembali berkutat dengan ponselnya.

“Kau tidak mau menemaniku? Kali ini aku yang traktir.” Hana mencoba membujuk Ara.

“Memangnya kau pernah mentraktirmu?” tanya Ara bingung. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada Hana.

Hana nampak kebingungan, “Hari itu ‘kan kau mentraktirku, hari saat aku terlibat masalah dengan Jongin.” Jawabnya sambil mengingat-ingat kejadian yang sama sekali ingin ia lupakan.

Ara juga nampak mengingat-ingat dan kini ia paham maksud perkataan Hana. Kejadian yang dimaksud adalah saat Hana tidak sengaja menabraknya dan menumpahkan makanannya ke seragam yang dipakainya. Itu saat Ara masih berada di tubuh Jongin.

“Oh itu. Kau tidak perlu mentraktirku. Aku memang ingin membelikanmu makanan.” Jawab Ara, berpura-pura bahwa memang ia yang melakukannya saat itu. Tidak mungkin ‘kan ia berkata jika ia tidak pernah mentraktir Hana. Bisa-bisa gadis itu curiga padanya.

“Kenapa kau berpikir untuk membelikanku makanan waktu itu?” Hana bertanya, terkesan seperti menginterogasi.

“Apa aku tidak boleh melakukannya? Kau ‘kan temanku.” Jawab Ara sedikit ragu saat mengucapkan kata ‘teman’. Ia hanya sedang meneruskan apa yang Jongin lakukan pada Hana dan mengacaukan hidupnya dengan membuatnya berteman dengan gadis itu padahal jelas-jelas ia sudah menegaskan tidak ingin berteman dengan siapapun.

“Benar aku adalah temanmu?” Hana terus mendesak Ara dengan berbagai pertanyaan. Sebenarnya ia bertanya demikian hanya untuk memastikan apakah kecurigaannya itu benar. Ia hanya ingin mengetes Ara, dan meyakinkan dirinya bahwa ia hanya salah lihat saja. Sebenarnya ia tidak yakin jika Ara yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Ara yang beberapa hari lalu menghabiskan waktu bersamanya.

“Tentu saja.” Ara berbicara dengan nada penuh keyakinan, lebih kepada agar Hana yakin seratus persen dengan ucapannya. “Aku yang ingin berteman denganmu. Jadi bagaimana mungkin aku melupakan hal itu?”

Mendengar hal itu, raut wajah Hana langsung berubah. Dan dengan itu Hana yakin jika Ara yang sekarang bukanlah Ara yang ia kenal beberapa hari yang lalu. Walaupun ia bingung bagaimana bisa seseorang berubah hanya dalam hitungan hari ini? Apa mungkin Ara tiba-tiba berubah menjadi orang lain? Tapi bagaimana mungkin? Rasanya tidak nyata dan tidak masuk akal sama sekali.

“Lalu, kau ingat apa yang kita makan saat pertama kali kita ke kantin bersama?” Hana masih ingin terus menguji Ara.

Ara berpikir. Jujur ia bingung harus menjawab apa karena bukan dirinya yang melalui semua dengan Hana. Ingin ia bertanya pada Jongin, tapi bagaimana mungkin? Itu hanya akan menjelaskan semuanya jika ia bukanlah Ara yang waktu itu.

“Ehm… Burger?” Tebak Ara dan jawabannya seratus persen salah.

“Kita makan tteokbokki.” Ralat Hana dan membuat Ara mematung di tempat duduknya. Hana mendekati Ara dan menghapus sedikit jarak diantara mereka. “Kim Ara, sebenarnya kau ini siapa?”

“Eoh?” Ara tidak mampu menjawab. Ia sudah gagal meyakinkan Hana dan kini gadis itu pasti curiga padanya. Pada situasi seperti ini, apa yang harus ia lakukan?

“Hei, Kim Ara.”

Perhatian Ara dan Hana langsung tertuju pada Jihyun yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka. Ara yang merasa dipanggil oleh gadis itu, menatap gadis itu dan menunggunya untuk berbicara.

“Kau tidak berniat mengacaukan urusanku ‘kan?” Jihyun langsung bertanya tanpa basa-basi. Ara menatapnya bingung. Tidak tahu maksud perkataan Jihyun.

“Jangan coba-coba untuk merebut Sehun dariku.” Jelas Jihyun.

Ara paham kemana arah pembicaraan Jihyun. Tapi setelah dipikir-pikir, ia tidak pernah berpikir untuk merebut Sehun apalagi berencana untuk merebut lelaki itu. Lagipula, Ara sama sekali tidak tertarik terlebih jika ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di laboratorium, membuatnya ingin mengutuk lelaki itu.

