[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Lips x Lips (Oneshot) – Shaekiran ft. Shiraayuki

Lips x Lips.jpg

Lips x Lips

A Fanfiction by Shaekiran ft. Shiraayuki

Dedicated for Oh Sehun’s Birthday

[ EXO’s Sehun, OC’s Bae Inara

AU, Romance, School life

PG-17 | Oneshot ]

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Warning, typos bertebaran.

Happy reading!

 

Nara-ah, boleh cium?

 

In Author’s Eyes

 

Matahari nampak bersinar terik di langit Seoul. Terbukti dengan begitu banyak bulir keringat yang mengalir di kulit meski hari masih menunjukkan pukul 9 pagi. Hari panas tak melunturkan niat lelaki itu untuk pergi ke kelas sebelah karena kelasnya yang kebetulan jam kosong. Namanya Oh Sehun, dan sekarang ia ingin pergi ke kelas pacarnya; Bae Inara.

Sehun tersenyum-senyum tipis di depan kelas pacarnya itu. Inara bukan tipe gadis yang pintar, terbukti dengan Sehun yang menangkap basah gadisnya itu tengah terlelap di atas meja padahal Na-ssaem tengah asyik menerangkan ikatan kovalen di papan tulis.

“Nara-ah, pacarmu datang,” Inara mengerjap saat Yara—teman sebangkunya Inara—menepuk-nepuk pelan bahu gadis itu yang tengah asyik menyelam dunia mimpi. Inara membuka matanya perlahan ketika Yara menyebut-nyebut nama pacar yang itu artinya ada Sehun sang pujaan hatinya.

“Ma—mana?” tanya Inara sambil mengelap ujung bibirnya yang basah karena liur. Yara segera menunjuk ke arah pintu kelas, dan dalam hitungan detik Inara sudah bersitatap dengan Sehun. “Ah, kenapa pacarku tampan sekali?” batin Inara karena Sehun kini melambai-lambaikan tangannya ke arah gadis itu.

“Bae Inara! Apa yang sedang kamu lihat di luar kelas?!” bentak Na-ssaem tiba-tiba yang membuat Inara dengan cepat menarik bukunya dan pura-pura tengah membaca materi.

“Anu ssaem, itu….aku tidak….mmm….” Inara kehabisan kata-kata, pun teman sekelasnya kini menahan tawa karena Inara terpergok tengah beradu pandang dengan Sehun—pangeran kelas sebelah.

Alhasil, Na-ssaem akhirnya bergerak ke arah pintu dan menutup pintu kelas itu rapat-rapat. Untung saja Sehun sudah kabur duluan sebelum guru Kimia itu datang dan menutup pintu, kalau tidak Sehun mungkin sudah tertangkap basah.

Ting!

Inara melirik ponselnya yang baru saja bergetar di dalam laci. Untung saja gadis itu ingat mengubah mode ponselnya menjadi mode getar saja pagi ini. Sebuah senyum pun terlukis jelas saat melihat 2 buah pesan yang masuk ke akun Line-nya. Pesan apalagi kan yang bisa membuat Inara tersipu-sipu kalau bukan dari seorang Oh Sehun?

Sayangku :*
Jangan tidur di kelas. Na-ssaem benar-benar galak. 
Sayangku :*
Temui aku di kantin, arraseo?

Dan dengan gerakan cepat Inara pun mengetikkan pesan balasan pada Sehun,

Ne, aku akan menemui di tempat biasa :*

 

 

“Maaf Hun-ah, Na-ssaem memberi banyak tugas jadi aku—“

“—Sudahlah, aku juga baru datang. Sini, duduk di sebelahku,” potong Sehun cepat sambil menepuk-nepuk bangku di sebelahnya, dan Inara pun hanya tersenyum simpul sambil duduk di sebelah Sehun.

“Ah, kau semakin kurus. Tidak makan, huh?” tanya Sehun lagi saat gadisnya itu sudah duduk manis sambil memandanginya dengan menopang dagu. Inara menggeleng, “Sedang diet,” jawabnya cepat sambil terus memandang Sehun yang menurut Inara adalah manusia tertampan yang pernah ia lihat. Yah, bagaimana tidak, Inara tergila-gila pada seorang Oh Sehun.

Sehun pun hanya mengerucutkan bibirnya, “Bulgogi ini enak Inara, kau benar-benar tidak mau makan?” tanyanya lagi karena gemas Inara hanya memandanginya sedari tadi. Namun lagi-lagi Inara hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Kenapa kau terus memandangku, huh? Ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Sehun, dan Inara langsung mengangguk setuju. “Ya, ada yang aneh.”

“Apa?” tanya Sehun kaget. Wajar saja, Sehun adalah tipe perfeksionis yang selalu mementingkan penampilan. Dan sekedar informasi, Sehun ingin selalu terlihat sempurna di depan seorang Bae Inara, kekasihnya itu.

“Kau terlalu tampan, Oh Sehun,” jawab Inara sambil menyeka ujung bibir Sehun yang belepotan saus bulgogi yang seketika membuat pipi Oh Sehun bersemu merah. Ah, ini yang kadang dikhawatirkan Oh Sehun. Kenapa dia yang bersemu merah dan bukannya Inara? Harusnya Inara makan saja sehingga Sehun bisa modus menyentuh ujung bibir Inara seperti yang tengah gadis itu lakukan padanya sekarang. Astaga, Inara benar-benar tidak peka kalau Sehun ingin romantis-romantisan dengan kekasihnya itu.

Kesal, Sehun akhirnya balik menyentuh ujung bibir Inara yang bersih dan mengusap-usapnya perlahan. Blushhh. Seketika pipi Inara juga bersemu merah.

“Ke—kenapa?” tanya Inara bingung dicampur malu. Bayangkan saja, seisi kantin kini melirik ke arah mereka berdua sekarang ini yang tengah duduk di sudut pojok arena kantin. Inara meneguk ludahnya kasar, menebak-nebak apa yang ingin dilakukan Sehun setelah ini.

“Nara-ah, boleh cium?” tanya Sehun sambil menatap lurus mata gadisnya yang kini mulai gelagapan. Tanpa menunggu jawaban Inara, Sehun kini memajukan badannya dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir sang gadis. Sehun mulai memejamkan matanya, membayangkan kalau sebentar lagi bibirnya bisa merasakan betapa manisnya bibir milik sang kekasih yang sudah lama ia—

Brukk.

“Ah,” aduh Sehun sambil menyentuh bahunya yang baru saja terbentur tembok kantin. Sehun membuka matanya, lalu menatap Inara yang kini tengah menggigit bibir bawahnya dengan wajah semerah kepiting rebus.

“Ma—maaf Sehun-ah, aku….aku….masih ada tugas yang belum di—dikerjakan,” gagap Inara sambil bangkit berdiri dan membuang muka dari pandangan kekasihnya yang tampan itu.

