[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SONGPAGU — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

SURGEON in Songpa-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Sehun

Special appearance EXO’s Baekhyun & l18hee`s OC Kwon Runa

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Sehun of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Hongdae (3) [Xiumin]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Ini sudah hari ke-tiga sejak dia tidak mau makan.”

Sebuah suara menyambut rungu Sehun ketika pria itu tengah sibuk dengan belasan lembar resume medik di meja.

Dia yang mana yang sedang kau bicarakan?” Sehun bertanya, diliriknya gadis yang berdiri di ujung pintu tenda—Kwon Runa, namanya, dia seorang mahasiswa nutritionist semester delapan—yang tengah menatap dengan pandang menerawang.

“Murid sekolah yang katamu terkena depresi karena bencana ini, Dokter.” gadis itu—Runa—menekankan tiap kata yang ia utarakan.

Sebenarnya, dia sama sekali tidak mengenal pria berstatus dokter yang sekarang tengah bicara dengannya itu. Perkenalan mereka tidak sengaja terjadi saat keduanya sama-sama menyumbang tenaga untuk membantu korban bencana ini.

Runa sendiri juga tidak sengaja terjebak di Seoul. Gadis itu hanya ingin menyelesaikan studi sarjana-nya dengan tenang di Seoul. Tapi sayang, bencana telah terjadi sebelum dia bisa menikmati wisuda-nya.

“Ah, gadis itu. Dia terus bicara tentang kembali ke Hunan. Well, kau tahu sendiri dia bukan warga negara Korea. Kekhawatiran yang ia alami sekarang sangatlah wajar.” Sehun menuturkan,

“Ah…” Runa menggumam, bisa dia bayangkan bagaimana ketakutan yang dialami oleh murid-murid sekolah yang kemarin mereka selamatkan—ingatan Runa masih merekam jelas bagaimana mereka menerima belasan murid sekolah dengan luka parah dan bahkan ada yang sudah tidak bernyawa saat tiba di tempat.

Dan Sehun satu-satunya tenaga medis yang berstatus dokter di sana. Pria itu hampir tidak tidur selama 48 jam, dan Runa entah mengapa merasa kasihan.

Dari konversasinya bersama Sehun tempo hari, diketahuinya bahwa Sehun adalah seorang dokter bedah yang bekerja di rumah sakit. Pria itu tengah menghadiri pernikahan salah satu kerabatnya ketika bencana itu terjadi.

“Dia akan baik-baik saja, waktu akan menyembuhkan lukanya.” Sehun lagi-lagi berkata.

Diam-diam, Runa pikir Sehun tidak hanya jadi seorang dokter bedah, tapi juga seorang psikolog. Atau memang semua dokter punya kemampuan untuk berbicara dengan baik untuk meringankan beban psikologis seseorang? Entahlah, Runa sendiri tidak tahu dengan pasti.

“Baiklah, kupikir aku harus memberi mereka beberapa kudapan kecil yang bisa menyenangkan hati.” Runa mengambil inisiatif.

Satu-satunya yang Runa ketahui dengan ahli adalah makanan. Dan jika sudah bicara perkara mental, Runa tidak bisa membantu banyak.

“Hmm, kau tahu dengan baik soal makanan.” Sehun berkata, seolah mengiyakan inisiatif Runa yang meski tidak Sehun katakan pun akan dilakukannya.

Akhirnya, Runa mengangguk-angguk pelan. Memilih untuk cepat pergi meninggalkan Sehun sebelum konversasi mereka berubah semakin ‘berat’ dan sulit Runa mengerti. Sementara itu Sehun juga kembali sibuk dengan resume mediknya, setelah selama beberapa menit atensinya direnggut oleh konversasi kecil bersama Runa.

