[Oneshot] EXO “One More Time Together”- Shaekiran

exoversary23.png

EXO

(one more time together)

A Fanfiction by Shaekiran

All of EXO Members

Friendship, AU, Sad (?), Angst (?), bromance

PG-15 | Oneshot

Disclaimer

Standard disclaimer applied. Don’t plagiarism and copy without permission. Happy reading, and happy 5th Anniversary for EXO. We are one, saranghaja!!

 

Just one more time,

and We’ll take the world together.”

—it’s all about us—

In Author’s Eyes

 

Ruang gereja itu nampak kelam. Kursi yang seharusnya penuh kini kosong melompong, menyisakan seorang gadis berbalut dress putih khas pengantin yang tengah duduk berdoa di depan altar.

“Kembalilah Jun, ku mohon. Aku membutuhkanmu.” rintih gadis itu dalam tangisnya yang mulai pecah. Ia semakin terisak kala suara lonceng yang seharusnya menjadi lonceng pernikahannya hari ini terdengar mengaum memenuhi rumah Tuhan itu. Kenyataannya, mempelainya sudah pergi. 

“Jun, kenapa kau mening—“

“Aku tidak pernah meninggalkanmu Sara.” sebuah suara bass kini memotong ucapan si gadis. Sekon selanjutnya sebuah tangan sudah melingkari pinggang mungil Sara dengan erat, merengkuhnya penuh kerinduan yang tak pelak membuat Sara terharu saat sadar siapa lelaki yang kini tengah bersikap romantis padanya itu.

“Aku sangat takut kau kenapa-kenapa Jun. Syukurlah, kau kembali dengan selamat.” ucap si gadis dalam pelukan Jun yang kini mengelus pucuk kepalanya sayang.

Beberapa saat kemudian Jun meregangkan pelukannya. Sekon selanjutnya ia menarik pinggang gadis itu sambil tersenyum manis. Jun sedikit menunduk mendekatkan wajahnya ke arah Sara yang kini tersipu malu. Sama seperti Jun, kini Sara juga sedikit menjinjit. Oh ayolah, dilihat dari manapun mereka akan segera berciuman.

Wajah kedua insan itu semakin dekat. Jun dan Sara sama-sama memejamkan mata, semakin bergerak maju hingga kini jarak mereka tinggal beberapa senti lagi dan—

Cut!”

Jun maupun Sara membuka mata mereka perlahan, bergerak menjauh ke belakang, kemudian menatap seorang lelaki paruh baya yang baru saja mengatakan kata singkat itu dengan suara keras. Lampu sorot yang sedari tadi menerpa Jun maupun Sara lantas mati, membuat mereka yang sudah agak sakit mata karena lampu terang itu kini bisa sedikit bernafas lega.

KamsahamnidaKamsahamnida..” sekon selanjutnya ucapan terimakasih terdengar mengaum di ruangan itu. Seluruh kru yang ada di sana bertepuk tangan meriah sambil saling membungkuk hormat. Akhirnya, syuting drama mereka selesai hari ini. Kisah kasih Jun dan Sara kini berakhir bahagia.

 

 

“Chanyeol-ah, aktingmu bagus sekali, apalagi saat adegan perkelahian Jun dengan Mark tadi. Sungguh, aku benar-benar tegang menontonnya.” seseorang menepuk bahu Jun —yang ternyata bernama Chanyeol— semangat, tak pelak membuat lelaki itu tertawa girang.

Tsk, bukan Chanyeol namanya kalau tidak hebat hyung.” jawab Chanyeol sambil menepuk dadanya sok bangga yang lantas membuat manager-nya itu tertawa sambil mengacak-acak rambut lelaki yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.

Ekhmm.”

“Ah, sutradara Song. Kamsahamnida.” ucap Chanyeol sambil membungkukkan badannya saat mereka berpapasan dengan sutradara dramanya yang baru saja berdehem pelan. Pria paruh baya yang dipanggil Sutradara Song itu lantas tersenyum, kemudian menepuk bahu Chanyeol singkat dengan hangat.

“Aku tidak salah memilihmu untuk proyekku Chanyeol-ssi. Aktingmu sangat berkelas, membuatku bertanya-tanya apa kau itu sungguh seorang idol atau tidak.” tawa sutradara itu akhirnya kembali membuat Chanyeol tergelak. Memang, pujian aktingnya akhir-akhir ini sungguh naik dan membuatnya semakin mantap untuk menekuni dunia seni peran.

“Ah, Sutradara Song terlalu berlebihan.” jawab Chanyeol merendah.

“Tidak, aku tidak berlebihan. Drama ini bagus karena kau yang sangat apik memerankan karakter Jun, mafia tampan yang bekerja sebagai mata-mata organisasi rahasia yang hidupnya mulai berubah saat bertemu Sara —cinta pertamanya di zaman SMA— sekaligus putri seorang intelijen yang selama ini sudah memburu Jun mati-matian. Sungguh, aku merasa Jun memang hidup saat sedang melihat aktingmu Chanyeol. Te Amo ini sukses karenamu.” jelas pria paruh baya itu panjang lebar, membuat Chanyeol kini hanya bisa menunduk mengulum senyum karena aktingnya yang awalnya diragukan akhirnya diakui juga. Terlebih diakui oleh sutradara veteran seperti Sutradara Song yang sudah puluhan tahun bergelut dalam di belakang layar dan menghasilkan banyak film dan drama sukses.

“Mungkin ending Te Amo akan lebih menarik kalau saja kau mencium Sara Chanyeol, bukan hanya hampir menciumnya.” kini penulis Kim yang baru saja keluar dari ruangannya ikut bergabung dengan Chanyeol dan sutradara Song. Mendengar itu, mau tidak mau Chanyeol hanya menggaruk tengkuknya.