“A—aku…a—ku ke kelas dulu…” lanjut Inara sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kantin. Awalnya Inara hanya berjalan pelan, namun perlahan langkah biasa gadis itu berubah menjadi lari secepat mungkin yang gadis itu bisa. Ayolah, Inara benar-benar malu sekarang ini. Keinginannya sekarang hanyalah ingin melarikan diri dari Sehun bagaimanapun caranya.

Sehun memandang kepergian Inara dengan berbagai macam tatap. Lelaki itu mendengus, lalu mulai mengacak-acak rambutnya dengan kasar. “Lagi?” batinnya kesal karena lagi-lagi Inara melarikan diri dari adegan ciuman mereka berdua.

Ayolah, Inara dan Sehun sudah menjadi sepasang kekasih selama hampir satu setengah tahun dan mereka berdua sudah mengenal baik satu sama lain sebelum ini karena komplek rumah mereka yang tergolong dekat, tapi Sehun sama sekali belum pernah mencium bibir gadis itu. Sebagai lelaki normal tentunya Sehun ingin merasakan bagaimana manis bibir milik gadisnya, masalahnya Inara selalu melarikan diri tiap kali Sehun mau mencium gadisnya itu entah kenapa. Sungguh, Sehun frustasi dengan semua sikap melarikan diri dari sang gadis.

“Memangnya bibirku ini beracun? Ayolah, aku hanya ingin mencium bibir kekasihku!” rutuk Sehun lagi sambil mengacak rambutnya dengan gemas.

 

 

“Tugasmu sudah selesai?” tanya Sehun sambil menggengam erat jemari Inara yang sekarang tengah bertaut dengan jarinya. Oh, untung saja gadis itu mau berpegangan tangan, kalau tidak Sehun mungkin sudah gila karena tidak bisa bersentuhan fisik dengan kekasihnya.

“Hm, sudah.” jawab Inara berbohong karena sebenarnya dia tidak punya tugas apapun tadi. Inara hanya pergi ke kamar mandi dan membasuh muka karena malu, tugas apanya? Inara hanya melarikan diri dari Sehun, maksudnya dari bibir Sehun.

“Mau mampir sebelum pulang?” tanya Sehun lagi dan Inara dengan cepat menggeleng. “Tidak, aku mau pulang saja,” jawab gadis itu yang seketika membuat raut kecewa Sehun terpampang jelas. Padahal Sehun ingin mengajak gadis itu pergi ke café, tapi Inara selalu menolak. Kenapa lagi? Tentu saja karena café tujuan Sehun adalah café pasangan dan adegan cium-mencium sangat umum dilakoni di café itu. Inara benar-benar takut kalau Sehun nanti memaksanya untuk berciuman. Membayangkannya saja Inara sudah bergidik ngeri.

“Baiklah, ah, kau benar-benar anak yang rajin,” kata Sehun sambil naik ke atas sepedanya, diikuti Inara yang kini juga naik ke boncengan sepeda putih milik Sehun. “Rajin apanya? Kalau aku rajin nilaiku pasti di atas rata-rata dan masuk sepuluh besar kelas,” sanggah Inara sambil mengerucutkan bibir.

“Sudahlah, lupakan. Cepat pegangan, jangan salahkan aku kalau kau jatuh dari sepeda karena tidak memelukku dengan erat,” kekeh Sehun kemudian karena sekarang Inara sudah memeluk pinggangnya dengan erat. Sekon selanjutnya Sehun sudah mulai mengayuh sepeda putihnya dengan begitu cepat meski tungkainya mati rasa. Senyum Sehun mulai mengembang saat ia merasakan pegangan di pingangnya semakin erat. Ah, ia suka ini. Tidak apa meski kakinya mau patah karena mengayuh seperti orang gila, yang penting ia bisa merasakan sentuhan kekasihnya itu di pinggangnya.

Seperempat jam kemudian Sehun sudah menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah bertingkat dua berwarna dominan putih —rumahnya Inara. “Kita sudah sampai,” ucap Sehun sambil turun dari atas sepeda dan menyenderkan sepedanya itu ke gerbang rumah Inara. Sehun memang suka Inara berpegangan erat pada pingangnya saat ia mengayuh sepeda begitu kencang, namun ia juga tidak suka karena dengan begitu waktu perjalanan mengantar pulang Inara menjadi semakin cepat. Bukankah Sehun menjadi serba salah?

“Aku masuk dulu,” pamit Inara sambil membuka gerbang rumahnya, namun Sehun tiba-tiba menahan gerakan gadis itu. Sehun menggengam kedua tangan Inara dengan erat.

“Nara-ah, boleh cium?”

Inara meneguk ludahnya kasar saat mendengar pertanyaan yang sama lagi dari mulut Sehun. Rasanya, jantungnya mendesak keluar ketika Sehun mulai memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya ke wajah Inara. Gadis itu meremas tangan Sehun yang sekarang tengah menggengam tangannya erat, mulai memejamakn mata dan pasrah bibirnya akan dicium Sehun. Namun saat bibir mereka hanya tinggal berjarak beberapa senti lagi, Inara tersadar, lalu segera menjauhkan diri dari Sehun dengan paksa.

“Ah, Sehun-ah…lain kali ya? Eomma sepertinya di rumah,” bohong Inara karena Sehun pun tau kalau Nyonya Bae baru pulang ke rumah sekitar 2 jam lagi. Sehun menggigit bibir wajahnya, lalu tersenyum kaku pada Inara yang kini kembali membuka gerbang rumahnya.

“Nara-ah,” panggil Sehun lagi, namun kali ini Sehun tidak menggenggam tangan Inara. Malah lelaki bermarga Oh itu kini memangku kedua tangannya di depan dada.

“Ada apa Sehun?” tanya Inara masih gugup, takut Sehun mengatakan ‘Nara-ah boleh cium’ lagi untuk ketiga kalinya hari ini.

“Kau benar-benar menyukaiku?” tanya Sehun sambil menatap gadisnya tajam. Inara benar-benar gelagapan saat Sehun menanyakan itu padanya. Ayolah, apa sekarang Sehun meragukan gadis itu karena tidak mau berciuman dengan Sehun?

“Bicara apa sih Hun, ah.. tentu saja aku menyu—“

“—Kalau kau menyukaiku, boleh minta cium?” Inara terdiam, mulai kehabisan kata-kata.

Melihat Inara yang hanya diam tanpa membalas ucapannya lagi, Sehun terkekeh. Ia mengacak rambutnya kasar, lalu segera meraih sepedanya yang tadi ia senderkan ke dinding pagar rumah Inara.