“Kenapa aku tidak boleh merebut Sehun? Memangnya dia milikmu?” Ara mencoba mengkonfrontasi Jihyun dan hasilnya gadis berwajah cukup cantik itu menggeram marah.

“Yak!! Kau benar-benar ingin cari masalah denganku??!!!” Jihyun berkata setengah membentak, membuat beberapa siswa lain yang masih di kelas menoleh ke arah mereka. Hana yang sejak tadi diam menyimak, menyuruh siswa itu untuk tidak menghiraukan mereka.

Ara tidak terintimidasi sama sekali dengan  bentakan Jihyun. Ia berdiri dan sengaja membusungkan dadanya sehingga terlihat jelas sekali  bahwa Ara jauh lebih tinggi dari Jihyun. “Kau yang duluan mencari masalah denganku, Han Jihyun.” Ucap Ara dengan penekanan di setiap katanya.

“Hei, kau yang merebut posisiku dan sekarang kau berniat merebut Sehun juga dariku?” Jihyun tidak terima. Ia masih tidak mau mengakui jika Ara sudah menggeser posisi peringkatnya yang selama ini ia pertahankan setengah menjadi. Ia tidak ikhlas berada di satu tingkat di bawah Ara.

“Itu bukan salahku.” Jawab Ara yakin. “Tapi apa kau tidak tahu jika kaulah yang lebih banyak merebut apa yang aku miliki?”

“Apa?” Jihyun bingung. “Aku baru mengenalmu di kelas dua dan kita tidak pernah terlibat apapun sebelumnya.” Sambungnya, belum mengerti sepenuhnya kemana arah pembicaraan Ara.

“Mana ada pencuri yang mau mengaku.” Ara memberikan tatapan matanya yang paling tajam pada Jihyun. “Kau yang sudah merebut semua mililkku, jadi harusnya tidak mengapa jika aku hanya merebut posisimu. Oh, aku jadi berpikir untuk merebut Oh Sehun juga darimu.” Sambungnya yang diakhiri dengan senyum miring.

“YAK!!!!”

.

.

***

.

.

Begitu sampai di rumah, Ara langsung mengunci dirinya di dalam kamar. Dilihatnya luka goresan di pipinya melalui cermin. Ia menyentuhnya dan sedikit meringis begitu masih merasakan sakit akibat luka itu. Mulutnya mengucapkan beberapa umpatan yang tertuju pada Jihyun. Gadis itu benar-benar menyebalkan. Ia sudah tidak takut lagi untuk meladeninya terlebih mereka sudah saling menjambak siang tadi akibat percekcokan yang dibilang tidak penting. Namun Ara senang karena ia berhasil membuat beberapa helai rambut Jihyun rontok dan mencakar lengan gadis itu walaupun dirinya juga terkena cakaran di pipinya.

Ara meraih handuk dan masuk ke kamar mandi berniat untuk berendam dan menenagkan diri. Ia benar-benar lelah dengan semua yang dialaminya di sekolah seharian ini. Setelah mandi dan berpakaian, Ara memutuskan untuk segera tidur tanpa makan malam terlebih dahulu. Namun suara ketukan di pintu membuatnya mau tak mau harus bangun karena itu adalah Neneknya.

Ia menyalakan lampu yang sebelumnya sudah ia matikan dan membuka pintu. Hal pertama yang ia lihat adalah Nenek yang berdiri disana dengan pakaian tidurnya, sepertinya Nenek juga sudah bersiap untuk tidur. Ara mempersilakan wanita paruh baya itu untuk masuk.

“Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu.” Ucap Nenek dan mendudukkan dirinya pada sofa kecil dekat jendela. Ara mengikutinya dan duduk di atas ranjangnya.

“Sepertinya hal yang penting.” Potong Ara. Ia paling tidak suka jika berbasa-basi sedangkan ada hal penting yang akan dikatakan.

“Ehm. Ini mengenai kondisimu. Kau sudah lebih baik?” Tanya Nenek. Ara mendadak bingung.

“Aku kenapa? Selama ini aku baik-baik saja.” Jawab Ara enteng. Ia menatap neneknya tanpa berkedip.

Nenek tampak ragu untuk mengatakannya. “Ini mengenai kondisi psikologismu. Aku ingin kau kembali seperti sebelumnya dan berniat menjadwalkan terapi untukmu.” Nenek mengutarakan niatnya. Ara diam menatapnya.