“Maaf, ini pasti karena fans dan— “

“—Ayolah penulis Kim, justru ending tanggung seperti itu membuat penonton semakin puas dan gregetan sendiri. Iya kan manager Kang?” Sutradara Song memotong ucapan Chanyeol cepat yang diikuti anggukan singkat dari manager Chanyeol yang sedari tadi hanya diam.

“Terserah kalian saja.” jawab penulis Kim pendek kemudian meninggalkan ketiga lelaki itu menuju ruang kru yang lain. Melihatnya Chanyeol sedikit tidak enak hati. Pasti berat bagi seorang penulis naskah veteran seperti penulis Kim saat naskahnya diprotes dan dengan seenak jidatnya beberapa adegan diganti, termasuk bagian ending.

Akhir yang sudah direncanakan seharusnya adalah Jun akan mencium Sara, lalu secara tiba-tiba sebuah peluru menembus kepala Jun dan membuat lelaki itu meninggalkan Sara untuk selama-lamanya. Padahal mereka sudah syuting adegan dimana seorang sniper handal dari NIS menembakkan peluru dari laras panjangnya, juga adegan dimana Sara menangis meraung sambil memegangi Chanyeol yang jatuh terkapar bersimbah darah di lantai gereja. Seharusnya itu yang terjadi sebelum kata ‘Cut!’ muncul dari bibir Sutradara Song sehingga kisah Te Amo berakhir tragis seperti semestinya.

Namun naas, spoiler drama yang secara mengejutkan bisa bocor itu membuat penulis Kim harus memendam ending-nya dalam-dalam. Bisa kalian bayangkan saat ribuan fans Korea maupun Internasioal berkerumun di depan gedung tempat syuting mereka sambil meneriakkan ‘Jangan bunuh Chanyeol kami’ dan ‘Jangan pernah menodai bibir oppa kami’ serta membanjiri SNS hingga ending drama Te Amo dan Chanyeol sebagai mafia Jun menjadi trending topik dunia? Sungguh, Penulis itu frustasi dengan semua tindak demo fans idol yang kebetulan menjadi pemeran utama ceritanya itu.

“Santai saja, dia memang suka seperti itu. Tapi yakinlah saat dia menerima berita bahwa ending drama ini menembus rekor rating, dia pasti akan menjadi orang yang pertama kali jingkrak-jingkrak kegirangan.” hibur Sutradara Song yang membuat Chanyeol mau tak mau mengulum senyumnya meski tak enak hati.

 

 

In Chanyeol’s Eyes

 

Hidup sebagai seorang idol sangatlah berat. Sungguh, aku merasakannya sendiri sekarang. Memang benar kalau aku sangat senang dan kegirangan saat beribu-ribu fans meneriakkan namaku kagum di konser, memujaku bagaikan pangeran, hingga mengklaim bahwa mereka adalah istriku. Astaga, aku bahkan tidak mengenal mereka secara pribadi namun mereka sudah mengaku-ngaku sebagai istri sahku. Tsk, agak konyol memang mengingat aku masihlah seorang lajang berusia 24 tahun, namun aku selalu senang saat menjumpai komentar seperti itu di SNS. Menurutku, bukankah itu tanda bahwa mereka sangat mencintaiku? Karena akupun begitu, meski tak mengenal mereka secara face to face dan menghafal nama mereka satu persatu, toh aku juga sangat mencintai mereka.

Namun, sekarang gelar cinta itu seakan mengekangku. Aku tidak marah, tapi kini para istriku itu sudah bertindak cemburuan dan mengklaimku sebagai milik mereka sendiri. Mereka berteriak bahagia saat aku mendapat peran utama dalam drama atau film. Namun saat aku sudah berakting dan ikut andil di dalamnya, entah kenapa mereka juga ikut andil. Seperti drama Te Amo yang sekarang sedang kubintangi. Bahkan sampai sekarang aku tidak percaya kalau mereka bisa mengubah ending drama ber-genre sad romance action itu.

Padahal jujur saja, aku lebih suka akhir dimana Jun mati dan meninggalkan Sara. Toh, kalau melihat alur drama yang sebenarnya merujuk lebih ke action dan kisah keluarga, Jun yang hidup dalam kejar-kejaran NIS sebagai buronan itu terlalu muluk-muluk jika hidup dan berakhir menikah dengan Sara yang notabene ayahnya telah menjadi musuh bebuyutan Jun. Jun sudah terlalu banyak melakukan kesalahan, pun dia bukan lelaki yang baik untuk Sara. Menurutku itu terlalu klise jika Te Amo mempunyai akhir bahagia. Setidaknya, bukankah jika hidup jun harus dipenjara? Tapi itulah, semua karena fans terlalu mencintaiku hingga mereka tidak mau mati meski hanya mati dalam drama.

“Yeol, kau sudah siap?” pertanyaan manager hyung yang sedari tadi duduk tenang di sebelahku lantas membuatku terhenyak. Ternyata aku melamun sedari tadi. Mau tidak mau aku akhirnya turun dari mobil dan mengikuti langkah manager-ku yang sudah turun duluan. Aku menatap gedung mewah di depanku. ‘Te Amo, antara benci dan memilih.’ Aku tertawa saat membaca poster yang terpampang di depan gedung. Memang wajahku kelihatan tampan di poster itu —dan memang seharusnya selalu tampan—, namun agaknya itu sedikit berlebihan mengingat banyaknya fotoku yang terpajang di poster. Bukankah seharusnya ada poster pemain yang lain juga? Tapi yang kulihat adalah semua isi poster itu adalah aku.

