Job’s Goal : Finding Love [Chapter 5] -anneandreas

Finding Love-anneandreas

JOB’S GOAL : FINDING LOVE

.

a chaptered fiction with Romance feel in Family and Works life rated by T

staring by

EXO’s Byun Baekhyun, Kim Minseok, Kim Jongdae and Do Kyungsoo
INFINITE’s Lee Howon and Nam Woohyun
OC’s Do Kyungrin and Do Ahrin

.

thanks for this cute Poster >> l18hee <<
I own the plot

all cast except OC belong to their real life

.

⇓⇓ PREVIOUS CHAPTER ⇓⇓

Teaser – Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4

.

-5-

PABRIK KEBAKARAN (2)

©anneandreas2k17

Reen mengerjapkan matanya pelan, entah berapa lama ia sudah tertidur namun yang pasti tidurnya cukup nyenyak dan hangat. Reen menarik benda lembut menghangatkan yang tersampir di atas tubuhnya itu, berpikir sebentar kemudian menyentakkan tubuhnya kaget lalu mengaduh akibat seatbelt yang mengencang karena gerakan mendadak.

“Sudah bangun?” tanya Howon lembut.

Reen menoleh dan kini semua kesadarannya telah kembali. Ia sedang berada di dalam mobil bersama wakil manager sekaligus mantan pacarnya untuk pergi ke Busan memeriksa pabrik Byun Electrics yang terbakar. Dan Reen dengan polosnya tertidur di dalam mobil, berselimut jaket hangat milik…

“Ini jaketmu? Oppa menyelimutiku?” Reen memutar kepalanya ke arah Howon.

Howon mengangguk.

“Kenapa?”

“Tanganmu ‘kan pasti beku kalau terkena  AC, temperatur tubuhmu ‘kan aneh. Jadi aku menyelimutimu supaya kau hangat. Atau kau mau aku menggenggam tanganmu saja? Aku bisa kok mengemudi dengan satu tangan.” Howon menjawab dengan nada menggoda.

“Bukan aneh, tapi unik. Dan terimakasih jaketnya, tanganku tak butuh digenggam.”

Howon mengangguk, “Tidak boleh membicarakan masa lalu, ya?” tanyanya.

“Tidak.” Jawab Reen singkat.

Howon mengangguk pelan dan perjalanan dilanjutkan tanpa suara hingga akhirnya Howon membelokkan mobilnya masuk ke lapangan parkir tempat peristirahatan.

“Ayo makan, bukannya sejak tadi pagi kau sudah kelaparan? Nanti maag mu bisa kambuh, lho.” kata Howon sambil melepaskan seatbeltnya. Reen tidak merespon namun tangannya ikut menekan kunci seatbelt yang sialnya macet sehingga seatbeltnya tidak mau membuka. Howon sudah nyaris membuka pintu saat ia menoleh dan mendapati Reen yang masih kesusahan membuka seatbelt, “Macet, ya? Sini aku bantu.”

Howon memutar tubuhnya dan memokuskan tangannya pada seatbelt sialan yang kini membuat jarak antara Howon dan Reen menjadi begitu tipis, bahkan tanpa sadar Reen sampai menahan napasnya. Sikap dewasa laki-laki di hadapannya ini masih sama, sama seperti dulu saat mereka berdua masih menjalin cinta siswa berseragam. Sabar menghadapi Reen yang sembrono dan suka meledak-ledak tanpa kendali. Mau tidak mau pikiran Reen kembali ke masa-masa yang sesungguhnya indah itu.

“Lagi memikirkan aku, ya?” kata Howon tiba-tiba membuat Reen tersadar dari lamunannya, berusaha melonjak menjauh namun justru mengaduh lagi akibat sentakan seatbelt.

“Kan..kan..kan.. Sembrono seperti biasa. Sabar dulu, nona. Sebentar lagi seatbeltnya terbuka dan kau bisa berlari ke luar.” Tepat setelah kalimatnya selesai, seatbelt sialan itu benar-benar terbuka, Reen menggumam terima kasih sebentar lantas membuka pintu dan keluar melakukan peregangan seadanya. Duduk diam di dalam mobil membuat persediannya terasa pegal.

.

.

.

