[EXOFFIF REELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 3)

PicsArt_01-28-12.29.02

In Our Lovely Destiny

.

.

.

By : Author Rhee

.

Byun Baekhyun & Han Yu Raa || Romance, School-Life || Multichapter || PG-17

Summary : “Ketika takdir mempermainkanku, kau hair dan membuatku kembali percaya…”

Disclaimer : Cerita ini murni adalah ide saya yang sudah tersimpan dalam laptop selama 1 tahun 😀 (kekeke). Cerita ini adalah fiksi semata, jadi jangan pada baper.

.

.

03 – [Han Yu Raa] ~ Tidak ada yang tahu tentang kita

 

 

Aku melihat kilatan cahaya dari balik kelopak mataku yang terpejam, bisa ku tebak sebentar lagi akan ada suara yang memekakan telinga meneriakan namaku.

 

“Yu Raa-ya! Bangun! Kau bisa terlambat sekolah! Cepatlah!”

 

Ya… suara itu mengisi hariku selama seminggu ini. Suara Pengacara Cha, aku menepati janjiku untuk tinggal bersamanya setelah pindah. Dan sialnya, ternyata dia sangat berbeda dengan pemikiran awalku. Dia tidak akan berhenti teriak jika aku belum keluar dari kamarku dan dengan terpaksa aku akan duduk di hadapannya – seperti sekarang. Aku hanya menidurkan kepalaku di atas meja makan saat ia menaruh segelas susu dan roti panggang.

 

Dia sedikit berdecih ketika melihatku, “Sudah ku bilang untuk tidur di awal waktu. Kau selalu susah bangun pagi karena tidur terlalu larut.” ,omelnya.

 

Aku mengangkat wajahku dan segera memakan roti yang berada di hadapanku tanpa berniat meladeninya. Mataku masih setia tertutup dengan mulut yang mengunyah roti itu secara perlahan. Sungguh sarafku belum bisa bekerja secara penuh karena rasa kantuk ini. Aku mendengarnya terkekeh kecil, tanpa ku lihat juga aku tau bahwa ia menertawakanku. Aku tidak begitu peduli.

 

“Apa tidak lebih baik kau libur hari ini?” ,tanyanya tiba-tiba.

 

Aku membuka mataku, “Apa boleh?” ,tanyaku lebih bersemangat.

 

“Tidak. Tentu saja tidak boleh.”

 

~ Menjengkelkan!!

 

Aku kembali memakan rotiku tanpa menatapnya, aku beralih melihat layar televise yang sedang menayangkan kartun pagi. Itu kartun pororo.

.
Kini aku duduk di mata pelajaran Guru Ahn. Ahhh… Guru kepribadian ganda yang ternyata pindah kesekolah yang sama denganku. Membuatku semakin membenci dengan yang namanya takdir saat mendengarkan suaranya didepan kelas. Sekian banyak orang di dunia, kenapa dia yang harus kebetulan bertemu di tempat baru ini?

 

Dua jam berlalu dengan telingku yang masih utuh – untungnya. Dan hal itu tidak jauh berbeda dirasakan oleh ketiga teman baru wanitaku – sekedar informasi, ini adalah pertama kalinya aku memiliki teman wanita atau lebih tepatnya memiliki teman. Karena aku tidak begitu suka dengan ‘pertemanan atau persahabatan’. Tapi sebutlah itu termasuk permintaan emas – lebih tepatnya terdengar seperti interupsi mengancam – untuk memiliki teman wanita, setelah si pengacara radio rusak itu juga memintaku untuk memanggilnya ‘eonnie’. Menjijikan!

 

“Suara Guru Ahn masih terngiang ditelingaku.” ,ujar Kristal yang duduk tepat disebelahku. Mengatupkan kedua tangannya di telinga.

 

“Kenapa dia bisa terus menerus berbicara selama dua jam lamanya sih. Apa mulutnya tidak pegal?” ,kini giliran Jin Ah yang mengeluh. Dia didepan Kristal. Sedangkan Taeyeon hanya menusuk-nusukan jarinya kedalam telinga kirinya sembari mengangguk-angguk.

 

“Kau mau kemana, Yu Raa-ya?” ,tanya Kristal ketika aku sudah berdiri dari bangkuku.

 

“Ke loker.” ,singkatku.

 

“Lalu itu untuk apa?” ,tanya Taeyeon sambil menunjuk tas plastik di tanganku.

 

“Oh ini… Guru Ahn bilang barang si pemilik loker sebelumnya itu masih disana. Jadi aku akan membereskannya dan memberikan barangnya kepada Guru Ahn.”

 

“Benarkah? Kenapa bisa ditinggalkan?” ,Kristal mengedarkan pandangan kesana kemari sedikit berfikir – entah apa. “Memang dimana lokermu?”

 

“D-2114.” ,aku membaca kertas yang memangku genggam di tangan kananku.

 

“Dekat dengan lokerku.” ,Jin Ah langsung merebut kertas itu. “Ayo kesana bersama.” ,ajaknya yang langsung kusetujui. Dan jangan lupa dengan Kristal dan Taeyeon yang juga ikut membuntuti kami.