Tunggu, ah, begitu ternyata. Aku lantas terkekeh saat menyadari sesuatu. Itu semua dari fanclub-ku. Poster yang paling besar dari noona masternim yang sering kulihat mengambil fotoku di banyak acara. Ah, aku bahkan sampai hafal wajah noona itu meski tidak tau namanya. Dan jika diperhatikan, masih ada beberapa poster lagi yang juga berisi wajahku dari fanclub lainnya.

“Kenapa kau belum masuk?” suara manager hyung nampak menyapa gendang telingaku. Pria yang jauh lebih dewasa itu menatapku bingung. Ah, aku mengelap sudut mataku. Ternyata aku menangis.

“Kau kenapa?” tanyanya kemudian sambil memegangi bahuku yang mulai bergetar.

“Tidak hyung, aku hanya hiks…astaga, padahal sudah sering seperti ini, tapi aku masih saja terharu.” jawab Chanyeol kemudian yang segera dimengerti hyung-nya itu saat mengikuti arah pandangan Chanyeol.

“Sudah, kajja, kau memang punya hati yang terlalu melankolis.” Kata manager itu sambil menarik tangan Chanyeol memasuki gedung.

“Ya bagaimana lagi, aku terlalu mencintai fans-ku karena mereka bersikap sangat baik dan manis padaku.”

 

 

In Author’s Eyes

 

Pesta yang tadinya ditujukan sebagai pesta perpisahan para artis dan kru drama Te Amo itu berlangsung dengan lancar. Mereka semua tertawa bahagia dan memakan banyak makanan mewah, juga berpesta minuman dan bir.

“Untuk Te Amo!” teriak Sutradara Song sambil menaikkan gelas besarnya yang berisi bir. Tak lama kemudian semua kru dan pemain juga mengangkat gelas mereka, lalu berteriak dengan keras,

“Untuk Te Amo!”

Cheers!

Chanyeol segera meneguk isi gelasnya hingga habis. Meski kerongkongannya terasa panas karena minuma keras beraroma menyengat itu, Chanyeol tetap saja meneguknya dengan santai.

“Jangan minum terlalu banyak,” pesan manager hyung yang kebetulan lewat di dekat lelaki itu, lantas Chanyeol segera mengangguk mengiyakan. Meski demikian, Chanyeol tetap saja kembali menuangkan minuman ke gelas dan kembali meneguknya dengan cepat.

“Ah, shit!” umpat Chanyeol tiba-tiba. Ternyata ia sudah mulai mabuk. Lantas Chanyeol mulai memisahkan dirinya dari kerumunan, tak peduli meski kini kru yang lain memanggilnya untuk kembali bergabung. Chanyeol hanya perlu menyendiri sekarang ini.

Taman belakang gedung akhirnya menjadi tempat pilihan Chanyeol. Meski di luar ruangan, taman itu cukup hangat dan terasa menenangkan bagi Chanyeol karena deru suara air terjun mini yang bagai memanjakan telinganya. Lantas lelaki jangkung itu mendudukkan bokongnya di salah satu bangku panjang yang ada di taman itu.

“Hiks..” tangis Chanyeol mulai terdengar perlahan. Entah kenapa ia hanya ingin menangis sekarang ini.

Mianhae…mianhae..” isaknya lagi. Lantas dering telfon yang sedari tadi bergetar di saku celananya perlahan membuat Chanyeol lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi berdering.

“Aku di taman belakang.” jawab Chanyeol ketika mendengar suara manager-nya yang ternyata menelfon.

“…….”

“Ti—tidak mungkin!” pekiknya seketika.

 

 

“Yeol, apa kau harus pulang?” Baekhyun menarik lengan Chanyeol manja sambil mengerucutkan bibirnya tak suka. Namun lelaki tinggi itu hanya tersenyum sekilas, kemudian melepaskan rangkulan Baekhyun di tangannya perlahan.

“Maaf hyung, tapi kami harus menyelesaikan syuting terakhirnya lusa dan itu artinya aku harus pulang lebih dulu.” jawab Chanyeol murung.

“Biarkan saja bocah itu. Lagipula bukannya konser sudah selesai hari ini? Kita hanya perlu jalan-jalan mengelilingi Jakarta, atau have fun saja sekalian ke Bali ‘kan? Biar saja Chanyeol bergelut dengan aktingnya.” kali ini, Minseok yang akrab disapa Xiumin itu ikut menimpali.

“Benar kata Xiu-hyung, kalian hanya perlu bersenang-senang tanpaku saja.” tawa Chanyeol kemudian. 

“Cih, sementang Te Amo sekarang sudah menembus rating 25 % dan kau mulai berlagak, eoh?” kali ini Kyungsoo berucap pedas dari posisi duduknya sambil masih memegangi buku jurnal yang sedari tadi dia baca meski tak sepenuhnya berkonsenstrasi karena suara ribut anggota grupnya yang secara serentak kini berkumpul di ranjang king size yang seharusnya menjadi milik Kyungsoo dan Jongin hari ini.

“Kalian pergilah, lagipula kenapa kalian tiba-tiba memenuhi kamarku, eoh? Kalian punya kamar sendiri.” kali ini Kai yang mulai bersuara. Lelaki tan yang tadinya tengah bahagia karena menemukan banyak manusia yang berkulit sama sepertinya itu kini mulai agak kesal karena acara leha-lehanya diganggu oleh keributan yang baru saja dibuat Chanyeol yang ingin pulang ke Korea lebih cepat dari semestinya.

“Ya sudah, kau pulang saja sekarang dan ingat untuk jangan pernah kembali ke sini. Arraseo?” tanpa diduga, kini Junmyeon yang lebih suka dipanggil Suho karena nama aslinya sering diplesetkan menjadi nama mie; jjangmyeon berucap agak sinis setelah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.

