[EXOFFI FREELANCE] Let Me In [Sequel Hold Me Tight] (Chapter 2)

CYMERA_20160723_094653.jpg

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

                        Yoon So hee  x Baek Eun Ha

                         Irene Bae  x   Park Ae Ri

                       Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

                       Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

                               Wang Jackson  x  Jackson

            Park Seo Jun

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer | ALL THE PLOT IS MY OWN, PLEASE DO NOT RE-BLOG, COPY AND PASTE = PLAGIATRISM. Komenttar yang baik sangat dibutuhkan yaaa jangan lupa like nya^^

Poster | RahayK Poster

Summary  this  Chapter | ‘- Jangan pernah mencoba mati, sebelum waktu menyuruhmu untuk berhenti, call?-

Baekhyun menendang kerikil kecil yang berada dibawah alas kakinya.Ia tak minum alkohol sama sekali tetapi yang ia rasa hanya pusing hingga kepalanya terasa mau meledak.

Ia baru mengangkat kepalanya saat ia mendengar deru halus suara air sungai yang mengalir tenang.Entah karena perasaannya yang kacau, jadi  pendengarannya lebih peka atau kendaraan yang sama sekali tak berlalu lalang disisi jalan yang ia pijak.Begitu netranya menangkap objek seorang gadis yang berdiri diatas pilar besi diatas jembatan panjang  yang berada diatas sungai Han ini.

Baekhyun menyipitkan matanya yang membuat dahinya mengeluarkan garis kerut halus untuk sesaat, dingin menerpanya.

Namun, apa yang dilihatnya membuatnya hanya tersenyum samar. Bagaimana bisa, Tuhan membuat manusia hingga merasa seputus asa seperti dirinya dan orang itu.

Baekhyun mempunyai pemikiran yang sama dengan gadis itu, ia merasa kesedihan, keputus asaan, benci yang sama ada juga pada diri gadis itu.

Tapi, ada rasa ragu yang besar dalam diri Baekhyun untuk melakukan suatu hal demikian. Seperti yang Jackson katakan dalam telpon, ia bisa saja melakukan balas dendam pada seseorang yang pernah mencintainya sedangkan dirinya sendiri masih sangat cinta pada orang itu, benar -benar tidak adil. Mungkin, dibandingkan balas dendam yang artinya ia sama saja dengan orang yang merebut Ae Ri lebih baik ia melakukan sebuah pembuktian.

Bukti bahwa ia juga bisa sebanding dengan lelaki itu, bahkan lebih.

Dan, menutup bukunya karena sudah terlalu usang.

Bukan dirinya tetapi hatinya.

Tidak akan ada lagi momen -momen pengulangan.

Ia mendengar gumaman gadis itu walau ia tak berkata dengan keras -keras, cukup jelas malahan. Kali ini, biarlah Baekhyun jadi seorang stalker yang menguping pembicaraan orang. Bagaimanapun, Tuhan pasti memberikan gadis itu kehidupan yang panjang.

Gadis itu harus hidup tak perduli bertapa sulitnya halang rintang yang menghadang dimasa depan. Yang penting hanya sekarang.

Sekarang.

Rambut hitam pucatnya yang tertiup angin membuat Baekhyun memajukan langkahnya.Yang lelaki itu tahu, gadis itu pasti lebih putus asa darinya.

Hanya selangkah.

“Kau tidak bisa mati sekarang. Hidupmu itu masih panjang.”

Baekhyun menarik nafas dengan mata yang menyipit karena hawa dingin yang menerpanya.Sementara, gadis itu memandang Baekhyun dengan gesture dan tatapan yang sama dengan Baekhyun. Hanya saja kata ‘lebih’ ada padanya.

Lebih putus asa.

Lebih kecewa.

Lebih sendu.

Dan, hanya rasa benci yang samar

dan juga rindu pada seseorang.

