BROKE UP (Series) – Are You Fine? – Shaekiran

Are You Fine.png

Are You Fine?

A Story By Shaekiran.

_

Oh Sehun x Son Wendy

with Park Chanyeol

friendship |hurt | angst | romance | campus life | au |

PG-15 | oneshot | series

Disclaimer

Standard disclaimer applied. Don’t plagiarism and copy without permission. Happy reading!

Author’s Note

Disarankan untuk membaca The END terlebih dahulu untuk lebih memahami cerita ini. Terimakasih.

Related to: Prolog| The END

[NOW] Are you fine?

"How can I say that I don’t love you?"

– BROKE UP –

Satu yang tidak pernah lelaki itu habis pikir, kemana kekasihnya sekarang? Sudah sejak tiga bulan sang kekasih —Son Wendy— meninggalkan Kanada dan kembali ke Korea, namun lelaki itu—Oh Sehun— belum bisa menghubungi Wendy sekalipun. Selama 3 bulan, Sehun yang masih tinggal di Kanada hanya bisa menghubungi Wendy sekali, itupun saat Sehun menghubungi gadis itu tengah malam dan Wendy memberi kabar bahwa ia sampai di Korea dengan selamat. Ya, kalau saja Sehun tau akan seperti ini, harusnya ia tidak ketiduran saat tersambung via telefon internasional dengan Wendy —ah tidak, harusnya kalau Sehun tau akan seperti ini, mestinya Sehun tidak mengijinkan Wendy kembali ke Korea saja.

“Dimana kau?”

“Kau baik-baik saja?”

“Telfon aku,”

“Kenapa kau seperti menghindar Son Wendy?”

“Kau mengganti nomormu? Kenapa tidak mengangkat panggilan telfonku sekalipun?”

“Selamat pagi sayang, kau sudah sarapan? Sekarang Kanada sudah tengah malam, badanku serasa remuk karena tugas dari Proffesor Johannes. Kau tidak mau menghiburku?”
“Sayang.”
“Are you fine Son Wendy?”

Sehun melempar ponselnya kasar ke atas kasur. Ia baru saja pulang dari kampus—tempat ia dan Wendy bertemu 3 tahun lalu dan berakhir menjadi sepasang kekasih setelah 3 bulan proses pendekatan— dan merasakan badannya benar-benar remuk. Lelaki keturunan Korea tulen itu lantas merebahkan dirinya di atas kasur, lalu memijit-mijit keningnya yang serasa berdenyut.

“Kau baik-baik saja Wen? Kenapa tidak menghubungiku?” batin Sehun sambil memandang langit-langit kamarnya. Sebuah senyum akhirnya terukir di bibir Sehun saat memandang langit-langit kamarnya yang penuh dengan cat berwarna abstrak itu. Itu hasil karya Wendy, ya, kamarnya adalah hasil sentuhan jemari Wendy yang adalah mahasiswi jurusan seni rupa itu.

Makin merindukan Wendy setelah kehilangan kabar selama 3 bulan, Sehun pun tak tahan untuk tak kembali mengecek ponselnya. Sehun pun meraih ponsel yang tadi ia campakkan begitu saja, namun senyumnya surut begitu saja ketika melihat belum ada balasan balik dari pesan yang ia kirimkan pada gadisnya itu.

“Kau kemana sayang? Kenapa menghilang dan membuatku takut seperti ini? Aku merindukanmu.”

Sehun mengetikkan pesannya lagi, lalu mengeluarkan nafasnya kasar. Dengan cepat Sehun pun bergerak mencari sebuah kontak di dalam ponselnya dan segera menekan tombol call ketika menemukan nama Jhonny tertera di sana.

Halo Jhon, kau bisa membantuku? Tolong pesankan aku sebuah tiket menuju Korea pagi ini.”

“….”

“Aku ingin mencari kekasihku yang hilang tanpa kabar.”

Ya, masa bodoh meski Sehun harus membolos dan mendapat murka dari orangtuanya nanti. Yang dia inginkan sekarang hanyalah mencari Wendy, menatap gadis itu, lalu menanyakan apakah gadis itu baik-baik saja selama 3 bulan ini hilang tanpa kabar darinya.

 

 

“Sayang, aku di Korea. Bisa kita bertemu?”

Sehun mengetikkan pesan itu sesampainya ia di bandara Incheon. Ya, sekian jam penerbangan yang membuat lelah tentunya melingkupi tubuh tegap Sehun sudah lelaki itu babat habis begitu saja. Sehun menarik kopernya, lalu teringat sesuatu. “Dimana aku harus menginap malam ini?” pikirnya bingung pada diri sendiri. Ya, kedatangan Sehun kembali ke negeri asalnya ini memang cukup mendadak.

