[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife – (Chapter 15B)

Poster Secret Wife5.jpg

Tittle            : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre          : Romance, Friendship, Marriage Life

Length         : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

 

Disclaimer         : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note      : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

Chapter 15 B

 

Suara kicauan burung mengalun indah di indra pendengaran. Langit yang tadinya gelap mulai berangsur terang. Suhu yang tadinya dingin berangsur menghangat. Mataharipun sudah meninggi di ufuk timur. Sinarnya memancar kesegala arah. Menembus setiap celah bangunan yang bisa dilewatinya. Menimbulkan bayang-bayang benda yang tak bisa dilewatinya.

Sinarnya begitu menyilaukan hingga mampu mengusik seorang namja yang masih terbaring manis di ranjangnya. Matanya yang masih tertutup rapat membentuk kerutan untuk mengurangi sailaunya sinar sang surya. Tak cukup dengan hal itu, dia menutupnya dengan telapak tangannya. Untuk beberapa saat dia masih terdiam, menikmati tidurnya kembali yang sempat terganggu. Tangannya bergerak meraba sisi tempatnya terbaring, mencari sesuatu atau mungkin seseorang yang semalam menemaninya. Ah, lebih tepatnya dia yang menemani orang tersebut.

Nihil dia tak menemukannya, hanya permukaan ranjang dengan bed cover yang tampak kusut. Seketika dia terbangun dengan posisi duduk. Mengedarkan pandangannya keseluruh ruang tempatnya berada. Tak ada siapapun. Bahkan pintu kamar mandinya terbuka. Kemana perginya? Hanya itu yang terlintas dalam fikirannya.

Dia beranjak bangun. Mengambil pakaian asal untuk menutupi tubuh polosnya. Berjalan cepat meninggalkan kamarnya. Mencari keberadaan gadisnya. Ya, gadis yang sudah berstatus sebagai istri sahnya. Raut wajah namja itu terlihat khawatir. Bagaimana tidak, dia menemukan istrinya dalam keadaan tak baik semalam. Dan sekarang, setelah dia terbangun dia tak menemukan keberandaan gadis tersebut.

Dengan cepat dia menyusuri setiap ruang yang ada di villanya. Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya. Kemana sebenarnya gadisnya pergi? setiap ruang yang dia teliti tak juga menemukan sosoknya. Bagaimana keadaanya? Semalam dia begitu sakit. Bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpanya? Dia menggelengkan kepalanya. Berusaha berfikir positif. ‘Dia pasti baik-baik saja’, kalimat itulah yang menjadi penyemangatnya.

Dia melewati pintu dapur yang setengah terbuka. Langkahnya terhenti saat melihat bayangan seseorang dalam ruang tersebut. Dia berbalik arah dan memasukinya. Dia dapat bernafas lega ketika melihat seorang gadis tengan berdiri membelakanginya. Seulas senyum juga tercetak manis di wajah tampannya. Dia yakin jika orang itu adalah gadisnya.

Dengan langkah mantap dia mendekati orang tersebut. Gadis itu menoleh, entah karena kebetulan atau karena memang dia mendengar langkah namja itu. Raut terkejut sempat tergambar dari wajah cantiknya. Hanya sebentar, yang kemudian digantikan oleh senyum manis khasnya. Senyum yang mampu membuat perasaan namja itu menghangat, menghilangkan perasaan khawatir yang sempat melandanya. Juga seakan mampu menyihir namja itu hingga langkahnya terhenti begitu saja.

Morning”, sapa gadis itu.

Namja itu masih terdiam. Menatap gadis itu tajam, dari puncak kepala hingga ujung kaki. Gadis itu benar-benar terlihat sangat baik. Dengan mengenakan kemeja putih polos yang tampak kebesaran. Yang ia yakini sebagai miliknya. Seulas senyum kembali tercetak di wajah tampannya.

Gadis itu sempat bingung dengan tingkah namja yang telah resmi menjadi suaminya. Jika saja namja itu tak tersenyum, mungkin kebingungannya tak akan sirna. Dia lalu membalas senyum itu.

Namja itu kembali melangkah mendekat. Semakin dekat, hingga menghapus jarak diatara keduanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, tangannya bergerak menarik pinggang gadis yang berdiri tepat didepannya. Membawanya ke dalam pelukan hangatnya. Menyalurkan semua perasaannya. Mengusap lembut rambut panjang gadis itu.

Gadis itu hanya terdiam. Dia bahkan tak membalas pelukan itu. Tangannya ia biarkan menggantung diudara disisi tubuhnya. Rasa bingung kembali menyelimutinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan namja ini? Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya. Apa dia begitu mengkhawatirkannya? Mungkin saja.

