[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 4)

PicsArt_01-28-12.29.02

 

In Our Lovely Destiny

.

By : Author Rhee

.

Byun Baekhyun & Han Yu Raa || Romance, School-Life || Multichapter || PG-17

Summary : “Ketika takdir mempermainkanku, kau hadir dan membuatku kembali percaya…”

Disclaimer : Cerita ini murni adalah ide saya yang sudah tersimpan dalam laptop selama 1 tahun 😀 (kekeke). Cerita ini adalah fiksi semata, jadi jangan pada baper.

.

04 – [ Han Yoona ] ~ Maukah kau mendengarku?

 

 

Aku berada diruang makan keluarga, dengan meja panjang. Hal menyebalkan yang harus aku lalui setiap malam, makan bersama dengan orang-orang yang palingku benci. Ayah, Ibu Tiriku, dan seorang saudara priaku yang berusia 10 tahun – Han Min Ho.

Aku hanya mengaduk-aduk isi piringku, memainkan sendok di tanganku – menatap tak berminat pada makanan yang berjejer rapi diatas meja makan.

Kadang aku merasa iri dengan Yu Raa. Dia memiliki banyak keberanian untuk memilih tinggal sendiri, bahkan dia bekerja karena tidak ingin menggunakan uang dari Ayahku.

Tapi mengingatnya hanya membuat hatiku marah, kesal dan bersalah.  Mengingat kembali rentetan kejadian hari ini, membuat hatiku mendesir begitu sakit dan ketakutan.

“Apa kau sedang tidak enak badan?” ,tanya Ibu Tiriku yang duduk dihadapanku.

“Kau baik-baik saja Yoona?” ,tanya Ayahku ketika melihatku yang hanya menyandarkan badan dikursi.

Aku tetap menatap kosong piring di depanku, “Aku sudah selesai.” ,ujarku seraya bangun tidak mau menjawab pertanyaan dua makhluk yang paling-tidak-ingin ku temui.

“Kau mengabaikan pertanyaan Ayah dan Ibumu?” ,kembali tanya Ayahku yang menghentikan langkahku.

“Dia bukan Ibuku. Dan aku berharap kau bukan Ayahku.” ,ujarku sinis seraya melangkah menjauh.

Walau masih bisa ku dengar Ayahku yang marah dengan perkataanku tadi, dan si Ibu tiri itu menjalankan perannya dengan sangat baik untuk ‘menenangkan’ Ayahku.

Aku memilih untuk kembali ke kamarku, merebahkan badanku dan menatap langit kamarku. Ada sedikit rasa sesal atas hal yang terjadi tadi pagi, yaitu ketika aku memaki Yu Raa. Dia tidak bersalah, aku yang salah, tapi kenapa aku yang memakinya?

Mungkin lebih baik jika dia yang memakiku dan bilang bahwa aku menghancurkannya. Tidak akan sesakit ini.

Pikiranku kembali melayang seraya dengan tertutupnya mataku. Kembali bayangan masa lalu yang menghantui hidupku bertahun-tahun muncul.

Aku mengingat saat Ibuku meninggal – usiaku masih 7 tahun saat itu – karena kecelakaan saat ingin menyusulku dari sekolah, dan 3 bulan setelahnya Ayahku mengenalkan wanita pelacur itu dan mengatakan mereka akan menikah. Tepat 4 bulan kematian Ibuku mereka resmi menikah.

Mulai dari saat itu aku membenci Ayahku. Berfikir bahwa Ayahku mungkin pria brengsek yang memang sudah berselingkuh dengan wanita itu. Tapi aku berusaha untuk membuang jauh fikiran itu.

Dan saat aku berumur 10 tahun, Ayahku membawa seorang anak perempuan seumuran denganku, ya… itu Yu Raa – yang awalnya bernama Kim Yu Raa – dan mengatakan bahwa dia adalah saudariku. Berbeda Ibu.

Bagaimana bisa aku memiliki saudari yang seumuran denganku? Akhirnya aku menyimpulkan bahwa Ayahku berselingkuh.

Dan benar saja, ternyata Ibu Yu Raa adalah mantan kekasih Ayahku saat SMA dan mereka kembali bertemu dan menjalin hubungan di belakang Ibuku. Aku membenci mereka. Ayah – Ibu tiriku – Han Yu Raa.

Semakin lama aku semakin membencinya, dikala Yu Raa juga merupakan atlit renang yang cukup baik. Merebut posisiku di club dan disekolah dia juga cukup baik dalam belajar. Dia sering mendapatkan pujian dari guru-guru. Aku sering bertengkar dengan Ayahku karena masalah kehadiran Yu Raa dan Ibu tiriku.