Dolsot bibimbab dua porsi dengan telur setengah matang.” Howon memesan di depan stand penjual makanan tanpa berdiskusi dengan Reen terlebih dahulu, membuat gadis itu melirik sebal ke arah si lelaki lantas berkomentar, “Memangnya aku mau makan itu?”

“Aku tahu makanan kesukaanmu kok.” jawab Howon singkat membuat Reen mendengus dan menggumam terserah, ia sudah cukup lelah dan tidak mau menguras tenaga lebih untuk perdebatan tidak berguna seperti saat ini. Selanjutnya Howon membawa dua pesanan mereka menuju bangku yang terletak di sudut ruangan, menyerahkan mangkuk batu berisi dolsot bibimbab milik Reen setelah sebelumnya memisahkan semua potongan mentimun dan wortel yang ada di dalam sana. “Timun dan wortelnya sudah kupisahkan, makanlah yang lahap.” Howon tersenyum membuat sedikit banyak hati Reen berdesir, laki-laki ini bahkan masih mengingat semua detail tentang apa yang Reen sukai dan tidak sukai.

“Terima kasih.” gumam Reen.

Howon mengangguk dan membiarkan Reen memakan dolsot bibimbabnya dalam diam. Selesai makan mereka kembali melanjutkan perjalanan, Reen memilih pura-pura memejamkan matanya lagi ketimbang harus menghabiskan waktu yang kaku bersama sang mantan kekasih. Ketika hari sudah mulai sore dan matahari sudah berada di ufuk barat, Reen baru membuka matanya dan memainkan handphonenya.

“Sedang chat dengan siapa? Kyungsoo?” Howon membuka pembicaraan.

Reen menggeleng, “Dengan oppa yang tadi siang menelponku.”

“Dia sedang berusaha mendekatimu, ya?”

Reen menoleh lantas tertawa, “Memangnya kenapa?”

“Kalau iya berarti kami akan jadi rival.” jawab Howon lantang membuat Reen semakin tertawa, “Oh, please. Bercandamu jangan keterlaluan, oppa.”

“Aku tidak bercanda kok.” potong Howon cepat.

“Memangnya kau masih menyukaiku, begitu? Dulu ‘kan kita hanya cinta monyet.” Reen akhirnya berani berkomentar. Howon mendengus sesaat, “Ternyata dulu cuma aku yang serius dan kau hanya menganggapku monyet.”

Reen tertawa lalu memukul pelan lengan Howon, “Bukan kau yang monyet.” Howon ikut tertawa, dalam hatinya ia bahagia setidaknya Reen sudah mulai menerima kehadirannya lagi.

“Kita sampai.” kata Howon setelah mobil mereka memasuki pelataran besar dengan deretan gedung besar yang difungsikan sebagai pabrik dengan dinding-dinding kotor menghitam bekas terbakar.

“Sepertinya kebakarannya cukup besar, dindingnya sampai hitam begitu.” Reen berkomentar sambil mengarahkan pandangannya serius pada deretan pabrik itu. Howon diam dan terus mengemudikan mobilnya sampai berhenti di depan pintu kantor kecil tidak jauh dari deretan pabrik itu. Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki bersenyum manis menghampiri mereka. Howon keluar dari mobilnya sambil tersenyum cerah.

“Junmyeon! Untunglah kebakarannya tidak terlalu parah. Kau ada dimana waktu kebakaran terjadi?” sapa Howon ramah, membuat laki-laki yang dipanggil Junmyeon itu tertular senyumnya, “Tentu saja aku sedang terlelap di dalam mess. Untung saja.” jawab Junmyeon kemudian ia melirik ke dalam mobil, tempat Reen sedang berusaha membuka seatbeltnya yang sialnya macet lagi. Untunglah tidak lama kemudian seatbeltnya mau membuka dan Reen keluar dari mobil lantas membungkukkan badannya sopan ke arah Junmyeon. “Annyeonghaseiyo.”

“Ah, Junmyeon kenalkan dia accounting pabrik yang ada di Seoul, namanya Reen.” Howon berinisiatif mengenalkan, namun Junmyeon langsung mengulurkan tangannya ke Arah Reen, “Akhirnya kita bertemu. Salam kenal.” yang disambut uluran tangan dan senyum manis dari pihak Reen.

“Kalian sudah kenal?” potong Howon.

Junmyeon mengangguk, “Sudah. Karena insiden laporan keuangan bulan yang lalu.” jawabnya kemudian Howon ikut mengangguk.

