[VIGNETTE] MR. HYDE — IRISH`s Tale

|   Mr. Hyde   |

|  EXO`s Kai (Jongin) x Red Velvet`s Irene   |

|  Adult x Drama x Psychology  |  Vignette  |  Mature  |

2017 © IRISH Art & Story all rights reserved

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

Previous file: Dr. Jekyll password here[]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Irene`s Eyes…

Pria itu… selalu kesepian.

Caranya menatap dunia selalu penuh dengan kesedihan dan kesendirian. Apa ia selalu seperti itu sebelumnya? Apa kehidupan telah jadi begitu kejam padanya hingga seorang pria rupawan sepertinya berubah menjadi seorang monster?

Meski rokok kerapkali terselip di antara jemarinya dan membuat bibirnya menggelap karena nikotin, ia terlihat begitu rapuh. Padahal, tidak terhitung berapa banyak kekacauan yang telah dia ciptakan di club ketika ia sedang mabuk.

Di mataku, dia adalah seorang pria kesepian yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri, tidak pula bisa memahami dirinya sendiri.

“Memangnya apa yang salah dengan wanita penghibur? Mereka pikir semua wanita yang bekerja di dunia malam menginginkan kehidupan seperti ini?”

Satu kalimat itu pernah Kai ucapkan—ah, apa orang-orang mengenalnya sebagai sosok Jongin? Tidak denganku. Dia adalah Kai, pria dingin yang berusaha menghancurkan tubuh Jongin dengan rokok yang jadi adiksinya.

Dia juga pria yang gemar menghabiskan uang Jongin untuk bersenang-senang bersama wanita di club malam, bercinta dengan mereka di malam hari dan esok paginya terbangun sebagai Jongin yang tidak mengingat apa-apa.

“Apa kau tidak ingin memiliki tubuh ini untukmu sendiri?” pernah aku bertanya pada Kai, saat kesadarannya belum sepenuhnya menghilang karena minuman.

“Tidak. Aku tidak ingin begitu, Irene.” Kai berucap, ia sarangkan sebuah kecupan kecil di leherku—disertai gigitan, tentunya—sementara aroma alkohol menguar dari bibirnya.

“Jongin dan aku saling membutuhkan. Jongin itu pria lemah, dia tidak pernah bisa mengutarakan apa yang dia inginkan, apa yang dia rasakan, atau apa yang ingin ia lakukan. Dia seorang pengecut. Dan aku adalah sisi ‘pemberani’ dari dirinya.” Kai terkekeh pelan, tangannya kemudian bergerak meraih gelas vodka yang ada di tanganku, meneguknya sampai habis.

“Jadi… apa yang kau butuhkan darinya?” tanyaku kemudian.

Kai terdiam sejenak.

“Jika saja dia tidak memanggilku, aku mungkin tidak akan ada dan hidup seperti ini, Irene. Itulah mengapa aku membutuhkannya.”

Aku kini tergelak. Di mata orang lain, mungkin konversasiku bersama Kai sekarang terdengar seolah kami tengah membicarakan orang lain. Tapi sebenarnya yang tengah kami lakukan adalah bicara tentang sosok lain yang tengah tertidur di dalam diri Kai.

“Seberapa buruk hal yang pernah kau lakukan dengan tubuh Jongin?” kembali, aku membuka sebuah konversasi kecil dengan Kai. Aku tahu ini adalah pembicaraan yang paling dibencinya, tapi juga jadi satu-satunya konversasi menarik bagiku.

Bagaimana tidak, aku mengenal seorang berkepribadian ganda yang dengan bangga mengumbar bahwa dirinya adalah sisi tersembunyi dari orang lain. Jika bukan Kai, siapa lagi orang dengan keadaan serupa yang bisa melakukannya?

“Jongin tak pernah bisa menyalurkan nafsu seksualnya. Kau tahu, dia juga seorang pria yang bisa merasa ‘terbangun’ karena wanita. Dan kau sendiri tahu… berapa banyak wanita yang sudah kutiduri demi memuaskan keinginan Jongin?” Kai kini menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.

Pandangnya menerawang, seolah mengira-ngira tentang berapa banyak hal buruk yang sudah dilakukannya, mulai dari meniduri wanita, menghamili mereka, Kai bahkan pernah meniduri seorang gadis SMA yang dikatakannya menarik perhatian Jongin.