Sudah 7 tahun Sehun tidak kembali ke Korea, dan sekarang ia menapakkan kakinya kembali ke Seoul. Ia tidak mungkin menginap di rumah keluarganya yang ada di Seoul, bisa-bisa ia dilaporkan pada sang ayah yang sedang ada di Kanada. Inipun Sehun sudah berusaha keras agar kepergiannya ke Korea tidak diketahui oleh orangtuanya yang untung saja sibuk dan jarang mengunjungi Sehun ke apartemen lelaki itu di Kanada. Tiba-tiba Sehun teringat sesuatu, ah, bagaimana mungkin ia lupa akan sahabatnya itu? Sehun punya seorang sahabat semasa SMP dan masih berhubungan dengannya sampai sekarang. Bahkan 2 hari yang lalu Sehun sempat melakukan video call dengan sahabat karibnya itu.

“Hai Monyet Seoul, sekarang aku ada di kotamu.”

Sehun mengetikkan pesan itu setengah tertawa. Tak sampai berapa detik, sebuah pesan balasan muncul di ponsel pintar Sehun.

“Anjing Toronto, kau benar-benar di Seoul? Astaga, kau harus datang ke rumahku. Ya! Menginaplah di tempatku.”

Seperti dugaan Sehun, sahabatnya itu —yang ia panggil Monyet Seoul— nampak sangat bersemangat membalas pesan Sehun, bahkan ia menawari rumahnya sebagai tempat tinggal, seperti niatan awal Sehun mengirim pesan pada Monyet Seoul itu.

“Baiklah, aku akan datang ke tempatmu. Kau belum pindah rumah ‘kan?”

Tak sampai semenit, balasan baru kembali muncul—dari Monyet Seoul-nya Sehun tentu saja.

“Tidak, aku belum pindah. Kau masih ingat jalan ke rumahku kan? Atau aku perlu menjemputmu sekarang juga? Kau dimana? Incheon airport?”
“Tidak perlu, kau pikir aku buta arah? Aku akan ke rumahmu, tenang saja. Sampai jumpa di rumah Monyet Seoul.”

 

 

“Kau mencari kekasihmu?” si Monyet Seoul nampak tertawa tertahan, membuat Sehun yang sekarang sedang berbaring di sebelahnya tak tahan untuk tidak melempar bantalnya pada sahabatnya itu.

“Sialan, jangan tertawa!” pekik Sehun tidak terima sementara sahabatnya itu sudah tertawa terpingkal-pingkal di atas tempat tidur.

“Memangnya kemana pacarmu itu, huh? Kau tidak tau alamatnya di Korea?” tanya Monyet Seoul lagi, dan Sehun lantas menggeleng. “Aku tidak pernah menduga dia akan pulang ke Korea karena ayahnya menjalankan bisnis besar di Kanada saja. Kau tau, dia orang kaya di Toronto. Aku sendiri tidak percaya kalau sudah menyusulnya ke Korea karena dia tidak memberi kabar se—“

“—Kau tidak mencintainya karena kaya kan?”
Plukk.

Sehun menyarangkan satu lagi bantal ke muka sahabatnya itu, “aku tulus menyukainya bodoh, kalau tidak untuk apa aku jauh-jauh dari Kanada ke Seoul, huh?” balas Sehun tidak terima.

“Baiklah, baiklah, aku minta maaf. Tapi masa kau tidak tau satupun alamatnya disini? Kau sudah mengiriminya pesan kalau kau ada di Korea?”

Sehun mengangguk. “Aku mengiriminya pesan setiap saat dan dia tidak membalas satupun pesanku.”

“Aku turut berduka Anjing Toronto yang malang,” ucap Monyet Seoul sambil menepuk-nepuk bahu Sehun hingga membuat Anjing Toronto itu kembali menyarangkan bantal lainnya pada sahabatnya yang sedikit kurang ajar.

“Harusnya kau bilang kalau aku akan membantumu atau semacamnya, sekkia!” pekik Sehun lagi yang menimbulkan tawa di kamar itu.

“Baiklah, aku akan membantumu, tenang saja.”

 

 

“Sehun, turunlah, ayo sarapan!” teriak ibu si Monyet Seoul dari lantai satu. Mendengar itu, Sehun maupun sahabatnya pun turun dari lantai dua—dari kamar si Monyet Seoul.

Eomma jahat sekali, bukannya memanggilku malah memanggil Sehun.” Nyonya rumah itu menatap putranya sebentar yang sudah duduk di meja makan dan melahap bubur yang sudah ia siapkan untuk sarapan pagi ini.

“Terima kasih ahjumma.” ucap Sehun sebelum meraih roti dan selai di atas meja. Memang banyak pangan untuk sarapan di atas meja, hanya saja Sehun tidak terbiasa makan banyak di pagi hari. Biasanya Sehun hanya akan memakan sepotong roti sebagai sarapan.

