[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life – (Chapter 15)

REASON WHY I LIFE(1).JPEG

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                                : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                      : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : Aku harap kau baik-baik saja dan aku juga berharap kau tidak menyembunyikan apapapun dariku…

Disclaimer       : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

 

“Apa yang kau lakukan, Rin?” Tanya Chanyeol dihadapannya lugas.

Rin yang ditanya Chanyeol seperi itu hanya menunduk. Tangannya berubah dingin dan kakinya sedikit gemetar. Rin tidak menyangka ia harus ketahuan secepat ini.

***

Baekhyun perlahan terbangun dari tidur sorenya. Mata lelaki imu itu berkejap-kejap, berusaha menyesuaikan lampu dorm yang menyambut dirinya. Tangan lentiknya meraba-raba sofa yang menjadi tempat tidurnya, ia mencari sebuah benda persegi yang seingatnya ia pegang tadi. Tangannya berhenti saat menemukan benda itu terselip diantara sofa.

Jari Baekhyun menekan tombol kecil disebelah kanan ponselnya, sehingga layar yang tadinya gelap berubah terang menderang. Mata melihat sekilas jam di ponselnya yang menunjukan pukul enam tiga puluh disana, setelah itu dengan lincah jari itu mengetikkan password ponselnya sehingga layar kunci dengan background kesembilan tangan member EXO itu berubah menjadi gambarnya dengan wanita cantik yang menunjukan pose V.

Senyuman Baekhyun terukir sekilas saat matanya memperhatikan wanita dengan senyum cerahnya menatap kamera bersama dirinya disana. Latar belakang foto itu tak terlalu istimewa, foto itu diambil di apartemen kekasihnya. Mata Baekhyun yang semula sayu karena baru bangun dari tidurnya berubah memerah. Ia kembali teringat dengan kekasihnya yang tiba-tiba saja tidak bisa dihubungi selama dua minggu ini.

Baekhyun segera menghentikan kegiatan memandangi wajah kekasihnya itu. Jarinya dengan cepat membuka aplikasi pesan disana dan segera membuka chat pertama disana. Ruang obrolan itu terasa hanya obrolan sepihak karena hanya pesan dari Baekhyun yang terlihat disana.

“Kau dimana? Kau baik-baik saja? Kenapa kau belum membaca dan membalas pesanku? Kapan kau angkat teleponku?” Ketik Baekhyun disana, kemudian Baekhyun menekan tombol kuncinya lagi lalu menaruh ponselnya disebuah meja panjang.

Setelah meletakkan ponselnya, Baekhyun beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Kakinya tertuju pada sebuah rak yang berisi deretan piring dan cangkir. Baekhyun kemudian mengambil cangkir secara acak dan menaruhnya di atas meja. Ia kemudian berjalan menuju lemari es untuk mengambil botol berisi air dingin disana. Baekhyun menuangkan air dingin tersebut ke dalam cangkirnya hingga setengah penuh, lalu menengguknya.

Saat Baekhyun selesai menengguk air dinginnya tersebut. Ia teringat bahwa tadi ia kelaparan dan ia ingat menitip semangku jajjangmyeon dan tangsuyuk kepada sahabatnya, Chanyeol. Baekhyun juga baru sadar semenjak ia membuka matanya ia sama sekali tidak melihat sahabatnya itu, padahal sebelum Baekhyun berkelana dalam mimpinya, Baekhyun ingat betul bahwa tadi sahabatnya itu sedang duduk menonton film disebelahnya.

“Mungkin Chan sedang tidur dikamarnya.” Monolog Baekhyun di dalam hatinya.

Baekhyun segera membawa cangkir bekas minumnya tadi ke tempat cuci piring dan kemudian ia membilas cangkir itu sekedarnya, lalu menaruhnya disebelah keran. Ia kemudian berjalan keluar dari dapur menuju ke kamar Chanyeol.

“Park Chanyeol. Mana makananku?” Tanya Baekhyun saat membuka pintu kayu itu. Namun, hasilnya nihil tak ada seorangpun disana. Ia kemudian melangkah menuju kamar mandi, namun hasilnya masih nihil. Ia lalu mencari Chanyeol ke seluruh dorm-nya, namun hasilnya sama. Chanyeol tidak ada dimanapun.

