[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 16)

Poster Secret Wife5

Tittle             : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre           : Romance, Friendship, Marriage Life

Length          : Chaptered

Rating          : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer           : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note      : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 16 (Secret Rendezvous)

Jungra menghembuskan nafas panjangnya. Dia sudah siap dengan kemeja motif bunga yang dipadukan dengan rok polos berwarna cokelat muda. Rambut panjangnya ia biarkan terurai dengan tatanan sedemikian rupa yang tampak begitu rapi. Wajahnya dipoles make up tipis yang nampak terlihat natural. Dia melangkah mantap meninggalkan kamarnya setelah sebelumnya menyambar mantel dan juga tasnya.

Langkahnya terlihat terburu-buru, namun tetap hati-hati. Dia menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Di sana sudah terlihat ayah, ibu serta saudara laki-lakinya, Jongin. “Selamat pagi eomma”, sapanya yang diiringi dengan kecupan ringan di pipi kanan dan kiri ibunya.

“Selamat pagi sayang. Apa tidurmu nyenyak?”, balas sang ibu.

“Tentu”, jawabnya. Dia beralih ke ayahnya yang sedang membaca koran. “Selamat pagi appa”, dia juga melakukan hal yang sama pada ayahnya, memberikan kecupan ringan.

“Selamat pagi sayang”, ayahnya meletakkan koran yang dibacanya.

“Selamat pagi, Jongin”, ada jeda beberapa detik sebelum Jungra menyebut nama saudaranya. Dia menggeser kursi disebelah Jongin. Meletakkan mantelnya di sandaran kursi sebelum dia mendudukinya. Dia mengamati sekeliling, seperti ada yang dicarinya. “Dimana Junghae?”, tanyanya yang tak menemukan sosok yang dicarinya. “Apa dia belum bangun?”, tanyanya kembali sebelum pertanyaan pertamanya dijawab.

“Iya, kemana dia? Tidak biasanya dia belum bangun sesiang ini”, Jongin yang duduk di sampinya akhirnya bersuara.

“Biar eomma yang melihatnya!”, kata nyonya Kim. Dia berdiri dari tempat duduknya.

Sebelum nyonya Kim berhasil melangkah, Jungra sudah menghentikannya. “Biar aku saja yang melihatnya eomma!”, pinta Jungra.

Setelah mendapat persetujuan ibunya, dia melangkah kakinya menuju lantai dua dimana kamar Junghae berada. Dia mengetuk pintu sebelum masuk, namun tak kunjung ada jawaban. Dia berinisiatif membuka pintu kamar tersebut. Dengan hati-hati dia memutar knop pintu tersebut. Tidak dikunci, dengan segera dia memasuki kamar tersebut.

Tidak ada orang di atas ranjang, itu pemikiran pertamanya, karena memang pertama kali yang dapat dilihatnya saat membuka pintu adalah ranjang Junghae. Dia melangkahkan kakinya lebih dalam, mencari keberadaan adiknya.

Dia dapat melihat adiknya tertidur pulas dengan meja sebagai tumpuannya. Banyak kain berserakan di meja tersebut. ‘Apa dia lembur semalam?’, pertanyaan itu terngiang begitu saja di otaknya. Dia juga dapat melihat dua dress siap pakai tergantung rapi di samping meja tersebut. Jungra melangkahkan kakinya menuju dress tersebut. Menyentuhnya, untuk melihat hasil karya sang adik. Tepat seperti yang diinginkannya.

Jungra tersenyum setelahnya. Hasil karya adiknya benar-benar rapi dan juga indah. Tak salah jika dia meminta bantuan padanya. Adiknya menggeliat pelan. Sepertinya dia mencari posisi yang nyaman, karena dia masih menutup mata setelahnya. Jungra bisa melihat wajah lelah adiknya. Dia tak tega jika harus membangunkannya. Karena itu dia memilih mengambilkannya selimut, menutup punggung adiknya dengan itu.

Dia kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan. Dia kembali duduk di tempat yang tadi ia pilih. Tatapan penuh tanya langsung ia dapat dari ayah, ibu serta Jongin. Seolah mengerti dengan tatapan yang didapatnya, Jungra menjawabnya. “Aku tak tega membangunkannya. Dia terlihat begitu lelah. Sepertinya dia lembur tadi malam!”, jelas Jungra.

“Jika saja kau tak memintanya membuatkan baju, dia tak akan selelah itu. Seharusnya kau bisa mengerti Jungra, dia bahkan sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya”, ada nada berbeda saat Jongin bicara. Entah itu marah, kesal, atau pemberian nasehat. Dia cukup merasa kasihan pada adik bungsunya. Pekerjaan menggantikan sekretaris Jongdae terlihat begitu merepotkan adiknya. Ditambah lagi, adik bungsunya itu belum banyak pengalaman tentang dunia bisnis. Karena memang gadis itu lebih tertarik dengan fashion.

“Aku tahu Jongin, dia memang gadis yang super sibuk. Hanya saja ini begitu mendesak. Jika saja desainer perusahaanku tak mengalami kecelakaan, aku juga tak akan memintanya membantuku”, jawab Jungra. Dia nampak kesal dengan apa yang Jongin katakan. Terbukti dengan kasarnya dia membuang nafas setelah berkata tadi.

“Sudahlah! kenapa jadi ribut soal Junghae. Dia hanya perlu istirahat kan. Sekarang kita sarapan dulu, kalian akan berangkat bekerja bukan!”, sela nyonya Kim. Dia bermaksud melerai kedua anaknya. Dia tahu jika kedua anaknya itu mulai berdebat, dan itu akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.

Mereka berdua diam pada akhirnya. Menuruti keinginan ibunya. Menikmati sarapan mereka, sebelum memulai aktivitas yang akan menguras tenaga nantinya.

Junghae menutup mata dengan telapak tangannya saat cahaya matahari mengenai wajahnya. Dia mulai membuka matanya, menyesuaikan keadaan sekitar. Matahari sepertinya sudah tinggi, sinarnya sudah cukup terik saat penyentuh kulit. Seketika itu, Junghae mengangkat kepalanya, sepertinya dia teringat sesuatu.

“Jam berapa sekarang?”, ucapnya dengan keadaan yang belum sadar sepenuhnya. Dia melirik sekilas jam dinding kamarnya. Jarum pendek menunjuk angka delapan dan jarum panjangnya berada diangka satu, jam delapan lewat lima menit.

