Gotta Be You – [5] Let’s Play – Shaekiran & Shiraayuki

gottabeyouposter.png

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s Park Chanyeol and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us.Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Standard disclaimer applied. Hope you like the story. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | 01. The Girl |02. The Boy |03. First Impression |04. Bad Behaviour |[NOW] 05. Let’s Play |

.

[ PLAY]

.

.

Cause you’re my destiny.”—Destiny; Infinite

.

.

previous chapter

“CHANYEOL!” ucapan mahasiswa baru itu terhenti karena teriakan sunbae lain yang sedang berlari sambil berteriak histeris pada Chanyeol.

“Ada apa?” tanya Chanyeol malas dan bangkit berdiri.

“Itu, mahasiswi yang tadi…hoshh..dia…hosh..…”

“Aish, bicara yang jelas.” Kata Chanyeol lumayan jengkel.

“Itu, Irene…. Mahasiswi sombong itu…” 

“Kenapa dengan Irene?” tanya Chanyeol sambil melirik lapangan dimana Irene tengah menjalani hukuman.

“Dia pingsan. Si konglomerat itu pingsan Chanyeol!”

“APA?!” 

.

 

Author’s side

 

Chanyeol berlari menuju lokasi dimana Irene pingsan. Pria itu bisa melihat beberapa orang tengah mengerubungi gadis itu dengan raut khawatir. Khawatir bukan pada Irene yang pingsan, melainkan akan apa yang akan terjadi jika ayah gadis itu tahu bahwa putri sematawayangnya pingsan karena dihukum berjalan jongkok mengelilingi lapangan sekolah dengan high heels.

“Kenapa kalian diam saja? Seharusnya kalian membawanya ke UKS!” marah Chanyeol pada segerombol orang itu. Dengan segera pria jangkung itu mengangkat tubuh Irene ala bridal style lalu membawa gadis itu ke UKS dengan sedikit berlari. Orang-orang menatap Chanyeol bingung sekaligus takut. Tak biasanya seorang Park Chanyeol begitu peduli pada orang lain, apalagi pada orang semacam Irene.

Tepat saat mereka memasuki ruang kesehatan itu, Chanyeol menjatuhkan tubuh Irene di lantai begitu saja. Tindakannya mengundang ringisan dari gadis yang memiliki marga Bae itu.

“Arghh..” Irene memegangi bokongnya yang sakit karena baru saja menghantam lantai cukup kuat, Chanyeol mendecih melihat tingkah gadis yang menjadi targetnya satu bulan ini.

“Aktingmu perlu mendapat apresiasi.” Chanyeol menepuk tangannya sekali, kemudian mengambil posisi jongkok.

“Kembali menjalankan hukumanmu atau—”

“Hukuman pantatku! Brengsek, kau pikir bokongku tidak sakit, huh?” bentak Irene kesal, gadis itu melempar pandangan maut pada Chanyeol yang dibalas dengan tatapan datar dari pria itu.

“Kalau kau tidak pura-pura pingsan, bokongmu mungkin tidak akan sakit.” ucap Chanyeol, Irene mendesis melihat raut wajah Chanyeol yang datar. Dan dia semakin mendesis seperti ular cobra karena pria ini sadar bahwa dia hanya pura-pura pingsan.

“Kenapa kau bisa tahu aku hanya pura-pura?” tanya Irene seraya melepas sepatu hak-nya. Gadis itu bisa melihat tumit kakinya lecet dan dia mengaduh karena itu.

“Memangnya sejak kapan orang pingsan bisa mengalungkan tangannya di leher orang yang mengendongnya?” mendengar jawaban Irene hanya ber-ah­-ria, dia kemudian tersenyum kaku lalu merutuk tangannya yang liar.

“Jadi berhentilah bertingkah manja atau aku akan menambah hukumanmu?” Irene memutar kedua bola matanya jengah, dia sangat benci dirinya yang bahkan tidak mampu melawan Chanyeol, pria yang dia anggap sebagai kucing kampung. Baginya, Chanyeol tersenyum saja mengerikan apalagi marah.

Ne, bosquee.” Irene mengerlingkan matanya kemudian bangkit berdiri sambil meringis. Dia bahkan sempat terhuyung dan untung saja dia tidak jatuh. Irene membuka pintu UKS dan segera beranjak keluar tanpa mengingat bahwa sekarang dia tidak memakai alas kaki.