 

Kami sudah berada disana setelah melewati beberapa blok koridor sekolah, tidak terlalu sulit menemukan loker itu karena sebelumnya aku sudah kesana dengan penjaga sekolah yang membawa tang untuk menghancurkan gembok dengan gambar pororo dari pemilik sebelumnya.

 

“Kalau tidak salah ini lokernya Song Ha Kyung kan?” ,tanya Taeyeon.

 

~ Song Ha Kyung? Namanya terdengar familiar.

 

“Benarkah?” ,Kristal merebut salah satu buku dari tanganku yang akan kumasukan kedalam tas plastik dan mencari nama si pemilik buku. “Benar. Ini loker Ha Kyung.”

 

“Siapa Ha Kyung itu?” ,tanyaku. Sebenarnya aku tidak begitu penasaran, jadi aku tidak begitu ingin mendengar jawabannya.

 

“Teman sekelas kami, dulu dia duduk disebelah Yoona. Kau tau, si wanita mumi dengan tampang dingin di depan kami?” ,jelas Jin Ah.

 

Aku mengangguk. Mana mungkin aku tidak mengetahui tentang Yoona, bahkan aku lebih banyak mengetahui tentangnya dibanding mereka. Hanya saja… aku tidak ingin mereka tau bahwa aku tau tentangnya. Itu menyulitkan!

 

“Teman karibnya?” ,tanyaku. aku penasaran juga kalau menyangkut si nona sok angkuh itu.

 

“Bukan. Mereka bukan teman karib. Hanya duduk sebangku saja.” ,ujarnya. “si mumi dingin itu tidak pernah punya teman, asal kau tau.”

 

Aku sedikit mengerti, karena sebenarnya diriku dengan dia itu tidak jauh berbeda sebelumnya. Yang kalau ditanya kenapa itu hanya hasil dari masa lalu.

 

Jin Ah melanjutkan, “Ha Kyung meninggal sebulan yang lalu.”

 

Meninggal?

 

Sebulan yang lalu?

 

Dan sekarang aku ingat nama Song Ha Kyung itu.

 

Bodohnya aku, dengan jelas harusnya aku mengingat itu. Karena si pria di pemakaman itu kan teman sekelasku juga.

 

Entah apa kelanjutan dari cerita Jin Ah yang tidak kudengarkan, aku hanya kembali mengemas buku itu. Yang ku tahu adalah saat Taeyeon menggandeng tangan Kristal karena ketakutan setelah Jin Ah mengatakan sesuatu tentang kemungkinan loker itu sekarang berhantu.

 

“Bagaimana jika lokermu berhantu Yu Raa-ya?” ,tanya Taeyeon dengan polosnya. Masih memeluk lengan Kristal yang sekarang terlihat risih.

 

“Itu bagus.” ,jawabku. Mereka bertanya apa yang bagus dengan itu?

 

“Jika aku bisa melihat hantu maka aku akan menyuruh mereka membantuku untuk menjawab soal ulangan.” ,dan mengakhiri kata dengan kekehan kecil yang ternyata disambut dengan gelak tawa besar mereka bertiga.

 

Aku selesai membenahi buku-buku yang lumayan banyak itu dan segera beralih dari sana dengan ketiga teman ku yang berada dibelakangku, sembari masih menertawakan lelucon konyol tentang hantu yang masih berlanjut itu.

 

Aku berhenti, sampai kurasakan tubuhku sedikit terdorong kedepan karena Taeyeon dan Kristal yang menabrakku. Tidak memperhatikan saat aku berhenti mendadak.

 

“Ada apa?” ,tanya Jin Ah yang bingung dengan arah tatapan lurusku.

 

Si pria di pemakaman, yang akhirnya ku ketahui bernama Byun Baekhyun berdiri sekitar 2 meter dari tempatku berdiri dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celananya. Matanya tajam, seperti orang marah.

 

Otakku berputar-putar mencari jawaban dari pertanyaan ‘kenapa dia itu’ dalam fikiranku.

 

Setelah beberapa waktu akhirnya dia kembali berjalan kearah kami, “Jangan mengejek Ha Kyung dengan lelucon murahan!” ,katanya saat tepat berada disamping kami dan setelahnya berlalu pergi meninggalkan kami.

 

“Dia itu kenapa!?” ,Jin Ah menatap punggung Baekhyun dengan tajam, sedangkan kedua lainnya hanya kebingungan. Aku kembali berjalan tanpa mau merespon apapun.

 

Kini aku kembali duduk dikelas, tadi memang bukan jam istirahat hanya jeda untuk pergantian jam pelajaran. Jadi setelah selesai membereskan loker, aku memilih masuk kekelas. Dan berencana menyerahkan buku-buku Ha Kyung saat istirahat.

 

Kini pelajaran matematika, Guru Uhm yang mengajar. Kelas menjadi tenang bahkan tidak terdengar suara apapun. Guru Uhm adalah guru yang paling ditakuti – entah kenapa.