“Hanya roti? Astaga, pantas saja kau kurus seperti ini.”

Eomma!” Monyet Seoul tiba-tiba memotong ucapan sang ibu, hingga membuat wanita berumur 50 tahunan itu lantas tertawa diikuti Sehun yang kini terkekeh.

“Ah, dia cemburu ahjumma.” putus Sehun akhirnya yang dibalas dengan tatapan tajam dari si Monyet Seoul. Memang sang ibu selalu begitu saat Sehun datang bertamu ke rumahya sejak mereka masih SMP, dia suka sekali menggoda putranya dengan pura-pura lebih memperhatikan Sehun.

“Aku tidak cemburu.”

“Habisnya Sehun lebih tampan.” kekeh sang ibu lagi setengah tertawa hingga membuat si Monyet Seoul tiba-tiba saja merasa kesal.

Eomma! Aku lebih tampan, putramu ini lebih tampan!”

Arraseo, arraseo, ah Sehun, kau mau tambah rotinya? Hm, mau ahjumma buatkan susu?” Sehun terkekeh, sementara sahabatnya itu menatap sang ibu lagi dengan setengah memicing.

Eomma jahat.” ucapnya sambil melahap bubur yang membuat Sehun dan sang Nyonya rumah tertawa terpingkal-pingkal. Mereka berdua memang sangat kompak jika sudah menggoda si Monyet Seoul.

 

 

“Jadi, dia belum membalas pesanmu?”

Sehun mengambil ponselnya di dalam saku celana, lalu lekas menggeleng karena Wendy lagi-lagi belum membalas pesannya.

“Baiklah, kita cari dia saja.” ucap Monyet Seoul sambil bangkit berdiri dari sofa yang ia duduki dengan Sehun. Sekarang, mereka tengah menonton sebuah anime di televisi.

“Aku ke atas dulu mengambil kunci mobil, kau tunggu di sini saja.” Sehun mengangguk, lalu kembali larut dengan anime di layar sekian inchi di depannya.

Ting Tong!

Sehun mengerjap ketika tiba-tiba saja bel rumah itu berbunyi.

Ting Tong!

“Sehun-ah, bisa kau buka pintunya? Ahjumma sedang sibuk di dapur,”

Sehun menghela nafasnya pelan, lalu bangkit berdiri. Perlahan ia melangkahkan kaki menuju pintu rumah, dan dengan sekali sentakan ia membuka pintu coklat itu dengan cepat.

“Ada ap—“

“Chan-nie, kau—“

Kedua orang itu diam, saling memandang satu sama lain dengan heran.

“Wen—Wendy?” ucap Sehun bingung, ia mencubit tangannya sendiri, takut ia sedang berhalusinasi bahwa Wendy sekarang ada di depannya. Tapi nyatanya gadis yang datang berkunjung ke rumah sahabatnya itu memang benar-benar Wendy —kekasihnya yang hilang kabar selama 3 bulan ini.

“Se—Sehun? Kenapa kau bisa ada di—“

“Ah, sayang, kau sudah datang?” refleks, Sehun berbalik, lalu menatap sahabatnya; Monyet Seoul—Park Chanyeol— yang baru saja turun dari lantai 2. Lelaki bermarga Oh itu lantas menarik nafasnya kasar, lalu beralih menatap Wendy yang kini menundukkan kepalanya, menghindar dari tatapan Sehun.

“Sayang?” beo Sehun setengah terkekeh, dan Chanyeol yang belum tau apa yang terjadi itu lantas segera menjawab Sehun, mengira bahwa Anjing Toronto itu tengah bertanya padanya padahal Sehun nyatanya sedang menyindir Wendy.

“Oh, aku lupa menceritakannya padamu Hun-ah. Dia Son Wendy, kekasihku. Cantik kan?” terang Chanyeol sambil tersenyum lebar sementara Sehun sekarang hanya bisa diam di tempat. “Cantik? Ya, dia sangat cantik. Kekasihku dan kekasihmu memang sangat cantik.” batin Sehun terkekeh dalam hati sementara Chanyeol sekarang bergerak melewati Sehun dan mulai merangkul Wendy. Chanyeol pun bergerak membawa Wendy ke dalam rumahnya, melewati Sehun yang hanya bisa terdiam di tempat dan Wendy yang masih menghindar dari tatapannya Sehun.

Sehun berbalik, lalu menatap Wendy yang sekarang sudah duduk di atas sofa dan mulai bercengkerama dengan sang kekasih. Ah, kekasihnya siapa? Sehun sendiri bingung ingin menyebut Wendy seperti apa sekarang ini.

