[EXOFFI FREELANCE] Twin – (Chapter 2)

POSTER TWIN.jpg

Twin ( Chapter 2 )

 

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance, SchoolLife

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, orangtua mereka, dan SM. FF ini resmi punyaku dan jangan diplagiat. FF ini aku share bukan hanya di facebook pribadi tapi juga di EXO Fanfic Indo, Wattpadku @AyuMeyliana, https://www.fanfiction.net/u/8926667/, maybe bakal kushare di EXO fanfiction tergantung mood juga. So jangan bilang kalo aku plagiat atau apapun karena ff itu ceritanya dari orang yang sama yaitu aku. Okay?

Main Cast :

– Kim Minseok

– Kim Xiumin

– Park Seori
Happy Reading😁

“Seori-ya!!!!” Seori menoleh dan mendapati Xiumin berjalan ke arahnya. Senyumnya mengembang dan jantungnya mulai berdebar tidak jelas. Matanya menatap sumringah ke arah Xiumin.

“Kita makan bersama yuk! Ibuku membawakanku bekal makan.” Xiumin melirik bekal yang dia bawa dan tersenyum manis. Tangan kirinya mengacak rambut Seori gemas. Pipi Seori merona merah. Selalu saja begitu setiap Xiumin melakukan hal-hal yang manis padanya.

“Aku juga bawa bekal. Nanti kita bertukar bekal okay?” Ucap Seori. Xiumin menggenggam tangan Seori dan membawanya ke kantin. Hati Seori tidak bisa dijelaskan lagi. Rasa bahagia benar-benar memenuhi hatinya. Rasanya meledak. Ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya dan membuatnya tidak berhenti tersenyum.

“Eh~ Minseok-ssi…” Minseok menoleh dan mendapati Seori melambai ke arahnya. Ia mendekati Seori sambil melirik Xiumin yang menatap dirinya sinis.

“Kajja ke kantin. Aku bawa bekal banyak. Aku pasti tidak habis makan berdua dengan Xiumin. Ayo kita ke kantin bersama.” Minseok melirik sekilas ke arah Xiumin. Xiumin hanya memutar bola matanya malas dan menatap ke arah lain. Minseok jadi merasa tidak enak dengan Xiumin. Matanya melirik ke arah tangan Xiumin dan Seori yang saling bertautan seakan menegaskan hubungan mereka. Ia menggelengkan kepalanya menolak.

“Ani.. Aku nanti ke kantin sendiri. Kau bersama Xiumin saja.” Minseok mengulas senyumnya. Tangannya melepas tangan Seori yang memegang jaketnya.

“Xiumin, ayo ajak saudaramu bersama kita…. Please… Kalau tidak aku tidak mau pergi bersamamu.” Seori mempoutkan bibirnya kesal. Tangannya melepas tangan Xiumin spontan. Walaupun ia enggan melepas tangan hangat Xiumin namun ia juga tidak enak dengan Minseok. Yah… Bagaimanapun kemarin ia melakukan hal yang memalukan di depan Minseok jadi ia ingin menebusnya. Ia juga ingin menjalin pertemanan dengan Minseok. Minseok adalah orang yang baik terlebih dia adalah saudara kembar Xiumin. Berteman itu hal yang baik bukan?

“Ayo ikut! Ck.. Menyebalkan.. ” Xiumin mendecak sebal. Ia melirik Seori yang menatap penuh harap ke arah Minseok. Rasanya Xiumin ingin memakan Seori hidup-hidup saking imutnya.

“Baiklah.. Hanya sebentar. Aku tidak ingin mengganggu.” Seori yang memang memiliki sifat hiperaktif ini langsung menarik Xiumin dan Minseok bersamaan. Mereka bertiga langsung menjadi pusat perhatian di lorong. Semua iri pada Seori yang bisa mendekati si kembar yang tampan. Jarang sekali ada yeoja yang bisa sedekat itu dengan duo kembar.

*******

“JAA!!! Xiumin buka bekalmu… Aku ingin melihatnya..” Xiumin membuka bekalnya dan memperlihatkannya ke Seori. Seori menatap bahagia bekal Xiumin dan langsung mengambil makanan Xiumin tanpa izin.

