[EXOFFI FREELANCE] Memory (Chapter 6)

Memory

Memory Chapter 6

Author : @kimjhw_ [Ig]

@kimJhwa [Twitter]

@kimjaehw [Wattpad]

  • Follback? Coment ^^•

Leght : Chaptered

Genre : Married-Life, Angst, Tragedy, Sad, Romance

Rating : PG-15 [bisa berubah]

Cast : Oh Sehun [EXO], Kim Hyejin [OC]

Additional Cast : [find by yourself]

Summary : Aku akan menjadi perisai ditiap sisi sebuah dandelion yang rapuh agar dia tidak berterbangan saat angin menerpanya

Disclaimer : buatan resmi nanad yg muter otaknya sampe puyeng

Author Notes : No Plagiat ! No Bash !

No Silent Readers [Please tinggalkan jejak dikolom komentar biar nanad semangat update next-nya]

Oh yap satu lagi, klo kalian coment usahakan nama Id nya jgn berubah-ubah ya setia satu nama id aja ^^

With Love,

Kim Jaehwa / karbaNanad 💋

 

Mata ku mengerjap membiasakan cahaya yang masuk retina “eugghh” aku melenguh mengumpulkan kesadaran. Tangan ku tergerak meraba sesuatu yang membebani pinggang ku, apa ini sebuah tangan? Dahi ku mengernyit, sesaat mata ku yang masih terasa berat kini terbelalak sempurna dengan cepat ku balikkan badan melihat pemilik tangan itu

“selamat pagi”

BRUKK

“appo” pekikan kesakitan mengudara memenuhi kamar. “oppa gwenchana?” tanya ku melongokkan kepala melihat sehun yang terduduk dilantai mengelus-elus pantatnya. Sehun memandangiku dengan wajah kesal “kenapa mendorong ku?” protesnya

aku menggigit jari ku takut-takut dia akan marah “mian, aku terkejut saat bangun melihat mu memelukku begitu dekat”. Dia bangkit lalu mendaratkan tubuhnya duduk di pinggiran ranjang “tidak apa, tapi lain kali kau harus bisa membiasakan itu” balasnya lembut dengan tersenyum

“kau tidak marah?”. Sehun menggeleng “kali ini tidak tapi mungkin lain kali iya” ujarnya dengan kekehan sembari melangkah ke kamar mandi “eoh, hari ini ayo kita pergi keluar” sambungnya lagi menghentikan langkahnya menoleh pada ku

“a-ku takut oppa” jawab ku ragu. Sehun kembali mendekat ke arah ku “bukankah kau percaya pada ku jika aku bisa menjaga mu?”

“aku percaya tap-” kata ku terputus karena jari telunjuk sehun yang menyentuh bibir ku “jangan takut pada apapun karena aku akan ada bersama mu dan percayalah hari ini akan menyenangkan” tuturnya membuat ku mengangguk

“baiklah, sekarang aku akan mandi dan hyejin ku harus menyiapkan pakaian ganti untuk ku” sehun tersenyum dan beringsut kembali masuk ke kamar mandi. Aku beranjak dari tempat tidur dan mulai memilihkan pakaian untuknya. Semoga saja benar apa yang dikatakannya bahwa hari ini akan menyenangkan

“eoh kau sudah siap, tunggu sebentar ini akan selesai dalam 5 menit” kata sehun yang melihat ku datang ke dapur. “apa yang kau lakukan oppa?” tanya ku bingung melihatnya memakai apron dan berkutat didapur bersama bibi sung. “tuan muda ingin memasakkan makanan untuk mu nona” bibi sung menimpali

sehun tersenyum “aku menyiapkan perbekalan untuk makan siang kita diluar nanti”. Aku mendekat ke arah mereka berniat membantu “stop” teriak heboh sehun yang menghentikan langkah ku bingung “tetap disitu biarkan aku memasak dengan bibi sung saja ini spesial untuk mu” katanya cemberut

bibi sung tertawa “nona tunggu didepan saja, sebentar lagi selesai”. Aku mengangguk sebelum berlalu meninggalkan dapur. Diam-diam aku merekahkan senyum mengingat tingkah sehun yang konyol tadi. Sudah ku bilang kan oh sehun itu selalu penuh kejutan