Chanyeol menggeleng melihat tingkah Irene, dia lantas mengambil sepatu heels Irene kemudian menarik lengan gadis itu dengan kuat.

“Hei, kau mau keluar dengan kaki ayam?”

“Huh?” Irene memasang ekspresi tak mengerti, Chanyeol mendengus pelan kemudian melirik ke arah kaki Irene seakan mengatakan ‘lihat kakimu bodoh.’.

Irene mengikuti arah lirikkan Chanyeol, dia terkekeh renyah kemudian mengambil sepatunya dari tangan Chanyeol.

“Kau suka sekali memberi kode, apa susahnya mengucapkannya langsung?” Irene berucap sembari memakai heels-nya kembali, gadis itu meringis lagi ketika tumit kakinya terasa perih.

“Sudah sana kembali ke lapangan!” Irene menekuk wajahnya kemudian melangkah dengan menghentak-hentak meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di depan pintu UKS. Chanyeol memijit pelipisnya pelan, “Dia mungkin akan menjadi lawan yang sedikit menyusahkan.”

 

 

“Dia sudah sadar?” Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan temannya; Jongdae. Jongdae mengernyitkan dahinya, “Secepat itu?” tanya pria Kim itu pada Chanyeol yang kini terlihat tengah mencari tasnya.

“Kau melihat tasku?” tanya Chanyeol mengabaikan pertanyaan Jongdae.

“Sialan, kau mengabaikanku.” cibir Jongdae yang hanya mendapat respon datar milik Chanyeol, kebiasaan Chanyeol yang paling Jongdae hafal adalah mengabaikan orang yang sedang berbicara padanya jika dia menganggap itu tidak penting.

“Aku haus.” balas Chanyeol sekenanya, pria itu sudah menemukan ranselnya dan segera mengambil botol minumnya dari sana.

“Jangan-jangan si gadis konglomerat itu hanya pura-pura pingsan saja?” Kai yang baru datang segera melempar sebuah asumsi.

“Memang.” jawab Chanyeol seraya mengelap mulutnya, Kai dan Jongdae serempak menggeleng. “Aku benar-benar takjub pada gadis itu.” ucap Kai sembari menatap ke arah Irene yang kini menjalankan hukumannya.

“Dia tidak hanya menggunakan kekayaan ayahnya sebagai senjata utamanya dalam membela diri, dia punya keberanian dan tidak takut pada siapapun. Kalian tahu, ada rumor mengatakan bahwa dia pernah dijambak oleh putri presiden karena dia mencibir penampilan putri presiden.” Kai menatap kedua temannya, sementara kini Jongdae hanya mengangkat bahunya acuh.

“Dan lebih menariknya lagi, dia hanya menuruti kemauan Chanyeol.” tambah Kai yang membuat Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

“Maksudmu?” tanya Chanyeol tak mengerti, pria Park itu kemudian kembali memasukkan botol minumnya ke dalam ranselnya.

“Yah, seperti yang kau lihat. Dia menuruti perintahmu, dia bahkan mau berjalan jongkok padahal dia mengamuk saat Krystal membuat lututnya terluka.” Chanyeol hanya tersenyum tipis akan asumsi yang diutarakan Kai, pria itu kali ini meraih ranselnya kemudian menyampirkannya ke pundaknya.

“Kau mau kemana?” Jongdae dan Kai serempak bertanya

“Aku mau merapikan barang-barangku, aku pindah ke apartemen. Aku serahkan pada kalian MOS hari ini.” Chanyeol beranjak setelah menepuk pundak Kai, namun baru beberapa langkah dia harus berhenti karena Baekhyun memanggilnya dengan histeris lagi.

“Chanyeol!”

“Apa lagi?” tanya Chanyeol sedikit kesal, ini kedua kalinya dia harus melihat wajah ngos-ngosan milik Baekhyun.

“Si konglomerat itu pingsan lagi.” Baekhyun berucap dengan terengah-engah, tanggannya bahkan memegang lututnya.

Aku tidak akan tertipu lagi.” batin Chanyeol.

“Biarkan saja, dia hanya pura-pura.” ucap Chanyeol enteng yang membuatnya harus merasakan suara lengking milik Baekhyun.

“Pura-pura katamu? Dia pingsan, hidungnya berdarah!” Chanyeol membulatkan matanya, “Maksudmu mimisan?” Baekhyun mengangguk cepat, Chanyeol segera berlari untuk kedua kalinya ke lokasi yang sama.

