[01] BEFRIEND – Pampin Honnor

BEFRIEND

| BY PAMPIN HONNOR |

 

Menjadi berandal bukanlah masa depan. Berkelahi dan babak belur bukanlah hobi yang menyenangkan. Dan rokok bukanlah pula jajanan anak sekolahan yang enak dan murah. Tetapi, mereka —Oh Sehun, Kim Jongin dan Park Chanyeol— tetap melakoni kebiasaan-kebiasaan buruk itu, walau tahu apa yang dilakukannya adalah salah.

 

With Sunny Kim (OC/ YOU), Oh Sehun (EXO), and Kim Jongin (EXO)

Jung Soojung, Park Chanyeol

Friendship, hurt/ comfort, romance, school life, violence

Rated by PG-17 in Chaptered Length

N

Reading list : [00] [01] — Now

N

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

N

“Sialan, hari ini dia membawa pasukan,” umpat Jongin marah dan dua tangannya sudah mengepal erat siap melayangkan jotosan.

Sedangkan Chanyeol menatap jengah belasan orang di hadapannya. Dia menghembuskan nafas dengan berlebihan, mencoba menghilangkan rasa takut yang ada pada dirinya. Lalu tanpa berpikir panjang berlari kencang menerjang kumpulan manusia itu.

Dua lawan sepuluh orang lebih? Bukan pertarungan yang mudah memang. Jika dipersentasekan, kemenangan Jongin dan Chanyeol sangat kecil. Ya … meskipun mereka berdua adalah orang-orang berbakat dalam adu kekuatan.

“Kalian cari mati ya ternyata?”

Jongin meringis menahan sakit saat serangan bertubi-tubi mengenai hampir seluruh tubuhnya. Mulutnya pun tidak bisa mengatup rapat saat berkelahi. Dia terus-menerus mengumpat dan mengatai aneh-aneh lawan tarungnya itu.

BUG~

 

Pukulan itu terasa sangat keras mengenai sisi hidung Jongin. Detik itu juga dia tumbang dan tersungkur di tanah.

“Stop!”  teriak pemimpin geng menginstruksi kawan-kawan untuk menghentikan pertarungan. Dia menunduk menghadap Jongin dan berkata tegas, “Masalah kita belum selesai ya, bung! Sebelum aku mendapatkan kekasihmu, ahhh … kekasihku juga … aku tak akan menyerah.”

Jongin tersenyum masam sambil mengeluarkan ludah bercampur darah dari mulutnya —oh terlihat menjijikkan!— mengenai wajah sang pemimpin geng. “Kau kira aku takut? Tidak!”

Aksi Jongin barusan tidak membuat pemimpin geng itu marah. Dia malah tertawa. “Apa hebatnya Soojung hingga kau sangat mencintainya, ha? Kau juga rela terluka demi dirinya. Sudahlah … menyerah saja.”

Sepasang iris coklat itu menyala marah kembali. Dua kepalan kuat mulai ingin dilayang lagi, ingin dipuaskan. Wajahnya yang sudah babak belur, bengkak kemerahan dan penuh darah, bukan menjadi alasan untuk menyerah. Jongin tidak suka jika ada orang meragukan cintanya pada Soojung atau pada siapa pun itu. Dia sangat tidak suka.

 

“Tugasmu itu belajar bukan menghajar orang. Apa kau tak malu berkelahi di depan sekolahmu sendiri?”

 

“Kau yang dari awal memulai ini semua. Ingat itu!” Jongin bangkit dengan tertatih-tatih. Dia meringis merasakan denyutan sakit di tiap inci tubuhnya.

 

Pemimpin geng —yang namanya Suho— mengulas senyum kemenenangan menyaksikan kesakitan bocah SMA, perebut kekasihnya itu.

 

“Jika kau memperlakukan kekasihmu dengan baik, dia tak akan pergi darimu. Soojungku tak akan pernah meninggalkanmu, bangsat!”

 

BUG~

 

Jongin mengerang kesakitan saat tendangan kuat mengarah ke perutnya. Tidak lama setelah itu dia tumbang lagi di hadapan Suho. Dia sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya lagi. Seakan-akan terasa berat sekali.

 

“Jangan sok mengguruiku! Kau hanya seorang bocah!” amuk Suho sambil terus melakukan aksi kekerasan pada tubuh Jongin.