“Oh My God hyung, kenapa kau half naked seperti itu, eoh? Kami tidak tahan…Eomma, ada ahjussi mesum.” Sehun si maknae kini berucap heboh dengan gaya jingkrak-jingkrak dan nada lebay, membuat Suho tak tahan untuk setidaknya menempeleng lelaki yang lebih muda 3 tahun darinya itu.

“Eomma kepalamu!” bentak Suho sensi sambil menjitak kepala Sehun yang kini sudah mengaduh kesakitan dan bersembunyi di balik Yixing yang baru saja bangun tidur dan masih kelihatan mengantuk.

“Aku dimana?” tanya Yixing dengan polosnya sambil mengucek-ngucek matanya yang memerah, membuat semua orang yang ada di kamar itu lantas tertawa lepas.

“Hyung, nama panggungmu benar-benar sesuai denganmu. Sungguh. Soo Man appa tidak salah pilih.” ucap Chen dari kejauhan. Lelaki bermarga Kim itu berteriak dari bawah tempat tidur, asyik dengan handphone di tangannya.

“Sudah-sudah, kenapa kalian jadi sensi seperti ini? Toh aku hanya pamitan. Pesawatku akan take off sejam lagi di Soekarno – Hatta.” Chanyeol kembali bersuara sambil berkacak pinggang, kemudian menarik paksa kopernya yang kini dipeluk erat Baekhyun.

“Ayolah Baek, jangan seperti ini.” lirih Chanyeol kemudian yang mau tidak mau membuat Baekhyun luluh juga. Dengan setengah hati, lelaki berambut merah menyala itu menyerahkan koper hitam Chanyeol sambil mengerucutkan bibir.

“Yeol, apa kau memang harus pergi?” kali ini Suho yang sudah memakai kaos putih polos dan boxer merah bergambar spiderman yang berbicara, membuat Chanyeol yang tadinya sudah siap menarik kopernya ke arah pintu kembali menatap leader-nya itu seperti berkata ‘Ayolah-hyung-jangan-seperti-ini.’

“Yeol-ah, kami khawatir padamu. Kau tau kan kalau akhir-akhir ini banyak rumor yang mengatakan kalau kau 

Akan keluar dari EXO karena akting?” potong Chanyeol cepat sebelum Chen menyelesaikan kalimatnya. Ke-8 lelaki selain Chanyeol di ruangan itu lantas terdiam terpaku. Mereka menatap nanar Chanyeol yang kini nampak emosi.

“Bukan begitu Yeol, kami hanya

“Chanyeol-ah, pesawatnya sudah siap. Kita akan pergi ke bandara sekarang.” Sembilan lelaki tampan rupawan yang sanggup membuat gadis memekik tertahan itu kini terpaku pada sosok manager mereka yang baru saja memasuki kamar tanpa mengetok lebih dulu. Melihat suasana kamar yang sedikit tegang, manager hyung itu lantas segera sadar situasi. “Aku akan tunggu di lobby,” tambahnya sambil segera keluar dari kamar. 

“Baiklah, kalau begitu aku pamit. Jaga diri kalian baik-baik.” lirih Chanyeol sebelum dia benar-benar menarik kopernya perlahan keluar dari kamar Kyungsoo dan Jongin. Tak ada yang membalas ucapan Chanyeol yang kini sudah menghilang sepenuhnya dari hadapan mereka berdelapan, mereka hanya terlalu terpaku pada sorot kecewa yang ada di manik cokelat rapper mereka itu. 

“Hyung.” Kali ini Sehun yang berbicara. Chanyeol lantas berbalik menghadap member termuda di grup-nya itu.

“Kenapa Sehun-ah?” tanyanya lagi sambil memutar bola mata jengah, sedikit jengkel karena moodnya kurang baik.

“Jangan seperti ini. Kau akan membuat fans mengira—”

“—kalian benar-benar tidak mempercayaiku?!” suara Chanyeol meninggi, nafasnya naik-turun sementara Sehun yang kalimatnya baru saja terpotong hanya bisa terdiam. 

“Bukan begitu Chanyeol, Sehun hanya—“

“Kalian selalu begitu! Kenapa? Kenapa kalian selalu curiga, eoh? Apa aku mnyempatkan diri seperti ini masih kalian anggap ingin berkhianat? Wae? Apa salahnya kalau sekarang karir aktingku naik? Memangnya kenapa kalau sekarang aku— 

BRUGHH!

“Aku tidak menghajarmu cukup keras karena kau butuh wajahmu itu untuk drama, hyung.” Kai menatap Chanyeol tajam setelah melepaskan sebuah bogem mentah ke wajah Chanyeol yang hanya menerima tanpa perlawanan. Mata Chanyeol memerah, seperti ingin menangis.

“Seharusnya kalian lebih mengenalku daripada netizen di luar sana.” ucap Chanyeol sambil membanting pintu keras-keras.

 

 

Mungkin senyum lelaki bertelinga besar itu tidak akan merekah lagi meski nantinya dia menerima penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik atau penghargaan daesang sekalipun. Seluruh Korea kini berduka atas sebuah berita besar yang kini menguncang hampir seluruh belahan dunia.