Andwe. Aku akan terlambat. Kenapa aku bisa ketiduran. Sial!”, Junghae mengutuk dirinya sendiri. Dia berinisiatif tidur untuk beberapa menit tadi. Tapi justru dia malah keterusan. Ya, dia baru menyelasaikan pesanan kakaknya jam lima pagi tadi. Karena dia fikir itu masih terlalu pagi, dia memilih untuk tidur sebentar. Dan justru jadi seperti ini keadaannya. Bangun kesiangan.

Secepat kilat dia pergi ke kamar mandi. Membersihkan dirinya secepat yang ia bisa. Dia tak boleh terlambat kali ini. Ada meeting penting pagi ini. Dan ini akan dimulai 25 menit lagi. Sungguh, bukan hari yang baik untuknya. Junghae benar-benar serius dengan mandi kilatnya. Sekitar lima menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan lilitan handuk yang menutupi dada hingga sebagian pahanya.

Dia terburu-buru mencari pakaian ganti. Apapun, asal dapat menutupi tubuhnya. pilihannya jatuh pada dress selutut motif daun, perpaduan warna putih dan biru langit. Dengan lengan tigaperempat serta hiasan manik-manik disekitar lehernya. Mantelnya juga ia ambil secara asal. Heels warna perak juga dipakai asal olehnya. Tasnya juga secara asal ia ambil. Namun semua itu terlihat begitu pas perpaduannya.

Setelahnya, dia menyisir rambutanya dengan hati-hati dan membiarkannya tetap terurai. Dia memakai pelembab wajah. Hanya pelembab, dan juga lipstik tipis. Tak ada maskara, eyeliner, atau make up lain yang ia pakai. Dia bahkan menyemprot asal parfumenya. Tak sampai lima menit dia sudah siap dengan penampilannya. Dia segera meninggalkan kamarnya, tak lupa mengambil ponsel yang tergeletak manis di nakas samping tempat tidur.

Dengan langkah terburu-buru dia menuruni tangga rumahnya. Dia bertemu ibunya di ujung tangga. Sepertinya mereka sudah selesai sarapan. “Pagi eomma”, sapanya. Jika biasanya dia akan mencium kedua pipi ibunya, namun kali ini tidak. Dia hanya menyapanya.

“Pagi sayang. Kau sudah bangun?”, jawab sang ibu yang juga memberikan pertanyaan retorik untuknya. Pertanyaan itu tak perlu jawaban, karena hanya dengan melihat kau sudah tahu jawabannya. Tentu dia sudah bangun, jika belum dia tak mungkin berjalan tergesa seperti itu.

“Aku berangkat dulu”, pamit Junghae.

“Kau tak sarapan dulu?”, tanya sang ibu kembali.

“Tidak eomma, aku sudah sangat terlambat”, jawab Junghae setengah berteriak. Ya, dia sudah jauh meninggalkan ibunya.

Ibunya hanya menggelengkan kepala melihat betapa terburu-burunya putrinya. “Gadis yang super sibuk”, katanya pada dirinya sendiri. Ibunya segera berlalu.

Junghae tak menjumpai siapapun sepanjang perjalannya. Dia bingung dengan kendaraan apa yang harus ia naiki agar cepat sampai di perusahaannya. Dia melihat kakak laki-lakinya baru saja keluar dengan mobil dari garasi. Dia mencegahnya pergi sebelum sampai di gerbang utama. “Oppa berhenti”, pinta Junghae yang berdiri menghadang mobil tersebut.

Jongin menginjak rem dengan cepat sebelum menabrak adiknya. Syukurlah, mobilnya berhenti tepat seperti yang diinginkannya, jika tidak entah apa yang akan terjadi. “Yak, apa yang kau lakukan Junghae?”, protes Jongin. Dia tak habis pikir dengan kelakukan adik bungsunya itu.

Dengan cepat dia membuka pintu mobil tersebut. Duduk dikursi samping kemudi. Sabuk pengaman juga segera dipasangnya. “Oppa, kau harus mengantarku secepat mungkin. Ada meeting penting yang harus ku hadiri. Jebal!”, pintanya. Dia bahkan mengacungkan tangannya. Dia benar-benar berharap besar pada kakaknya.

Jongin tak tega melihatnya. “Arra, arra. Jangan pasang wajah memelasmu itu”, tutur Jongin. Dia benar-benar termakan permiantaan Junghae.

“Ah, thank you”, Junghae tampak senang mendengar perkataan kakaknya. Dia dapat bernafas lega akhirnya. Setidaknya dia tak akan terlambat datang ke perusahaannya.

Dengan cepat pula Jongin melajukan mobilnya. Beberapa kali dia membunyikan klakson mobilnya untuk mendahului mobil-mobil yang ada di depannya. Harus diakui dia begitu pandai mengemudikan mobil.

Ponsel Junghae bergetar tanda ada panggilan masuk. Tanpa pikir panjang dia mengambil ponselnya dalam tas. Setelah menggeser tombol hijau di layarnya, dia mendekatkan posel tersebut di telinganya. “Yeobseyo”, jawabnya. Tak terdengar suara dari seberang sana. Hanya Junghae yang dapat mendengarnya. “Iya Manajer Lee. Aku dalam perjalannya. Aku akan sampai sebentar lagi”, Junghae diam, mendengarkan si penelfon bicara. “Iya, kau hanya perlu mempersiapkannya”, jawabnya kembali. Dia mengakhiri panggilan setelahnya. Memasukan ponsel itu kembali ke dalam tasnya.

Kurang dari limabelas menit, mereka sampai di kantor  utama Jeguk Group. Setelah melepas sabuk pengaman Junghae turun. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih pada kakaknya. “Terima kasih sudah mengantarku oppa”, dia menutup pintu mobil setelahnya.

Hanya senyum tulus yang Jongin lakukan sebagai jawaban.

“Hati-hati di jalan”, kata Junghae lagi. Dengan tergesa dia memasuki area perusahaannya. Dia tak ingin ketinggalan meeting penting yang harus dihadirinya, sebagai wakil dari kakaknya yang masih betah berlama-lama di Beijing.

 

***

 

Dengan langkah malas Junghae memasuki rumahnya. Dia bertemu Song ahjumma di ruang tamu.

“Anda sudah datang aghassi”, sapa Song ahjumma.

Jika biasanya dia akan berkata panjang lebar, namun kali ini tidak. Hanya gumaman yang keluar dari mulutnya. Dia terus berjalan menuju kamarnya. Ini bukan Junghae seperti biasanya. Jika biasanya dia akan menyapa lebih dulu orang yang ditemuinya ketika tiba di rumah, kali ini berbeda. Dia diam dan terus melangkah melewati orang-orang yang ada di rumah.

“Kau baru pulang?”, sapa Jongin yang membawa jus di tangan kanannya.