“Aku  baik-baik saja. Aku tidak butuh terapi atau apapun itu.” Ucap Ara cepat. Ia mengalihkan tatapannya ke lantai sebagai tanda ia tidak ingin bicara panjang lebar mengenai hal itu.

“Aku tidak butuh persetujuanmu, Ara. Aku hanya ingin memberitahumu dan ini jadwal terapimu.” Nenek bangkit dari duduknya dengan susah payah dan memberikan selembar kertas yang sejak tadi dipegangnya pada Ara. “Pastikan kau datang tepat waktu. Aku tidak mau uangku terbuang percuma.” Sambungnya dan melangkah keluar dari kamar Ara.

“Heol. Terapinya seminggu tiga kali?” Ara berseru sambil membaca jadwal terapi yang telah diatur oleh Neneknya. “Berapa banyak uang yang ia keluarkan? Kenapa membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting. Kurasa dia takut aku akan gila lagi.” Lirihnya seolah bicara pada dirinya sendiri. “Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau melakukannya.”

.

.

.

“Apa ini?” Jongin bertanya saat Ara memberikan selembar kertas padanya.

“Kau pasti yang melakukan ini ‘kan?” Tuduh Ara. Jongin membacanya dan ia tidak nampak terkejut sama sekali. Akhirnya Nenek mau menuruti permintaannya juga.

“Aku melakukan ini demi kebaikanmu.” Jongin membela diri dan membuat Ara mencubit lengan lelaki itu dengan kesal. “Aww.. sakit.”

“Siapa yang menyuruhmu melakukan itu? Aku sudah tidak butuh terapi lagi, Jong.” Ara menegaskan. “Suruh Nenek untuk membatalkannya.” Sambungnya.

Jongin tersenyum miring. Ia yang tengah asyik bermain PSP di ruang keluarga tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran Ara. Diletakkannya kertas itu asal dan ia bangkit berdiri. “Aku bisa melakukannya. Jika kau mau memenuhi permintaanku.” Tawar Jongin.

“Sial. Kau masih sangat menyebalkan.” Ara mengumpat sambil mengacak rambutnya yang sudah kusut.

“Hei, ini namanya timbal balik.” Jongin mengelak. Tiba-tiba ia berjalan mendekati Ara dan menunjukkan sesuatu di ponselnya. “Kau yakin tidak mau?”

Mata Ara hampir melompat dari tempatnya saat ia melihat apa yang ditunjukkan oleh Jongin. Dirinya terkejut setengah mati. Bagaimana bisa Jongin mendapatkan gambar itu? Itu adalah gambar paling memalukan. Ia merasa sangat malu tertangkap basah oleh Jongin tengah berciuman dengan Sehun. Dan yang membuatnya lebih malu lagi adalah bagaimana bisa ia pasrah saja saat lelaki sialan itu melakukan hal tersebut padanya? Ah, tidak! Ara bahkan sudah menampar lelaki itu.

“Darimana kau mendapatkan itu?” Tanya Ara, berusaha mengambil ponsel Jongin namun lelaki itu justru lebih cepat darinya.

“Ternyata adikku yang manis telah berani melakukan hal itu dengan seorang lelaki. Kau sudah tumbuh dewasa ternyata.” Kata Jongin, raut wajahnya dibuat sedih membuat Ara ingin melempari wajah Jongin dengan gelas yang kebetulan ada di atas meja.

“Yak! Hapus foto itu!!” Perintah Ara.

“Aku akan menghapusnya jika kau mau menuruti permintaanku. Jika tidak, aku akan menyebarkan ini  ke media sosial.” Ucap Jongin, memberikan peringatan.

“Sialan kau.” Ara mendesis. Ia menatap Jongin jengkel dan berpikir sebentar. Yah, mungkin ia harus menyerah dengan lelaki itu untuk kali ini. “Apa yang harus aku lakukan?”tanyanya setelah lama terdiam.

Senyum miring langsung tercetak di wajah Jongin begitu mendengar akhirnya Ara mau menyerah. “Kau hanya perlu menjadi pacar pura-puraku. Hanya tiga jam. Aku janji.” Ucap Jongin.

Ara mengangguk lemah, “Baiklah. Tapi kau harus membujuk Nenek untuk membatalkan terapiku.” Katanya mengajukan syarat.

“Tentu. Kim Jongin selalu menetapi janjinya.”

