[EXOFFI FREELANCE] The Twin Promise – (Prologue)

the-twins-promise-req.jpeg

Title : The Twins Promise

Author : Rainalee17

Length :Chaptered

Genre : Romance, Hurt/Comfort, School Life, Supernatural, Friendship, Family and Fantasy.

Rating : PG15

Main Cast :

Lee Rinah Or Kim Rinah (Kim Sae Ron) | Lee Minah (Kim Sae Ron) | Oh Sehun (EXO) | Lee Taeyong (NCT127) | Jeon Woowoo (Seventeen) | Jeon Somi (IOI) | Kang Seulgi (Red Velvet) ) | And other you can find in the story|

Diclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka, alur cerita adalah hak author dan para Main cast Milik Tuhan yang Maha esa

Summary : Kim Rinah dan Lee Minah adalah saudari kembar yang terpisah oleh orang tua asuhnya. Mereka bertemu hampir 15 tahun kemudian bersamaan dengan peringatan kematian kedua orang tua kandung Mereka. Tanpa diduga sebuah ramalan dari seorang oracle, mengubah hidup Mereka kedalam situasi berbahaya dan tak terduga.

Don”t BASH !

Don”t PLAGIATSM !

.

.

.

Poster By : Kyoung©Poster Channel [link hidup]

.

.

.

Prologue Time

.

.

.

Author POV

Kring…. Kring…kring…

Jam weker berbunyi, tanda waktu sudah pukul 06.00 pagi.

Kim Rinah terpaksa terbangun dari mimpi indahnya, menjemput pagi yang akan melelahkan baginya. Dengan langkah malas, Dia langsung menuju kamar mandi. Menjalani ritual mandi paginya.

Setelah siap dengan semua perlengkapan Sekolahnya termasuk seragam dan tasnya, Rinah turun menuju ruang makan. Di ruang makan, hanya ada Bibi Bang yang tengah menyiapkan sarapan untuknya.

“Apakah Eomma tadi malam pulang terlambat?” tanya Rinah penasaran.

“Ne, Aggashi. Kim Samonim tadi malam pulang terlambat. Apakah Anda ingin menemuinya di kamarnya?”

“Animida, Aku akan langsung berangkat.” Ujar Rinah sembari menghabiskan susu strawberrynya tanpa berniat menyentuh sarapan paginya.

“Apakah Aggashi tidak sarapan?” tanya Bibi Bang khawatir.

“Gwaenchana, Ahjumma. Hakkyo danyeo ogessemnida.” Pamit Rinah dengan nada malas.

Bibi Bang hanya menggelengkan kepalanya. Merasa begitu kasihan kepada Nona mudanya ini.

Hubungan Kim Rinah dan Ibu asuhnya, Kim So Yeon sempat buruk karena Kim So Yeon meminta Kim Rinah berhenti menjadi atlit dan fokus untuk masuk ke Harvard University. Hal itu membuat Rinah marah besar dan lebih sering menghindari Ibunya.

Kim So Yeon yang juga adalah pegawai Blue House juga tidak peduli akan Rinah karena So Yeon selalu sibuk.

.

.

.

Sebuah mobil melaju membelah jalanan Seoul yang padat di pagi hari. Dibalik kemudi, Lee Sang Woo focus menjalankan mobilnya menuju Sekolah putrinya. Sementara itu, putrinya terlalu sibuk mengoleskan lip balm strawberry dan sesekali mencek smartphone miliknya. Lee Minah, putri bungsunya sangat antusias mengunjungi sekolah barunya.

“Minah-ya, Appa harap Kau menyukai Sekolah barumu. Oh, apakah Kau masih menginggat Choi Jin Hyuk Ahjussi?” ujar Ayahnya sembari menyetir mobil.

“Choi Jin Hyuk Ahjussi?” Minah mengalihkan pandangannya penasaran.

Choi Jin Hyuk Ahjussi bukankah adalah sahabar karib Ayah saat Dia di Amerika.

“Ne, Kau tahu. Dia menjadi Kepala Sekolah di Sekolahmu yang baru.” Ujar Ayahnya antusias.

“Appa sengaja memasukkanku kesana karena ada Jinhyuk Ahjussi?” mata Minah memicing curiga.

