[EXOFFI FREELANCE] I Know You Love Me (Part 1)

PicsArt_03-31-08.39.38

Title : I Know You Love Me (PART 1)

Author : Hrgynti

Main Cast :

Kim Jongin

Park Ri Rin (OC)

Park Chanyeol

Support Cast:

Kim Min Seok

Wu Yi Fan

Lee Kyung Hee

Byun Baekhyun

Nam Joo Hyuk

Xi Luhan

Kang Hae Yoon (OC)

Park Hoon Jung (OC)

And Other

Length : Chaptered

Genre : Romance, Angst, Hurt-Comfort, Friendship

Rating : PG-17

Disclaimer : All stories belong only to the author. Please do not copy paste and plagiat without permission from the author.

‘Keep Reading’

.

.

Ranjau typo bertebaran

.

.

 

“Rin-ah, besok mau antarkan aku berkencan dengan Luhan? Kau boleh mengajak pacar imutmu itu. Double date pasti mengasyikkan” Tanya Kang Hae Yoon yang tengah mengelap meja café kepada Ririn, sahabatnya. Gadis berambut blonde itu nampak antusias. Ia sampai menari-narik seragam maid yang tengah dikenakan Ririn itu.

“Siapa? Chanyeol bukan pacarku! Dan jangan harap aku mau ikut menemanimu berkencan! Itu pasti sangat menjijikan dan besok aku akan menjemput ayah dan ibu ku dari Indonesia di bandara Seoul bersama Hoonjung.” Ririn yang tengah menyapu lantai café menjawab dengan wajah cemberut khas-nya. Sesekali ia menyelipkan anak rambut hitamnya yang jatuh menutupi mata.

“Terserah apa katamu. Sayang sekali loh. Padahal mau aku kenalkan pada teman-teman Luhan yang katanya sih Tampan semua. Bahkan ada Kris kekasih barunya Hyuna dari fakultas kesenian dan olahraga.” Rayu Haeyoon sambil meletakan jari telujuknya di bibir. Mata hitamnya menatap Ririn dengan nakal.

“Ishhh, aku tetap tidak peduli! Aku tidak mau ikut. Lebih baik kau tuntaskan pekerjaanmu. Sebentar lagi café sudah mau buka.” Ririn yang nampaknya sudah selesai menyapu pun meletakkan sapu kedalam sebuah lemari yang menyatu dengan dinding. Café bernuansa pesmen itu tampak nyaman dan manis. Sama halnya dengan para pelayannya. Semua pelayan di sini adalah para mahasiswa maupun mahasiswi yang tengah mencari pekerjaan sambilan untuk menambah uang saku.

KLINING

KLINING

Bel di atas pintu café terdengar saling bersahut-sahutan kala pintu café terbuka. Kedua pelayan berpakaian maid berwarna biru muda itu langsung menoleh kearah pintu masuk.

“Maaf kami belum buka. Silahkan menunggu beberapa saat lagi.” Sahut Haeyoon. Nampak sesosok pemuda tampan berwajah putih pucat tengah menunggua di depan pintu masuk. Dari almameter yang ia kenakan dapat diketahui bahwa ia adalah seorang mahasiswa dari Seoul Art University.

“Aku Nam Joo Hyuk. Aku ingin melamar kerja disini. Apa ada lowongan yang tersedia?” Tanya pemuda itu sembari menghampiri Haeyoon dan Ririn.

“Kebetulan sekali. Nona Hanna sedang mencari pelayan pria. Kebanyakan pria tidak suka bekerja disini karena seragamnya yang agak sedikit feminim.” Jelas Ririn sambil terkekeh pelan.

“Bukan feminim. Hanya sedikit kurang terkesan maskulin. Tapi aku tidak masalah dengan hal itu.” Joohyuk menyunggingkan seulas senyuman aneh yang membuat Ririn dan Haeyoon sedikit bergidik.

“Baiklah. Kau sudah bawa biodata dirimu?” Tanya Haeyoon ramah. Joohyuk meletakkan tas ransel yang ia kenakan ke atas meja. Lalu ia mengambil sebuah buku binder dan pena dari dalam tas tersebut.

“Maafkan aku. Aku belum menulisnya. Tapi aku dapat menuliskannya sekarang.” Joohyuk membungkuk sekilas.

“Tentu saja. Kami akan menunggu.” Balas Ririn canggung. Gadis berambut sepinggang itu Nampak amat penasaran dengan pemuda bernama Nam Joo Hyuk tersebut.