“Dia ingin mencari kekasihnya yang pulang ke Korea dan tidak memberi kabar selama 3 bulan. Kau tau, dia terbang diam-diam dari Kanada kemari hanya demi sang kekasih, bukankah sahabatku ini benar –benar pejuang cinta, Wendy-ku sayang?” Chanyeol berceloteh ria sambil menunnjuk Sehun yang sekarang berjalan perlahan ke arah sofa yang berisikan Chanyeol dan Wendy. Sahabatnya itu memperkenalkan Sehun sebagai pejuang cinta, ah, sepertinya Chanyeol tidak tau kalau orang yang tengah Sehun cari kini berada di samping Chanyeol. Pejuang cinta apanya? Sehun meringis, menahan air matanya dalam-dalam agar tidak tumpah di depan Monyet Seoul itu, ia tidak ingin menangis di depan Chanyeol.

Chanyeol memanggil Sehun, menyuruh sahabatnya itu agar bergabung dengan ia dan Wendy. “Kemarilah, aku akan mengenalkan kalian berdua. Oh, bukannya kalian sama-sama dari Kanada? Kupikir kalian pasti akan cepat akrab.” ucap Chanyeol sambil bangkit berdiri dan menarik Sehun untuk duduk di sebelahnya. Sekarang urutan sofa itu menjadi Wendy, Chanyeol, lalu Sehun. Wendy menundukkan wajahnya, Chanyeol tertawa bahagia, sementara kini Sehun tersenyum terpaksa.

“Chanyeol-ah, tolong belikan eomma kecap dan gula di minimarket. Ah, jangan lupa sekotak kopi hitam kesukaan appa-mu!” teriak Nyonya Park dari dapur yang dihadiahi decakan pelan dari Chanyeol.

Ne eomma!” jawabnya sambil bangkit berdiri meski sedikit tidak enak meninggalkan Wendy dan Sehun hanya berdua di ruang tamu rumahnya. Pikir Chanyeol, mereka berdua belum saling mengenal, dan ia tau Sehun selalu risih dengan orang baru. Dia tidak enak saja pada Sehun, terlebih harusnya sekarang ia mengantar Sehun untuk berkeliling Seoul mencari sang kekasih. Andai saja Chanyeol tau apa hubungan Wendy dan Sehun, tentunya ia tidak mungkin punya pikiran bodoh semacam itu. Andai saja ia tau bahwa gadis yang dicari Sehun adalah kekasihnya sendiri, andai saja.

“Biar aku saja yang pergi.” Sehun bangkit berdiri, namun Chanyeol segera menyuruh sahabatnya itu untuk kembali duduk di sofa.

“Aku saja, aku tidak mau ambil resiko kau tersesat di sini. Minimarketnya sudah pindah Sehun, bukan yang 7 tahun lalu. Sudahlah, kau duduk saja dan nonton anime sana.” ucap Chanyeol menolak, lantas lelaki bermarga Park itu menuju Wendy dan mulai mengacak-acak surai milik gadis bermarga Son itu.

“Aku pergi dulu ya sayang. Tenang saja, meski nampaknya dingin, Sehun itu baik kok,” pamit Chanyeol sambil tersenyum lebar. Wendy balas tersenyum, meski sedikit canggung karena Sehun yang tengah menatapnya dengan memicing.

Kriettt.

Pintu rumah Chanyeol tertutup seiring dengan Chanyeol yang pergi meninggalkan Wendy dan Sehun di sofa ruang tamu. Tiba-tiba sepi melingkupi ruangan luas itu. Tidak ada yang mengumbar kata selama 5 detik pertama, hingga Sehun akhirnya bangkit berdiri dan segera menarik Wendy pergi.

“Kita perlu bicara, kekasihnya sahabatku.”

 

 

Dan disinilah kedua insan itu sekarang berada, taman belakang rumah Chanyeol yang luas. Ya, Sehun masih hafal betul seluk beluk rumah Chanyeol, jadi ia tentunya bisa dengan mudah menemukan tempat yang cocok sebagai tempat berbicara empat mata dengan Wendy —yang masih saja menunduk sejak tadi— tanpa menimbulkan kecurigaan dari Nyonya Park.

“Kenapa kau tidak membalas pesanku?” Wendy diam, tidak berani mengangkat kepalanya.

“Ah, kenapa kau tidak acuh padaku selama 3 bulan ini? Kenapa kau menghilang Son Wendy? Tau seperti ini, aku tidak akan pernah mengijinkanmu pulang ke Korea.” Belum ada jawaban, masih diam yang dilontarkan si gadis sebagai respon tak berarti.

“Kau mendengarku? Kenapa tidak menjawab, eoh? Jawab aku Son Wendy!” pekik Sehun akhirnya frustasi. Ia mengacak surai hitamnya begitu saja, perlahan, tangisnya turun membasahi pipi.

“Ma—maafkan aku Sehun, aku—aku….”

