[Vignette] Silently Propose – by Gxchoxpie

silentlypropose-2.png

SILENTLY PROPOSE

.

Fluff, Romance, Slice-of-life || Vignette || PG-13

.

Starring
EXO’s Luhan, HyeKim‘s OC Kim Hyerim

.

Namun, satu hal yang pasti, Luhan punya cinta yang lebih dari cukup untuk Kim Hyerim. Luhan mencintai gadis itu apa adanya, dan siap menempuh hidup bersama dengannya.

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

Specially made as a birthday present for HyeKim. Happy birthday, dear 🙂

.

I only own the plot. Credit poster to luxie @ Story Poster Zone

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Luhan terlihat berantakan. Bukan, bukan lantaran ia lupa membersihkan diri atau sengaja mengenakan pakaian yang belum dicuci, tetapi karena sejak membuka mata pemuda itu dilanda bimbang yang tak terduga.

Well, hari ini Luhan sudah merencanakan sesuatu; sesuatu yang bisa mengubah takdirnya; mengubah jalan hidupnya bersama orang yang amat dicinta. Hanya saja, segala hal tidak berjalan dengan baik seolah masih ada pagar pembatas yang belum mampu ia runtuhkan. Dan Luhan pun berubah menjadi sosok pengecut yang tak tahu harus melakukan rencananya dengan cara apa.

Sebuah kotak beludru biru navy mengambil alih atensinya. Luhan menatap kotak tersebut untuk enam detik, sebelum kemudian menghela napas. Asal tahu saja, kotak beludru itulah yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini, yang membuatnya terasa gila, membuatnya tak ubahnya seorang penakut.

Lebih diperjelas lagi, benda yang ada di dalam kotak beludru tersebutlah yang menjadi akar dari susah hatinya.

Pemuda garis Xi itu mengulurkan tangan, mencoba menggapai benda biru navy yang terletak di atas nakas. Jemarinya bergerak untuk mengusap permukaannya sejenak, lalu dibukanya tutup kotak perlahan. Sebuah cincin perak dengan liontin berlian menyambut. Saat pantulan cahaya dari berlian mungil tersebut menusuk irisnya, desahan Luhan kembali terdengar. Sebelum perasaannya bertambah buruk, Luhan memutuskan untuk menutup kotak tersebut dan meletakkannya ke tempat semula.

Cincin itu sudah ia beli sejak satu setengah bulan yang lalu, bahkan ia sudah menabung hampir enam bulan demi membelinya. Hanya satu tujuan Luhan: melamar Kim Hyerim, kekasihnya. Mereka sudah menjalin hubungan selama hampir tiga setengah tahun, dan Luhan pikir sudah saatnya membawa hubungan manis mereka ke jenjang yang lebih serius. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain, sudah banyak momen yang mereka lalui berdua, hampir tak ada lagi yang mereka sembunyikan. Apa salahnya untuk mengikat janji suci?

Namun melamar seorang gadis rupanya tak semudah yang Luhan kira. Awalnya, Luhan pikir ia hanya perlu membeli sebuah cincin yang mahal, memesan meja di restoran mewah untuk sebuah candle light romantis, berpakaian rapi dan menjadi tampan, membekali diri dengan bahasa puitis, lalu menyelipkan cincin pada jari manis kekasihnya.

Terdengar mudah untuk diingat, namun susah untuk dilakukan. Pasalnya, Luhan bukanlah tipe lelaki yang pandai bicara. Ia lebih senang mendengarkan kecerewetan Hyerim dibanding menanggapinya. Jangankan frasa puitis; ia bahkan masih kerap bingung bagaimana harus merespon segala celoteh Hyerim yang panjangnya bagai gerbong kereta. Konon lagi merangkai kalimat yang menggetarkan hati?

