Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran

rooftopromancesad.png

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 |Chapter 24 | [NOW] Chapter 25 |

“Goodbye Park Chanyeol.”

 

 

 -Chapter 25- 

 

In Author’s Eyes

 

“Kau sungguh menyukaiku?” tanya Irene sekali lagi, dan itu membuat Chanyeol terdiam.

“Irene-ah, sebenarnya apa yang kau bicarakan, eoh?” tanya Chanyeol akhirnya. Bukannya menjawab, Irene malah menangis semakin hebat. Gadis itu menepis tangan Chanyeol kasar, lalu melemparkan handuk yang ada di kepalanya ke arah Chanyeol dengan asal.

“Dasar pembohong!” pekik Irene sakit hati.

Chanyeol hanya bisa melongo di tempat melihat Irene yang sekarang memakai tasnya dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Chanyeol.

Grep!

Chanyeol menahan pergelangan tangan Irene, membuat gadis itu seketika terhenti dan terpaksa menatap Chanyeol lagi dengan enggan.

“Kau kenapa? Tolong jelaskan padaku. Apa salahku Bae Irene?” pinta Chanyeol sungguh bingung, dan sebuah helaan nafas kasar menguar dari tenggorokan Irene. “Kau tidak tau apa salahmu Park Chanyeol?” tanya gadis itu dengan bibir bergetar, dan Chanyeol langsung mengangguk, “Aku tidak tau,” frasanya lagi.

Perlahan Chanyeol memapah Irene untuk kembali duduk di tempatnya tadi, “kita bicarakan baik-baik,” ucap Chanyeol menenangkan Irene.

Kini, Irene maupun Chanyeol duduk berhadap-hadapan dalam diam. Irene mengelap air matanya kasar, sementara Chanyeol hanya menatap Irene penuh tanda tanya. Tak ada yang memulai konversasi, semuanya terasa canggung, tidak seperti biasanya. Bahkan saat pelayan datang dan meletakkan dua buah cangkir cappucino panas di atas meja keduanya, belum ada satupun dari kedua insan itu yang berbicara atau sekedar mengumbar frasa, yang tersisa hanya bau kopi yang mulai menggelitik indra penciuman mereka.

Akhirnya Chanyeol mengalah. Lelaki itu lantas membuka percakapan.

“Kau tidak meminum kopinya? Baunya enak dan cappucino-nya pun masih hangat. Minumlah, setidaknya kau akan merasa lebih hangat dan berhenti menggigil.” terang Chanyeol sambil menyodorkan cangkir cappucino itu ke arah Irene. Namun belum ada respon berarti dari si gadis. Irene masih diam, tanpa suara sedikitpun.

“Ah, benar juga. Cappucino-nya masih panas jadi kau tidak bisa meminumnya ya? Baiklah, kau mau aku membantu meniupkan kopinya, hm?” lanjut Chanyeol lagi yang masih tidak di respon Irene. Meski demikian Chanyeol tetap meraih cangkir cappucino milik Irene, lalu meniup-niup cairan berwarna coklat pekat itu dengan telaten.

Melihat tingkah Chanyeol, Irene meringis. Dengan cepat gadis itu menarik cangkir cappucino-nya dari hadapan Chanyeol. “Jangan berlaku baik padaku kalau kau hanya pura-pura.” sarkas gadis itu sambil menatap Chanyeol tajam. Ya tajam, ia tengah berlagak sok galak pada Chanyeol. Namun detik berikutnya tatapan Irene berubah menjadi sendu, dan sekon selanjutnya tangisnya kembali lolos membasahi pipi. Irene tidak bisa pura-pura membenci Chanyeol seperti ini. Ia tidak akan pernah bisa membenci cinta pertamanya itu meski sebrengsek apapun lelaki bermarga Park yang duduk dengan raut tak bersalah di depannya sekarang mempermainkan dirinya.

“Irene, aku tidak pernah pura-pura padamu.” jawab Chanyeol sambil meraih tangan Irene dan menggenggam jemari gadis itu dengan hangat. Sebuncah rasa bahagia saat jemari mereka bersentuhan membuat Irene sungguh terlena, namun dengan terpaksa gadis bermarga Bae itu melepaskan tautan mereka berdua. “Kau aktor yang baik.” komentar Irene.

Mendengar semua nada sinis dari Irene, Chanyeol benar-benar tidak paham. Rasanya Irene berubah menjadi orang lain dalam hitungan detik. Apa yang salah?

“Aku bukan aktor, dan aku tidak tau apa yang kau maksud Irene. Tolong jelaskan agar aku bisa mengerti apa maksudmu. Aku benar-benar bingung.” ucap Chanyeol meminta penjelasan, dan sebuah senyum samar terukir di bibir Irene, senyum yang benar-benar dibuat-buat.

“Kau benar-benar tidak tau, huh?” lagi, Chanyeol hanya bisa mengangguk.