 

Waktu berjalan sangat lama dan menegangkan. Karena Guru Uhm sangat suka menyuruh siswa mengerjakan soal di papan tulis dan memberikan hukuman jika tidak bisa menyelesaikan. Dan akhirnya kelas itu berakhir setelah dua jam.

 

Semua siswa keluar dari kelas menuju kantin untuk makan siang. Sedangkan aku menyuruh ketiga temanku untuk makan duluan dan meyakinkan mereka bahwa aku akan menyusul ke kantin setelah selesai menyerahkan buku-buku itu.

 

Aku berada didepan pintu ruang guru dilantai 2, mengetuk pintu dan menunduk memberi hormat kepada Guru Ahn. Agak tidak rela sebenarnya. Tapi ada Guru Uhm disana dan si pria mulut cabe – Baekhyun – yang tadi disuruh untuk membawa buku latihan matematika. Kadang aku berfikir dia lebih terlihat seperti pembantu dari pada ketua kelas.

 

“Aku ingin menyerahkan ini.” ,ujarku ketika Guru Ahn bertanya aku ada keperluan apa.

 

Guru Ahn menerimanya, dan mengeluarkan buku dari dalam tas plastik itu secara asal – kebetulan itu catatan sastra.

 

“Tulisannya sangat rapi.” ,gumamnya. “Dia murid yang pintar, sayang sekali dia pergi begitu cepat.”

 

~ Ayolah… kau seperti telah lama mengenalnya guru Ahn ‘kejiawaan’ Bo Hyung.

 

“Itu buku milik siapa?” ,tanya Guru Uhm yang sepertinya memang memperhatikan aku dan Guru Ahn sedari tadi.

 

“Oh? Ini buku Song Ha Kyung. Sepertinya belum diambil oleh walinya, saya akan menyerahkan ke walinya nanti sore.” ,ujar Guru Ahn.

 

“Keluarga Song Ha Kyung sudah pindah sejak dua minggu yang lalu.” ,kata Guru Uhm.

 

“Benarkah? Padahal aku berencana mengunjungi mereka dan mengenalkan diri sebagai wali kelas baru dikelas Song Ha Kyung.”

 

Guru Uhm hanya menghela nafasnya, dan kembali menatapku. “Kau sudah membeli buku pelajaran?”

 

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya, “A-aku..”

 

“Kau belum membelinya?” ,kini si guru kejiwaan ini akan mengomel lagi. “Aku sudah memberikanmu catatan judul, pengarang dan penerbit dari buku pelajaran kan? Kenapa kau tidak membelinya?!”

 

“Ahh…” ,aku tertawa sedikit untuk menghilangkan kegugupanku, tapi tetap terdengar canggung yang parau. “Aku lupa. Maafkan aku.”

 

“Ya! Han Yu Raa!” ,bentak Guru Ahn.

 

“Kau bisa pakai buku Ha Kyung.” ,Guru Uhm memberi jeda sedikit dikalimatnya. “Lagipula itu juga akan membantu pelajaranmu, dia murid yang pandai di kelas pasti catatannya membantumu untuk belajar.”

 

Aku hanya mengangguk canggung, bukan karena tidak enak untuk menerima buku-buku Ha Kyung, malah aku senang karena tidak perlu menggunakan uang ayahku untuk membeli buku baru. Tapi karena si guru kejiwaan ini masih saja mengomeliku tentang buku yang belum kubeli.

 

Setelah menerima omelan dari Guru kejiwaan itu aku melangkahkan kaki meninggalkan ruang guru dan menuju kantin untuk menyusul teman-temanku yang menunggu dikantin – menepati janjiku kepada mereka.

 

Aku mulai memakan makananku sembari mereka bertanya kenapa buku Ha Kyung masih ada denganku, dan aku menceritakan semuanya termasuk bagian aku yang diomeli habis-habisan oleh guru kejiwaan itu yang membuat mereka tertawa terbahak.

 

Sampai sekumpulan pria – yang kini sangat ku kenal – menaruh nampan berisi makanan dengan gerakan agak kasar dihadapanku. Tidak perlu melihatnya, bisa di tebak kalau itu si hitam brengsek – Kai.

 

Hal lain disekolah ini, dalam waktu seminggu ini aku sudah memiliki musuh yang selalu menggangguku tidak lelah. Dan jangan lupakan Kris – tiang listrik berjalan – teman se-club renangku. Dulu.

 

Sebenarnya Kris bukan tipe pengganggu seperti si hitam brengsek, temannya. Dia pribadi yang lebih suka ‘menghindari’ orang dan tidak suka mencari ‘perhatian’ dengan pembullyan atau semacamnya.

 

Itu yang menyebabkan Kris memaksakan Kai untuk pindah dan mencari kursi kosong lainnya. Tapi si hitam brengsek ini tidak mau bergeming sedikitpun. Hanya bisa membuat Kris mendengus kesal dan menempatkan nampan makanannya disebelah Kai.