Eoh”, hanya itu jawaban Junghae. dia kembali terus melangkahkan kakinya. Jungra yang kebetulan berpapasan dengannya di tangga juga diabaikan. Wajahnya tampak begitu muram, itulah pemikiran Jungra.

Jungra yang melihat Jongin bertanya dengan bahasa isyarat. Jongin hanya mengangkat bahunya dan menggeleng. Sepertinya dia juga tak tahu apa yang terjadi dengan adiknya.

.

Junghae yang sudah sampai di kamarnya segera menutup pintunya. Dia membuang kasar nafasnya. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan untuknya. Dia harus menghadiri beberapa meeting menggantikan kakaknya. Ditambah semalam dia tak memiliki tidur yang cukup. Karena harus menyelesaikan pesanan eonninya.

Dia melempar asal mantel dan juga tasnya. Dia masuk kamar mandi setelahnya. Menyalakan kran air hangat untuk mengisi bath up. Sebari menunggu penuh dia mencuci muka dan menyikat giginya. Junghae melepas semua pakainnya sebelum memasuki bath up.

Berendam air hangat akan membuatnya segar kembali. Sepertinya dia sangat menikmati acara berendamnya. Mata indahnya ia biarkan tertutup. Aroma lavender kesukaannya membuatnya benar-benar nyaman. Dia seperti mendapat kekuatan baru setelahnya.

“Rasanya benar-benar segar”, ucapnya setelah keluar dari bath up. Dengan mengenakan handuk kimono Junghae keluar dari kamar mandinya.

Dia melihat betapa berantakannya kamarnya. “Hah”, dia membuang pasrah nafasnya. Dia ingin langsung tidur sebenarnya, tapi melihat kamarnya dia mengurungkan niatnya. Dia mulai membersihkan kamarnya dari sisa kain yang berserakan di meja pojok kamarnya. Dia bisa saja meminta Song ahjumma membersihkannya, hanya saja dia tak suka jika barang-barangnya tak bertempat sesuai keinginannya.

Butuh waktu sekitar limabelas menit untuk membuat kamarnya benar-benar rapi. Dia tersenyum senang melihat hasil kerjanya yang sempurna. Semua tertata rapi pada tempatnya.

Junghae mengganti bajunya dengan piyama kesukaannya sebelum dia merebahkan diri di ranjang king sizenya. Menutup matanya untuk segera bisa berpindah ke alam lain, alam mimpi. Untuk beberapa saat dia tampak tenang, namun tak berlangsung lama. Dia terduduk kembali, karena rasa kantuk yang tak kunjung datang. Dia membuang kesal nafasnya. Dia ingin sekali segera menginstirahatkan dirinya.

Dia mendengar bunyi getaran dari ponselnya tanda pesan masuk. Siapa malam-malam begini mengganggunya. Dia tampak terlihat kesal. Namun dengan malas dia tetap mengambil ponsel yang tergeletak manis di atas nakas samping ranjangnya.

Wajah kesalnya seketika berubah senang sesaat setelah tau siapa yang mengirim pesan padanya. Dia sedikit merindukan orang itu. Ya, sejak kepulangannya dari Jeju beberapa hari yang lalu, dia belum mengirim kabar apapun pada orang itu. “Apa kau sudah tidur?”, begitulah isi pesan tersebut. Cukup singkat, namun mampu merubah suasana hati Junghae.

Jika kau tak menggangguku, seharusnya sudah’.

Junghae bermaksud menggoda namja yang tadi mengirim pesan padanya. Dia cukup penasaran bagaimana reaksi namja itu jika membaca balasan pesannya. Tak ada balasan setelahnya. ‘Apa dia marah?’, pikir Junghae.

Junghae kembali melirik ponselnya. Namja itu benar-benar tak membalas pesannya. Dia hanya dapat membuang pasrah nafasnya. Bodoh, seharusnya dia tak membalasnya seperti itu tadi. Bagaimana jika namja itu benar-benar marah padanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dia harus melakukan sesuatu sebelum hal itu benar-benar terjadi. Tapi apa? Apa yang harus dilakukannya?

Dia tersenyum senang saat terfikirkan sesuatu. Dengan cepat dia mengetikan pesan untuk namja itu. ‘Oppa. Boghosipoyo’. Dia tidak berbohong saat mengirimnya. Dia memang sedang merindukan namja itu. Namja yang sudah terikat dengannya. Meski baru beberapa bulan mengenalnya, dia merasa begitu nyaman bersamanya. Jika memang ini yang dinamakan takdir, maka Junghae … Owh, dia bahkan tak dapat mendefinisikannya.

Sekali lagi dia memeriksa ponselnya. Namun tak ada apapun, pesan masuk, panggilan masuk, atau apapun itu. Dia kembali mendesah. Apa dia sudah tidur? Junghae menerka-nerka apa yang sedang dilakukan namja itu. Namja yang tanpa ia sadari sudah terukir dalam hatinya. Meski dia belum sepenuhnya sadar, tapi perlahan dia mulai merasakannya. Merasakan perasaan yang sama saat dia mulai mengenal seorang Jeon Jungkook. Ini bahkan lebih dari itu.

Junghae teringat sesuatu. Dia pernah mengambil gambarnya bersama namja itu. dia mulai membuka galery ponselnya. Melihat foto namja itu yang tengah tersenyum manis menghadapnya. Ah, sebenarnya menghadap kamera bukan dia. Senyumnya begitu manis, ibarat gula jika kau memakannya kau akan langsung terkena diabetes. Berlebihan, tentu tidak. Ini fakta, setidaknya menurut Junghae.

Beruntung sekali gadis yang mampu mendapatkan hatinya. Apa dia salah satunya? Ah, tidak-tidak. Ini belum lama sejak mereka saling mengenal. Dia bahkan tak yakin apa namja itu juga memikirkannya? Em, maksudnya merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakannya. Memikirkannya saja sudah membuatnya pusing.

Tapi bagaimana dengan sikapnya selama ini padanya. Apa itu tulus? Atau itu hanya bentuk rasa tanggungjawabnya karena sesuatu yang seharusnya tak pernah diharapkan akan terjadi? Bagaimana jika dia juga merasakan hal yang sama dengannya? Mungkinkah?

Tidak. Cukup Junghae berhentilah berfikir yang tidak-tidak. Apa yang kau harapan? Apa kau baru saja berharap jika dia akan menyukaimu? Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Jadi behentilah berfikiran aneh, kau akan jadi aneh pula nantinya.

.

.

.

Chanyeol yang baru sampai di rumahnya tersenyum senang. Entah mengapa, suasana hatinya sedang membaik. Mungkin efek dari beberapa kerjasamanya yang berjalan mulus. Ya, seharian ini dia menghadiri beberapa meeting kerjasama proyek barunya. Dan semua berjalan sesuai rencana. Benar-benar hari keberuntungan.