Irene lantas menghela nafasnya dalam-dalam, lalu menatap pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu intens.

“Kenapa kau tidak mau bermain layang-layang?” Chanyeol terkaget, Irene merajuk hanya karena layang-layang?

“Bukankah sudah ku bilang karena aku tidak tau bermain layang-layang dan aku—“

“—Bukan karena kau tidak mau melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan bersama Wendy bersamaku?”

Chanyeol terdiam saat Irene dengan cepat memotong ucapannya. Maniknya seketika membola. Ternyata itu bukan sekedar layang-layang biasa.

“Bukan karena kau tidak mau terjebak nostalgia dengan Son Wendy?” lanjut Irene lagi tepat sasaran karena sedari tadi Chanyeol masih diam tanpa suara. “Bagaimana bisa Irene tau?” batin Chanyeol kemudian yang hanya bisa terdiam di tempat.

Wae? Kenapa kau tidak menjawabku Park Chanyeol? Kenapa?!” isak Irene. Tangis gadis itu kembali lolos, membuat Chanyeol sadar kalau Irene mungkin sudah mengetahui semuanya. Irene mungkin tau dia sudah menjadi pelampiasan Chanyeol saja, ya, gadis itu pasti tau kalau Chanyeol pura-pura mencintainya.

“Ma—maafkan aku.” ucap Chanyeol tergagap. Sungguh, tanpa perlu dijelaskan pun ia sudah tau apa kesalahan terbesarnya pada Irene —mempermainkan gadis itu.

Mendengar kata maaf yang menguar dari mulut Chanyeol, Irene semakin tidak bisa menahan gejolak di hatinya. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya yang perih. Ia benar-benar terluka.

“Harusnya aku tau kalau kau hanya pura-pura saat mengatakan kau menyukaiku saat kita berada di UKS. Harusnya aku tau kalau kau hanya menjadikanku pelampiasan dari Wendy. Harusnya aku tau kalau kau hanya memanfaatkanku. Harusnya aku tau kalau, hiks…..”

Irene menangis. Ingin rasanya Chanyeol menarik gadis itu ke pelukannya seperti biasanya, namun Chanyeol sadar tindakannya itu akan semakin mempermainkan Irene. Bagaimana bisa ia memeluk seorang gadis yang benar-benar menyukainya dengan dalih sok peduli padahal ia yang membuat gadis itu menangis? Chanyeol mempermainkan Irene, dan harusnya Chanyeol malu dan tidak berani menemui gadis itu lagi.

Jadi Chanyeol berakhir diam di tempat, tidak tau harus berbuat apa meski sekarang seluruh penghuni café memasang atensi kepada pertengkaran kedua insan itu.

“Harusnya aku tau kalau aku tidak boleh egois.” akui Irene kemudian yang seketika membuat Chanyeol membulatkan matanya. Apa maksud Irene? Ini semua salahku, lalu kenapa Irene malah mengatainya egois? pikir Chanyeol sejurus kemudian.

“Apa….maksudmu?” tanya Chanyeol takut-takut Irene tidak mau berbicara lagi padanya. Irene menatap Chanyeol sendu, lalu meminta maaf sekali lagi. “Maafkan aku yang egois.” ucapnya yang makin membingungkan Chanyeol.

“Bae Irene, ini semua salahku. Lalu kenapa kau meminta maaf, eoh? Harusnya aku yang berlutut mengemis maaf darimu sekarang. Jangan membuatku semakin merasa bersalah Rene-ah. Ini semua salahku karena sudah mempermainkanmu!” kata Chanyeol kemudian yang tersulut emosi karena Irene yang terkesan menyalahkan diri sendiri padahal orang buta pun tau kalau Chanyeol adalah oknum yang bersalah sekarang dengan Irene yang bertindak sebagai korban atas perlakuan pura-pura cinta yang dilakukan Chanyeol.

Ani, ini semua salahku. Kalau saja aku tidak egois ingin memilikimu, rasanya tidak akan sesakit ini.” Irene menyentuh hatinya yang terasa sakit, membuat Chanyeol semakin dibuat dipenuhi tanda tanya.

“Aku tau kalau kau hanya ingin menjadikanku pelampiasan. Aku tau kalau pernyataan cintamu itu tidak tulus dan kau hanya berpura-pura menganggapku sebagai kekasih dan memperlakukanku dengan super baik. Aku tau aku hanya menjadi pengganti Wendy untukmu. Aku tau semuanya Chanyeol, aku tidak sebodoh itu. Mataku tidak buta saat melihat perbedaan tatapan matamu pada Wendy dengan tatapan matamu padaku. Aku tidak buta kalau selama ini kau selalu melamun saat kita bersama. Aku tidak buta kalau kau selama ini memikirkan Wendy tiap kali kau melamun di kelas. Aku tidak buta saat kau menatap Wendy dengan tatapan rindu dan ingin memeluk gadis itu saat kau melihatnya dari balik kaca bus. Aku tidak buta dan cukup pintar untuk tau apa maksud Wendy saat meninggalkan surat itu di atas meja perpustakaan untukmu. Aku tidak cukup rabun untuk tau kau turun dari bus dengan dalih punya seorang yang ingin kau temui karena janji mendadak, ya, aku cukup tau kalau kau ingin menemui Wendy malam itu. Aku selalu tau Chanyeol kalau kau absent tanpa keterangan karena Wendy, aku tau kau mengantuk dan masuk bui remaja karena berkelahi pun karena Wendy. Aku tau semuanya kalau kau selalu berotasi pada Wendy. Aku sangat tau.”

