[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Everything is Gray by l18hee

Everything is Gray.jpg

-Everything is Gray-

.by l18hee

Everything is gray, his hair, his smoke, and his dreams.[1]

.

Sehun & Runa

Vignette | Slice of Life | T

.

follow my wattpad l18hee

Hampir saja Runa tidak dapat menangkap kaleng minuman yang baru Sehun lempar. Bisa-bisa kening mengkilapnya membiru nanti. Kan, tidak lucu melewatkan liburan di pantai dengan dahi biru perusak penampilan. Mana ada pria tampan akan datang jika begitu. Belum jua lidahnya bergerak untuk melayang protes mengenai kelakuan seenak pusar karibnya, Runa lebih dulu mendelikkan mata. “Oh Sehun! Aku minta jus, bukannya black soda!”

Sedang yang mendapat seruan malah mendudukkan diri di kursi anyaman bernuansa klasik, letaknya di dekat jendela kaca yang menampilkan panorama pantai serta luapan manusia tak jauh di bawah sana. Pria ini meneguk black soda-nya hingga setengah tandas. “Sayangnya jika kau mengkhawatirkan perutmu akan buncit, sudah terlambat.”

Terang-terangan Runa berdecih. Tahu jika yang dikatakan Sehun itu memang benar. Salah Runa sendiri akhir-akhir ini terlalu banyak makan─sejak ia dapat cuti kerja. Memangnya siapa yang bisa menolak? Cuti di musim panas setelah berpuluh-puluh jam sibuk dengan setumpuk buku bahasa asing yang perlu diterjemahkan, sangat menggiurkan. Bahkan untuk membaca plang petunjuk jalan saja Runa sampai mual. Mana adil jika ia terus dihadapkan pada setumpuk pekerjaan.

“Pokoknya jika tambah buncit, semuanya salah black soda-mu.” Seraya berkemam kesal, Runa meneguk minuman sementara satu tangan yang bebas menepuk perutnya sendiri. Begitu cairan soda membasahi kerongkongannya, Runa menggumam kecil, “Lumayan juga.” Oke, perlu diakui, rupanya black soda dingin tidak terlalu buruk untuk ukuran siang hari musim panas.

Lain halnya dengan Runa yang banyak menebar celoteh tak perlu─yang mana hampir seluruhnya gerutuan, Sehun asyik memandang pantai yang tersaji di depannya. Dia baru saja mengecap rasa soda di mulut kala karibnya mendudukkan diri di kursi lain, tepat di sampingnya. Gadis dengan romper berbahan denim warna hijau apel tersebut tengah sibuk menyatukan rambutnya menjadi satu.

“Gerah?” Sehun masih menatap Runa, kali ini dengan tangan tergantung di pegangan kursi. Yang ditanya melirik malas, “Retorik, Sehun. Kau pikir dengan suhu begini aku tidak ingin meleleh?” Lantas Sehun terkekeh ringan, “Berlebihan. Bahkan ini belum puncak musim panas. Dan lagi, aku sudah membiarkan jendelanya terbuka.”

Konversasi itu terhenti lumayan lama. Runa tak berniat menjawab dan lebih suka memanjakan mata dengan warna biru laut menenangkan di depannya. Diam-diam salut juga pada Sehun yang mau mentraktirnya liburan seperti ini. Yah, walau hanya ke Pantai Eurwangi di Incheon yang tak terlalu jauh dan terkenal ramai sepanjang tahun. Tapi semua yang punya label gratis tidak mudah menimbulkan penyesalan, bukan? Berbeda dengan Sehun. Agaknya lelaki ini punya rencana yang lebih mengasyikkan ketimbang bermain air di tepi pantai atau menikmati wahana permainan air yang aman.

Bosan dengan hening, Runa akhirnya membuka suara, “Omong-omong, kapan kau ganti warna rambut jadi abu-abu? Terakhir kali bertemu saat kau datang minta referensi buku, aku ingat warnanya masih baby pink.” Kadang Runa merutuki kebiasaan Sehun yang kerap kali mengganti warna rambut sesuka hati. Entah apa motivasinya. Lelaki itu pernah memakai warna merah menyala, biru langit, pelagi, pirang, dan bahkan hijau─Runa paling tidak suka yang terakhir karena, ew, bentuk Sehun jadi mirip brokoli berjalan.