Pelukan itu terasa pas, seperti potongan puzzel yang kembali menyatu. Perasaan nyaman juga datang dalam diri gadis itu. Seperti yang pernah dikatakannya, pelukan namja itulah yang paling nyaman. Tangan yang tadinya menggantung kini perlahan bergerak melingkar dipinggang namja itu. Ya, gadis itu membalas pelukan suaminya.

“Kau baik-baik sajakan?”, namja itu akhirnya bersuara setelah lama terdiam. Tangannya masih bergerak mengusap lembut rambut panjang istrinya.

Hanya anggukan kecil yang dilakukan gadis itu sebagai jawaban.

“Syukurlah!”, lanjut namja itu.

Setelah memastikan perasaannya benar-benar membaik, namja itu melepaskan pelukannya. Tatapannya tak pernah lepas dari gadis itu.

“Kenapa menatapku seperti itu?”, gadis itu merasa risih dengan tatapan namja itu semenjak pelukannya terlepas.

“Sedang apa kau disini?”, matanya masih tak berpaling dari gadis itu.

“Membuat sarapan. Perutku lapar setelah bangun tadi”, jelas gadis itu.

“Seingatku, aku tak membawa bahan makanan. Darimana kau mendapatkannya?”, namja itu melihat beberapa makanan yang tertata rapi di meja makan.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus dikatakannya. Dia memang membeli semua itu di minimarket yang cukup dekat dengan villa tersebut. Jangan tanya darimana uangnya, dia mencuri beberapa lembar uang di dompet namja itu. Sebenarnya itu tak pantas dibilang mencuri, status mereka sudah resmi menjadi suami istri tentu uang itu juga miliknya. Namun tampaknya gadis itu tak merasa demikian. Dia terus menggigit bibir bawahnya.

“Katakan Junghae, darimana kau mendapatkannya?”, namja itu berjalan maju dan membuat gadis itu terpaksa berjalan mundur. Terus seperti itu hingga gadis itu tak bisa mundur lagi karena terbentur dengan meja.

“Kenapa diam? Apa kau tak akan menjawabnya?”, wajah namja itu mendekat, dengan terpaksa gadis itu memundurkan wajahnya. “Dan berhentilah menggigit bibir bawahmu”, lanjut namja itu lagi.

Gadis itu berhenti menggigit bibir bawahnya. Dia kemudian tersenyum untuk mengurangi rasa gugupnya. Bagaimana tidak, dengan posisinya yang sekarang siapapun pasti akan merasakan hal yang sama.

“Kau tak akan menjawabnya?”, namja itu kembali bersuara.

“Aku akan menjawabnya, tapi bisakah oppa minggir”.

Namja itu melihat posisinya sekarang. Dia tak sadar jika sudah membuat gadis itu terpojok dan juga hampir terjatuh jika gadis itu tak perpegang pada sisi meja. “Oke”, namja itu mundur setelah mengatakannya. “Kau bisa mengatakannya sekarang”.

“Aku membelinya di minimarket seberang jalan”.

“Aa”, namja itu mengangguk paham.

“Sebenarnya….”, gadis itu tak melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa tidak diteruskan?”.

“Emm”, gadis itu terlihat ragu. Dia takut jika namja yang ada dihadapannya akan marah. Owh, seharusnya dia membangunkannya terlebih dulu sebelum memakai uang itu. Tapi niatnya diurungkan kala melihat wajah damai namja itu saat tertidur. Dia tak punya pilihan lain sekain memakainya, karena memang dia tak menemukan bahan makanan dalam villa itu. Terlebih lagi rasa lapar yang menimpanya begitu kuat.

Baiklah, ini memang salahnya tak memberitahukan lebih dulu. Mau tak mau ia harus menanggung resikonya. Gadis itu terlihat menghela nafas beberapa kali. Setelah merasa dirinya siap, gadis itu akhirnya bersuara dengan senyum dipaksakan sebagai permulaan. “Oppa. Sebenarnya, aku mengambil uang dari dompetmu untuk membelinya. Tidak apa-apakan?”, terdengar nada ragu diakhir kalimatnya.

Namja itu tampak dengan seksama mendengarkannya. Dia melihat raut penyesalan di wajah manis gadis itu. Dia tersenyum melihat betapa lucunya tingkah istrinya yang telah ketahuan mencuri. Lebih tepatnya tengah membuat pengakuan pencurian yang dilakukannya. Namja itu kemudian mengacak pelan puncak kepala istrinya. “Tentu tak apa-apa, Junghae. Bahkan jika kau menghabiskannya tak masalah”.

“Syukurlah! Ku pikir kau akan marah”, jawab Junghae. Dia dapat bernafas lega setelahnya.

“Kenapa aku harus marah jika yang menghabiskan uangku adalah istriku!”.