Ketika Baekhyun hendak berjalan dari kamar managernya kembali ke ruang tengah, mata Baekhyun tidak sengaja bertemu dengan bungkusan putih didekat pintu keluar tersebut. Baekhyun segera mengambil bungkusan yang isinya dua porsi jajjangmyeon, 1 porsi tangsuyuk, dan extra mandu. Melihat hal tersebut, Baekhyun lalu segera beranjak keluar.

Baekhyun melihat kesekitar lorong tersebut, berharap bahwa sahabat raksasanya itu ada disekitar sana, namun hasilnya nihil. Baekhyun bahkan tidak dapat menemukan satu orang pun disana. Ia kemudian masuk kembali ke dorm bersama dengan bungkusannya makanannya. Baekhyun segera mengambil benda perseginya yang ia taruh di meja tadi dan segera menghubungi sahabatnya.

“Kau dimana Chan?” Tanya Baekhyun tergesa saat Chanyeol mengakat teleponnya. Nada suaranya terdengar begitu khawatir.

“Aku sedang beli kopi Baek. Tidak usah khawatir.” Jawab Chanyeol disana.

Baekhyun segera menghela nafasnya. Ia kira Chanyeol tadi diculik ketika sedang mengambil makanan di depan. “Syukurlah, aku kira kau diculik.” Sahut Baekhyun polos.

Chanyeol terkekeh disana, “Jangan berpikir yang aneh-aneh Baek.”

“Kau masih lama? Aku lapar.” Tanya Baekhyun setelahnya.

“Tidak kok. Ini juga mau pulang. Kau makan duluan saja, nanti aku menyusul.” Jawab Chanyeol.

“Hm… Baiklah, aku makan duluan. Hati-hati dijalan Chan.”

“Iya, iya. Kututup teleponnya ya.” Ucap Chanyeol disana. Baekhyun hanya berdehem mengiyakan, sedetik kemudian telepon itu terputus.

Setelah selesai menelepon sahabatnya, Baekhyun membawa bungkusan yang dari tadi ia tenteng itu ke dapur. Ia kemudian menaruh bungkusan itu di atas meja, kemudian mengeluarkan semangkuk jajjangmyeon, tangyusuk, dan ekstra mandu disana. Ia membawa makanan tersebut ke meja ruang tengah.

Kegiatan pertama yang Baekhyun lakukan dengan makanannya adalah membuka satu persatu plastik yang menutupi makanannya, dilanjutkan dengan menuangkan saus tangsuyuk itu kedagingnya dan terakhir mengaduk mie kacang hitamnya. Setelah semuanya siap Baekhyun kemudian memulai kegiatan makannya sambil memainkan ponsel pintarnya.

Kegiatan makan Baekhyun berjalan dengan dengan cukup baik hingga sebuah panggilan masuk ke ponselnya. “Kim Mingyu” nama itu adalah nama yang tertera di ponselnya.

“Wae?” Jawab langsung Baekhyun setelah menempelkan ponsel itu di telinganya.

“Apa Rin sedang bersamamu?” Tanya Mingyu disana. Nada suaranya terdengar khawatir.

“Tidak. Dia tidak bersamaku, memangnya ada apa?” Jawab Baekhyun curiga.

Mingyu kemudian terdengar seperti mengatur nafasnya. Sedetik kemudian terdengar suara isakan kecil di ujung sana. Mendengar suara seperti itu, Baekhyun khawatir. Sumpit yang awalnya ia genggam, segera ia taruh.

“Rin tidak ada di Incheon, hyung. Orang yang bekerja dirumahnya mengatakan bahwa Rin pulang kerumahnya” Mingyu menghentikan ucapannya, ia kemudian menarik nafasnya panjang. “Dan orang itu juga mengatakan bahwa Rin pulang ke Seoul, tapi dia tidak ada di apartemennya.” Kata Mingyu lagi. “Aku juga sudah menghubungi keluargaku di Anyang, tapi mereka bilang Rin tidak pulang kesana. Rin mematikan ponselnya jadi aku tidak bisa menghubunginya.” Ucap Mingyu sekali lagi, kali ini suaranya sudah benar-benar kacau.