“Sebelum mengajakmu kemari. Di tempat biasa─eh, aku dapat diskon, lho.” Usai mengedik bahu, Sehun mencari-cari sesuatu di kantungnya. Meninggalkan Runa yang memuntar mata jengah, “Mana aku peduli kau dapat diskon apa tidak. Kau tidak mengajakku, sih.” Begitu sadar Sehun baru meraih pemantik kesayangannya, Runa memicingkan mata, “Kukira kau berhenti merokok.”

Sebatang rokok yang terselip di katup bibir Sehun kini siap dibakar. Tak mengindahkan kalimat yang Runa lontar, Sehun malah sibuk menyesap kuat rokoknya, lalu mengembuskannya lewat mulut dan hidung. Tanpa sadar Runa menelengkan kepala, menatap si lelaki lekat-lekat, “Kau jadi seperi Tuan Abu-Abu.”

“Di buku mana?” Sudah hafal kebiasaan Runa sebagai penerjemah buku asing─baik fiksi atau nonfiksi, Sehun menggores senyum tipis. Dia bisa melihat alis Runa membentuk siku-siku, tanda sang gadis tengah berusaha mengingat sesuatu.

“Tidak terlalu ingat. Sepertinya sudah lama.” Menyerah dengan ingatannya, Runa memilih kembali ke topik, “Pokoknya hampir sama. Rambut kelabu, asap rokok dengan warna sama yang bergumul di sekitarmu. Kau terlihat suram.”

“Aku lebih suka menyebutnya tampan dan dewasa.” Kenarsisan yang terlampau tinggi ini perlu sedikit dikikis, sepertinya. Lantas Runa mencebik, “Percaya dirimu ketinggian. Kekasih saja tidak punya.” Dia tahu persis, persentase memutuskan pacar lebih dahulu milik Sehun adalah nol. Lelaki itu selalu diputus duluan. Menyedihkan kelihatannya. Mungkin karena sifatnya yang tak dapat dikekang.

Lho, buat apa? Kan, ada kau.” Sehun menyeringai, memancing gadis di sampingnya memasang ekspresi risih, “Minta pacaran saja tidak pernah.”

Wow, apa aku membaca sebuah kode?” Kekeh yang Sehun tebar membuat Runa mendengus sebal, “Kau memang nomor satu kalau masalah narsis dan tidak jelas, Oh Sehun.” Lagi, Sehun terkekeh. Dilayangkannya pandangan ke paras sang gadis, seraya menarik satu alis lebih tinggi dari yang lain, “Bagian mana dari diriku yang tidak jelas?”

“Hampir semuanya.” Merasa sedang ditantang, jelas Runa semangat menuturkan argumen miliknya, “Tiga minggu yang lalu, kau bilang ingin mempelajari tentang komputer dan berencana masuk sekolah intelejen. Lalu kemarin saat mengajakku ke sini kau bilang ingin jadi peselancar hebat. Mana impianmu yang sebelumnya? Bukan hanya mejadi intelejen, tapi juga impian yang pernah kau bicarakan denganku. Dari pesepakbola, pebisnis, model, dosen, sampai pelukis. Kau sedang krisis identitas? Memangnya kau anak SMA? Sengaja santai karena ayahmu bisa membiayai semuanya?” Terdengar begitu panjang dan penuh sarkasme. Namun Sehun tak lantas sakit hati, delapan tahun saling mengenal membuat ia terlalu paham bagaimana Runa sesungguhnya. Dia paham betul Runa begini karena khawatir terhadap apa yang akan ia lakukan di masa depan. Ah, terdengar manis rasanya.

“Mimpimu juga abu-abu, Sehun.” Penuh penekanan. Mendadak saja Runa ingin lebih membuat suasana makin serius sekarang. Semoga saja kali ini Sehun tak hanya menanggapi dengan kekehan serta kerling tak acuh. Runa jenuh diperlakukan seperti itu saat ia ingin serius.

