[EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – (Prolog)

Black Heart tt copy.jpg

(Broken) Black Heart Prologue©

Author

Riona Spring

Main Cast

EXO’s Baekhyun and OC’s ???

Supporting Cast

VIXX’s Leo aka Leo Jeind Anderson, Son Jina (OC), EXO’s Xiumin aka Xiu Minleyw, and more

Genre

Mystery, supernatural, fantasy, slice of life, and (maybe) romance

Length & Rating

Chaptered ~ PG-13

DISCLAIMER

Cerita dan plot adalah milik author. Tokoh dan segala macam yang ada di cerita ini hanya muncul sebagai unsur cerita dan tidak terikat dengan kenyataan aslinya. Dimohon untuk tidak menjadi plagiator dan menjiplak atau mengambil fiksi ini.

Summary

Kehidupan itu sulit ditebak. Siapapun akan merasa sulit bahkan hanya untuk mengira bagaimana akhirnya.

                                                                  

Narathor Part

Alkisah di suatu tempat, terdapat sebuah kehidupan. Kehidupan itu terdiri dari kehidupan makhluk lemah yang disebut ‘manusia’ dan kehidupan makhluk yang tidak dapat dilihat oleh manusia itu sendiri.

Seperti yang mungkin kau ketahui, tempat itu adalah ‘bumi’. Tempat menyedihkan berpopulasi 7 miliar makhluk lemah bernama manusia tersebut. Manusia itu lemah, juga bodoh. Karena keserakahan mereka, tempat tinggal dan tempat mereka hidup itu rusak karena pencemaran.

Pencemaran itu bukan hanya polusi dan kerusakan alam, tetapi juga pikiran, perilaku, bahkan diri manusia-manusia itu. Banyak dari mereka merusak alam dengan serakah, melakukan kejahatan, berbuat buruk, bersikap egois dan arogan, mencelakakan sesama, padahal mereka sendiri secara batin dan pikiran mengetahui hal tersebut merupakan hal buruk dan semestinya tidak dilakukan.

Begitulah. Manusia hidup diantara semua itu. Bersikap seakan-akan semua itu tidak ada adalah hal yang sangat bodoh untuk dilakukan. Terlalu terlena dengan dunia, begitulah kata-kata bijak berkata.

Walau manusia hidup dengan kesempurnaan dan juga keterbatasan mereka, namun mereka masih sanggup untuk melanjutkan hidup. Tanpa kekuatan atau sihir, mereka hidup seperti air mengalir, terus berjalan tanpa henti. Entah itu dalam keadaan bahagia, sedih, sengsara, hebat, berkuasa atau sekarat, manusia tetap bisa hidup di antara semua yang terjadi dan ada di bumi, tempat mereka tinggal.

Kau bertanya bagaimana dengan kehidupan selain manusia? Sama saja. Meski ‘sudah diatur’, tetap saja terdapat celah di sana-sini untuk berbuat yang tidak sesuai dengan aturan. Mahkluk-selain-manusia itu juga dapat dibutakan oleh kekuasaan.

Dilengkapi dengan kemampuan khusus yang tidak dimiliki manusia, ‘mahkluk selain manusia’ itu terbagi menjadi dua. Malaikat maut dan malaikat suci (angel).

Malaikat suci, seperti namanya, bertugas mengatur awal kehidupan manusia atau yang sering disebut dengan ‘kelahiran’. Selain itu, para malaikat suci akan menjaga dan memelihara kehidupan manusia yang mereka atur. Mereka menemani dan membujuk manusia untuk berbuat baik secara batin hingga akhir kehidupan manusia itu berakhir.

Setelah berakhir, tugas para angel akan digantikan oleh malaikat maut. Malaikat maut akan menjemput manusia dan mengantarkan mereka pada Penjaga Dunia, mahkluk yang bertugas menjaga dunia antar-manusia dengan makhluk-selain-manusia.

Terdengar sederhana? Sama sekali tidak. Tugas malaikat maut bukan hanya itu. Tugas mereka selain menjemput manusia adalah mengurus ‘kehidupan’ setelah kehidupan manusia itu berakhir. Ya, kehidupan setelah kematian adalah kata ringkasnya.