“Astaga.” ucap pria itu saat mendapati Irene kini terlentang di tanah dengan hidung mengeluarkan darah.

Gadis yang merepotkan!”

 

 

Irene mengerjapkan matanya perlahan, bau obat-obatan segera menghinggapi indra penciummnya. Irene bisa merasakan bahwa sekujur tubuhnya terasa pegal. Gadis itu meraih sling bag-nya yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di samping bantal kasur UKS.

Dia mengambil ponselnya dan matanya seketika melebar ketika melihat angka yang tercantum di layar ponselnya.

“Sudah jam lima sore?!” pekiknya, gadis itu segera melempar selimut yang menutupi tubuhnya, memakai sepatunya kemudian segera beranjak. Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering dan memampangkan nama ‘Sekretaris Ahn’, Irene segera menggeser layar ponselnya ke tombol yang berwarna hijau.

“Ada apa?” tanya Irene malas.

Tuan meminta anda menunggunya di restoran perusahaan kita, nona. Dia ingin makan malam bersama anda.

Irene membuka mulut dan matanya lebar-lebar. “Appa ingin makan malam denganku?!” tanya gadis itu kelewat senang, kini sebuah senyum kebahagiaan terukir di wajahnya.

Iya, sebaiknya anda bergegas kesana.” Irene segera mematikan panggilan itu secara sepihak, dia bergegas menuju ke parkiran. Gadis itu segera menghidupkan mesin mobilnya kala dia sudah berada di dalam mobil mewah itu. Dan dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata dia membelah jalanan Seoul yang ramai.

Sesampainya di lokasi yang dituju, Irene segera memarkirkan mobilnya dan segera menuju pintu masuk restoran milik keluarganya itu. Dia membuka pintu namun segera dicegah oleh seorang pelayan disana.

“Maaf, restoran sudah di-booking jadi anda tidak bisa masuk ke dalam.” Irene memejamkan matanya sebagai usaha agar emosinya tidak membludak.

“Siapa yang mem-booking tempat ini?” tanya Irene pura-pura tidak tahu, dia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat tenang.

“Tuan Bae dan putrinya akan malam disini, nona.” jawab pelayan wanita itu sesopan mungkin, padahal dia sudah ingin membentak-bentak Irene yang tidak dia ketahui sebagai putri pemilik restoran itu.

“Kau pelayan baru, ya?” tanya Irene menyindir, wanita itu mengangguk dengan sopan.

“Kau tidak mengenalku?” Irene memangku tangannya di depan dada, pelayan wanita yang sedari tadi memasang wajah ramah kini merubah raut wajahnya.

“Saya tidak mengenal anda, jadi tolong anda minggir karena sebentar lagi Tuan Bae akan tiba.” Irene melempar pandangan maut-nya pada pelayan itu lengkap dengan sebuah senyuman miring. Dia membaca name tag pelayan itu, “Kim Sara, selamat, sebentar lagi kau akan dipecat.” pelayan wanita itu memasang raut wajah bingung, tiba-tiba seorang pelayan wanita lainnya datang dengan wajah pucat.

“Maafkan kami, nona. Dia pelayan baru disini, jadi dia tidak mengenal anda.” Irene tertawa melalui hidung, kemudian menaruh telunjuknya di dahi sang pelayan yang tadi mengusirnya.

“Aku. Mau. Dia. Dipecat. Sekarang. Juga.” Irene berucap seraya mendorong-dorong kepala pelayan wanita itu dengan telunjuknya.

“Bagaimana kau bisa bekerja disini tanpa mengenal siapa tuan-mu? Cih, dasar sampah.” Irene menggeser tubuh pelayan itu dengan kasar kemudian masuk ke dalam restoran dengan kesal. Dia segera duduk di kursi yang sudah disediakan kemudian membuang nafasnya pelan.

Irene tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian melepas ikatan rambutnya lalu menyisir rambut dengan jemarinya. Ia menggunakan layar ponselnya sebagai pengganti kaca. Irene memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian tersenyum membayangkan makan malamnya dengan sang ayah. Dia tak mau peduli kenapa ayahnya tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama yang penting malam ini dia akan berduaan dengan ayahnya.

Jam berlalu begitu saja, Irene melirik jam rolex-nya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Irene akhirnya memutuskan untuk menelpon Sekretaris Ahn.

Iya, nona?”