“Aku bahkan menjadi pecandu, perokok, karena siapa? Semua karena Jongin. Dia terlampau sering mengalami depresi karena kehidupan yang ia jalani. Dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya ketika ia tengah berada dalam keadaan terburuk.

“Bayangkan, Irene. Dia memanggilku saat ia ketakutan, saat gairahnya meningkat, bahkan saat dia ingin sendiri, dia memanggilku, membangunkanku seolah aku tidak masalah dengan sikap egoisnya itu.

“Dia sering meninggalkan surat kecil untukku, mengatakan bahwa aku tidak lebih dari seekor binatang buas mengerikan. Tapi apa dia tidak sadar? Kalau dia lah yang membuatku ada?”

Aku terdiam mendengar penuturan Kai. Ia dengan jelas mengatakan padaku bahwa Jongin lah yang telah membuatnya berperangai seburuk ini. Karena Jongin takut pada dunia, dia jadi membangunkan Kai dalam dirinya dan membiarkan Kai mengambil alih ketika dia sudah terlalu takut menghadapi dunia.

Memang benar, kalau Kai adalah seorang pria brengsek. Sebagian wanita mungkin memujanya, mengatakan bahwa semua pria brengsek sepertinya sangatlah keren. Tapi apa alasan mereka? Hanya karena Kai terlihat begitu manly, atau berani? Bullshit. Mereka hanya tertarik pada keadaan fisik Kai, kalau begitu.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang menganggap Kai—dan pria-pria lain sepertinya—sebagai sampah? Tidakkah mereka terlalu egois? Apa mereka tidak tahu apa alasan di balik kehidupan mengerikan yang telah mereka pilih?

“Kau tidak salah, Kai. Semua ini bukan karena keinginanmu.” akhirnya aku berkata setelah sekian lama terdiam.

Bisa kulihat, bagaimana Kai menatapku dari balik sepasang mata teduhnya dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan.

“Jangan menatapku seperti itu, Kai. Aku mungkin akan jatuh padamu juga.” aku mengalihkan pandangan, sengaja menyembunyikan ekspresiku dari Kai padahal jantungku tengah berpacu.

Tawa pelan kudengar lolos dari bibir Kai, sebelum kurasakan tubuhnya mendekat ke arahku. Aku tahu, Kai hendak menyarangkan sebuah ciuman di bibirku—seperti yang selalu ia lakukan, tanpa tahu kalau jantungku terus berpacu dengan tidak normal setiap kali ia melakukannya—tapi kali ini, aku menolaknya.

“Ada apa, Irene?” tanya Kai tidak mengerti. Meski dia sudah setengah mabuk, penolakanku pasti diketahuinya. Terutama, karena Kai tidak pernah menyukai sebuah penolakan.

Aku yakin, Jongin—yang tidak pernah kukenal bagaimana kepribadiannya—seringkali mendapatkan penolakan dari orang-orang sekitarnya sehingga membuatnya menjadi seperti ini.

“Kalau aku katakan aku telah jatuh kepadamu, bagaimana Kai?”

Kai menatapku dengan mata memicing. “Apa kau tengah bermain kata seperti yang wanita-wanita itu lakukan?” tanyanya, mungkin berpikir jika aku sedang bermain kata untuk mendapatkan tubuhnya malam ini.

“Tidak, Kai.” aku menggeleng pelan. “Bukan seperti itu. Hanya saja, apa kau tidak pernah berpikir, kalau kau yang seperti ini mungkin akan membuat seseorang benar-benar jatuh cinta padamu?”

“Dan kau adalah orang tidak beruntung itu?” tanya Kai.

“Ya…”

Di tengah cahaya remang yang sekarang menaungi, bisa kulihat bagaimana Kai tersenyum samar. Bukan senyum meledek yang biasa ia pasang ketika dia sedang meremehkan wanita-wanita jalang yang ingin tidur bersamanya, tapi senyum lain yang tidak kupahami artinya.

“Jangan mencintaiku, kau mungkin akan terluka karenanya.”

“Bagaimana jika aku rela terluka karena cinta itu?”

“Jangan, Irene.” Kai berucap tegas, ia lantas melepaskan rengkuhannya di tubuhku—yang dengan cepat kucegah dengan melingkarkan lenganku di lehernya.

“Aku sudah terlanjur mencintaimu, Kai. Sejak aku mengenalmu dan tahu segalanya tentang dirimu.” aku berucap lirih, tubuhku tanpa sadar bergerak mendekati tubuh Kai, dan kubiarkan tubuh ini mengambil kuasa.