 

Jongin tidak menanggapi pernyataan barusan. Dia memilih bertahan dan tidak melawan. Dua hal itulah yang dilakukannya saat ini. Dia bertahan dengan melindungi area kepala dengan dua lengannya, saat tendangan dan tinjuan terus-menerus mengarah ke tubuhnya.

 

“Jong-ah!”

 

Dari kejauhan Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Tubuhnya terkurung dan tidak bisa kabur. Meronta sekuat tenaga pun tidak ada artinya. Karena cengkeraman orang-orang di kanan dan kirinya sungguh kuat.

 

Woi … berhenti. Apa yang kau lakukan itu berlebihan! Temanku bisa mati,” teriak Chanyeol keras-keras namun, percuma. Karena tidak ada yang mau mendengarkannya.

 

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

 

Sunny Kim memandang dingin orang di hadapannya itu. Sangat mengerikan, dia menyimpulkan. Monsters itu padahal masih menyandang status ‘pelajar’ namun, sangat tidak cocok disebut pelajar. Dia sangat pantas disebut berandal.

 

“Kenapa menatapku seperti itu? Tak suka aku datang kemari?”

 

Sunny melangkah lebih dekat pada berandal itu. Tatapan dinginnya masih tidak berubah. Rahang kecilnya perlahan mulai mengeras saat menemukan beberapa memar dan darah di wajah lawan bicaranya itu. Dia sedang marah. “Aku membencimu dan teman-temanmu!”

 

“Kau menangis?”

 

“Aku membencimu,” ungkap Sunny sekali lagi lebih marah sambil mengarahkan dua tangannya ke dada, meninju orang di hadapannya.

 

“Ada yang mengganggumu ya?” tanya pria itu ikut marah pada akhirnya. Padahal dia mencoba menjaga nada suaranya agar tetap dingin tetapi, tidak bisa.

 

“Kelakuanmu makin hari makin ngeselin ya?”

 

Sunny Kim membuang nafas dengan berlebihan saat tubuhnya ditarik, lalu disudutkan di papan tulis. Tubuh kurusnya saat ini dihadang tiga orang berpostur tinggi-langsing. Bila dilihat dari tinggi badannya, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan tiga perempuan cantik itu. Dia hanya perempuan biasa, wajah biasa, semuanya biasa saja, tidak ada yang spesial.

 

“Mau apa lagi sekarang?” tanya Sunny santai. Wajahnya yang dingin tidak menunjukkan ketakutan. Ya, untuk saat ini.

 

“Teman-teman, lihatlah Sunny kita ini … dia sudah tak takut lagi pada kita. Enaknya diapain ini anak?”

 

Iris matanya yang semula terlihat tangguh, perlahan ada rasa takut di dalamnya. Sunny mulai mengalihkan tatapannya, tidak lagi menantang iris teman sekelasnya itu. Bahasa tubuhnya pun mulai menunjukkan gelagat takut disakiti.

 

“Jangan sok pintar! Jangan sok suci! Jangan sok berani saat bersamaku! Dari dulu kau hanya pecundang, Sunny-ya,” teriak penguasa kelas, yang merasa dirinya paling cantik. Tapi jika dilihat-lihat, nyatanya dia memang perempuan paling cantik dan paling menonjol di kelas. Dan Sunny mengakui itu.

 

Sunny meringis, lalu menjerit kesakitan. Surai panjangnya ditarik paksa, seolah-olah tiga perempuan itu ingin mencabut rambut Sunny dari kepalanya.

 

“Sakit! Lepaskan!” teriak Sunny sangat keras sambil menarik tangan-tangan jahat itu agar mau melepas genggaman tangan mereka dari rambutnya.

 

Tiga perempuan itu sepertinya belum cukup membuat Sunny menderita. Entah dari mana datangnya tiga telur mentah itu seketika ada di tangan masing-masing. Dengan menggunakan wajah tanpa dosa itu, mereka melempari kepala Sunny dengan telur. Dan mereka tertawa bahagia setelahnya. Merasa sangat puas.

 

Tidak perlu penjelasan dari mulut gadisnya pun Sehun sudah mengerti. Sunnynya habis dibuli. “Jangan menangis,” ungkapnya mencoba menenangkan.

 

Tidak ada sentuhan kecil untuk meredakan tangisan. Tidak ada pelukan menenangkan. Sehun tidak melakukan hal sederhana itu. Dia tipe pria kaku. Dia hanya memandang Sunny lekat-lekat dengan perasaan iba namun, wajah dingin masih dipertahankannya sambil terus berujar ‘jangan menangis’.