Bukan hanya itu saja. Luhan tidak tahu bagaimana harus memulai. Jangan tanya sudah berapa momen romantis yang ia biarkan berlalu sia-sia, hanya karena ia terlalu pengecut untuk sekedar mengungkapkan perasaan. Meski Luhan sudah berlatih keras di rumah bagaimana harus berkata-kata di depan Hyerim, namun pada akhirnya, ketika gadis itu sudah bersamanya, segala yang ia persiapkan tahu-tahu menguap. Otaknya kosong, benaknya bagai enggan diajak berpikir. Ia tergugu, tak tahu apa yang harus ia katakan, dan akhirnya kesempatan itu terbuang begitu saja. Cincin berlian masih tertidur di kotaknya.

Kali terakhir, yang Luhan paling sesali, ia membawa Hyerim ke sebuah restoran kelas konglomerat. Sudah bermodalkan suit hitam dan potongan rambut model baru, bahkan Hyerim pun sudah berdandan cantik dengan dress selutut berwarna merah maroon. Menu makan malam mewah western style pun sudah terhidang. Tiga lilin putih ramping serta setangkai mawar menjadi pelengkap suasana romantis tersebut.

Namun, dasarnya penakut, bahkan sampai Luhan sukses mengantar Hyerim pulang kembali ke rumahnya pun cincin berlian masih terdiam di dalam kotak. Bahkan Luhan sama sekali tak mengeluarkan kotak beludrunya dari kantong jas, hanya karena Luhan tak tahu harus berkata apa untuk menyatakan niatnya terhadap Kim Hyerim

Padahal, asal tahu saja, demi satu malam itu Luhan telah merelakan sepertiga dari gaji bulanannya. Pengorbanan yang berakhir sia-sia, kan?

***

“Hyerim-ah, sekarang kau berada di rumah? Apa kau sibuk?”

Mwoya …. Memangnya kenapa? Kau merindukanku, Xi Luhan-ssi?” balas sang gadis Kim diiringi dengan tawa kecil.

Luhan terdiam untuk sesaat. Sebenarnya, ia pun tak tahu maksudnya dari menelepon Hyerim. Rindu? Jelas. Hanya untuk mendengar suara manis kekasihnya atau tawa renyah khasnya. Lalu, setelah itu?

“Kau, bisa ke rumahku, sekarang?”

“Untuk apa?”

Benar. Untuk apa? Memangnya apa yang Luhan akan lakukan sesampainya Hyerim di rumahnya? Melamarnya secara tiba-tiba, hari ini juga? Terdengar konyol, setelah semua momen penuh persiapan saja ia sia-siakan begitu saja, bagaimana dengan yang jelas-jelas tanpa persiapan?

Umm … aku bosan, Hyerim-ah. Lapar. Tak ada yang memasak makan siang untukku.” Luhan berusaha keras membuat alasan yang paling masuk akal.

Terdengar suara decakan di ujung telepon. “Ckckck. Menyedihkan sekali dirimu, Tuan Xi. Bagaimana jika seandainya aku tidak bisa datang? Kau tidak akan makan? Lagipula, bukankah biasanya kau memasak makananmu sendiri? Mengapa tiba-tiba memanggilku? Kau rindu masakanku, ya?”

“Hmm.”

Ck. Baiklah. Aku datang. Tolong kirim pesan padaku apa saja yang kau punya di kulkas, supaya selama di perjalanan aku bisa memikirkan menu apa yang bisa kumasak untukmu. Asal kau tahu saja, Luhan-ah, kau sudah mengambil jatah hari liburku, jangan sampai aku membiarkanmu mengambil uangku hanya untuk membeli bahan-bahan untuk makan siang di supermarket. Maka dari itu, tolong beritahu padaku apa yang kau punya. Jangan bilang kulkasmu sekarang sedang kosong layaknya kulkas baru atau sedang penuh dengan kaleng soda dan es krim, mengerti?”

***

Ternyata Kim Hyerim benar-benar datang. Bahkan ancamannya mengenai isi kulkas tadi seakan hanya omong kosong belaka, karena ternyata gadis itu tiba sambil menggenggam sebuah kantong kertas besar yang terlihat penuh. Bahkan Luhan menangkap eksistensi roti baguette panjang yang menyembul keluar.