“Mana appa?” tanya Irene dengan suara pelan, dia sudah hampir empat jam duduk di kursi ini namun batang hidung ayahnya tidak kelihatan, ia bahkan sudah memecat satu orang pelayan.

Anu.. begini, nona. Tuan sepertinya tidak bisa datang, dia sedang bersama nyo—

Irene segera memutuskan panggilan. Dia menggebrak meja di depannya kemudian melangkah dengan wajah merah padam. Irene meninggalkan restoran begitu saja kemudian menuju mobilnya dan segera melajukan mobil merah mengkilapnya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Irene tak habis pikir, bagaimana bodohnya dia? Sudah tahu kalau ayahnya tidak mungkin datang meskipun ayahnya yang membuat janji, tapi Irene masih saja mau berharap. Seharusnya Irene tak percaya pada ucapan ataupun janji ayahnya. Tanpa Irene sadari, air matanya luruh begitu saja. Irene sungguh tidak mengerti kenapa dia dilahirkan kalau tidak ada yang mau menyayanginya di muka bumi ini? Kenapa ayahnya tetap membiarkannya hidup jika sama sekali tidak menyayanginya? “Seharusnya dia membunuhku saja saat lahir!” rutuk Irene sambil memukul-mukul stir mobilnya kuat.

Irene menghentikan mobilnya di depan gedung yang dihiasi lampu kelap-kelip. Irene segera memasuki gedung itu setelah mengunci mobilnya. Musik bervolume keras dan menghentak-hentak menyambut kedatangan gadis itu. Lantas Irene pun duduk di salah satu kursi di depan meja bartender lalu segera memesan minuman kesukaannya.

“Apa yang membuatmu datang kemari?” Irene yang sudah menghabiskan segelas minumannya hanya tersenyum sendu pada Jinri yang merupakan bartender di bar mewah ini. Selain itu, Jinri lah yang selalu mendengarkan curhatan Irene. Jinri selalu mendengarkan Irene dengan sabar dan kadang gadis itu juga yang mengantar Irene pulang.

“Apa masalah pria?” Irene menggeleng, dia kembali meneguk minuman beralkohol yang sebentar lagi akan merebut kesadarannya itu.

“Jinri, kemari sebentar!”

“Aku kesana dulu, ya. Minumlah sepuasmu.” Irene mengangguk pelan, gadis itu kemudian meletakkan kepalanya ke atas meja. Tak lama kemudian Irene pun mulai memaki-maki ayahnya, Chanyeol, juga sekretaris Ahn dengan suara yang cukup keras. Setelah puas memaki gadis itu berakhir menangis. Siapapun yang melihat Irene yang tengah menangis pasti akan berpikir bahwa gadis itu baru saja ditinggal mati kekasihnya, terlihat sangat menyedihkan.

 

 

Irene berjalan sempoyongan menuju apartemennya. Setelah Jinri mengantar gadis itu hingga pintu masuk dan menyuruh petugas di sana memarkirkan mobil Irene, Jinri segera pergi. Irene merasa kepalanya berputar-putar, dia berulang kali mengedip-ngedipkan matanya karena dia merasa semua benda yang dilihatnya terlihat buram.

Irene menggunakan dinding sebagai penopang tubuhnya, gadis itu berhenti tepat di depan sebuah pintu yang ia yakini sebagai pintu apartemennya. Dia menatap tombol password dengan kesal.

“Argghh.. kenapa ada tombol sialan ini.” Irene menggerutu sendirian kemudian berusaha menerka password apartemennya. “Angka berapa yang harus ku tekan?” Irene memukul-mukul kepalanya, kemudian tersenyum seperti orang gila.

“Ah, 0000.”

klik.

Irene tersenyum puas saat pintu apartemen itu terbuka. Irene melemparkan tasnya begitu saja ke lantai dan segera berjalan terseok-seok menuju sofa. Irene segera membaringkan tubuhnya di sofa. Untung saja jaket Chanyeol masih menutupi tubuhnya kalau tidak kalian pasti tahu apa yang akan terjadi. Dalam hitungan detik Irene sudah terlelap di atas sofa berwarna abu-abu itu dalam keadaan gelap gulita.