 

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

 

“Katakan siapa yang membulimu di kelas? Aku akan menghajarnya,” tanya Sehun sambil meringis menahan peri saat sentuhan-sentuhan kecil itu mengenai wajahnya yang babak belur. “Siapa Sunny-ya?”

 

“Aku akan mengatakannya setelah lukamu aku obati,” omel Sunny tidak sabar.

 

Dua anak manusia berhati dingin itu saling memandang. Sama-sama menunjukkan raut wajah yang sama. Tidak terbaca. Sehun dengan sikapnya yang kaku tetapi, dia masih memiliki lidah yang hangat. Tutur katanya menunjukkan rasa khawatir berlebih pada Sunny. Ya, meskipun cara penyampaiannya agak kasar. “Siapa namanya? Besok sepulang sekolah aku akan menghadangnya.”

 

Sunny meletakkan kain basah di meja. Lalu mengambil plester dari saku seragam sekolahnya, kemudian dia rekatkan ke sudut bibir Sehun yang terluka. “Kau tak usah melakukannya. Aku tak apa-apa.”

 

“Lalu kenapa kau menangis?”

 

Sunny memandang Sehun sebentar dalam kebisuan. Akhirnya dia memilih menghindar, bangkit dari tempat tidurnya. Sedikit mengambil jarak dari lawan bicaranya itu. Saat ini posisinya memunggungi Sehun, lalu tidak lama kemudian dia bergerak. Saat dua kakinya melangkah keluar kamar, ada dua pria menghadangnya di depan pintu.

 

“Sunny-ya, bisakah kau menolongku?”

 

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

 

“Kenapa kau membawa Jongin kemari? Seharusnya ke rumah sakit. Dia pingsan.”

 

Chanyeol menggeleng. “Dia tak suka ke rumah sakit. Dia lebih suka datang ke Sunny saat babak belur.”

 

Sehun mendengus sebal mendengar alasan barusan. Tidak masuk akal sekali. Dia yakin, Chanyeol lah yang ingin kemari, ingin dirawat Sunny dan Jongin, sahabatnya itu dijadikan sebagai alasannya.

 

“Suho kali ini keterlaluan,” ucap Chanyeol tiba-tiba mencoba mengalihkan topik pembicaraan Sehun. Tangannya tiba-tiba pula ikut mengeras, membentuk dua kepalan kuat. “Tadi dia membawa pasukan. Dan mengeroyok kita berdua.”

 

Sehun berpikir, dahinya terlihat mengerut. Dia mencoba membandingkan keadaan Jongin dan Chanyeol. Dia meneliti wajah orang yang ada di hadapannya itu. Tidak ada luka serius, hanya ada beberapa luka kecil. Sedangkan Jongin, dia nyaris sekarat.

 

“Aku rasa Suho menaruh dendam pada Jongin,” lanjut Chanyeol murka.

 

“Haruskah aku ke rumah pacarnya Jongin? Aku akan memaksa perempuan itu untuk memutuskan hubungannya dengan sahabat kita.” Sehun marah-marah di rumah orang. Mereka sama-sama berandal, tidak punya sopan santun pula ternyata. “Aku kasihan pada Jongin. Dia sebenarnya tak sungguh-sungguh cinta pada Soojung loh. Tapi … dia rela terluka demi orang yang tak dicintainya.”

 

Chanyeol mendelik kaget. Tidak percaya. “Jongin tak mencintai kekasihnya? Benarkah?”

 

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

 

“Apa?”

 

“Apa?”

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

 

Haish … pergi kau!”

 

“Kau yang seharusnya pergi! Ini kamarku!” sentak Sunny marah.

 

Sunny melangkah ke arah ranjangnya yang semalaman tidak ditidurinya. Dia menatap Jongin kesal sambil melayangkan satu keplakan cukup keras mengenai kepala.

 

Auu …. Kasar sekali kau! Keadaanku sekarang lagi tak baik-baik saja, bung!” protes Jongin, lalu menarik tangan Sunny, menahannya mengambang di udara. “Tangan seorang perempuan tak selayaknya digunakan untuk kekerasan. Ingat itu!”

 

Sunny menarik tangannya. Namun, genggaman Jongin lebih kuat. Adu tarik-menarik pun terjadi di antara mereka. Dua insan manusia itu sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah.