Reaksi Ayahnya hanya tertawa pelan.

“Kau sudah tahu rupanya. Appa hanya memastikan jika Kau bisa belajar dengan baik di Korea.”

Minah hanya berdecak kesal. Jadi Ayahnya menggunakan koneksinya lagi. Dan untuk mengawasinya selama di Sekolah. Oh Ayolah Minah bukan anak usia 9 tahun lagi. Dia sudah 18 tahun.

“Apa Kau ingin masuk bimbingan belajar? Di Korea, Appa akan masukkan Kau ke bimbingan belajar untuk persiapanmu ke Universitas.”

Minah berdecak sebal. Ayahnya seorang dosen sejarah di Columbia University. Bahkan Dia bisa ikut meminjam koneksi Ayahnya untuk masuk Universitas. Tapi mengapa Minah harus tetap ikut bimbingan belajar?

“Bukankah Appa berjanji untuk tidak akan memasukkan ke bimbingan belajar? Appa tahu bukan Aku akan ikut program beasiswa di Oxford? Bahkan jika Aku tidak masuk bimbingan belajar takkan memperkecil peluangku masuk kesana.” ujar Minah angkuh.

“Karena itu, Appa akan memasukkanmu ke bimbingan belajar. Agar Kau meraih program beasiswa itu. Appa hanya ingin Kau mendapatkan beasiswa itu.”

Minah hanya bisa menghela nafas pasrah.

Minah lebih memilih membuka kaca jendela. Dan menikmati hembusan angin yang sejuk menerpa wajahnya.

.

.

.

Kim Rinah side

Rinah berjalan menuju halte bus. Sembari menunggu bus datang, sesekali Dia menendang beberapa kerikil.

Tittt…

Sebuah motor sport berwarna hitam datang dan tepat berhenti didepan Rinah. Reaksi Rinah hanya memutar matanya malas. Namja yang mengendarai motor sport itu kemudian membuka kaca helmnya dan tersenyum tampan.

“Taeyong-ah, Kau ingin membuatku menjadi pusat perhatian lagi?” ujar Rinah sebal.

Namja itu hanya tersenyum tak peduli dan berkata, “Apa itu masalah, bukankah Kau sering naik motor bersamaku?”

“Tapi masalahnya, jika Kau mengajakku naik motor. Semua orang bergosip jika Aku dan Kau berkencan. Oh ayolah, semua penggemarmu akan terus membullyku nanti.”

Semua orang tahu jika Lee Taeyong dan Kim Rinah memang bersahabat lama. Terlebih sejak Lee Taeyong adalah pendukung Kim Rinah ketika Rinah bertanding. Bahkan tak jarang semua penggemar iri sekaligus kagum akan sosok Taeyong yang begitu menyayangi Rinah.

Tak jarang, Rinah sering bersama teman – teman Taeyong lain pergi ke markas pribadi Mereka entah untuk latihan beatbox atau sekedar main game.

“Sudah cepat naik. Kita akan terlambat datang ke Sekolah jika Kau masih menggerutu tak jelas.”

Tanpa basa – basi, Rinah naik keatas motor Taeyong. Dan membuat roknya tersingkap jelas. Menampilkan pahanya yang mengalami luka – luka.

“Lain kali, jika Kau memakai rok pakailah safety pants yang lebih panjang.”

“Aku harus pakai rok hari ini. Jika tidak ingat pesan Kepala Sekolah Kwon, Aku akan memakai celana panjang jika Aku bisa. Kemarikan helmnya. Aku takut Kau membuat rambutku berantakan.” ujar Rinah cuek sembari mengambil helm berwarna putih milik Taeyong dan memakainya.

Taeyong hanya menyeringai lalu melajukan motornya dengan cepat.

Refleks Rinah memeluk Taeyong erat karena takut terjatuh. Sementara Taeyong terlihat tersenyum penuh kemenangan.

“Yaa! Lee Taeyong, Kau ingin mati.”

Kim Rinah ketakutan setengah mati karena Taeyong mengendarai motornya bak pembalap profesional

.

.

.