~

Suara cicitan anak kecil yang asyik bermain membuat ku tidak hentinya memandangi mereka “apa kau merindukannya?” tanya sehun mengalihkan penglihatan ku ke arahnya “aku merindukannya tapi aku tidak mungkin bisa menjadi anak kecil lagi kan”. Sehun menuangkan sari jeruk dan memberikannya pada ku “memang kau tidak bisa menjadi anak kecil lagi tapi kau masih bisa melakukan apa yang dilakukan anak kecil”

“itu memalukan bukan bermain seperti anak kecil diumur 23 tahun”

“menurutku itu tidak memalukan, kau ingin mencobanya?” tawar sehun membuat ku menggeleng cepat

sehun terkekeh “apa masakan ku enak?” tanyanya penasaran dengan komentar ku. “sedikit hambar” aku berkomentar jujur. Dia berdecak “tidak bisakah kau bohong dengan mengatakannya enak”

aku tertawa kecil “ini enak” komentar ku lagi. “kau bohong tapi aku suka tawa mu” sehun menatap ku dengan senyum unjuk gigi. “bukankah kau yang meminta ku berbohong tadi, aku tertawa karena aku mulai suka dengan lelucon mu” timpal ku tak mau kalah

“jika begitu aku akan lebih sering melontarkan lelucon agar bisa membuat mu tertawa”. Aku tersenyum sekilas “aku lupa kapan terakhir kali aku piknik bersama keluarga ku dan kali ini kau mengingatkan ku bagaimana rasanya piknik yang aku rindukan, gomawo oppa”

“bibi sung yang memberitahu ku bahwa kau ingin sekali pergi piknik tapi keluarga mu selalu sibuk lalu setelah kejadian itu kau takut keluar rumah dan menjadikan piknik adalah sebuah mimpi” jelas sehun. “kau benar oppa dan sekarang kau mewujudkan mimpi itu”. Sehun menyerahkan potongan apel untuk cuci mulutku setelah selesai makan. “apa kau masih merasa takut?”

“sedikit, tapi aku mencoba membiasakannya setidaknya aku harus belajar mengendalikan ketakutan ku”

“bagaimana dengan nomor yang mengirimi mu pesan semalam?” tanya sehun lagi. “dia tidak mengirimi ku pesan lagi oppa” ujar ku menghembuskan nafas lega. Sehun mengacak rambut ku “jangan berfikiran buruk kau harus yakin bahwa dia masih dipenjara”. Aku meliriknya sebentar lalu mengangguk

“makan mu sudah selesai kan” sehun mendirikan tubuhnya kemudian mengulurkan telapak tangannya pada ku “ayo ikut aku”. Aku menerima uluran tangannya dan mengikuti langkah kakinya “kita akan kemana?”

“aku akan mengajak mu kesana” ucap sehun menunjuk segerombolan anak kecil yang sedang bermain di taman pasir “a-ku takut” lirih ku. “ada aku yang menjaga mu, ayo” sehun mengeratkan gegamannya pada tangan ku

“Hay teman-teman” suara riang sehun menyapa mereka. “hay juga” jawab mereka hampir bersamaan. Sehun membawa ku duduk dibangku kecil taman pasir itu “kenalkan aku paman sehun dan ini bibi hyejin”

“hay paman sehun dan bibi hyejin” ujar salah satu dari mereka ramah. “boleh paman dan bibi ikut kalian bermain?” tanya sehun pada mereka. “tentu saja” suara antusias mereka terdengar

“bibi ayo kita bermain masak-masakan” seorang gadis kecil datang dan menarik-narik tangan ku. “eoh kau datang pada orang yang tepat, kau tau  bibi hyejin sangat pandai sekali memasak” sahut sehun mengancungkan kedua jempolnya, aku meliriknya sekilas tanpa menimpali “ayo kita bermain masak-masakan bersama” kata sehun lagi

“yang memasak cukup aku dan bibi hyejin saja dan paman yang mencicipinya, setuju?”