Oppa~”. Gadis itu terlihat malu. Bahkan ada rona merah dipipinya.

“Apa kau sudah selesai?”, namja itu kembali bertanya.

“Ah, iya”. Gadis itu mengangguk. “Sekarang oppa duduklah. Ayo kita sarapan. Aku sudah sangat lapar”. Gadis itu mendorong tubuh suaminya menuju salah satu kursi. Menariknya lalu mempersilahkan suaminya untuk duduk. Dia ikut duduk setelahnya. Menikmati sarapan yang telah ia buat.

 

***

 

“Kemana lagi aku harus mencarimu, Sekretaris Kim?”, Manajer Jeon yang tengah duduk di loby hotel tempatnya menginap, mengusap kasar rambutnya. Setelah beberapa lalu mencari keberadaan Junghae yang kunjung ditemukannanya. Dia memandang sekilas ponsel yang ada di sampingnya.

“Ponselnya ketinggalan. Mantel, syal, heels, bahkan tasnya juga tertinggal. Pergi kemana sebenarnya dia? Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?”, Manajer Jeon berbicara pada dirinya sendiri. Dia benar-benar menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Dia lepas kendali setelah menghabiskan beberapa kaleng bir semalam.

“Seharusnya aku langsung mencarinya semalam. Bodoh!”, Manajer Jeon membuang kasar nafasnya. “Berfikir, ayo berfikir. Kemana kemungkinan dia pergi? Aku yakin tak akan jauh. Dia belum hafal tempat ini”, Manajer Jeon berusaha menenangkan dirinnya. Mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya. Begitu seterusnya sampai dia benar-benar merasa tenang.

Saat tengah berfikir, Manajer Jeon tak sengaja melihat siluit orang yang sepertinya dikenal olehnya. Dia berfikir sebentar untuk mengingat siapa orang tersebut. “Park Chanyeol-ssi. Apa mungkin dia bersamanya?”, dia terlihat berfikir kembali. Kemungkinan itu besar, mengingat hubungan yang mereka berdua miliki. “Kau tak akan tahu jika tak bertanya”, dia kembali berbicara pada dirinya sendiri.

Manajer Jeon segera mengambil ponsel dan juga tas yang berisi barang-barang Junghae. Berjalan tergesa mencari keberadaan Park Chanyeol. Dia berharap jika Junghae bersama pria itu. Jika tidak, entah kemana lagi dia harus mencarinya. “Park Chanyeol-ssi”, cukup keras manajer Jeon berbicara. Dia tak ingin kehilangan jejak pria itu.

Merasa namanya dipanggil, Chanyeol menoleh untuk mengetahui siapa yang tengah memanggilnya. Dia melihat seorang namja dengan tas ditangan kirinya. Sepertinya wajahnya tak asing. Dia teringat satu orang, “Manajer Jeon”, ucap Chanyeol untuk memastikan pemikirannya.

“Bisakah kita bicara sebentar”, jawab Manajer Jeon.

Chanyeol melirik jam tangannya sebentar. “Baiklah!”, ucap Chanyeol kembali sebagai persetujuan.

 

***

 

“Kenapa dia lama sekali? Dia bilang hanya sebentar. Ini bahkan sudah lebih dari lima jam. Hah”, Junghae kembali membuang pasrah nafasnya. Lebih tepat dia sedang kesal. Bagaimana tidak, dia tak diperbolehkan pergi kemanapun selain villa itu. siapa lagi yang melarangnya kalau bukan suaminya. Setelah dia menceritakan kejadian kemarin saat bersama Manajer Jeon.

Junghae kembali berguling-guling tak jelas di atas ranjang. “Dia bilang tak marah. Tapi kenapa dia belum juga datang”, Junghae memukul-mukul kepalanya ke bantal. Dia bahkan mengacak rambutnya sendiri sebagai ungkapan rasa frustasinya. “Oppa, kau dimana? Apa kau tak tahu jika menunggu itu membosankan!”.

Dengan malas dia bangun dari ranjangnya. Berjalan pelan menuju balkon kamar. Hembusan angin musin dingin langsung terasa di wajahnya. Dari situ dia dapat melihat kolam renang yang cukup luas di lantai bawah. Lebih jauh lagi memandang, dia dapat secara langsung melihat hamparan laut dengan permukaan yang tak begitu tenang. Ombak-ombak saling berkejaran.

Jika saja ini musim panas, sudah pasti dia akan berenang bebas di kolam itu. “Membosankan”, Junghae membuang kasar nafas kesalnya. Dia menyandarkan kepalanya di pembatas balkon. Menatap permukaan laut yang senantiasa terus bergerak. Dia membiarkan tubuhnya diterpa angin yang cukup membuatnya kedinginan.