“Besok pagi kami akan kembali ke sini, sekarang aku dan Reen akan mencari hotel untuk menginap dulu.” kata Howon lagi sementara Reen langsung menyela, “Ah, aku ingin tinggal di mess saja supaya lebih dekat, apa masih ada kamar yang kosong?” ucapnya tergesa, Reen tentu saja tidak ingin tinggal di hotel berdua dengan Howon, meskipun di dua kamar berbeda. Sedikit banyak Reen takut dirinya akan semakin larut dalam masa lalu jika ia terlalu lama berdua dengan laki-laki yang dulu sempat tinggal dalam hatinya itu.

Howon dan Junmyeon menatap Reen bingung, namun kemudian Junmyeon tanggap mengangguk, “Ada kamar kosong kok. Di mess kan hanya aku yang tinggal. Karyawan dan buruh-buruh lain lebih memilih pulang ke rumahnya ketimbang tinggal di sini.”

“Kalau begitu aku juga tinggal di mess saja. Dua kamar masih ada ‘kan?” kata Howon lagi, Junmyeon mengangguk lantas tersenyum.

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Reen keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk di kepala, setelah mandi dan keramas agar otaknya terasa dingin, ia merebahkan dirinya asal di atas ranjang kamar mess yang ditempatinya. Sebenarnya jarak Seoul ke Busan tidak terlalu jauh namun entah mengapa Reen merasa hari ini ia teramat sangat lelah. Ia baru hendak memejamkan matanya saat pintu kamar messnya di ketuk. Reen melangkah malas-malasan dan membuka pintu.

“Junmyeon-ssi?” sapa Reen kaget melihat seseorang yang sudah menjulang di depan pintu kamar messnya. Junmyeon yang melihat ekspresi kaget Reen tersenyum lantas berkomentar, “Aku ingin mengajakmu makan malam karena kantin pabrik sudah tutup.”

“Oooh.” Reen membulatkan bibirnya lalu mengangguk singkat, “Baiklah. Sebentar aku menyisir rambutku dan mengambil tas dulu.” lanjutnya lalu menghilang masuk ke dalam kamar.

“Howon oppa tidak ikut?” tanya Reen setelah ia bersiap dan kembali menemui Junmyeon yang masih menunggu di depan pintu kamar. “Tadi aku meneleponnya dan ia bilang ia harus mempersiapkan berkas untuk klaim asuransi jadi ia tidak bisa keluar.”

Reen mengangguk lalu mengikuti Junmyeon yang sudah berjalan ke parkiran mobil di depan mess. Masuk ke dalam mobil Junmyeon, dan membiarkan laki-laki itu mengendarai mobilnya sambil sesekali berbincang dengan Reen. Perjalanan menuju tempat makan malam tidak terlalu jauh, akhirnya mereka sampai di resto sederhana yang menghadap ke arah pantai. Reen sempat mengerjap sesaat memandang hamparan laut luas di malam hari yang herannya terasa menenangkan.

.

.

.

Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk memilih-milih makanan dan berbincang dengan Woohyun di telepon, akhirnya kimchi bokumbab pesanan Reen dan sundubu jiggae pesanan Junmyeon datang. Junmyeon langsung menyeruput kuah sundubu jiggae pesanannya sementara dahi Reen berkerut akibat dua irisan timun yang menjadi pemanis di piring kimchi bokumbabnya. Salah satu kebiasaan Reen adalah ia nyaris selalu lupa untuk menyampaikan pesanan khusus ‘tanpa timun’ karena selalu ada orang lain yang akan melakukan hal itu untuknya, tapi hal itu tidak berlaku hari ini karena tentu saja Junmyeon belum terlalu mengenal Reen.

Reen tersenyum masam lantas mengambil sendok dan memindahkan dua timun menyebalkan itu dan menutupinya dengan tissue, sedangkan Junmyeon yang melihat aktivitas di depannya itu berhenti makan lantas tertawa hingga akhirnya Reen menatapnya, “Aku memang pilih-pilih makanan, seperti anak kecil.” Junmyeon mengangguk membuat Reen semakin salah tingkah.

“Pasti biasanya selalu ada orang lain yang akan mengambil timun itu untukmu ‘kan?” tanya Junmyeon.

Reen mengangguk kemudian tertawa.