Belum lama Sehun menyibukkan diri, dering ponsel dari saku celana pria itu terdengar menginterupsi. Ekspresi Sehun juga mendadak berubah, kaku. Pria itu lantas bergerak meraih ponsel kecil yang terselip di saku celananya, menatap sebaris angka di layar ponsel tersebut sebelum ia menekan tombol hijau dan menerima panggilan masuk ke ponsel tersebut.

“Ada apa?” tanya Sehun tanpa basa-basi. Cukup lama pria itu terdiam, sampai akhirnya helaan nafas terdengar lolos dari bibirnya, diikuti dengan putusnya sambungan telepon yang diterima Sehun.

Dengan ekspresi gusar, Sehun menatap layar ponselnya sejenak sebelum ia memasukkan benda mungil itu ke dalam sakunya lagi.

“Masalah apa lagi yang dia lakukan kali ini?” gerutu pria itu sembari melepaskan atensinya dari tumpukkan resume medis. Sehun kemudian memutuskan untuk bangkit, melepaskan jas putih yang ia kenakan sebelum ia bawa tungkainya melangkah keluar dari tenda.

 Sehun mengedarkan pandang sejenak, ditemukannya pemandangan janggal tidak jauh dari perbatasan aman yang ia tempati. Pria itu segera melangkah melalui jalan kosong di belakang tenda, menghampiri sebuah mobil gelap dan seorang pria yang berdiri dengan menyandarkan tubuh di kap depan mobil tersebut.

Sehun jelas mengenal pria itu, kelewat kenal, malahan. Dia dan pria itu—Byun Baekhyun, namanya—berasal dari tempat yang sama. Keduanya sama-sama menjadi pelarian dari negara asal. Tapi, Sehun bisa hidup dengan bebas karena bantuan dari pria itu—yang telah menyamarkan identitas asli Sehun sehingga pria itu bisa memakai identitas seorang Oh Sehun sekarang—dan kini, Sehun hidup dengan menutupi masalah yang diciptakan pria itu.

“Mengapa kau ada di sini, hyung?”

“Selamatkan seseorang untukku.”

“Apa?”

Baekhyun, menatap seorang pria berkemeja biru di depannya—yang kini menatap tidak mengerti. Menyadari bahwa penjelasannya tidak akan terdengar masuk akal di telinga lawan bicara, Baekhyun akhirnya menggeser tubuh. Mengizinkan lawan bicaranya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

“Bukan aku yang melukainya. Kutemukan dia hampir mati di Hongdae karena kecelakaan.” Baekhyun berucap.

“Oh Tuhan! Apa dia masih hidup?” lawan bicara Baekhyun berucap panik, lekas ia melangkah melewati Baekhyun, memeriksa keadaan wanita yang tubuhnya terbalut selimut di kursi penumpang mobil yang Baekhyun bawa.

“Dia masih hidup, kurasa. Kakinya patah, mungkin, tapi sudah kubalut dengan pakaianku. Luka terparah adalah perutnya.” Baekhyun menjelaskan, sementara ia melangkah mendekati lawan bicaranya dan wanita itu.

“Aku akan membawanya ke tenda.”

Baekhyun tersenyum.

“Aku tahu kau akan menolongku.”

Lawan bicaranya menatap tak senang. “Aku tak suka kalau kau sering datang ke sini, hyung. Seseorang mungkin akan mempertanyakan hubungan kita. Kau jelas-jelas terlihat seperti seorang mafia.”

Baekhyun hanya memutar bola mata jengah. Pria itu lantas melepaskan kalung yang ia kenakan, memasang benda tersebut di leher si gadis sementara jemarinya bergerak menyelipkan sebuah lipatan kertas kecil di celah sempit yang ada di kalung rantai dengan manik sebuah botol kaca mungil tersebut.

“Apa ini, kenang-kenangan? Ingat, hyung. Kau sudah punya istri.” lawan bicaranya memperingatkan, sementara ia memindahkan tubuh gadis itu dari kursi—ke dalam gendongannya.