“Aku pergi,”pamit Sehun tiba-tiba sambil mengayuh sepedanya secepat mungkin. Sehun tidak peduli lagi dengan kebiasannya menunggu Inara masuk ke dalam rumah baru ia akan mengayuh sepeda untuk pulang ke rumah. Ia tidak peduli lagi dengan aksinya melambaikan tangan pada gadis itu yang sudah masuk ke kamarnya di lantai 2 sebelum pulang ke rumahnya sendiri. Sehun sudah tidak peduli. Ia hanya terlalu kecewa pada gadis bermarga Bae yang merupakan kekasihnya itu.

Jika Sehun pergi mengayuh sepeda untuk pulang ke rumah dengan emosi, maka Inara sekarang hanya bisa terdiam di depan gerbang rumahnya sendiri. Gadis itu kemudian berjongkok, lalu menenggelamkan wajahnya di atas paha sambil menangis. Inara tahu Sehun sedang marah padanya sekarang. Inara tahu Sehun pasti mau seperti lelaki seusianya yang lain yang berciuman dengan kekasihnya. Inara tahu Sehun kecewa padanya. Inara tahu kalau ini semua salahnya karena tidak pernah berani berciuman dengan Sehun. Ia tahu pertengkaran pertama mereka selama ini semua gara-gara seorang Bae Inara.

Ya, andai saja Inara bisa sedikit berani dan agresif, mungkin Sehun tidak akan marah. Andai saja Inara mau dicium, Sehun tidak mungkin kecewa padanya. Ya, andai saja Inara seperti gadis kebanyakan yang berciuman dengan kekasihnya, mereka berdua pasti akan baik-baik saja.

 

 

“Kau kenapa?” tanya Yara sambil memeluk teman sebangkunya itu. Memang, setelah pertengkarannya tadi Inara langsung menghubungi Yara dan menyuruh gadis Lee itu agar datang ke rumahnya. Tau-tau Lee Yara malah mendapati sahabatnya itu tengah menangis sesegukan di kamar. Tentu saja Yara menjadi khawatir kalau saja terjadi apa-apa pada Inara.

“Kau bertengkar dengan Sehun?” tebak Yara lagi yang segera diangguki iya oleh Inara yang masih menangis.

“Kenapa kalian bertengkar?” selidik Yara lagi sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. Inara akhirnya mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tenggelamkan di atas paha, lalu menyentuh bibirnya.

“Kalian bertengkar karena bibir? Ah, jangan bilang Sehun marah karena kau menolak berciuman?” tebak Yara lagi yang lagi-lagi tepat sasaran. Inara mengangguk, lalu mengelap air matanya kasar.

“Yara-ah, tolong ajari aku caranya berciuman.”

“Eh?” pekik Yara bingung dengan permintaan sahabatnya itu. Inara lantas menatap Yara dengan harap, “Aku tidak mau Sehun marah. Jadi tolong ajari aku cara-cara berciuman yang baik.”

Yara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Astaga, Sehun benar-benar sudah merebut kepolosan seorang Bae Inara!” pekik Lee Yara dalam hati, mulai merutuki Sehun karena sudah membuat sahabatnya yang menangis hanya gara-gara masalah ciuman.

“Jadi, kau mau mulai belajar dari mana? Dari ciuman polos atau yang ratingnya di atas 21+?” tanya Yara kemudian sambil menaik-naikkan kedua alisnya. Astaga, Yara bahkan lebih tidak polos lagi.

“Hm, yang bisa membuat Sehun tidak marah lagi ciuman yang mana?” tanya Inara dengan polosnya, membuat Yara seketika geli sendiri. Yara menyentuh bahu Inara pelan, lalu tersenyum tipis, “Kalau kau membuat Sehun senang, kau harus belajar cara ciuman sambil membuka baju. Mau ku ajarkan yang itu Bae Inara?”

 

 

Eomma, aku pulang!” pekik Inara keras sambil naik ke lantai 2. Ibunya yang sedang asyik memasak makan malam di dapur hanya menjawab iya, sementara Inara kini memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa. Bisa gawat kalau ibunya tahu dia baru saja menghabiskan uang untuk membeli barang-barang semacam ini.

Dengan cepat Inara kemudian mengunci pintu kamarnya, lalu segera mengeluarkan laptopnya. Inara meraih kantungan kresek yang baru saja ia beli, lalu mengeluarkan puluhan DVD yang baru saja ia beli tadi.

“Belajarlah dari drama. Nonton banyak drama yang ada adegan kissing-nya, arraseo?”

Yosh! Mulai sekarang aku akan marathon drama!” tekad Inara sambil mem-play DVD pertama yang akan ia tonton hari ini. Sesuai saran Yara, Inara akan belajar dari adegan kissing yang ada di drama-drama. Bukankah gadis itu benar-benar bertekad bulat?

“Bae Inara, makan malam!” teriak ibu Inara dari bawah. Inara melirik jam dinding di kamarnya, sudah jam 8 malam. Astaga, itu artinya dia sudah menonton selama 4 jam ‘kan?

Ne, eomma!” jawab Inara setengah berteriak meski nyatanya ia masih bergelut dengan layar sekian inchi di depannya. Dengan modal headshet di telinga, mata yang tak pernah berkedip menatap layar, dan jari yang sedari tadi men-skip adegan drama hanya ke bagian kissing scene, Inara kembali bergelut dengan tekadnya belajar menjadi pencium yang handal.

Astaga, apa ini?” batin Inara sambil menutup mulutnya sendiri karena takut keceplosan berteriak dan membuat sang ibunya curiga. Inara meneguk ludahnya kasar ketika matanya kini menatap isi layar yang menampakkan pemandangan dimana 2 orang pria dan wanita saling bertarung lidah dan berlomba memagut. Inara makin ngeri sendiri saat sekarang adegan beralih menampilkan pasangan itu kini masuk ke dalam ruangan dan mulai saling tindih di atas ranjang dengan bibir masih saling memagut dengan nafsu. Inara meneguk ludah saat sang pria mulai menggerayangi badan si gadis dan—

Prakk.

—Inara menutup laptonya dengan kasar.

“Hoshh…hoshhh…” Inara mengeluarkan nafasnya yang sedari tadi ia tahan. Keringat mulai berjatuhan dari pelipisnya. “Astaga, apa-apaan itu?” batin Inara setengah merutuk karena matanya sudah ternoda dengan adegan tidak senonoh. Tiba-tiba Inara merasakan rasa asin masuk ke dalam bibirnya. Inara menyentuh bagian atas bibirnya itu, lalu betapa kagetnya dia ketika menemukan bercak merah di sana. Alhasil, gadis itu ternyata mimisan karena baru saja menonton adegan dewasa.