Seakan rumah sendiri, Hyerim pun masuk begitu saja setelah Luhan membuka pintu.

Mwoya …. Pada akhirnya kau berbelanja juga,” celetuk Luhan.

Hyerim meletakkan belanjaannya di meja dapur Luhan. “Ketika melihat isi pesanmu tadi, kupikir aku akan memasak sup kimchi. Namun aku teringat akan lambungku yang bermasalah tiga hari ini, jadi aku pikir makanan pedas bukanlah ide yang baik. Jadi, I came up with a new idea. Sup krim jagung. Western style. Tak apa, kan?”

Ck.” Luhan tersenyum kecil. “Terserah kau, nona Kim. Selama itu bisa dimakan, aku, sih, oke saja. Aku percayakan dapurku padamu, nona. Jangan membuatnya meledak, ya ….”

“Tak akan!”

Luhan tak dapat menahan dirinya untuk berhenti memperhatikan Kim Hyerim. Ia, yang kini hanya perlu duduk manis di kursi ruang dapur menunggu semangkuk sup hangat buatan kekasihnya, tak dapat mengalihkan pandangan dari sosok Hyerim. Tangan gadis itu terlihat lincah saat mencuci, mengiris, dan memotong bahan-bahan makanan. Sesekali senandung kecil keluar dari mulutnya, dan tertangkap oleh pendengaran Luhan. Terdengar merdu.

Melihat Hyerim yang tampak cekatan di dapur membuat besar hasrat Luhan untuk segera melamar kekasihnya. Di benak Luhan, ia membayangkan bagaimana kelak Hyerim menjadi istri yang cakap dalam meracik menu makan keluarga kecilnya kelak. Setiap pagi, hidangan ala Kim Hyerim sudah tersedia di meja makan, untuk Luhan dan anak-anaknya kelak.

“Hyerim-ah ….”

Hyerim yang sedang mengaduk sup jagung di panci mengalihkan atensinya. Gadis itu menoleh, menatap Luhan yang sedang duduk bertopang dagu.

“Hmm?”

“Kalau kita sudah menikah kelak, aku tak ingin punya pembantu. I mean, aku hanya ingin memakan masakan buatanmu, bukan buatan orang lain.”

Cih,” ledek Hyerim, namun tak urung seulas senyum terukir di bibirnya. “Sampai aku jatuh sakit, habislah kau dan anak-anak kita, Luhan-ah.”

“Karena itu kau tidak boleh sakit,” balas Luhan.

Kalimat terakhir itu mengundang tawa Hyerim yang kebetulan sedang memasukkan merica ke dalam sup. Setelahnya, gadis itu mengaduh karena merasa merica yang ia masukkan terlalu banyak.

Tak perlu waktu lama sampai akhirnya sup krim jagung itu jadi – Hyerim menggunakan kaldu sup instan, asal tahu saja. Dwimanik Luhan berbinar serta ekskresi air liurnya meningkat begitu Hyerim menghidangkan semangkuk sup yang masih mengepul itu di hadapannya.

“Ini enak!” ujar Luhan. “Benar-benar enak! Bahkan rasanya melebihi rasa sup milik restoran mahal!”

“Berhenti menggombal, Xi Luhan, dan cepat habiskan supmu sebelum dingin,” balas Hyerim.

Hehehe …. Baiklah.”

Kedua insan itu kembali asyik menikmati semangkuk sup hangat, sambil sesekali berbagi kisah tentang keseharian mereka, apa saja yang telah mereka lalui semenjak terakhir kali mereka berkencan empat hari yang lalu. Seperti biasa, Hyerim kembali mendominasi percakapan, sementara Luhan asyik mendengarkan. Bagi Luhan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain menyimak celotehan Hyerim.

Dan tanpa terasa seiring dengan cerita yang mengalir dari bibir sang gadis Kim, sup mereka pun mulai habis, menyisakan mangkuk kotor yang kosong.