 

Setelah kejadian beberapa hari lalu, ketika si hitam brengsek itu benar-benar kesal dengan ucapan ‘muntah’ ku – dia semakin mencari masalah denganku.

 

Aku ingat saat setelah pelajaran olah raga selesai dan semua siswa kembali ke kelas. Aku mendapati tasku yang basah dengan air yang masih menetes, bahkan buku catatanku yang kebanyakan masih kosong rusak tak berbentuk, serta seragam sekolahku juga basah lepek. Saat itu Kai dan kelompoknya lewat dan tertawa mengejek.

 

Ya… itu pasti ulahnya. Tapi aku kembali tidak ingin merespon tindak kekanakannya.

 

Sampai keesokan paginya aku datang kesekolah dengan siswa sekelas yang bergumam tidak jelas dibelakangku – sementara ketiga teman yang kini menjadi teman karibku juga datang bersama denganku. Dan aku mendapati meja ku dengan coretan spidol dan gambar tidak senonoh diatasnya. Saat itu aku melewati setengah hari pelajaran dengan membersihkan meja itu, tentu ketiga makhluk tidak bisa diam itu membantuku. Aku kembali tidak merespon. Kesabaranku tidak serendah itu.

 

Dan sabtu paginya, kembali aku mendapat kejutan dari si hitam brengsek itu yang menaruh mejaku di tengah lapangan – walau hari itu hanya ada kegiatan ekstrakulikuler, tapi tetap aku harus membawa meja dan bangku ku kembali kelantai tiga. Itu batas akhirnya, dan aku berjanji akan melahap habis kulit gosongnya itu jika dihari senin dia kembali mengerjaiku.

 

Sekarang dengan wajah angkuhnya dia duduk di depanku. Membuat ketiga temanku agak meringkuk ketakutan – sebenarnya hanya Kristal dan Taeyeon – Jin Ah lebih berani, mungkin karena pembawaannya yang sedikit tomboy walau masih terlihat dia sedikit bergidik ngeri.

 

~ Mati kau hari ini, makhluk hitam brengsek.

 

“Woah… ini sedikit canggung karena hanya bisa terdiam tanpa menyapa. Bukankah kita cukup akrab eoh?” ,mulainya.

 

“Kita seharusnya lebih sering duduk bersama saat makan, ini bisa meningkatkan nafsu makan.” ,lanjutnya masih dengan nada mengancam yang membuatku jijik. Aku hanya tetap memakan makananku tidak mempedulikannya, butuh sedikit pancingan lagi dan dia akan habis hari ini.

 

Dia menarik nampan makananku menjauh dari jarakku, aku hanya menariknya kembali dan dia kembali menjauhkannya. “Jangan membuat keributan dikantin.” ,ujarnya dengan seringaian menyeramkan.

 

Aku membanting sumpit yang sedari tadi ku pegang kedekat arahnya, mengundang beberapa – atau mungkin seisi kantin untuk melihat kearah kami.

 

“Lalu kau akan membully seperti pengecut? Seperti sebelumnya?” ,tanyaku dengan nada yang tidak kalah menyebalkan darinya tadi. “Setidaknya tunjukkan sedikit bahwa kau bukan pengecut di depan yang lain. Itu memalukan!”

 

“Sepertinya aku terlalu membiarkanmu ya!?” ,dia melipat tangannya mengikuti gayaku dan menyandarkan punggunya di kursi. “Ya! Kalian pergi dari sini!” ,wajahnya menjadi serius.

 

~ Kena kau!

 

Teman si hitam itu menarik lengan ketiga temanku – Jin Ah yang memberontak dan kedua lainnya hanya memekik kesakitan karena tarikan yang kasar.

 

Kini teman-teman Kai duduk mengelilingiku. Mencoba mengintimidasi.

 

“Ya! Kim Jong In!” ,Jin Ah menekankan nama asli si pemilik kulit gosong itu. Membuat Kai menatapnya sinis. “Jangan ganggu dia. Tidakkah kau malu berhadapan dengan wanita?”

 

“Bisakah kau diam atau perlu aku membungkam mulutmu?” ,gertaknya. Yang seketika membuat Jin Ah diam. “Anak ini harus tau sesuatu tentang sopan santun.”

 

“Sopan santun katamu? Bahkan anjing lebih mengerti hal itu daripada dirimu.” ,ucapku mengundang kemarahan Kai yang terlihat dan tatapan matanya serta wajahnya yang kini tidak lagi tersenyum.

 

“Han Yu Raa. Diam lah, melawan tidak ada gunanya.” ,ujar Kris.

 

“Kenapa?” ,tanyaku dengan senyum seringaian evil kepada si Kris. “Kau terlalu menjadi kacung-nya sampai takut padanya? Wah… Kris, kupikir kau orang yang baik tapi ternyata penilaianku salah setelah melihat orang disebelahmu itu. Kau harusnya tau, jika kau berteman dengan sampah maka kau akan menjadi sampah.”