Dia meletakkan mantelnya digantungan kamarnya. Melepas jas, dasi juga ikat pinggangnya. Merebahkan dirinya sebentar di rajang. Tiba-tiba saja terlintas begitu saja senyum gadis yang baru beberapa bulan dikenalnya. Bagaimana kabarnya? Sejak kembalinya dari pulau Jeju, mereka belum saling berkomunikasi.

Apa dia sudah tidur? Ini sudah cukup larut. Tak akan tahu jika tak bertanya. Dia segera mencari letak ponselnya. Mengetikan beberapa kata dan mengirimnya. Dia  tak berharap pesannya dibalas, karena memang sudah larut malam. Dia hanya berharap gadis itu tidur dengan nyenyak. Oleh sebab itulah, dia memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mandi mungkin dapat mengembalikan tenaganya yang sudah terkuras banyak seharian ini.

Cukup lama namja itu berada di kamar mandi. Ponselnya sudah dua kali menyala layarnya. Sepertinya tanda pesan masuk, karena hanya sebentar dan tak begitu lama. Dengan hanya handuk yang menutupi tubuh bawahnya, Chanyeol keluar dari kamar mandi. Rambut basahnya ia basuh dengan handuk kecil. Dia berjalan menuju walk-in-closetnya mencari baju yang nyaman digunakan tidur.

Dia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mendapatkan pakaiannya. Dia mencari ponselnya untuk melihat, apakah ada balasan dari gadis yang tadi dikirimi pesan. Dua pesan masuk, yang semua dari gadis itu. Dia membaca balasan pertamanya.

Jika kau tak menggangguku, seharusnya sudah’.

Chanyeol tersenyum, membacanya. Jika memang dia mengganggu, seharusnya dia tak perlu membalasnya. Namun, yang lebih mengejutkan adalah balasan keduanya.

Oppa. Boghosipoyo’.

Apa dia tak salah baca. Berkali-kali dia melihat, tetap sama. Gadis itu merindukannnya. Ada perasaan aneh yang menyusup dalam dirinya. Dia bahkan tak berhenti menyunggingkan senyumnya. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Perasaan nyaman juga dia rasakan saat bersama gadis itu. Juga ada perasaan ingin melindungi gadis tersebut.

Ini bukan pertama kalinya dia merasakan hal itu. Ini juga pernah ia rasakan saat mengenal gadis-gadis yang pernah dikencaninya. Tapi ini sedikit berbeda, rasa nyaman yang gadis ini berikan berbeda dari mereka semua. Entahlah, dia tak benar-benar dapat menggambarkannya.

Chanyeol kemudian mengetikan sesuatu. ‘Aku juga’, ya itulah balasannya. Dia akan mengirimnya. Dia hampir menekan tombol send, entah mengapa ia urungkan niatnya. Dia terlihat sedang berfikir kembali. Hanya dengan mengetik tak akan mengobatinya. Bagaimana dengan mendengar suaranya? Ah, ide yang bagus. Dia segera menghubungi gadis itu. Berjalan keluar menuju balkon kamarnya. Melihat bintang yang tampak bersinar tak tertutup awan.

.

Sementara itu, Junghae yang hampir tertidur tersentak kaget saat ponselnya berbunyi. Kali ini cukup lama menandakan ada panggilan masuk. Gadis itu terlihat malas mengambil ponselnya. Dia hampir bisa tidur, tapi selalu ada yang mengganggunya. Dengan mata yang masih setengah menutup dia melihat layar ponselnya. Matanya membulat seketika kala mengetahui siapa yang menghubunginya. Ya, namja itu menghubunginya. Dia tidak siap dengan ini.

Ah, seharusnya dia tak mengirim pesan lagi padanya, setelah balasannya yang pertama. Bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan pada namja itu? Dia pasti akan malu nantinya. Dia juga tak memiliki alasan yang masuk akal untuk menjelaskannya. Berfikir Junghae, berfikir. Dia benar-benar panik. Lihatlah sekarang. Dia bahkan berjalan kesana-kemari memikirkan alsan yang tepat jika namja itu bertanya tentang balasan pesannya.

Dia mengambil nafas panjang, lalu membuangnya. Begitu seterusnya, sampai dia benar-benar siap. Ini salahnya, kenapa dia tak memikirkan kemungkinannya tadi. Ah, semoga dia tak menayakan hal itu. Dengan harapan penuh itu Junghae mengangkat panggilan di ponselnya. ‘Yeobseyo’, katanya memulai pembicaraan.

“Apa kau sudah tidur?”, tanya namja diseberang sana. Cukup pelan namja itu berkata, tapi Junghae masih bisa mendengarnya. Junghae tersenyum mendengarnya.

“Jika aku sudah tidur, maka aku tak akan menjawab panggilanmu”, jelas Junghae. Ya, itu benar. Jika memang Junghae sudah tidur, dia tak akan menjawab pangilan itu. Pertanyaan yang memang tak butuh jawaban. Dasar.

“Emh, maksudku tadi. Apa aku mengganggu?”, namja itu kembali bertanya. Nadanya terdengar aneh. Sepertinya dia merasa tak enak, seperti takut akan mengganggu gadis itu.

Kini giliran Junghae yang merasa tak enak. Sebenarnya namja itu tak mengganggu, sunggguh. Dia justru merasa senang. Hanya saja, dia merasa… Ah, entahlah. Dia tak bisa menjelaskannya.

Junghae terlihat sedang berfikir. Jawaban apa yang kira-kira tepat untuk dia ucapkan. Setidaknya yang tak menyinggung perasaan namja itu. “Aku hampir tidur jika oppa tak menelfon tadi. Dan sebenarnya oppa tak mengganggu sama sekali. Aku hanya bercanda tadi”, jawabnya kemudian. Semoga ucapannya tak menyinggung perasaan namja itu.

“Syukurlah, ku pikir aku benar-benar mengganggu tadi”, terdengar nada kelegaan dari namja itu.

“Bagaiana oppa mengganggu jika aku……”, ‘merindukanmu’, kata itulah yang ingin Junghae katakan. Namun, entah mengapa tertahan begitu saja ditenggorokannya. Dia bersyukur karena tak terlanjur mengatakan kata tersebut. Dia pasti akan tambah malu jika dia benar-benar mengatakannya.

“Ya~”, namja itu terlihat sedang menunggu kata apa yang selanjutnya akan Junghae katakan. Namun dia harus kecewa, karena perkataan Junghae selanjutnya. Sebenarnya dia tahu, kata apa yang akan gadis itu katakan. Ya, kata seperti balasan yang dikirimnya tadi. Dia tak jadi mengatakannya, karena sepertinya gadis itu akan malu nantinya.