“Aku hanya ingin memastikan, kalau kami tidak akan bertemu untuk ke-tiga kalinya dalam keadaan genting.” Baekhyun berucap ringan, ia melangkah mundur, memberi celah pada lawan bicaranya untuk melangkah menjauh.

“Lagipula, istriku sudah mati, Oh Sehun. Kulihat dia mati dengan mata kepalaku sendiri.”

Sejenak, Sehun terdiam. Dipandanginya Baekhyun seolah menunggu kepastian dari ucapan yang baru saja dengan santai terlontar dari pria tersebut.

“Dia mati?” tanya Sehun mengulang ucapan yang dipikirnya telah salah dicerna oleh otaknya yang begitu lelah.

“Ya. Aku melihatnya sendiri.” Baekhyun menekankan.

Mendengar ucapan Baekhyun sekarang, jelas sudah bagaimana kehidupan suami-istri—dimana keduanya adalah teman dekat Sehun—dan bagaimana kelanjutan hidup Baekhyun sekarang.

“Kupikir kau mencintai Reen dengan sepenuh hati. Tapi kau terlihat begitu santai saat memberitahuku tentang kematiannya—oh, aku turut berduka, omong-omong.” Sehun berkata.

Baekhyun, hanya tertawa kecil saat mendengar sindiran kental yang Sehun lontarkan. Pria itu bahkan bisa mengatakan ‘omong-omong’ saat ikut berduka atas kematian Reen—istri Baekhyun—seolah Sehun sebenarnya sudah lupa pada fakta bahwa wanita itu telah tiada.

“Dunia sudah merusak kemampuan kita untuk beremosi, bukankah begitu?” Baekhyun kemudian berucap. Perkataannya, berhasil membuat Sehun tersenyum kecil dan mengangguk mengiyakan.

“Dunia juga sudah mengubah kita menjadi monster mengerikan.” imbuh Sehun. Menyadari bahwa kehidupannya sebelum ia datang ke Seoul adalah sebuah neraka hidup.

Jika Baekhyun punya masa lalu sebagai seorang pembunuh, dan sekarang juga hidup sebagai pembunuh, maka Sehun punya kehidupan yang berkebalikan. Pria itu adalah yatim-piatu, kedua orang tuanya yang berasal dari Korea Selatan mati karena pembantaian massal ketika semua imigran dari Korea Selatan dianggap sebagai berbahaya.

Sehun tumbuh di lingkungan yang mengerikan. Ia menempuh pendidikannya di wilayah Utara dengan menjalani kehidupan yang mungkin tidak bisa dibayangkan oleh orang-orang. Hampir setiap hari di masa lalunya ia habiskan untuk melakukan pembedahan pada mayat dari musuh-musuh negara.

Bisa Sehun katakan, kalau Baekhyun telah menyelamatkannya. Membawanya pergi dengan sebuah berita kematian di Korea Utara sana sehingga Sehun tidak lagi diburu ketika dia ada di Seoul.

“Mengapa kau tidak meninggalkan dunia mengerikan itu, hyung?” tanya Sehun akhirnya, ia abaikan lengannya yang mulai lelah karena tubuh ringkih yang terluka dalam gendongan. Agaknya, Sehun sudah menyimpan pertanyaan itu cukup lama.

Baekhyun, menatap pria itu sejenak sebelum ia menyunggingkan sebuah senyum kecil.

“Bagaimana aku akan hidup jika kehidupan mengerikan ini kutinggalkan?” pertanyaan itu melahirkan pertanyaan lainnya di benak Sehun.

Entah bagaimana, di telinga Sehun, Baekhyun tampaknya begitu nyaman dengan kehidupan mengerikan yang sudah dijalaninya selama ini. Padahal, Sehun sudah meronta selama belasan tahun karena ingin pergi dari kehidupannya.

Memahami jalan yang ia dan Baekhyun pilih adalah jalan yang berbeda, Sehun akhirnya menghela nafas panjang. Hidup dengan cara mengerikan sudah jadi pilihan Baekhyun, Sehun pun tidak punya hak untuk ikut campur.