Kehidupan yang satu ini tak kalah rumitnya dengan kehidupan saat manusia masih hidup. Penuh dengan misteri, kejanggalan, dan masalah-masalah yang manusia bahkan sama sekali tidak dapat membayangkannya.

Di kehidupan ini, manusia yang sudah mati dapat hidup di dua macam dunia, dunia yang sama saat mereka hidup, atau dunia ‘lain’. Walaupun mereka yang sudah mati ini ‘hidup’ di dunia dimana manusia yang masih hidup menjalani kehidupan, mereka tidak dapat terlihat. Manusia menyebut ‘mereka’ hantu.

Hantu yang ‘hidup’ menjalani hidup mereka dengan tujuan tertentu. Sedangkan yang hidup di dunia lain menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang disebut dengan ‘dosa’ yang dilakukan saat mereka hidup. Dan semua hal itulah yang diatur oleh malaikat maut agar tidak mengacaukan kehidupan di antara manusia.

Baiklah, aku sudah terlalu banyak bicara tampaknya. Untuk penutup, kesimpulan yang dapat kita tarik adalah malaikat suci dan malaikat maut memiliki tugas yang hampir berimbang. Mereka sama-sama mengatur kehidupan manusia, juga ‘menjaga’ makhluk lemah itu sepanjang hidupnya.

Namun, itu hanya ‘hampir’. Karena di dunia ini tidak ada yang benar-benar seratus persen berimbang.

 

***-***

 

*Seoul, 7.45 A.M. (Winter Period)

Seorang pemuda berjalan gontai di troator penuh salju. Ia terlihat menyedihkan. Baju hangat dengan tudung kepalanya tidak terlihat ia kenakan. Sweater rajut tipis dengan masker, hanya itulah yang ia pakai untuk menutupi tubuh di tengah udara dingin yang melanda pagi ini.

Beberapa detik ia berjalan, akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Halte bus. Tempat itu sudah dipenuhi orang. Pemuda berambut cokelat tadi berdiri di dekat tiang, berusaha menopang tubuhnya yang mengigil.

Sebenarnya, ia sudah terlambat. Sekitar 12 menit lagi ia harus sampai di kantor tempatnya bekerja. Tapi, tanpa peduli dengan waktu, ia menunggu bus dengan sabar. Bus yang mengantarnya itu biasanya memakan waktu lebih 20 menit untuk sampai di kantornya.

Akhirnya bus datang. Bus berwarna biru berjalan perlahan lalu berhenti di depannya. Pemuda itu masuk pertama. Setelah membayar menggunakan uang (karena ia lupa membawa kartu abundemennya), ia duduk di dekat supir. Bus itu melaju dengan kecepatan sedang menembus kepadatan ibukota.

Bus sampai di depan kantornya 25 menit kemudian. Terlambat lebih dari 10 menit adalah ekstra 2 hari lembur. Bukan berita yang bagus. Terutama bagi pemuda yang baru saja sembuh dari sakit parah akibat terlalu lelah mengejar target perusahaan.

 

***-***

 

“Kau mengerjakan tugas?”

Suara mengejutkan ‘pemuda’ bertubuh tinggi. Ia menoleh. Di depannya sekarang berdiri seorang yang jauh lebih pendek darinya, berkulit putih halus, dan iris biru nila yang menatapnya dengan serius.

“Kau tidak melihat?” yang bertubuh lebih tinggi menjawab ketus. Orang itu tetap memusatkan pikiran pada buku tua bersampul cokelat yang memang sedari tadi ia baca.

“Leo Anderson … Bagaimana tugasmu?” lagi-lagi si kulit putih bertanya. Sambil memutar bola mata, Leo melirik kesal. Pecah sudah konsentrasinya untuk melanjutkan membaca.

Ia menutup bukunya dengan kasar. “Hah, baiklah. Bisakah kau hentikan basa-basinya, Minleyw?” Anderson melipat kedua tangannya kesal. Ia menatap iris biru di depannya tajam. Minleyw, si kulit putih, hanya bergerak santai menanggapi tatapan itu.

“Tidak paham juga? Bukankah kau sudah memiliki ‘yang-seharusnya-tidak-dimiliki-kaummu’?” Minleyw memberikan seriangannya. Ia tersenyum meremehkan, mengejek Anderson.