 

“Diam!” ,kini benar Kai sudah sangat emosi.

 

Aku berdiri, mengambil nampan makananku dan menyiramkan sisa makananku keatas nampan Kai. Sontak membuat seisi kantin bergumam pelan tapi tetap terdengar. Beberapa ada yang mengataiku gila dan ada juga yang mengatakan aku akan mendapatkan masalah setelah ini.

 

Kai berdiri dan mencengkram tangan kananku yang membuatku menjatuhkan nampan dari peganganku. “KAU..!!” ,geramnya.

 

Aku memutar tangan Kai menghindar dari kuncian tangannya dan sekarang aku yang mencengkram tangan kanannya. “Jika kau pikir aku menyerah begitu mudah maka kau salah Kim Jong In-ssi. Aku bukan orang yang hanya akan diam seperti perkiraanmu. Dan aku bukan tipe orang yang akan takut karena tatapan dan suara mengerikanmu. Aku adalah orang yang harus kau hindari, karena aku tidak akan menyakiti fisikmu, tentu saja – itu karena aku wanita. Tapi aku bisa membuatmu sejuta kali lebih malu dan tidak dihargai. Kau harus tau itu.” ,aku menatap Kris yang masih terkejut dengan perlakuanku. “Kris cukup baik mengenalku, mungkin kau bisa mengenalku dengan bertanya kepadanya.”

 

Aku menghempaskan tangannya, dia terlihat membeku dengan matanya yang memerah menahan emosi. Aku segera menggeser kursi dan melenggang pergi, diikuti oleh ketiga temanku.

 

Dan setelah dari hari itu, aku tidak pernah menjumpai Kai dan kelompoknya menggangguku. Tapi tidak mungkin dia menyerah begitu saja, aku sedikit mengenal sifat orang seperti itu. Hampir sama dengan diriku dulu.

.

.

Hari kamis pelajaran olah raga, aku memilih untuk izin dengan alasan tidak enak badan – yang mana sebenarnya bukan sebuah kebohongan.

 

Karena pagi ini aku bangun dengan denyutan sakit di jantungku – tidak begitu sakit tapi mengganggu – dan nafasku yang sesak, sudah pasti karena setiap jantungku berdetak sakit maka aku seperti kehabisan nafas.

Tapi aku memilih untuk pergi ke perpustakaan daripada ruang kesehatan. Baunya tidak enak, aku membencinya.

 

Perpustakaan sangat sepi karena memang sedang jam pelajaran, bahkan aku harus berbohong kepada wanita tua penjaga perpustakaan – dengan berkata bahwa dikelas tidak ada guru jadi aku memilih mengulas pelajaranku yang tertinggal.

 

Aku duduk dibaris paling akhir di sudut ruangan yang tidak terlihat siapapun, menyandarkan punggungku dikursi kayu. Membolak balik halaman buku – entah buku apa – yang kuambil asal, hanya berjaga jika si penjaga itu mengawasi.

 

Masih dengan jantung yang berdenyut sakit yang kadang kutahan nafasku menyesuaikan decitannya. Dan berakhir dengan nafas yang sesak. Terasa dingin disekujur tubuhku.

 

“Mukamu pucat.” ,suara seseorang memecah keheningan menahan sakit yang sedang kuindahkan itu. Aku mencari sosoknya dan mendapatkan Han Yoona – saudari berbeda ibu – yang duduk tepat didepanku. Aku bahkan tidak tau kapan dia menarik kursi itu. “Kata orang kalau kau tenang rasa sakit malah makin terasa sakit.”

 

Aku hanya diam, dan kembali menatap buku. Berpura-pura.

 

“Aku tau kau cukup pintar. Tapi tidak mungkin otakmu sanggup menerima pelajaran kelas tiga, bukan?” ,dia melihat kejudul buku yang kupegang.

 

Aku menutup buku itu, “Aku tidak sakit. Hanya bosan dengan sekolah.” ,ujarku menutupi.

 

“Apa kau bodoh? Bahkan tanpa bicarapun aku bisa tau dari muka pucatmu.”

 

“…” ,aku hanya memutar mataku, sebal.

 

“Kau sudah meminum obat?”

 

Aku mengeluarkan botol kecil dari sakuku dan menaruhnya tepat diatas meja. Memberikan jawaban ‘Iya’ kepada si wanita sok angkuh ini.

 

“Kalau masih sakit periksalah kedokter.”

 

“Dengar. Kita tidak punya hubungan ‘untuk-saling-peduli’. Jadi hentikanlah.”

 

“Aku juga tidak mau, tapi kita ternyata berhubungan. Kalau kau tidak ingin maka kau bisa enyah dari muka bumi.” ,ujarnya dengan nada meremehkan. “Atau harus aku?”

 

Aku memijat pelipisku yang sebenarnya tidak merasa sakit, hanya saja ingin menunjukkan rasa frustasiku dihadapan seseorang – yang kebetulan – saudariku.