 

 

Chanyeol menggosok-gosok hidungnya pelan, entah kenapa dia merasa malam ini begitu dingin. Tangan kanan pria itu membawa kantong kresek berisi beberapa mie instan. Setelah satu hari ini dia sibuk menata tempat tinggal barunya, dia baru bisa makan dan itu pun hanya memakan mie instan. Chanyeol tak punya nomor restoran cepat saji dan lagipula pria itu tengah ngidam mie instan. Jadi, meski dingin menusuk kalbu, Chanyeol tetap nekat pergi ke supermarket untuk membeli mie yang ia idam-idamkan itu.

Chanyeol menekan angka 0000 di tombol password apartemennya. Sederhana saja, pria itu malas memikirkan angka untuk password apartemennya sehingga dia memilih angka 0. Chanyeol menekan saklar lampu karena kondisi apartemennya yang sangat gelap. Dalam hitungan detik, apartemennya sudah kembali terang.

“Astaga!” pekik Chanyeol saat melihat sesosok gadis tengah tidur di atas sofanya. Chanyeol segera berjalan mendekati gadis itu, dia bisa mendengar dengkuran yang berasal dari sang gadis yang terlihat acak-acakan.

“Irene?” Chanyeol mengernyit karena merasa mengenali gadis itu, Chanyeol menyibak rambut gadis itu dan benar saja itu adalah Irene.

“Bagaimana gadis ini bisa masuk ke dalam? Jangan bilang password apartemen kami sama?” Chanyeol memijit pangkal hidungnya, pria itu terlalu lelah untuk mengangkat gadis itu keluar dari apartemennya. Sakin kesalnya, Chanyeol melempar kantong kresek dalam genggamannya pada Irene yang sedang tidur lalu masuk ke dalam kamarnya.

 

 

Irene membuka matanya saat merasakan ada cipratan air yang membasahi wajahnya. Dan betapa kagetnya Irene ketika matanya menangkap sosok Chanyeol yang tengah berdiri dengan wajah kesalnya dan memegang mangkuk berisi air di tangannya.

“A—apa yang kau lakukan disini?!” tanya Irene histeris, gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Cih. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku?” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, Irene mengerutkan dahinya.

“Apartemenmu? Yang benar saja.” Irene tersenyum meremehkan, dia merasa tak mungkin seorang Park Chanyeol mampu membeli apartemen mewah ini.

“Sudahlah, cepat sana keluar!” Chanyeol menarik tangan Irene lalu mendorong tubuh gadis itu keluar dari apartemennya. Irene memberontak sekuat tenaga namun hasilnya nihil.

“Apartemenmu yang itu nona.” Chanyeol menunjuk pintu yang berada di depan mereka. Irene menelan ludahnya pelan, dia bisa melihat angka 163 terpampang di pintu apartemennya.

“Ja—jadi kita tetangga?” tanya Irene sembari menoleh ke belakang, memandang ragu wajah Chanyeol.

“Iya, hari ini, aku mulai menjadi tetanggamu. Salam kenal.” Chanyeol mendorong tubuh Irene kuat lalu menutup pintu apartemennya dengan kasar, membuat Irene terpaksa mengelus telinganya yang mulai berdengung.

Irene berjalan mendekati pintu apartemennya lalu menekan angka 0 sebanyak empat kali di tombol password-nya. Dia mendesis sebal, “Satu kampus, satu jurusan, dan sekarang kami tetangga? Lalu jangan bilang sebentar lagi dia malah suka padaku dan kami berkencan? Ah tidak, tidak mungkin. Dasar si cupu satu itu!” Irene menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air dingin dari lemari pendingin.

“Tapi, bagaimana bisa aku masuk ke kamarnya?” Irene hanya mengangkat kedua bahunya acuh, “Ah, molla, molla.”

 

 

Hari ini adalah hari terakhir pelaksaan masa orientasi. Terlihat jelas dari cerahnya wajah para mahasiswa baru yang tengah berkumpul di lapangan.

“Baiklah karena hari ini adalah hari terakhir, kalian boleh berkeliling kampus dan tidak boleh ada yang keluar dari area kampus, mengerti?” suara Jongdae disambut riang oleh para mahasiswa baru itu. Mereka menjawab ‘ne’ dengan serempak lalu bubar setelah Jongdae membubarkan mereka.

Tepat setelah mereka bubar, Chanyeol tiba dengan wajah masam. Panitia MOS menatap Chanyeol penuh tanya tetapi tak berani bertanya, apalagi serasa ada aura berwarna hitam pekat yang menyelimuti pria Park itu pagi ini.