“Baiklah kalau itu memang maumu.” Sehun menyerah.

Baekhyun kemudian tertawa pelan, berdeham sebentar sebelum ia kembali buka mulut. “Kupikir dia mungkin punya keluarga yang ada bersamamu sekarang.” ucapnya, menuturkan tentang keadaan yang dimiliki wanita dalam gendongan Sehun.

“Keluarga?” ulang Sehun.

“Ya. Kalau tidak ada denganmu, maka bantu dia sedikit untuk menemukan keluarganya, Sehun-ah. Oh, nama wanita itu adalah Wang Jia-yi.” seketika pandangan Sehun melebar. Ingatannya mungkin cukup lemah saat diminta untuk mengingat wajah seseorang, tapi tidak dengan nama.

Jelas saja nama itu pernah didengarnya—setidaknya ada nama yang serupa.

“Kau benar, dia punya keluarga di sini. Kalau begitu sampai bertemu lagi, hyung.” Sehun akhirnya berucap, tanpa menunggu jawaban apapun dari Baekhyun, pria itu melangkah pergi.

Ia tahu, Baekhyun pasti masih akan menemuinya. Sehun cukup yakin ada yang aneh dengan munculnya Baekhyun yang begitu tiba-tiba, dengan membawa seseorang untuk diselamatkan, pula.

Baekhyun bukan tipikal pria baik hati yang suka menyelamatkan nyawa orang lain demi mendapat gelar penyelamat. Pria itu adalah psikopat, dalam benak Sehun. Dia adalah maniak. Kematian orang lain adalah hal yang menyenangkan baginya. Apalagi menonton kematian orang lain, sudah bisa Sehun pastikan kalau Baekhyun akan sangat menikmatinya.

Tapi ada apa dengan pria itu kali ini? Mengapa dalam pandangan Sehun, pria itu seolah begitu ingin wanita yang ada di gendongan Sehun sekarang, selamat?

Omo!”

“Astaga!” beberapa pekikan menyambut Sehun sekembalinya ia dari pertemuan tertutup dengan Baekhyun tadi.

“Runa, siapkan satu tempat kosong.” titah Sehun ketika ditangkapnya Runa tengah melangkah ke arahnya dengan sebuah nampan berisikan beberapa piring kosong di tangan.

“Oh, baiklah!” lekas Runa meletakkan nampan yang dibawanya, mengelap tangannya yang basah di bagian belakang celana jeans biru tua yang ia kenakan sebelum gadis bermarga Kwon itu melangkah mengekori Sehun yang berjalan tergesa-gesa.

Runa belum sempat bertanya tentang siapa wanita yang Sehun bawa, atau darimana asalnya, dimana Sehun menemukannya—tidak, Runa bahkan tidak sempat buka mulut saat gadis itu bergerak mengosongkan sebuah bed untuk ditempati si gadis.

Sehun sendiri tampaknyaenggan bicara, ia segera membaringkan wanita itu di atas bed, membuka balutan selimut kotor yang menutupi tubuh wanita tersebut dan—

“Astaga!”

—tentu saja Sehun sudah bisa menduga keadaan bagaimana yang akan menyambutnya.

Masih memilih untuk bungkam tentang identitas wanita tersebut, Sehun akhirnya meraih jas putih kebanggannnya, mengenakan benda tersebut sebelum ia melemparkan pandang ke arah Runa yang masih berdiri termangu.

“Siapkan perlengkapanku, Runa. Aku akan punya satu operasi besar lagi malam ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kalian sudah saling mengenal dekat, ya?”

Runa menoleh saat didengarnya seorang gadis bertanya. Well, Runa tidak ingat siapa nama gadis itu—atau apa mereka pernah berkenalan sebelumnya?—karena di tempat ini, semuanya seolah membaur.