“Pesawat GARUDA Air 467 rute Jakarta- Seoul jatuh di samudera Pasifik. Diduga pesawat pengangkut barang terbesar dan termewah milik maskapai penerbangan Indonesia itu mengalami masalah di bagian sayap pesawat hingga Sutandjo selaku pilot tidak dapat mengendalikan laju pesawat dan akhirnya jatuh di atas laut lepas.”
“Berita menggemparkan bagi dunia Kpop telah terjadi hari ini (05/04). Pesawat yang membawa serta member boyband nomor 1 Korea, EXO kini telah dinyatakan jatuh di perairan Samudera Pasifik. Diduga badan pesawat hancur lebur dan membuat luka mendalam bagi segenap pecinta musik Kpop, terlebih boyband EXO yang kini telah menghembuskan nafas terakhirnya.”
“Konser EXO’RDIUM in Jakarta yang baru saja digelar beberapa hari lalu di Indonesia nyatanya membawa petaka buruk bagi EXO. Diketahui bahwa pesawat yang ditumpangi oleh member EXO dan beberapa kru SM Entertainment baru saja jatuh di permukaan Samudera Pasifik.”
“EXO-Ls kini hanya bisa mengenang sebuah nama besar yang kini hanya tinggal nama. EXO sudah pergi, menyisakan Chanyeol yang kini tengah berada di Korea untuk merampungkan syuting drama terbarunya.”
“Park Chanyeol, satu-satunya member EXO yang tersisa setelah kedelapan member EXO menghembuskan nafas terakhirnya dalam kecelakan pesawat yang merengggut nyawa boyband besar yang sudah memenangkan daesang 3 kali berturut-turut itu.”

Trakkk!

Handphone yang dipegang Chanyeol jatuh begitu saja ke atas tanah. Awalnya dia hanya mengangkat telfonnya terus berbunyi tanpa henti karen panggilan dari manager hyung. Namun nyatanya dia malah mendapati berita paling mustahil yang bahkan tak pernah terbesit dipikirannya. Teman-temannya kini sudah pergi. Mereka meninggalkan Chanyeol sendirian di dunia kejam ini selamanya.

Brughhh!!

Dadanya sesak, bagaikan ada jarum yang menusuknya bersamaan dalam sekali serangan. Badan tegap lelaki itu kini membentur keramik lantai dengan keras, tak kuasa untuk sekedar menyokong bobot tubuhnya sendiri. Chanyeol ambruk, tepat setelah berita itu hinggap ke telinganya.

“Chanyeol! Park Chanyeol!!”

 

 

In Chanyeol’s Eyes

 

Yang pertama kali kulihat adalah terangnya cahaya lampu yang menyala di ruangan serba putih ini. Semuanya nampak pudar, hingga netraku hanya menangkap warna putih benda yang kuyakini adalah langit-langit tempat ini.

“Chanyeol-ah, kau sudah bangun?” aku bisa mengenali suara itu. Serak. Itu suara manager hyung.

Hyung, aku dimana?” tanyaku akhirnya saat perlahan pandangan mataku mulai agak jelas hingga menampilkan raut khawatir manager hyung yang kini tengah menanggalkan kacamata kesayangannya; kebiasaannya saat tengah bersedih dan frustasi.

“Rumah sakit. Sudah 2 hari kau pingsan.” jawab hyung lirih, hampir tak bersuara sakin pelannya. Aku mengerjap. Ternyata aku sudah tertidur selama 2 hari.

Di mimpiku yang buruk itu, aku melihat kematian ke-8 teman se-grupku dalam kecelakaan pesawat. Padahal terakhir kali kami bertemu, kami sedikit bersitegang. Aku meninggalkan mereka dengan sedikit amarah yang membesit di hati.

Tunggu, agaknya bukan aku yang meninggalkan mereka, tapi merekalah yang pergi meninggalkanku sendirian di dunia ini. Itu bukan mimpi. Terbukti dengan banyaknya rangkaian bunga duka cita di ruang rawatku sekarang.

 

“Oppa, Semoga kalian tenang di sana.” 

“Meski kalian pergi, kalian pasti akan tetap ada di sini, di hati aeri kalian.”

“We Are One, EXO Saranghaja!”

“Hwaiting oppa, kami akan selalu mendukungmu!”

 

Apa yang harus kulakukan dengan semua kalimat itu, huh? Rasanya menusuk, sangat. Hidupku seperti tak berarti lagi. Harusnya aku tidak pulang ke Korea sendirian. Mestinya aku bersama mereka sehingga aku tidak akan ditinggal meratapi nasib sendirian seperti ini. Apa mereka semarah itu sehingga mereka tega-teganya meninggalkanku sendiri? Menghadapi aeri kami sendirian?

“Mayat mereka— “

“Jangan pernah memanggil mereka mayat hyung!”

“Yeol, tenanglah.”

Aku terisak. Kini hyung memelukku erat. Dia menangis. Aku tau dia pun pasti sama terpukulnya denganku. Adik-adiknya sudah pergi dan hanya menyisakan aku seorang. Hyung mana yang tidak sedih? Namun aku bersikap layaknya akulah yang paling menderita di bumi ini sekarang, egois.

“Mereka sudah pergi Yeol. Kau harus menerimanya.”

 

 

In Author’s Eyes

 

Mobil hitam itu melaju cepat di jalanan Seoul. Nampak di dalamnya seorang lelaki yang terduduk lemas sambil menempelkan kepalanya ke jendela kaca. Matanya memerah. Pikirnya kini melayang ke dorm yang baru saja dia tinggalkan. Kosong melompong dan terkesan dingin. Jauh berbeda dari keadaan sebelumnya saat dorm itu ramai akan canda tawa dan hal-hal konyol yang sering mereka perbuat bersama —dulu.

Beberapa menit kemudian mobil itu menepi di sebuah gedung duka. Nampak kumpulan-kumpulan manusia yang bergerombol sambil menangis mengerumuni pintu masuk. Jangan lupa kilatan blitz kamera yang kini berebut saat Chanyeol yang tengah menggunakan pakaian serba hitam itu turun dari mobil dengan wajah kusut.