Dan hari yang sangat membuatku trauma adalah ketika aku kembali bertengkar dengan Ayahku tentang Ayahku yang berselingkuh. Mengkhianati Ibuku.

Ayahku memukulku – tepat di pipi kananku – yang membuat hatiku sangat sakit. Aku ingat hari itu adalah pra olimpiade, dan Yu Raa di pilih untuk perwakilan wanita muda di ajang itu.

Aku berlari keluar rumah, aku mendengar Ibu tiriku yang ingin mengejarku tapi ditahan oleh Ayahku. Yu Raa baru sampai rumah sehabis pulang dari latihan dan mukanya bingung melihatku berlari dan menangis.

Dia bertanya ada apa, tapi aku hanya menghujaninya dengan cacian dengan berkata bahwa ini semua salahnya.

Aku berlari – entah kemana – aku tidak memiliki tujuan dan kerabat yang bisa ku kunjungi. Dan saat ku rasa nafasku telah habis karena berlari, aku tersadar bahwa aku sudah berada di jembatan sungai Han.

Sudah cukup jauh – malah sangat jauh aku berlari.Seketika tubuhku mulai merasakan lelahnya, terutama kakiku. Aku menunduk, menopang tangan dilututku. Sesaat aku membiarkan posisiku yang berdiri di tengah trotoar.

Aku mendongak ke kiri, melihat tulisan di pagar pembatas jembatan yang bertuliskan ‘Apa yang sedang kau pikirkan?’

“Ibu.” ,gumamku pelan. “Aku merindukan Ibuku.”

Aku mengambil langkah mendekat ke jembatan itu, memegang pagar pembatasnya. “Jika aku mati, aku akan bertemu Ibu kan?”

Perlahan aku memanjat sedikit demi sedikit pijakan di pagar itu, dan sampai di tengah dengan mudah. Aku merentangkan kedua tanganku, siap untuk menjatuhkan diri ke dinginnya air.

“Ibu, tunggu aku.”

Dan seperti terbawa angin aku mencondongkan badanku kedepan, melayang seperti daun yang lepas dari pohonnya. Tapi bukannya kedepan, melainkan kebelakang dengan ada sentuhan hangat yang melingkar di pinggangku.

Aku tersadar dan membuka mata seraya suara yang bergema di telingaku memekik kesakitan. Aku tersadar bahwa aku tidak jatuh kedalam sungai, melainkan kembali ke trotoar – dengan menimpah seseorang di belakangku. Aku mengumpulkan tenagaku dan bangkit dan melihat orang yang masih meringis sakit memegangi siku tangannya.

Han Yu Raa.

Dia masih disana dengan terduduk, masih asik dengan kegiatan meringisnya. Mataku membulat, seketika badanku kembali menyerap luapan emosi.

Aku kembali memanjat pagar dengan cepat, saat di pijakan kedua Yu Raa kembali menarik tanganku dan kali ini lebih kasar.

“Apa yang kau lakukan?!” ,tanyanya dengan nada membentak.

“Bukan urusanmu!” ,aku menghempas tangannya dan kembali berusaha menaiki pagar dan tetap dihalangi Yu Raa.

“Apa kau gila?! Kau ingin mati?! Apa dengan mati masalahmu selesai?!”

“Memang tidak! Tapi setidaknya aku tidak perlu mengurusi masalah itu lagi!”

“Lalu bagaimana Ayahmu? Jung Mi Rae Ajhuma? Bagaimana dengan mereka?!”

“Apa peduliku pada mereka!? Apa pedulimu padaku!?” ,aku kembali menghempaskan tangannya dan tetap berusaha memanjat pagar.

Yu Raa mengeratkan pelukannya di pinggangku.

“Hanya bicara padaku jika kau marah! Jangan melakukan hal bodoh! Kau mengabaikan masa depanmu untuk mati?!”

“Lepaskan! Ku bilang LEPASKAN!” ,aku meronta tak terkendali tapi Yu Raa tetap masih mengeratkan tangannya dipinggangku.

“Jika kau ingin berteriak lakukanlah! Jika kau butuh orang untuk kau teriaki kau bisa meneriakiku sesuka hatimu! Memakiku sesuka hatimu! Memukulku sesuka hatimu!”

“Kau tidak sadar! Ini semua juga karena dirimu!”

“Aku tau! Maka dari itu lakukan yang ingin kau lakukan! Jangan menyiksa dirimu seperti ini! Bahkan jika kau ingin aku keluar dari rumah itu maka aku akan melakukannya! Menendang bokongku sendiri ke panti asuhan! Akan aku lakukan!”