Motor yang dikendarai Taeyong sudah memasuki kawasan Apgujeong High School. Dan sudah diparkirkan di tempat biasa bersama kawanannya di tempat parkir.

Taeyong adalah namja idola Apgujeong High School. Bahkan fansnya bisa dibilang cukup banyak. Maka dari itu Rinah sering menyebut penggemar Taeyong dengan julukan piranha. Karena Dia sudah pernah merasakan bagaimana fans Taeyong membully dirinya. Begitu juga dengan kawan – kawannya, entah itu Jhonny, Mark, Yuta atau Doyoung.

Dengan gaya yang angkuh, kawan – kawan Taeyong menanti Taeyong mematikan motornya. Sudah menjadi hal biasa, jika kedatangannya menjadi bahan pembicaraan di Sekolah ini. Bukan hanya menganggumi ketampanan seorang Lee Taeyong, tapi sosok Kim Rinah juga menjadi bahan perbincangan. Semua orang tahu jika Kim Rinah dan Lee Taeyong sudah bersahabat. Bahkan dengan kawan – kawan Taeyong yang lain, Rinah sangat akrab.

Seperti kali ini. Jhonny, salah satu kawan Taeyong sudah mengulurkan tangannya begitu Rinah hendak turun dari motor Taeyong. Membantu Rinah turun dari motor Taeyong. Uluran tangan yang disambut oleh Rinah sudah membuat para siswi lain histeris.

Rinah sudah biasa mendengar teriakan histeris siswi lain membuka helmnya dan mengibaskan rambutnya bak model. Helm itu Dia serahkan kembali pada Taeyong, sementara Taeyong mengambilnya dan beralih membuka helmnya. Dan mengibaskan rambut almondnya dengan seksi. Aksinya itu membuat siswi lain makin histeris.

“Teriakan Mereka makin menggila. Aku tak sanggup lagi mendengarnya. Aku akan ke kelasku. Kalian silahkan tebar pesona kepada para penggemar Kalian. Aku pergi.”

Rinah berjalan sedikit angkuh melewati kerumunan siswi yang menbuat dirinya dihadiahi pandangan takjub oleh kawan – kawan Taeyong.

“Kim Rinah selalu seperti itu. Aku bahkan heran, bagaimana bisa Kita bisa memiliki teman seperti Kim Rinah.” Seloroh Jhonny.

“Entahlah, Aku tak mengerti.” Balas Taeyong datar.

Kawan – kawan Taeyong hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Taeyong.

Kim Rinah berjalan menuju kelasnya dengan ringan.

.

.

.

Kelas 3-2

Ruang kelas yang sudah dipenuhi oleh beberapa murid. Ketika Rinah masuk, semua siswi berbisik – bisik mengenai dirinya.

“Heehyun – ah, Kudengar hari ini, Kim Rinah berangkat bersama Lee Taeyong. Bahkan Jhonny membantunya turun dari motor. Aku tak mengerti bagaimana yeoja seperti Dia bisa dikelilingi oleh namja tampan.” Seloroh seorang yeoja mengejek.

“Kau benar, Chaeyeon. Dia tidak terlalu menarik. Aku bahkan bingung sendiri.” Balas temannya dengan nada mengejek.

Rinah mulai duduk dengan tenang di kursinya. Tak berniat melawan ejekan kedua yeoja bernama Chaeyeon dan Heehyun.

“Rinah – ya, kau sudah sarapan? Antarkan Aku ke kantin, Aku lupa sarapan tadi di rumah.”

Seorang yeoja berpostur mungil menghampirinya. Dia adalah Kim Yerin, teman disamping tempat duduk Kim Rinah.

“Arraseo, Aku juga belum sarapan .”

Rinah menarik Yeri keluar kelas, sedang tak ingin melawan ejekan Chaeyeon dan Heehyun. Sementara Yeri hanya bisa pasrah tangannya ditarik oleh Rinah.

.

.

.

Dalam perjalanan menuju kantin Rinah memilih melepaskan tangan Yeri. Dan berjalan sendiri didepan Yeri.

Brukkk…..

Tak sengaja, pundak Rinah menabrak seorang namja berkulit putih yang membuatnya tubuhnya hampir terpelanting kedepan.

“Mianhae, Neol gwaechana?” ujar Namja itu bersalah.