Junghae tak sadar jika pintu kamarnya dibuka. Dari sana tampak seorang namja menyeret koper dan juga menenteng tas di tangan yang lain. Dia dapat melihat Junghae dari tempatnya berdiri sekarang. Seulas senyum tergambar di wajah tampannya. Dia meletakkan tasnya di atas ranjang dan juga kopernya disisi ranjang. Dia segera menyusul keberadaan Junghae.

“Kau sedang apa?”, tanya namja itu saat melihat tingkah Junghae yang dianggapnya aneh.

Junghae menoleh mendengar suara yang dia yakini milik suaminya. “Kau sudah datang oppa”, terdengar nada lemas diperkataan Junghae. Dia beralih menatap kolam renang.

Waeyo?”, tanya namja itu. Dia dapat melihat raut tak suka di wajah istrinya.

Junghae hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Kau mau jalan-jalan!”, entah sejak kapan namja itu sudah berdiri tepat di samping Junghae.

“Jalan-jalan!”, ulang Junghae kembali. Dia berharap dia tak salah dengar.

“Emmh”.

“Kenapa tidak”, jawab Junghae.

Namja itu dapat melihat raut wajah Junghae yang berubah menjadi senang. Gadis itu bahkan tersenyum saking senangnya. Bagaimana tidak, dia hampir mati kebosanan setelah beberapa jam tadi berdiam diri di villa tersebut. “Gantilah bajumu dulu. Aku tunggu”, lanjut namja itu.

“Aku harus ganti baju dengan apa? Bajuku masih tertinggal di hotel”.

“Aku sudah membawanya”, namja itu menunjuk ke arah koper yang tadi di bawanya.

Gadis itu justru beralih memeluk suaminya. Dengan gaya yang dibuat semanis mungkin, dia mengucapkan rasa terima kasihnya. “Ah, kau memang baik oppa. Thank you”.

“Kau mau jalan-jalan atau tidak!”, namja itu sedikit protes dengan tingkah agresif Junghae.

“Iya iya, aku akan ganti baju”, Junghae segera memasuki kamarnya. Meraih koper untuk mengambil pakaian gantinya. Tak butuh waktu lama dia sudah mendapat pakaian yang akan ia gunakan. Dia segera berjalan menuju kamar mandi.

Chanyeol hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dia beralih menatap kembali kolam renang yang cukup luas di lantai pertama. Dia jadi teringat dengan kenangan bersama ayahnya. Kenangan masa kecilnya yang bisa dibilang menyenangkan. Bukan hanya menyenangkan, bahkan sangat-sangat menyenangkan.

Oppa, aku sudah siap”, terdengar suara dari dalam kamarnya.

Chanyeol menoleh untuk memastikan. Gadis itu memang sudah siap. Dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai yang sudah terlihat rapi dari terakhir kali dilihatnya. Syal rajut membungkus lehernya. Minidress warna nila selutut juga sangat pas dibadannya. Ditambah mantel abu-abunya juga terlihat cocok dengannya. Kaki jenjangnya dibungkus stoking motif bunga. Jangan lupakan heels warna peraknya. Dia terlihat benar-benar feminim. Ya, gadis itu memang selalu terlihat feminim.

Chanyeol kembali menatap kaki Junghae. Gadis itu memakai heels. Tidak, ini akan menyulitkannya nanti. “Apa kau membawa sepatu?”, tanya Chanyeol yang sudah berjalan pelan menghampiri Junghae.

“Tidak. Kenapa memangnya?”, gadis itu balik bertanya.

“Sebentar”, Chanyeol beralih menuju lemarinya. Sepertinya dia masih punya sepatu lain.

Junghae berjalan menghampiri Chanyeol. “Apa yang sedang kau cari oppa?”, tanyanya.

Namun Chanyeol tak kunjung menjawabnya. Dia terlihat begitu sibuk menggeledah isi lemarinya. Cukup lama, sampai akhirnya dia mengeluarkan sepasang sepatu perpaduan warna biru laut dan putih. “Cha. Pakailah ini”, dia meletakkan sepatu itu tepat di depan kaki Junghae.

“Kenapa aku harus pakai sepatu? Heels ini cukup nyaman”, protes Junghae.

“Kau akan tahu nanti”, tanpa minta persetujuan, Chanyeol melepas heels yang Junghae pakai. Lalu digantikannya dengan sepatu yang tadi diberikannya. “Ukurannya sangat pas”, katanya lagi. Dia berdiri kemudian. “Kajja”, ajaknya. Dia berjalan mendahului Junghae.

Junghae masih terdiam di tempatnya. Pandangannya masih tertuju pada sepasang sepatu yang sudah terpasang manis di kakinya. ‘Sebenarnya dia mau mengajakku kemana?’, ucapnya dalam hati.

