[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] ONCE AGAIN (Part 2)—Audrey_co

PicsArt_04-14-09.15.44

Audrey_co’s Short Story

Starring by; Sehun EXO, Byun Sungrin, Baekhyun EXO

Sibbling and drama

‘Kekurangan seseorang bukanlah sebuah alasan baginya untuk dibenci.’

Once Again

PART 2

17 April

Salah satu hari penting bagi seorang Sehun yang tak ia lupakan setiap tahunnya. Hari di mana ia benar-benar hancur, dirinya bahkan berubah sejak hari itu. Hal yang tak pernah ia bayangkan ketika ia harus di tinggal oleh seseorang yang ia sayangi, membuatnya begitu frustasi di umur yang mulai beranjak dewasa. Segala pertahanan yang dibuatnya runtuh layaknya sebuah bom yang baru saja menghancurkan tembok tinggi nan kokoh. Hari itu, Sehun kehilangan Hyung tercintanya.

Hari ini tepat 5 tahun Luhan pergi meninggalkannya.

Masih menggunakan seragam sekolah, kakinya menapak pelan di kawasan yang menurur sebagian orang sangat menyeramkan. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah nisan yang bertuliskan nama Hyungnya. Luhan. Tanpa marga. Mereka berdua sepakat tak ingin menggunakannya. Hey, mereka sudah sangat paham jika mereka dibuang oleh orangtua mereka. Sehun merasa ia hanya punya Luhan—tentunya sebelum Luhan pergi—jadi untuk apa menggunakan marga ia tidak punya orangtua. Itu adalah pendapatnya saat berumur 10 tahun yang ia pegang hingga sekarang.

Sebuah bunga Daisy ia letakkan tepat di depan batu nisan tersebut. Sehun menunduk, menatap rumput kecil yang mengerumuni gundukan tanah kuburan Luhan. Air matanya meleleh perlahan, membiarkan sekelebat memori tentang Luhan masuk dalam pikirannya. Terlalu sakit mengingat bagaimana kehidupan Luhan selama ini. Ia menyayangi Luhan, ia takkan membiarkan seorang pun menyakiti Luhan termasuk orangtuanya. Takut? Tak ada rasa takut jika ia membela Luhan. Rasa takutnya akan muncul apabila melihat Luhan tersiksa atau ketika… detik-detik pria manis itu pergi untuk selamanya. Tak pernah ia merasa takut seperti itu sebelumnya. Hari itu adalah saksi bisu, untuk pertama kalinya Sehun merasa takut.

“Maaf baru mengunjungimu, Hyung.” Celetuk Sehun sembari mengusap wajahnya dari air mata. “Aku mampir ke sini karena seseorang mengingatkanku padamu.”

“Orang itu… dia terlihat sepertimu. Caranya menatapku ketika ia menabrakku sama persis dengan cara kau menatapku ketika kau berbuat salah. Hyung, apa kau baru saja bereinkarnasi? Jika ya, biarkan aku melindungimu sekali lagi. Aku anggap ini sebagai kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untukku.” Celoteh Sehun. Tangannya kini memegang erat batu nisan tersebut. Matanya terpejam, merasakan semilir angin sore yang menyapu lembut wajahnya. Tidak, jangan lagi ada air mata untuk hari ini—batinnya kesal.

“Aku pulang dulu, Hyung. Sampaikan salamku pada teman-temanmu di sana. Sering-sering mengunjungiku dalam mimpi, Okay? Aku pergi.” Pamit Sehun sambil terkekeh pelan. Begitu bodoh saat ia menyadari sejak tadi ia berbicara pada angin juga rumput yang bergoyang.

Grusuk

                Grusuk

‘Suara apa itu?’ Batin Sehun penasaran. Kaki jenjangnya menuntunnya mencari tahu di mana suara itu berasal. ‘Semak-semak? Mungkinkah kucing atau anjing atau… tikus?’ Pikir Sehun penuh tanya. Perlahan ia mendekat ke arah semak-semak itu dan mengintip sedikit apa yang ada di baliknya.

Terlihat seorang pria sedang menggaruk-garuk tanah menggunakan ranting kayu.

Dahi Sehun mengernyit, mengira bahwa ia mengenal pria itu. Langsung saja ia berjalan mendekatinya dan ijut berjongkok di samping pria itu. “Baekhyun? Sedang apa di sini?”

Pria itu terkejut dan terduduk—spontan—menatap Sehun dengan tatapan anehnya. Sehun hanya tertawa dan membantu pria mungil itu berdiri.

“K-Kenapa mengikutiku? A-Apa kau masih marah padaku?” cicit Baekhyun takut, kepalanya bahkan tertunduk dalam.

