[EXOFFI FREELANCE] CARNIVORA – PASSION AND EGOISM (Chapter 4)

canivora

TITTLE:CARNIVORA – PASSION AND EGOISM – FOUR

AUTHOR:YELLOWPARTNER

LENGTH:Chaptered

GENRE:TRAGEDY,SAD ROMANCE

RATING:PG-17(Sewaktu- waktu bisa berubah)

MAIN CAST:KAI,KRYSTAL

ADDITIONAL CAST:Just find it…

Poster by AL KINDI@EKF

Dunia yang mati-matian ia perjuangkan hilang hanya dalam sekejap mata.

 

Setelah mendengar semua kebenaran dari mulut Wendy, Soojung yakin bahwa ia sangat ingin menangis. Namun air matanya tidak mau keluar sama sekali. Jadilah sekarang ia hanya mengamuk seperti buaya kelaparan. Melemparkan segala yang ada di dekatnya pada Wendy. Mengumpat dengan bahasa binatang. Wendy tidak berusaha menenangkan Soojung sedikitpun, ia tahu yang Soojung butuhkan saat ini adalah kehidupannya yang dulu. Wendy hanya menunggu hingga Soojung kelelahan kemudian tertidur pulas dengan muka kusutnya.

 

Wendy membenarkan posisi tidur Soojung agar gadis itu lebih merasa nyaman. Ia menyelimuti Soojung perlahan seperti seorang kakak pada adik perempuannya. Dan dengan perlahan pula ia meninggalkan kamar itu.

 

Wendy mendapati Jongin yang berdiri di dekat pintu kamar Soojung. Ia membaca raut wajahnya dan mencoba membaca pikiran pria itu. Namun nihil, seperti biasa. Meskipun ia seorang psikiater hebat, membaca pikiran seorang psikopat selalu sulit.

 

“Dia sedang tidur, jangan menggangunya!” ujar Wendy saat berjalan melewati Jongin.

Jongin menggeleng pelan padahal dia tahu gelengan kepala itu sudah tidak bisa dilihat oleh Wendy. Jangankan menggangunya, menatapnya saja aku tidak berani.

 

Jongin menghela nafas kasar. Dan melangkah menjauhi kamar itu.

 

Sejak awal dia sudah mengambil jalan yang salah.

Itu yang dikatakan Sehun.

 

Sejak awal seharusnya Jongin tidak menyelamatkan Soojung dari Do minsoo.

Itu yang dikatakan Sehun.

 

Sejak awal seharusnya Jongin tidak mengenal Jung soojung.

Itu yang dikatakan Sehun.

 

Tapi pikiran Jongin dan Sehun sangat berbeda. Jongin tidak bisa menerima apa yang Sehun pikirkan sama seperti semua orang yang tidak bisa menerima apa yang selama ini dia lakukan.

Langkahnya menemukan ujung dari lorong rumahnya yang sepi. Jongin membuka sebuah pintu yang ada di depannya. Pintu itu terhubung langsung dengan kebun sayuran pribadinya. Jongin sangat suka berkebun, tanaman favoritnya adalah wortel tapi sangat sulit menanam wortel di daerah itu. Jadi dia hanya menanam sawi. Dengan tambahan pupuk yang bergizi tinggi.

 

Matanya menyisir seluruh kebun yang berkilauan karena cahaya matahari sore. Dan ia menemukan beberapa sawi yang mulai mengering. Ya, Jongin sangat suka menanam tapi tidak pernah mau memanen. Ia hanya menambahkan bibit baru dan membuang sayuran yang sudah mulai mati dan membusuk. Jadi saat melihat beberapa sawi yang mulai mati ia pun memutuskan untuk segera menggantinya. Tapi sekarang ia tidak memiliki pupuk yang cukup.

 

Saat sedang asyik memandangi kebun sawi itu tiba-tiba ponsel yang ada di saku celanya bergetar. Tertera nama Oh sehun di layar. Jongin menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga.

 

“Ku dengar dari Wendy kalau Soojung sudah sadar”. Suara Sehun terdengar jernih dari ujung telepon namun bernada khawatir.

 

“Ya, itu benar”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kau akan tetap pada pendirianmu?”

“Kau selalu tahu jawabannya Sehun-ah”

 

Sedikit jeda dalam keheningan.

 

“Ayo pergi ke bar”

 

Lalu Sehun menutup panggilan.

Dan Lagi-lagi Jongin menghela nafas kasar. Ia sangat takut jika Sehun mulai merecokinya tentang keputusan untuk tidak melepaskan Soojung lagi. Demi kebun sawinya, Jongin bersumpah bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Soojung. Melepaskannya kali ini sama dengan bunuh diri. Tapi jika Sehun benar-benar memintanya untuk melepaskan Soojung lagi keputusannya pasti akan goyah. Sehun selalu bisa mengendalikannya.

