[EXOFFI FREEANCE] Twin ( Chapter 3)

POSTER TWIN

Twin ( Chapter 3)

 

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance, SchoolLife, Hurt, Conflict

Disclaimer : FF ini aku share di fbku sendiri Ayu Meylianawati Santoso, pageku EXO Fanfic Indo,https://www.fanfiction.net/u/8926667/, wattpad @AyuMeyliana dan blog EXO Fanfiction. So kalo ada yang pernah baca ff ini selain link” diatas itu namanya plagiat.

Main Cast :

– Kim Minseok

– Kim Xiumin

– Park Seori

Happy ReadingπŸ˜€

Xiumin mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Hyeri. Bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. Ia tahu Hyeri akan minta untuk bertemu. Ia tidak peduli apa yang diucapkan Hyeri nantinya. Mungkin ia akan marah-marah atau mendiamkan dirinya dan bersikap sangat menggemaskan. Xiumin memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan berjalan santai ke arah atap.

******

Hyeri keluar dari ruang UKS setelah merasa lebih baik. Ia berjalan dengan perlahan ke arah atap. Ia meminta bertemu dengan Xiumin di atap. Tempat favorit Xiumin untuk membolos. Hyeri sudah sangat hafal dengan kebiasaan Xiumin saat pelajaran Geografi. Ia akan membolos ke arah atap atau UKS. Entah kenapa Hyeri masih sangat mencintai Xiumin dengan segala kelakuan buruknya. Mungkin itulah yang dinamakan dengan kekuatan cinta. Love is blind.

Kriet…

Hyeri mengedarkan pandangan dan matanya menemukan Xiumin tertidur di salah satu meja rusak. Bahkan hanya dengan posisi tertidur seperti itu, ia kelihatan sangat seksi. Hyeri menelan ludahnya sejenak. Kemana semua keberaniannya? Kenapa ia sekarang terpaku pada Xiumin? Xiumin seperti lukisan indah yang disuguhkan untuknya.

“Kau sudah datang rupanya? Apa kau merindukanku hehe… ” Suara huskynya menggoda dan meleleh di telinga Hyeri. Kaki Hyeri membawa langkahnya semakin dekat ke arah Xiumin. Ia menarik kursi tidak terpakai dan duduk disana.

“H-harusnya kau tidak seperti itu pada Yera. Ia hanya menyukaimu. Kau tahu itu, Xiu.” Suara Hyeri terdengar gugup. Xiumin membuka salah satu matanya dan tersenyum miring. Ia mengubah posisinya ke arah Hyeri dan menumpu kepalanya dengan tangan kanannya. Bibirnya mengulas senyum miring, membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.

“Kau terlihat gugup. Apa karena aku tampan? Tidak usah peduli dengan Yera. Dia memang seperti itu. Jangan percaya dengan actingnya.” Hyeri menelan ludahnya sesaat. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya. Ia terbius dengan pesona yang dimiliki Xiumin. Membuatnya lupa apa yang membuatnya marah pada Xiumin.

“Sudahlah jangan dibahas. Sini kau… ” Xiumin mengangkat Hyeri dengan mudah dan menaruh tubuhnya di atas tubuh dirinya. Wajah mereka hanya bersisa beberapa centimeter. Hembusan nafas hangat menerpa wajah Xiumin maupun Hyeri.

“Ya! Lepaskan! Aku tidak mau ada guru yang melihat kita.” Xiumin tertawa mendengar ucapan polos Hyeri. Rona merah menjalar di kedua pipi chubby Hyeri, membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

“Biarkan seperti ini sebentar saja.” Xiumin semakin mengeratkan pelukannya dan membiarkan Hyeri menempelkan kepalanya ke dada bidangnya. Hyeri dapat mendengar jelas suara detak jantung Xiumin yang tidak beraturan. Pipinya semakin merona merah.

“Aku menyukaimu, Hyeri.” Hyeri menjauhkan tubuhnya dari Xiumin dan menatap kedua mata Xiumin. Apa dia salah dengar? Matanya menatap kedua mata Xiumin. Hanya ada ketulusan dalam matanya. Xiumin mendorong tubuh Hyeri dan membiarkan Hyeri duduk di pangkuannya.

“Aku sudah menyukaimu sejak lama dan aku tahu kau menyukaiku lebih lama dari aku menyukaimu. Benar kan?” Hyeri merona dengan ucapan Xiumin. Ia mengangguk pelan membenarkan semua ucapan Xiumin. Jantungnya benar-benar berdetak tidak karuan seakan-akan jantungnya dapat melompat keluar kapan saja dari tubuhnya.