“Aku apa, eoh? Kenapa kau berbuat seperti ini padaku Wen, kenapa?!” Sehun memekik, tidak tau harus berteriak bagaimana lagi untuk mengatakan pada dunia bahwa hatinya sakit. Ia ingin menunjukkan bahwa sekarang ia tengah meringis, ia merasa terkhianati, ia ingin merutuk, ia ingin sebuah penjelasan dari mulut wanitanya itu.

“Ma—Maafkan aku…hiks..”

“Jangan menangis!” Sehun membentak Wendy, namun sekon selanjutnya ia sadar lalu segera memeluk gadis itu yang segera ditolak Wendy. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu Wen, maaf….” lirih Sehun sambil berusaha mengelap air mata Wendy yang jatuh meski kini air matanya sendiri sudah mengalir tanpa henti.

“Jangan seperti ini Hun, aku tidak bisa. Jangan berbuat baik padaku, hiks..” Wendy menyentak tangan Sehun hingga kini Sehun refleks mundur selangkah. Lelaki itu menatap Wendy nanar, merasakan sakit hati yang semakin mendalam membekas dalam sanubarinya. Ia ditolak kekasihnya sendiri.

“Ke—kenapa? Kenapa Wen?” Sehun menatap kosong Wendy yang hanya bisa menggigit bibirnya dalam diam.

“Aku mengirimimu pesan setiap hari, aku menanyakan kabarmu, aku selalu mencari waktu yang tepat untuk menghubungimu dengan perkiraan kau sedang tidak dalam waktu sibuk di Korea meski aku sendiri yang susah menyesuaikan waktu karena harus menghubungimu tengah malam dan menunda tidur padahal aku lelah seharian belajar di kampus, aku berusaha mengerti kau Wen, kita baik-baik saja selama ini, tapi kenapa sekarang kau berubah, huh?”

“Kau bilang kau hanya pergi seminggu ke Korea karena kau harus menghadiri acara keluarga besarmu, tapi kau tidak kembali juga ke Kanada setelah 3 bulan. Kau tau bagaimana khawatirnya aku mengira terjadi sesuatu padamu selama di Seoul? Aku tidak tenang sama sekali di Toronto sana Wen, tidak, aku menghabiskan satu musim ini hanya dengan mengkhawatirkanmu yang tak kunjung jua memberi kabar padaku.”

“Aku pergi ke kampus pagi-pagi sekali dengan mata merah karena kurang tidur dan menangis karena terlalu merindukanmu, aku cengeng Wen, kuakui aku memang cengeng. Kau tau bagaimana tidak tenangnya aku saat kau tidak datang ke kampus selama 3 bulan dan aku malah mendapati kabar bahwa kau pindah kampus ke Korea? Aku kekasihmu Wen, tapi aku tidak tau apa-apa tentangmu!”

“Memangnya apa susahnya mengatakan ‘aku baik-baik saja’ atau ‘aku sedang sibuk hubungi aku nanti’ saat aku menanyakan kabarmu Wen? Are You Fine? Apa susahnya menuliskan 4 huruf semacam fine kalau kau memang baik-baik saja? Kenapa kau selalu membuatku khawatir?”

“Lalu apa? aku datang ke Korea dan kau malah kencan dengan lelaki lain? Demi Tuhan Wen, dari berjuta-juta lelaki, kenapa kau malah menjadi kekasih sahabatku? Kau sengaja atau apa, eoh? Park Chanyeol itu sahabat baikku! Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaanku tadi Wen saat menemukan kau datang ke rumah Chanyeol dan sahabatku itu memanggilmu sayang? Ah, atau apa kau pernah membayangkan bagaimana reaksi Chanyeol saat tau bahwa kami punya kekasih yang sama? Kenapa kau mempermainkanku Son Wendy? Kenapa?!”

Sehun mengeluarkan semua keluh kesahnya. Ia menangis hebat, ia memekik, marah pada dirinya sendiri sekaligus kecewa pada kekasihnya selama hampir 3 tahun itu. Ia tidak pernah menduga Wendy akan mengkhianatinya .

“Aku tidak tau kalau Chanyeol adalah sahabatmu,”

“Lalu kenapa kau berkencan dengan lelaki lain, huh? Kita baik-baik saja selama ini Wen, tapi kenapa kau malah mengkhianatiku?!” Wendy diam, Sehun benar-benar emosi sekarang ini.

“Aku tidak mencintaimu lagi Sehun.”

Mwo? Apa kau bilang? Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakannya, huh? Kenapa baru sekarang saat aku datang seperti orang gila dari Kanada sana? Tidak mencintaiku? Lalu kau pikir apa 3 tahun yang kita lewati bersama selama ini Wen? Apa?!” Sehun mengacak rambutnya, kesal, bahkan sekarang Sehun sudah meninju dinding yang ada di belakang Wendy hingga punggung tangannya berdarah.