Irene mengeluarkan semua keluh-kesahnya yang seketika membuat Chanyeol terdiam. Bagaimana bisa Irene tau semua itu, huh? Bagaimana bisa tidak ada satupun yang luput tentangnya dari ucapan Irene? Kenapa?

“Aku tau semuanya. Aku tau memilikimu juga adalah suatu kesalahan, tapi kenapa aku malah bertindak egois? Aku seperti merebutmu dari Wendy. Aku bertindak seperti perusak hubungan orang lain. Aku….astaga, kenapa kau membuatku menjadi orang sejahat ini Chanyeol?” air mata Irene menetes seiring dengan nada suaranya yang naik, bagai memekik rasa sakitnya pada Chanyeol yang kini hanya bisa terdiam dengan mata membola.

“Kenapa demi kau aku merasa berubah menjadi tak tau malu sama sekali? Aku memelukmu, aku menggenggam tanganmu, aku merebut waktumu dengan membuatmu menjemputku sepulang les, aku pergi ke kantin dengan menggandeng mesra tanganmu, aku merebut waktumu dengan kencan semacam ini yang aku tau kau pasti sangat tersiksa untuk bertingkah manis di depanku. Aku begitu hina karena berharap kau akan terbiasa denganku dan perlahan melupakan Wendy. Aku begitu naif berpikir suatu saat nanti kau akan benar-benar berpaling dari Wendy kepadaku. Begitu bodohnya aku mengharapkan kau mungkin akan benar-benar mencintaiku suatu hari nanti. Kau merubahku seperti ini Chanyeol. Kau membuatku menjadi antagonis kisah cintamu dengan Wendy. Kau merubahku menjadi orang jahat, hiks…..”

Penjelasan Irene agaknya membuat Chanyeol paham, mereka berdua sama-sama pura-pura. Jika Chanyeol pura-pura mencintai Irene, maka Irene pura-pura tidak tau kalau ia hanya dimanfaatkan oleh Chanyeol demi cinta pura-pura yang diberikan lelaki itu. Bukankah miris? Irene bagai mengemis cinta dari Chanyeol, dan itu yang membuat gadis itu tidak tahan lagi. Ia tidak mau harga dirinya semakin jatuh sebagai wanita. Harusnya gadis sepertinya dikejar, bukan malah mengejar. Bukannya Irene tidak laku, malah gadis itu punya banyak lelaki yang memujanya di sekolah. Harusnya Irene terima saja salah satu dari orang-orang yang menyatakan cinta padanya itu menjadi kekasihnya, bukannya mengharapkan si cassanova pemain cinta yang ada di depan matanya.

“Aku minta maaf karena bertingkah egois ingin memilikimu. Harusnya hari itu aku menolakmu karena tau semua maksud dibalik pernyataan cintamu, tapi maaf karena aku egois dan membuatmu kesulitan sampai sekarang.” sungguh, Chanyeol benar-benar merasa bersalah membuat gadis sebaik Irene sebagai bahan pelampiasannya. Harusnya ia yang minta maaf, bukan Irene. Gadis itu tidak salah sama sekali. Kalau memang sudah kehendak cinta, mau di buat apalagi kan? Cinta memang egois, dan bukan salahnya Irene berharap dicintai oleh orang yang ia cintai setulus hati.

“Aku minta maaf Irene. Aku sudah menyakitimu terlalu banyak. Maafkan aku, aku memang lelaki yang brengsek.” akui Chanyeol kemudian, tak berani bersitatap dengan manik Irene lagi.

Hiks, kau bahkan tidak mau menatapku lagi? Astaga, betapa hinanya kau Bae Irene!” isak Irene lagi yang seketika membuat Chanyeol mendongakkan kepalanya dan menatap Irene dengan bingung.

“Kau tidak hina Irene, aku yang brengsek.” koreksi Chanyeol, namun Irene malah menggeleng.

Ani, aku juga brengsek karena bertingkah pura-pura tidak tau.” kata Irene tak setuju.