“Aku tidak suka basa basi. Apa kau mau menjadi pacarku, Park Hyeri?” Xiumin mengeluarkan sebuah gelang dengan inisial huruf X sebagai hiasannya. Hyeri tidak bisa berkata-kata. Bibirnya seakan terkunci dan pikirannya kosong. Ia terlalu senang. Sangat sangat senang. Rasanya dunia hanya milik mereka berdua dan waktu seakan berhenti. Kepalanya mengangguk, mengiyakan ucapan Xiumin.

Xiumin tersenyum manis sambil memasangkan gelang berinisial X di tangan Hyeri. Mata Hyeri berkaca-kaca mengusap gelang Xiumin. Xiumin menunjukkan gelang serupa dengan milik Hyeri tapi berinisial huruf H.

“Kau tahu sudah sejak lama aku ingin memberimu gelang ini. Aku tidak tahu kapan waktu yang pas untuk mengatakannya. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Aku tidak mau ada orang lain merebutmu termasuk saudaraku sendiri. Hehe.. Aku bercanda kok.” Tangan Xiumin mengacak rambut Hyeri gemas lalu ia menariknya ke dalam pelukannya.

“Kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku.” ucap Xiumin.

******

Kabar mengenai Xiumin dan Hyeri yang tengah berpacaran segera menyebar luas. Minseok pun tahu mengenai hubungan mereka berdua. Ia merasa tidak ada gunanya untuk dekat dengan Hyeri. Mungkin perasaan yang ia rasakan hanya bersifat sementara dan semua berasal dari rasa keingintahuan semata. Ia berencana untuk menjauhi Hyeri. Ia tidak mau menjadi pengganggu dalam hubungan mereka. Xiumin selalu saja cemburu jika Hyeri dekat dengannya.

“Minseok-ah…. Bisa bantu aku mengambil buku di perpustakaan? Aku tidak tahu dimana semua buku ini diletakkan.” Minseok melirik ke arah Xiumin yang menatapnya tajam. Xiumin sangat posesif dengan Hyeri. Hyeri beberapa kali terlihat kurang nyaman dengan sikap Xiumin. Namun ia berusaha terlihat nyaman di depan Xiumin.

“Aku bisa membantumu kok. Kenapa kau repot-repot memintanya?” Hyeri memutar bola matanya malas. Lihat saja kan? Sifat posesifnya langsung keluar ketika Hyeri berbicara dengan namja lain termasuk saudaranya sendiri. Hyeri lelah mengingatkan Xiumin agar tidak bersikap overprotektif. Ia seperti memiliki bodyguard dibandingkan seorang pacar. Ia seperti tidak memiliki ruang bebas sama sekali. Ia hanya memiliki ruang bebas saat di ruang kelas. Bahkan saat di rumah Xiumin selalu memantaunya lewat message. Jika ia lupa menjawab pesan atau menjawab teleponnya, ia akan mengomel dan akhirnya mereka akan berdiam-diaman lalu Hyeri akan mengalah dan meminta maaf. Selalu saja seperti itu tapi Hyeri selalu diam dan berpikir mungkin ia harus terbiasa dengan sikap Xiumin.

“Kau bahkan sangat jarang ke perpustakaan lalu kau akan membantuku? Akan lebih baik aku meminta bantuan Minseok. Dia lebih tahu darimu.” Xiumin mendengus kesal dengan ucapan Hyeri. Hyeri tidak peduli dengan Xiumin. Kemarin ia baru saja membahas mengenai keposesifan Xiumin tapi sepertinya hal itu sama sekali tidak berefek. Mungkin Xiumin hanya menganggapnya angin lalu belaka. Tangannya mengambil secarik kertas yang berisikan sederetan buku yang harus ia ambil dan memberikannya pada Minseok.

“Ah aku akan membantumu.” Minseok masuk ke dalam perpustakaan diikuti Hyeri dan Xiumin yang mengekor di belakang. Xiumin dan Hyeri duduk di meja perpustakaan dan hanya melihat Minseok berjalan kesana kemari mengambil buku yang diminta Hyeri. Hyeri ingin sekali membantu Minseok tapi tangannya digenggam erat oleh Xiumin. Ia menatap kesal saat tangan Xiumin juga memeluk pinggangnya. Bukannya tidak senang tapi ini terlalu berlebihan.