“Aku takut kau akan seperti ini jika aku mengatakan aku tidak mencintaimu lagi, hiks…” Wendy menangis sambil menahan aksi Sehun yang memukuli dinding dengan tangan kosong. Sehun lantas jatuh terduduk, sementara Wendy kini menangis hebat di depannya.

“Awalnya aku memang menyukaimu, tapi perlahan, rasa itu hilang Sehun. Aku tidak tau kenapa, hanya saja hatiku memang bukan untukmu lagi, hiks…” Sehun terdiam, menunggu lanjutan kalimat Wendy yang jujur menusuk hatinya sangat dalam.

“Bagaimana bisa aku mengatakan ‘aku tidak mencintaimu lagi’ disaat kau sangat mencintaiku Sehun? Kau selalu tersenyum padaku, selalu menanyakan kabarku, bahkan memastikan aku pulang dengan selamat dari kampus hingga sampai di apartemen, kau selalu menjaga jarak dengan gadis-gadis di kampus demi aku, kau selalu ada untukku, kau menjadikanku seorang putri yang merasa selalu ada pangeran berkuda putih untuknya. Kau tau, teman sekelasku bahkan mengatakan aku beruntung mempunyai kekasih sepertimu. Kau terlalu baik Sehun, aku tidak akan pernah bisa dan tidak cukup berani untuk mengakui aku tidak mencintaimu lagi.”

Sehun terdiam, merasakan sebuah belati kini menusuk jantungnya begitu saja.

“Masalahnya aku tidak mencintaimu meski kau benar-benar baik padaku. Mau apa aku kalau sudah hati yang berkehendak Sehun?”

Sehun terkekeh dalam hati, ah, betapa sakitnya hati Sehun saat ini.

“Keluargaku pindah ke Korea, dan mereka memberi 2 pilihan padaku, tetap tinggal di Kanada untuk melanjutkan studi-ku atau ikut pindah ke Korea dan melanjutkan kuliahku disini. Kau tau, aku menyukai kampus kita di Kanada, tapi karena mengingat ini adalah kesempatanku untuk pergi menjauh darimu secara perlahan, aku akhirnya memutuskan pindah ke Korea. Dan kau tau, rumahku di sekitar sini, haha, bukankah lucu? Sahabatmu adalah sahabatku juga sebelum aku pindah ke Kanada saat lulus SD dulu, dan Chanyeol adalah cinta pertamaku Sehun. Pulang ke Korea dan kembali bertemu dengan Chanyeol, kau tau kan bagaimana rasanya? Aku….aku menyukai lelaki lain Sehun, maafkan aku.”

“Karena itu kau tidak membalas pesanku dan tidak menjawab telfonku, huh?” Wendy mengangguk, membuat Sehun makin meringis. Lelaki itu lantas menghapus air matanya dengan kasar, lalu bangkit berdiri.

“Kau menyukainya?”

“Ya, aku menyukainya. Aku mencintai Park Chanyeol, dan aku benar-benar tidak bermaksud menghancurkan persahabatan kalian berdua karena aku sendiri tidak tau kalau kau dan Chanyeol bersahabat.”

Sehun tertawa, habis sudah harapannya pada gadis ini. Bukankah dia sangat bodoh? Datang seperti orang gila melintasi benua dan samudera hanya demi gadis yang tidak mencintainya.

“Jadi, apa yang kau mau sekarang Wen? Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi,” putus Sehun akhirnya menyerah. Ia menatap mata Wendy dalam, sementara gadis itu kini mengucapkan kalimat yang paling ia benci selama 3 tahun mereka merajut kasih.

“Ayo putus Oh Sehun.”

 

 

Ya! Kenapa kau membawa kopermu ke bawah?” Chanyeol berteriak saat masuk ke dalam rumahnya sambil menenteng belanjaan yang baru saja ia beli dari minimarket dan malah menemukan Sehun sudah siap sedia pergi dengan koper di tangan.

“Aku ingin pulang ke Kanada Chanyeol, tentu saja aku harus membawa koperku.” Sehun hanya tersenyum tipis, sementara Wendy kini hanya duduk diam di atas sofa.

“Pulang? Lalu bagaimana dengan misi mencari kekasihmu, huh? Kau tidak ingin menanyakan kabarnya seperti rencanamu?” Sehun terkekeh, ah, betapa bodohnya dia karena sudah membuat Chanyeol percaya dan mau repot-repot mencari gadis yang sudah jelas menyandang status sebagai kekasihnya sekarang ini.

“Tidak perlu, kami sudah putus, jadi buat apa aku menemuinya ‘kan? Yang ada dia hanya akan menertawaiku karena terbang dari Kanada ke Seoul hanya demi bertemu dengannya padahal ia tidak menyukaiku lagi.”

Chanyeol menatap Sehun setengah percaya, sementara yang ditatap hanya melepaskan pegangannya pada koper dan menepuk-nepuk Chanyeol dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang berdarah karena memukul dinding lelaki itu masukkan ke dalam saku celana agar Chanyeol tidak tau bahwa tangannya terluka.