Lama Sehun memilih diam, membiarkan rokoknya terkikis perlahan. Tidak, tidak, mohon jangan salah sangka dia mulai digenggam emosi atau sejenisnya. Walau gadis tersebut malah membahas hal yang terkesan rumit begini, sama sekali Sehun tak menyesal sudah mengajak Runa kemari. Toh, siapa lagi yang bisa dengan santai mengatasi sikap Sehun yang kepalang menjengkelkan? Sehun sedang tidak ingin melakukan pencitraan, jadi jika butuh teman cuma nama Runa yang bisa nyangkut di kepalanya.

“Abu-abu itu seperti pencampuran sama rata dari hitam dan putih.” Mula-mula Sehun mematikan rokoknya, tersenyum sekilas, “Hitam-putih anggap saja baik-buruk─atau terserah posisi katanya mau diubah atau bagaimana, bagiku seperti sifat manusia. Tidak mungkin satu manusia hanya baik atau buruk saja, kan?” Mengerti bahwa saat ini bukan waktunya menyela, Runa memberi kode tak kentara agar Sehun melanjutkan ucapan.

“Mudah saja. Aku punya sifat baik dan buruk, lantas kuanggap diriku berdiri di abu-abu. Kelabu juga berarti ketidakstabilan, nah, pasti kau makin merasa aku seperti Tuan Abu-Abu, bukan?”

Runa mengangguk. Seratus persen setuju bahwa memang benar Sehun adalah manusia super tidak stabil dalam bidang ketertarikan terhadap sesuatu. “Cocok sekali. Aku sampai merinding.”

“Aku sadar sepenuhnya jika terlalu banyak hal yang dapat membuatku tertarik. Semua hal yang pernah kukatakan padamu─maksudku tentang impian, sebagian besar masih ada.” Tangan Sehun bergerak pelan untuk meraih kaleng minumnya, dia meneguk beberapa kali sebelum kembali bersuara, “Hanya mencoba menikmati hidup, pikirku begitu. Kapan lagi aku bisa mencoba berbagai hal menarik jika bukan sekarang?”

“Dan tidak fokus pada masa depanmu? Setidaknya pilih satu yang ingin kau pelajari lebih dalam,” protes Runa. Kesal karena Sehun malah seperti memberi kesan remeh barusan. Lagi-lagi Sehun tidak marah, ia malah tersenyum lebar dengan deret gigi putihnya, “Kejutannya, aku sudah punya satu. Janji, deh, akan kuberitahu setelah pembicaraan ini berakhir.” Dia membenarkan duduknya; mencari posisi yang lebih nyaman, “Punya satu hal yang jadi fokusku untuk masa depan, bukan berarti aku bakal meninggalkan kesenanganku yang lain. Karena pikirku tak ada salahnya punya banyak mimpi atau kesukaan yang menyita waktu. Toh, asal kita tahu berapa porsi kepedulian yang harus dibagi ke masing-masing hal, semuanya akan berjalan lancar.” Kekehannya terdengar lepas dan bahagia, “Siapa tahu salah banyaknya bisa terwujud. Benar, tidak?”

Butuh spasi diam yang panjang bagi Runa untuk merenungkan segala apa yang dibicarakan Sehun. Dia mendengus diam-diam, sadar bahwa perlu sekali baginya memahami alasan yang dibuat sang karib. Delapan tahun mengenal Sehun, kali ini Runa mendapat puncak bangganya. Salahkan ia yang sering terlalu saklek pada pekerjaan. Runa kerap kepalang runyam dengan masalahnya sendiri dan malah melewatkan hal-hal menyenangkan yang bisa ia lakukan. Benar-benar, deh. Dirinya harus meniru Sehun untuk punya banyak mimpi dan lebih menikmati hidup untuk kedepannya. Yah, tapi tetap saja, tidak ada salahnya fokus pada satu hal. Yang penting harus punya celah untuk asupan kebahagiaan, bukan?