“Ini sudah semua. Aku akan tuliskan daftar peminjamannya. Kau boleh membawanya.” Minseok mendorong setumpuk buku ke arah Hyeri.

“Aku saja yang menulis daftarnya. Kau bisa kembali ke kelasmu. Terimakasih atas bantuanmu.” Minseok mengangguk dan meninggalkan Hyeri berdua dengan Xiumin. Hyeri dengan segera melepas tangan Xiumin dari pinggangnya dan menatapnya kesal.

“Jangan seperti ini, Xiu. Aku tahu kau cemburu jika aku dekat dengan saudaramu. Tapi aku hanya mencintaimu. Kau percaya aku kan? Aku tidak akan berpaling dari siapapun. Aku hanya menyukaimu.” Hyeri mengusap lembut wajah Xiumin namun ditepis kasar.

“Jadi aku tidak boleh cemburu jika kau dekat dengan Minseok? Aku tidak suka ani.. Aku benci melihat kedekatanmu dengan Minseok. Apa kau tidak tahu Minseok itu memiliki niat terselubung dekat denganmu? Aku hanya ingin melindungimu. Kau ini masih polos, Hyeri.” ucap Xiumin kasar

“Apa salahnya aku dekat dengan Minseok? Apa kau takut kau tersaingi dengannya karena wajah kalian sama? Kau harusnya percaya padaku bahwa aku mencintaimu. Apa kau meragukanku? Aku mencintaimu bukan karena wajahmu tapi karena kau adalah Xiumin! Aku tidak suka kau mengekangku seperti ini. Aku ini pacarmu Xiumin. Hiks.. ” Hyeri menutup wajahnya dengan tangan. Xiumin menghela nafas dan memeluk tubuh Hyeri.

“Maafkan aku. Aku tahu aku egois. Maafkan aku membuatmu menangis. Aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut kau berpaling dariku. Kau tahu aku hanya memilikimu dalam hidupku.” Xiumin mengecup mata Hyeri berkali-kali untuk menenangkannya. Matanya menatap dalam mata Hyeri. Ia tahu Hyeri terluka dengan sikapnya. Namun ia tidak juga tidak suka dengan namja-namja yang mendekati Hyeri. Ia juga namja yang bisa membedakan namja yang dekat dengan Hyeri hanya karena modus semata dengan namja yang hanya bertanya sekedar pelajaran biasa. Matanya tidak akan salah. Sayangnya, Hyeri tidak mengerti akan hal itu. Hyerinya yang polos dan Hyerinya yang menggemaskan.

“Sudah ya jangan menangis nanti cantiknya hilang lho. Ayo bawa buku-buku yang mengganggu itu ke sosaengnim pengganggu itu. Setelah itu kita pulang bersama. Otte?” Hyeri menghapus sisa-sisa air mata dan mengulas senyuman tipis. Xiumin mengambil sebagian buku dan sebagian lainnya dibawa Hyeri.

‘Aku harus bisa bertahan karena aku mencintainya’

******

Minseok membuka buku pelajarannya namun sayangnya tidak satupun pelajaran yang masuk ke otaknya. Ia melihat buku yang dipinjamkan Hyeri saat tidak sengaja bertemu di toko buku.

( Flashback On)

Minseok memasuki toko buku dan berjalan ke arah rak buku novel. Matanya mencari buku novel misteri yang baru saja liris. Ia berpikir mungkin saja sudah habis. Ia baru saja ingin pergi tapi sebuah suara memanggilnya.

“Minseok? Ahh~ benar itu kau. Sedang apa?” Hyeri datang dari belakang sambil memegang buku novel yang sedaritadi dicari Minseok. Minseok fokus menatap novel yang dipegang Hyeri.

“Apa kau mencari buku ini? Sayangnya ini stock terakhir hehe. Aku bisa membelinya lain kali jika kau sangat menginginkannya.” Hyeri menyodorkan buku novel itu ke arah Minseok tapi Minseok menolaknya dengan halus.

“Aku bisa membelinya lain kali. Kau beli saja.” Hyeri mengendikkan bahunya dan berjalan ke arah kasir sedangkan Minseok berjalan ke arah pintu keluar.

“Minseok! Tunggu! Jangan pulang dulu!” Hyeri berlari ke arah Minseok dan menarik ujung jaket Minseok membuat Minseok menoleh sambil menaikkan salah satu alisnya.

“Bacalah buku ini dulu. Aku baru ingat aku masih membaca novel lain dan masih panjang sekali. Mungkin novel ini nantinya akan terbengkalai. Sayang kan? Ini… ” Minseok ingin menolaknya tapi Hyeri menaruh buku itu ke tangan Minseok.