“Harusnya aku sadar diri dan memberitahumu kalau kau benar-benar menyukai Wendy. Harusnya aku mendorongmu kembali bersama dengan gadis itu agar kau bahagia, bukannya menjebakmu dalam hubungan tanpa cinta denganku. Harusnya aku tidak membuat diri sendiri berubah menjadi monster egois. Aku—”

“—Irene, sudah kubilang ini semua bukan salahmu. Ini semua salahku. Aku yang salah, dan jangan pernah coba-coba menyalahkan dirimu sendiri.” potong Chanyeol cepat, tidak tahan kalau Irene masih saja menyalahkan diri sendiri. Ya Tuhan, bagaimana bisa ada gadis semacam Irene? Kalau gadis pada umumnya mungkin sudah menampar Chanyeol bahkan mungkin saja membunuh lelaki itu kalau saja si gadis tiba-tiba khilaf, tapi kenapa ada gadis semacam Irene yang malah menyalahkan diri sendiri? Gadis itu terlalu baik untuk dipermainkan oleh seorang lelaki brengsek semacam Chanyeol.

“Kau harusnya menamparku, menendangku bahkan mungkin mengumpatku dengan semua kata-kata kasar yang ada di bumi ini seperti gadis kebanyakan. Kau tidak semestinya bertingkah menjadi orang yang salah Bae Irene, kau harusnya membiarkanku merasa tidak terlalu bersalah karena kau melampiaskan amarahmu padaku. Kau membuatku menjadi sangat teramat merasa bersalah karena kau menyalahkan diri sendiri padahal aku yang salah. Jangan begini Irene, kau membuatku menjadi sulit untuk menjadi Chanyeol yang brengsek lagi.” mata Chanyeol memerah, hampir saja tangisnya meledak kalau saja ia lupa untuk tidak menangis di depan Irene.

“Aku tidak bisa melakukan itu Chanyeol. Aku tidak bisa membuat satu luka pun di tubuhmu karena aku terlalu menyukaimu. Rasanya aku ingin menamparmu sedari tadi, tapi akal sehatku melarang karena aku sungguh menyukaimu. Ini benar-benar memuakkan. Cinta bertepuk sebelah tangan seperti ini, aku benar-benar benci perasaan semacam itu.” akui Irene lagi yang makin membuat Chanyeol mencelos. Lelaki itu jelas kehabisan kata-kata menghadapi Irene.

“Kita berdua sama-sama salah, puas?” putus Chanyeol akhirnya karena sudah kehabisan kamus.

Irene nampak diam. Air matanya nampak sudah berhenti meski matanya memerah. Lantas Irene tersenyum samar setipis benang.

“Bisa kau campakkan aku Chanyeol? Buat aku merasa patah hati akut dan menjadi sangat membencimu agar aku bisa berpaling darimu.” pinta Irene kemudian, sungguh tidak seperti gadis kebanyakan.

“Baiklah, ayo putus Irene. Aku tidak mencintaimu dan kau hanya menjadi gadis pelampiasan sementaraku.”

PLAKKK.

Chanyeol tersenyum menatap Irene yang baru saja menamparnya.

“Nah, sekarang kau sudah seperti gadis kebanyakan Rene-ah. Terimakasih sudah menamparku Irene. Apa sekarang kau sudah resmi membenciku mantan kekasihku?” tanya Chanyeol seperti orang bodoh. Bahkan para penghuni café yang melihat pertengkaran mereka berdua sudah geleng-geleng kepala sedari tadi. Sungguh pertengkaran antimainstream dan diluar batas wajar.

“Ya, aku membencimu Park Chanyeol. Dasar lelaki brengsek.” balas Irene tak kalah sinis, dan senyum Chanyeol nampak merekah semakin lebar. Chanyeol lantas berdiri dari duduknya, lalu menarik Irene untuk berdiri.

Kajja, aku akan mengantarmu pulang. Tanpa kita duga hari sekarang sudah berubah malam. Hujan juga sudah berhenti, waktunya pulang Rene-ah.” kata Chanyeol sejurus kemudian. Irene tersenyum tipis, lalu mengangguk iya dengan perlahan.

“Boleh aku egois untuk sehari ini saja? Besok, aku akan berubah menjadi Irene yang menjadi teman sekelasmu saja, seakan ini semua tidak pernah terjadi. Boleh?” pinta Irene, dan Chanyeol nampak mengangguk setuju.

Perlahan Irene mengikis jaraknya dengan Chanyeol, lalu mulai melingkarkan tangannya di pinggang Chanyeol. Irene memeluk Chanyeol dengan sangat erat yang sekon selanjutnya Chanyeol pun membalas pelukan Irene sama eratnya. “Egoisku yang terakhir kali.” batin gadis itu dalam diam.

“Selamat tinggal Bae Irene.” bisik Chanyeol kemudian, dan Irene pun mengangguk dalam diam, masih memeluk cinta pertamanya itu.

“Selamat tinggal Park Chanyeol.”

“Selamat tinggal cinta pertamaku. Tolong doakan aku agar aku bisa mengubur perasaanku ini dalam-dalam. Goodbye, Park Chanyeol.”