“setuju, eoh paman ingin tau dulu siapa nama gadis kecil yang cantik ini” ujar sehun dengan nada menggoda membuatku tertawa kecil melihatnya. “nama ku park daehe” jawab gadis kecil itu centil membuatnya terlihat menggemaskan

“bibi aduk terus nasi gorengnya ya” ucap daehe memerintah. “siap chef kecil” jawab ku sembari terus mengaduk-aduk wajan mainan yang berisikan pasir. Sehun mendekat ke arah kami “wah daebak aku tidak sabar mencicipinya” ucap sehun membuat daehe gembira “kau harus sabar paman, sebentar lagi akan selesai”

“eoh daehe itu telur rebus mu sudah matang sepertinya” aku menunjuk panci kecil yang berisikan batu. “ahh kau benar bibi ya tuhan hampir saja aku melupakannya” daehe menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala. Tawa ku dan sehun meledak melihat tingkahnya yang seperti orang dewasa

“selesai” daehe nyengir meletakkan masakannya yang sudah siap santap dihadapan sehun “silahkan dinikmati” daehe menjulurkan tangannya mempersilahkan. “eoh berapa umur daehe?” tanya ku mencubit pipi chubbynya “aku tidak tau berapa umur ku bibi tapi kata eomma aku sudah besar karena sudah masuk sekolah”

“benarkah?, memangnya daehe sekolah dimana?” sehun menyahut. “di taman kanak-kanak di dekat sini aku lupa namanya”. Sehun ber-oh ria mendengar jawaban daehe “yakk paman kenapa tidak dihabiskan dan malah membuangnya?” omel daehe yang menangkap basah sehun membuang pasir yang ada didalam piring

“kau tega sekali membuangnya padahal aku dan bibi hyejin sudah memasaknya dengan susah payah” daehe menyilangkan tangannya didada. “bagaimana paman memakannya ini kan pasir daehe sayang” sehun membela diri. Aku terkikik menahan tawa melihat sehun yang ketakutan dengan kemarahan daehe. “tapi itu sama saja dengan nasi ah sudahlah daehe tidak mau bicara dengan paman, daehe marah sekarang”. Sehun menggaruk kepalanya “daehe sayang maafkan paman ya”

daehe memalingkan kepalanya dari sehun “daehe suka dengan ice cream?” tanya ku mengalihkan kemarahannya, secepat kilat daehe menatapku dan mengangguk. Aku tersenyum “kalau begitu maafkan paman sehun dan dia akan membelikan ice cream untuk daehe”. Daehe melirik sehun “baiklah tapi paman janji membelikan ku ice cream kan?” tanyanya dengan semangat. Sehun mengangguk

“ayo kita pergi sekarang” ajak daehe menarik tangan ku juga tangan sehun. “daehe harus pamit dulu dengan orang tua daehe nanti mereka akan kebingungan mencari daehe jika tidak pamit”

“tidak ada yang akan mencari ku karena eomma bekerja dan akan pulang tengah malam” jawab daehe membuat ku kaget “jadi tadi daehe pergi ke taman sendirian?” tanya ku yang diangguki daehe. Aku bertukar pandang dengan sehun “kalau begitu ayo kita beli ice cream” ajak sehun akhirnya

daehe menampakkan ekspresi dilemanya ketika sampai di kedai ice cream yang tidak jauh dari taman “daehe ingin yang vanilla tapi juga ingin strawberry bibi” ujarnya menunjuk gambar ice cream pada daftar varian rasa yang terpampang didepan kedai. “jika begitu dijadikan satu saja” sahut sehun membuat daehe mengangguk senang

kami bertiga berjalan berdampingan daehe ditengah menggandeng tangan ku dan satu tangannya lagi memegang ice cream “daehe senang?” tanya sehun yang dihadiahi cengiran lebar daehe “sangat senang paman, aku tidak pernah merasa se-senang ini karena eomma tidak punya waktu bersam- bibi awas” bicara daehe terputus dan berubah berteriak melihat mobil yang masuk trotoar akan menabrak ku