“Bukan, bukan. Bukan apa-apa”, nada bicara Junghae juga terdengar aneh. Sangat kelihatan jika gadis itu akan malu jika mengatakannya.

“Bagaimana kabarmu?”, tanya namja itu mengalihkan pembicaraan. Ini yang bisa dilakukannya untuk gadis itu. Dia berharap gadis itu, tak akan bertambah malu dengannya.

Junghae dapat bernafas lega mendengarnya. Namja itu tak ingin membahas lebih lenjut perkataannya tadi. Benar-benar namja yang perhatian. “Aku baik. Ya, meski cukup lelah karena Jongdae oppa yang masih betah berlama-lama di Beijing. Semuanya harus aku yang menggantikannya. Belum lagi permintaan eonni menggantikan desainernya yang kecelakaan. Kemarin malam aku bahkan harus lembur. Bagaimana denganmu oppa?”.

Gadis ini, hanya satu pertanyaan yang diberikannya dia bercerita kemana-mana. Tapi entah mengapa namja itu justru senang mendengar celotehan gadis itu. Meski terkesan cerewet, tapi ya, itulah gadisnya. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. “Aku juga baik. Dan lebih baik lagi setelah mendengar suaramu”, jawab namja itu. Dia tak berkata bohong, memang itulah kenyataannya. Mendengar celotehan gadis itu, dia merasa benar-benar bertambah baik suasana hatinya.

“Ya~”, apa dia tak salah dengar. Tolong siapapun katakan jika dia tak salah dengar. Apa ini hanya mimpi? Jika memang ini mimpi dia tak ingin bangun dulu. Ya Tuhan, apa ini benar-benar nyata. Dan perasaan apa ini, kenapa dia menjadi begitu bahagia setelah mendengarnya.

“Tidurlah! Aku yakin kau tak mendapat banyak tidur kemarin. Bukankah kau juga harus bekerja besok?”, lanjut namja itu kemudian. Sebenarnya itu untuk menutupi perkatannya tadi. Kenapa dia jadi keceplosan seperti tadi.

Junghae masih terdiam dengan angan-angan perkataan namja itu tadi. Cukup lama hingga membuat namja itu harus bersuara lagi.

“Junghae-ya, kau mendengarku?”.

“Ah, ya. Aku mendengarnya. Oppa juga harus tidur. Bukankan ini juga sudah larut”, Junghae berkata sambil melirik jam dindingnya.

“Iya, tentu. Jalja”.

“Emh, jalja”.

Junghae ingin sekali berteriak. Mengekspresikan betapa bahagianya dia saat ini. Dia tak pernah sebahagia hari ini. Meski hanya sebentar pembicaraannya tadi, tapi ini benar-benar mampu membuatnya begitu bahagia. Suasana hatinya benar-benar berubah. Ah, dia bisa gila jika terus seperti ini.

Dia kembali membuka galery fotonya. Melihat-lihat fotonya bersama namja itu. Seyum senangnya tak kunjung hilang dari wajahnya. Owh, Park Chanyeol kau akan membuat gadis ini menjadi gila, jika dia terus tersenyum seperti itu. Begitu senangnya hingga tak sadar jika dia sudah memejamkan matanya. Membiarkan ponselnya yang masih menyala, memperlihatkan potret dirinya bersama dengan namja itu.

Tak lama setelahnya, pintu kamarnya terbuka. Menampakkan seorang gadis yang tak lain adalah kakak perempuannya, Jungra. “Junghae-ya”, sapa kakaknya. Cukup pelan, karena takut menggangu adiknya jika dia sudah tidur. Dan benar saja, adiknya memang sudah tidur. Dengan posisi miring, dimana tubuhnya tak tertutup selimut. Apa dia tak kedinginan, pikirnya.

Dia mengedarkan pandangannya menyusuri kamar adiknya. Sudah tampak rapi dari kunjungannya tadi pagi. Kapan gadis itu membersihkannya? Pikirnya kembali. Sebenarnya dia datang kesana untuk menanyakan apa dia sudah makan atau belum. Itupun perintah dari ibunya. Tapi karena gadis itu sudah tidur, jadi dia membiarkannya. Tak enak membangunkannya, apalagi melihat wajah lelahnya. Dia benar-benar tak akan tega.

Jungra menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya. ‘Kau pasti sangat lelah. Jalja. Semoga mimpi indah’, bisik Jungra. Dia tak berharap Junghae mendengarnya. Karena dia tahu pasti, jika gadis itu tak akan mendengarnya. Dia bersiap pergi, namun sepertinya ada yang jatuh di kakinya. Ponsel, itu ponsel Junghae. Layarnya menyala karena benturan tadi.

Jungra memungutnya, bermaksud meletakkannya di nakas. Adiknya akan kesulitan mencari nantinya. Namun niatnya terhenti, saat melihat layar ponsel tersebut. Matanya membulat sempurna melihat potret seorang namja bersama adiknya. Mereka terlihat begitu mesra. Dia menggeser layar tersebut. Dan bukan hanya satu, banyak foto yang memperlihatkan adiknya bersama namja tersebut. Sebenarnya apa hubungan mereka? Apa mereka berkencan?

Jungra terus berfikir, kemungkinan itu ada. Tapi, bukankah namja itu sudah memiliki kekasih? Dia tak tahu jika sebenarnya namja itu sudah putus dengan kekasihnya. Tidak, tidak. Ini hanya kebetulan. Ya, mungkin saja. Mereka memang dekat, karena memang ibu namja itu menyukai Junghae. Ya, pasti karena itu. Tapi bagaimana jika mereka memiliki hubungan yang lebih? Ah, entahlah. Gadis itu terlihat pusing dengan berbagai pemikiran yang muncul dalam otakknya. Dia tak suka menebak. Lebih baik dia menanyakannya besok. Jungra akhirnya meletakkan ponsel itu di atas nakas. Dan berlalu meninggalkan adiknya.

.

.

.

Chanyeol masih berdiri di balkon kamarnya. Dia masih betah menatap langit malam. Bintang terlihat cukup banyak di langit. Ditambah bulan yang terlihat tersenyum padanya. Suasana hatinya sangatlah baik. Ditambah lagi dia sudah mendengar suara khas milik gadisnya. Ya, gadisnya. Gadis yang secara tak sengaja sudah terikat dengannya.