 

“Aku pergi saja.” ,aku bangkit dan meninggalkan Yoona. Tidak ingin membuat ini menjadi lebih panjang dengan akhirnya Yoona akan mengatakan bahwa dia lebih baik mati sekarang atau pergi menghilang entah keplanet mana. Dan dia juga meyakinkan bahwa Ayah kami tidak akan pernah mencarinya. Omong Kosong yang selalu sama.

 

Jadi aku memilih untuk menghabiskan 1 jam sebelum pelajaran olahraga selesai dengan duduk di atap sekolah yang ada ring basket lebih pendek dari yang ada dilapangan. Dengan kursi bertingkat berjejer rapi, mungkin ini dulu adalah lapangan basket sebelum ada lapangan baru. Terlihat dari sudah tak terurusnya bangku-bangku kayu itu yang beberapa bagian terlihat genangan air.

 

Hanya menghabiskan satu jam dengan kesempatan berbaring di bawah langit dengan matahari yang tidak terik. Dan setelahnya, pada jam istirahat aku ikut makan siang dengan teman-temanku seperti biasa dan setelahnya kembali ke kelas. Ketika sampai di pintu aku melihat seluruh isi kelas yang menatap kearah kami, dan ada Kai disana.

 

~ Sekarang apa lagi?

 

Kulihat Kai dan teman-temannya mengelilingi meja Yoona, mata Yoona sudah berkaca-kaca. Apa yang dilakukan mereka?

 

Aku sontak berjalan dengan cepat menghampiri mejanya. “Apa yang terjadi?” ,tanyaku kepada Yoona yang masih menundukkan kepalanya. Aku menatap tajam mata Kai yang hanya tersenyum menunjukkan keberhasilan – entah atas hal apa. Menuntut jawaban darinya.

 

“Aku hanya mengatakan sesuatu tentang kau yang dikeluarkan dari club renang nasional karena cidera yang disebabkan olehnya saat mendorongmu kedepan mobil.” ,jawabnya santai.

 

 ~ Dikeluarkan?

 

Aku melebarkan kedua mataku, sedikit tidak mengerti. Aku hanya mengajukan cuti tapi si hitam brengsek ini mengatakan aku dikeluarkan? Jelas ini omong kosong.

 

“Omong kosong! Jangan dengarkan dia, aku hanya mengambil cuti satu semester.” ,jelasku yang mengarah kepada Yoona.

 

“Kau tidak tahu, Yu Raa-ya?” ,suara brengsek-nya mengganggu pendengaranku. “Kris…”

 

Aku seraya menatap Kris yang berdiri tepat disebelah Kai, ada wajah sedikit merasa bersalah. “…dia bilang bahwa pelatih di club mencarimu untuk memberikan hasil test kesehatan terakhir milikmu. Dia bilang kau harus istirahat total dari kegiatan renang. Bukankah itu artinya kau dikeluarkan?”

 

Aku sangat terkejut, sampai membatu tidak bisa mengatakan apapun.

 

“Kris juga bercerita kalau sebelum Yoona keluar dari club renang, dia membuatmu celaka karena bertengkar denganmu dan berakhir dengan kau yang mengalami kecelakaan setelah didorong olehnya.” ,Kai menjeda kalimatnya untuk melihat responku yang masih membatu.

 

“Apalagi bagian bahwa kau dan Yoona memiliki hubungan keluarga.” ,aku menatap Yoona yang kini air matanya jatuh tanpa ada isakan.

 

~ Seberapa jauh Kris menceritakan diriku kepada Kai?

 

“Wooaahh… Kehidupan kalian sangat sulit pasti. Kalau bolehku tahu hubungan keluarga macam apa yang kalian miliki?” ,tanyanya dengan seringaian puas.

 

Untungnya dia tidak mengetahui hubungan ‘rahasia’ kami, sedikit membuatku bernafas lega diantara rasa berdenyut jantungku yang semakin terasa sakit – tapi tidak ku indahkan.

 

“Pasti sangat berat memiliki seseorang yang ingin membunuhmu, Yu Raa~ya.” ,tambahnya.

 

“Kalau kau sudah selesai kau bisa keluar.” ,ujarku pelan.

 

“Jangan begitu. Aku disini untuk membantumu melewati ini, bukankah kita teman?”

 

“Selagi aku berkata baik, sebaiknya kau pergi menjauh.” ,kini dengan suaraku yang lebih kuat.

 

“Kau terlihat kesal? Kau sendiri yang memintaku untuk mengenalmu lebih jauh dari Kris. Kau lupa? Aku jadi sedikit bersimpati karena nasibmu….”

 

PLAK!

 

Dia terdiam dengan wajah yang tertoleh kekiri, dia memegang wajahnya – pipi sebelah kanan – yang kutampar dengan keras. Semua menjadi lebih tegang.

 

“Aku lupa menyampaikan satu hal padamu. Jika aku kehabisan kata maka jalan terakhir yang kupilih adalah kekerasan. Sekarang aku lebih dari sejuta kali ingin membunuhmu. Manusia sepertimu… dengan mulut sampahmu… kau pikir aku akan mengalah? Kau pikir ini akan membuatku mengerti dan meminta maaf kepadamu? Dengarkan aku Kim Jong In brengsek! AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL!”