“Kau bisa kembalikan setelah kau membacanya okay? Aku pulang dulu. Bye Minseok.” Hyeri mengulas senyum manisnya dan berlari sambil melambaikan tangannya. Minseok menatap buku yang ada di tangannya sambil tersenyum tipis.

‘Xiumin sangat beruntung memilikimu’

( Flashback Off)

Dddrttt… Kling..

Sebuah notification masuk ke ponsel Minseok. Sebuah pesan singkat dari seseorang. Minseok mengambil ponselnya dan membaca pesan singkat dari orang itu.

‘Hei….Aku Hyeri. Bagaimana dengan novelnya? Apa seru? Oh ya simpan nomorku ya.’ Mata Minseok melebar. Bagaimana ia tahu nomor ponsel Minseok? Apa Xiumin yang memberitahunya? Tidak mungkin… Hubungan mereka tidak sebaik dulu lagi dan Xiumin tidak akan memberikan nomor ponsel ‘saingan” nya pada pacarnya.

‘Jangan bingung. Aku dapat nomormu dari Oh Sehun temanmu. Maaf ya aku meminta nomormu secara illegal γ…‹γ…‹γ…‹’ Minseok memutar bola matanya malas. Oh Sehun itu… Besok namja itu akan habis di tangannya.

‘Kenapa kau tidak membalasku? Apa kau sudah tidur? Aku minta maaf padamu soal kelakuan Xiumin saat di perpustakaan. Dia memang selalu saja begitu. Kau tahulah saudaramu seperti apa. Maaf ya.. Dan Selamat malam. Maaf mengganggumu.’ Minseok mengambil ponselnya dan menatap ponselnya lama. Tangannya mengetik sebuah pesan balasan.

‘Gwenchana. Aku bahkan sudah lupa dengan kejadian itu. Aku akan kembalikan novelmu secepat mungkin. Selamat malam.’ Setelah mengirimkannya, Minseok mematikan ponselnya dan melemparnya ke tempat tidur. Ia membuka buku novel milik Hyeri dan larut dalam bacaannya.

******

‘Gwenchana. Aku bahkan sudah lupa dengan kejadian itu. Aku akan kembalikan novelmu secepat mungkin. Selamat malam.’ Setelah membaca pesan balasan Minseok, Hyeri menaruh ponselnya di atas nakas.

Nal annaehaejwo

Yeah geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeogajwo

Hyeri mengambil ponselnya dan menerima telepon dari Xiumin. Bibirnya tersenyum mendengar suara husky namjachingunya.

‘Apa aku menggangumu tidur, chagi?’ Tangan Hyeri memutar-mutar ujung gulingnya dengan gugup. Setiap kali Xiumin memanggilnya chagi, Hyeri menjadi sangat gugup.

“Ani… Aku belum tidur.” Suara tawa Xiumin terdengar dari seberang telepon.

‘Aku merindukanmu. Aish.. Padahal baru beberapa jam yang lalu kita bertemu. Tidurlah.. Ini sudah larut malam. Aku akan nyanyikan sebuah lagu untukmu..” Hyeri memeluk gulingnya dan membiarkan alunan suara Xiumin mengalun lembut di telinganya.

( Xiumin –Β  You Are The One)

You are the one

Sarangeul hago sipeun geol geudae barabolttaemyeon

You are my destiny

Ijeneun jogeum deo naege dagawa

Love it you geu moseup joha

Modeun geol da malhaejullae

Saranghandago nappunirago haejwo

Hyeri jatuh tertidur dan membiarkan ponselnya tergeletak di sampingnya. Alunan suara Xiumin masih terdengar dari seberang telepon.

‘Apa kau sudah tertidur? Baiklah… Jaljayo, uri chagi.’ Xiumin mengecup ponselnya dan mematikan sambungan teleponnya. Bibirnya mengulas senyum tipis membayangkan Hyeri tertidur dengan senyuman manis di bibirnya. Tangannya menaruh ponselnya di atas meja dan jatuh tertidur.

******

Kringg….

Hyeri mematikan alarm ponselnya. Tangannya mengucek-ngucek kedua matanya yang masih terasa lengket. Ia mengambil ponselnya dan membaca beberapa notification yang dikirim ke ponselnya tadi malam.

Cling..

‘Hei cantik… Selamat pagi. Apa kau tidur dengan nyenyak?’ Bibir Hyeri terangkat sebelah. Tangannya dengan cepat mengetik pesan balasan.