Minleyw berjalan menuju salah satu kursi. “Ini. Cuma kau satu-satunya di kaummu yang memilikinya, bukan?” Minleyw merebut buku yang dipegang Anderson, kemudian menunjukkannya persis di depan iris cokelat milik Leo tersebut. Buku itu bersinar seketika ketika Minleyw menyentuhnya.

“Buku Takdir. Apa kau benar-benar sedang membacanya?” Minleyw melanjutkan. Ia membuka lembar buku itu. “Kau tidak melihat ada yang menarik dari sini?” Tangan putih pucat Minleyw tiba-tiba berhenti di suatu halaman.

Halaman itu menunjukkan gambar seorang pemuda. Hal yang tidak lazim di sana adalah gambar itu berubah warna. Mulanya gambar itu berwarna, berubah menjadi hitam putih. Namun tak lama kemudian kembali berubah menjadi berwarna kembali.

“Kadang aku bertanya, apakah kau sehebat yang aku dengar. Tapi ternyata tidak begitu.” ujar si kulit putih merendahkan, seraya duduk tepat di hadapan Leo.

Anderson mengatupkan bibirnya geram. Dan dua detik kemudian memutuskan untuk menghela napas, berusaha untuk tidak terpancing oleh cemoohan.

‘Pemuda’ tinggi itu merebut bukunya. “Diam saja, Xiu. Aku tahu apa yang kukerjakan.” Anderson berujar ketus dan pergi meninggalkan Minleyw yang masih tersenyum meremehkannya.

Minleyw masih tersenyum, kali ini terlihat misterius. “Leo Jeind Anderson. Malaikat maut tingkat pertama, pemilik satu-satunya Buku Takdir di antara semua kaumnya. Menarik.” gumam Xiu, begitulah nama depannya. Beranjak dari kursinya, Xiu mengambil buku yang mirip dengan buku milik Leo di rak belakangnya. Dan juga sama seperti sebelumnya, buku itu kembali bersinar saat jarinya menyentuh sampul buku itu.

Xiu membuka halaman yang sama. Sambil menatap ke depan, ia bergumam. Senyum menyeringai kembali terlihat di wajahnya.

“Byun Baekhyun. Manusia ini akan menjadi tugas yang menarik bagimu, Anderson.” Xiu menatap gambar pemuda itu.

“Lalu yang satu ini.” Si kulit putih Minleyw membalik satu halaman. Kali ini terdapat gambar seorang gadis pucat. Dilihat dari wajahnya, terlihat ia masih berumur di bawah dua puluh tahun.

“Gadis ini akan membuat tugas tingkat pertama itu semakin menarik.” Xiu menyeringai. Ia menyentuh gambar gadis itu, seakan ingin menemuinya.

 

***-***

 

Benar saja. Saat absen secara fisik melalui pemindaian sidik jari, bosnya mendatangi pemuda itu. Itulah yang merupakan hal yang tidak baik, baginya.

“Byun Baekhyun-ssi, kau terlambat total 16 menit 19 detik.” Sang bos berkata dengan nada menyeramkan. Pemuda Byun itu hanya bisa tertunduk. Ia tak berani macam-macam. Sekali saja ia bertindak, kemungkinan ia akan dipecat dapat meningkat berkali-kali lipat.

“Maafkan saya, Pak Kepala Bagian.” Baekhyun membungkuk dalam. Tangannya bergetar. Cuaca dingin di luar dan ditambah dengan kegugupannya membuat Baekhyun semakin merasa menggigil.

“Dia baru saja sembuh dari sakit, Pak Seo. Tolong biarkan dia sekali ini saja. Saya yakin ia tidak akan mengulanginya lagi.” sebuah suara tiba-tiba menyela mereka. Suara seorang perempuan jangkung yang sekarang berdiri persis di tengah-tengah.

Bapak dengan kepala setengah botak itu berpikir sejenak. “Begitu? Pantas saja aku juga tidak melihatmu belakangan ini, Pegawai Byun. Baiklah, minggu ini aku beri kau sedikit kelonggaran. Hanya minggu ini. Kau camkan itu baik-baik.” bos itu akhirnya memberi pengertian. Ia mengangguk-angguk.