Junmyeon ikut tertawa, “Pasti kemungkinan terbesarnya orang itu adalah pacarmu? Yang tadi menelepon?”

Reen menggeleng namun tawanya tak hilang, “Bukan.. Bukan.. Aku belum punya pacar.”

“Namun kurasa ada banyak laki-laki yang berbaris untuk mendapatkan posisi itu.” komentar Junmyeon terdengar serius, namun diakhiri dengan senyum yang membuat Reen semakin tertawa.

Selesai makan, Reen menyempatkan diri untuk membeli tiga buah kimbab segitiga isi tuna yang dijual di samping meja kasir. Setelahnya ia kembali masuk ke dalam mobil setelah mengatakan ‘tidak’ saat Junmyeon mengajaknya duduk sebentar di pantai. Perjalanan pulang menjadi sedikit lebih hening, hanya sesekali pertanyaan yang dilontarkan dari pihak Junmyeon kemudian dijawab oleh Reen. Sesampainya di mess, setelah bertukar salam perpisahan dengan Junmyeon di ruang tengah, Reen melangkah ke depan pintu kamar Howon kemudian setengah ragu mengetuknya. Sekitar beberapa sekon kemudian suara ceklik tanda pintu terbuka terdengar dan Howon tampak menjulang dengan ekspresi lelah dari balik pintu.

“Aku membeli tiga buah kimbab segitiga isi tuna, oppa makanlah.” tawar Reen sambil menyodorkan kantong yang sedari tadi dijinjingnya. Howon tersenyum lantas berkomentar, “Kau khawatir padaku?”

Reen cepat menggeleng namun pipinya tidak mau bekerja sama untuk tidak memancarkan rona merah muda, “Tidak, aku hanya tidak mau kau sakit lalu besok tidak bisa mengendarai mobil untuk pulang ke Seoul.” jawabnya tergesa.

“Kalau begitu masuklah ke dalam, aku hanya mau makan kalau kau temani.” kata Howon setengah merajuk namun Reen cepat-cepat mengerutkan dahinya, “Kau pikir aku mau masuk begitu saja ke dalam kamar laki-laki?” Howon tertawa.

“Bercanda, nona.”

“Jangan sampai tidak kau makan lalu segeralah tidur. Besok akan ikut berkeliling pabrik ‘kan?”  lanjut Reen yang dijawab anggukan cepat dari pihak Howon, “Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu berkeliling berdua dengan laki-laki yang mungkin akan menjadi calon rivalku. Apalagi malam ini kau sudah makan berdua dengannya. Satu kosong skor untuknya.” jawab Howon cepat.

“Maksudmu Junmyeon-ssi? Mengapa pula dari tadi kau membicarakan rival, memangnya kalian sedang bertanding tinju?” Komentar Reen berhenti mendadak ketika kedua tangan Howon menangkup pipinya yang bersemu merah muda, dan kini semu merah muda itu terasa memanas. “Semua laki-laki yang ada di dekatmu akan aku anggap rivalku.” jawabnya.

Reen segera melepaskan kedua tangan Howon sebelum pipinya semakin mendidih dan jantungnya melonjak keluar dari tubuh, segera ia menyerahkan plastik isi kimbab itu ke tangan Howon lalu melangkah pergi setelah sebelumnya berkomentar, “Sudah kubilang jangan bercanda keterlaluan.”

—–JOB’SGOAL:FINDINGLOVE—–

Pagi tiba, Reen bergegas mandi dan segera keluar dari kamarnya setelah mendapat pesan dari Junmyeon kalau ia dan Howon sudah menunggu Reen di ruang tengah mess. Setelah bertukar salam sejenak, mereka bertiga memasuki gedung pabrik yang masih diliburkan pasca kebakaran. Sesekali Howon mengarahkan kamera yang ia bawa untuk memotret kondisi mesin-mesin dan bangunan yang kerusakannya cukup parah sementara Junmyeon yang memimpin barisan.

Setelah beberapa jam berlaku, semua gedung yang terbakar sudah dikelilingi dan semua berkas yang diperlukan dari pabrik sudah di fotocopy dan dirapihkan, ketiga orang itu kembali ke mess. Hari masih cukup siang dan Reen hendak merebahkan dirinya sebentar di atas kasur, namun ia urungkan karena panggilan dari Howon lewat telepon. Mereka akan segera kembali ke Seoul.