“Kalau begitu lakukan sekarang!” ,tantangku.

“Baiklah. Akan aku lakukan, sekarang kita pulang dan aku akan melakukannya!”

Aku tertawa sinis, “Jika kau pun melakukannya Ayah tidak akan menyetujuinya! Kau anak dari mantan kekasihnya!”

“Aku tidak memerlukan persetujuannya! Pria itu tidak akan bisa menahanku! Sekarang turunlah!!!”

Aku kembali memberontak dan mencoba menampik lingkaran tangan Yu Raa yang semakin mengerat dari waktu ke waktu.

“Aku bahkan tidak pernah menganggap dirinya Ayahku! Aku bahkan membenci mendiang Ibuku karena ternyata berselingkuh dengan pria yang memiliki istri! Jika bukan karena pengadilan, aku lebih memilih tinggal di panti asuhan!!” ,jelasnya masih dengan acara-lepaskan-dan-pegangi antara kami.

Aku tidak tau itu benar atau tidak – tapi yang ku dengar itu terdengar seperti kejujuran. Aku kembali meronta dan memilih membungkam mulutku.

Sampai aku berhasil turun dari pagar itu dengan Yu Raa yang tetap setia memeluk pinggangku. Aku berbalik dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Yu Raa yang sudah bercucuran keringat. Seketika membuatnya terpental kejalan raya dan setelahnya terdengar suara klakson panjang, teriakan dari Yu Raa dan diakhiri dengan dentuman keras.

Aku membatu, dengan mata membulat serta terkejut.

Jantungku berdetak kencang.

Nafasku sesak.

Air mataku mengalir dengan deras.

Darahku memanas.

Badanku melemas.

Otakku mencoba mencerna apa yang terjadi.

Orang-orang mulai berkumpul kejalanan – mengelilingi tubuh Yu Raa yang membeku di tengah jalan. Aku melihat dari kejauhan, darah dimana-mana tergenang disekujur tubuhnya. Bahkan dalam keadaan terpejam, mulutnya memuntahkan darah yang sangat banyak dan tidak berhenti – membuat tubuhnya mengejang.

Aku terjatuh duduk di trotoar, ingin sekali aku berlari dan mendekapnya. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Dan mulutku hanya bisa menggumamkan namanya berkali-kali. Setelah itu, aku tidak begitu mengingatnya. Hanya saat aku berada di rumah sakit menunggu Yu Raa yang di operasi didalam sana.

Setelah satu jam, Yu Raa keluar dari ruang operasi – dengan orang-orang berbaju biru mendorong ranjangnya – menuju ruang ICU. Bukan pertanda baik.

Bahkan setelah dua hari Yu Raa tidak membuka matanya, aku berdiri di ruang ICU Yu Raa dirawat. Harusnya ada Ayah dan Ibu tiriku, tapi yang kulihat dari kaca hanya Nan Cho yang duduk disamping ranjang Yu Raa dengan menggenggam tangannya.

Bahkan disaat seperti ini, aku masih iri dengan Yu Raa karena memiliki orang seperti Nan Cho. Nan Cho sangat menyayangi Yu Raa, mereka berteman sejak kecil tapi aku tau bahwa mereka sebenarnya saling menyukai.

Aku hanya bisa bersandar di depan ruang ICU dan terduduk disana. Meneteskan air mata untuk kesejuta kalinya karena aku selalu menangis melihat Yu Raa.

Aku beralih dari sana setelah puas menangis, dan mencoba mencari Ayahku dan aku tau sepertinya dimana mereka berada. Di ruang dokter yang menangani operasi Yu Raa.

Pintunya sedikit terbuka, aku berdiri mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Kondisinya tidak cukup baik Tuan Han.” ,ujar dokter Kang. “Keretakan tempurung otaknya tidak begitu parah tapi pasti akan sering membuatnya merasa kesakitan disekitar kepala. Dan patah pada bagian kakinya bisa sembuh setelah 3 bulan pengobatan, mengingat dia atlit sepertinya akan sulit untuk memaksakan diri tapi tidak menutup kemungkinan untuk kesembuhannya jika dia berusaha lebih kuat.”

Terdengar suara Ibu tiriku yang memgumamkan kata ‘Syukurlah’ dengan kelegaan.

“Tapi… yang aku khawatirkan adalah…” ,dokter Kang menjeda kalimatnya.

“Apa itu dokter?” ,tanya Ayahku dengan penuh ketegangan di nadanya.