“…sangat panjang.”

|`Bagian 2`|

“Ahjussi siapa?”

Baekhyun mengulurkan tangannya. Menginterupsi agar gadis itu segera turun dari sana. “Hanya seseorang yang baru saja meloloskanmu dari malaikat pencabut nyawa.”

Baekhyun berucap santai, memang faktanya demikian. Gadis itu masih berdiri disana. Namun, pendiriannya menjadi  sedikit goyah sekarang, karena satu hal.

Ada seseorang yang perduli dan mencegahnya untuk mati.

“Bunuh diri hanya membuatmu tersiksa di neraka. Jika kau tak mau turun aku ingin melanjutkan perjalananku untuk kembali ke rumah.” tambahnya lagi seraya bergidik.

Baekhyun mengerjapkan matanya karena hawa semakin dingin, mungkin musim dingin sebentar lagi akan tiba.

Timingnya benar -benar tepat.

Baekhyun hendak kembali melangkah namun gadis itu bersuara.

“Ahjussi jamkkamannyeo..”

Baekhyun menghentikkan langkahnya lalu menoleh.Lelaki itu memandang netra cokelat pekat gadis itu penuh selidik. Bahkan, lelaki itu bisa menyimpulkan ada tatapan lain dibalik kesenduannya.

Tapi, ia tak dapat mendefinisikannya.

Baekhyun menaikkan kedua alisnya, menunggu apa yang dikatakan gadis itu.

“Aku ingin turun.Tolong bantu aku, Ahjussi.”

Gadis itu mengulurkan tangannya, tak lama, Baekhyun segera meraihnya dan hampir saja gadis itu tergelincir kearah sungai. Beruntung Baekhyun segera menarik mantel gadis itu dan mereka terjatuh.

Tentu saja, Baekhyun mengorbankan tubuhnya untuk beradu dengan aspal beton yang dinginnya bukan main.

Kedua insan itu terdiam.

Salah satu dari mereka menelan salivanya dan ada yang menahan nafasnya.

Dan, hanya satu dari mereka yang menahan debar jantungnya agar tak meledak dengan segera.

Setelah sadar, gadis itu segera bangkit dan berdiri. Sementara yang menangkapnya tadi hanya ikut melakukan apa yang si gadis lakukan dan membersihkan mantelnya.

“Maafkan aku.” ujar gadis itu bersuara lagi. Baekhyun hanya mengacak rambutnya lalu terkekeh pelan. “Kau tak terluka ‘kan? –Jangan merasa ragu, jika ingin mati.” cerca Baekhyun lalu membungkuk dan mengambil ponsel gadis itu yang sudah terbelah beberapa bagian, namun sepertinya masih bisa digunakan.

Ia menyerahkannya pada gadis itu. Si gadis  kemudian membungkukkan badan sebagai rasa hormat dan terimakasih.

“Gamsahamnida, Ahjussi.”

Baekhyun hanya mengangguk melukis senyum simpul. “Aku tak tahu apa yang terjadi padamu atau bagaimana masalahmu, tapi untuk seumuranmu aku yakin itu hanya masalah sekolah dan nilai. Oh ya, kau tingkat berapa?”

“Hng, tingkat 2..”

“Seperti dugaanku, perjalananmu masih panjang, banyak yang harus kau dapatkan dikemudian hari. Jadi –‘ Baekhyun memegang kedua bahu gadis itu.

“–jangan pernah mencoba untuk mati, jika waktu belum menyuruhmu untuk berhenti. Call?”

“Nde, algeseubnida, Ahjussi.”

Baekhyun tersenyum lalu menghempaskan tangannya kesisi tubuhnya, memasukkan jemarinya yang dingin kedalam mantel yang ia pakai.

Lalu berjalan meninggalkan gadis itu yang masih berdiri ditempatnya. Ia berjalan melawan arah, kembali dari arah dimana ia datang.