Tidak ada si miskin atau si kaya, si jelek dan si cantik atau tampan. Oh, bicara soal tampan, Runa coret kata itu sebagai pengecualian. Ingat, bahwa dia sekarang tengah terjebak menjadi satu-satunya orang yang cukup dekat dengan pria yang pikir Runa paling tampan di tempat antah berantah ini, Oh Sehun.

“Aku dan Sehun?” tanya Runa dijawab si gadis dengan anggukan pelan.

“Tidak juga.” Runa menjawab, “Dia hanya suka menyuruhku melakukan ini-itu dan marah-marah tanpa alasan yang jelas.” sambungnya membuat gadis itu terkekeh geli.

Memang, Runa dan Sehun lebih terlihat seperti sepasang kakak-adik yang begitu sering berdebat dan sama-sama tidak mau mengalah, tapi ketika salah satunya hilang, mereka justru saling mencari.

“Kalian sungguh menggemaskan, seperti sepasang kekasih.”

Sialan, Runa sekarang dengan senang hati memasang ekspresi datar. Meskipun Sehun memang tampan—Runa akui itu karena dia tak mau dikatakan rabun atau sejenisnya kalau tidak mengakui kata ‘tampan’ sebagai frasa yang tepat untuk menggambarkan seorang Oh Sehun—tapi tetap saja, perumpamaan ‘seperti kekasih’ terlalu jauh bagi Runa.

“Jangan bercanda. Kau tidak tahu saja bagaimana Sehun kalau sudah marah, atau kesal—apalagi lapar. Dia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat mengganggu.”

Gelak tawa kemudian sejenak mendominasi. Sebelum akhirnya gadis di sebelah Runa sadar kalau Runa tidak sedang bercanda tentang ucapannya.

“Baiklah, dia memang terlihat menyeramkan karena jarang tersenyum. Oh, lalu bagaimana dengan wanita yang tadi diselamatkannya entah dari mana itu?”

“Ah, Woman from Nowhere itu?” Runa tiba-tiba saja menyeletukkan sebuah julukan. Dia ingat, dulu pernah ada film dengan judul yang serupa dengan perumpamaannya sekarang, tapi sikap bungkam Sehun tentang identitas wanita itu cukup menganggunya.

“Ya, bukankah dia punya saudara di sini?”

“Hmm… murid sekolah yang depresi sejak tempo hari adalah adiknya.”

“Wah! Dunia yang begitu sempit. Syukurlah kalau ada keluarga kecil yang bisa berkumpul di tempat ini. Bukankah begitu?” tanya gadis di sebelah Runa.

Ya, memang. Bagi siapa saja, kebetulan semacam ini sangat masuk akal. Tapi tidak bagi Runa. Dia ingat bagaimana murid sekolah tersebut—seorang gadis bernama Wang Jin-yi—bercerita tentang saudaranya yang ada di Hunan, bagaimana dia bersekolah di Seoul tanpa pernah berkomunikasi dengan keluarganya di Hunan sana.

Dan sekarang, seorang wanita tiba-tiba saja muncul dari antah berantah, mendadak menjadi orang asing yang tersasar di Seoul dan ditemukan oleh Sehun tanpa pria itu mau mengatakan pada siapapun tentang dimana dan bagaimana dia bisa menemukan si wanita.

Terlebih lagi, wanita itu adalah saudara dari remaja yang mengutarakan rasa depresinya karena merasa telah diabaikan oleh keluarganya.

Bagaimana bisa Runa percaya begitu saja pada sebuah ‘kebetulan’ semacam ini?

Akhirnya, Runa tersenyum kecil. Netranya menangkap bagaimana Sehun tengah melangkah ke arah tenda—tenda yang sengaja dimintanya untuk ditempati oleh satu orang saja, si wanita dari antah berantah itu—dengan seorang gadis yang mengekor di belakangnya. Pemandangan itu akhirnya memancing bibir Runa untuk bergerak membentuk satu kalimat menyindir.