Reaksi Rinah hanya berjalan berlalu. Sementara Yeri mengendikkan bahunya bingung dan namja yang menabraknya hanya berhenti berjalan dan memandangi Rinah yang berjalan menjauh.

“Jadi Dia adalah reinkarnasi Ratu Jung, calon omega suci dan calon bulan yang akan mendampingi matahari?”

Namja itu hanya menyeringai.

“Sehun – ah, Aku mencarimu dari tadi.” Ujar namja bertelinga peri memanggilnya dari belakang.

“Aku sudah menemukannya, Chanyeol Hyung. Aku sudah menemukannya.”

Chanyeol hanya terkejut mendengarnya.

“Sehun- ah….”

“Aku harus memberitahukan ini kepada Shindong Ahjusii.”

.

.

.

Lee Minah side

Tak terasa Dia dan Ayahnya sudah memasuki lingkungan Sekolah barunya. Hyangnam High School. Begitu mobil Ayahnya berhenti, seorang penjaga sekolah membukakan pintu untuk Ayahnya, sementara Minah membuka pintu mobilnya sendiri.

Kedatangan Lee Sang Woo dan Lee Minah sudah ditunggu oleh Choi Jin Hyuk yang ternyata adalah Kepala Sekolah Hyangnam High School.

“Eoseo osipsio.” Sambut Kepala Sekolah Choi ramah.

“Anyeonghaseyo.” Minah memberi salam hormat.

“Maafkan Aku jika Aku tidak tahu Kau baru saja kembali di Amerika. Aku terlalu sibuk, hingga Aku lupa jika sahabat karibku ini pulang dari Amerika. Dan ternyata, kini putrimu sudah beranjak dewasa. Apakah Dia Lee Minah? Kau semakin cantik saja.”

Reaksi Ayahnya Minah hanya tersenyum simpul sementara Minah tersipu malu.

“Kau berlebihan Choi Gyojangnim. Tolong bombing uri Minah dengan baik.” Ujar Sang Woo ramah.

“Sekolah Kami akan membimbingnya dengan baik, Lee Gyosunim.” Balas Kepala Sekolah Choi tak kalah ramah.

“Siapa siswi itu? Apakah Dia murid baru?”

“Mollaseo, menurutku Dia sangat cantik.”

Seketika pertemuan Ayah Minah dan Kepala Sekolah menjadi topic hangat yang diperbicangkan. Bagi Minah itu agak sedikit risih mendengarnya.

“Oso Osipsiyo, Lee Gyosunim.” Kepala Sekolah Choi mengajak Lee Sang Woo dan Minah untuk masuk.

.

.

.

Minah mulai merasa kebosanan mendengar obrolan antara Ayahnya dan Kepala Sekolahnya. Maka Minah memilih untuk membuka akun sosial medianya, terlebih Dia merindukan Somi, sahabatnya yang Dia tinggalkan demi ke Korea.

Tok… tok… tok…

Ketukan pintu membuat perhatian Minah terahlikan.

Seorang Guru Wanita datang dengan anggun. Lalu Dia menghampiri Minah dan tersenyum menggoda ke arah Ayahnya. Tentu Minah merasa risih.

“Anda memanggil Saya, Choi Gyosunim?” Tanya Guru itu sopan.

“Ah, Kau sudah datang rupanya Song Songsaenim. Perkenalkan Dia adalah wali kelas Minah. Geu Ireumi Song Ji Hyo Songsaenim. Dia akan membimbing Minah dengan baik.” Kepala Sekolah Choi memperkenalkan dirinya.

“Song Songsaenim, Chaega Lee Minah Aboenim. Kuharap Anda bisa membimbing putriku dengan baik.”

Ayah Minah menjabat tangan Wali Kelas Minah yang dibalas dengan senyuman tulusnya.

“Ne, Saya akan membimbingnya dengan baik.” Balas Wali Kelas Minah sopan.

.

.

.

Kini Minah berada di ruangan Guru setelah meminta izin pada Ayah Minah untuk menyelesaikan segala kebutuhan Minah.

“Duduklah.” Wali Kelas Minah mempersilahkan Minah untuk duduk.