‘Selamat pagi juga. Aku tidur dengan nyenyak. Bagaimana denganmu?’ Hyeri menaruh ponselnya sebentar lalu berdiri membereskan tempat tidurnya.

‘Aku tidur dengan nyenyak juga berkat dirimu, aku memimpikanmu.’ Hyeri membaca sekilas pesan Xiumin tanpa membalasnya. Ia mengikat rambutnya dengan gaya ponytail dan mengambil ponselnya lagi.

‘Gombal…. Sana siap-siap ke sekolah’ Hyeri tersenyum tipis dengan pesan balasannya. Ia menaruh ponselnya dan mengambil handuk. Suara gemericik air beserta senandung kecil mengalun lembut dari kamar mandi.

Berbanding terbalik dengan Xiumin, Xiumin masih tetap di tempat tidur. Ia mengacak rambutnya yang sudah sangat berantakan. Sebenarnya, Ia tidak ingin sekolah karena ia merasa tubuhnya kurang fit. Kemarin ia bermain basket sampai kelelahan karena turnamen sudah sangat dekat dan ia ingin menampilkan yang terbaik untuk Hyeri. Pulang basket ia kehujanan karena lupa membawa jas hujan. Ia memegang dahinya dan menggelengkan kepalanya.

“Aku harus masuk sekolah untuk Hyeri.Β  Fighting Xiumin!” Xiumin mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Beberapa kali badannya terlihat sempoyongan namun ia mencoba tetap berjalan normal. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Hyeri.

******

“Hei sayang… Apa kau sudah siap?” Hyeri menganggukkan kepalanya namun beberapa menit kemudian raut wajahnya berubah khawatir.

“Wajahmu pucat, Xiu. Apa kau sakit? Tubuhmu panas sekali… Jangan masuk sekolah please….” Xiumin menggelengkan kepalanya. Tangannya mengusap surai coklat Hyeri.

“Gwenchana.. Aku masih kuat kok. Ayo masuk…” Hyeri menggeleng kuat. Tangannya mengambil paksa kunci mobil Xiumin dan masuk ke kursi pengemudi. Ia menurunkan kaca mobil sebelah dekat Xiumin.

“Kau kubolehkan masuk sekolah jika sekarang aku yang menyetir. Aku tidak mau kita kecelakaan karena kau sakit.” Xiumin tidak protes. Memang benar kata-kata Hyeri. Tadi saja ia hampir saja menabrak seorang nenek karena pusing yang mendera kepalanya. Ia juga hampir menabrak pagar rumah. Akan sangat berbahaya jika Xiumin terus memaksa untuk menyetir. Ia juga tidak bisa membahayakan pacarnya. Xiumin masuk ke mobil tanpa banyak kata. Ia menurunkan jok mobil dan menutup wajahnya dengan salah satu tangannya. Hyeri melirik Xiumin sekilas dan mengambil jaket di bagian jok belakang. Ia menyelimuti tubuh Xiumin dan mengusap rambut coklat Xiumin. Tangannya menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil ke sekolah.

******

“Xiu… Bangun.. ” Xiumin membuka matanya dan menyingkirkan salah satu tangannya. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Ia melihat Hyeri yang tengah mengkhawatirkannya.

“Gwenchana? Kau tidur saja di UKS.. Nanti masalah pelajaran aku bisa minta ijin pada Suho-ssi.” Xiumin menggeleng kuat. Hyeri menghembuskan nafasnya panjang. Xiumin ini sangat keras kepala.

“Aku tidak apa-apa. Aku akan ikut pelajaran. Hari ini ada ulangan geografi Aku sudah bersusah payah belajar untuk ulangan itu. Kau juga tau sendiri pelajaran itu adalah pelajaran yang sangat kubenci. Setelah ulangan aku akan ke UKS.Β  Aku janji.” Xiumin menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Hyeri. Tangannya mengusap pipi Hyeri yang masih khawatir.

“Percaya padaku. Aku tidak selemah itu, chagiya..” Xiumin mencium dahi Hyeri dan menempelkan dahinya ke dahi Hyeri. Hembusan nafas hangat menerpa wajah Hyeri.

“Baiklah..” Xiumin tersenyum tipis lalu keluar dari mobil begitupun juga dengan Hyeri. Hyeri berlari kecil ke arah Xiumin dan menggenggam tangannya. Ia tahu Xiumin tidak bisa berdiri dengan benar. Tangannya saja sangat panas tidak seperti biasanya.