Dia mengingat awal mula bagaimana mereka bisa bertemu. Kalau dipikir-pikir, kapan sebenarnya mereka bertemu. Apa saat dia menjemput ibunya di rumah sakit. Ya, itu pertama kalinya mereka berkenalan. Tapi sepertinya bukan saat itu mereka pertama bertemu. Ah, dia ingat sekarang. Saat gadis itu terburu-buru pergi setelah menjenguk ibunya. Mereka tak sengaja bertabrakan di lorong rumah sakit. Namja itu kembali menyunggingkan senyum khas miliknya.

Semilir angin malam berhembus menerpa wajah tampannya, membuat siapapun akan menggigil kedinginan. Namun dia masih setia berdiri menatap langit malam. Dinginnya angin itu tak lantas membuatnya beranjak. Apa yang sebenarnya membuat dia betah berlama-lama di tengah udara yang dingin. Sepertinya dia terfikirkan sesuatu.

 

Flashback

“Park Chanyeol-ssi”.

Chanyeol mendengar dirinya dipanggil, cukup keras suara itu hingga membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya. Dia menoleh untuk mengetahui siapa gerangan yang tengah memanggilnya. Dia melihat seorang namja dengan tas ditangan kirinya. Sepertinya wajahnya tak asing. Dia teringat satu orang, “Manajer Jeon”, ucap Chanyeol untuk memastikan pemikirannya.

“Bisakah kita bicara sebentar!”, jawab namja yang tadi memanggilnya.

Chanyeol melirik jam tangannya sebentar. “Baiklah!”, ucap Chanyeol kembali sebagai persetujuan.

Mereka memutuskan untuk berbicara di cafe hotel tersebut. Memesan minuman kesukaan masing-masing. Mungkin ini akan lama, itulah yang dikatakan oleh Manajer Jeon. Karena itu mereka mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Memang awalnya Manajer Jeon meminta sebentar, tapi setelah mempertimbangkan beberapa hal dia bilang akan memakan waktu sedikit lebih lama.

“Jadi apa yang ingin anda bicarakan Manajer Jeon?”, tanya Chanyeol yang kembali meletakkan cangkirnya di meja. Dia cukup mengenal namja itu. Namja yang terkenal sangat keras kepala di Jeguk Group. Kepintarannya juga banyak dibicarakan. Tak heran jika di usianya yang masih sangat muda dia sudah menjadi Kepala bagian di devisi pembangunan dan perencanaan proyek Jeguk Group.

Manajer Jeon membuang nafas panjangnya sebelum bicara. “Apa nona Junghae bersama anda?”.

“Kenapa kau kau bertanya seperti itu?”, jawab Chanyeol. Dia merasa sedikit heran mengapa namja itu menduga jika Junghae bersamanya. Secara kasat mata, dia tak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu. Kecuali jika dia sudah tahu hubungan apa yang dimilikinya dengan gadis itu. Apa mungkin dia tahu? Itulah pemikiran Chanyeol.

“Sebenarnya, aku sudah mengetahui hubungan seperti apa yang kalian miliki”. Tak ada tatapan bohong di matanya. “Kalian sudah menikah bukan?”, lanjutnya kemudian.

Jadi benar dia sudah mengetahuinya. Chanyeol kembali mengambil cangkirnya. Dia meminum kembali cairan coklat kental kehitaman itu. ‘Tapi bagaimana dia bisa tahu?’, pertanyaan itu tiba-tiba muncul di otaknya. “Bagaimana kau bisa tahu?”, ucap Chanyeol kembali kembali setelah meletakkan cangkirnya.

“Aku tak sengaja mendengar percakapan kalian di restoran saat itu. Saat anda memberikan cincin pada nona Junghae”, jelas Manajer Jeon.

“Ah, jadi saat itu”, Chanyeol mengangguk paham saat dia mengingat kejadian yang Manajer Jeon maksud.

“Jadi, bisakan anda menjawabnya. Apa nona Junghae bersama anda? Aku sudah mencarinya seharian ini, dan aku tak menemukannya dimanapun. Tas dan ponselnya ada padaku. Aku takut jika sesuatu yang buruk menimpanya”, wajah Manajer Jeon terlihat begitu khawatir.

“Dia bersamaku”, jawab Chanyeol.

Teramat singkat perkataan Park Chanyeol, namun mampu membuat Manajer Jeon dapat bernafas lega. Ini memang salahnya, seharusnya dia tak membiarkannya pergi malam itu. Atau paling tidak dia segera mencarinya. Raut cemas di wajah Manajer Jeon terlihat memudar. “Syukurlah!”, tuturnya kemudian.

“Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Dia terlihat sangat kacau saat aku menemukannya”, ada tatapan mengintimidasi di mata Chanyeol. Dia terlihat sedikit marah mengingat bagaimana dia menemukan Junghae malam itu. Keadaannya sungguh kacau. Dia memang sudah mendengar penjelasan dari Junghae, tapi tetap saja dia merasa ada sesuatu yang lain yang terjadi diantara mereka.

Manajer Jeon terlihat mengambil gelasnya. Dia meminum kembali minumannya. Menghela nafas panjang sebelum memulai memberi penjelasan. Dia harus mempersiapkan dirinya dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja namja yang ada dihadapannya ini akan marah jika mendengarnya. Semoga saja tidak. “Sebelumnya aku minta maaf, jika nanti perkataanku akan membuat anda marah”.

“Baiklah! Kau bisa menjelaskannya”, jawab Chanyeol. Kenapa dengan namja ini? Kenapa dia harus meminta maaf terlebih dulu? Apa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka? Apa ada sesuatu yang tak Junghae ceritakan? ‘Cukup Chanyeol, kau hanya perlu mendengarkannya sekarang’, dia berkata pada dirinya sendiri.

“Setelah memenangkan negoisasi dengaan klien kami kemarin. Aku mengajaknya ke pantai. Aku tak tahu kenapa aku bisa melakukannya? Mobil yang aku kemudikan yang seharusnya menuju hotel kubelokan begitu saja menuju pantai. Ku pikir menikmati pemandangan alam sebentar tak akan jadi masalah. Ditambah, hari ini seharusnya kami sudah kembali ke Seoul”.

Chanyeol masih setia mendengar penjelasan Manajer Jeon. Dia sesekali meminum minumannya untuk mengurangi rasa bosannya. Ini sama dengan apa yang Junghae ceritakan.

“Aku masih ingat persis jika dia sangat sangat menyukai pantai”, Manajer Jeon kembali meminum minumannya sebelum melanjutkan penjelasannya.