“Aaahh~~ Mashita!! Astaga kejunya meleleh di lidahku. Kau selalu tahu aku sangat menyukai ini. Gomawo, Xiumin. Oh ya Minseok makanlah bekalku.. Aku bawa bibimbap yang sangat banyak. Ah sebentar aku kesana dulu ya ambil piring. Chakkaman..” Seori berdiri dan berjalan ke arah salah satu stan untuk meminta piring kosong.

“Harusnya kau tidak menggangguku, Kim Minseok. ” Xiumin memutarkan bola matanya malas. Ia tidak suka saudaranya dekat dengan Seori.

“Aku tidak pernah memintanya mengajakku kesini. Dia langsung menarikku dan ingatkan aku kalau kau yang mengajakku ya..” Minseok hanya tersenyum miring dan melirik ke arah Seori. Sepertinya ia juga memesan makanan lain.

“Itu karena Seori yang memintanya. Aku tidak akan mau mengajakmu jika Seori tidak memintanya. Aku menyukainya jelas aku akan melakukan apapun untuknya.” Xiumin ikut melirik ke arah Seori. Seori sangat menggemaskan di matanya. Apapun yang ia lakukan terlihat imut dan lucu bersamaan.

“Aku sebenarnya tidak mau ada tantangan ini. Aku tidak mau ada masalah denganmu. Sayangnya aku juga sedikit tertarik dengannya. Dia imut dan cantik. Aku tidak pungkiri itu. Saat di perpustakaan ketika dia menangis rasanya aku tidak ingin melihat dia menangis. Yah perasaan seperti itu. Perasaan aneh ketika ia memelukku erat. Perasaan nyaman yang membuat perutku menggelitik.” Xiumin menatap tajam ke arah Minseok. Sedangkan Minseok? Hanya tertawa melihat ekspresi Xiumin.

“Neo-?! Eh kau sudah datang? Lama sekali…” Seori membawakan dua piring dengan beberapa kotak susu serta sosis bakar. Ia memberikan sosis itu ke Xiumin. Xiumin menatap sosis itu dengan bahagia. Ia mengucapkan terima kasih dan makan seperti anak kecil.

“Kalian bicara apa sih? Serius sekali.” Seori membagikan bibimbapnya pada Xiumin dan Minseok. Mereka saling melirik dan tidak menjawab pertanyaan Seori, menimbulkan pertanyaan di benak Seori. Ada apa dengan mereka? Sebegitu rahasianya ya sampai tidak mau memberitahunya?

“Minseok, besok dan seterusnya kita makan bersama ya. Aku ingin berteman denganmu.” Seori mengulurkan tangannya ke arah Minseok. Minseok menatap bergilir antara Seori dan tangannya. Sesekali ia melirik Xiumin yang menatapnya cemburu.

 

“Ah~ Ne.” Minseok menerima jabat tangan Seori dan tersenyum bersahabat. Seori tersenyum dan mulai mengoceh seperti biasanya. Xiumin dan Minseok menjadi pendengar yang baik sesekali menanggapi cerita Seori. Seori adalah yeoja yang tidak bisa diam dan cerewet. Daya tariknyalah yang membuat dua kembar ini bertekuk lutut di hadapannya.

*******

“Seori, lagi-lagi kamu lupa mengerjakan PR. Apa sih yang kamu lakukan di rumah? PR seperti ini saja kamu tidak kerjakan. Sekarang kamu keluar dan angkat kakimu!” Seori menunduk takut dan melangkah keluar kelas. Setibanya di luar, tubuhnya merosot ke bawah. Dia lelah sekali. Beberapa kali dia ditegur oleh guru karena melamun.

Semalam ia membantu ibunya membungkus makanan hingga larut malam. Sejak kematian ayahnya, ia harus tidur larut malam setiap hari untuk membantu ibunya. Ibunya memiliki kedai kecil yang menjual makanan khas korea dan jajanan korea. Seori adalah anak tunggal dan ia hanya memiliki ibunya. Kalau bukan dia yang membantu ibunya siapa lagi? Ia hanya tinggal berdua dengan rumah yang sederhana peninggalan ayahnya.

“Gwenchana?” Seori mendongak dan melihat Minseok mengulurkan tangannya. Ia meraihnya dan tersenyum manis. Menyembunyikan segala rasa lelah yang ia rasakan.

“Kau sedang apa? Kelasmu bukan disini, Minseok.” Seori tersenyum menampilkan eye smilenya yang manis.