“Hei, Park Chanyeol. Kau tahu, hari ini si gadis konglomerat itu datang tepat waktu.” Chanyeol menatap Jongin yang belakangan ini suka sekali membicarakan Irene dengan tatapan malas.

“Lalu?” Jongin hanya menelan saliva-nya pasrah, firasatnya mengatakan kalau Chanyeol sedang dalam mood yang tidak baik.

“Tidak apa-apa, silahkan menikmati pagi-mu yang indah.” Jongin tersenyum pura-pura lalu segera pergi darisana. Chanyeol hanya mendengus kemudian melempar pandangannya ke arah sebuah kursi di bawah pohon yang berukuran paling besar di universitas mereka. Pria itu melihat seorang gadis berambut ungu dengan celana hitam panjang dan atasan hitam dengan mode bahu terbuka.

gbyireneootd.jpg

“Dia bahkan sempat mengecat rambutnya?” Chanyeol hanya geleng-geleng kepala melihat Irene yang tengah duduk sendirian dan menatap iri sekumpulan mahasiswi yang sedang bercengkrama. Entah ilham darimana, Chanyeol tiba-tiba berjalan menghampiri gadis itu.

“Kapan kau mengecat rambutmu?”

“Astaga!” Irene mengelus dadanya pelan, dia melempar tatapan sinis pada Chanyeol yang kini sudah duduk di sampingnya.

“Kau iri pada mereka?” tanya Chanyeol seraya memandang beberapa gadis yang tengah tertawa bersama di tangga masuk gedung.

“Hah? Aku Iri? Yang benar saja! Mereka yang justru iri padaku.” sanggah Irene cepat, Chanyeol malah terkekeh pelan akibat kalimat sombong Irene.

“Kenapa mereka iri padamu?” tanya Chanyeol pura-pura tak mengerti, Irene lantas menoleh pada pria itu lalu tersenyum bangga.

“Aku ini terlalu sempurna, makanya banyak orang yang merasa iri padaku,” kata Irene angkuh sambil mengibaskan rambut ungunya yang digerai cantik itu ke belakang, berusaha untuk menyombongkan diri. Tapi bukannya terkagum, pria berkacamata di sebelahanya hanya terkekeh kecil, kemudian bertanya pada gadis yang mengaku sempurna itu.

“Jadi tidak punya teman itu juga termasuk definisi sempurna?” Irene tiba-tiba terdiam, dia kemudian tersenyum kecut dan memandangi sepatunya.

“Lagipula, aku tidak membutuhkan teman. Aku tidak membutuhkan orang yang akan meninggalkanku juga nantinya. Aku sudah terlalu sering merasa kehilangan.” Irene bangkit berdiri kemudian menatap Chanyeol remeh.

“Senang bicara denganmu, sampai jumpa.” Irene tersenyum tipis, meninggalkan Chanyeol yang nampak mendalami maksud perkataan gadis itu.

“Apakah gadis itu juga sudah kehilangan seseorang yang sangat dia cintai?” batin Chanyeol tiba-tiba merasa tidak enak hati.

 

 

Bukan Irene namanya kalau tidak melanggar peraturan, buktinya, gadis itu tengah berjalan menuju apartemennya di saat MOS hari terakhir masih berlangsung. Gadis itu menyatukan kedua alisnya saat mendapati sebuah box di depan pintu apartemen.

Gadis itu meraih sticky note yang di temple di atas box itu.

Untuk Irene tersayang.

Irene memandang bingung box itu kemudian membukanya, Irene lantas ber-ck-ria karena mendapati sebuah boneka beruang berwarna putih yang perutnya sudah ditusuk-tusuk dan bercak-bercak darah di seluruh boneka beruang itu. Irene memasukkan boneka itu kembali ke dalam box itu lalu menendangnya.

“Pasti ulah haters.” cibir Irene seraya menekan tombol password lalu masuk ke dalam apartemennya. Irene segera menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya yang berlukiskan wajah ibunya. Irene sengaja menyuruh seseorang untuk melukis wajah ibunya di langit-langit kamarnya agar dia bisa merasa aman.

Tak terasa mata Irene tertutup dan gadis itu pergi menjelajahi dunia mimpi.

 

 

“Aku merasa ini bukan kecelakaan, tapi sebuah pembunuhan.” pria itu memandang atasannya serius, pria paruh baya yang ada di hadapannya hanya mendesah pelan.