 

“Chanyeol-ssi, apa yang anda rasakan saat mendapat kabar bahwa semua teman segrup anda mengalami kecelakaan pesawat?”

“Apa anda menyesal karena pulang lebih dulu ke Korea?”

“Bagaimana dengan

 

Chanyeol sama sekali tak bergeming saat mendengar tuntutan pertanyaan reporter yang kini mengerumuninya cepat, diikuti kumpulan manusia lain yang tak lain tak bukan adalah fans yang tengah berduka.

 

“Jangan menanyai oppa kami seperti itu!” 

“Oppa, gwenchana?”

“Saranghaja Oppa, We Are One!”

“Minggir kalian reporter sialan!”

“Hyung, gwenchana. “

“Jangan bersedih, mereka akan tetap ada di sini, di hati kami.”

 

Chanyeol terdiam. Semuanya nampak buram baginya sekarang. Dengung suara yang berdesakan itu seakan sumbang, terdengar berebut di kedua telinganya.

“Tak bisakah kalian membiarkanku sendiri saja sekarang?” lirih Chanyeol akhirnya sambil memengangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Seketika suara ribut dominan itu berhenti.

“Memangnya apa yang ingin kalian tanyakan pada seseorang yang kehilangan 8 saudaranya sekaligus?” kini tangis Chanyeol pecah dengan emosi yang menggebu. Ia bahkan tak sanggup untuk sekedar mengangkat kepalanya dan bertatap muka dengan kerumunan orang yang kini terdiam itu. Hatinya terlalu remuk untuk sekedar tersenyum dibalik lelah seperti biasanya.

 

 

“Aku datang kawan.” ucapnya lirih sambil menatap 8 foto dengan pita hitam yang terpajang dengan dupa di depannya. Ia menunduk dalam-dalam, memberi hormat dengan tangis yang masih saja menggenang.

“Tenang saja, kalian tau kan kalau aku si tuan ceria? Aku pasti bisa menerima kepergian kalian secepat mungkin.” Chanyeol tersenyum dengan bibir bergetar, sedikit menghapus air matanya sebelum sekon selanjutnya melanjutkan kalimatnya. “Jangan mengkhawatirkanku ataupun aeri kita. Kami baik-baik saja. Arasseo?”

“Cukup tenang saja di atas sana dan aku akan terus tersenyum seperti idiot yang bersikap paling tegar dan selalu pura-pura bahagia meski aku remuk. Aku akan menjaga aeri kita baik-baik. Saranghae. Aku pasti akan merindukan kalian.”

“Meski kita jauh dan berpisah, meski raga kita tak lagi berjumpa, meski —

“—Kami pulang.”

“Eh, pulang?”

BRUGHHH

Aku merasakan sakit yang luar biasa saat bokongku jatuh dengan cara paling tidak keren sedunia dan menyentuh lantai dorm. Ya, aku membuka mataku. Ini benar-benar lantai dorm kami. Kemana semua foto berpita hitam dan tangis tadi? Bukankah tadi aku ada di rumah duka? Tapi sekarang kenapa aku ada di kamarku sendiri?!

Ya! Mau kapan kau tidur seperti ini, huh?”

Aku menatap ke arah sumber suara. Kyungsoo ada disana, menatapku dengan tatapan mautnya sambil memegang pisau. Astaga, apa aku berhalusinasi?

“Ke —kenapa?” tanyaku terbata, dan seorang lelaki jangkung di belakang Kyungsoo kini berucap dengan nada bingung ke arahku.

“Kau kenapa hyung? Aneh sekali. Ini kan dorm, rumah bersama,” kata si albino itu padaku sambil melepaskan jaketnya dan meletakkan pakaian denim itu di atas meja. Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi sekarang?

“Kau menangis?” kali ini Baekhyun yang sudah duduk di sebelahku menatapku dengan pandangan khawatir. Aku menyentuh sudut mataku, basah.

“Kalian benar-benar nyata?” tanyaku seperti orang bodoh dan dibalas tatapan ‘dasar bocah gila’ dari mereka bertiga. Bahkan Kyungsoo sudah mengarahkan pisau dapurnya ke arahku. “Jangan bicara yang aneh-aneh, cepat ke dapur dan bantu aku memasak. Sekarang giliran piketmu masak hyung!” katanya sambil meletakkan pisau tadi di pangkuan pahaku. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi di sini?

“Tun—tunggu, tunggu, ini benar-benar kalian? Maksudku, kalian pulang ke dorm dan, astaga, aku bisa gila! Kenapa aku bisa disini? Bukankah aku tadi berada di —“

“—sepertinya dia benar-benar sakit.” Potong Baekhyun cepat sambil meletakkan telapak tangannya di atas dahiku.

“Hm, sepertinya.” respon Sehun yang kini duduk di sebelahku juga.

“Sa—sakit?” tanyaku lagi masih bingung, dan dua orang di sebelahku itu mengangguk dengan cepat. Kyungsoo nampak memutar matanya, lalu berdehem dengan pelan. “Kalau begitu aku saja yang masak, kau istirahat saja hyung,” katanya sambil melenggang meninggalkan kamarku setelah mengambil pisau dapurnya di atas pahaku.

“Hun, apa yang terjadi?” tanyaku selepas punggung Kyungsoo benar-benar menghilang dibalik pintu.

“Manager hyung bilang kalau kau pingsan saat acara perayaan drama Te Amo. Untung kau pingsan di taman belakang dan bukannya di tengah-tengah acara sehingga fans tidak panik.” Aku terdiam, bukannya Sehun, tapi malah Baekhyun yang kini menjelaskan kepadaku.

