[EXOFFI FREELANCE] PERSPECTIVE (Ficlet)

PicsArt_03-19-09.36.52

 

PERSPECTIVE

.

|| Kim Minseok, Mei || Romance, Friendship || G || Ficlet ||

.

.

-Rules : perspective, its about Minseok think.-

.

Jika ada yang mengatakan lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, bunuh saja. Orang yang mengatakan hal itu, belum pernah merasakan kenikmatan saat gigi berdenyut, gusi meraung, dan kepala pusing tujuh keliling.

Aku, Kim Minseok, sudah pernah merasakan sakit gigi dan sakit hati. Nyatanya, sakit gigi lebih menyiksa sampai hati ikut tersiksa.

Dampak dari kedua penyakit tersebut hampir sama namun rasanya jelas berbeda. Contoh, tidak bisa tidur. Ketika sakit hati, biasanya akan menangis lalu melamun tidak jelas memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Lalu kau akan menjadi insomnia. Nah, kelebihan dari sakit hati dapat membawa kita memasuki imajinasi hingga pergi jauh sesuka hati. Sedangkan sakit gigi~ kau tidak bisa berimajinasi karena pikiranmu terganggu oleh nyeri yang berdenyut-denyut tak kunjung berhenti. Temponya tidak teratur, datang sesuka hati tanpa ampun, seperti cintaku padamu. Iya kamu.

Cara penanganan. Opini : sakit gigi dapat diobati, sakit hati tidak dapat diobati. Kata siapa? Sakit hati bisa diobati kok. Jika sakit gigi maka pergi ke dokter gigi. Jika sakit hati, maka pergi ke psikolog atau psikiater lah. Memang bisa? Bisa dong. Psikolog dan psikiater kan dokter jiwa, sakit hati sebenarnya bukan hatinya yang sakit, melainkan jiwanya. Renungkan, mengapa hati bisa sakit? Karena jiwanya tidak stabil. Haruskah aku jelaskan lebih detail? Maaf, pikirkan saja sendiri. Saya sedang sakit gigi.

“Kalau aku larang kamu makan bakpau cokelat, harusnya kamu nurut. Eh, malah bandel. Tahu sendiri kan akibatnya?”

Aku menatap Mei jengah. Dia adalah sahabatku. Sedang menceramahiku dengan siraman kalbu, menyebalkan. Padahal, sakit ini jelas sekali penyebab utamanya adalah dirinya.

“Salah kamu Mei,” jawabku seraya memalingkan pandangan. Bukannya apa, aku takut khilaf.

“Kok aku? Aku kan hanya memberi saran, salah ya?”

Aku menghela napas pelan. Mei ini, tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?

Aku menarik napas panjang menyiapkan mental dan pasokan napas karena kata yang akan kukeluarkan akan sama panjangnya. “Kalau kamu tidak menolak cintaku, aku tidak akan seperti ini. Rasa sakit kulampiaskan dengan memakan bakpau cokelat banyak, tadinya aku ingin gigit kamu, tetapi karena aku sayang, makanya tidak jadi. Dan kamu sekarang menambah penderitaanku, pertama sakit gigi, kedua sakit telinga, dan terakhir sakit hati kembali. Omongan kamu bukan hanya menyakiti telingaku, hati sama jiwa aku ikut terkoyak Mei. Sakit, rasanya. Apalagi kamu menyalahkan aku, penderitaan mana lagi yang kunistakan, hm?”

Aku heran dengan tanggapan Mei, dia hanya termenung melihatku yang terengah. Tambahan, pipinya sedikit bersemu. Aku pun enggan berbicara, gigiku kambuh lagi dalam waktu yang tidak tepat. Dalam suasana saling berdiam durja ini, aku harus menahan ngilu yang berdenyut seakan merayakan pesta penderitaanku. Mei tetap diam, mungkin sedang mencerna perkataanku barusan. Namun tak lama kemudian aku menangkap suaranya yang sangat menyebalkan.

“Salahmu sendiri jatuh hati padaku. Aku tidak pernah menyuruhmu seperti itu. Rasakan saja sendiri.  Maksudku itu baik, sebagai sahabat, aku tidak ingin kamu celaka, makanya aku larang kamu makan bakpau kemarin. Bahkan aku ikut menemani kamu ke dokter, kok kamu marah sama aku?”

Wajahnya semakin bersemu sampai ke ujung telinga. Dan aku melihat sesuatu tertahan di pelupuk matanya. Perkataannya mengingatkanku pada ucapan Sehun yang selalu mengeluh tentang prinsip kekasihnya; perempuan tidak pernah salah, jika salah maka laki-laki yang salah. Enak sekali ya kaum hawa berkata seperti itu?

“Maaf, aku tidak sengaja membentak kamu. Dan aku juga tidak marah. Sudah jangan menangis, gigiku tambah sakit mendengar isak tangismu.”

Mei melotot ganas padaku. Apa salahku?

“Aku tidak menangis! Ini keringat mata tahu!” Mei membentak dengan wajah yang memerah sampai ke telinganya. Aku membuat Mei kesal, ya?

Mei kemudian berbalik, berlari menjauh menghentak bumi kasar, meninggalkanku sendirian di kursi taman rumah sakit umum. Kedua tungkaiku refleks langsung berlari mengikuti jejak Mei.

Senyum seringai lantas terbit di bibirku. Mengingat perilaku kekanak-kanakan Mei yang merajuk, dan akan di akhiri aksi kejar-menghindar antara aku dan Mei, entah mengapa terasa seperti sepasang kekasih. Aku terima hubungan cinta tanpa status ini, sekarang kami belum membutuhkan hal itu dan mungkin baru dibutuhkan untuk delapan tahun yang akan datang dari sekarang. Omong-omong umurku delapan belas. Dan pada saat itu, status akan berubah, Mei menjadi isteriku dan aku akan menjadi suami Mei. Meski Mei belum mencintaiku, aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta. Setidaknya, untuk sekarang biarlah seperti ini. Hey, lebih baik teman rasa pacar daripada pacar rasa teman bukan?

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] PERSPECTIVE (Ficlet)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s