Hyeri mengantar Xiumin ke kelasnya sebelum kembali ke kelasnya. Hal ini biasanya dilakukan Xiumin padanya. Tapi hari ini adalah pengecualiannya karena Xiumin sedang sakit.

******

“Eh… Minseok-ah!!!!” Minseok menoleh dan mendapati Hyeri berlari kecil ke arahnya. Mata Minseok mencari kesana kemari keberadaan Xiumin. Biasanya ia selalu berada di sekitar Hyeri.

“Apa kau mencari Xiumin? Dia sedang di UKS. Dia sakit.” Minseok melirik ke arah UKS dan kembali melihat Hyeri.

“Bagaimana dengan bukunya? Apa kau menyukainya?” tanya Hyeri.

“Lumayan. Aku baru baca setengah. Mungkin besok atau lusa aku akan kembalikan padamu.” jawab Minseok.

“Lama juga tidak apa-apa. Masih banyak stock novel yang belum kubaca. Apa kau mau meminjam novelku yang lain? Sekali-kali datanglah bersama Xiumin waktu dia ke rumahku. Aku yakin kau akan menyukai koleksi novelku.” Hyeri tersenyum menampilkan eye smilenya.

“Yah… Mungkin kapan-kapan. Aku tidak enak mengganggumu dengan Xiumin.” Hyeri menggeleng dan menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak terganggu.

“Jangan terlalu malu dengan aku dan Xiumin. Kau temanku dan Xiumin saudaramu. Aku tidak tahu kenapa kalian seperti tidak saling kenal saat di sekolah. Apa kau takut Xiumin cemburu padamu? Yah… Exactly memang dia selalu seperti itu sih.. Tapi jangan dipedulikan nanti juga reda sendiri.” Hyeri ini benar-benar jujur dalam mengungkapkan segalanya. Hal inilah yang sempat membuat Minseok tertarik dengannya.

“Hubunganku dengan Xiumin memang tidak terlalu akrab. Aku tahu Xiumin sangat cemburu jika kau dekat denganku. Yah.. Mungkin bukan keputusan yang baik jika kita berdua terlalu dekat.” Hyeri mengernyitkan alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Minseok.

“Walaupun Xiumin itu pacarku tapi dia tidak berhak menentukan siapa temanku. Aku tidak suka jika kau berbicara seperti itu. Aku suka dekat denganmu karena kau baik dan kita juga sama-sama suka baca buku. Apa salahnya? Aku tidak mengerti dengan jalan pikirmu, Minseok. Apa kau tidak suka berteman denganku?” Hyeri mempoutkan bibirnya kesal.

“Aku bukannya tidak mau berteman denganmu tapi bagaimana dengan Xiumin. Akan sangat canggung jika aku berteman denganmu sedangkan kau berpacaran dengan Xiumin.”

“Apanya yang canggung? Kita berteman seperti biasanya dan hubunganku dengan Xiumin juga tidak akan terganggu.”

‘Karena Xiumin merasa aku adalah pengganggu dalam hubungannya’ ucap Minseok dalam hati.

“Baiklah…aku akan berteman denganmu. Kenapa kau memaksa sekali sih?” Minseok dengan gemas mengacak rambut Hyeri namun setelah tersadar atas apa yang dilakukannya, Minseok menarik tangannya dengan canggung. Hyeri mengernyitkan keningnya saat melihat tangan Minseok ditariknya dengan canggung.

“Apa kau canggung denganku? Heol… Aku akan memberikanmu salam pertemanan. Terimalah.” Hyeri mencubit kedua pipi Minseok dengan keras sambil menariknya kesana kemari.

“Aduhh… Aduh hentikan! Ini sakit. Harusnya aku tidak berteman denganmu… Astaga…” Minseok mengusap pipinya yang terasa panas. Cubitan Hyeri benar-benar tidak main-main.

“AWAS!!!!!” Seorang namja berlari ke arah Minseok dan Hyeri dan berteriak dengan kencang. Tubuh namja itu menabrak Minseok dengan kencang hingga tubuh Minseok menabrak tubuh Hyeri. Sialnya.. Tanpa sengaja bibir mereka saling bersentuhan. Mata Hyeri membulat begitupun dengan Minseok.

“Hyeri…” Hyeri mendorong tubuh Minseok dan menoleh ke arah Xiumin yang berdiri sambil bersandar ke tembok. Matanya menatap tajam ke arah Minseok dan Hyeri.

“Xiumin..”

 

TBC

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s