“Kebetulan sekali, benar bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Bagaimana bisa kau ada di sini?”

Konversasi itu sengaja Sehun curi-dengar, ia berpura-pura merawat luka si wanita bermarga Wang yang beberapa jam lalu siuman dan sekarang tengah menghabiskan waktu untuk bicara dengan saudarinya.

“Aku menyusulmu, tentu saja.” wanita itu—Wang Jia-yi—menjawab dengan suara parau. Sejak tadi dia sibuk menangis, merasa tak percaya lantaran bisa menemukan sang adik yang eksistensinya sempat ia pasrahkan pada Tuhan.

“Kenapa? Dad tidak tahu?” tanya Jin-yi, sekuat tenaga berusaha menahan tangis karena gadis itu sendiri sudah lelah menangis.

Berhari-hari ia lalui dengan ketakutan akan kesendirian. Dan tiba-tiba saja tadi Sehun bertanya padanya soal siapa nama saudarinya, mengatakan kalau saudarinya sekarang ada di tempat yang sama dengan Jin-yi hingga gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari sang kakak.

“Mana mungkin Dad tahu? Kalau dia tahu pasti kita sudah dibawa kembali. Lagipula, mana ada kakak yang meninggalkan adiknya sendirian?” tanya Jia-yi, jemarinya sibuk mengusap surai gelap milik Jin-yi, seolah sudah belasan tahun berlalu sejak terakhir kali dia melihat saudarinya itu.

“Terima kasih…” lirih Jin-yi, lagi-lagi air mata hendak menerobos keluar pertahanan si gadis kalau saja Jia-yi tidak segera menahannya.

“Aku sudah melewati beberapa lubang neraka untuk menemukanmu.” Jia-yi berucap, menguatkan sang adik kalau dia telah melalui hal yang lebih buruk lagi dan bahkan tak bisa Jin-yi bayangkan.

“Ya, ya, aku percaya. Tentu saja melihat keadaanmu sekarang membuatku percaya.” Jin-yi berucap. Meski usianya masih belia, ia tidak tumbuh untuk jadi seorang gadis kekanak-kanakkan yang mudah menangis.

Jin-yi sudah jadi satu-satunya murid yang tidak menangis ketakutan saat gempa menghancurkan sekolah mereka. Dan melihat bagaimana sekujur tubuh saudaranya memar dan bahkan terluka, Jin-yi tahu kalau Jia-yi sudah melewati hal yang lebih mengerikan.

“Bisa aku bicara dengan adikku, berdua saja?” sebuah pertanyaan kemudian Jia-yi utarakan pada Sehun yang sedari tadi memilih untuk menjadi pendengar dalam diam.

“Ah, tentu.” Sehun berucap, ia letakkan perlengkapan medisnya di atas meja sementara maniknya mengawasi. Pendengarannya tak akan selip satu-dua kata yang akan dua saudara itu ucapkan meski dia tidak lagi ada di ruang yang sama, tentu saja.

“Aku akan menunggu di luar. Nona muda, ingatlah kalau saudaramu masih terluka cukup parah dan butuh perawatan segera.” Sehun mengingatkan kalau waktu yang Jia-yi dan Jin-yi miliki untuk bicara, tidaklah banyak.

Pria itu kemudian melangkah keluar tenda, meninggalkan dua gadis itu di sana.

“Apa gempa belum terjadi di sini?” tanya Jia-yi.

“Gempa? Tidak ada gempa di sini.” Jin-yi berucap.

“Belum. Itu artinya belum. Bukankah bangunan megah di belakang sana itu arena permainan terkenal yang pernah kau ceritakan?” tanya Jia-yi, teringat pada cerita Jin-yi bertahun lalu saat gadis itu masih kecil, tentang bagaimana dia begitu ingin datang ke arena permainan di Seoul yang begitu megah—dan sekarang bangunan itu ada di belakang tenda tempat mereka bernaung.