 

 

Kemana gadis itu?” batin Sehun sambil mengedarkan matanya ke segala penjuru kantin. Sudah sekitar setengah jam dia mencari keberadaan Inara di kantin, namun gadis itu tak kunjung datang. Sehun berniat menjemput Inara ke kelas gadis itu, tapi Inara juga tidak ada di dalam kelas. Tadi pagi ia juga menjemput Inara di rumah gadis itu, namun ibunya bilang kalau Inara sudah berangkat pagi-pagi sekali.

Merasa gadisnya tidak akan ke kantin dan menghampirinya seperti biasa, Sehun mulai pergi ke luar kantin dan mengedarkan tatapannya ke segala penjuru sekolah. Sehun pergi ke perpustakaan, laboratorium, tempat parkir dan bahkan mencari Inara hingga ke rooftop sekolah. Hasilnya, nihil. Inara tidak ada di manapun.

Aish, Bae Inara, dimana kau?” pekik Sehun frustasi di atas rooftop sekolah. Ya, Inara benar-benar menghilang tanpa kabar.

 

 

“Kau tidak mau menemui Sehun? Asal kau tahu, dia mencegatku di kantin dan menanyakan keberadaanmu,” lapor Yara sambil meletakkan sebuah roti ke atas pangkuan Inara yang asyik menonton di sudut kelas lewat ponsel pintarnya. Inara mengenakan headshet dan duduk di atas lantai hingga tidak bisa dilihat dari pintu kelas, wajar saja dia tidak tahu kalau Sehun sedari tadi mencarinya seperti orang gila.

“Ah, terimakasih Yara,” ucap Inara singkat sambil membuka bungkusan roti yang diberikan Yara. Ya, sejak kemarin Inara menghabiskan tiap detik waktunya untuk menonton adegan kiss drama.

“Aish, dia bahkan tidak mau membuka headshet dan mendengarkanku,” rutuk Yara sambil duduk di bangkunya sendiri dan mulai berbalas pesan dengan kekasihnya.

Channie ❤
Ay, mana Inara? Sehun sudah seperti orang gila keliling sekolah sedari tadi, membuatku bingung saja.
Di kelas, sedang menonton chan.
Channie ❤
Setidaknya suruh dia balas pesan Sehun yang sudah seperti mayat hidup itu. Kau tau, dia bahkan bolos kelas sekarang.
Arraseo. Akan ku bilang chan. Oh, sudah dulu ya, Kim-ssaem sudah masuk.

Yara menyimpan ponselnya di dalam saku setelah selesai berbalas pesan dengan Chanyeol—kekasihnya sekaligus sahabat baik Sehun. Kebetulan, Kim-ssaem memang baru saja masuk ke dalam kelas dan menyapa mereka sebelum mulai mengajar.

Ya, Kim-ssaem sudah masuk.” bisik Yara sambil membuka headshet di telinga Inara dan menarik gadis itu agar duduk di bangku. Inara hanya mengangguk saja, lalu menarik kembali headshet-nya dari tangan Yara.

“Aku mau nonton saja, toh aku tidak bakal mengerti meski mendengar Kim-ssaem dari A-Z,” bisik Inara dan mulai melanjutkan aksi menontonnya lagi.

“Oh, tadi Chanyeol bilang agar kau membalas pesannya Se— aish, anak ini asyik sekali menonton.” rutuk Yara karena kini Inara sudah mengenakan headhsetnya lagi. Yara mengendikan bahunya, lalu mulai mendengarkan penjelasan Kim-ssaem di depan kelas.

Inara benar-benar bertekad kuat untuk bisa ciuman, bukankah begitu?

 

 

“Bae Inara!” panggil Sehun saat menemukan sosok Inara yang sedari tadi ia cari seperti orang gila kini berjalan ke arah gerbang sekolah. Namun Inara tidak menjawab panggilan Sehun. Wajar saja, gadis itu tengah menonton sambil memasang headshet di telinga, tidak mungkin dengar apapun ‘kan? Terlebih sekarang gerbang ramai karena jam pulang sekolah.

Aish, Bae Ina—“ Sehun menghentikan kalimatnya karena melihat sebuah mobil berhenti di depan gadis itu. Sehun meneguk ludahnya kasar. Itu mobil ibunya Inara, dan tidak mungkin Sehun menerobos dan membawa Inara pergi kan? Bisa-bisa Sehun dibunuh ibunya Inara.

Sayangku :*
Hubungi aku.

 

 

Aish, dimana dia?!” rutuk Sehun kesal sambil memandangi ponselnya yang masih kosong. Sama sekali tidak ada balasan dari Inara meski ia sudah mengirim ratusan pesan pada gadis itu. Tak hanya itu, Sehun juga sudah menelfon gadisnya puluhan kali tak tak satupun panggilannya diangkat oleh sang kekasih. Dan sekarang meski waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Sehun belum juga menerima kabar dari Inara.

Apa dia marah padaku?” pikir Sehun lagi karena ia merasa sejauh ini Inara seperti melarikan diri darinya. Sehun merutuk dirinya yang emosi kemarin siang. Seharusnya ia paham kalau Inara tidak mau berciuman. Sehun mengacak rambutnya kasar lalu mulai meraih jaketnya yang tersampir di atas kursi belajarnya. “Sepertinya aku harus ke rumahnya saja.” pikir Sehun sambil mulai mengayuh sepedanya menuju komplek rumah Inara.

Sehun sampai di depan rumah Inara pukul setengah 11 malam. Lelaki itu bergerak mondar-mandir di depan rumah kekasihnya itu sambil menempelkan ponselnya di telinga —dia tengah menghubungi Inara lagi. “Aish, kemana dia?” batin Sehun lagi karena lagi-lagi Inara tidak menjawab panggilan telfonnya.

Sehun akhirnya mulai menyenderkan badannya ke dinding gerbang rumah Inara. Lelaki itu merapatkan jaketnya karena merasakan udara dingin yang mulai masuk menggerayangi tubuhnya. “Ah, dingin sekali. Nara-ah, cepatlah keluar.” batin Sehun sambil memandang kamar Inara yang bersinar dengan terang, tanda kalau Inara ada di dalam ruangan itu.

 

 

Hatchii!” Sehun menggosok-gosok hidungnya yang baru saja bersin. Dia melirik jam tangannya lagi, pukul setengah 12 malam, itu artinya dia sudah menghabiskan sejam penuh untuk menunggu Inara di depan rumah gadis itu.

Apa aku pulang saja?” batin Sehun sambil memandangi kamar Inara lagi. Sehun menghela nafasnya, lalu mulai meraih sepedanya yang ia senderkan ke dinding gerbang Inara.

Namun nasib ternyata berkata lain. Saat Sehun berbalik dan hendak pulang ke rumahnya, Sehun melihat Inara tengah berjalan pulang ke arah rumah gadis itu. Gadis itu datang dari luar komplek, itu artinya gadis itu sedari tadi tidak ada di rumah? Lalu buat apa Sehun beridiri sejam di depan rumah yang gadisnya sendiri tidak ada di sana? Seperti orang bodoh saja.