“Yu Raa… mengalami pendarahan di jantungnya karena tulang rusuknya yang patah menusuk kebagian dalam jantungnya. Kami sudah menangani pendarahan bagian luar tapi kami kesulitan mencapai arteri jantungnya. Di tambah lagi paru-parunya mengalami pembengkakan permanen akibat benturan yang membuatnya kesulitan bernafas. Karena kondisi paru-parunya kita tidak bisa melakukan anestasi lebih dari 17 % karena bisa meningkatkan resiko berhentinya kerja paru-paru ditengah operasi, sedangkan untuk mengoperasi pembulu arterinya di perlukan tingkat anestesi minimal 25 %, walau dipaksakan itu tidak akan mungkin.”

Aku mendengar suara isakan dari Ibu tiriku, dan nada sumbang dari ayahku yang bertanya apa yang harus dilakukan.

“Untuk pasien seperti Yu Raa…” ,dokter itu diam sejenak. “Aku sebagai dokter mengucapkan banyak permintaan maaf karena tidak bisa menanganinya lebih baik tapi… kondisi seperti ini sangat tidak mungkin untuk kembali normal atau sembuh. Bahkan tidak mendekati angka 1 % pun. Maaf saya harus mengatakan ini sebagai dokter.”

“Ta-tapi anda dokter. Aku akan memberikan berapapun… Tolong bantu anak saya, dok.” ,ringisan Ayahku terdengar. Ini pertama kalinya aku mendengar nada memohon dari Ayahku.

“Maaf Tuan Han. Tentu sebagai dokter aku akan membantu Yu Raa tapi… saya takut jika Yu Raa tidak dapat bertahan selamanya dengan keadaan tubuh seperti itu. Walau saya sendiri kagum dengan kegigihannya untuk tetap bertahan di ruang operasi kemarin. Mungkin jika dia mengikuti pola hidup sehat dan terapi serta pengobatan teratur maka kerusakan jantung dan paru-parunya tidak akan memburuk. Dia masih begitu muda.”

Tangis Ayahku pecah dikala itu, sedikit tertahan mungkin karena pria yang sulit mengeluarkan air mata dari pada wanita.

Sementara aku hanya mematung di depan pintu, dengan bibir bergetar hebat serta jantung yang berdeguk cepat. Akhirnya aku menghancurkan seseorang atau bahkan membunuhnya karena keegoisanku. Hanya karena kebencian dan rasa iri yang sekarang kupikir tidak beralasan. Karena disini Yu Raa juga korban dari sifat buruk Ayahku. Siapa yang minta dilahirkan menjadi anak selingkuhan? Pikirku.

Aku segera menjauh dikala mendengar Ayahku dan Ibu tiriku akan keluar. Bersembunyi di tembok koridor sebelah ruangan dokter. Dan setelah mereka menjauh, aku hanya bisa merosot dilantai karena kakiku sudah tidak bisa berdiri menopang tubuhku lagi. Aku menangis tersedu – sendiri – dan ketakutan.

Sampai sebuah tangan menepuk-nepuk pundakku seraya berkata, “Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir.” ,berulang kali.

Mata Nan Cho juga basah saat itu, dia ternyata juga mendengar dengan jelas dari balik tembok itu. Aku hanya kembali terisak sampai tubuh besar dan hangatnya memelukku – membenamkan kepalaku di dadanya. “Yu Raa akan segera bangun. Dia akan segera sembuh. Jangan Khawatir. Aku tau dia lebih kuat dari itu. Jadi Jangan Khawatir. Aku tau dia akan bangun dan kembali.”

Aku tidak bisa berkata apapun lagi, hanya air mata yang mewakiliku saat itu.

6 bulan berlalu sejak itu, Yu Raa menghabiskan waktunya berada dirumah sakit selama itu. Ayah memutuskan untuk memanggil guru selama masa pengobatan Yu Raa. Beberapa kali dia mengalami serangan kesakitan di jantungnya dan sesak nafas yang hampir membuatnya berulang kali – hampir mati.

Saat itu ulang tahunnya yang ke-12, masih di rumah sakit. Ibu tiriku memberikannya sedikit kejutan berupa mengundang teman sekelas ke rumah sakit. Dia cukup senang, apalagi ada Nan Cho yang setia mengunjunginya setiap hari atau bermalam di sana.

Setelah pesta kecil itu usai, kini tinggal Ayahku, Ibu tiriku, Sekertaris Yoon – sekertatis kepercayaan Ayahku – dan Nan Cho.

Ayahku tau tentang Nan Cho dan tidak mempermasalahkan tentang itu. Mereka bercanda tentang beberapa hal yang tidak ku tanggapi – bagaimana aku bisa tertawa ketika seseorang hampir mati berulang kali karena ulahku, begitu pikirku.