“Ini, biodata dariku.” Joohyuk memberikan kertas berisikan biodata dirinya pada Haeyoon. bola mata hitam Joohyuk terdiam seakan terpaku kala menatap sepasang permata biru cantik di mata Haeyoon.

KLINING

KLINING

“Selamat siang-” pemuda berambut pirang itu menghentikan ucapannya kala menyaksikan Haeyoon dan Joohyuk yang tengah saling bertatapan satu sama lain.

“Pstttt… Kang Hae Yoon..” bisik Ririn perlahan sambil melirik ke arah pintu. Haeyoon yang sempat terhanyut akan keadaan tersadar dan memalingkan wajahnya mengikuti kemana arah mata Ririn tertuju. Gadis berkuncir satu itu terkejut kala mendapati kekasihnya tengah menunggu di depan pintu café.

“Luhan.” Wajah Haeyoon yang tadinya merona seketika berubah menjadi pucat pasi.

“Aa.. Haeyoon. Aku hanya ingin mengantarkan jaketmu yang tertinggal di jok mobilku. Aku takut kau akan memerlukannya nanti untuk pulang.” Ujar Luhan sambil berjalan mendekati Haeyoon, ia sempat memicingkan mata ke arah Nam Joohyuk.

“Gomawo, chagiya.” Haeyoon mencium pipi Luhan. Sambil meletakkan jaket kulit Haeyoon diatas meja. Luhan menyeringai penuh kemenangan.

“Wanita itu memang merepotkan sekali. Aku harus kembali ke tempat lesku segera. Bye” Ucap Luhan sambil melenggangkan ke arah pintu keluar café.

“Luhan.. Kau kembali kemari hanya untuk mengantar jaketku?” Tanya Haeyoon sambil menundukan kepalanya. Luhan pun yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh.

“Ya. Karena setidaknya aku dapat memastikan kau memakai jaketmu kembali malam nanti.” Jawab Luhan sambil tersenyum perlahan.

“Terima Kasih. Dan maaf kalau aku merepotkanmu.” Haeyoon merasa bersalah.

“Apapun demi ga-disku.” Balas Luhan sambil menekankan kata ‘gadisku’. Sekilas pandangannya sempat tertuju ke arah Joohyuk yang sedari tadi hanya menjadi penonton dari drama romansa antara Luhan dan Haeyoon.

“Asyiknya kalian berdua sampai-sampai tidak menghiraukan keberadaan Joohyuk dan aku!” Sindir Ririn kesal. Haeyoon tertawa mendengar perkataan Ririn, Joohyuk tersenyum dipaksakan dan Luhan hanya menatap bosan. Tapi Ririn sadar bahwa mulai saat ini akan terjadi kisah cinta segitiga di antara Kang Hae Yoon, Xi Luhan dan Nam Joo Hyuk.

 

.

.

.

 

Park Ri Rin sedang sibuk berkaca sambil mengikat helaian rambut hitamnya. Haeyoon sedang sibuk memasukan beberapa barangnya kedalam tas. Kini kedua sahabat itu sudah tidak memakai seragam maid lagi. Mereka sudah berganti baju karena shift kerja meraka telah habis. Dan sebentar lagi akan ada orang lain yang menggantikan mereka.

Ririn adalah mahasiswi tingkat dua Fakultas Kedokteran di Seoul National University. Ia bekerja di Bloom Café untuk menambah uang saku dan untuk membantu orang tuanya untuk membayar uang kuliah karena mereka bukanlah orang kaya bisa dibilang sederhana. Gadis yang baru menginjak usia sembilan belas tahun ini tergolong gadis yang super ramah dan manis. Ririn memiliki penampilan selayaknya gadis remaja seumurannya. Hanya saja kalau soal penampilan fashion. Ririn masih kalah jauh dari Haeyoon. helaian rambut hitamnya baru tumbuh sepinggang. Ia memiliki bola mata hijau cerah dan dahi yang cukup lebar. Ririn dulu mempunyai seorang kekasih yang bernama Park Chanyeol, Chanyeol lah yang dapat memahami sikap keras kepala Ririn. Temperamennya amat mudah terpancing atau dengan kata lain dia adalah gadis yang pemarah.

 

.

.

.