“Nara!” panggil Sehun, namun gadis itu tidak menjawab. Gadis itu malah asyik menunduk memandangi layar ponselnya dan sekilas Sehun melihat headhset putih yang bertengger di telinga Inara dibalik rambut gadis itu yang digerai. Tak tahan tak diacuhkan, Sehun pun berlari ke arah gadis itu dan langsung memeluk Inara erat.

Grep! 

Pluk.

Ponsel dan headshet Inara jatuh karena Sehun memeluk gadis itu tiba-tiba.

“Aku merindukanmu.” bisik Sehun tepat di telinga Inara. Inara yang masih belum sadar hanya bisa melongo, namun detik selanjutnya saat ia mengenali bahwa suara itu adalah milik Sehun —kekasihnya— tiba-tiba saja pipi Inara bersemu merah.

“Se—sehun-ah,” gagap Inara kemudian. Sadar akan sesuatu, Sehun segera melepas pelukannya pada gadisnya itu.

“Ah, Nara-ah, ma—maafkan aku. Aku..aku ti—“

Cupp!

Mata Sehun membola saat kini Inara menempelkan bibirnya ke bibir Sehun. Gadis itu menutup matanya, meremas celana yang sekarang gadis itu pakai. Entah keberanian darimana, yang pasti Inara tengah memberanikan diri mencium Sehun.

1 detik

2 detik

3 detik

Inara melepas kecupannya, malu, lalu segera berbalik menuju gerbang rumahnya. “Ma-maafkan aku,” lirih Inara sambil memungut ponselnya dan mulai masuk ke rumahnya. Namun Sehun yang baru sadar dengan apa yang baru saja dilakukan kekasihnya itu kini dengan cepat menahan pergerakan Inara.

Grep!

Inara berbalik, lalu menatap Sehun malu-malu.

“Nara-ah, boleh cium?” pinta Sehun, dan kali ini Inara tidak melarikan diri. Perlahan gadis itu mengangguk hingga kini sebuah senyum tercetak jelas di bibir Sehun. Sehun menundukkan wajahnya, mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Inara yang sekarang sudah memejamkan matanya.

3 cm

2 cm

1 cm

Cupp!

Bibir mereka bersentuhan untuk kedua kalinya. Sehun memeluk pinggang Inara sambil mengecup bibir kekasihnya perlahan. Mereka berdua menikmati ciuman polos itu yang hanya saling menempelkan bibir, namun perlahan ciuman Sehun berubah semakin ganas. Sehun menarik pinggang Inara agar semakin menempel dengan badannya, sedang tangan Inara perlahan melingkar di leher Sehun. Merasa diijinkan untuk melakukan akes lebih, Sehun mulai memagut bibir Inara. Perlahan, gadis itu membuka mulutnya hingga lidah Sehun bisa masuk dengan bebas.

Sehun mendorong badan Inara hingga kini terpojok di dinding gerbang rumah gadis itu sendiri. Sehun mengubah angle ciuman mereka, lalu kembali memagut bibir Inara yang benar-benar manis. Tak mau kalah dengan Sehun, Inara pun kini mempraktekkan semua yang telah ia tonton dan baca di artikel selama seharian penuh ini hingga si gadis tidak tidur semalaman. Inara mulai melesakkan lidahnya sendiri masuk ke mulut Sehun, lalu mulai bermain-main dengan lidah Sehun dan bahkan sesekali menggigit bibir bawah lelaki itu sementara Sehun menggigit bibir bawah Inara. Ciuman mereka benar-benar panas.

Hoshh…hoshhh….” deru nafas mereka memenuhi udara malam itu setelah sekian menit beradu bibir. Mereka berdua kehabisan nafas. Sehun menempelkan keningnya dengan kening Inara yang kini sudah seperti kepiting rebus. Sehun kembali memberikan ciuman-ciuman kecil lagi di bibir Inara yang di terima gadis itu dengan senang hati.

“Aku tidak tau kalau kau pencium yang baik,” bisik Sehun di sela aksinya mencium bibir gadis itu. Sekarang kedua tangan besar Sehun sudah menangkup wajah Inara, ia tersenyum, lalu mendekatkan kedua hidung mereka hingga bersentuhan. Jarak mereka benar-benar dekat, bahkan kurang dari satu sentimeter.

“Kau bahkan lebih baik lagi Sehun,” dan kembali mereka berdua berciuman. Awalnya perlahan, namun akhirnya kembali menjadi perang lidah saling memagut. Ya Tuhan, tolong doakan saja mereka berdua tidak ketahuan tengah berbuat demikian di jam sedini hari seperti ini.

“Sehun-ah, aku menyukaimu. Aku sungguh menyukaimu.”

Cupp!

“Aku tau Nara-ah, aku tau. Aku juga menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu.”

Cupp!

 

Hari-hari Sehun dan Inara berjalan baik seperti biasanya, bahkan jauh lebih baik. Seminggu terlewati begitu saja oleh kedua insan yang telah berbaikan itu. Seperti sekarang, Sehun tengah mengatar Inara pulang dari sekolah seperti biasanya.

Oh jangan lupa satu kebiasaan baru mereka, ciuman perpisahan. Demi Tuhan, setelah Inara sudah berani berciuman, mereka berdua bagai pasangan maniak cium. Sedikit mesum memang karena mereka berdua menjadi ciuman sebanyak jam makan saja, 3 kali sehari! Satu kali di pagi hari dimana Sehun mengantar Inara ke sekolah, satu kali saat makan siang di kantin dan satu lagi saat mengantar Inara pulang. Jangan pikir hanya 3 kali sehari saja, karena itu hanya yang masuk kategori wajib, belum kategori ‘selingan’. Sungguh, mereka sangat sering berciuman, bahkan sampai mengalahkan rekor ciuman Chanyeol dan Yara yang mengajari Inara cara berciuman yang baik dan benar.

“Sudah sampai,” ucap Sehun sambil menepikan sepedanya di depan rumah Inara. Dengan gerak cepat gadis Bae itu pun melepas pegangan eratnya di pinggang Sehun dan turun dari atas sepeda.

“Terimakasih Sehun-ah,” ucap Inara sambil menyunggingkan senyum termanisnya. Sehun balik tersenyum, lalu mulai memajukan bibirnya sambil memejamkan mata.

Cuppp!

Dan sekarang bibir Inara sudah menempel dengan bibir Sehun. Seperti biasanya, awalnya hanya kecupan, namun perlahan-lahan berubah menjadi pagutan dalam yang menuntut.

“Se—Sehun-ah, aku….aku…”

Sretttt!

Brakkkh.