 

Hari-hari Chanyeol berjalan seperti biasa. Ia masih sering bertegur sapa dengan Irene setelah kejadian itu. Mereka berdua masih baik-baik saja hingga tak ada seorang pun yang sadar kalau pasangan sempurna itu sudah resmi menyandang status mantan. Wendy pun menjalani hari-harinya dengan biasa. Taeyong, Taeil, dan Sehun pun masih seperti biasa. Baekhyun dan Saeron masih baik-baik saja meski belakangan ini Saeron selalu diduakan oleh buku karena Baekhyun sedang fokus-fokusnya belajar. Tidak ada yang berubah terlalu kentara selain suasana sekolah yang semakin serius karena musim ujian mendekat.

 

“Besok dan 3 hari berikutnya kelas 1 dan 2 akan belajar di rumah karena senior kelas 3 akan mengadakan ujian kelulusan.”

Pengumuman yang dipampang di mading itu membuat beberapa orang bersorak senang karena akan mendapat jatah libur selama 4 hari, meski tak jarang ada yang kecewa karena tidak bisa melihat para siswa kelas 3 selama beberapa hari ini. Wendy masuk di kaum ‘diantara’ kedua kubu itu, antara senang mendapat libur meski tidak tau harus mengerjakan apa, atau sedih karena tidak bisa melihat Chanyeol secara diam-diam seperti biasanya meski tidak melihat Chanyeol pun bisa dikategorikan senang karena ia tidak perlu merasa sakit hati karena melihat pujaan hatinya itu bersama gadis lain.Wendy tidak tau saja kalau Chanyeol sudah putus dengan Irene karena Chanyeol yang terlalu mencintai gadis Son itu.

“Dasar aneh. Kenapa mereka malah senang? Bukankah itu artinya 4 hari lagi kita mengadakan ujian semester?” kata Sehun yang kini berada di sebelah Wendy yang berdiri mematung. Ya, memang setelah ujian kelulusan itu akan segera dilangsungkan ujian semester sementara kelas 3 melaksanakan tes masuk perguruan tinggi di universitas yang mereka pilih.

“Tumben kau membicarakan belajar, tidak seperti seorang Oh Sehun,” kekeh Wendy setengah mengejek namun Sehun hanya mengendikan bahunya malas. Malah sekarang lelaki itu asyik membaca kumpulan rumus fisika di buku note kecil yang sekarang menjadi sahabatnya pergi kemanapun.

“Aku perlu membuktikan kalau aku bisa mendapat rangking,” jawab Sehun datar karena tau Wendy pasti tengah memandanginya dengan bertanya-tanya sekarang.

Arraseo, aku tau kok maksudmu ingin membuktikan pada ayah dan ibu tirimu. Hanya saja aku tidak menyangka kalau kau sangat serius seperti ini.” kekeh Wendy lagi sambil menepuk bahu Sehun gemas. “Hwaiting!” kata gadis itu kemudian sebelum pergi meninggalkan Sehun kembali ke kelas.

Grep!

Ya! Aku belum selesai bicara.” kata Sehun sambil menahan pergelangan tangan Wendy. Dengan enggan gadis itu pun berbalik dan menatap Sehun dengan pandangan kenapa.

Wae? Aku perlu ke kelas dan mengejarkan tugas sejarah sekarang.” kata Wendy sok sibuk, dan Sehun hanya tersenyum tipis.

“Kau tau ‘kan malam ini kita punya acara makan malam membosankan lagi?” tanya Sehun menyelidik, dan Wendy dengan cepat menggeleng. Memang ia tidak tau kalau ia punya acara makan malam lagi dengan keluarga Sehun malam ini.

Jinja? Seingatku appa tidak memberitahuku kalau nanti malam ada acara membosankan itu.” kata Wendy bingung.

Hm, akan ada acara makan malam nanti di restoran yang biasanya. Pakai pakaian yang elegan biar ibu tiriku cengo dan kehabisan kata.” nasihat Sehun dan Wendy dengan cepat menangguk.

Arraseo. Kau pikir aku bisa memakai jeans ke sana? Appa pasti sudah menyiapkan gaun menjijikkan untuk pergi ke jamuan makan malam itu.” kata Wendy sambil melepaskan tangan Sehun yang ternyata masih melingkar di pergelangan tangannya.

“Ah maaf, aku lupa masih memegangimu, hehe..” celoteh Sehun setengah menyengir lebar.

“Omong-omong Oh Sehun, mereka memangnya mau membicarakan apalagi nanti malam?” tanya Wendy mulai penasaran, dan Sehun nampak menghela nafas. Sehun lantas menarik gadis itu mendekat, lalu mulai membisikkan sesuatu di telinga Wendy.

Jinja? Astaga, sebenarnya apa yang dipikirkan para orangtua itu, huh?!” kesal Wendy seketika setelah Sehun selesai berbisik. Sehun hanya mengendikan bahunya lagi, bersikap acuh tak acuh.