“akkhh” aku memekik kesakitan saat tubuhku terguling jatuh “daehe” panggil ku panik melihatnya yang tersungkur disamping ku meringis. “kalian tidak apa-apa? pengemudi mobil itu benar-benar sudah gila”

“aku tidak apa-apa tapi daehe” ujar ku khawatir karena daehe terjatuh saat menarik ku sebelum mobil itu sempat menabrak. “daehe juga tidak apa-apa” sahut daehe yang mendudukkan diri. Air mata ku mulai menghiasi kelopak mata “terima kasih karena daehe sudah menyelamatkan bibi” ucap ku menahan tangis. Daehe mengelus pipi ku lembut “daehe senang menyelamatkan bibi bidadari”

“siku daehe berdarah” ucap sehun panik. “kita bawa ke rumah sakit oppa” ucap ku tak kalah panik daehe memegang lengan ku “aku tidak menangis bibi itu tandanya ini tidak sakit” ujarnya. Sehun beralih memeriksanya “ini hanya lecet mungkin karena tergores kerikil” jelas sehun membuatku sedikit lega

“ayo kita obati” sehun membantu daehe berdiri “mau paman gendong?” tawar sehun yang dijawab dengan uluran kedua tangan daehe pada punggungnya. “daehe sangat pintar dan kuat” puji ku mengelus kepalanya

aku meniup-niup luka daehe yang diolesi obat merah sedang sehun mengupas jeruk untuk daehe “setelah ini paman antar daehe pulang”. Daehe menatap sehun sendu “daehe masih ingin bermain paman”

“ini hampir petang sayang” bujuk sehun lembut. “baiklah daehe pulang tapi paman dan bibi harus berjanji untuk mengajak daehe bermain lagi” daehe mengeluarkan jari kelingkingnya yang disambut kelingking sehun “janji, dan kapan-kapan daehe akan paman ajak ke rumah paman”

“benarkah?” mata daehe berbinar. “tentu saja dan kita akan bermain dengan boneka” timpal ku menyelipkan rambutnya ke belakang telinga “cha sekarang waktunya daehe pulang” sehun menggenggam tangan ku dan tangan daehe mengantisipasi kejadian beberapa waktu lalu terjadi lagi

~

“oppa aku ingin buang air, bisa kita mencari toilet umum?” tanya ku pada sehun yang fokus menyetir. “bisa kau tahan sebentar” balasnya. Aku mengangguk

“eoh itu didepan ada kedai mungkin disana ada toilet” sehun memberhentikan mobil didepan kedai kopi dan keluar mobil mengantar ku. “aku tunggu disini” ucapnya duduk disalah satu meja didekat toilet.  Aku mengiyakan dan berlalu masuk ke toilet

CLEKK

baru saja aku selesai membasuh muka akan keluar dari toilet pendengaran ku menangkap suara pelan dari arah pintu aku menoleh dan tiba-tiba saja toilet menjadi gelap. Air muka ku berubah pucat tetapi aku mencoba tenang dan meraba sekitar mencari knop pintu

aku memutar knop pintu setelah menemukannya. Ada apa? kenapa pintunya tidak mau terbuka?. Rasa takut bercampur cemas mulai merayapi diri ku segera aku menggedor-gedor pintu dengan keras “oppa tolong aku” teriak ku parau

tak menyerah terus saja aku menggedor-gedor pintu “oppa cepat tolong aku”