Diwaktu yang sama, salju putih mulai turun dari langit perlahan -lahan. Membuat Baekhyun menghentikkan langkahnya dan berbalik.

Dan, tidak seperti dugaannya, gadis itu masih tak bergeming ditempatnya.

Setidaknya, ia melakukan satu hal baik hari ini. Berpura -pura baik kepada orang lain memang tak ada salahnya, kadang kala itu cukup membantu, dari pada harus jujur  tapi tak ada solusi sama sekali, itu lebih menyebalkan menurut Baekhyun.

Tuhan tidak membiarkan hatinya hancur sepenuhnya, Baekhyun merasa ia sedikit terobati dan ia tahu jika tak hanya ia yang memiliki masalah pelik dalam hidupnya.

Tapi, orang lain juga.

“Pulanglah ke rumahmu dengan segera. Hari akan semakin dingin seiring  langit yang sudah larut, haksaeng.”

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari siswa perempuan itu, ia kembali melangkah.

“Mungkin saja —jika Tuhan memberikan hidup yang panjang pada Joo Eun, ketika ia tumbuh besar, pasti ia akan secantik itu.”

|`[Reset]`|

6 Tahun lalu…

Beberapa hari sebelum perayaan tahun baru,

“Jika kau dapat menyaksikan malam pergantian tahun —kau ingin melakukan apa, Tuan Byun?”

Gadis itu menaruh dagunya dimeja kerja Baekhyun. Sementara yang ditanya masih sibuk dengan sebuah buku tebal yang entah apa isinya. Setelah merasa gadis itu sudah mengerucutkan bibirnya karena merasa diabaikan, barulah ia menghentikkan aktvitasnya dan menopang dagunya seraya menatap gadis itu penuh sayang.

“Entahlah —ini adalah penantian tahun baru yang paling panjang. Karena ini adalah perayaan yang kita lakukan bersama -sama.”

Baekhyun kemudian bangkit dan memandang kearah luar. Kemudian diikuti oleh gadis yang sejak tadi menggodanya. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu mendecak. “Setiap tahun kurasa kita memang bersama -sama terus untuk perayaan tahun baru, begitu juga dengan natal lalu chuseok. Ada apa denganmu sih?”

Pertanyaan gadis itu membuat Baekhyun membalikkan badan dan memeluk gadis itu dari belakang, melingkarkan tangannya pada tubuh mungil gadis itu.

“Tidak ada apapun. Bagaimana dengan keinginan atau harapan untuk tahun esok?”

“Umm —selalu bersama denganmu untuk waktu yang lama.Mungkin, jika kita diizinkan untuk melihat rambut kita memutih satu sama lain. Bagaimana denganmu, Tuan Byun?”

tanya gadis itu dengan senyum cerah, ia menoleh kearah Baekhyun. Baekhyun hanya menyengir lalu mengecup pipi gadis itu singkat.

“Jawabanku sudah terwakilkan. Bahkan, kalau bisa sampai kita melihat anak -anak kita besar nanti?”

Kesepakatan Baekhyun membuat gadis itu tertawa. Dan mengangguk antusias.

“Sepakat!”

Mereka berdua lalu bercanda, bergurau satu sama lain.

Hingga sebuah suara membangunkannya untuk kembali ke alam sadar.

Suara bass yang masuk ketelinganya sudah tak asing lagi di pendengarannya untuk kisaran beberapa bulan terakhir ini.

Melihat rekannya bangun dengan berpeluh -peluh membuat ia segera mengambil handuk kecil dan memberikannya pada lelaki yang baru bangun dari tidur itu.

“Kau sudah bisa tidur sekarang –tapi, kau terus didatangi oleh mimpi buruk ya?” cibir Yeol seraya mendecak.

“Lebih baik.” pungkas Baekhyun dan turun dari tempatnya tidur. Senyaman apapun ia tidur, tidak terasa seperti dirumah ia tak punya beban apapun, tapi rasanya hidup makin berat saja.