“Entahlah, memangnya apa yang ada di pikiran mereka selain bisnis dan uang mereka? Memikirkan perasaan anaknya pun mereka bahkan tidak sempat. Jangan terlalu banyak berharap Wen, rasanya sakit kalau jatuh.” lanjut Sehun lagi yang membuat Wendy lantas tersenyum tidak terima.

“Astaga, kenapa nasibku sial begini? Kenapa aku harus ber—” pekik Wendy kemudian yang segera ditahan Sehun dengan aksi menutup mulut Wendy karena tanpa diduga gadis bermarga Son itu sudah mengundang mereka berdua menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang lalu lalang di koridor.

“Kau mau membuat mereka semua tau kalau kita akan bertunangan?” bisik Sehun masih menyumpal mulut Wendy dengan mulutnya. Gadis itu menggeleng-geleng sambil meronta minta dilepas.

“Aku kehabisan nafas.” kata Wendy tidak terima sementara Sehun hanya tertawa ringan.

“Salah siapa memangnya yang mau merahasiakan tapi malah hampir membuka rahasia?” bisik Sehun lagi yang membuat Wendy lantas mengerucutkan bibir. “Arraseo, lain kali aku tidak akan bermulut ember tuan calon tu-na-ngan,” ucap Wendy penuh penekanan pada bagian calon tunangan. Sehun nampak tersenyum tipis, lalu menepuk kepala Wendy ringan.

Arraseo, aku mau ke perpustakan dulu. Kau juga belajarlah, aku tidak mau punya calon yang mendapat rangking terakhir di ujian semester.” balas Sehun sambil melambaikan tangan yang hanya di respon kekehan ringan dari Wendy.

Bullshit,” kata gadis itu sambil berlalu pergi dari hadapan Sehun yang kini tertawa terpingkal-pingkal karena sudah berhasil membuat Wendy bad mood di pagi hari.

 

Sehun berjalan santai menuju perpustakaan. Memang, di musim ujian seperti ini banyak kelas yang disengajakan kosong dan hanya diisi oleh mata pelajaran wajib dan selebihnya belajar mandiri. Sehun pun menghabiskan jam sejarah yang kosong dengan pergi menuju pusat buku-buku yang perlu menjadi asupannya nanti di ujian semester. Lelaki itu pun berbelok di persimpangan, tinggal 4 langkah lagi menuju perpustakaan kalau saja Sehun tidak menangkap sosok Irene yang tengah duduk di atas kursi taman sendirian. “Kenapa dia?” tanya Sehun bingung pada dirinya sendiri.

Anyeong noona,” sapa Sehun kemudian. Entah niat darimana, tapi Sehun kali ini memilih menduakan perpustakaan dan malah menyapa gadis yang diam-diam ia sukai itu.

“Ah, Sehun? Sedang apa kau disini?” tanya Irene sambil menghapus air matanya dengan gugup. Sehun melihat itu semua, ia mengangkat bahunya bingung, lalu akhirnya memutuskan duduk di bangku sebelah Irene.

“Kau me―menangis?” tanya Sehun, dan Irene hanya tertawa ringan. “Tidak, aku tidak menangis,” elak gadis itu meski sebenarnya memang sudah sejak sejam tadi ia menangis sendirian di taman sekolah. Untung saja tempat itu sepi dan kurang peminat hingga Irene bisa mengeluarkan air matanya dengan leluasa di sana.

“Kau memang menangis noona,” kata Sehun tak mau kalah, bahkan kali ini lelaki bermarga Oh itu mendekatkan badannya ke arah Irene dan menghapus sebulir air mata yang jatuh di sudut mata gadis itu. “Lihat, kau menangis,” frasa Sehun lagi sambil menunjukkan ibu jarinya yang basah karena air mata Irene.

“Sial, aku ketahuan, haha…” rutuk Irene setengah tertawa, lalu menghapus air matanya lagi.

“Terimakasih,” ucap gadis itu kemudian sambil meraih saputangan yang sekarang sedang disodorkan Sehun padanya.

“Semuanya baik-baik saja?” tanya Sehun dan kali ini Irene menggeleng. Entah kenapa, ia ingin jujur di hadapan Sehun. “Tidak, aku tidak baik-baik saja Hun-ah,” akui Irene murung.

“Ke―”

“―Aku putus dengan Chanyeol.” akui Irene cepat karena tau apa pertanyaan yang akan dilontarkan hoobae-nya itu. Sehun menatap Irene intens, antara iba atau sebuncah perasaan bahagia kini menelusup hatinya.

“Pu―putus?” ulang Sehun, dan Irene lekas mengangguk. “Ya, kami berakhir kemarin, tepat di tengah kencan pertama kami. Haha, bukankah lucu? Seperti orang bodoh aku malah minta diputuskan.” rutuk Irene pada dirinya sendiri.

“Minta diputuskan? Maksud noona?” tanya Sehun meski ia sendiri tengah berusaha menahan diri agar tidak berlari dan memberikan tinjunya pada Chanyeol sekarang ini.