“Oh aku dari toilet. Apa kau dihukum?” Seori mengangguk dan bibirnya langsung tertekuk. Tangan Minseok terulur dan menempelkannya di dahi Seori. Ia sudah tahu Seori sedang sakit. Wajahnya sangat pucat.

“Aku antar ke UKS ya. Beristirahatlah.. Kau demam. Tunggu sebentar…” Minseok masuk ke kelas Seori dan sekilas terdengar jeritan tertahan dari para yeoja. Setelah beberapa saat, Minseok keluar kelas sambil tersenyum.

“Kajja.. Aku akan menggendongmu.” Seori menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Minseok.

“Shireo… Aku bisa jalan sendiri kok. Aku tidak sesakit itu, Minseok.” Minseok berdecih dan langsung menggendong Seori ala bridal style. Seori terdiam dan menelusupkan kepalanya di dada Minseok karena ia benar-benar malu dengan perlakuan Minseok.

“Minseok gomawo. Tapi jangan seperti ini… Aku malu… ” Minseok tersenyum miring dengan ucapan Seori.

“Jaaa… Kita sudah sampai. Apa kau akan terus menempel denganku? Silahkan turun, Seori-ssi.” Seori tersenyum kecil sambil turun dari tubuh Minseok. Di depannya pintu UKS terbuka.

“Ah ya.. Aku ada urusan. Kau tidurlah di UKS. Aku sudah ijinkan pada sosaengnim. Minumlah obat jika kau pusing. Nanti aku akan kembali.” Minseok mengacak rambut Seori pelan dan berlari terburu-buru ke kelasnya. Seori masuk ke dalam UKS dan membaringkan tubuhnya. Tangannya yang bebas menutup wajah cantiknya dan tidak butuh waktu lama untuk Seori tertidur.

Xiumin melihat Minseok dan Seori di dekat UKS. Ia melihat Minseok mengacak rambut Seori tepat di depannya dan Seori tersenyum manis ke arahnya. Tangannya terkepal erat. Amarah dalam dirinya terbakar. Ia benar-benar membenci kedekatan mereka berdua. Ia memukul tembok di sampingnya dengan keras. Darah mengucur deras dari tangannya namun ia tidak mempedulikannya. Tidak ada rasa sakit di tangannya seolah tangannya

 

“Omo omo omo… Xiumin… Tanganmu berdarah ayo kita ke UKS dan perban tanganmu itu. Nanti kau terkena infeksi.” Xiumin baru saja pergi tapi suara melengking yang memekakkan telinga itu muncul kembali. Jadi Xiumin sebenarnya ingin membolos pelajaran Geografi dan ia meminta sosaengnim untuk mengijinkannya ke UKS. Suara memekakkan itu dari Kim Yera, teman sekelasnya. Yeoja bawel yang selalu menempel seperti hama.

Yera mendekatinya dan menjerit tertahan melihat darah masih menetes dari tangan Xiumin. Tangannya memegang tangan Xiumin dan berusaha menyentuh lukanya namun Xiumin menepisnya kasar.

“Aku tidak apa-apa. Pergilah. Kau menggangguku.” Xiumin mendecak kesal melihat Yera masih menatap tangannya dengan tatapan sok khawatir.

“Ikut aku ke UKS atau kau akan kulaporkan karena kau membolos pelajaran Geografi. Otte?” Xiumin mengumpat pelan dan mengikuti langkah Yera menuju UKS. Yera masuk dan melihat sekilas ada yang tidur di ruang UKS namun ia memilih mengabaikannya. Ia mengambil satu kotak P3K dan berjalan ke arah Xiumin yang tengah duduk di salah satu ranjang kosong. Xiumin terus menatap ruangan yang tertutup tirai.

“Kenapa kau melihat tirai itu terus sih? Aku disini kenapa kau terus mengabaikanku. Aku yang mengobati lukamu tapi kau tidak mempedulikanku.” Xiumin memutar bola matanya malas. Ocehan Yera terus mengalir tanpa henti membuat Xiumin benar-benar ingin pergi dari UKS.

Yera dengan telaten membersihkan luka Xiumin dengan alkohol. Tangannya mengambil obat merah dan memberikannya ke luka Xiumin. Sesekali Xiumin meringis ketika obat merah itu meresap ke dalam lukanya. Yera terus menekan obat merahnya dengan hati-hati dan terkesan diperlambat.