“Ambil ini. Belilah makanan hangat atau baju tebal. Aku tidak ingin melihat gelandangan yang sedang sakit di gedung ini.” Pak Seo mengulurkan amplop yang nampaknya berisi uang. Baekhyun menerimanya takut-takut, masih dalam keadaan menunduk.

“Terimakasih banyak, Pak Kepala.” Baekhyun membungkuk sekali lagi. Gadis di samping Baekhyun itu ikut membungkuk sedikit. Pak Kepala Bagian itu mengangguk sekali, lalu melengang pergi meninggalkan mereka berdúa.

“Kau selamat kali ini, Baekhyun.” Perempuan yang berdiri di samping Baekhyun membuka suara. Baekhyun mengangguk lemah. Pemuda itu kemudian berjalan menuju mejanya dengan lemas.

Jina, perempuan jangkung tadi mengikutinya dari belakang. “Aku bawa cokelat panas. Kau mau?” tanya Jina sambil berdiri.

Baekhyun yang merasa lemas hanya mengangguk. Jina melangkah ke mejanya yang berjarak 3 meja dari Baekhyun. Ia mengeluarkan termos kecil dan sepasang sarung tangan dari tas, lalu melangkah kembali ke meja Baekhyun

“Aku bawa sarung tangan lebih. Pakailah. Itu akan menghangatkanmu.” ujar Jina. Ia meletakkan kedua barang itu di meja pemuda di depannya.

“Terimakasih, Noona.” Baekhyun mengangguk. Ia memakai sarung tangan itu. Walaupun di ruangan itu terdapat penghangat ruangan, cuaca dingin di luar tetap saja membuat pemuda 25 tahun itu merasa kedinginan.

“Aku akan kembali bekerja. Jika kau merasa tak enak, aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?” Jina bertanya kembali. Wajahnya memancarkan rasa kasihan. Entah bagaimana ia tampak peduli sekali dengan pemuda satu ini.

“Tak apa, Noona. Aku baik-baik saja.” Baekhyun memalingkan wajahnya menghadap Jina sambil tersenyum tipis. Wajah pucatnya terlihat sedikit lebih cerah. Baekhyun akhirnya menyalakan komputernya, berusaha untuk mengerjakan sesuatu agar pekerjaannya itu tidak kembali menumpuk dan membuatnya sakit kembali.

 

*8 hours later*

Jam 4 lewat 25 menit. Baekhyun sudah tidak sanggup lagi bekerja. Setelah minta izin dan berpamitan dengan Jina (karena Jina merupakan orang yang bertugas saat itu), ia keluar dari gedung kantornya itu dengan baju hangat tipis yang ia kenakan.

Baekhyun tak memiliki kendaraan pribadi. Uang hasil kerjanya sebagai pegawai kantoran biasa itu tidak cukup untuk membeli setidaknya mobil bekas untuk ia pakai pergi kemana-mana. Terkadang, Baekhyun kesulitan menabung. Tuntutan kehidupan yang begitu banyak membuatnya ‘terpaksa’ untuk menghabiskan uang yang ia miliki.

Baekhyun akhirnya sampai di halte dengan wajah pucat. Dari mulut pemuda itu keluar asap putih. Salju memang sedang turun sekarang, menandakan bahwa cuaca saat itu sedang dingin-dinginnya.

Pemuda Byun itu menggosok-gosok telapak tangannya. Salju yang turun membuatnya semakin menggigil. Ia saat ini hanya bisa berharap agar ia tidak kembali jatuh sakit.

Ia menatap ke depan. Halte tempat ia menunggu itu sepi, tidak orang yang menunggu. Hal yang bagus. Karena itu akan membantu pemuda ini menyembunyikan wajahnya yang terlihat menyedihkan.

Angin musim dingin berhembus, menimpa wajah pucatnya. Baekhyun menutup mata perlahan. Ia tak tahan karena udara dingin itu membuat matanya kehilangan kelembapan dan secara otomatis membuat matanya merah.

Ia membuka matanya kemudian, setelah merasa lebih baik. Tetapi, kali ini ia merasa pusing. Kepalanya terasa berat. Tanpa dikomando, pemuda itu ambruk. Kenyataan menyedihkan menimpanya, karena tidak ada seorang pun di dekatnya untuk menolongnya.

“Dasar manusia lemah.”