“Aku dipermainkan.”

Grep!

“Kau mau kemana?” tanya Irene sambil menahan tangan Sehun yang sekarang sudah bangkit berdiri dari duduknya. “Mencari si brengsek itu,” jawab Sehun cepat yang dengan mata tertutup pun Irene tau kalau maksud Sehun adalah Chanyeol.

Kajima, kami putus baik-baik, jangan menghajar Chanyeol,” ucap Irene sambil menarik Sehun untuk duduk kembali di sebelahnya. Dengan enggan, Sehun pun kembali duduk dengan hati dongkol. Ia tidak pernah terima kalau gadis yang ia sukai disakiti, bukankah sederhana? Ia hanya tidak ingin melihat Irene menangis.

“Jelaskan padaku.” pinta Sehun dengan emosi membludak, sementara Irene kini hanya tersenyum tipis sambil memukul-mukul ringan jemari Sehun yang masih ia pegang―sentuhan yang membuat Sehun tersipu tanpa diketahui Irene.

“Hm, aku bingung menjelaskannya. Ah, ini memalukan.” Irene nampak menggigit bibir bawahnya.

“Pernah merasa sangat ingin memiliki seseorang yang mencintai orang lain Sehun-ah? Mencintai orang yang mungkin tidak akan pernah berpaling melihatmu, cinta bertepuk sebelah tangan.”

“Aku merasakannya noona, ingin memilikimu padahal kau mengharapkan orang lain.”Sehun

“Aku merasakannya. Kau tau, Chanyeol masih menyukai Wendy, bahkan sangat, tapi aku malah egois dan tetap ingin memiliki Chanyeol. Aku tau kalau pernyataan cinta Chanyeol hanya pura-pura, tapi kenapa aku malah bahagia? Dalam kepura-puraan Chanyeol aku merasa menjadi gadis yang cintanya terbalas, padahal aku tau aku hanyalah pelampiasannya semata, bukankah bodoh? Meski langit runtuh pun Chanyeol mencintai Wendy, bukannya Bae Irene. Haha, demi Chanyeol aku sudah menjadi gadis jahat ‘kan Sehun? Aku sudah seperti perusak hubungan orang lain saja. Bae Irene, kau sungguh menyedihkan.” Irene terisak, tangisnya turun perlahan, membuat seberkas rasa sakit membekas di hati Sehun.

“Jangan menangis.” ucap Sehun menghapus air mata Irene lagi dengan jemarinya. Gadis itu tersenyum, lalu menghapus air matanya sendiri yang ia tidak sadar sudah lolos sedari tadi.

“Aku―ah, maaf, aku lupa kalau kau menyukai Wendy.” kaget Irene karena sadar akan kebohongan yang pernah Sehun utarakan kepadanya, kebohongan yang Irene anggap nyata.

“Aku tidak menyukai Wendy, aku menyukaimu noona.” ―Sehun

Gwenchana, aku baik-baik saja. Lanjutkan noona,” Irene ragu, namun karena Sehun tersenyum sangat tulus padanya, akhirnya Irene pun mengangguk dan mulai melanjutkan kisah bodohnya yang bertepuk sebelah tangan pada Chanyeol.

“Aku benci kenyataan bahwa aku tidak bisa membenci Chanyeol,” akui Irene lagi yang makin membuat Sehun meringis.

“Aku benci fakta bahwa aku tidak bisa marah padanya, bahkan kemarin aku meminta maaf, cih, bukankah lucu? Aku merasa aku yang bersalah, aku yang egois, aku yang..ah…lupakan. Ini memalukan.” Irene terus bercerita, sementara Sehun hanya diam mendengarkan.

“Chanyeol, kenapa aku bisa menyukai international playboy itu? Kenapa aku bisa tergila-gila pada manusia nyaris sempurna itu? Ya, dia sempurna dalam segala hal, hanya saja dia juga sempurna untuk menjadi brengsek. Ah, kenapa kau Bae Irene? Sepertinya kau sudah menjadi gila.” Irene mengacak-acak surainya sendiri, merasa cukup frustasi karena Chanyeol masih terngiang-ngiang dalam pikirannya sejak kemarin.

“Tatapannya, bayangannya, perlakuannya, sentuhannya, ah, aku bisa gila lama-lama karena tidak bisa melupakannya! Sialan, kenapa dia pernah memberikan harapan padaku, huh? Si brengsek itu, ah, aku ingin membencinya tapi kenapa aku tidak pernah bisa?! Kenapa aku tetap menyukainya padahal ini begitu menyakitkan?”

“Park Chanyeol, kenapa kau―”

Cup!

Sehun mencium bibir Irene sekilas, membuat gadis yang tengah berkeluh kesah itu terdiam seketika. Mereka berdua saling bertatapan, kaget dengan kejadian yang berlangsung beberapa detik yang lalu.

“Apa yang sudah kau lakukan Oh Sehun? Ah, shit!” ―Sehun.