Akh,” aduh Sehun karena badannya baru saja berbenturan dengan dinding gerbang rumah Inara. Gadis itu hanya terkekeh kecil, merasa bersalah sudah mendorong kekasihnya. Bagaimanan tidak, Inara mendengar suara seseorang membuka gerbang dan tentunya ia tidak mau ketahuan tengah berciuman dengan seorang lelaki di depan rumahnya sendiri.

“Ah, anyeonghaseyo Na-ssaem,” ucap Sehun sambil turun dari sepeda dan membungkukkan badannya 90 derajat pada ibu kandung Bae Inara itu. Na-ssaem atau Nyonya Bae nampak memperhatikan Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat Bae Inara mulai gugup sendiri.

“Ah, eomma, kenapa tidak bilang kalau sudah pulang dari pelatihan dekan di Busan, eoh?” tanya Inara mengalihkan pembicaraan karena merasa ibunya tengah mengintimidasi Sehun—terbukti dengan Sehun yang kini hanya bisa menunduk, menghindar dari tatapan Na-ssaem. Ibu Inara yang bekerja sebagai guru kimia sekaligus dekan di sekolah mereka itu hanya menganggkat bahunya acuh, “Tadi pagi,” katanya menjawab pertanyaan sang putri.

“Oh, kalian melakukan apa tadi?” tanya Na-ssaem lagi mulai curiga. Bagaimanapun dia pernah muda dan tentunya bisa menebak-nebak apa yang mungkin tengah dilakukan 2 orang yang tertangkap basah itu.

“Ah, Sehun hanya mengantarku pulang eomma, haha…” jawab Inara gugup sambil melirik Sehun yang kini hanya bisa diam. Bagaimanapun Sehun adalah ketua kelas XII A dan Na-ssaem adalah wali kelasnya. Jika Sehun ketahuan sudah merebut kepolosan putrinya, bisa-bisa Sehun di-blacklist sekarang juga.

“Ah begitu ya? Hm, kebetulan sekali kau disini Oh Sehun. Saya punya tugas untukmu. Bisa bantu saya ‘kan?” dan dengan berat hati Sehun hanya bisa mengangguk pasrah.

Nne ssaem.”

 

 

Hoshh..” Sehun menghela nafasnya kasar sambil mengelap keringat yang kini jatuh bercucuran dari pelipisnya. Sekarang dia tengah berada di dalam rumah Inara. Sehun di suruh membantu Na-ssaem beres-beres rumah karena Na-ssaem ingin mengganti suasana interior di dalam rumah besar itu. Alhasil, Sehun dibuat menjadi buruh angkut barang dari lantai satu menuju lantai dua.

Gwenchana?” tanya Inara yang cukup prihatin melihat keadaan sang kekasih yang sudah mandi keringat. Sehun meletakkan kardus terakhir yang harus ia bawa di dalam kamar gadis itu. Tebaknya itu adalah buku-buku lama milik Na-ssaem yang kini diwariskan kepada sang putri.

Hosh…ah….Nara-ah, bisa minta minum?” pinta Sehun kemudian sambil duduk di dalam kamar Inara. Gadis itu dengan cepat mengangguk dan melesat pergi ke luar kamar menuju dapur di lantai satu.

Selepas kepergian sang kekasih, Sehun lantas membaringkan tubuhnya yang lelah di atas lantai begitu saja. Dia memandangi isi kamar Inara yang rapi dan cantik, lalu tersenyum sekilas saat menemukan fotonya dan Inara saat liburan ke Lotte World terpajang di atas meja belajar gadis itu.

“Dia tidak takut ketahuan?” pikir Sehun sambil bangkit berdiri dan duduk di bangku meja belajar sang gadis. Sehun pun bergerak menyentuh bingkai foto itu, lalu tersenyum tipis ketika sekelebat bayangan kencan mereka beberapa minggu yang lalu itu hinggap di pikirannya.

Ting!

Tiba-tiba atensi Sehun teralih saat menemukan ponsel Inara yang tergeletak di atas meja. Sehun melirik sebuah pesan yang baru saja masuk ke akun Line gadis itu, sebuah pesan dari Yara.

Yaralee_siAlay
Kau tidak mau berterimakasih padaku? Ya! Kau baikan dengan Sehun itu semua karena aku dengan setia mengajarimu dan memberitahu web-web dan drama-drama hot yang bagus untukmu. Astaga, Bae Inara, kalau kau membalas jasaku traktir bulgogi di kantin besok siang, arraseo?

Sehun menautkan kedua alisnya, bingung dengan pesan dari Yara yang membawa-bawa namanya. Penasaran, Sehun pun tergerak mengambil ponsel Inara dan mulai membuka aplikasi pencarian. 

“Dia bilang web kan? Ah, apa aku perlu membuka history pencariannya Nara?” pikir Sehun menimbang-nimbang, namun akhirnya karena penasaran Sehun pun benar-benar membuka history pencarian sang kekasih.

 

“Cara berciuman yang baik dan benar.”

“Gaya berciuman yang tepat sesuai dengan kepribadian kekasih anda.”

“Ciuman terpanas sepanjang masa.”

“Cara memuaskan pasangan lewat sentuhan bibir.”

“Gaya ciuman di atas ranjang.”

“Variasi ciuman yang menarik dan kreatif.”

Uhuukk!” Sehun terbatuk membaca history terbaru Bae Inara. “Apa-apaan ini? Jadi Inara bisa berciuman setelah membaca semua artikel-artikel laknat ini?” batin Sehun sedikit terkekeh melihat semua isi history jorok di dalam aplikasi pencarian sang kekasih.

Tak puas hanya dengan history pencarian, Sehun pun mulai bergerak menuju file manager ponsel Yara dan mulai membuka bagian video. Dan betapa kagetnya Sehun saat menemukan puluhan video potongan drama yang hanya pada bagian kiss scene saja di sana. “Astaga, ini masih video di dalam ponselnya, bagaiman dengan isi laptopnya? Aku rasa pasti ada ratusan video! Tsk, gadis ini benar-benar,” batin Sehun sambil geleng-geleng kepala. Bahkan ia yang pria pun tidak pernah punya video ‘vulgar’ sebanyak itu dalam ponselnya, tapi Bae Inara yang dikenal sebagai gadis baik-baik dan terkesan polos itu malah seperti sudah mengoleksi video tutorial ciuman, bahkan ciuman di atas ranjang. Ah, Bae Inara benar-benar totalitas ‘kan?

“Cih, berapa banyak DVD drama yang dia punya?” batin Sehun lagi karena sekarang menemukan banyak DVD drama di dalam laci gadis itu. Menimbang-nimbang semua hasil temuannya, lelaki itu pun mulai terkekeh sendiri. Ia tidak menduga kalau Inara akan berbuat hal semacam ini demi ‘berciuman dengan baik dan benar’ dengan seorang Oh Sehun.