Sampai Ibu tiriku menanyakan apa keinginan Yu Raa di hari ulang tahunnya. Dia bahkan meyakininya bahwa Ayah akan mengabulkannya. Mengingat bahwa hubungan Yu Raa dengan Ayah juga tidak lebih baik dariku. Dia tidak pernah meminta apapun, atau bahkan bicara apapun tanpa mengundang perdebatan.

“Mintalah sesuatu Yu Raa~ya.” ,bujuk Nan Cho kepada Yu Raa yang hanya diam sedari tadi.

“Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” ,tanya Ayahku dengan nada lembutnya.

Sepersekian detik semua menjadi hening, aku kembali tertunduk. Sebenarnya ada sedikit rasa iri karena Yu Raa mendapatkan hal yang baik menurutku. Tapi aku kembali menampik pikiran itu, karena aku tidak ingin mengulangi hal yang seperti itu lagi.

Tanpa kusadari ternyata dirinya menatapku, dan ketika aku mengangkat kepalaku dia kembali membuang pandangnya.

~ Mungkin kau sangat membenciku sekarang.

“Aku…” ,dia mulai bersuara. “…memiliki hal yang kuinginkan.”

“Apa itu, sayang?” ,tanya Ibu tiriku.

Dia menelan salivanya kasar, “Aku ingin kembali tinggal dirumah Ibuku.” ,ujarnya.

Hatiku terasa hancur berkeping-keping mendengarnya. Pasti dia sangat membenciku, itu sudah pasti. Dia tidak mungkin mau melihat wajah orang yang menghancurkan masa depannya.

“Yu Raa~ya…” ,Nan Cho yang pertama kali membuka suara menutupi rasa tidak nyaman yang seketika terjadi.

“Aku sudah memikirkannya. Aku ingin tinggal sendiri disana. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” ,ujarnya meyakinkan.

“Tapi kenapa…?” ,tanya Ayahku yang diputus dengan jawaban Yu Raa.

“Kau bilang akan mengabulkan apapun. Tidak bisakah hanya mengabulkannya dan jangan bertanya alasannya.”

Aku keluar dari ruangan itu setengah berlari, tidak kuat menahan air mataku. Harusnya aku bisa menerimanya dengan lapang dada bukan dengan menangis seperti ini. Tidak mungkin Yu Raa tidak membenciku setelah apa yang kuperbuat kepadanya.

Aku tidak tau bagaimana bisa pada akhirnya Ayah mengijinkan Yu Raa tinggal sendiri dikala dia butuh orang yang memperhatikan kondisinya. Tapi ya… Yu Raa pergi dan sampai sekarang tidak pernah kembali ke rumah.

.

.

Jam pelajaran pertama sudah selesai, Yu Raa tidak juga menampakkan batang hidungnya. Pagi ini aku tetap berangkat kesekolah, walau rasanya tidak nyaman membayangkan suara-suara dibelakang yang mengumpat tentang diriku.

~ Apa karena kemarin?

“Yu Raa kenapa tidak masuk ya?” ,aku mendengar suara Taeyeon yang berada di belakangku. “Apa dia benar-benar baik? Kemarin wajahnya menjadi lebih pucat saat pulang. Eonnie-nya juga belum pulang kemarin. Aku jadi khawatir.”

“Aku juga. Apa kita bolos saja dan pergi kerumahnya?” ,tanya Kristal dengan nada sedikit membisik.

“Call.” ,jawab Taeyeon dan disambung ‘Call’ dari Kristal juga.

“Bagaimana denganmu Jin Ah?” ,tanya Taeyeon kembali.

Jin Ah menutup buku dengan kasar, “Lebih baik biarkan Yu Raa sendiri. Aku yakin tubuhnya baik-baik saja. Hanya hatinya yang sedang sakit karena harus menyerahkan mimpinya karena orang yang tidak bertanggung jawab.” ,ujar Jin Ah – yang sangat kutau dia mengejekku.

“Jika aku yang berada diposisinya, membiarkan orang yang menghancurkan diriku seperti itu tidaklah mungkin. Aku mungkin akan mematahkan kakinya. Tapi Yu Raa begitu baik hati dan membiarkannya.” ,lanjutnya.

Tanpaku lihat pun aku tau jika Jin Ah sekarang menatap kesal ke arahku.

“Sudahlah Jin Ah~ya…” ,ujar Taeyeon. Dan mereka akhirnya diam. Tapi itu tetap mengundang beberapa mata di kelas yang mulai bergumam di belakangku. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, bukankah itu benar? Semua bisikan yang berada di belakangku? Aku begitu jahat kepada Yu Raa.