“Ya, memang benar Lotte World ada di sini. Tapi mengapa tiba-tiba bicara tentang gempa?” Jin-yi bertanya tak mengerti.

Jia-yi menarik dan menghembuskan nafas panjang sebelum bibirnya kembali membuka.

“Tempat ini berbahaya. Semua tempat mewah di Seoul pasti akan hancur karena gempa. Tempat ini sangat berbahaya, Jin-yi. Kita tidak tahu kapan gempa itu akan terjadi, atau siapa saja yang tahu tentang hal ini, tapi berada di sini hanya akan membuat kita berjudi dengan nyawa sebagai taruhan.”

Masih berkemelut dengan kebingungan, Jin-yi mengerjap pelan.

“Dan apa maksudnya itu?” tanyanya membuat Jia-yi menghela nafas.

“Kita harus pergi dari sini, Jin-yi. Jika tidak, kita berdua akan mati.”

Jin-yi menatap saudarinya dengan pandang tak percaya. Penuturan Jia-yi saja masih terdengar begitu tak masuk akal dalam pendengarannya—tentang bagaimana Jia-yi berspekulasi kalau semua tempat bagus di Seoul akan hancur—dan sekarang dia sudah dihadapkan pada fakta tentang bagaimana dirinya harus pergi padahal dia masih tidak percaya kalau Jia-yi benar-benar ada di sini?

“Lalu bagaimana dengan mereka? Yang lainnya? Kita akan biarkan mereka semua mati? Maksudku, kalau benar-benar ada gempa, mereka akan mati.”

Pertanyaan itu membekukan Jia-yi. Separuh batinnya jelas berkata bahwa dia harus pergi dari tempat ini. Tidak ada tempat yang cukup aman di Seoul, dalam pandangannya. Dulu, dia mungkin tidak punya pilihan karena tidak ada Jin-yi.

Tapi bagaimana dengan sekarang?

Dan juga… haruskah Jia-yi menekan keinginannya untuk menolong semua orang demi keinginannya sendiri untuk selamat bersama Jin-yi?

please wait for the next story: Hol(m)es in Songpa-gu (2)

Irish’s Note:

Kemarin, sempet ada keinginan buat nge-skip ulang tahun Mas Sehun karena kesibukan di dunia kerja yang bener-bener semakin padat merayap udah kayak jalanan sempit di tengah pasar malem.

Tapi berhubung diriku inget kalau Sehun itu cinta pertama di EXO, jadi enggak tega mau nge-skip ulang tahunnya begitu aja dengan enggak berperasaan. Ya… takut kualat, gitu. Jadinya, malem ini dengan melawan asam lambung dan melawan diare, diriku berusaha mengetik semaksimal mungkin.

Aduh, rekan kolabku ~ Nida… belum bisa ikut andil di part ini karena keegoisanku T.T mianek… Sesungguhnya aku juga agak-agak berat hati mau ngerjain Sehun ini, sebab waktu tiga jam yang dipake ngetik epep buat Sehun bisa jadi golden-time buat tidur, gitu (efek berkali-kali tidur tiga atau empat jam doang sehari karena kerjaan, syit) tapi berhubung semua siksaan berlabel kerja ini bakal berakhir di pertengahan Mei, jadi harus… dan wajib… diselesein.

Yaampun, apa kabar sama projek Baekhyun bulan Mei nanti T.T masa iya kudu batal gegara berhari-hari ke depan bakal aku habisin dengan menginep di tempat kerja? Aduh, hamdallah diriku sudah antisipasi, gitu. Jadi besok bulan Mei sudah ada yang nemenin. Mei penuh Baekhyun dariku ~ WKWK.

Oke, sekian dariku. Kalian besok berlibur tapi besok diriku dateng ke tempat kerja dan ngelembur… kejamnya duhai dunia kerja. Sampe-sampe UN dulu kalah serem sama tumpukan pekerjaan yang seringkali bikin meja penuh tumpukan kertas sampe pemilik mejanya tenggelem.