 

***

Musik yang keras selalu menjadi ciri khas sebuah bar. Alkohol dan penari seksi juga bukan hal yang tabu untuk di jumpai di tempat seperti ini. Tak jarang jalang-jalang itu mencoba mengganggu Sehun yang sedari tadi menunggu Jongin yang tak kunjung datang. Sesekali ia meneguk air putihnya, ia tidak mau mabuk malam ini karena ia akan menceramahi Jongin habis-habisan.

 

Malam itu bar tempat biasa mereka bertemu tampak sangat ramai karena para penari mulai melakukan lap dance. Sehun merasa salah mengajak Jongin pergi ke bar malam ini sedangkan bar ini terlalu ramai. Para penari itu menarik para pengunjung ke tengah ruangan dan mulai melakukan lap dance yang sangat erotis. Tak satu dua yang malah berujung dengan saling melumat dan menghilang di balik pintu gelap di ujung ruangan.

 

Sehun sebenarnya sangat tidak suka berada di tempat bising ini. Namun Jongin sangat menyukainya. Dia tidak pernah mau beralih ke bar lain yang lebih baik atau bahkan lebih berprivasi. Selalu bar murahan ini, bar murahan dengan para jalang yang murahan pula. Sehun adalah seorang polisi, sulit baginya uuntuk masuk ketempat seperti ini tanpa di curigai. Namun pemilik tempat ini sudah berteman baik dengan Sehun dan Jongin. Jadi mereka bebas masuk kapan saja.

 

Menunggu hampir dua jam di bar dengan hanya di temani air putih membuat Sehun jengkel. Saat ia hendak beranjak dan pergi dari bar itu Jongin datang menghampirinya. Jadi ia menjatuhkan bokongnya di sofa kembali.

 

“Aku kira kau tidak akan datang”

 

Jongin tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Ia sangat khawatir sekarang. Ia takut Sehun akan memaksanya untuk melepaskan Soojung.

 

“Jongin-ah” mulai Sehun.

Sehun bisa melihat ketakutan Jongin. Tubuhnya tegang dan posisinya tidak berubah sama sekali. Menatap datar ke depan dengan sinar mata yang menyala.

Ia marah dan khawatir.

“Aku tidak akan memintamu untuk melepaskan Soojung”.

Tubuh Jongin yang tegang akhirnya rileks. Sehun bisa mendengar hembusan nafas berat dan lega.

“Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kau harus membuat Soojung bangkit dari keterpurukannya. Dan pertemukan ia dengan kakaknya”.

“Tapi aku yakin Soojung tidak mau bertemu denganku, dia tahu siapa aku dan dia takut padaku” suara Jongin bergetar dan tak karuan.

“Aku akan membantumu, aku akan meyakinkan Soojung bahwa kau tidak akan memotong jari-jari kakinya dan menjadikannya pupuk untuk sawimu”.

 

Jongin mendelik dan tubuhnya menegang lagi.

“Jangan membahas itu Sehun”

Tapi Sehun tidak mengindahkannya. Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

“Yang penting kau bisa mengembalikan Soojung seperti semula”

“Dia buta dan lumpuh, akan sangat sulit untuk mengembalikan ia seperti semula”

“Dia memang tidak dapat melihat untuk selamanya, tapi dia masih bisa berdiri, dan satu-satunya cara agar dia mau berdiri diatas kakinya sekali lagi maka dia harus mendapatkan sinar hidupnya kembali”

 

Jongin terdiam cukup lama. Dan Sehun pun tidak mau mengganggu keheningan diantara kebisingan di bar itu. Semakin malam maka semakin gila pula keadaan bar. Tak sedikit yang menggoda Jongin seperti menggoda Sehun tadi. Dan seprti Sehun Jongin selalu menyingkirkan para jalang itu.

 

Saat Sehun sedang asik memandangi Jongin yang terus diam sembari menghentikan para jalang yang berusaha duduk di dekatnya atau menariknya ke lantai dansa seseorang menarik tangannya dan membawanya ke tengah ruangan. Mendudukannya di kursi panas. Sehun tidak sempat menolak karena ia sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk melawan. Seorang jalang mulai melakukan lap dance dan mengoda Sehun. Gerakan-gerakan erotis dan musik dengan lirik yang erotis pula. Sehun bisa melihat Jongin yang sedang menertawakannya.