“Yah, dulu kau insomnia –sekarang bisa tidur dan selalu ditemani mimpi buruk. Jika aku adalah kau, sudah dari dulu aku menderita. Sudah lelah dengan pekerjaan, alternatif paling manjur adalah tidur, tapi kau sama sekali tak nyenyak karena beberapa alasan yang mengganggumu.Jika soal ketua Tim Jung –ceritakan saja padaku.” Yeol berkata panjang lebar, lalu memakai jam tangannya, teman Baekhyun itu sudah rapih bak model yang akan melakukan pemotretan.

“Aku mandi dulu.” Baekhyun meraih handuk dan berjalan ke toilet.

“Baiklah. Sebelum kembali ke Seoul ketua akan mengadakan rapat. Segeralah keluar jika kau telah usai mandi.” teriaknya dan segera meninggalkan kamar itu.

||`||

Baekhyun hanya terdiam begitu melihat pantulan dicermin.Ia baik -baik saja, tak kekurangan satu apapun. Dan, secara fisik memang ia adalah seorang Byun Baekhyun.

Hanya saja, saking sibuknya atau dia sendiri yang tak memperhatikan wajahnya, sampai -sampai bulu halus dibawah hidungnya mulai tumbuh. Lelaki itu hanya mendecak kecil, demikianlah ia sadar bahwa umurnya sudah seperempat abad lebih, dan untuk pertama kalinya ia lupa untuk melakukan cukur kumis. Yah, walau diakui, ia tampak gagah juga berpenampilan seperti itu, hanya saja, ia merasa tidak rapih.

Detik berikutnya ia membuka lemari kecil yang ada disisi kaca dan mengambil pisau cukur dan krim agar kulitnya tidak iritasi. Membasuh wajahnya, dan mulai mencukur bagian sekitar bawah jambang dan juga dagu serta piltrum.

Sudah begitu lama, sejak terakhir kali seseorang membantunya untuk bercukur. Mengingat masa -masa itu ia merasa dirinya benar -benar menyedihkan.

Ditambah lagi, kenapa juga ia harus memiliki mimpi yang benar -benar buruk. Kenapa orang itu datang kedalam mimpinya?

Dia benar -benar tak tahu terimakasih, pikir Baekhyun.

“Mengapa makin lama kau semakin tak tahu diri saja, Park Ae Ri? —untuk apa mengunjungiku dalam mimpi?”–‘

Baekhyun tahu ini gila, tentu itu hanyalah halusinasi dari Ae Ri. Lelaki itu melihat pantulan mantan istrinya itu dicermin.

“… memangnya aku terlihat menyedihkan?Enyahlah kau –Sialan!” rutuk Baekhyun dan meninju cermin itu hingga retak. Tangannya mengeluarkan banyak darah. Ia hanya membiarkannya tercuci oleh air yang mengalir dari keran wastafel.

||`||

“Jadi, apa yang mau kau katakan, Baekhyun –ssi?” tanya Ketua Jung yang menghampiri Baekhyun seusai rapat. Baekhyun kemudian memberikan secangkir kopi, merekapun memutuskan untuk bicara diluar kapal.

Sementara Ketua Jung menyesap kopimya, Baekhyun merogoh sebuah surat dari saku celananya, dan menyerahkannya kepada Jung.

“Mungkin aku lancang untuk memberikan itu padamu.Tapi, Aku sepertinya harus mengundurkan diri, Ketua Tim Jung.”

“Oh, waeyeo?apa kau tidak nyaman denganku?” tanya Ketua Jung dengan alis yang bertaut.

“Bukan begitu. Aku rasa, sudah saatnya aku kembali ke bidangku lagi. Seseorang teman membutuhkan partner kerja untuk perusahaan farmasinya yang baru berdiri, dan aku ditawarkan untuk kerja disana.” ujar Baekhyun mengklarifikasi alasan ia mengundurkan diri dari riset pertambangan. Ketua Jung mengangguk lalu bersedekap, karena udara diluar cukup dingin pagi ini.