Chanyeol yang sudah sampai di pintu berhenti. Dia merasa jika Junghae tak mengikutinya. Dia berbalik arah. Dan benar saja, Junghae masih diam di tempatnya. Dia menghela nafas sebentar sebelum berjalan mendekati istrinya. “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tak akan pergi?”, tanyanya.

“Hah”, Junghae yang tadinya melamun terlihat kaget.

Tanpa pikir panjang, Chanyel segera menarik lengan istrinya dan mengajaknya pergi. Dia bahkan tak memperdulikan reaksi Junghae. Dan Junghae, hanya bisa pasrah mengikuti langkah suaminya.

Mereka berjalan pelan menyusuri taman yang dipenuhi pepohonan dan juga bunga. Jika saja ini musim semi, pasti taman itu akan terlihat berwarna-warni. Mereka terlihat senang, terbukti dengan senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya. Dan juga tangan yang masih menyatu. Mereka terlihat begitu menikmati kebersamaannya.

Di depan mereka terlihat kolam yang dipenuhi dengan bunga teratai. Juga jembatan kayu yang menghubungkan jalan yang tepat berada di atas kolam. “Waw, indahnya”, kata Junghae yang melihat itu. Dia melepaskan genggaman tangannya, dan berlari kecil menuju jembatan kayu tersebut. “Oppa, kemarilah!”, ajaknya yang sudah sampai di jembatan.

Junghae mengelurkan ponselnya. Ponsel yang tadi diberikan oleh Chanyeol. Dia mengambil gambar suaminya yang berjalan ke arahnya. “Oppa, senyum”, pintanya.

Yak, siapa yang menyuruh mengambil gambarku?”, protes Chanyeol.

“Ayolah! Satu kali saja. Eoh, eoh”, kata Junghae dengan tingkah manjanya.

“Iya, baiklah”, Chanyeol terlihat pasrah. Dengan senyum khasnya dia berpose.

Satu foto telah diambil Junghae. Dia segera melihat hasilnya. Memuaskan seperti yang diharapkannya. Chanyeol yang sudah berada di sampingnya merebut ponsel tersebut. Dia juga ingin tahu hasil dari pengambilan gambarnya. Cukup bagus.

Chanyeol mengangkat tinggi ponsel tersebut. “Ayo kita berfoto!”, ajaknya pada Junghae. Dengan segera dia mendekat ke arah Chanyeol. Dia mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. Senyum manis juga ia pasang di wajahnya. “1, 2, 3”, foto itu telah berhasil diambil.

Mereka berganti pose beberapa kali untuk mengambil gambar yang bagus. Ini akan menjadi kenangan indah selama mereka disini. Juga menjadi saksi manisnya hubungan rahasia yang mereka miliki. Entah apa yang orang akan katakan jika hubungan mereka terungkap. Siapa yang peduli dengan hal itu? Yang pasti sekarang mereka berdua sama-sama menikmati dan saling mempercayai. Itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.

Setelah merasa puas, mereka kembali melanjutkan perjalannya. Melewati jalan setapak yang dikeliling pepohonan. Kicauan burung juga terdengar sepanjang perjalannya. Hari itu udara tak begitu dingin, langit juga terlihat cerah.

Kurang dari lima menit mereka sampai di area peternakan domba. Mereka dapat melihat pagar pembatas berwarna putih di area tersebut, untuk mencegah domba-domba itu lari. Saat musim dingin, kebanyakan tempat akan tertutup salju. Namun tidak dengan tempat ini, para peternak senantiasa membersihkan salju yang menutupi rumput di tanah lapang area peternakan.

“Ow, domba”, kata Junghae. Dia menoleh ke arah Chanyeol. “Oppa, ayo kita kesana”, ajaknya kemudian.

Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan langkah pelan dia menyusul Junghae yang sudah berjalan lebih cepat darinya. Dia bisa melihat raut gembira di wajah istrinya.

Oppa, lihatlah! Bukankah dia lucu?”, kata Junghae lagi. Dia mengusap pelan kepala anak domba dari luar pagar.

Eoh. Bukankan dia mirip denganmu?”, jawab Chanyeol. Dia bermaksud menggodanya dengan candaan yang dia katakan.

Mwo?”, seketika itu juga, Junghae terlihat marah. “Bagaimana bisa oppa membandingkanku dengan domba. Ck”, Junghae berdecak kesal. Namun dia kembali mengusap pelan anak domba tersebut. Raut wajahnya sudah terlihat biasa. Sepertinya dia tahu jika suaminya sedang bercanda.

“Kau marah?”, tanya Chanyeol yang melihat Junghae terdiam sejak tadi.