“aku takut” air mata ku meleleh badan ku lemas jatuh terduduk

“hyejin-ah apa yang terjadi?” suara sehun samar kudengar dari luar. “disini gelap oppa, pintunya terkunci dari luar” ujar ku gemetar. “yakk cepat cari kunci cadangannya, bagaimana ini bisa terjadi” suara panik sehun yang marah terdengar telinga ku

“oppa, aku takut” suara ku memelan kelebatan masa kelam itu menggentayangi ku “jangan lakukan itu”

“aku takut”

“siapapun tolong aku” cicit ku meracau meremas kuat baju yang kupakai

BRAKK

aku berjingkat mendapati sehun dengan peluhnya yang memenuhi wajah mendobrak pintu. Dia membantu ku berdiri dan menyampirkan jaketnya menutupi tubuh ku yang tak bertenaga “op-pa” lirih ku. Sehun merengkuh erat pundak ku “ini untuk uang ganti rugi” ujar sehun meletakkan lembaran uang pada salah satu meja

“kau akan pulang oppa” suara dari arah belakang kami membuat langkah kami berhenti. Aku menengok lalu mengernyit mendapati seorang wanita yang ku pikir umurnya tidak terpaut jauh dari ku. “eoh apa ini istrimu?” tanyanya yang kupahami diarahkan pada sehun

“iya” tanggap sehun singkat. Wanita itu mengulurkan tangannya pada ku “kang sora” aku akan menyambut uluran tangan perkenalannya namun tak jadi karena sehun menepis tangan wanita itu “kami pergi” ucap sehun dingin dan membawaku berlalu

“kau tidak apa-apa?” tanya sehun setelah kami masuk ke dalam mobil. Aku mengangguk lemah “aku takut oppa” jujur ku menghapus jejak air mata di pipi. “maaf karena aku tidak datang tepat waktu” sehun menunduk menggenggam tangan ku. “tidak, kau datang tepat waktu oppa” kata ku mencoba membuatnya tidak merasa bersalah

sehun diam dan menggumamkan maaf lagi sebelum menyalakan mesin mobil “tunggu, apa kau ingat mobil apa yang hampir menabrak mu tadi?” sehun bertanya tiba-tiba. “aku tidak ingat tapi body mobil itu kecil dan warnanya silver”

aku melihat sehun sekilas yang tengah fokus memerhatikan sesuatu dari arah jendela lalu mengambil ponselnya cepat dan mengetikkan sesuatu “memangnya kenapa oppa?” tanya ku penasaran. Dia menoleh pada ku “tidak apa-apa” singkat sehun meletakkan ponselnya lalu menjalankan mobil

“oppa sebenarnya tadi aku mendengar pintu yang dikunci dari luar”. Sehun menoleh sekilas sebelum kembali pada kemudinya “kau yakin?”. Aku menautkan jari-jari ku “aku yakin oppa suara itu datang sebelum lampu mati, kurasa ada yang sengaja melakukan itu pada ku” ucap ku pasti

“selama aku ada bersama mu aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mu dan sebisa mungkin berusaha menjaga mu, kau harus percaya padaku”

TBC

Iklan

11 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Memory (Chapter 6)

  1. Siapa sih sebenernya yg neror hyejin? Heran gw setiap dy ada luar rumah Pasti ad aja kejadian kaya gitu…terus satu lagi Sora itu siapa thor kok kayak nya dy kenal sehun?

  2. siapa itu sora???pasti si sora ini suka ama sehun oppa dech, sorry” aja ya sehun oppa g’ bakalan suka ama kamu, seneng bgt waktu mereka main d taman

  3. Yaampun manis bngt mereka pas main ama daehe kyk berasa keluarga bahagia 😆😆😆😆 seneng bngt dengernya
    Btw siapa sih yg iseng ngunciiin hyejin di toilet ??? Parah bngt jangan2 pelaku itu , trus kira2 ada hubungan apa ya antara sehun sama kang sora ???

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s