Sekarang Runa bisa merasakan ada lega yang menyusup di rongga hatinya. “Aku ingat sesuatu. Selain arti kelabu yang kau sebut tadi, ada yang pernah bilang,” ia menelengkan kepala lagi, “Gray is the color of intellect, knowledge, and wisdom[2].” Satu hal yang tak pernah ia prediksikan sebelumnya adalah penciptaan senyum yang tulus sepersekian sekon kemudian, “Kau memang Tuan Abu-Abu, rupanya. Tapi tolong kurang-kurangi ketidakstabilanmu itu.”

Tawa renyah Sehun membuat suasana berubah makin hangat. Lelaki ini meraih kaleng soda milik Runa dan meneguk isinya tanpa permisi. “Ada hal yang membuatku sedikit lebih stabil akhir-akhir ini. Tunggu sebentar. Sesuai janji, aku akan menunjukkan sesuatu.”

Perlu beberapa saat bagi Runa untuk menunggu Sehun yang malah beranjak dari duduknya. Berselang sekian puluh detik, Sehun sudah kembali dengan sebuah majalah di tangan. Dia begitu saja memberikan benda tersebut pada Runa.

Sejemang, Runa memicingkan mata seolah tak percaya. Apa yang Sehun sodorkan ternyata masuk dalam kategori fantastis juga.

“Serius, Oh Sehun! Kapan kau melakukan pemotretan?” Sambil mengamati sosok Sehun di dalam majalah, Runa membatin bangga. Walau baru dua potret yang ditampilkan, ia yakin akan bagus bagi Sehun kedepannya jika lelaki itu mau lebih fokus. “Oh, apa mereka menggunakan tukang edit yang profesional? Kau kelihatan tampan di sini.”

“Ejek aku sesukamu, Kwon Runa.” Sehun sudah duduk kembali di kursinya. Memandang Runa yang tengah sibuk memerhatikan majalah dengan mata berbinar.

“Tidak bohong. Ini keren! Kau harus melanjutkannya. Aku mendukungmu satu juta persen.” Ucapan ini memancing kekeh Sehun. Diperhatikannya lagi paras gadis di sampingnya. Surai kemerahan milik Runa yang mencuat dari ikat kepala terlihat berantakan. Tapi tidak tahu mengapa Sehun justru suka. “Mau tahu lagi, tidak? Tentang penyebab ketidakstabilanku yang mulai pudar.”

“Apa?”

Kendati Runa tak menoleh, Sehun mau menyuguh senyum. “Simpel saja, sih,” ia membenarkan duduk dan menyandarkan diri ke kursi. Menatap kembali sekian banyak manusia yang sedang asik menikmati liburan di pantai. “Untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik buatmu.”

Nah, kalau sekarang Runa mau menoleh, membiarkan halaman 29 di majalah terbuka tanpa ada yang berniat melihat, “Aku?” Lalu Sehun mengangguk kecil, masih tak ingin membalas tatap, “Ah, apa aku lupa mengatakan kalau aku memang serius menyukaimu?”

“Kau benar-benar menghancurkan gambaran pernyataan romantis yang kudamba dari seorang pria.” Melakukan posisi yang sama dengan Sehun adalah yang Runa lakukan. Bedanya, gadis ini memejamkan mata seakan lebih lega ketimbang tadi. Sepertinya barusan ada seseorang yang menendang kupu-kupu ke lambungnya, membuat Runa sedikit khawatir perutnya makin membuncit lagi.

“Apa aku perlu bawakan bunga?” Lirikan Sehun jatuh pada sang gadis yang langsung menggeleng jengah, “Untuk sekarang jangan. Aku malas menggendong bunga sampai rumah. Selain repot, aku bisa dihujani banyak pertanyaan konyol nanti.”

“Kalau cium saja bagaimana?”

Kala Runa menoleh, yang ia dapati adalah kerlingan milik Sehun yang malah membuat bulu kuduknya meremang. “Kau bisa tambahkan itu dalam daftar impianmu, Oh Sehun.” Inginnya Sehun tergelak lebih keras dari sekarang, tapi ia masih sayang tenggorokannya. Sebagai gantinya, dia berdeham dan menyedekapkan tangan─masih memberi kerlingan menantang. Makin keliahatan sialan tampannya.