 

Sehun tidak bisa berbohong jika ia tidak tergoda sama sekali. Seumur hidupnya ia yakin bahwa ia seorang pria dan mudah tergoda dengan wanita seksi. Apalagi wanita jalang gila di depannya ini lebih cantik dari jalang yang biasanya ia lihat di bar murahan ini. Dan bibir penuhnya seakan memanggil untuk di cumbu. Tapi, Oh sehun bukan pria yang suka dengan wanita jalang. Sejauh ini wanita yang tidur dengannya adalah wanita baik-baik.

 

Karena tidak tahan dengan dirinya sendiri Sehun berdiri tba-tiba. Membuat wanita di pangkuannya terjatuh. Ia langsung kembali ke tempat duduknya dan memukul Jongin yang tidak berhenti tertawa.

 

“Lihat mukamu Sehun! Kau seperti udang rebus” kekeh Jongin berusaha menahan tawanya.

“Diam kau sialan!!”

 

Bukannya diam Jongin malah tertawa semakin keras.

“Serius Jongin!! Aku bahkan belum selesai berbicara padamu!!”.

Jongin mengernyit. Belum selesai bicara?

 

“Apa yang ingin kau bicarakan lagi?”.

 

Sehun berusaha mengontrol nafasnya yang tidak beraturan karena menahan gairah. Lalu saat nyawa dan kesadarannya sudah terkumpul ia mengucapkan kalimat yang membuat Jongin terbelalak.

 

“Nikahi Soojung”

 

***

Nikahi Soojung.

Perkataan Sehun terus berlarian di pikiran Jongin.

Kau hanya perlu mendaftarkan pernikahanmu, tidak perlu ada upacara, yang penting kau bisa menjadi wali Soojung sepenuhnya.

 

Tentu saja Jongin harus menjadi wali yang sah untuk Soojung jika ia ingin membawa Soojung seumur hidupnya.

Tapi pasti sangat sulit untuk meyakinkan Soojung. Jongin juga takut jika Soojung memilih pergi darinya dan hidup dengan kakaknya. Tapi Sehun sudah berjanji untuk membantunya. Dan Sehun selalu berhasil. Saat Jongin membuat kesalahan maka Sehunlah yang membereskan semuanya.

 

“Apa yang akan kau lakukan pada gadis itu?” tanya Wendy yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.

Jongin menoleh sebentar lalu kembali membuang muka. Ini masih jam 5 subuh dan angin dingin pegunungan membuatnya menggigil. Tanpa menjawab pertanyaan Wendy, Jongin berjalan meninggalkannya. Ia berhenti di depan kamar Soojung dan Wendy mengikutinya.

 

“Aku bertanya Kim jongin, kenapa kau tidak menjawabku?” geramnya.

“Sehun bilang aku harus menikahi Soojung jika aku ingin membawanya seumur hidupku”.

 

Wendy terkadang menganggap Jongin sebagai anak kecil yang butuh permen dari seorang paman bernama Oh sehun. Sehun selalu bisa membuat Jongin mengambil keputusan yang salah sekaligus benar. Bukan tanpa alasan ia berada di dekat Kim jongin. Semuanya karena Oh sehun. Jika bukan karena Sehun, Wendy yakin bahwa sekarang dia sudah jadi pupuk kompos. Tepatnya dua tahun lalu ia hampir mati di tangan Kim jongin. Ia hampir mati karena kesalahan Oh sehun tapi dia tetap hidup karena Oh sehun juga.

 

“Lalu kau akan menikahinya?”

“Entahlah, aku harus bertanya padanya dulu”

“Dia akan bangun jam delapan pagi, memakan sarapannya lalu kembali tidur”

 

Wendy meninggalkan Jongin yang terus memandangi Soojung yang sedang tertidur di ambang pintu. Dan ia bisa mendengar bunyi pintu tertutup. Saat berbalik kebelakang, Wendy tahu jika Jongin sudah memasuki kamar itu.

 

***

Lagi-lagi, hanya bias cahaya hangat yang dapat ia rasakan.

 

Kegelapan menyambutnya bahkan saat ia sudah membuka mata. Soojung sangat jarang menangis, jadi dia yakin kalau airmatanya pasti memiliki persediaan yang banyak. Namun saat ia ingin menangis sekarang airmatanya malah tidak keluar sama sekali.

 

Kenyataan yang paling tidak bisa diterimanya bukan kenyataan bahwa ia ia buta dan lumpuh atau karena kedua orang tuanya tewas. Tapi fakta bahwa ia sekarang berada dekat dengan Kim jongin yang bisa membunuhnya kapan saja. Soojung sungguh takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia bahkan lupa kalu iamasih memiliki seorang kakak yang tinggal di Amerika. Meskipun Soojung ingin lenyap saja dari dunia, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat takut jika harus mati di tangan Kim jongin.