Dia tahu jika Junghae menyukai pantai. Tunggu, ada yang aneh dari sini. Dia bilang jika dia masih ingat persis. Berarti namja ini sudah mengenal gadis itu sebelumnya. Tapi bagaimana? Bukankah Junghae dari kecil tinggal di Amerika. Kecuali jika memang namja ini pernah tinggal disana. Dan lagi, Junghae tak menceritakan bagaimana mereka bisa mengenal. Dia berfikir jika Junghae mengenalnya saat menggantikan sekretaris kakaknya yang sedang wajib militer. ‘Kau hanya perlu bertanya Park Chanyeol. Jika hanya berangan-angan tak akan dapat jawaban’, dia kembali berkata dalam hati. “Kau bilang jika kau masih ingat persis, apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?”, tanya Chanyeol kemudian. Ya, raut wajanya kini terlihat penuh tanda tanya.

‘Jadi Kim Junghae belum menceritakannya?’, pikirnya. “Iya, aku sangat mengenalnya. Kami berada di SMA yang sama dulu. Lebih tepatnya, kami pernah berkencan dulu”, Manajer Jeon kembali menjelaskan.

Ini fakta yang tak pernah Chanyeol bayangkan sebelumnya. Jadi dia sedang berhadapan dengan mantan kekasih istrinya. Ada perasaan aneh yang menusuk hatinya. Entah apa itu? Sepertinya dia ingin sekali melakukan sesuatu, namun ia tahan dengan menghembuskan nafas panjangnya. Sepertinya dia tengah mencoba menenangkan dirinya. ‘Tenanglah Park Chanyeol! Dia hanya bagian dari masa lalunya. Jika dia bisa memaklumi masa lalumu, seharusnya kau juga bisa memakluminya. Bukankah setiap manusia punya yang namanya masa lalu. Dan lagi namja itu sudah minta maaf sebelumnya tadi’. Ya, begitulah bagaimana dia menenangkan dirinya.

Manajer Jeon tahu jika namja yang ada dihadapannya tengah menahan sesuatu. Karena itu dia meminta maaf sebelumnya tadi.

“Lalu apa hubungannya dengan keadaannya yang kacau?”, tanya Chanyeol kembali. Dia hanya ingin penjelasan tentang istrinya yang ditemukannya dalam keadaan kacau. Kenapa dia jadi mendengar hal lain yang sebenarnya tak ingin didengarnya.

“Setelah dari pantai, aku mengajaknya mampir di rumah peninggalan kakekku. Karena memang jaraknya tak cukup jauh dari pantai itu. Kami makan malam disana. Kami juga minum bir bersama. Dia yang mengatakan jika dia ingin sekali minum denganku”. Manajer Jeon kembali membuang nafas panjangnya. Dia terdiam sejenak, mempersiapkan diri dengan kemungkinan yang akan dia alami nantinya. “Aku begitu mabuk saat itu. Hingga aku tak sadar sudah mencium dan menyudutkannya di sofa. Jika dia tak mendorongku, mungkin sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman akan terjadi”, lanjutnya.

Seperti disambar petir di siang bolong, Chanyeol hanya bisa diam mendengarkannya. Junghae memang sudah menceritakannya. Tapi entah mengapa hal ini justru terdengar lain saat namja itu yang bercerita. Dia ingin marah, tapi kenapa? Bukankah namja ini sudah minta maaf sebelumnya. Dan lagi namja ini begitu gentle mengatakannya. Tak mudah menemukan namja yang seperti dia. Dengan jujur dan penuh penyesalan menceritakan kesalahan yang telah diperbuatnya.

“Dia lari begitu saja dari sana. Dia tak memakai mantel, syal, ataupun heelsnya. Dia pasti kedingan malam itu. Seharusnya aku segera mengejarnya. Hanya saja kepalaku begitu berat, aku tertidur begitu saja setelahnya”, jelas Manajer Jeon lagi.

“Ah, pantas saja. Dia memang sangat kacau malam itu”, hanya itu yang bisa Chanyeol katakan. Dia tahu jika hal itu bisa terjadi pada siapapun. Bahkan pada dirinya sekalipun.

Luar biasa, namja di hadapannya tak marah. Manajer Jeon bahkan sudah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang akan dia dapat dari namja ini. Tapi, lihatlah sekarang. Namja itu begitu tenang mendengar penjelasannya. Apa karena Junghae sudah menceritakannya? Tapi jika memang sudah, untuk apa dia mendengarkan penjelasannya? Berbagai pemikiran muncul dikepalanya.

“Kau masih mencintainya?”, Chanyeol kembali bersuara setelah mereka diam untuk beberapa saat. Entah mengapa kalimat itu muncul begitu saja dari mulutnya. Dia sangat penasaran dengan masa lalu istrinya.

“Bohong, jika aku mengatakan sudah tak mencintainya. Dia adalah cinta pertamaku. Dia juga yang sudah membuatku merasakan perasaan mencintai dan dicintai. Mengajariku banyak hal”, jawab Manajer Jeon.

Seulas senyum tercetak di wajah Chanyeol. Dia tersenyum untuk pernyataan Manajer Jeon. Istrinya benar-benar sesuatu. Gadis itu mampu membuat namja yang terkenal keras kepala jatuh cinta padanya. Ya, melihat sikap hangat istrinya, namja mana yang tak menyukainya. “Lalu kenapa kalian berpisah jika memang kau masih mencintainya?”.

“Ada hubungan yang memang tak ditakdirkan. Seperti hubungan kami”, dia terlihat menghela nafas sejenak. “Kami memiliki dunia yang berbeda. Meski dia selalu bilang tak masalah, tapi bagaimana dengan kerabat dan juga saudaranya. Apa mereka akan sependapat! Karena itu, aku memutuskan untuk mengakhirinya. Ini untuk kebaikan kami semua”, ada raut menyesal dalam perkataan Manajer Jeon.

Namja ini bahkan memikirkan masa depan untuk mereka. Berbeda dengannya, dia tak pernah berfikir seperti itu untuknya. Dia dapat belajar dari sini. Mulai sekarang dia harus berfikir jauh ke depan sebelum melangkah. “Itu alasan yang paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar”.

“Mungkin bagi anda itu tidak masuk akal. Tapi bagiku, ini adalah solusi terbaik dari semua solusi yang ada. Lalu bagaimana dengan pernikahan anda? Kenapa anda merahasiakannya? Bukankah kalian dari kalangan yang sama. Saya yakin jika kalian memberitahukan hal ini pada keluarga kalian, tidak akan ada yang menolaknya”.