“Bagaimana kalau makan siang dulu? Kita bertiga bahkan tidak sarapan.” tawar Junmyeon. Howon nyaris menolak saat ia menoleh ke arah Reen, melihat gadis di sampingnya itu berdiri dengan energi yang tampak sudah terkuras habis. “Baiklah. Makan dulu lalu kami langsung pulang.” jawab Howon.

.

.

.

Junmyeon, Howon, dan Reen duduk di dalam salah satu resto pinggir pantai lagi, namun kali ini terlihat lebih besar dari yang semalam. Junmyeon duduk di hadapan Reen sedangkan Howon mengambil tempat di sisi Reen. Tidak lama kemudian bibi penjaga resto datang dan menyodorkan buku menu ke hadapan mereka. Reen membiarkan Howon yang membulak-balik lembar halaman buku menu tersebut sementara dirinya hanya melihat menu-menu menggiurkan yang ada di dalam sana, sementara Junmyeon pun tampak serius saat memilih menu makan siangnya.

“Sepertinya banyak yang kau tidak suka, pesan bokumbab saja?” tanya Howon pada Reen membuat Junmyeon ikut mendongakkan kepalanya ke arah mereka.

“Semalam sudah bokumbab.” jawab Reen singkat.

“Kau ‘kan tidak suka bihun, pasti tidak mau makan bibim dangmyeon atau japchae. Ayam rebus juga tidak suka jadi pasti tidak mau makan samgyetang. Bibimbap lagi saja?”

Reen mengangguk, “Terserah.”

“Tuna bibimbab tanpa timun dan wortel, dan samgyetang satu porsi.” ucap Howon pada bibi pemilik resto disahut pesanan lain yang disampaikan Junmyeon. Selepas kepergian bibi pemilik resto, Junmyeon menengadahkan kepalanya dan memandang sepasang manusia di hadapannya itu bergantian.

“Kalian sudah kenal lama ya?” tanya Junmyeon dan sebelum Howon berucap sesuatu yang di luar kendali lagi, Reen buru-buru mencubit sebelah tangan Howon yang ada di bawah meja sembari menjawab, “Iya, teman sekolah.”

.

.

.

Reen masuk kembali ke dalam mobil Howon setelah mengucap salam perpisahan pada Junmyeon. Sesaat ia baru masuk ke dalam mobil, Howon segera menyodorkan jaketnya lagi pada Reen, “Tidurlah, pakai ini untuk selimut.” katanya. Reen mengambil jaket itu tanpa banyak penolakan lalu mulai memejamkan matanya, ia cukup lelah dan bukan tindakan kejam ‘kan untuk membiarkan Howon mengendarai mobilnya sendirian?

Reen baru terbangun dari tidurnya ketika matahari sudah terbenam dan mereka sudah sampai di Seoul. Mau tidak mau Reen menyebutkan alamat apartemennya pada Howon dan membiarkan laki-laki itu mengantarkannya sampai ke lobby, itupun dengan banyak penolakan agar si lelaki tak ikut naik lift dan mengantarnya tepat sampai ke depan pintu apartemen.

Sesaat setelah bunyi lift berdenting di lantai 14, Reen menoleh ke koridor apartemen Minseok, setelah melihat tak ada tanda-tanda Minseok akan keluar dari sana, Reen berbelok dan menekan sandi pintu apartemennya.

Noona sudah pulang?” sambut suara Kyungsoo dari dapur.

Eoh.” jawab Reen singkat.

Kemudian terdengar suara gedebuk langkah laki yang tergesa dari dalam kamar menuju ruang tengah tempat Reen saat ini merebahkan dirinya di depan TV, dan sebuah suara besar memenuhi ruangan. “Jadi sekarang jelaskan padaku, Do Kyungrin-ssi. Mengapa bisa si Byun Baekhyun itu adalah orang yang sama dengan si Baekhyun anak CEO sialan yang selalu kau umpati setiap hari itu, huh?”

Dan Reen segera bangkit dan menjulang di hadapan kembarnya yang masih bergelung handuk di sekeliling kepalanya. “Oh, please Do Ahrin-san. Aku baru pulang dan kau sudah mengingatkanku pada nama si anak CEO sialan itu! Ya entah bagaimana, nyatanya dia adalah anaknya Byun ahjussi.” jawab Reen pedas.