Salam kecup, Irish! Happy Easter Day!

Iklan

20 pemikiran pada “[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SONGPAGU — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: [LUHAN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in DONGDAEMUN — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [LUHAN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SONGPAGU (2) — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. jadi ini ceritanya aku udah baca cuman langsung cus ngetik dan aku kelupaan kan bangke wkwkwkw kakiris pasti mengerti keadaanku /dasar sok jadi korban/ /kayang/
    TAU GAKSIH AKU GEMES BAYANGIN SEHUN JADI DOKTER, BANGKE EMANG 😦 AKU KUDU BACA HOLMES 😦 MAU DARI AWAL 😦
    pertamanya aku bayangin runa sama sehun kek kerja sama sama gitu THAT SO SO, NEK AKU PASTI KERJAANNYA GAKBENER, MENDING LIATIN SEHUN AE AH APALAGI JADI MAS DOKTER BEDAH :3
    WES WES AH KUMENUNGGU PENISTAAN KAKIRIS POKOKNYA WKWKWKWKW NTAP SOUL
    MUWAH

    • XD ini the power of kepepet Nid namanya wkwkwkwkwkwk XD ini sehun jadi apapun cucok ya, jadi saikopat aja cocok apalagi jadi dokter XD wkwkwkwkwkwkwk

  4. Huft, mgkin udh sekitar sebulan aku udh gk baca ff lagi, sama kyak kk irish, dunia sana bener bener menguras tenaga wkwk

    Huaaa aku suka, kek baca novel terjemahan gitu, aku langsung baca chapter ini loh wkwk, nanti aku bacanya dri awal tpi mau sempetin komen dlu abisnya ceritanya keren banget, akunya blum dapat ff kek gini, very very fresh from oven heh

  5. Reen masih ada di sini, sudahlah Baek, aku sudah muak sama kamu. Istri sudah mati aja gak ditangisin, huh. /ngomelsendiri
    betewe iriseu get weel soonnnnn.. sini peyuk duluu..
    Terus happy easter jugaaa!!
    Betewe kalo hari jumat agungnya disebut happy good friday, yg happy easter tuh hari minggu ini tanggal 16 aprilnyaa.. >.<
    tapi ya ndakpapa sama aja wkwkwk..

  6. Ya Allah kak irish gws. Setidaknya kak irish mau nyelesein project sehun aja udah bersyukur kok. Semoga kak nida bisa ikut di selanjutnya ya.

    Ini udah makin gereget ya Tuhan
    Jiayi pergi atau tetep stay? Mereka kalo mau egois ya pergi, kalo gak ya di situ tapi pertanyaannya… kalo mau nyelematin yang lain gimana? Ngelawan petinggi negara macem bapaknya alessa? Sama aja mati heung

    Beidewei itu runa-sehun lucu ya hubungannya, siapa itu yg ngmg mereka kek kekasih wkwkwkwk leoceohnya XD XD

    Last, happy late sehun’s day sama get well soon kak irish ❤

  7. Cemungut rish 💪 u’re not d’only 1 yg msk krj di hr lbr nasional ini 😞
    백훈 ada di 1frame gini jd kangen ff code name liv 😊
    Cewe yg ngobrol ma runa tu sp? Elsa kah? Cz bntr lg giliran luhan yg besdei.
    Mksh dah nyempetin u/ ngga ngskip part sehun di hol(m)es ☺ u’re amazing rish! Kunanti andil nida u/ nex part’ny..

    • T.T DIRI KITA KEKNYA KESIKSAH KETIKA TANGGAL MERAH ATO LIBUR JAMAAH HARUS MASUK DEMI LEMBUR T.T SEDIH… wkwkwkwkwkwk aduh duh, ini kuinget HunBaek kerjasama di sini ya XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s