“Aah,begitu..—omong -omong,sebenarnya aku suka dengan kinerjamu, walau ini tidak sesuai dengan bidangmu. Tapi, kau akan bertugas dimana?”

“Amerika.”

“Itu kesempatan yang bagus. Tak ada salahnya kau menerima tawaran temanmu —aku doakan semoga sukses.” dukung Ketua Jung sambil menepuk bahu Baekhyun memberi semangat.

“Jadi, kau menerima pengunduran diriku?”

“Tentu saja.Tapi, ketika kau sukses jangan lupa mengunjungi kami.” Ketua Jung menyengir lalu mengulurkan tangannya sebagai tanda sepakat, dengan berjabat tangan dengan Baekhyun.

“Terimakasih, ketua Jung.” ujar Baekhyun lalu membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.

“Akan aku sampaikan surat pengunduran dirimu ke presdir nanti.”

|`[Reset]`|

“Eun Ha –ssi?” panggil seorang pria setengah abad, beliau adalah pemilik dari super -market yang ada diperempatan pasar tradisional sangam-dong.

“Nde?”

Ini adalah kerja part -timenya yang ke -3, karena memang hari ini sekolah libur karena seluruh murid dari tingkat awal hingga akhir pergi study-wisata ke daerah Noryang. Tapi, Eun Ha tidak bisa ikut karena harus bekerja, lagipula ia terlalu menyanyangkan biaya yang keluar, tak sedikit jumlahnya.

Dan, ia harus belajar untuk mencapai peringkat 10 teratas agar beasiswanya terus berjalan tanpa kendala. Lagipula, ia lebih menikmati kegiatannya sekarang, daripada harus mendengarkan bahan -bahan pembicaraan anak sekelasnya yang sama sekali Eun Ha mengerti. Semuanya seakan -akan memperlihatkan dengan jelas strata sosial mereka. Sama saja membunuh Eun Ha secara halus.

Eun Ha menghampiri sang pemilik toko, dan mencopot sapu tangannya.

“Ini adalah gajimu bulan ini—- aku ingin kau mencari seorang pekerja pria untuk berganti shift denganmu,aku tahu kau sudah tingkat akhir —pasti part-time ini sangat berat untukmu.Lagipula, No Jin harus ikut ujian universitas sehingga ia ijin padaku untuk mengundurkan diri.”

“Tapi, aku baik -baik saja, Ahjussi. Aku juga tidak keberatan bekerja dari shift awal hingga malam nanti, asal anda bisa membayarku lebih sedikit saja.”

“Maafkan aku, seharusnya kau bersyukur sudah mendapat kerja disini. Karena biasanya aku hanya menerima mahasiswa saja untuk bekerja disini. Kau ‘kan juga lihat pelanggan kita turun akhir -akhir ini, karena cafe -market yang baru buka didekat stasiun subway.” Pak Tua itu berbicara lagi lalu mengambil remote tv dan mengganti channel.

“Aah, aku juga melihatnya, kebetulan aku pulang lewat sana.Tapi, kalau seorang pria seperti agaknya berumur tidak apa?” tanya Eun Ha seraya mencopot rompi kerjanya dan mengambil mantel yang ia taruh dekat meja kasir.

“Maksudmu Ahjussi?—Bagaimana dengan wajahnya?” tanya Pak Tua dengan mata mengerling. Eun Ha tampak berpikir sejenak, ia lalu mengangguk penuh arti.

“Hng.. iya lumayan muda sih.Tapi, aku rasa ia berumur 30–an.”

“Sepertinya bisa.Bawa saja kesini, kita lihat apa dia layak atau tidak.” ujar Pak Tua itu.

“Hng..Ahjussi —kalau aku tak bisa membawa orang itu kemari?”