“Kenapa aku harus marah?”. Tak ada nada marah diucapan Junghae. Hanya terdengar seperti sedang menyindir.

“Kau mau memberinya makan?”, Chanyeol berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia hanya bercanda tadi. Dia juga tak ingin berlarut membuat istrinya marah. Memang tak ada nada marah dalam perkataan Junghae. Hanya saja nadanya terlihat sedang menyindir.

“Apa boleh?”, jawab Junghae.

“Tentu”, jawab Chanyeol yang disertai anggukan kepala. “Tunggu disini sebentar, aku akan mengambilkan makanannya”, dengan langkah cepat Chanyeol menuju kadang domba untuk mengambil makanan.

Junghae masih sibuk mengusap kepala domba-domba tersebut. “Tunggu sebentar lagi. Aku akan memberi makanan untuk kalian”. Dia tersenyum setelah mengatakannya. Domba-domba itu benar-benar terlihat lucu di matanya. Memiliki bulu yang tebal, telinga yang lumayan panjang, juga ekor yang tak terlalu panjang. Uh, menggemaskan.

Chanyeol kembali dengan sekeranjang rumput yang sudah terlihat layu. “Cha, kau bisa memberinya makan sekarang”, Chanyeol menaruh keranjang tersebut di depan Junghae.

Junghae mengambil segenggam rumput tersebut. Memberikannya pada domba-domba itu lewat celah pagar. Domba-domba itu saling berebut memakan rumbut yang disodorkan Junghae. Begitu lahapnya hingga rumput itu habis dalam sekejap. “Apa kalian benar-benar lapar?”, ucap Junghae. Dia kembali mengambil rumput dan memberikannya pada domba-domba itu.

“Makan yang banyak”, Junghae kembali bersuara. Domba-domba itu begitu lahap menyantap rumput yang disodorkan Junghae.

Chanyeol yang melihat keseruan Junghae jadi tertarik. Dia ikut berjongkok di samping Junghae. Mengambil rumput dan menyodorkannya pada domba-domba tersebut. Dia juga bisa melihat domba-domba itu memakan dengan lahap rumput yang diberikannya.

Mereka terus memberikan rumput itu. Terdengar tawa candaan disela-sela kegiatan mereka. Sampai-sampai rumput dalam keranjang itu telah habis. Mereka benar-benar terlihat begitu bahagia. Apakah kebahagian itu akan terus berlanjut? Dan jawabannya, entahlah! Bisa saja iya, bisa juga tidak. Siapa yang tahu takdir Tuhan?

Mereka duduk berdampingan di bangku samping pagar pembatas peternakan domba. Setelah lelah memberi makan domba-domba tersebut, mereka memutuskan duduk sebentar di tempat itu. Menyaksikan domba-domba itu bermain.

Chanyeol dapat merasakan kepala Junghae yang bersandar di pundaknya. “Kau lelah?”, tanyanya. Bukan tanpa alasan Chanyeol bertanya seperi itu. Setelah apa yang mereka lakukan, juga bagaimana sikap Junghae sekarang. Yang menunjukkan dia merasa cukup lelah.

“Sedikit. Tapi ini menyenangkan. Terima kasih sudah mengajakku kemari oppa”, jawab Junghae.

Eoh”, senyum tulus menghiasi wajah tampan Chanyeol.

“Itu tempat apa oppa?”, tanya Junghae sambil menunjuk tempat yang ia maksud.

“Kandang kuda. Kau mau kesana?”.

Junghae menggangguk.

Dengan langkah hati-hati mereka menyusuri jalan setapak yang memang dibuat khusus untuk para peternak atau pengunjung yang memang ingin melihat-lihat peternakan tersebut. Tak terlalu jauh dari peternakan domba, hanya sekitar duaratus meter. Mereka dapat melihat kuda-kuda yang berjajar manis di kandang. Ada sekat yang memisahkan masing-masing kuda. Ada juga yang dibiarkan lepas seperti domba tadi. Dengan pagar sebagai pembatas areanya.

Chanyeol mengambil sekaleng wortel untuk makanan kuda tersebut.

Oppa, untuk apa wortel itu?”, tanya Junghae. Dia heran mengapa suaminya membawa wortel di kandang kuda.

“Tentu untuk mereka”, Chanyeol menunjuk ke arah kuda yang berjejer manis dalam kandang.

“Bukankah biasanya kelinci yang suka wortel?”, Junghae terlihat keheranan.

“Iya kau memang benar. Tapi bukan hanya kelinci yang menyukainya, kuda disini juga menyukainya”, Chanyeol meletakkan kaleng tersebut di sampingnya. Dia kemudian mengambil wortel tersebut dan memberikannya pada salah satu kuda berwarna coklat kehitaman. Kuda itu memakannya dengan lahap.