“Setelah ini, kau akan pulang?” tanya Luhan seraya membersihkan meja makan serta memindahkan mangkuk-mangkuk kotor ke kitchen sink.

“Entahlah … “ sahut Hyerim sambil melemparkan bokongnya ke sofa ruang tengah rumah Luhan. “Namun saat aku kemari, jalanan macet parah. Jadi, rasanya aku malas pulang sekarang. Lagipula tidak ada hal mendesak yang harus kulakukan di rumah.”

Luhan mengukir seulas senyum. “Jadi, kau akan tetap di sini?”

“Sepertinya demikian. Selain itu, aku agak mengantuk. Boleh aku tidur di sini, Luhan-ah?”

“Mengapa tidak? Pakai saja kamarku.”

Hyerim mengikat surai cokelat panjangnya dengan karet gelang yang ia temukan di lantai. “Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?”

“Pertama, membersihkan peralatan makan yang kotor. Setelah itu, entahlah. Mungkin menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor.”

Tepat ketika Luhan selesai berucap, gadis Kim itu menguap, lebar. Saat itulah Luhan tahu bahwa kekasihnya benar-benar kelelahan. Dengan lembut digiringnya Hyerim menuju kamar, menyuruhnya untuk beristirahat sejenak.

“Tidak perlu kubacakan dongeng pengantar tidur, kan?” ujar Luhan dengan senyum jenaka.

Hyerim tertawa kecil seraya memukul paha Luhan pelan. “Memangnya aku tampak seperti anak kecil? Lagipula aku hanya beristirahat siang, bukan tidur malam. Tidak perlu, lah.”

“Baiklah. Selamat istirahat, nona Kim.” Luhan berkata seraya perlahan berjalan menuju pintu kamar, memutuskan untuk membiarkan kekasihnya menikmati waktu tidur siang sendirian.

Mencuci mangkok, panci, sendok, serta beberapa peralatan masak lain yang kotor rupanya tak memakan waktu lama. Hanya sekitar lima belas menit. Tadinya Luhan bermaksud menyelesaikan pekerjaan kantor seperti yang ia beritahu pada Hyerim sebelumnya. Namun kenyataan bahwa gadis itu kini berada di rumahnya membuat fokus Luhan teralih. Rasanya sayang membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Ia bisa mengerjakan tugasnya di lain waktu, toh batas waktunya masih lama. Namun momen menemani Hyerim yang tidur siang di kamarnya mungkin tak akan terulang.

Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Luhan pun memutuskan untuk mendatangi kamarnya. Sebenarnya yang ia lakukan hanyalah hal-hal simpel, yakni duduk di tepi tempat tidur, menatap Hyerim yang kini tengah berbaring dengan mata terpejam, tertidur dengan tangan kanan tertindih kepala. Surai cokelatnya yang biasa terurai kini terikat satu dengan karet gelang. Luhan mengulurkan tangan, menyelipkan beberapa anak rambut Hyerim yang mencuat ke belakang telinga.

Di tengah situasi itu, Luhan teringat akan cincin berliannya. Benar, tujuan utamanya mengundang Hyerim ke rumah adalah untuk melamar gadis itu. Namun momen makan siang berdua bahkan sudah berlalu. Gadis itu kini tengah berwisata di alam mimpi. Mungkin setelah bangun nanti ia akan pulang. Haruskah ada kesempatan kesekian yang terbuang?

Tidak. Luhan tidak akan mengulang kesalahannya yang dulu.

Namun, apa yang akan ia lakukan?

Walau masih belum yakin bagaimana ia harus mengatakannya, Luhan tetap mengambil kotak beludru biru navy yang ia simpan dengan baik di laci lemari pakaiannya. Kembali cincin berlian beserta cahaya yang dipantulkan menyambut begitu Luhan membuka penutup kotaknya.

Luhan tersenyum getir. Ia memang lelaki pengecut, yang bahkan tak berani melamar kekasihnya. Pacar macam apa ia ini? Masakan untuk melamar saja ia tak punya keberanian?