Sekarang Chanyeol seperti mati kutu mendapat pertanyaan itu. Sebenarnya, memang alasannya merahasiakan pernikahannya juga termasuk kategori alasan yang tak masuk akal. Dia tak tahu pasti kenapa dia tak kunjung mengumumkan pernikahannya. Junghae memang berkata tak masalah, tapi seharusnya dia juga lebih peka. Apa dia selamanya akan menjadi seorang pengecut dengan terus menyembunyikannya? Chanyeol memejamkan matanya sebentar, mencari kalimat yang tepat untuk menjawabnya. “Ini privasi kami. Aku tak punya alasan kuat untuk memberitahumu”. Itu adalah kalimat yang menurutnya paling tepat. Ya, namja yang ada dihadapannya tak memiliki alasan yang kuat untuk tahu alasan apa dibalik pernikahan rahasianya.

Manajer Jeon terlihat menyunggingkan senyum. Bukan senyum senang tapi senyum mengejek. Ya, ini memang bukan wilayahnya untuk mengetahui hal tersebut. Pada akhirnya dia tetap tak akan bisa menggapai gadis itu. Gadis yang ia anggap memiliki dunia yang berbeda dengannya. Dan inilah dunianya. Dunia seorang konglomerat yang penuh dengan rahasia. “Apa anda tak takut, aku akan menyebarkannya?”, tanyanya akhirnya.

Apa namja ini sedang mengancamnya? Tidak, nada bicaranya tak menunjukan hal itu. Ini lebih tepat disebut pertanyaan. Chanyeol tersenyum sebelum menjawabnya, “Aku percaya, kau tak akan melakukannya. Lagipula apa untungnya kau menyebarkannya? Aku yakin kau bukan tipe orang yang akan mengerjakan sesuatu yang sia-sia”.

Baiklah, dia menyerah. Namja yang ada dihadapannya memang sulit ditebak. Tapi setidaknya dia tahu jika namja ini pantas untuk gadisnya. Ah bukan, gadis itu bukan lagi gadisnya. Tapi apa namja ini tipe yang bertanggung jawab? Sudahlah Jeon Jungkook, gadis itu bukan urusanmu lagi. Dia pasti tahu mana yang baik untuknya. Dan lagi, pasti ada alasan kuat mengapa mereka menyembunyikan hal sebesar ini dari keluarganya.

Mereka diam untuk sesaat, menikmati kembali minuman masing-masing.

Manajer Jeon sudah menceritakan sesuatu yang seharusnya dia ceritakan. Karena itu, dia sudah tak punya alasan lain untuk tetap berada di tempat itu. Dan lagi pesawatnya juga akan berangkat sebentar lagi. Dia harus bersiap-siap jika tidak ingin terlambat. “Baiklah, kurasa aku sudah tak memiliki alasan untuk tetap berada disini. Ini milik nona Junghae”, Manajer Jeon menyerahkan tas dan juga ponsel yang dibawanya. “Sekali lagi maafkan aku Park Chanyeol-ssi. Sampaikan permintaan maafku juga pada nona Junghae”, dia membungkuk hormat sebelum meninggalkan Park Chanyeol.

Flashback end

 

Chanyeol kembali tersenyum mengingatnya. Dia memutuskan kembali ke kamarnya karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.

to be continue……..

 

Hai, saya kembali lagi dengan chapter 16.

Disini saya menjawab yang pada penasaran dengan apa yang Manajer Jeon dan Bang Chanyeol bicarakan.

Semoga tetep suka dengan ff ini.

Tetap tinggalkan jejak kalian.

 

 

Mungkin aku gak bakalan bisa update tiap minggu. Kejar tayang menyelesaikan skripsi. Do’akan semoga lancar, ya.

Aku cinta kalian semua. ❤  ❤  ❤

 

Thanks bingit buat yang udah mendukung ni ff, hahaha……

 

Salam hangat: Dwi Lestari

Iklan

56 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 16)

  1. jd gk sbar nunggu chap slanjutnya .liat chan oppa sm junghae lg kasmaran jd ikut2an kasmaran ni kita . wkwkwk . author bikir chap nya smpai ratusan ya ,, klu prlu ad season 2,3,4 nya gtu

    smngat author !!!!

    • tetap ditunggu ya…
      aku gak janji bisa buat sampai chapter ratusan, apalagi ada seasonnya..
      tapi kita lihat saja nanti ya…

      terima kasih…
      fighthing!!! 🙂

  2. yess akhirnya terjawab percakapan jungkook dan chanyeol.. wihhh jungkook gentle yaa.. chanyeol jg bijak.. untunglah mreka gk jotos”an..kkkk kek anak muda aja sampe jotos”an…
    tinggal tunggu jungra nih… penasaran kelanjutannya deh…

  3. chanyeol terlalu baik sama manager jeon 😊
    terjwab sudh reaksi chanyeol gimana pas ketemu sama manager jeon..
    jungra udh mulai curiga hubungan adiknya sama chanyeol..
    junghae ayo ungkapkan rasa sukamu sama chanyeol ahhh bikin greget sama mereka berdua. semoga pernikahan chan & hae cepet2 go public kasihan mereka kalo mau ketemuan harus sembunyi2 terus..

    ditunggu next chapternya..
    fighting author..

    • aku gak tau harus balas apa…
      ditunggu saja ya…

      semoga mereka cepat go public…

      terima kasih… 🙂
      fighthing!!!!!

    • gak pernah nyangka banyak yang nungguin..
      ditunggu saja ya…

      terima kasih..
      semangat untuk semuanya… 🙂

  4. Ff yang selalu aku tunggu
    Sebenernya dari awal suka ngikutin ff ini banget
    waktu hiatus kalo gak salah satu bulanan lebih itu tetep aja buka website ini selalu cek nunggu update secret wife ..hehe
    Semangat trs author membuat cerita yang terbaik hehe

  5. Selalu suka dan selalu menanti ff nya kok wie ,, semangat buat skrip nya yaa wie , semoga lancar selalu !
    Ditunggu next chapter nya .

  6. Manajer Jeon gentle abis euy!! Kirain bakal dapet satu pukulan gitu. . Ehh Bang Chan ternyata pemaaf. .
    Cepet dong publikasiin pernikahannya. .
    Lanjutt terus Ka Dwi, semangat 😀

  7. Sudah update ni…
    Wah…. penasaran sama jungra yg mergokin foto chan-hae. Gimana reaksinya klo tahu chan-hae sudah menikah.
    Dan ternyata itu yg dibicarain chanyeol dg mnjr jeon.
    Suka pas chanhae telponan.

    Semangat eonni. Nulis ffnya sama nulis skripsinya. Semoga lancar ya…

    • iya sudah…
      ditunggu saja, kita lihat apa reaksi Jungra mengetahuinya…

      ya, dan itu memakan waktu berjam-jam, hahaha…
      aku juga suka pas momen itu…

      iya, ini penuh semangat nulisnya…..
      amin…… 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s