“Kau benar oppa, mereka menyukainya. Aku juga akan memberikannya”, Junghae juga mengikuti apa yang Chanyeol tadi lakukan. Namun kuda yang dia beri makan berwarna putih dengan surai abu-abu kehitaman.

“Kau pernah naik kuda?”, tanya Chanyeol disela-sela kegiatannya.

“Iya, aku pernah belajar. Hanya saja aku tak pernah melakukannya lagi setelah aku terjatuh”, jelas Junghae.

“Kau mau naik?”, Chanyeol kembali bertanya.

“Tidak. Jika memang oppa menginginkannya, lakukanlah. Aku akan menunggu disini”, Junghae kembali menyuapkan wotel pada kuda tersebut.

Chanyeol membuka salah pintu kandang kuda yang tadi diberinya makan.

Oppa, kau benar-benar mau menaikinya?”, tanya Junghae.

Chanyeol hanya tersenyum sebagai jawaban.

“Aw, pelan-pelan oppa”, Junghae terlihat takut menaiki kuda tersebut. Dia bahkan menutup matanya. Meskipun Chanyeol duduk tepat di belakangnya, tetap saja itu tak mengurangi rasa takutnya. Dia pernah jatuh ketika menaiki kuda. Saat itu dia masih berada di tahun pertama bangku kuliahnya. Dan sejak kejadian itu, dia tak pernah mau lagi menaiki kuda. Dan sekarang dia terpaksa menaikinya setelah dipaksa oleh suaminya.

“Tenanglah Junghae. Kau hanya perlu melihat ke depan”. Dengan langkah pelan kuda itu terus membawa mereka melewati jalur khusus penunggang kuda. Seperti saran suaminya, Junghae melihat ke depan dengan ragu-ragu. Dia dapat melihat pemandangan bukit yang indah, juga kincir angin yang berada tepat di samping jalur khusus tersebut. Kincir itu berjajar sepanjang jalur.

“Bagaimana? Apa kau masih takut?”, Chanyeol kembali bersuara.

Junghae menggeleng. “Ini sangat menyenangkan”, jawabnya. Memang benar, dia terlihat begitu menikmati perjalannya.

“Kau mau lebih cepat?”.

“Tidak, jangan”, Junghae berteriak kencang saat mengatakannya.

“Jangan khawatir, ada aku. Hyah!”, Chanyeol menendang pelan kakinya dan menarik sedikit tali kuda tersebut, untuk membuat langkahnya menjadi kencang. Ini pengalaman yang tak akan pernah mereka lupakan. Dan ini juga dapat dikatakan sebagai bulan madu mereka.

to be continue…

 

 

Hai hai, ada yang merindukanku?

Semoga saja ada, hahaha…

 

Saya kembali setelah sekian lama dengan satu chapter lagi.

Chapter ini tetap chapter 15, cuman ada tambahan B. Karena memang di chapter sebelumnya pendek, jadi ini lanjutannya. Dan jangan di bash, karena ini juga lumayan pendek.

Setelah lama tak nulis cerita, bahasanya jadi gimana gitu?

Semoga tetep suka ya. Enjoy.

Jangan lupa like dan komennya.

Dan terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu. Juga bagi para reader yang setiap membaca ff Gj ini. Dan untuk semuanyalah. Siapapun pihak yang sudah membantu menyukseskan ff ini. (Apaaan sich, jadi ngoceh gak jelas).

 

Salam hangat: Dwi Lestari

Muach muach, tebar kis dimana-mana, hahaha……

Iklan

66 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife – (Chapter 15B)

    • ya, sesuatu yang tak direncanakan biasanya berbuah manis…
      persis seperti pengalaman,
      dan yang direncanakan biasanya justru berakhir tak sesuai keinginan…

      terima kasih ya…. 🙂

  1. ngga tau mau ngomong apa lagi soal mereka berdua soalnnya di chapter ini mereka so so so sweet bangggget aku sampai senyum-senyum sendiri bacanya.

  2. kapan sich mereka go piblic, so sweetnya mereka,
    jadi bingung mau koment apa nie, yang pasti ceritany bgus kok,,ditunggu lanjutannya thor!!!

  3. Hwaaahhh…. bahagianya keluarga rahasia mereka(chan-hae). Seneng bgt bacanya, stlh sekian lama nunggu dan akhirnya di post juga secret wife nya. Ditambah lagi sweet bgt. ♡♡♡^^ paling suka deh… kangen bgt aku sama ff ini.

    Kira2 gimana ya jika junghae hamil tp pernikahannya masih belum ketahuan??? Seru deh kayaknya… pasti bakal heboh bgt! (hahaha…. berhayal selalu aku ini.)