“Sudahlah Detektif Oh, kasus ini sudah ditutup. Kau sebaiknya menangani kasus yang lain saja.” pria yang dipanggil Detektif Oh itu tetap bersikeras agar kasus kematian Kim Jun Myeon di selidiki ulang.

“Saya menemukan ini di tiga TKP yang berbeda, pak.” lanjut pria itu lagi sambil meletakkan tiga buah kartu joker di meja kaca itu.

“Pertama kematian Choi Siwon, kedua Lee Jonghyun, dan ketiga Kim Jun Myeon. Saya yakin mereka mati karena dibunuh dan pembunuh mereka adalah orang yang sama.” pria paruh baya itu menatap Detektif Oh dengan mata melebar.

“Saya mohon, pak. Selidiki ulang kasus ini.”

 

 

“Mau apa kau kemari?” Irene menatap pria jangkung di depannya dengan pandangan heran. Chanyeol tak menjawab pertanyaan Irene, malah ia menerobos masuk ke dalam apartemen gadis itu begitu saja.

Ya!” pekik Irene kesal namun Chanyeol tetap tidak menggubris pertanyaan gadis itu, Chanyeol pun duduk di sofa mahal Irene dengan santai.

“Kenapa kau marah, huh? Toh kau juga sudah melakukan hal yang sama.” ucap Chanyeol enteng. Irene mendengus mendengar ucapan pria itu lalu menatap pintu apartemennya dengan kasar.

“Apa maumu?” tanya Irene sembari memangku tangannya.

“Kembalikan jaketku.” Chanyeol menjawab Irene dengan santai, Irene hanya mendengus lalu berjalan menuju kamarnya. Dengan cepat Chanyeol bangkit dari duduknya lalu memasang alat penyadap dan beberapa kamera pengintai di apartemen Irene.

“Ini.” Irene menyodorkan jaket berwarna hitam pada pria yang kini sudah kembali duduk santai di sofanya. Chanyeol menerima jaket itu lalu bangkit berdiri, tapi bukannya pergi dia malah menatap Irene dengan serius hingga membuat Irene bergerak dengan canggung.

“Apalagi?!” tanya Irene sok galak, Chanyeol lalu membuang tatapannya ke arah lain.

“Kau tidak mengucapkan terima kasih?” tanya Chanyeol dengan alis kanan terangkat, Irene mendecak lalu mendorong tubuh besar Chanyeol.

“Itu adalah kata-kata yang tidak akan pernah keluar dari mulutku, sudah sana pergi.” Irene menutup pintu dengan kasar persis seperti yang Chanyeol lakukan tadi pagi. Chanyeol lantas tersenyum misterius lalu masuk kembali ke dalam apartemennya yang ada di depan apartemen milik Irene.

Irene mengomel dan menggerutu di dalam apartemennya. Padahal dia mengira ayam goreng pesanannya yang datang, tapi malah si kucing kampung mengesalkan yang membuat Irene ingin mengumpat sekarang juga.

Tingtong!

Irene melompat girang, dia yakin kali ini adalah pengantar ayam goreng yang dia pesan sehingga dia langsung menuju pintu dan membukanya dengan semangat tanpa melihat monitor di samping pintu lagi.

“Kenapa lama seka—kau?” Irene terkejut bukan main saat menangkap sosok pria yang sempat menghiasi harinya tengah berdiri di depannya dengan wajah menyeramkan dan sebuah pisau berdarah di tangan kanannya. Irene mundur ke belakang saat pria bernama Luhan itu maju selangkah dan tersenyum licik pada Irene.

Irene membelalakkan matanya saat Luhan mendekatkan ujung pisau itu ke pipinya. Tubuh Irene bergetar hebat sakin takutnya sedang pria itu lantas terkekeh pelan.

Miss me, Irene-ah?”

 

 

[to be continue]

Author’s Note

Kami berdua sengaja ngepost next chapternya lebih cepat dari biasanya karena tgl 23 nanti ada event HunHan birthday, jadi kami mohon pengertiannya ya gaess. setelah ini tenang aja, akan lanjut sesuai tanggal biasanya kokz, so see you tgl 10 nanti!