Perlahan, diraihnya tangan kiri Hyerim yang sedang memeluk guling. Amat pelan, tak ingin sampai sang gadis terbangun dari mimpi indahnya. Dengan hati-hati, diselipkannya cincin berlian pada jari manis Hyerim. Begitu cincin itu tersemat dengan baik, senyum Luhan spontan terukir.

Mungkin ia adalah pria penakut yang bahkan tak berani melamar kekasihnya sendiri, pria bodoh yang bisa-bisanya tak punya kata-kata untuk melamar sang calon pendamping hidup. Mungkin Hyerim akan kecewa karena tak seperti gadis lain, ia tak mengalami detik-detik membahagiakan ketika kekasihnya menyelipkan cincin pada jemari. Namun, satu hal yang pasti, Luhan punya cinta yang lebih dari cukup untuk Kim Hyerim. Luhan mencintai gadis itu apa adanya, dan siap menempuh hidup bersama dengannya.

Seakan belum puas dengan perlakuannya di awal, Luhan mengambil post-it yang selalu ia simpan di meja kerjanya, beserta sebuah pena. Setelah berpikir beberapa saat, Luhan pun menulis sesuatu, lalu menempel selembar post-it pada punggung tangan Hyerim.

Senyumnya kembali merekah. Rasa puas menyelubungi hatinya.

Dan Luhan pun tak sabar menunggu sampai Hyerim terbangun.

Karena Luhan ingin melihat respon Hyerim ketika menemukan serta membaca kertas yang ia tempel.

Post-it merah jambu, yang hanya berisi empat kata sederhana, namun sudah menggambarkan seluruh keinginan yang selama ini ia pendam.

Will you marry me?

.

“They tell me to confess my feelings. But there are words lingering in my mouth. I am in love with you.”
–Tender Love (EXO)

.

Processed with VSCO with t2 preset

-fin-

A/N

Apaan ini astaga?? Udah lama banget ga nulis, lalu dateng-dateng bawa fic receh gaje begini… Hwhwhww..

Utk Elsa aka HyeKim, selamat ulang tahun ya sayang… Semoga semua keinginan kamu terkabul, dan dirimu makin bisa menjadi berkat bagi orang lain 😀 All the best for you, dear ❤ ❤

Maafkan untuk kerecehan ficnya, untuk kata-kata yang ga jelas, untuk ke-ooc-an… hwhwhw maafkan aku udah lama ga nulis jadi begini dah… Dan itu ada hadiah kecil lagi untukku hahahaha maapkan kalau jelek ya Elsaku sayang ❤ ❤

Anyway, mind to review? 🙂

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “[Vignette] Silently Propose – by Gxchoxpie

  1. KAK GECEEE YA AMPUN AKU SENENG :”) aslian aku udah tau fic ini karena pas itu ditanya ultah plus gak sengaja nemu fic ini pas buka postan wp admin di hp wkwkw tapi aku baru baca kok

    Ahhhh ihhh luhannya lucu XD XD malu-malu ngelamar padahal kalo diliatin cincinnya aja, Hyerim langsung mau kok Lu, wkwkwwkwkwk. Ini OOC? Gak kok. Malah fluffy manis-manis gimana gitu ❤❤❤ buat aku senyum-senyum dan pas Hyerim lebih suka ngomong, Luhan lebih suka denger

    Eh eh eh Hyerim gak akan kecewa kok meski di lamar pas tidur, malah caranya beda dari yang lain si Luhan ini jadi malah terkesan maniss, idenya manis banget kak cee :”)) ❤❤❤

    “Will you marry me?”

    Aku wakilin jawab di sini ya “YES YES YESSS I WILL!” 😄😄😄

    Last, thanks a lot kak ceee i luv yuuuuu ❤❤❤❤

    • wakakka… wah oh ya? hwhwhw… ndak terlalu surprise atuh ya ._.
      baguslah kalau kamu suka ya hahaha… untunglah hyerim ga ooc ya…. selamat ulang tahun sayang 🙂 makasih wes mampir

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s