“Pu—putus?” ulang Chanyeol dan Sehun hanya mengangguk mengiyakan.

“Ah, tega sekali kau Anjing Toronto. Harusnya kau liburan dulu di Seoul, sudah lama kita tidak bertemu Oh Sehun.” rengek Chanyeol sambil menarik Sehun dan memeluk sahabatnya itu.

Mianhae, aku tidak bisa Yeol-ah. Appa-ku sudah tau aku datang kesini dan menyuruhku cepat pulang sebelum appa menghapus namaku dari dalam kartu keluarga, lagipula aku sudah terlanjur memesan tiket keberangkatan sore ini. Maaf ya Monyet Seoul, mungkin lain kali kita bisa hang out bersama-sama,” Chanyeol melepas pelukannya setengah rela. Akhirnya ia mengambil alih koper Sehun, “Setidaknya biarkan aku mengantarmu ke bandara, arraseo?” ucapnya kemudian yang segera diangguki setuju oleh Sehun.

“Kau sudah pamit pada eomma-ku?” Sehun mengangguk.

“Oh iya Wen, aku mengantar Sehun dulu ke bandara, tidak apa ‘kan? Atau kau mau ikut ke bandara?” Wendy dengan cepat menggeleng. “Eomma baru saja menyuruhku pulang, haha, tidak usah Chanyeol.” ucapnya mengelak sambil bangkit berdiri dari posisi duduknya di atas sofa.

Saveflight ya Sehun, nice to meet you,” ucap Wendy kemudian sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Sehun—berniat menyalami lelaki itu sebelum benar-benar berpisah— namun Sehun tak kunjung mengeluarkan tangan kananya dari dalam saku celana.

“Ah, dia memang dingin pada orang baru, sayang. Maaf ya, Sehun kadang memang suka minta ditampar karena terlalu dingin, haha,” kata Chanyeol tiba-tiba karena suasana yang mendadak canggung. Wendy tersenyum kaku, lalu menurunkan tangan kanannya.

“Aku pulang dulu ya sayang.” pamit Wendy kemudian sambil mencium pipi kanan Chanyeol, lalu bergerak melangkah melewati Sehun.

Grep!

Wendy terdiam, matanya membola menatap Sehun yang kini menahan pergelangan tangannya dengan tangan kirinya.

Nice to meet you too Wendy Son,” lirihnya yang membuat mata Wendy memanas, rasanya, air matanya mungkin saja tumpah sekarang ini karena Sehun tersenyum cukup canggung padanya.

Wendy mengangguk pelan, lalu tersenyum.

“I—iya, aku pulang dulu ya Oh Sehun, semoga kau sehat-sehat di Kanada.”

Ani, harusnya kau mengucapkan goodbye.”

Wendy terdiam, lalu tersenyum kaku lagi.

“Ah iya, goodbye Oh Sehun.”

Hm, goodbye Son Wendy.”

“Goodbye my-ex girl.” —Oh sehun

 

 

“Jadi, apa yang kau mau sekarang Wen? Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi,” putus Sehun akhirnya menyerah. Ia menatap mata Wendy dalam, sementara gadis itu kini mengucapkan kalimat yang paling ia benci selama ini.

“Ayo putus Oh Sehun.”

Sehun terdiam, ya, ia sudah menduga ini sejak tadi. Apakah ini akhirnya? Sehun dan Wendy, sepertinya tinggal kenangan saja, benarkan? Semuanya sudah berakhir hari ini, detik dan menit itu juga.

“Dengan satu syarat.” jawab Sehun sambil tersenyum tipis.

“Ap—apa?” tanya Wendy takut-takut Sehun akan mengajukan syarat tidak masuk akal, namun Sehun rupanya hanya mengajukan syarat kecil.

“Jangan buat Chanyeol bernasib sama sepertiku.”

Eh?” bingung Wendy, dan Sehun hanya terkekeh.

“Kau bilang kau mencintai Chanyeol kan? Sekarang kau kekasihnya, jadi cintai dia dengan semua cinta yang kau punya. Jangan pernah biarkan Chanyeol sakit hati seperti yang ku alami sekarang. Ini bukan salahmu, kalau memang sudah hatimu yang menolak ku, aku bisa apa kan? Aku sudah tidak mungkin menggetarkan hatimu lagi Wen, jadi tolong jaga Chanyeol dengan segenap hatimu. Dia sahabat terbaikku, dan aku menyerahkan sahabat terbaikku padamu.” Wendy terdiam, air matanya luruh. Ia menatap Sehun yang kian mengabur dalam pandangannya karena terhalang air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“Tentang aku yang adalah mantan kekasihmu, juga kau adalah gadis yang tengah kucari hingga datang jauh-jauh dari Kanada menuju Seoul, aku akan merahasiakan itu semua dari Chanyeol. Jadi, tolong cintai dia dengan sepenuh hati.” Wendy mengangguk, merasa bersalah sudah menyakiti seorang yang begitu baik hati seperti Sehun. Lantas Sehun menyodorkan tangan kanannya—berniat berjabat tangan dengan Wendy untuk yang terakhir kalinya— yang segera dibalas dengan jabat tangan balik dari Wendy.