Aku sedikit terkejut ketika sebuah buku mendarat halus dimejaku, aku mendongakan kepala mendapati Baekhyun yang tersenyum. “Jangan dengarkan.” ,ujarnya tak luput dari senyumnya.

Aku hanya menerimanya dan tidak merespon apapun.

“Kau mau sesuatu? Atau merasa tidak enak badan dan ingin izin? Aku akan membantumu.” ,tawarnya.

“Aku baik-baik saja.” ,mencoba meyakinkannya walau sepertinya itu tidak berhasil, jelas terlihat diraut wajahnya.

“Kalau butuh sesuatu bilang padaku.”

Dan aku membalasnya hanya dengan senyuman, sampai ketika sepasang mata telah mendapatiku entah berapa lama – berdiri di ambang pintu.

Yu Raa berjalan santai melewatiku dan Baekhyun seraya mengumpat karena Baekhyun yang menghalangi jalannya. Dan duduk dibangkunya.

“Yu Raa~ya… Kau kemana saja tidak masuk kelas pagi ini eoh?” ,tanya Kristal dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin.

“Apa kau sakit? Atau tidak enak badan?” ,tambah Taeyeon.

Yu Raa hanya berdecak, semua kepala menuju kepadanya mungkin menanti apa yang dikatakannya – mungkin sesuatu yang menyangkut renang atau diriku.

“Aku telat dan lupa memakai name tag…” ,ujarnya. “AH! Guru Uhm SIALAN itu!!” ,teriaknya. Membuatku sedikit terkejut, dan aku yakin mereka juga. “Dia menghukumku untuk membersihkan toilet dan mengelap kaca dipagi hari! Lagipula hanya name tag kenapa dipermasalahkan? Belum lagi si guru ‘kejiwaan’ Ahn yang mukanya menyebalkan seperti guci antik jaman Jonseon yang menertawakanku! Mereka menyebalkan!” ,ucapnya tanpa jeda. Membuat beberapa terkekeh dengan wajah kusut dan marahnya itu.

“Kenapa kalian tertawa?! Kalian senang eoh?!” ,pertanyaannya yang menuju ke ketiga temannya yang tertawa. “Awas kalian! Aku berjanji akan menertawakan kalian jika kalian terpeleset atau kena hukuman!”

“Ya.. Yu Raa~ya jangan marah…” ,ujar Kristal yang mencoba membujuk Yu Raa.

“Masa bodo.” ,jawabnya.

Dan kini mereka bertiga merengek dan sesekali mengatai Yu Raa. Aku sendiri tidak sadar bahwa aku ikut terkekeh kecil, ada beban yang sedikit terlepas. Karena Yu Raa tidak begitu memusingkan masalah renang. Mungkin perkataannya diatap itu sebuah kejujuran.

Baekhyun menepuk pundakku, “Kau baik-baik saja sekarang.” ,ujarnya seraya tersenyum dan kembali menuju bangkunya.

Masih terdengar suara ke-empat orang di belakangku, mereka tertawa sedangkan Yu Raa masih dengan posisi marahnya kepada teman karibnya itu.

.

Setelah makan siang, jam pelajaran di kosongkan karena ada konseling bimbingan yang di ciptakan oleh Guru Ahn. Aku orang ke 19 yang di panggil keruangannya. Anak-anak lain yang sudah di panggil saling bercerita tentang Guru Ahn yang memberikan motivasi berlebihan kepada mereka.

Dan itu benar.

Terutama ketika dia mengatakan bahwa aku bisa menjadi seorang yang dapat mengubah Korea.

Aku sedikit tertawa ketika dia mengatakannya.

Guru ini begitu lugu, dan memperlakukan siswanya seperti layaknya murid sekolah dasar.

“Bu Ahn, boleh aku bertanya sesuatu?” ,tanyaku.

“Tentu saja.” ,jawabnya terlihat bersemangat.

“Kau wali kelas disekolah lama Yu Raa bukan?” ,seketika wajahnya berubah menjadi sedikit tegang. Aku tau pasti dia sudah mendengar dari beberapa murid lain mengenai diriku dan Yu Raa.

Dia hanya mengangguk. Terlihat agak ragu sebenarnya.

“Apa kau pernah memberikan konseling kepadanya?” ,tanyaku kembali.

“Dia tidak pernah datang konseling seperti ini, kau tau?” ,jawabnya setelah ada jeda untuknya menjawab. “Jadi aku yang harus menghampirinya di tempatnya bekerja untuk melakukan konseling.”