 

“Sekali lagi kau menggunakan tanganmu untuk kekerasan baik itu kau tujukan padaku atau yang lainnya … aku akan memarahimu,” ancam Jongin, lalu dia melepas cengkramannya.

 

Cih, umpat Sunny dalam hati. Tampang Sunny tetap baik-baik saja setelah mendengar kalimat Jongin. Namun, hatinya yang sedang tidak baik-baik. Jongin marah pada dirinya saat dia melayangkan pukulan kecil? Apa kabar teman-teman perempuan satu kelasnya yang jauh lebih jahat dari perbuatan tangannya? Apa Jongin akan memarahi teman-temannya juga? Harusnya sih, iya. Ketahuilah dari dulu hingga sekarang, Sunny membenci Jongin. Sangat membenci lagak Jongin yang sok bijak.

 

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

 

Oh Sehun, Kim Jongin dan Park Chanyeol. Mereka bukan teman Sunny atau lebih tepatnya dia tidak menganggap kehadiran tiga pria tampan itu sebagai teman. Mereka hanya seorang berandal yang tiba-tiba masuk ke dunianya yang menyedihkan. Mereka sok peduli padanya, padahal peduli dengan diri masing-masing pun tidak dilakukan.

 

Park Chanyeol, pria pertama yang menyapanya kala itu. Pria yang mau mengulurkan tangannya saat Sunny berada di titik terburuknya. Dia dengan senyuman hangat, mampu mengalihkan Sunny dari cerita sedihnya. Dia juga mampu membawa Sunny ke titik dia bisa sedikit merasakan bahagia dan melupakan penderitaan. Walau hanya sesaat.

 

Lalu, Sunny mengenal sosok Jongin setelah beberapa kali dia jalan bersama dengan Chanyeol, Jongin ikut pula, dulu. Awalnya dia biasa saja pada pria berkulit tan itu namun, setelah bertemu empat atau lima kali, Sunny bisa menebak pria macam apa Kim Jongin itu. Tutur katanya kasar, gampang marah dan tidak punya sopan santun. Sunny tidak suka dengan tipe-tipe pria tempramental seperti dia.

 

“Sunny-ya, kenapa kau diam saja? Ayo sekolah. Aku akan mengantarmu,” teriak Sehun tidak sabaran melihat Sunny berdiri lama dengan pandangan kabur di depan pagar rumahnya.

 

Dan pria terakhir adalah Oh Sehun. Pertama kali Sunny melihat Sehun, dia sedang berkelahi di jalanan dekat rumahnya. Dia tidak sendiri, melainkan bersama Chanyeol dan Jongin. Dan di waktu, detik itulah Sunny mulai tidak menyukai sosok Park Chanyeol. Pria yang selama ini dianggapnya baik-baik, ternyata berandal. Secara tidak langsung dia sangat berterima kasih pada Sehun, berkat pria itu Sunny tidak jadi memberikan hatinya pada Chanyeol.

 

“Sunny Kim, cepat jika tak mau terlambat!” teriak Sehun sekali lagi lebih keras dari atas motornya.

 

Sunny mengerjap, baru tersadar dari lamunan panjangnya. Dia mulai melangkah pelan mendekati Sehun. Lalu tanpa melakukan aksi protes lebih dulu seperti biasanya, dia langsung menerima uluran helm dari pria itu.

 

Setelah beberapa bulan menghabiskan waktu dengan pria-pria berandal, Sunny mendapatkan sebuah kenyataan jika mereka bertiga adalah sahabat kakaknya. Dan betapa tidak percayanya Sunny jika Sehun adalah kekasih kakaknya, Moona Kim. Pria dingin, mulutnya kasar dan terlihat paling mengerikan dari yang lain ini adalah sosok pria yang dicintai kakaknya. Waw ….

 

☆|||■■■|||■■■|||■■■|||☆

 

Jangan tanyakan kenapa ini pendek ya? T.T Karena aku lagi belajar nulis lagi setelah kira-kira satu tahun nggk nulis. Kaku banget awal-awal nulis. Maapken kalo tulisannya masih sangat berantakan. Aku usahain next chapter bakal sedikit panjang. 😀 😀 /nggak janji deh. Wkwkwk

 

Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya ya… Aku butuh review dari kalian. Jangan langsung ngibrit (?) begitu aja setelah baca ya. Aku butuh dukungan kalian loh. Terima kasih. Sampai jumpa di episode 2.

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “[01] BEFRIEND – Pampin Honnor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s