“Cari pekerjaan lain saja kalau begitu.” cerca Pak Tua dengan tatapan datarnya. Eun Ha cuman tersenyum pahit dan membungkukkan badannya.

“Aah,nde. Aku mengerti —terimakasih atas gajinya.”

“Pergilah!”

“Nde, sampai jumpa besok, Ahjussi.”

Eun Ha membuka pintu supermarket,kemudian membuka amplop itu dan menghitung isinya. Ia kemudian kembali kedalam supermarket.

“Ahjussi, bayaranku tak seperti kesepakatan awal. Ini kurang 30.150 won. Seharusnya 130.150 ribu won tapi ini cuman 110.00 ribu won.”

“Kau saja kemarin datang terlambat, tentu kau harus membayar dendanya. Sudah sana –pergi dari sini!”

Pak tua itu mendorong Eun Ha keluar dari dalam toko.Ia segera mengunci pintunya dari dalam dan tak perduli pada Eun Ha yang berteriak -teriak dari luar.

“Ahjussi!Ahjussi!! —-aish!” rutuk Eun Ha menyentakkan kakinya keaspal yang ditutupi salju. Akhirnya, ia lebih memilih untuk meninggalkan tempat itu daripada harus menjadi pusat perhatian orang -orang yang berlalu -lalang.

Eun Ha merapatkan jaketnya dan memasukkan uang itu kedalam dompet yang ia ambil dari dalam tas sekolahnya. Ia melirik jam digital yang terpasang diwidget ponselnya, belum terlalu larut untuk sekedar berjalan -jalan.

“Bagaimanapun, kau harus hidup Baek Eun Ha.” gadis itu berujar pada dirinya sendiri. Sejak hari itu, gadis itu selalu tahu bahwa ia harus hidup, karena seperti yang ahjussi yang menyelamatkannya bilang, bahwa ia akan mempunyai hidup yang panjang dan sangat —sangat  panjang.

Bukan hanya itu yang selalu Eun Ha ingat dibenaknya.Tatapan sendu dan rasa sakit yang tersamar oleh senyumannya yang tertaut, Eun Ha selalu mengingatnya dan Ia tahu, belum sama sekali ia berterimakasih secara resmi pada lelaki itu.

Seperti  magic,  apa yang terlintas dipikiran Eun Ha cukup nyata untuk sesuatu yang masuk kedalam objek pengelihatannya.

“Ahjussi?!”

Bersambung..

Iklan

24 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Let Me In [Sequel Hold Me Tight] (Chapter 2)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (CHAPTER 17 PT 2) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 17: MAD (NO) HATE | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 15) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [Bagian #10] Let Me In: Best (bad) gift – Ssstt!! This Fiction!

  5. Ping balik: [Bagian #9] Let Me In: All Thing is back – Ssstt!! This Fiction!

  6. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 14) | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: [Bagian #7] Let Me In: Fools Love – Ssstt!! This Fiction!

  8. Ping balik: [Bagian #6] Let Me In: Her Beloved – Ssstt!! This Fiction!

  9. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] – LET ME IN -13: MEET AND INVITATION | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In [Chapter 12] | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: [Bagian #5A] Let Me In: Past pt.1 – Ssstt!! This Fiction!

  12. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 11) | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (Chapter 10) | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 9) | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] LET ME IN 7: FOOLS LOVE | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  17. Yaaampunnnnnnnn demi apa ini dilanjutttt
    Ihh yaampun thor kemana aja dirimuuu
    Hehehee, kangen bgt sma aeribaekhyunnnn aaaaaaaaaa fighting nulisnya ya thorrrrr

    • hehe iya baru saja kembali abis tempur di ujian sekolah/un jadi br bs diupdate^^ maaf lama yaa.. duh please kangen sm mereka emang wajib tapi jangan jatuh cintaa soalnya baekhyun punya aku #ehhh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s