“Jangan membicarakan Chanyeol.”

“Eh? Se―Sehun? Ke―Kenapa?” tanya Irene terbata sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup Sehun. Lelaki bermarga Oh itu nampak kelabakan, bingung dengan refleks kurang ajar yang baru saja ia lakukan.

“Jangan membicarakan lelaki lain di depanku.”

“Eh?” bingung Irene karena Sehun sekarang menatapnya sangat intens.

“Aku menyukaimu noona, aku berbohong saat mengatakan aku menyukai Wendy.”

 

Wendy melangkahkan kakinya yang berbalut higheels setinggi 7 senti itu dengan susah payah. Kalau saja tidak ada Jinwoo yang menggandeng dan memeganginya, mungkin saja gadis bermarga Son itu sudah jatuh karena tidak pandai menjaga keseimbangan saat melangkah.

“Hak-nya terlalu tinggi?” bisik Jinwoo, dan Wendy dengan cepat mengangguk mengiyakan. “Hm, appa memang kurang ajar memilih penata gaya itu untukku. Sialan, harusnya aku menggunakan sepatu kets saja kemari,” omel Wendy masih memegangi Jinwoo. Kakak tiri Wendy itu lantas tertawa, lalu mencubit kecil pinggang Wendy yang berakhir dengan Wendy yang mengaduh kesakitan dan balik mencubit Jinwoo.

Orang yang melihat mungkin tidak akan percaya kalau Wendy dan Jinwoo adalah saudara tiri karena kedua orang itu terlihat begitu akrab seperti saudara-saudara kebanyakan. Ya, semenjak Wendy menghapus perasaannya pada Jinwoo yang gadis itu sendiri lupa kapan ia tidak mencintai kakaknya lagi ―mungkin setelah ia tergila-gila pada Chanyeol? ― semuanya terasa menyenangkan saat mereka berdua bersama. Dengan Jinwoo, Wendy merasa memang mempunyai seorang saudara yang akan selalu melindunginya. Ia menyayangi Jinwoo, bahkan sangat menyanyangi lelaki bermarga Kim itu sebagai saudaranya. Oppa yang selalu ada untuknya; Kim Jinwoo.

“Kalian sudah tiba? Duduklah,” sambut Tuan Kim―ayah Sehun― dengan ramah. Kedua kakak beradik itu pun dengan cepat mengangguk, lalu segera duduk di sebelah Tuan Son Michael yang sudah tiba terlebih dahulu.

Wendy menatap Sehun yang tersenyum ke arahnya, lalu balas menyengir karena Sehun memujinya karena sudah berhasil membuat ibu tiri Sehun lagi-lagi cengo karena penampilan glamour Wendy malam ini.

“Jadi, sebelum pesanannya datang, apa bisa kita mulai saja perundingannya?” kata Tuan Kim lagi yang dijawab dengan anggukan setuju dari kedua belah pihak keluarga itu. Wendy mulai deg-deg-an sendiri, takut kalau apa yang dibisikkan Sehun tadi siang padanya benar-benar terjadi.

“Baiklah, langsung saja, pertunangan kalian akan dipercepat.”

 

To be continued

 

 

 

Iklan

21 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. ya Allah…. bisa gila gue bacanya…
    dapet banget feelnya, baru kali ini gue baca satu part full, biasanya cuma scane hunrene doang >,<
    gue beneran nangis bacanya, apalagi pas omongan irene ke chanyeol, apa kabar kalo gue jadi irene?????
    sehun juga ya ampunnnn… lebih ngenes lagi dia
    tapi bagus hun, lu langsung nyosor dan ungkapin perasaan lo
    menunggu moment hunrene selanjutnya…..
    fighting author!!!

  6. Nih pata tetua minta dipites. Udh maksa tunangan skrng tambah dipercepat. Maunya apa? Duit gampanh dicari kalian kaya to? Mih para tetua emang jalan pikirannya juga tua. Jodoh”an udh gk jaman. Biarkan wenyeol dan hunrene bersatu….greget kalo inget mereka tu…ya ampun, saling ngalah tapi malah jadi sakit. Tambah lagi kasian saeron mau aja di duain sama buku, haduh baek berilah kekasihmu itu perhatian napa?
    Tapi greget…ku tunggu updatenya…semoga gk lama yaa

  7. Wuuhuu sudah saling jujur satu sama lain. Tinggal wendy chanyeol yang belum jujur sama perasaan mereka. Sempet mikir sehun udah hapus perasaan dia sama irene dan mulai menyukai wendy, eh malah dia confess sama irene 😃😃
    Hayoloooo, gimana donk sama pertunangan sehun wendy kalo gitu….?

  8. Ahh anak konglomerat kasian :’ dijadiin boneka sama ayah2nya :’) padahal sama sama bikin Sehun sama Wendy sakit. Sehun dahal udah ngungkapin perasaannya ke Irene, ahh pokoknya penasarann, next ka shaee.. fighting!~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s