 

Sahabat pirang Ririn yang tak lain adalah Kang Hae Yoon berkuliah di Universitas yang sama dengan Ririn. Namun Haeyoon berada di Fakultas Keperawatan. Haeyoon bekerja di Bloom Café hanya untuk menemani Ririn. Mereka berdua sudah seperti sahabat sejiwa yang tak dapat terpisahkan. Uang bayaran dari Bloom Café hanya sepertiga dari uang jajan dari kedua orang tuanya yang membuka bisnis toko bunga. Haeyoon memiliki selera bergaya yang berkelas. Walau wajahnya tak secantik Ririn, Haeyoon selalu tampil menarik ketimbang dirinya. Haeyoon memiliki helaian pirang yang tumbuh melewati pinggang rampingnya. Biasanya ia selalu mengikat rambutnya membentuk ponytail. Bola matanya berwarna hitam. Dan gadis yang mirip Barbie ini menyukai warna ungu.

“Ayo Haeyoon. aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruang ganti ini dan segera ingin tidur dirumah. Badanku terasa pegal-pegal sekali.” Ririn menguap sambil memijat-mijat tangannya sendiri. Haeyoon hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau tidak mengerjakan tugas kuliahmu? Bukan kah fakultas kedokteran biasanya selalu disuruh membuat kliping?”Tanya Haeyoon sakartis.

“Huh, kau benar. Untung saja kau ingatkan aku. Andai kita satu Fakultas. Pasti menyenangkan.” Jawab Ririn lemas salahkan orang tua Ririn yang menyuruhnya untuk masuk Fakultas Kedokteran. Untung saja Ririn tergolong anak cerdas yang cepat belajar, sehingga ia dapat di terima di Fakultas manapun di Seoul National University. Tapi tetap saja Ririn selalu berharap dapat masuk di Fakultas Keperawatan bersama Haeyoon, sahabatnya sejak sekolah menengah dulu.

“Rin-ah, menurutmu apa Nam Joohyuk akan diterima di café ini?” Tanya Haeyoon sambil memakai sepatu flat merah mudanya.

“Entahlah. Hanya nona Hanna yang mengetahui hal itu. Mudah-mudahan saja diterima.” Ririn memakan roti melon sambil memakai sepatu sneaker miliknya.

“Ya, mudah-mudahan saja. Ponselmu mati?”Tanya Haeyoon, lagi. Ia kini tengah asyik dengan ponsel flip berwarna ungu miliknya.

“E-eh iya aku belum mengisi baterainya. Ada apa? Mau pinjam ponselku?” Balas Ririn.

“Tidak. Seseorang bernama Park Chanyeol menanyakanmu. Ia khawatir katanya nomormu tidak dapat dihubungi.” Haeyoon kini menatap Ririn lagi.

“Bagaimana Chanyeol tahu nomormu? Aa… apa lagi yang dia katakan padamu?” Tanya Ririn.

“Aku juga tak tahu. Katanya nanti kau tidak perlu naik bus dia akan menjemputmu di halte. Dia pacar imutmu yang waktu itu, ya?” Haeyoon melompat kearah Ririn hingga membuatnya hampir terjungkal.

“Bukan. Dia itu sudah ku anggap seperti kakakku sendiri.” Cibir Ririn. Park Chanyeol adalah tetangga Ririn yang baru pindah dari Bussan saat Ririn masuk sekolah menengah dan kebetulan marga mereka sama. Dulu menjelang Ririn ujian akhir sekolah. Sehun diminta oleh orang tua Ririn untuk memberinya les privat. Kini Chanyeol sudah bekerja di perusahaan keluarganya yang mengurus bisnis pembuatan puppets untuk pementasan. Dan entah mengapa akhir-akhir ini pemuda tampan itu semakin perhatian pada dirinya.

“Tapi dia itu imut lohhhh. Wajahnya seperti boneka. Benar-benar baby face!” seru Haeyoon dengan meluap-luap hingga membuat telinga Ririn sakit.

“Imut? Dia itu sudah berumur dua puluh lima tahun. Dan dia adalah seorang eksekutif di kantor tempat ia bekerja. Kata imut tidak pas untuknya dan satu hal lagi, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Sehun dihatiku.” Protes Ririn.

“Tidak terlihat dari dandanannya. Ia lebih kelihatan seperti remaja kota modern yang imut. Ya aku tahu kalau kau masih belum bisa merelakan kepergian Sehun 1 tahun lalu.” Lagi-lagi Haeyoon berbeda pendapat dengan Ririn.

“Dasar! Terserah kau saja. Ayo kita pulang.” Ririn yang memakai sweater biru turquoise dan jeans di atas lutut menarik tangan Haeyoon kencang-kencang.

“Aww.. tapi nanti di perjalanan kau ceritakan tentang Chanyeol ya?” Pinta Haeyoon.

“Ya, setelah beli es krim.” Ririn mengalah.

 

TBC

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s