Aku senang, melihat bagaimana Kai tidak menolak ciumanku, dan malah membalasnya dengan lumatan lembut yang tidak menyakiti. Ada ketulusan yang bisa kutangkap dari cara Kai sekarang merengkuh tubuhku, menarikku ke pangkuannya dan melingkarkan salah satu lengannya di pinggangku seolah aku adalah miliknya.

Jika orang-orang pikir aku adalah wanita jalang bodoh yang telah jatuh cinta pada pria brengsek, maka mereka telah salah persepsi. Ada alasan yang membuatku merasa berani untuk jatuh cinta pada seorang pria seperti Kai, atau Jongin, meski aku sendiri hidup dengan cara seburuk ini.

Karena Kai dan Jongin telah hidup dengan cara paling mengerikan yang mungkin tidak bisa diterima oleh wanita lain.

Aku mencintai Kai, dan jika aku dihadapkan pada dua pria dalam satu tubuh yang sama ini… jika saja salah satunya bisa membalas perasaanku, tentu saja aku akan bisa mencintai satu kepribadian lainnya, dan kepribadian lain itu juga bisa mencintaiku.

“Bisakah kau tidur denganku malam ini, Kai?”

Aku berucap setelah ciuman kami berakhir. Bisa kulihat, Kai menatapku dengan sebuah senyum kecil.

“Apa itu artinya aku tidak boleh tidur dengan wanita lain setelah ini?”

Aku tidak menjawab, dan hanya memberinya sebuah senyuman. Aku tahu Kai pasti tahu benar apa yang harus ia lakukan esok hari, atau esok harinya lagi. Aku tahu dia bisa berubah, dan mungkin… bisa membaur dengan Jongin.

Meski itu artinya Jongin akan berubah menjadi seorang seperti Kai, atau Kai yang berubah menjadi seorang seperti Jongin.

Hanya saja, aku percaya kalau setiap pria yang dianggap sebagai pria brengsek oleh wanita lain, semua pria dengan masa lalu mengerikan yang membuat wanita memandangnya sebelah mata dan malah menjauh, tidaklah seburuk yang orang-orang pikirkan.

Mungkin, semua orang hanya menganggap mereka sebagai pria-pria brengsek perenggut kebahagiaan orang lain, yang suka membuang-buang uang demi kesenangan, atau bahkan mereka

Tapi orang-orang tidak tahu, kalau di balik masa lalu mengerikan dan/atau perangai buruk seorang pria, ada sisi baik di dalam diri mereka yang sebenarnya patut dicintai.

FIN

IRISH’s Note:

Sudahkubilangmoodbuatngetikratedituhanyutkarenamimpiburukkan:”)

Dan ya… bagian ke-dua dari dr. Jekyll & Mr. Hyde justru jadi begindang. LOL. Setelah di bagian sebelumnya ‘adult’ karena adegan, di sini justru ‘adult’ karena konversasi.

Berat juga pilihannya di sini. Jatuh cinta sama seorang baik yang punya sifat buruk dan sifat buruknya mengerikan (kayak Jongin kalau Kai ada dalem dirinya), atau kebalikannya… jatuh cinta sama orang jahat yang punya sisi begitu baik (kayak Kai kalo ada Jongin dalem dirinya) dan yah… Cuma ‘hati’ yang bisa memilih, LOL.

Yes, tinggal satu lagi cerita berbau DID ini, kemudian diriku bakalan tenggelem di balik hal haram bernama akred*tasi dan bisa kembali produktif dengan cerita-cerita chapterred di minggu ke-dua atau ke-tiga di bulan Mei (:

Sekian, see you soon! Salam kecup, Irish.

IRISH SHOW
[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]
Iklan

10 pemikiran pada “[VIGNETTE] MR. HYDE — IRISH`s Tale

  1. Tapi orang-orang tidak tahu, kalau di balik masa lalu mengerikan dan/atau perangai buruk seorang pria, ada sisi baik di dalam diri mereka yang sebenarnya patut dicinta

    Kak irish ku suka sama kutipannya.. boleh minjem buat posting di ig yaa? Hehehe

  2. Please kak kalau bikin ff chaptered cast nya jongin-irene aja huhuuu dan please bikinin cerita ini sequel ㅋㅋ

  3. Ping balik: [PASSWORD] DR. JEKYLL & MR. HYDE — IRISH`s Tale | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s