“Apa sudah selesai? Aku muak dekat denganmu.” Xiumin mempercepat membalut perban ke tangannya. Ia tahu Yera sengaja memperlambatnya untuk berbicara lebih lama dengannya.

“Sudah ya aku pergi. Gomawo.” Tangan Xiumin tertahan oleh tarikan dari Yera. Tepat saat itu, Yera mencium bibir Xiumin. Yeoja itu melumatnya dengan ganas. Ia berharap Xiumin membalasnya namun yang diterima ialah dorongan kuat dari Xiumin. Xiumin mendorongnya dengan keras. Matanya menatap jijik ke arah Yera.

“Aku mencintaimu. Kau harusnya tahu itu, Xiumin. Aku sudah lama mengejarmu. Tidak bisakah kau melihat aku? Matamu hanya untuk Seori. Dia tidak ada apa-apanya denganku. Dia miskin dan tidak cantik. Kenapa kau menolakku hah? Apa kurangnya aku sehingga kau lebih memilih dia?” Suara serak Yera menggema di ruang UKS. Yera menangis tersedu-sedu sambil menatap Xiumin. Xiumin menoleh dan tersenyum miring.

“Kau tahu kenapa aku tidak memilihmu? Kau itu kotor. Apa aku tidak tahu kau selalu di club? Apa yang dilakukan ‘yeoja baik-baik” di club? Selain minum dan mencari namja one night stand. Lalu kau mau membandingkan dirimu dengan Seori? Seori seratus kali lebih baik darimu. Dia tidak seperti dirimu yang menjual diri hanya untuk uang.” Wajah Yera benar-benar syok. Xiumin kembali tersenyum miring. Tangannya mengelus wajah Yera sambil menyeringai.

 

“Apa kau mau aku membayarmu untuk menjadi one night standku? Apa aku harus menikmatimu juga seperti namja lain? Kenapa kau mengejarku? Kau tidak mencintaiku kau hanya mencintai uangku saja.” Tangan Xiumin mengelus rambut Yera perlahan. Yera semakin menunduk ketakutan.

“Aku bisa melakukan apapun padamu seperti namja-namja itu melakukannya padamu. Apa kau mau aku begitu? Setelah aku melakukannya, aku akan meninggalkanmu dengan setumpuk uang hah? Kau mau itu kan? Tanpa aku melakukannya, aku bisa memberimu uangku asal kau jauh dariku. Kau kira aku tidak tahu bahwa aku adalah incaranmu selanjutnya? Aku tidak sebodoh itu, Yera-ssi.” Xiumin berdiri dan membetulkan blazernya. Sekilas ia melihat tirai yang tertutup itu, ia tahu Seori mendengarnya namun ia tidak peduli. Kekesalannya karena melihat Minseok dan Seori bersama membuatnya hilang akal dan membiarkan emosi mengambil alih tubuhnya. Xiumin pergi meninggalkan UKS dengan helaan nafas yang panjang.

“Hiks…. Aku tidak seperti itu. Aku melakukan itu karena aku tidak punya pekerjaan untuk menghidupiku dengan adikku. Hiks.. Aku benar-benar mencintaimu Xiumin. Hiks.. Kau salah menilaiku… Hiks…” Yera menenggelamkan wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.

Di balik tirai, Seori mendengar semuanya. Sejak Xiumin dan Yera masuk ke ruang UKS, dia sudah terbangun. Ia benar-benar terkejut dengan ucapan Xiumin. Xiumin seharusnya tidak sekasar itu padanya. Ia tahu Xiumin tidak suka dengan Yera tapi kenapa memojokkannya seperti itu? Seori tidak habis pikir dengan otak Xiumin. Kenapa dia berucap sekasar itu pada seorang yeoja? Itu sama saja dengan ‘menelanjangi” nya secara tidak langsung. Membongkar semua aibnya untuk memberikannya alasan menolak Yera. Walaupun Xiumin adalah orang yang ia sukai tapi Seori tidak suka dengan sikap Xiumin seperti ini.

Setelah Yera meninggalkan UKS, Seori menyibak tirai yang menutupi ranjangnya. Ia duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya. Pusingnya sedikit berkurang setelah istirahat selama 1 jam. Tangannya mengetikkan sebuah pesan ke Xiumin.

‘Xiumin aku perlu bicara padamu.’

 

TBC

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s