“Oh…benarkah?”

Aku menunduk, tidak bisa aku ingkari pemikiranku yang berfikir bahwa ini berawal karena aku. Sikap dinginnya karena diriku.

“Apa cita-citanya?” ,tanyaku kembali.

“Entahlah…” ,dia menatap wajahku yang menunduk semakin dalam. “Dia tidak pernah menjawabnya.”

“Mungkin karena cita-citanya tidak bisa tercapai sekarang, kan? Dia tau dari awal bahwa cita-citanya tidak akan pernah bisa dicapai.” ,gumamku pelan.

Guru Ahn mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan kuat tapi menenangkan. “Aku mendengar tentang kau dan dia. Kau tau… aku yang pertama kali menerima surat itu ditanganku. Aku saja tidak berani memberikannya… tapi kemarin dia menerimanya dengan baik. Jangan khawatir.”

“Aku tidak mengkhawatirkannya, tapi… aku merasa bersalah sudah membuang mimpinya.”

Guru Ahn terdiam tanpa bisa berkata apapun.

“Itu memang salahku Bu Ahn. Aku mendorongnya waktu itu, walau hanya sebuah ketidak sengajaan. Tapi aku memang mendorongnya.” ,lanjutku. Air mataku menetes.

Guru Ahn bangkit dari kursinya, menghampiriku dan memelukku tetap dengan posisiku yang duduk.

“Aku tidak tau harus bagaimana sekarang. Bahkan untuk meminta maaf pun aku tidak sanggup Guru Ahn. Aku…” ,aku terisak di dalam pelukannya. Mengeluarkan semua bebanku.

“Tidak apa-apa Yoona~ya… menangislah dihadapanku.” ,sepertinya dia sadar bahwa aku mulai mengerutuki diriku yang tanpa sadar ‘mengeluarkan-emosi’ ku dihadapannya.

Aku memilih tetap menangis dan mendekapnya erat, terasa tangannya mengelus-elus rambutku. Ini pertama kali sejak 11 tahun yang lalu aku merasakan kembali elusan sayang dikepala ku. Membuatku kembali terisak kuat mengingat sosok ibuku.

Setelah puas menangis, Guru Ahn kembali kebangkunya – setelah memberikanku secangkir coklat panas dan memilih untuk tidak melanjutkan konseling.

Aku hanya menatap cangkir hijau itu, tanpa minat untuk meminumnya. Kepalaku jadi sakit setelah menangis ‘hebat’ untuk waktu yang lama.

“Minumlah sedikit.” ,ujar Guru Ahn lembut dengan mengangkat cangkir itu dan terpaksa aku meminumnya.

Kami terdiam beberapa saat sampai Guru Ahn memulai kembali pembicaraan. “Sebenarnya aku mengadakan konseling ini untuk Yu Raa.” ,aku menatap Guru Ahn. Ada perasaan tidak enak dihatiku karena sepertinya dia ‘salah sasaran’.

“Aku tidak mempermasalahkan dulu saat dia menolak menghadiri konseling bimbingan atau saat aku menghampiri ke tempat kerjanya dan dia tetap tidak memberitahuku tentang cita-citanya. Karena ku pikir universitas akan mudah menerimanya karena dia seorang atlit, tapi… setelah hari kemarin aku jadi memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Aku pikir dia juga akan kebingungan.”

Aku kembali menenggelamkan kepalaku.

“Tapi satu hal yang ku tau tentangnya, Yoona~ya. Yu Raa bukan seorang yang akan menyerah begitu saja. Jadi kau tidak perlu khawatir dengan masa depannya.” ,ujarnya kembali.

~ Karena dia tidak memiliki apapun lagi, maka aku harus mengatakan apa? Atau aku harus menyerahkan apa?

Guru Ahn menghela nafasnya, “Aku juga baru tau dari pelatihnya jika sebenarnya Yu Raa mengundurkan diri dari club sebelum ujian akhir tahun pertama. Tapi pelatihnya menahannya dan bilang bahwa saat hasil tes keluar dia baru bisa memutuskan.”

“Dia menyiapkan diri untuk itu?” ,gumamku.

Guru Ahn mengangguk, rasa bersalah kembali bersarang dihatiku.