 

“Sudah bangun?”.

 

Soojung terlonjak kaget saat mendengar suara husky itu lagi. Buru-buru ia menyelimuti dirinya lagi. Namun Jongin malah menyingkap sellimut itu dan mendudukan Soojung. Soojung berusaha agar Jongin tidak menyentuhnya namun ia tidak punya tenaga sama sekali.

 

“Kumohon Jongin jangan menyentuhku, aku sangat takut padamu” aku nya dengan suara yang serak.

 

“Aku tidak akan melukaimu, Soojung-ah”.

Soojung menggeleng. Jongin bisa merasakan gemetar ketakutan Soojung sangat kentara.

 

“AKU BERSUMPAH AKU TIDAK AKAN MELUKAIMU SOOJUNG, AKU TIDAK AKAN MEMENGGAL KEPALAMU ATAU MEMOTONG JARI-JARIMU JIKA KAU PERCAYA PADAKU!!!!!!”.

 

Soojung refleks meringkuk di ranjang dan menutup telinganya. Suara Jongin yang terdengar marah justru membuatnya semakin takut.

“Ku mohon Jongin jangan sentuh aku, kumohon….”.

Suara yang lemah, keringat yang dingin dan wajah yang pucat. Semua itu menggambarkan penampilan Soojung saat ini.

 

“Astaga jongin apa yang kau lakukan!!!?”.

Wendy yang mendengar teriakan Jongin langsung berlari ke kamar Soojung. Saat melihat keadaan Soojung yang menyedihkan ia buru-buru menyuruh Jongin keluar dan mulai menenangkan Soojung. Namun Soojung malah membenamkan wajahnya ke bantal dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

 

Saat Soojung sudah mulai tenang Wendy mulai mengajaknya bicara.

“Kau tidak apa-apa kan?”

Soojung tidak menjawabnya sedikitpun. Semua yang ada di dekat Kim jongin gila, itulah yang ada di pikirannya saat ini. Bahkan Wendy juga pasti gila, mana mungkin orang waras mau berdekatan dengan orang yang memiliki gangguan kejiwaan seperti Jongin. Menjawabnya sama saja seperti menjadi orang gila, sisi arogannya berbicara.

 

“Jongin tidak jahat, yang jahat adalah jalan yang menantinya”.

 

Soojung mendengus. Benar dugaannya kalau Wendy sama gilanya dengan Jongin. Dia bahkan mengatakan orang gila itu tidak jahat sama sekali.

Meskipun Soojung suka membully orang lain di sekolah bahkan di universitasnya sendiri, ia masih tahu bahwa membunuh itu sangat jahat. Dan Wendy malah membelanya, tentu saja dia gila.

 

“Membunuh itu jahat bodoh” sahutnya sarkastik.

 

Wendy tersenyum. Meskipun Soojung tidak menurunkan selimutnya, mendengarnya menyahut adalah sebuah kemajuan. Dia pikir Soojung akan sangat terpukul bahkan tertekan dan mulai melakukan percobaan bunuh diri. Nyatanya Soojung malah makan denganbaik walau kadang-kadang ia mengamuk. Sungguh sebuah reaksi yang tidak di harapkan. Seseorang yang kehilangan hampir seluruh hidupnya pasti sangat sengsara. Namun Soojung tidak menunjukan tanda-tanda seperti itu. Wendy bisa memastikan bahwa tingkat arogansi wanita itu sangat tinggi bahkan untuk menyalurkan kesedihannya sendiri.

 

“Jongin tidak jahat” pancingnya lagi.

Kali ini Soojung meresponnya dengan menyingkap selimut dan berteriak

 

“DIAM KAU WANITA GILA!!!!!”

Dan Wendy semakin melebarkan senyumnya. Ia sekarang tahu apa yang bisa menarik perhatian Soojung. Apa yang bisa membuat gadis itu bicara.

 

Jung soojung dan arogansinya yang berlebihan dan Son wendy si psikiater yang sama-sama terjebak di lingkaran hidup Kim jongin baik langsung atau tidak.

 

To be continued…………………..

 

Komen kritik dan saran selalu di tunggu^^

Iklan

12 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] CARNIVORA – PASSION AND EGOISM (Chapter 4)

  1. Belum ada kemajuan sama hubungan merea berdu, soojung yang masih takut sama jongin dan jongin yang belum berani dekatin soojung. Cepat-cepat ada kemajuan sama hubungan mereka deh.
    Ditunggu chapter selanjutnya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s