Kyungsoo yang mendengar keributan dari ruang tengah segera berjalan dan berdiri di tengah-tengah kedua saudarinya yang saling melempar tatap.

“Oh, ya dan juga. Bagaimana bisa si Howon sunbae itu, mantan pacarmu itu bisa berada juga di sana? Memangnya Korea Selatan sekecil itu ya?” jerit Arin lagi.

“Howon hyung? Bukannya dia pacar Reen noona waktu masih sekolah dulu?” komentar Kyungsoo.

“Dan dari kemarin dia pergi besama mantan pacarnya itu Kyung!” Arin tertawa yang menular pada Kyungsoo, “Heol, daebbak. Benarkah noona? Kau pergi berdua dengan mantan pacarmu?”

“Dan ternyata kau tahu, Kyung? Si Baekhyun sialan anaknya Byun ahjussi itu adalah mantan pacar si Arin bawel ini!” kali ini ganti Reen yang mengompori Kyungsoo, membuat adiknya itu semakin menganga, “Heol. Daebbak. Dunia ini sempit sekali sih.”

 Arin melengos kemudian menarik tangan Reen, “Ayo kita cerita di dalam saja, kembaranku. Kau tidak boleh tidur sebelum semua ceritanya tamat.”

“Kau tidak makan dulu, noona?” tanya Kyungsoo.

“Tidak. Antarkan saja makanan kami ke kamar.” kata Arin sambil terus menarik Reen ke kamar mereka.

“Memangnya aku tukang pesan antar? Dasar kalian anak kembar!” omel Kyungsoo.

“Diam kau anak bungsu!” umpat Reen dan Arin bersama, sambil terus melenggang masuk ke dalam kamar mereka. Meninggalkan Kyungsoo yang menggeleng-geleng keheranan akan kelakukan kedua kakak kembarnya.

.

.

.

to be continued.

AnNotes:

Yeyey gak perlu sampe jamuran lagi buat nungguin Chapter lanjutannya kaan~
/plak /GakAdaYangNungguin /Alay

Di chapter ini juga gak ada “Belajar Akuntansi” karena emang gak ada yang dipelajarin.
Bahasan Pabrik Kebakaran ini kisah nyata juga,
dan ngurusin polisnya bener-bener bikin kepala nyaris botak,
untung aja Umin tetep cinta.
/dibakar

Semoga ke depannya tiap Hari Minggu tetep nongol ini FanFic.
Doain lancar eaak~
Semua yang udah komen nomu kamsaeyeo.
Satu komenmu selalu berharga untukku.

Sampe ketemu di chapter berikutnyaa!!
*bow*

 

Iklan

17 pemikiran pada “Job’s Goal : Finding Love [Chapter 5] -anneandreas

  1. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 8] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 7] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  3. Awalx pengen shipperin reen-baek tp pas howon nunjukin sikap carex sma reen aku jd pngen shipperin mreka *dasarlabil

    ngakak pas howon ngomong jdi selama ini cuma aku yg nganggap hubungan kta serius sedangkan kmu nganggap aku monyet? wkwkwk
    selera humorx howon boleh jga 😀

    • Mueheheheh jadi HoReen atau Baekreen nih? /malah nanya wkwkwk
      Iyah si howon gitu kalo sama Reen sweet2 gimana gitu dia /jumpalitan wkwk
      Makasih sudah komen yaa.. >.<

  4. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [Chapter 6] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  5. Hyaa aq ga ngeh klo jdulnya kebakaran 2 , yg kbaca kebakarannya doank dkiranya slah uplod gtu jdi g lgsung dbca wkwk mian :3
    ska bgt smua bgian dmna Howon peduli bgt ama Reen ><
    ska deh pkoknya, pedulinya howon itu loohh yaampun sweet bgt XD
    nahlo ada tnda'' clbk tuh Reen ama Howon, btw knpa mreka ptus dlu? Krna Howon lulus trus kuliah d luar negeri gtu?? Kasian Howon cma dianggep cinta monyet ama Reen wkwk
    eh Reen nya pake nengok k apartemennya Umin, dy nyaman yaa ama Umin, uluhuluh g ktmu ama mamas Umin seharian psti kngen yaa Reen :3
    wkwk cayo Arin, gw suka gaya loe :v
    bru nyampe blm smpet mandi uda direcoki aja ama Arin, kasian jga si Kyungie jdi tkang antar makanan :v
    gasabar nnggu next chapter XD
    fighting!!! :*