Salam Ketchupz

Double S ❤

Iklan

38 pemikiran pada “Gotta Be You – [5] Let’s Play – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Ping balik: Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  2. luhan kenapa bisa kayak gitu ya? apa emang dari awal dia gak tulus sama irene dan yang ngirim itu boneka luhan juga ya? mau lanjut baca dulu

  3. Ping balik: Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Gotta be You – [6] Kill Her – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  5. Asik next chapter ada adagan chanyeol nolongin irene😍😍 di mana2 mantan serem yak😂 ditunggu chapter selanjutnya💙

  6. Tgl 10 masih lamaaa 😭😭😭😭😭😭😭
    Detektif oh kayaknya oh sehun. Dia nanti kayaknya yg bakal mengungkap kasus pembunuhan yg melibatkan chanyeol. Jujur sebelum muncul karakter detektif oh, aku sempet mikir kalo klien chanyeol yg nyuruh dia bunuh irene cuma berniat menjebak chanyeol biar ketangkep….
    Haduuuhhh makin penasaran 😎😎

    • “Kau benar-bebar penasaran padaku? Kita lihat saja, apa dugaanmu tepat.” —detektif oh.

      Hmm.. asumsi kamu juga bisa diterima, tapi kami juga tidak tahu siapa sebenarnya si bill ini, hehe 😂😂

      Thankyouuu 😍

  7. Bisa samaan gitu ya pw nya,, wkwkwk, jodoh kalii😂😂😂✌✌…
    Bapaknya Irene php ah, jahat😌🙍,,
    Eh.. mantan nongol,, wkwkw, haloo mantan😳/🔪🔪digorok luhan wkwkwk,
    Tgl 10 masih lama thor😫😫😴,, tpi gapapa deh, akuuh kan setiaa kpd anda berduahh😘
    .
    .
    ~calon istri detektif oh~

    • Mungkin jodh ya, hmm 😏
      “Aku belum muncul sama sekali, tapi aku sudah dicap sebagai orang jahat.” —tuan Bae

      “Hm, yeah halo juga. Tolong berhenti menyebutku mantan, itu membuatku sedih:(.” —luhan

      Ku baper lohh, thanks yaa 😍

      “Calon istriku? Kau bahkan belum mengenalku.” —detektif oh

  8. hidup irene kasian juga ya gak dipeduliin appanya.. pantesan sifatnya gitu krn kurang kasih sayang..
    lebihin sayangnya dari chanyeol aja ya kak hihihi..
    itu luhan ngapain? jangan bilang…
    ah nunggu tgl 10 lama bgt gak bisa update sekali seminggu gitu kak??
    ditunggu ^^

    • Aku? Kenapa aku harus sayang pada gadis sombong itu? —ceye

      “Cuih, memangnya aku mau menerima kasih sayangmu?” —irene

      Kalau bawa pisau memangnya mau ngapain? —luhan

      Hehe, seminggu sekali, kami belum bisa kabulin :’)
      But, Thankyouuu yaa 😍

    • Pisau, tapi kita gak tau apa yang akan terjadi selanjutnya
      Hehe, masih ada yang peduli sama Rene kok, thankyouu yaa 😍😍

  9. Ahhh mantan 😱 serem ah mainnya pisau 😧
    Bang ceye where are you,,, selamatkan mba rene bang 😱/ lebay / d gmpar mba rene 😂
    Apkah bang Ceye akan slmatkan mba Rene,, kita tnggu aja para riders 😂 tgl 10 ya ah masih lama 😱
    Fighting authordeul,,,

    • Mantan, satu kata penuh makna, nyess 😂
      Ceye be like—”tolong gak yaa😋”
      Gak lama kok, gak bakalam terasa lohh 😂
      Thanks ya dyna 😍

    • Iya dong, secara si Irene kan mangsanya dia 😁 tapi kita gak tau hati dan pikiran hati seorang Park Chanyeol 😋 thankyaa yaa Elle 😍

  10. Yeaayy post cpet XD
    tgl 10 msih 3mngguan lgi hiks 😥
    hebat tuh pw apartemennya bsa sma, bsa bludusan aja tuh mreka bdua :v
    knpa Luhan? Dy mw blas dendam yaa ama Irene, nahkan pnasaran ><
    gasabar mnanti tgl 10 :')
    fighting Shae n Yuki.. :*

    • Tiga minggu itu gak kerasa lohh 😄 tapi tergantung kamu ngejalanin tiga minggu itu gimana, hehe 😄
      Biasanya kalo pw nya samaan jodoh kali ya (?)

      Luhan mau ngapain sih? Jangan-jangan mau ngajak Irene …. Motong ayam bareng-bareng?😂😂
      Thankyouu Natsuya 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s