“Asal kau tahu saja, 80% impianku itu terwujud, lho. Aku orang yang gigih, sekadar mengingatkan saja.”

Runa tak peduli. Dia lebih suka menandaskan black soda-nya agar dapat menggunakan haus-dan-ingin-minum-air sebagai alasan untuk enyah dari sini. Kalau tidak, bisa-bisa justru dia yang membuat impian Sehun yang barusan cepat terealisasi. Kan, bakal konyol sekali.

.

.

.

.end

[1] Semuanya kelabu, rambutnya, asap rokoknya, dan mimpinya. ─anonymous.

[2] Abu-abu adalah warna dari kepandaian, pengetahuan, dan kebijaksanaan. ─anonymous.



Definisi menyedihkan itu adalah post-fiksi-bekas-sebuah-event-buat-ultah-bias-padahal-aslinya-bisa-bikin-yang-baru-tapi-sayangnya-tidak-ada-ide-dan-waktu. Kenapa juga ultah Sehun selalu bertepatan sama hari berpikir gitu sih? Tahun lalu dia ultah pas aku ujian, tahun ini dia ultah pas aku uts. Maumu apa Hun?/nid/ Untung sayang, untung ganteng 😦

Yepp, begitulah ini aslinya fiksi buat lomba di salah satu blog yang sayangnya (lagi-lagi) (wkwk) berbuah kegagalan. Gak gagal juga, sih. Cuma belum beruntung aja hehe /intinya sama nid/ -_-. Boleh dong minta kritik, saran, atau tanggapannya tentang fiksi ini, kali aja aku bisa makin ngerti lagi mana yang butuh aku perbaiki (dan kali aja pas aku nyoba lagi lomba yang sama, siapa tau menang WKWK) /dasar. Jiwa kompetisi tuh wajar, bikos aku tetaplah manusia sejati/ini apa/ /abaikan/

pokoknya

SELAMAT ULANG TAHUN OH SEHUN

KESAYANGAN NOMER SATU IHIW, MAKIN SUKSES YAH, JANGAN TEBAR PESONA MULU, DASAR :)))

Yang bahagia jadi orang, Hun. Biar dd juga ikut bahagia ea ea ea. Aku masih nunggu film dan drama-mu loh :’)

(btw aku gabisa nulis surat cinta untuk Sehun, itu berasa mau nyatain cinta beneran/GAGITUNID/)

Udah gitu aja, makasih udah baca ❤

.much love, nida

Iklan

3 pemikiran pada “[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Everything is Gray by l18hee

  1. Jadi ceritanya ini aku bacanya kira-kira jam 2 subuh tadi, cuma bacanya lewat hape sambil nemenin 3 manusia lakilaki karokean lalu makan sate :v
    Ini entah apa karena aku bacanya tengah malem jadi aku agak susah mikirinnya wkwkwkwk, tapi sweetnya si cadel emang belom pernah ada yang bisa nandingin, dia mah dingin dingin sok tak peduli padahal peduli nya itu so mantav luar biasa jos yes yes yes..

  2. Ih.. interaksi’ny hun-run bwtn nida tu feels so real 😁 mrk romantis in their way 😍 bikin mupeng 😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ sehun jgn ngroko, nanti deretan gi2 pth’ny jd kotor 😒 & bnyk mudharat lain’ny. Grey emang warna yg keren, jmn smk sk bgt sm grey tp lupa krn apa ya dulu 😕. Basically ga da 1 warna tertentu yg jd favorite bgt, cm @ certain time sk sm certain colour, mostly sk smua warna yg kalem2 ga gt ngjreng. Moga nex time bs mnang lomba’ny ya 😊 mnrt saya sih ff ni dah keren n layak menang 👍

  3. hahaha sehun abuabu
    abuabu warna favoritku *gaknanya
    i like abuabu
    i like sehun
    ku suka karakter sehun yg abuabu:v
    keren thor
    ditunggu karya selanjutnya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s