“Congratulations.”

Eh?” bingung Wendy untuk kesekian kalinya. Sehun menggeleng, lalu tersenyum.

Congratulations, selamat karena kau menemukan lelaki yang benar-benar baik. Chanyeol itu benar-benar orang yang baik, kau beruntung menjadi kekasihnya Chanyeol.”

 

Congratulations. Selamat karena sudah mematahkan hatiku, sayang.” —Oh Sehun.

 

 

“Tidak ada lagi barangmu yang tertinggal?” Sehun menggeleng, lalu mengucapkan terima kasih pada Chanyeol yang kini mengantarnya ke bandara.

“Baik-baiklah disana, okay? Jangan jatuh sakit dan cepat-cepatlah move on dari mantan kekasihmu itu. Oh, jika kau bosan dan ingin move on cepat-cepat, mau ku kenalkan dengan gadis-gadis teman kampusku?” Sehun tertawa, lalu menggeleng dengan cepat. “Aku baik-baik saja, jangan mengkhawatirkanku.”

“Ah, baguslah kalau begitu. Sehun-ah, kenapa kau cepat sekali perginya? Kau harus janji akan datang lagi ke Seoul kapan-kapan, arraseo?” Sehun mengangguk, ia menepuk bahu Chanyeol pelan, tersenyum tulus, lalu segera berbalik dan mulai menyeret kopernya menuju petugas pemeriksa tiket.

“Aku pergi Monyet Seoul, sampai jumpa,” ucap Sehun sambil melambaikan tangannya. Tanpa sadar, Sehun mengeluarkan tangannya yang berdarah dan belum diobati sama sekali. Chanyeol menatap punggung Sehun yang menjauh, juga tangan lelaki itu yang masih melambai di udara.

“Cih, sampai jumpa Anjing Toronto!” teriak Chanyeol keras yang membuat lelaki Park itu seketika menjadi pusat perhatian keramaian bandara. Chanyeol tidak peduli, ia tetap melambaikan tangannya pada sahabatnya yang akan kembali ke Kanada itu. Sementara di balik punggungnya, Sehun tertawa kecil mendengar teriakan Chanyeol, merasa beruntung punya sahabat seperti seorang Park Chanyeol.

 

“Sampai jumpa Monyet Seoul—my best friends. Congratulations karena mempunyai kekasih secantik Wendy.” —Oh Sehun.

 

Sehun tidak tau saja, setelah ia pergi menjauh, Chanyeol menurunkan lambaian tangannya, lalu menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Chanyeol menangis dalam diam, matanya memerah, sementara bulir bening itu kini memenuhi pipinya tanpa bisa dicegah.

“Harusnya kau bilang kalau Wendy adalah kekasih yang sedang kau cari brengsek, harusnya kau bilang saja dan aku hanya akan menghapus perasaanku pada Wendy untukmu.” 

Ya, Sehun tidak tau, begitupun Wendy yang tidak sadar bahwa ada mata lain yang menjadi saksi pertengkaran mereka berdua. Chanyeol ada di sana, mendengar dan menahan dirinya sendiri untuk tidak menangis ketika menjadi saksi bisu kisah Sehun dan Wendy yang berakhir karenanya.

 

“Apa yang salah dengan kisah manusia dalam cinta?”

Fin.

.

.

.

.

.

P.S hak cipta ‘monyet seoul’ —> bosquee:) (@shiraayuki)

 

 

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “BROKE UP (Series) – Are You Fine? – Shaekiran

  1. Inimah fix cy sm wendy jodoh, serasi amatt, sama sama penghianat😌😌😒/✌🔪🔪
    Sabar yaa chagiii~~ mungkin wendy bkn jodoh luu hun,, jodohlu di Indo keleus,, *wkwk /seketika digampar
    Gue bakal slalu ada buat lu kok hun,,lu mau nangis?? Sini ke gue,, gue bakal sediain tisu ber ton ton dah…
    Cy kena karma,,😄😄 makanya mas, jangan ngecampakkin cewe gitu aee,, karma kan luu😏
    Okelah Bhayy..😄😄😄*ketawa jahat
    .
    Oh chai~~

    • Si anying, sabar elah, ente kira ane banyak kuota mbak? Ntar kuota ane habis ente juga yg nangis darah karena ane gak balas chat ente, dasar anying Kabanjahe 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s