    • Wkwkkw.. Pabrik kebakaranya ada 2 part hihihi..
      Yg kuliah di luar negeri justru Reen, Reen kuliahnya di Beijing, si Arin di Jepang hihihi..
      Hooh Reen nya berharap kaya sineteon gitu temu Umin di pintu lift wkwkw..
      Si Arin mah barbar emang anaknya /plak
      Makasi yaaa.. Hihi

  6. Ngbayangin howon pk so2k siwon ajah 😅 cz ga tau howon yg mn.
    Ya udah, ok jg klo sehun nongol jd cameo di job’s goal cz dy dah sbk bgt /bnyk dpt leading role di bnyk ff dimarih 😁 LDA smoga cpt tayang lg ky job’s goal ini ya.. Aamiin.. 😇
    Sk bgt scene soap opera pas reen msh cape br smp rmh tp dah dicecar arin 😂 ga sbr nggu nex eps girls’ talk 누나2ny d.o.
    ga sbr jg nggu reen-umin moment & 백-arin ktmu 😙 roman2ny kan 백 msh brhrp ke arin ky howon msh brhrp ke reen.
    첸 apa kbr ya? Blm kbagian scene lg, tar ktmu sm 백 jg ya 😄 biar irish dilemma, eh arin. Arin-백 broke up krn apa, el de er/백 tipe yg sk ngekang/over protectiv ke arin? Hm, howon bnyk love rival’ny nih, knp putus dulu sm reen?
    Anne ga sk wortel jg? Ksh saya aja 😋 sm timun’ny jg. Eike klo bawang goreng dg tingkat kematangan yg pas sk2 ja tp klo yg raw, di sayur bening/tumis2an 😓 singkirin jauh2 😙
    Anne dah prnh cb smua korean cuisine yg di mention disini? Bbrp wkt kmrn mkn sundubu jigae, enak si tp ashin bingit!

    • Howonnya ada diposter kok kak wkwkwk..
      Akuh masih mencari chapter dimana aku butuh kameo kak, nti tak jejelin si oseh di sana wkwkkw..
      AMIN AMIIINN, doain LDA lanjut lageee ihihihih jadi gaenak ditungguiin >.<
      iyah romanroman CLBKnya kuat di chapter ini wkwkwk..
      Hooh Chen belom nongol, lagi sibuk bikin obat baru dia /plak
      Kalo wortel aku pemilih, masi mau makan beberapa biji, gak kaya timun wkwkwkw..
      Aku justru suka banget sama bawang kaaak mueheheheh..
      Udah semua siih, tapi yg japchae sama bibim dangmyeon ga terlalu suka soalnya aku ga suka mie-miean yg begituu, cukup mie ayam aja wakwak..
      kalo bibimbab favorit deh! sundubu waktu itu pernah nyoba bikin sendiri, beli gochujangnya, tapi enakan yg di resto rasanya wkwkwkwk

    • Ok 😉 kunantikan moment cameo’ny 세훈 😘 Lg xperimen bikin ramuan apa sih 첸? Sok sbk bgt dy 😂 tar arin ditikung 백 loh! Inget hol(m)es prtm x reen-백 di pairing lngsng jd pasutri 😅
      korean cuisine yg prnh cb bwt sndiri br 김치, 라면, 떡뽀끼, sm cake yg ky mochi. Iya, mi ayam is d’best! 🍜 kmrn mlm prtm x mkn mi ayam di htl (nitip tmn di take away gt) dg wadah bungkus plastik’ny /balada anak prantauan 😞

    • Iyaaah, nanti kali si sehun bakal menari2 diotak lalu kumasukin dia dalam 1 chapter wkwkkw..
      Muehehehhehe, itu awalnya ga kepikir tau kaak, tibatiba diakhir chat aja pas ngomongin plot twist iriseu ngomong “kalo ternyata suaminya reen itu bekyun, plot twist banget ya kak?” dan aku langsung manggut2 semangat wkwkwkkw..
      Oooh yg kaya mochi, aku nyebutnya ddeok, entah bener apa engga wkwkwk..
      Aku suka banget sama kimchi muehehhe..
      Kenapa ga makan di luar? Di bali looh kak, sekalian jalan jalaan /plak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s