“Sehun-ah, ini minumanmu,” ucap Inara yang kini sudah ada di ambang pintu kamar. Gadis itu meletakkan segelas jus jeruk di atas meja belajarnya dimana Sehun sedang memegangi salah satu DVD drama milik gadis itu.

“Ini milikmu?” tanya Sehun, dan Inara dengan cepat mengangguk. “Kau ingin meminjamnya?” tanya Inara polos karena belum tau kalau Sehun sudah mengetahui apa saja yang ia lakukan agar bisa berciuman.

“Tidak, aku hanya kaget saja karena kau punya banyak DVD,” jawab Sehun sambil bangkit berdiri dan menuju pintu kamar Inara.

“Sehun mau ke ma—“

Inara terdiam karena sekarang Sehun sudah mengunci pintu kamarnya sambil tersenyum tipis. Perlahan Sehun mendekati Inara, lalu duduk di atas tempat tidur gadis itu. “Aku tidak ke mana-mana,” ucap Sehun sambil menepuk-nepuk bagian tempat tidur tepat di sebelahnya, kode menyuruh Inara untuk duduk di sana.

Perlahan Inara pun menghampiri Sehun, berniat duduk di sebelah Sehun sebelum akhirnya —

Grep!

Keduanya hanya diam. Sehun baru saja menarik Inara hingga gadis itu berakhir duduk di atas pangkuan Sehun dengan wajah menghadap lelaki itu. Jarak keduanya sangat dekat, bahkan sekarang hidung mereka berdua sudah bersentuhan.

“Nara-ah, boleh cium?” pinta Sehun, dan Inara pun dengan cepat mengangguk. Yah, ini adalah ciuman ‘selingan’ mereka di samping ciuman wajib 3 kali sehari, benar ‘kan?

Sekon selanjutnya Sehun pun mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir Inara.

Cupp!

Sehun menempelkan bibirnya perlahan, mulai melumat bibir Inara. Seperti biasa, awalnya polos namun lama-kelamaan berubah menjadi perang saling memagut bibir.

“Se—Sehun-ah,” bisik Inara di sela-sela adegan Sehun melesatkan lidahnya ke dalam mulut Inara dan mulai memainkan lidah gadis itu. Inara menempatkan kedua tangannya di leher Sehun, bahkan sesekali meremas rambut lelaki itu sakin gemasnya dengan sentuhan-sentuhan nakal Sehun di bibir miliknya. Tak mau kalah, Inara pun mulai membalas ciuman-ciuman Sehun hingga entah mulai sejak kapan mereka berdua sudah berbaring di atas tempat tidur dengan posisi Inara berada di atas badan Sehun.

“Nara-ah,” Sehun memandang Inara yang kini tersipu malu di atasnya, lalu lelaki bermara Oh itu pun mulai tersenyum jahil, “Kau membaca ‘Gaya ciuman di atas ranjang’ kan? Lalu menurutmu, gaya berciuman apa yang paling sesuai dengan sifat seorang Oh Sehun setelah membaca artikel ‘Gaya berciuman yang tepat sesuai dengan kepribadian kekasih anda’ dan menonton video-video kiss scene drama itu hingga begadang?”

Inara terdiam, bingung darimana Sehun tau itu semua. Perlahan, Sehun pun memeluk Inara sangat erat hingga kini badan mereka berdua saling menempel, “Terimakasih Nara-ah, terimakasih mau belajar untukku. Dan maaf kalau aku terkesan terlalu menuntut. Terimakasih sayang, aku mencintaimu,” bisik Sehun yang tiba-tiba saja membuat Inara terharu. Mata gadis itu pun berubah berkaca-kaca karena ucapan Sehun.

“Terimakasih juga karena sudah mau menungguku selama ini Sehun-ah, terimakasih karena dengan sabar menungguku belajar,” balas Inara yang membuat senyum Sehun seketika mengembang dengan sempurna.

Cupp!

“Se—Sehun-ah,” lirih Inara tiba-tiba karena sekarang Sehun bergerak menciumi leher gadis itu. Gemas, Inara pun mulai mengacak-acak surai hitam kelam milik Sehun.

Eugh….Se—Sehun…aku…ak—“

Tok Tok!!

“Inara, kau di dalam?!”

Brugh.

Ne Eomma!” jawab Inara cepat sambil mendorong Sehun menjauh hingga kini badan Sehun membentur dinding kamar Inara. Gadis itu menatap Sehun iba, lalu segera melemparkan sisirnya pada Sehun.

“Hun-ah, cepat rapikan baju dan rambutmu lalu sembunyi, eomma bisa membunuh kita berdua kalau sampai ketahuan!” bisik Inara sambil mendorong Sehun menuju lemari pakaian miliknya.

“Cepat buka pintunya Inara, ada yang harus eomma ambil di kamarmu.”

Ne eomma!” jawab Inara lagi sambil mengunci Sehun di dalam lemari. Dengan gerakan secepat kilat dan sudah memastikan dirinya rapi, Inara pun segera membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Na-ssaem masuk.

“Ah eomma, ada apa?” tanya Inara pada sang ibu yang kini nampak mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar anak gadisnya. “Mana Sehun?” tanya Na-ssaem yang tiba-tiba membuat Inara gelagapan.

“Hm..Sehun? Aku ti—tidak tau eomma. Mungkin ke kamar mandi? Haha..” jawab Inara gugup karena pandangan tajam sang ibu.

“Ah, begitukah? Eomma pikir Sehun ada di sini karena eomma mendengar suara ribut-ribut dari kamarmu,” jawab Na-ssaem ambigu, membuat keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Inara.

“Ti—tidak kok eomma, mana mungkin Sehun ada di sini,” jawab Inara lagi yang akhirnya di balas dengan anggukan kecil oleh Na-ssaem.

“Baiklah, kalau begitu tolong bantu eomma di bawah. Eomma sedang membuat makan malam,” lanjut Na-ssaem yang membuat mata Inara membola. Ragu, namun akhirnya Inara mulai mengikuti jejak ibunya yang sudah menggandeng tangannya turun ke lantai satu.

Ting!

Nara-ku sayang ❤
Hun, maaf, aku harus membantu eomma sebentar. Kau bisa bersabar di dalam lemari ‘kan? Aku akan membukanya secepat mungkin, arraseo? Aku akan naik 10 menit lagi. Maaf ya sayang :*

“Aish jinja! Na-ssaem, tega sekali dia! Kenapa dia mengganggu di saat yang tepat?!” rutuk Sehun di dalam lemari Inara setelah membaca pesan yang kekasihnya kirimkan itu. Kalau saja dia tidak ingat kalau Na-ssaem itu adalah guru kimia, dekan sekolah, wali kelas, dan juga calon mertuanya, Sehun pastikan sudah menyumpah-serapahi guru itu. Jadilah, sekarang Sehun harus bersabar dan pandai-pandai menghemat oksigen di dalam lemari sempit milik sang kekasih.