Kemudian Guru Song membuka laci dan menyerahkan beberapa berkas.

“Kau bisa mengikuti daftar untuk ekstrakulikuler.” Ujarnya sembari menyerahkan selembar kertas.

“Kau juga harus mengisi data siswa.” Ujarnya sembari menyerahkan selembar kertas lagi.

Dengan sigap, Minah mengisi data siswa, namun saat akan mengisi kolom Nama Ibu, Minah terdiam sesaat.

“Waegeurae, Minah – ssi?” tanya Guru Song merasa aneh.

“Animida, Song Songsaenim.”

Lalu Minah memilih mengosongkannya.

“Setelah selesai mengisi formulir ini, Kau akan kuantar menuju kelasmu yang baru. Kau juga bisa mengikuti kelas tambahan sebagai bimbingan belajar untuk masuk Universitas. Jadi apakah Kau sudah memilih Universitas yang cocok untukmu?”

“Ne, Aku akan masuk ke Oxford University melalui jalur beasiswa.”

Guru Song terlihat terkejut, tak menyangka Minah berani untuk masuk ke sana.

“Baiklah kalau begitu, semoga berhasil. Bel sebentar lagi berbunyi. Kau akan kuantar menuju kelasmu yang baru. Kelas 3 – 1, dan jika Kau membutuhkan bantuanku. Aku sudah menuliskan nomor teleponku di formulir itu.” Ujar Guru Song ramah.

Minah hanya mengulas senyum tipis.

.

.

.

Song Ji Hyo keluar dari Ruangan guru diikuti Minah dari belakang. Mereka berjalan menuju kelas baru Minah. Kelas 3-1.

Suasana kelas 3-1 sendiri agak ramai. Begitu Song Songsaenim membuka pintu, semua murid tampak berebut menuju tempat duduk masing – masing. Sementara Minah menunggu di depan pintu kelas.

“Kelas 3 – 1.” Ujar Song Songsaenim membuka kelas.

“Hari ini, Kita kedatangan murid baru.”

Siswa – siswi nampak berkasak – kusuk menebak siapa murid baru itu.

“Masuklah.” Perintah Song Songsaenim untuk meminta Minah masuk.

Minah berjalan masuk kedalam kelas. Disitulah, salah satu siswi berbisik kepada temannya, “Bukankah Dia, siswi yang disambut oleh Choi Gyosunim?”

“Benarkah, Yewon-ah.?” Tanya temannya tak percaya.

“Ne, Sungyeon-ah.”

“Anyeong.” Ujar Minah membuka perkenalan dirinya.

“Geu ireumeun, Lee Minah imnida.” Lanjut Minah memperkenalkan dirinya.

“Lee Minah adalah murid pindahan dari Richmond Hill High School, New York. Jadi tolong bantu Dia untuk beradaptasi di Sekolah ini.”

Guru Song meminta pada murid lain untuk membantu Minah beradaptasi. Karena Sekolah di Amerika dan di Korea berbeda. Minah dikhawatirkan mengalami masa sulit di Hyangnam High School.

“Lee Minah – ssi, Kau akan duduk bersama dengan Park Siyeon. Siyeon – ssi, angkat tanganmu.”

Yeoja bernama Siyeon mengangkat tangannya. Minah hanya mengangguk dan berjalan menuju tempat duduknya.

Membiarkan rambutnya berkibar karena kipas besar diatas langit – langit kelas berputar dengan kencang.

Seorang namja didepan bangkunya hanya bisa menutup hidungnya, menetralisir bau Minah yang menurutnya memabukkan.

“Gwaenchana, Wonwoo-ah?” tanya namja teman sebangkunya.

“Nan gwaechana, Minggyu – ah.” Jawabnya datar.

Minah duduk ditempatnya dengan tenang.

“Chaega Park Siyeon,bangapkeseumnida.” Ujar teman sebangku Minah yang baru ramah.

“Ne, Lee Minah imnida. Nado bangapkeseumnida.” Balas Minah tak kalah ramah.

.

.

.

TBC

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Twin Promise – (Prologue)

  1. Ping balik: The Twin Promise (Chapter 1A) – Site Title

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] The Twin Promise (Chapter 1A) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s