 

Tangannya terkepal menatap tajam, Kris mencoba menariknya keluar menghindari kerusuhan yang mungkin akan disebabkan oleh temannya.

 

Yoona bangkit setelah sepersekian detik seisi kelas hanya terdiam bahkan tidak ada gumaman sedikitpun. Dia berjalan melewatiku, dan aku menariknya. “Bicara denganku.” ,ujarku.

 

Dia menghempas tanganku dan kembali berjalan dengan mata yang tertunduk. Tapi langkahnya tertahan ketika Guru Ahn masuk kekelas dan bertanya Yoona mau kemana yang hanya di tanggapi Yoona dengan kembali kekursinya.

 

Aku juga kembali ke kursiku dengan suasana yang sangat tidak nyaman. Ini menjadi lebih rumit lagi. Ku pikir akan mudah menyembunyikan ini.

 

Aku tidak sabar menunggu jam pelajaran selesai, aku berencana menarik tangan Yoona keluar kelas dan membiarkannya bicara apa saja – untuk membantunya – setidaknya dia tidak boleh kembali menyalahkan dirinya. Tidak akan kubiarkan dia menghempaskan tanganku atau menghindar lagi.

 

Tapi rencanaku gagal ketika Guru Ahn menyuruhku untuk menemuinya saat itu juga. Aku berharap ini tidak akan lama, karena sekarang yang menjadi pikiranku adalah Yoona.

 

Aku duduk dihadapan Guru Ahn yang sudah semenit tidak membuka mulutnya, jadi aku dulu yang bertanya agar mempercepat waktu.

 

“Ibu ada keperluan apa?” ,tanyaku mencoba setenang mungkin.

 

“Aku…” ,dia sedikit terbata. Ia mengeluarkan sebuah surat dari tumpukan kertas dan buku dihadapannya.

 

Aku bisa melihat jelas lambang dari club renang nasional Seoul di pojok kiri atas amplop itu, kupikir aku tau sekarang isi surat itu. Dan seketika membuatku lemas.

 

“Ibu tau ini akan sangat sulit untukmu Yu Raa~ya…” ,mulainya. “..tapi kau harus tau jika club—”

 

“Aku tau.” ,ujarku memutus perkataannya.

 

“Hah?” ,nada kebingungan Guru Ahn tercipta cepat setelah aku mengatakannya.

 

“Aku tau aku dikeluarkan dari club. Aku juga sudah tau hal ini dari sejak lama. Aku tidak akan bertahan disana, apalagi akhir-akhir ini sakitnya lebih sering kambuh.” ,nada suaraku menjadi lebih kecil diakhir kalimat.

 

“Apa…karena itu kau mengajukan cuti? Karena cideramu?” ,tanyanya.

 

Aku mengangguk. Entah kenapa tiba-tiba dia meraih tanganku yang memang berada diatas meja dan menggenggamnya lembut.

 

“Kau jangan bersedih, Yu Raa~ya. Masih banyak hal lain disekolah ini, kau menjadi lebih baik setelah pindah jadi jangan khawatir tentang itu.” ,ucapnya lembut. Jauh berbeda sekali dengan biasanya.

 

“Aku tidak mempermasalahkannya, hanya ku pikir aku akan siap menerima dan ternyata lebih sulit.” ,aku tertunduk.

 

“Aku tau.” ,dia mengelus lembut tanganku. “Maaf karena tidak bisa membantumu.” ,ujarnya.

 

Dan setelah beberapa motivasi yang tidak begitu aku indahkan. Aku berjalan gontai ke luar ruangan, berjalan lambat di koridor, sampai aku merasa lemas dikakiku dan hanya bisa menyandarkan punggungku ke tembok dan akhirnya memilih untuk duduk dengan mendekap kedua kakiku.

 

Aku meremas surat itu dan membuangnya asal dengan penuh emosi.

 

Rasanya dunia begitu tidak adil, begitu berhasil mengambil semua dari tanganku. Ibu, Nan Cho, dan kini renang.

 

Aku mengusap wajahku, frustasi. Dari menyandarkan kepalaku ke tembok membuatku sedikit mendongak. Memejamkan mataku sebentar mengatur seluruh emosi. Aku bahkan melupakan Yoona sesaat untuk mencerna semua yang seketika terjadi. Sampai aku sedikit tersentak dengan suara yang datang.

 

“Kau… baik-baik saja?” ,ada suara keraguan disana. Aku membuka mata dan melihat Chanyeol yang membawa buku dan tepat disebelahnya Baekhyun yang juga membawa buku. Dia juga menatapku tanpa ekspresi yang jelas.

 

Aku bangkit dengan sedikit bantuan Chanyeol yang mengulurkan tangannya.

 

“Apa itu latihan sastra?” ,tanyaku.

 

Chayeol mengangguk.

 

“Aku akan segera mengambil milikku.” ,ujarku.