Gumaman lolos dari seorang yang sebenarnya dari tadi memerhatikan pemuda itu. Di tangannya terdapat buku tebal bersampul cokelat yang terlihat kuno. Pakaian yang ia kenakan semuanya hitam. Termasuk aura tubuhnya, yang memancarkan aura kuat yang gelap.

Dia adalah malaikat maut. Itulah yang kita ketahui dengan pasti sekarang.

Dan jika kau lihat dari wajahnya, kau akan mengenalinya. Tubuh tinggi dengan kulit putih. Yup, dia adalah Anderson. Atau lebih tepatnya Leo Anderson.

Tugasnya saat ini bukan menjemput jiwa. Setelah berbincang dengan Minleyw (walaupun perbincangan itu berakhir dengan alot), ia menemukan keanehan. Sekitar setengah jam kemudian, pemuda lemah di depannya seharusnya mati karena gagal jantung.

Tapi, seperti yang mungkin saja kau kira, jawabannya adalah tidak. Beberapa sekon kemudian, Leo menangkap pemandangan ganjil. Di pandangannya sekarang terlihat sesosok transparan. Sosok itu saat ini mendekati Baekhyun, berusaha membangunkannya meski terlihat sia-sia.

Sosok itu adalah perempuan dengan wajah pucat. Sama seperti yang terlihat di buku Minleyw.

“Akhirnya dia datang.” Kali ini, suara muncul dari kejauhan. Xiu terlihat di sana sambil tersenyum menyeringai. Layaknya permainan tatap-menatap, mereka semua terlihat menatap satu sama lain dengan tatapan yang berbeda-beda.

Minleyw itu menggumam, masih dengan senyuman menakutkannya. Tangannya menyentuh bibir, menambah kesan misterius yang ia miliki.

“Bukankah sudak kukatakan, kalau ini akan menjadi tugas yang menarik untukmu, Anderson?”

 

 

 

To Be Continued

 

 

 

 

Catatan author (warning panjang) ;

Halo!!! Aku author baru, Riona! ^^ Salam kenal!

Sebenarnya author udah pernah ngepost FF ini dengan judul yang mirip, dengan nama pena yang berbeda (bahkan nama lama itu punya arti tersendiri, LOL). Tapi, fiksi itu terpaksa sekali berhenti di chapter 2 karena kesibukan author, huhuhu~~~

Maka dari itu, author mutusin untuk ubah nama dan sedikit mengubah judulnya sebagai penebus kesalahan fatal tersebut (walau dalem hati yakin ff itu udah terdampar di wp exoffi entah dimana). Dan…. jadilah judulnya ‘(Broken) Black Heart’ dengan nama pena author ‘Riona Spring’! Nama Riona pun (sejujurnya) lebih berkesan buat author daripada nama lama karena suatu alasan. Dan aku paling suka musim semi xD ‘Spring’ akhirnya jadi nama belakangku, kekeke

Oke, daripada bahas nama mulu, mending aku langsung aja ngomong ya?

Pertama. Aku ingin minta maaf karena tidak bertanggungjawab atas karya sendiri. Yah, walo ini ff belum tentu ada yang baca (apalagi nungguin), tapi sebagai author yang baik, aku mau minta maaf karena lalai~~~ Huhu T-T

Kedua, aku janji kejadian lalu tak bakal terulang lagi! Aku usahakan keras untuk ngirim teratur setiap minggu (karena ini ff freelance), jadi aku punya target supaya gak ngecewain pembaca (entah dapet kepedean darimana bakal dibaca, hehehe)

Ketiga. Yuhuu~ Poster baru updated!

Keempat, apakah ada yang merasa tertarik setelah membaca teaser ini? Genre masih berbau supranatural dan misteri! Bakal ada tokoh-tokoh tak terduga bakal muncul di chap2 selanjutnya!

Last one, sebelum pamit, terimakasih sudah mau membaca sampe sini ^^ Comment dari kalian sangat aku tunggu (Beri aku vitamin, reader-nim)!

Annyeong!

 

xoxo, Riona S.

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – (Prolog)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 3B | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 2 | EXO FanFiction Indonesia

  3. Penasaran sama kelanjutannya dan siapa aja cast yang main. Prolog nya aja udah buat penasaran walaupun aku masih agak bingung tapiaku suka grnre nga. Fighting ya jangan sampe gantung cerita nya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s