“Tidak, aku tidak mengikutimu. Aku tak sengaja mendengarmu yang sedang.. emm… menggaruk tanah,” ujar pria jangkung itu dengan nada pelan di akhir. baekhyun mengangkat kepalanya, menatap lurus mata elang milik Sehun, “Lalu, sedang apa kau di sini?”

“Mengunjungi Hyungku.” Jawab Sehun cepat. Baekhyun memiringkan kepalanya—tak mengerti.

Hyung itu saudaraku, dia lebih tua dariku dan aku menghormatinya. Kau paham?” terlihat Baekhyun mengangguk mantap.

“Lalu, kau sendiri, kenapa di sini? Bukankah di sini sedikit berbahaya untukmu?” tanya Sehun penasaran. Matanya kini melirik sekitar, terdapat sebuah bangku panjang juga meja. Sebenarnya, tempat apa ini?

Baekhyun mendekatkan telunjuknya pada bibir tipisnya, “Sst… ini adalah taman rahasia! Hanya aku dan Sungrin yang tahu,” bisik pria itu sembari menatap sekeliling, berharap tak seorang pun mendengar pembicaraan mereka.

‘Sungrin? Byun Sungrin?’ batin Sehun bingung. Pria ini mengenal Sungrin si ketua kelas yang garang? Apa hubungan mereka berdua?

“BAEKHYUN! BAEKHYUN, KAU DI SANA?”

Suara teriakan itu sukses memecah keheningan yang tercipta. Sehun hendak bersembunyi namun terlambat karena kini seorang gadis muncul dengan rabut acak-acakan juga wajah khawatirnya. Baekhyun memekik senang ketika gadis itu mendekatinya. “Syukurlah,” gumam gadis itu sembari memeluk Baekhyun erat.

“Kenapa Sungrin memelukku? Kenapa Sungrin seperti singa? Apa Sungrin tadi lari-lari di hutan? Dan Sungrin tidak ajak Baekhyun?” Baekhyun berucap dengan nada kecewa. Sungrin melepas pelukannya, merapikan rambutnya yang megar, dan menatap saudaranya sangsi. “Kau menghilang dan meninggalkan makananmu! Aku menghawatirkanmu! Jadi… jangan kabur seperti itu lagi… mengerti?”

Kecemasan Sungrin sepertinya berada di puncak. Wajahnya bahkan memerah karena menahan tangis. Baekhyun, meski ia kelainan, tapi ia bisa merasakan jika adiknya ini sangat menghawatirkannya.

“Kalian kembar? Atau… hanya mataku saja yang salah lihat?”

Sehun menginterupsi suasana haru itu dengan pertanyaannya. Sungrin sedikit terjingit dan melirik ke belakang Baekhyun, telah berdiri seorang pria yang diketahuinya begitu pendiam dan dingin. Gadis itu mengernyit bingung dan menuntut penjelasan dari keduanya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Sehun?”

“Sehun? Siapa Sehun?” Tanya Baekhyun bingung, Sungrin lalu menunjuk Sehun dengan dagunya. “Pria sok tampan dan juga dingin itu namanya Sehun.” Setelahnya Baekhyun mengangguk

Sehun Sweetdrop,”Jawab dulu pertanyaanku, ketua kelas Byun!”

Sungrin menghela nafas, “Kami saudara kembar.” Setelahnya Sehun mengernyit.

“Kembar? Lalu, bagaimana bisa—”

“Jawab dulu pertanyaanku! Heish. Kau seenaknya saja.” Celetuk Sungrin memotong perkataan Sehun.

“Mengunjungi Hyungku. Puas?”

Terjadi keheningan beberapa saat.

Otak Sungrin berpikir keras. Ini adalah taman rahasia mereka, lalu di seberangnya adalah tempat pemakaman. Tak ada rumah penduduk di sekitar sini, pemukiman berada sangat jauh dari tempat ini. Setelah mendapatkan jawabannya, Sungrin mengangguk paham.

“Ah, begitu ya.” Gumamnya pelan.

“Lalu, kenapa dia bisa seperti itu? Emm… kau tahu, kelainan sepertinya tidak mungkin sejak lahir, bukan?” Sehun berujar penasaran. Pandangannya dan Sungrin sama-sama terpaku dengan tingkah Baekhyun yang kembali menggaruk-garuk tanah karena bosan.

“Kecelakaan.” Buka gadis itu dengan nada lirih.

“Tadinya, orangtuaku sangat menyayangi Baekhyun. Kami dibanding-bandingkan satu sama lain, meski banyak yang bilang aku sama saja dengan Baekhyun. Aku iri padanya, aku marah karena orangtuaku hanya melirik Baekhyun san memprioritaskan dia daripada aku. Aku yang bodoh dan gegabah, membuatnya harus menderita seperti ini.”