Sementara itu di lantai satu, Inara tidak fokus memotong bawang seperti yang disuruh ibunya. Yang ada di pikiran gadis itu sekarang hanyalah satu, “Apa setelah ini aku harus membuka artikel ‘Gaya ranjang untuk pemula’? ”

“Ah, eomma, bisa aku ke atas sebentar? Sepertinya aku lupa mem—“

“—lupa membuka lemari yang isinya Sehun?”

Ups, sepertinya mereka berdua ketahuan Na-ssaem. Tsk, apa Oh Sehun akan aman setelah ini?

 

FIN


Author’s Note

Happy birthday Oh Sehun, selingkuhannya Eki dan suaminya si garem, uluuuu….makin imut ya maz Sehun, jangan suka bangsat dan bikin jejeritan anak perawan 🙂

Wish you all the best Hun, sayang Sehun pokoknya :*

Iklan

11 pemikiran pada “[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Lips x Lips (Oneshot) – Shaekiran ft. Shiraayuki

  1. hahaha mereka berdua somplak:v
    gils 3 kali sehari? mantap soul,-

    inara yang polos telah berubah
    inara niat banget sih,
    bersukur lah kau oh sehun wkwk

  2. Wkwkwk…setengah comedy menurutku.
    Apalagi pas bagian terakhir ternyata na-saem tau kalo sehun ada didalam lemari, kkk~kasihan sehun-nya nunggu didalam lemari😹
    Nice story..👌

    • comedy yak? wkwk, gak masukin genre komedi karena takut garing padahal awalnya pen masukin lo, wkwkw/plakk/ XD
      Hayooo…nasib Sehun hayooo begimana??? XD XD
      Thanks for reading ❤

  3. KAK EKI MAAFIN AKU NGUAKAKKKK. Inara polos banget ya Tuhan. Dan Yara so kampret “gaya ciuman polos atau 21+?” Anju yaa lalu juga Inara saking polos sampe mimisan pas liat adegan rated ya lord ya lordd masih adakah cewek sepolos dia di usia segitu? Buakakakak. /plak/
    Sumpah ya Inara niat banget kek gitu demi Sehun ya lord lalu pas udah bisa kisseu tiap hari dan anjayyyy itu yg ranjang ya amsyong menjurus rated :”””))) dan buakakak syukurin Sehun ketauan juga kan sama emaknya Inara wkwkwkwk.

    Btw liat Inara yang polos ini jadi berkaca ke OC ane, kenapa ane buat OC gak super polos gini berasa diri ini otaknya udh geser sama hal rated /ga/

    Last, hepi besdey Sehun maaf ffmuh belum jadi wkwk. BEIDEWEI NOTE UNTUK DICATET; 4 hari lagi elsa ultah /plak/ hyerim juga ultah kebetulan /plak (2)/ HEPPI SEHUN DAY YEAY

    • NGAKAK AJA ELS, GRATIS /PLAKK/
      Yara emang kampret els, aku emang ngeciptain dia jadi sosok imortal astral yang suka asal jeblak aja, wkwk XD
      Inara kebalikannya Yara, cuman sekarang Inara udah cem Yara, syudah tidak polos lagi saudara-saudara, maafkan Thehun sudah membuat seorang anak polos menjadi bangsat :))
      Keknya gak ada els, langka ada cewek sepolos itu di bumi ini, wkwk XD
      Menjurus rated pan? Makanya di-stop kan sampai disini dulu, jan ada mata yang ternoda karena ff ini :”)
      Syukurin, ketahuan pan, abis digundulin guru sendiri sekali ini, bhuakaka XD XD
      WKWKWK , hyerim cantik dengan caranya els, kalau otak hyerim emang rated ya gpp kok, semua oc punya gayanya sendiri, asekkkk/plakk/ lagian sifat oc menyesuaikan cerita kita kok els, wkwwkw, tapi enakan yg gak polos sih/plakk/apaan ini/ XD
      Duh, yang ultahnya diapit HunHan XD Kode apa nih els?? XD
      HAPPY H+1 SEHUN DAY!!
      Thanks for reading els<3

    • NGAKAKLAH SEBELUM BAYAR WKWKWK

      Astaga Yara temenan sama Elsa sini, kita sama-sama astral, laknat, imortal buakakakak.
      Inara nak, kamu udh gak polos gara-gara Sehun. Sompret Sehun mentang-mentang ane punya cinta sesaat sama ente, ente sekarang malah buat anak orang gak polos lagi ya lord /digaplok/
      Kalo ada cewek sepolos dia sekarang, keknya samting we o we alias wow sekali yak wkwkwkwk.
      Iya rated lalu di cut, kusedih /digaplok untuk kesekian kalinya/ gak deng canda, aku anak alim asal jan dipancing absnya oppa aja /sama aeh/
      Ayo guru nam, gundulin sehun wkwkwk!
      Eyakkk Hyerim kadang dapet peran bloon kebangetan kok gegara plot yang ada, tapi emang enaknya emang gak polos /dasar otak rated/plakplakplak

      Iya nih tengah2 HunHan XD XD kode pen diucapin aja kak cukup wkwkwk

  4. Eleh, enak aja ente ngatain suami ane selingkuhan ente? Emangnya Sehun mau sama kera sakti abad 21 kayak ente?

    Eh, sampe lupa, hbd sayangku, jangan ladenin cewek lain lagi ya, udah cukup aku disini menunggumu, jangan biarkan aku setiap hari nyanyi lagu suara~

    Untuk Park Chanyeol, tolong itu si Eki peliharaan ente di jaga ya, jangan genit sana-sini merusak rumah tangga orang. Tolong dydych peliharaan nya biar tahu diri:v

    Bae Inara debut ciee, Yara dapat temen baru ciee, ini gak cukup authornya yang sahabatnya, oc-nua juga sahabatan tapi agak kurang wajar 😂

    • Emang selingkuhan ane, bhay! 😝
      Maulah, siapa bilang kagak mau, wekkk.. 😜
      Iyain Hun biar cepet, biar si garem tidurnya tenang, soalnya barusan dia bilang mau bobo doeloe, bhuakaka. 😂😂
      Gewe istrinya nying, bukan peliharaan. Itu tolong jan ngalay ma laki gewe, gewe tau diri kokz, suami sebangsat cy aja udah cukup bikin gewe sesak nafas/open your eyes~/
      Kita memang kurang wajar, fix eaaa~~
      Sahabatan cie sahabatan cieee, azekkkkk… 😂😂😍
      Dahlah, gewe mah bobo dulu, bhay! 😜
      Ahh, gewe mau ketemu suami nih di alam mimpi :))

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s