 

“Tidak perlu, Kristal sudah mengumpulkan milikmu.” ,katanya lembut.

 

“O-oh…” ,aku hanya menggaruk tenggukku yang tidak gatal. “Kalau begitu aku akan kembali ke kelas.”

 

Dan aku membalik badan meninggalkan mereka berdua, terutama Chayeol yang kelihatan sangat merasa kasian denganku. “Oh iya, kalian melihat Yoona dikelas?” ,tanyaku kembali membalikkan badan dan mendapati mereka yang masih berdiri tak bergeming dari semula.

 

Chayeol menggeleng.

 

“Kalian tau dimana dia?”

 

Kembali Chayeol yang menggeleng. Sepertinya manusia disebelahnya itu bisu.

 

“Cari diatap.” ,kata Baekhyun singkat yang kembali berlalu meninggalkanku yang sedari tadi berfikir kemana perginya Yoona.

 

Tanpa berfikir panjang, aku berlari keatap secepat kilat untuk bertemu Yoona, bahkan aku tidak menghiraukan panggilan dari ketiga temanku yang mencoba memasang wajah ‘baik-baik saja’ seperti biasa.

 

Aku sampai di atap, berkeliling mencari sosok Yoona. Dia duduk disalah satu bangku panjang dengan wajah tertunduk dan melamun. Aku jamin kedatanganku pun pasti tidak disadarinya.

 

“Kau…baik-baik saja?” ,tanyaku yang sepertinya membuyarkan lamunannya.

 

“Apa setelah menghancurkan seseorang kau akan merasa baik?” ,ujarnya ketus.

 

Aku menghela nafas. “Ini bukan salahmu.”

 

“…”

 

“Aku memang sudah berniat berhenti tapi pelatih bilang aku bisa mengajukan cuti sampai hasil tes keluar.”

 

“…”

 

“Aku tidak menyalahkan siapapun. Ini hanya masalah takdir.”

 

“Tapi aku yang membawa takdir buruk itu kepadamu.” ,ujarnya lirih.

 

Sepersekian detik aku hanya diam, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Bukan. Ini karena aku. Karena ini takdir Han Yu Raa.” ,ucapku pada akhirnya.

 

“…”

 

“Aku yang terlalu sombong maka Tuhan membenciku. Jika aku tidak membuat Kai marah, ini tidak akan terjadi.”

 

“Tidak ada satupun kata-kata Kai yang salah!” ,Yoona berdiri dan hendak meninggalkanku. Aku menahannya.

 

“Tolong jangan lari lagi. Aku lelah harus berlari mengejarmu.”

 

“Lalu apa yang kau inginkan eoh !?” ,tanyanya dengan bentakan.

 

“Hanya bicara kepadaku sampai kau membaik. Maki atau memukulku jika perlu. Karena ini tentang diriku, ini juga karena aku. Dan aku tidak ingin membuatmu seterusnya merasa bersalah. Aku ingin kau tau bahwa aku tidak masalah dengan ini.”

 

“Lalu kau pikir aku bisa?!” ,air matanya jatuh kembali membasahi pipi putihnya. “Bahkan ketika aku hanya mendengar namamu aku merasa bersalah, maka dari itu aku menyuruhmu untuk enyah!! Untuk pergi dan tidak pernah kembali!! Melihatmu ingin membuatku mati!! Berkali-kali aku ingin mati!!”

 

Dia terisak semakin keras, membuat suaranya menjadi tidak stabil.

 

~ Karena itu aku sering berharap bahwa Tuhan akan lebih cepat mengambil nyawaku. Karena dirimu Han Yoona.

 

“Kau bahkan tidak mengerti Han Yu Raa! Kau bilang ini takdir? Memang benar ini takdir! Takdirku yang menghancurkan hidupmu dan membuatmu menghancurkan hidup orang lain! Menghancurkan Nan Cho! Dan itu bermula karena diriku!!”

 

“Itu tidak benar!”

 

“Itu kebenarannya Han Yu Raa. Aku membunuh dua orang dan membuat kehidupanmu menjadi cacat!! Aku orangnya!!”

 

Dia berlari meninggalkanku, dan aku hanya membiarkannya pergi seperti biasa. Setidaknya dia sudah memaki diriku, maka dia akan membaik setelah beberapa hari. Setidaknya begitu fikirku.

 

~ Jika bukan karena hari itu, aku tidak yakin kita bisa menjadi sebuah keluarga, Han Yoona.

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFIF REELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 3)

  1. Thor kok lama amat baru update,
    beneran nunggu ne ff lho.
    Semangat nulisnya ya thor.
    Penasaran terus ama ceritanya,
    Knpa ha kyung meninggal dan nan cho
    Trus yoora dan yoona ?
    Aaahh penasaran
    Lanjut ya thor
    Fighting !!!!!

  2. Sebenarnya masalah yoona dan yu ra itu apasih ? Sampai yoona merasa bersalah sekli dengan yu ra dan severaapa pentingnya nan cho untuk yu ra ?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s