    Tetap lanjut eonni… aku selalu menunggu ffmu ini. Semangat menulis yahh….

    • seperti yang terlihat, mereka memang bikih ngiri…..
      terima kasih sudah setia menunggu…..
      awalnya ragu mau ngirim, takut kalian kecewa…..
      syukurlah jika kalian suka…..

      aku juga gak ngebayangin, semoga saja gak ya…..

      ditunggu saja pokoknya….

      terima kasih
      fighthing…. 🙂

  4. akhirnya publish juga.. empat puluh harian lebih nungguin ni chapter.. jeongmal bogoshipponeunde hehehe gomawo tulisannya.

    moment bulan madu ciiiiyeeeeeeee.. 8

    • wah, dihitung ya harinya… jadi terharu…
      /// pengen nangis jadinya///

      terima kasih sudah setia menunggu…
      jangan bosan pokoknya…

      cie bulan madu…. hohoho…

    • terima kasih sudah ditungguin…

      saya sarankan jangan penasaran ya,
      ditunggu saja kelanjutannya….. 🙂

    • iya, sama-sama
      aku juga berterima kasih sudah ditunggu, hahaha….
      jangan bosan menunggu pokoknya…. 🙂

  5. akhirnya secret wifenya di update juga 😊 tiap hari nunggu cerita ini di post, hehehe
    seneng liat mereka bahagia 😁 foto chanyeol sama junghae saat bln madunya bkl ketahuan sama yg lainnya gak ya? reaksi chanyeol saat manager jeon nyeritain tentang kejadian dia sama junghae gimana ya? marahkah atau hanya terkejut saja? aku penasaran sama reaksiny chanyeol..

    authornim kkn nya sudah selesaikah?
    aku tunggu next chapter nya ☺suka banget sama couple ini, mereka sweet banget..

    fighting for author…

    • uh, jadi terharu…. setiap hari ditungguin…..
      kita lihat saja nanti fotonya, bakalan ketahuan atau tidak!
      reaksi Chanyeol? jangan penasaran ya, itu urusan cowok, hahahaha…..
      syukur” mereka gak berantem.. ///apaan sich, jadi lebay gue///….

      iya, KKN nya sudah selesai, tinggal nyusun laporannya…
      aku juga suka sama ini couple, dari sekian cerita yang saya tulis, saya paling suka dengan ini couple……

      terima kasih sudah jadi pembaca setia…
      fighthing!!! 🙂 🙂 🙂

  6. akhirnya muncul juga setelah butuh waktu yg cukup lama buat baca dan hasilnya tdk mengecewakan meskipyn agak sedikit lupa dengan ceritanya tapi tetap seru kok. yang semangat yah thor bkin critanya mkin seru lgi yah

    • iya, ini nulisnya juga penuh semangan, cuman kadang-kadang macet,
      jadi harus cari banyak inspirasi buat nulis lagi…..

      syukurlah kalau tidak mengecewakan,
      sepet gak PD waktu mau ngirim…

      terima kasih,
      ditunggu saja… 🙂

    • sangat lama ya!….
      aku juga ngerasa sama, pas KKN tapi, hahaha….

      terima kasih sudah jadi pembaca setia…..
      ditunggu saja kelanjutannya……. 🙂

  7. Akhirnya, stlh lama nunggu nongol juga 🙂 . Aduh, bikin ane bper deh sm part ini wkwk, senyum” gj :v. Yaudah deh, ditunggu next chapternya :), ditunggu jg ngungkpin stts mereka

    • iya, ini sudah sebulan lebih……

      selamat berbaper-baperan, hahaha…….
      terima kasih sudah setia menunggu…..
      jangan bosan pokoknya… 🙂

  8. Udah 2 minggu lebih gue nungguin secret wife akhir nya dia update juga ….
    Gue selalu nungguin updatean nya thor dan gak akan pernah bosen buat baca nya . Ditunggu next chapter nya jangan kelamaan yaa thor . Hehehehh

    • iya, ini memang sudah sebualan lebih baru saya update,
      maaf, banyak kesibukan yang tak bisa ditinggal…

      terima kasih sudah jadi pembaca setia…
      jangan bosan” menunggu ya… 🙂

  9. woahhhh… sampe lama gitu apa yg chanyeol bicarain sama jungkook???
    pengen tau…
    seneng ya mreka.. lebih seneng lg kalo mreka ungkapin hubungan mreka, sebelum entar junghee hamil kan…kkkkk ///ada”aja aku ini///

    • biasa urusan cowok…
      syukur” mereka gak berantem, hahaha..///ngomong pa ini aku///…

      tunggu saja, nanti pasti terungkap…
      terima kasih ya, sudah setia menunggu,hahaha…… 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s