“Tenang saja, jangan khawatir. Fans tidak tau kau pingsan karena kelelahan. Pihak acara hanya mengatakan kau pulang lebih dulu karena punya acara lain, mereka tidak tau kalau kau malah dipapah ke dorm dan diperiksa dokter Jung karena tidak sadarkan diri.”

Aku menghela nafas perlahan. Dokter Jung adalah dokter pribadi kami, ia yang selalu memeriksa keadaan kami kalau saja kami ambruk atau sakit. Ya, mungkin fans tidak tau kalau kadang kami terlalu lelah hingga merasa sakit yang luar biasa secara fisik, mungkin hanya dokter Jung yang tau keadaan kami sepenuhnya karena dokter itulah yang paling kami percaya. Asalkan kami masih bisa berdiri, tersenyum, bernyanyi dan menari yang baik untuk fans kami tercinta, itu sudah lebih dari cukup.

“Katanya hyung kelelahan hingga berhalusinasi. Kau pasti pingsan setelah minum ‘kan? Sudah kuduga, kau bukan peminum yang baik. Ah, kau menangis tadi, hyung memimpikan apa?” kali ini Sehun yang berbicara panjang kali lebar, ia menatapku dengan penasaran. Aku tersenyum. Ya, saat aku terlalu lelah dan berakhir jatuh pingsan biasanya aku akan tidur sangat lama hingga bermimpi yang aneh-aneh. Syukurlah, kecelakaan pesawat itu hanya mimpi.

“Mm, mimpi buruk. Aku tidak mau menceritakannya. Aku merasa bersalah pada kalian, tidak, aku tidak mau cerita.” Kataku sambil mengacak-acak rambut Sehun dan berdiri bangkit dari posisi dudukku di atas tempat tidur.

“Aish, hyung jahat! Cepat cerita,” rengek Sehun sambil menahan pergelangan tanganku, seperti adegan drama saja, cih, aku memutar mataku, lalu menjitak Sehun pelan.

“Tidak mau.” Kataku sambil memeletkan lidah dan melepaskan pegangan tangannya dengan paksa.

“Kau mau kemana?” tanya Baekhyun kali ini yang juga sudah bangkit berdiri. Aku tersenyum sejenak, lalu menunjuk ke arah pintu yang tertutup.

“Menemui yang lain. Kalian bawa oleh-oleh yang banyak kan dari Bali?”

 

 

Aku menatap ruang tamu yang penuh dengan sosok pria-pria pujaan wanita itu. Aku tersenyum tipis sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal, entah kenapa, aku sendiri bingung kenapa aku seperti malu-malu kucing begini.

“Ah, kau sudah bangun?” tanya Suho hyung yang tengah tiduran di sofa, dan aku hanya mengangguk singkat sambil duduk di lantai beralaskan karpet di dekat sofa putih itu.

“Sudah baikan?” kali ini suara Minseok hyung yang terdengar khawatir, aku mengangguk, dan dia hanya ber-ah ria saja.

“Kalian pulang lebih cepat dari jadwal rupanya,” kataku akhirnya membuka pembicaraan, dan mereka malah menatapku setengah melotot.

“Kau mabuk? Atau kau belum bangun sepenuhnya? Sekarang sudah tanggal 8 April bung, kau tertidur selama 3 hari penuh!” Jongdae yang entah muncul darimana kini ikut berbicara yang segera membuatku membulatkan mata. 3 hari, separah itukah aku pingsan kali ini? Aish, menyebalkan.

Tak lama, satu persatu anggota grupku berkumpul di ruang tamu itu. Suho dan Xiumin hyung yang sudah datang di sana sedari awal, Jongdae yang tiba-tiba muncul, Baekhyun yang Sehun yang datang dari dalam kamarku, Kyungsoo yang dengan bangga membawa semangkuk besar lauk lezat, dan Kai serta Yixing hyung yang baru saja tiba di dorm setelah pergi diam-diam membeli bir di supermarket.

“Kalian tidak ketahuan manager?” tanyaku, dan 2 orang yang membawa 2 kantong plastik berisi bir dan beberapa cemilan itu menggeleng dengan cepat. “Aman.” Jawab Yixing hyung dengan yakin sementara kulihat si tan masih menatapku sambil buang muka.

“Kau kenapa Kai?” tanyaku akhirnya karena sadar ini pasti karena pertengkaran kami kemarin-kemarin, dan dia hanya menggigit bibir bawahnya sambil berjalan mendekat ke arahku.

“Maafkan aku hyung, aku tidak tau kalau kau juga menderita, aku tidak tau kalau kau—“

BUKK.

Aku memukul kepalanya pelan, ia sedikit terkejut, namun akhirnya ia tersenyum tipis saat aku akhirnya mengelus kepalanya. “Jangan bodoh, aku tidak marah. Kau seperti bicara dengan siapa saja, sudahlah, kau itu adikku. Kita ini saudara, tidak ada dendam.” Kataku sambil menyengir tidak jelas. Ya, aku tau dulu Kai hanya tersulut emosi dan akupun parahnya tengah berada dalam temperatur yang tidak pas saat itu hingga aku juga ikut marah. Tidak ada yang salah disini, hanya ada kesalahpahaman semata, dan aku tidak mau persahabatan bahkan persaudaraan kami rusak hanya karena masalah sepela dan emosi sesaat.

“Sudah, sudah, sekarang ayo makan malam.” Kali ini Kyungsoo yang berucap sambil menekuk kedua tangannya di pinggang, persis seperti seorang eomma pada umumnya. Lucu juga, dia lebih muda dariku tapi dia terlihat jauh dewasa daripadaku.

Arraseo.” Jawab kami serentak sambil membantu kyungsoo menata meja. Kali ini kami sengaja makan di ruang tamu karena disana ada TV, lucunya mereka ingin menonton dramaku sambil makan malam, aneh sekali.