“Tapi…” ,lanjutnya. “…kau tau jika Yu Raa banyak berubah setelah pindah? Biasanya dia akan membolos, tidak peduli dengan pelajaran bahkan tidak pernah mengumpul latihan sastra. Aku sempat terkejut saat melihat nama Yu Raa ditumpukan buku latihan dan dia sangat berusaha mengerjakannya. Dan tadi pagi adalah pertama kali aku melihatnya berlari karena telat, biasanya dia akan berjalan santai tapi tidak kali ini. Dia juga menerima hukuman dari Guru Uhm dan menjalankannya sesuai perintah. Dia banyak berubah setelah pindah ke sekolah ini.”

Aku masih menunduk, entah apa yang coba disampaikan oleh Guru Ahn karena penjelasannya yang panjang tidak sampai membuat otakku berfikir kearah mana pembicaraannya.

“Saat itu aku tau jika bukan sifat Yu Raa yang membuatnya membenci sekolah tapi karena sekolah itu sendiri. Sekolah lama memberinya banyak toleransi dan sekarang aku sadar bahwa itu alasan Yu Raa mengabaikan sekolah. Sekolah tidak pernah menghukumnya.” ,dia menghela nafas kembali.

“Menurutku… jika dia memang menyalahkanmu dan membencimu… apa dia akan berubah seperti ini?”

Aku menatap Guru Ahn karena pertanyaannya membuat jantungku berdebar.

“Jika aku adalah Yu Raa yang menyalahkanmu aku pasti tidak ingin berada disekolah lebih lama, apalagi berada sekelas denganmu. Atau setidaknya aku akan langsung marah besar denganmu setelah yang kau lakukan kepadaku, bukankah seperti itu?”

~ Apakah itu artinya Yu Raa memang tidak pernah menyalahkanku atas apa yang menimpanya?

 

~ Termasuk tentang Kim Nan Cho?

 

~ Termasuk dengan kepindahannya?

“Tapi Yu Raa yang kulihat sampai hari ini malah tersenyum ceria seperti biasa. Dan tidak ada sedikitpun dari matanya yang menyiratkan bahwa dia membencimu. Benarkan?”

Aku mulai mengedarkan pandangku kesegala arah, mencoba mengingat. Dan sepertinya memang benar begitu… dia tidak pernah marah, dia tidak pernah mengatakan apapun.

“Masalahnya hanyalah kau yang tidak pernah berbicara kepadanya. Meminta maaf dan mendengarnya.” ,jelas Guru Ahn.

“Lalu… bisakah aku melakukannya? Berbicara dengannya? Bukankah ini terlalu terlambat?” ,tanyaku.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?” ,jawabnya dengan senyuman manis diwajahnya.

Aku berfikir sejenak.

“Bu Ahn, bisa aku meminta bantuanmu?”

“Tentu. Apa itu?”

“Yu Raa tidak mengikuti kegiatan club lagi jadi dia akan mengikuti kegiatan di sekolah, bukan?”

“Oh iya. Aku lupa bagian itu.”

“Dia pasti bingung karena dia tidak pernah ikut kegiatan lain selain renang. Tapi…” ,aku menjeda kalimatku. “…bisakah kau membantunya untuk masuk ke dalam club Broadcast?”

“Club Broadcast? Apakah dia bisa?”

“Di club Broadcast ada bagian photografinya, dia pernah memenangkan kompetisi ketika sekolah menengah pertama ditahun kedua. Mungkin itu bisa membantunya.” ,jelasku.

“Itu pasti.” ,jawabnya dengan senyum girang. “Aku akan membantunya untuk masuk kesana.”

“Terima kasih Bu Ahn. Aku tidak tau kapan bisa meminta maaf kepadanya, tapi hatiku lega saat bisa sedikit membantunya.”

Lalu aku segera meminta izin untuk kembali ke kelas setelah mendengar bel pergantian jam.

“Han Yoona.” ,panggil Guru Ahn saat aku sudah berada didepan pintu. “Terima kasih telah percaya kepadaku.” ,ucapnya.

Entah kenapa – tapi hatiku menjadi sedikit lega karenanya. Dia bisa sebaik itu padahal dia baru mengenalku.

Aku kembali melangkah ke kelas, sedikit berfikir bagaimana cara aku bisa meminta maaf dan bicara kepada Yu Raa. Aku berhenti tepat di depan jendela kelasku, hanya sekedar untuk menatap kedalam kelasku sendiri. Melihat Yu Raa sedang bersenda gurau kepada ketiga temannya. Tidak terlihat ada kesedihan di matanya, itu baru terjadi kemarin. Dan dia sudah seperti biasa…

~ Yu Raa~aa… sepertinya memang aku yang terlalu membebanimu ya?

 

~ Jika aku meminta maaf, akankah kau memaafkanku?

 

~ Atau… jika aku ingin bicara kepadamu, apakah kau mau mendengarku?

TBC

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s