Dan dengan kalimat itulah, akhirnya Ara bersedia membantu Jongin walaupun dengan berat hati. Ia hanya tidak ingin ada orang lain yang tahu mengenai kejadian di laboratorium terutama jika ada yang melihat foto itu, Ara yakin dirinya akan tamat. Ia tidak mau kejadian buruk terulang lagi padanya dan untuk itulah sepertinya ia harus bisa mengambil hati orang lain mulai saat ini. Dimulai dari Jongin, tentunya.

.

.

.

TBC

.

.

Preview~

“Bukankah itu Kim Ara?”

“Oh Sehun, kenapa kau ada disini?”

“Jadi kau benar melakukannya. Berapa banyak kau dibayar, huh?”

“Kim Ara, siapa kau sebenarnya?”

“Halo, ini dengan Kim Jonghoon.”

“Sudah kubilang jika aku tidak mau melakukan terapi lagi!! Aku tidak gila, Nenek!!!”

.

Akhirnya chapter 7 selesai juga *usap keringet*. Minggu kemaren adalah minggu yang cukup berat karena aku barusan selesai UTS dan waktuku tersita habis untuk belajar. Bahkan aku gak cukup tidur karena harus belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dimana besoknya aku harus berangkat kerja dan sorenya langsung ngerjain soal UTS. Huft, minggu yang melelahkan akhirnya berlalu dan aku seneng bisa nyelesaiin chapter 7 juga. Makasih buat yang masih setia nungguin dan baca ffku. Jangan lupa kritik dan sarannya karena aku sangat membutuhkannya untuk kemajuan karyaku berikutnya.

Ariana Kim~

Iklan

15 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 7)

  1. kalo nanti ara gak mau aku siap sedia jong buat jadi pasanganmu…itu sehun sukanya kok tiba2 cium ara kalo suka bilang lah

  2. Yaampun thor kirain nih ff blom di post,, eh ternyata oh ternyata udah lama di postnya,, huhuhu aku telat bacanya, telat juga deh ngomennya,, hahaha si kai bner2 licik dah, kasihan ara dia seakan ternistakan(?) oleh kelicikannya si kai oke next thor hwaitinggg..!!

  3. barusan nemu, langsung ngebut bacanya..
    suka sama ceritanya.
    okelah anggap aja ane sinting yg ngarep ada Cinta di antara jongin dan ara, ngarep mereka bukan saudara kembar pada akhir nya.. 😂😂😂
    abaikannnn..

    • Hehe.. aku sempat jg berpikiran gitu waktu awal-awal buat, tapi kok rada aneh aja kalo mereka saling suka.. 😀 mereka itu saudara kembar tapi gak mirip makanya gak ada yg curiga sama sekali kalo mereka itu kembar, apalagi kalo di sekolah mereka pura-pura gak saling kenal.. *apaan ini 😀
      Gumawo ya udah mau baca 🙂

  4. Kayaknya ini Chapter favorite aku deh. Soalnya Sehun sama Ara ada adegan kiss nya dan menurutku itu mengejutkan sekali 😀 semoga chapter selanjutnya lebih mengejutkan lagi dengan hubungan Ara dan Sehun yang semakin dekat tentunya 😉
    Next chapternya ditunggu 😉 keep writing 화이팅 🙂

    • Sebenarnya di chapter sebelumnya *entah berapa aku lupa* hehe.. ada kisseu-nya.. tpi gak aku buat terlalu jelas.. *eh. Entah ada yg sadar apa enggak, hehe 😀
      Gumawo ya udah mau baca 🙂 next chap tungguin aja 😉

  5. Aku ga tau cerita sebelumnya gimana. Entah sudah baca atau belum . Kalau sudah kok ga inget.
    Hehehe
    Pokoknya ijin baca ya kak. Ghamsahamnida

  6. aqu suka momentnya sehun sm ara thor bikin mereka makin deket hehehe…
    jongin sm ara lucu amat tingkahnya g sabar nunggu lanjutannya thor jangan lama2 yah
    fighting😀😀😀

  7. Sehun sudah mulai berani sama ara ya, udah main nyosor aja sama ara. Tjor coba dong di setiap chapter satu-persatu rahasia yang ara simpan atau teka-teki terbongkar paling gak jongin tau rahasia ara. Semoga kepribadian ara berubah dan bisa sedikit terbuka dengan orang lain
    Ditunggu chapter selanjutnya.

    • Terimakasih sudah membaca, terimakasih jg sarannya.. 🙂 Nanti aku coba saran kamu 🙂 ini jg di setiap chapter aku kasih sedikit demi sedikit penjelasan biar tau knpa ara bisa kayak gitu.. 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s