 

“Astaga hyung, mukamu kusut sekali disitu. Kau kelihatan jelek,” —Sehun

“Yang penting aktingnya bagus.” —Kyungsoo

“Kata siapa wajahnya jelek? Keren begitu.” —Baekhyun

“Karena aku baru baikan dengan Chanyeol hyung aku setuju dengan Baekhyun hyung saja, cari aman, hehe..” —Kai

“Aku dimana? Ah, kenapa kau bisa ada di televisi Chanyeol?” —Lay

Hyung,tolong ingatannya dikondisikan.” —Jongdae

“Dasar maknae jahat, Chanyeol itu hyung-mu Hun, jangan terlalu jujur.” —Xiumin

Plak.

“Aish, Xiumin hyung yang menghinamu, kenapa aku yang kau pukul Chanyeol?” —Suho

“Karena kau imut hyung. Sudahlah, aku salah pukul, hehe..” —Chanyeol

 

Semuanya mengalir begitu saja, seperti canda tawa yang bergulir tanpa henti. Menariknya karena kami ingat bahwa 8 April itu hari jadi kami yang ke-5 tahun sebagai EXO, kami menerima sebuah kue ucapan selamat dari Sooman appa. Astaga, kami sangat bahagia saat itu. Bahkan sebuah SNS sedang heboh dengan hari anniversary kami. Uh, sungguh membahagiakan.

Mungkin mimpi anehku itu karena aku terlalu merindukan mereka kan? AKhir-akhir ini kami terlalu sibuk dan sulit bertemu. Mungkin mimpiku itu peringatan dari Tuhan agar aku lebih menyayangi mereka kan? Karena Dia pun tau kalau aku tidak mau berpisah dari ke-8 orang ini yang besar bersamaku dibawah sebuah nama, EXO.

Omong-omong, setelah selesai menonton, makan malam dan pesta kecil-kecilan, kami lanjut berlatih vokal sebentar. Yah, akhir-akhir ini kami sangat sibuk, bahkan kami sedang menyiapkan album comeback kami yang belum jelas kapan dirilis karena jadwal kami yang terlalu padat.

Ah, mencintai kalian bukankah sangat menarik? Bukan mengenal secara pribadi, tapi kami sangat mencintai kalian. Cinta kami untukmu para aeri, appa disini berjuang untuk kalian semua. Sudah dulu ya, kami ingin lanjut berlatih lagi. sudah siap menunggu comeback kami kan uri aeri tersayang?

 

FI

 

“Oh, hyung lihat. Ternyata meski wajahmu jelek berdarah-darah begitu episode final Te Amo mendapat rating tinggi. Coba lihat berita ini, episode finalnya naik 2 %. Tak kusangka wajah nistamu itu laku di pasaran.” —Sehun

“Kau ingin mati Oh Sehun? Ah, atau apa kau mau aku menikahkan vivi dengan toben?” —Chanyeol

“Astaga, ampun hyung. Mianhae, tolong jangan apa-apakan vivi, please. Dia kesayanganku, tolong jangan suruh toben merebut kesuciannya.” —Sehun

“Hahaha, dasar aneh!” —other member

“Tidak, pokoknya aku akan menikahkan vivi dengan tobenku yang tampan.” —Chanyeol

“Andwae hyung, andwae…” —Sehun (merengek sambil guling-guling di lantai)

“Ah, tadi Sehun bilang kau bermimpi hingga menangis, kenapa? Kau memimpikan apa?” —Suho

“Ah, aku hanya bermimpi kita akan bersama-sama sampai kita menjadi tua-tua bangka yang tidak digemari yeoja lagi, hyung.” —Chanyeol

“Kalau begitu aku setuju dengan mimpimu hyung, tapi hanya setuju sampai bersama sampai tua saja karena meski kita tua kita masih akan digemari, haha..” —Kai

“Hm, kali ini sepertinya aku setuju dengan Kai.” —Suho

Hyung, jangan rebut vivi!” —Sehun

 

 

 

-FIN-

Author’s Note

Eki tau ini syudah telat satu hari, tapi gapapalah ya,

HAPPY ANNIVERSARY EXO!

#5YEARSWITHEXO, yuhuuuuu!!!!

WE ARE ONE, EXO SARANGHAJA!!!

Gatau mau nulis apa, yang pasti doanya buat oppadeul kita yang always berkarya tanpa henti biar tetap solid, jaga kesehatan, jangan kecapekan karena terlalu sibuk, jangan lupa istirahat juga, pokoknya WE LOVE YOU EXO!

Ganyangka mereka udah 5 tahun memporak-porandakan hati fangirls dan bikin kami semua hamil secara semu karena mereka yang terlalu bangsad/plakkk/ abaikan, ini fangirl frontal nan somvlak/ XD

Betewe chingu, eki nemu ini di timeline, boleh deh dibaca, sebenarnya sih KUDU WAJIB BACA EAAA.

1491728529737.jpg

1491728531262.jpg

1491728532601.jpg

1491728534078.jpg

1491728535681

So chingu, mari lebih mencintai oppa kita yang sangat mencintai kita meski mereka lelah dan kurang istirahat. WE LOVE YOU OPPA :’)

Iklan

7 pemikiran pada “[Oneshot] EXO “One More Time Together”- Shaekiran

    • Ini ff remake sayang, pliss. Aslinya cy gak mimpi dan beneran kecelakaan itu. Cuman kan kesian masa pas anniv metong semua, yaudah ane rombak jadi mimpi dia, semacam halusinasi pas mabuk dan pingsan gitu.
      Plis, kita lagi chat-an di line mbak :”)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s