Sehun memicingkan matanya, “Kau…”

“Aku mendorongnya ke arah mobil yang sedang melaju kencang saat kami jalan berdua. Aku berpura-pura tidak sengaja tersandung dan mendorongnya ke samping dengan keras. Aku—” Sungrin menutup keningnya dengan telapak tangan dan terisak pelan, “Aku hampir saja membunuhnya,” ujar gadis itu.

“Aku tak mau munafik, aku senang saat itu dia di benci orangtuaku. Seluruh perhatian mereka kini beralih padaku. Tapi, ada kalanya di mana aku merasa bersalah pada Baekhyun karena dia sering di marahi oleh orangtuaku. Aku marah pada orangtuaku, tapi mereka tidak peduli dengan keadaan Baekhyun dan menyuruhku untuk membiarkan Baekhyun sendirian. Dengan kondisi yang sekarang, Baekhyun butuh seseorang untuk menguatkannya dan mendampinginya. Sejak hari itu, aku bertekad untuk menjaga Baekhyun dan melawan orangtuaku.”

“Hingga pada akhirnya, kami berdua di terlantarkan. Orangtuaku pindah ke Nigeria dua bulan lalu, tapi untunglah mereka masih memberikan kami uang setiap bulannya. Setidaknya mereka tidak benar-benar menelantarkan kami, kurasa…”

Sehun menatap tidak percaya pada gadis itu. Sungrin yang terlihat begitu cuek dan juga pendiam ternyata tega melakukan hal sekeji itu. Penilaiannya berubah, Sungrin tidak sama sepertinya. Mereka berbeda.

“Kau benar-benar tega. Dia saudaramu dan kau… mencoba membunuhnya?”

“Aku tahu! Maka dari iitu aku ingin memulainya dari awal. Bersama Baekhyun, aku menyadari betapa pentingnya ia bagi hidupku. Dia adalah Kakakku, aku sebagai adik sangat menghormatinya. Dan juga, dia memberiku banyak pelajaran tentang kehidupan. Aku seperti sudah jatuh terlalu dalam bersamanya.” Sungrin mengusap bulir air mata yang meleleh di pipinya. Ia merasa lega, ternyata curhat sedikit ada manfaatnya juga.

“Setidaknya, kita punya kasus yang sama,” sahut Sehun yang kini terbawa suasana.

“Aku dan Hyungku hanya berbeda tiga tahun. Dia… sudah seperti ‘itu’ sejak lahir. Orangtuaku sangat membencinya, katanya dia hanya membuat mereka malu di depan teman-teman mereka. Aku saat itu hanya diam, karena setiap kali aku ingin membela Hyungku mereka menatapku tajam. Aku masih takut saat itu. Tapi, Hyungku selalu tersenyum dan memelukku, berkata ia senang karena memiliki adik sepertiku. Aku merasa tidak adil karenanya. Hidup terlalu menyiksa Hyungku, namun tak sekalipun aku melihatnya menangis.”

“Apa aku boleh bertanya?”

“Tentu.”

“Apa dia meninggal karena kecelakaan atau penyakit atau lainnya?”

Sehun sedikit menundukkan kepala, “Kanker perut,” katanya sedih.

“Ternyata, dia selalu memakan sesuatu yang berbahaya. Dokter bilang, dia selalu makan tanah atau sesuatu yang tak ingin aku sebutkan. Terlalu menjijikkan untuk di makan.” Lanjutnya sembari membasahi bibirnya yang mengering.

“Melihat Baekhyun, aku teringat oleh Hyungku. Jadi, biarkan aku dekat dengannya. Setidaknya, biarkan aku ikut menjaganya bersamamu.”

Deg

Jantung Sungrin berdegup tak karuan. Tidak tahukah pria itu dengan arti kalimatnya barusan? Sungrin juga wanita, ia akan sensitif apabila mendengar kata ‘bersamamu’ atau lainnya. Segera mungkin gadis itu menunduk malu dan mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Sehun.

“Baiklah, karena hari menjelang malam bagaimana kalau aku mengantar kalian pulang?” Tawar pria itu seakan mereka sudah sangat dekat. Baekhyun yang mendengarnya lantas berdiri dan menatap Sehun berbinar.

“Pulang? Naik mobil?”

“Eh? Kenapa kau tahu aku bawa mobil?”

“Sehun orang kaya, tidak mungkin Sehun tidak punya mobil.” Ucap Baekhyun polos.

“E-Eh, tidak usah! Kami pulang dengan jalan kaki saja.”

“Tapi ini sudah petang dan kau itu perempuan. Kau tak bisa mengandalkan Baekhyun, bukan?”

Pada akhirnya Sungrin merasa diperhatikan oleh Sehun. Menurutnya, Sehun tidak seburuk yang ia kira. Mungkin, tidak masalah jika mereka mulai dekat hari ini. Toh, Sungrin sudah memperbolehkan Sehun untuk berteman dengan Baekhyun.

TB

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s