Setelah Mingyu mengatakan itu, tiba-tiba kaki Baekhyun terasa lemas. Ia segera menyandarkan badannya ke sofa di belakangnya. Mata itu menatap kosong televisi dengan layar hitam dihadapannya.

“Bagaimana bisa? Bukannya Rin bilang dia butuh waktu menenangkan diri untuk ujian. Mengapa ia menghilang?” Kata Baekhyun pelan setelah beberapa detik menatap kosong televise dihadapannya.

Hyung, sepetinya kau belum tahu sesuatu.” Lirih Mingyu.

Baekhyun terdiam, apa yang tidak diketahuinya? Apa yang disembunyikan kekasihnya darinya?

“Kita bertemu di Reason Café sekarang hyung. Aku akan menjelaskan semuanya. Sepertinya Rin benar-benar takut memberitahumu keadaan yang sebenarnya.” Ucap Mingyu lagi, entah kenapa mendengar ajakan Mingyu membuat jantung Baekhyun berdebar sedikit lebih cepat.

“Baiklah. Aku akan bersiap sekarang.” Ucap Baekhyun lagi. Sedetik kemudian telepon itu tertutup.

Baekhyun segera beranjak dari tempat duduknya, ia tidak mengumbris lagi makanan yang tadinya sangat ingin ia makan. Otaknya tidak mempu berpikir apapun selain kekasihnya.

Saat Baekhyun telah selesai berganti baju dan bersiap keluar dari apartemen. Tiba-tiba Chanyeol muncul dari balik pintu dengan wajah yang sulit diartikan. Baekhyun menatap Chanyeol sebentar, lalu bergegas mengambil sepasang sepatu di raknya.

“Kau mau kemana Baek?” Tanya Chanyeol sambil menatap gerak-gerik Baekhyun yang tengah memasang kedua sepatunya.

“Aku mau bertemu Mingyu. Rin hilang.” Ucap Baekhyun singkat, ia segera meraih ponsel dan dompetnya kemudian berjalan keluar.

“Aku ikut.” Kata Chanyeol cepat, membuat Baekhyun yang tadinya tergesa menolehkan kepalanya ke Chanyeol yang menatap lurus kedepan.

Dengan langkah tergesa, Chanyeol mengambil kunci mobilnya dan menarik Baekhyun segera ke parkiran apartemennya tanpa membiarkan sahabatnya mengucapkan satu patah katapun.

“Chan, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba ingin ikut?” Tanya Baekhyun setelah mereka sampai dimobil Chanyeol.

Chanyeol menghidupkan mobilnya, kemudian menjalankan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun yang tengah menatap Chanyeol serius. Melihat Chanyeol yang sama sekali tidak menghiraukannya, Baehyun berusaha berpikir positive ia menatap lurus jalanan sambil berusaha berpikir dimana kekasihnya sekarang.

Mereka berdua sampai di Reason café, Chanyeol segera turun diikuti Baekhyun yang mengekorinya dibelakang. Mata mereka langsung tertuju pada seorang lelaki yang tengah duduk bersama dengan es kopi dihadapannya, laki-laki itu terlihat kacau.

“Kim Mingyu, sebenarnya ada apa ini?” Tanya Baekhyun segera setelah melihat Mingyu dihadapannya.

“Mingyu ada yang harus aku bicarakan padamu.” Kata Chanyeol cepat, membuat Baekhyun menatap aneh sahabatnya itu.

“Ada apa hyung” Tanya Mingyu penasaran.

“Kita bicarakan diluar” Jawab Chanyeol singkat, tanpa menoleh ke sahabatnya yang tengah menatapnya penasaran. “

“Aku ikut.” Kata Baekhyun cepat

Mendengar hal itu Chanyeol langsung menggeleng. “Diamlah disini dulu Baek, aku tidak lama.”

“Kenapa tidak boleh? Ada apa sebenarnya?” Tanya Baekhyun kesal.

“Tidak Baekhyu, sudahlah aku tidak akan lama.” Jawab Chanyeol singkat, ia kemudian beranjak dari tempatnya bersama Mingyu yang sudah bangun dari tempat duduknya.

Baekhyun mengepalkan tangannya, ia sangat benci jika sahabatnya mulai menyembunyikan sesuatu darinya. “Jika kau keluar, aku akan sangat marah padamu Chan.” Kata Baekhyun dingin.

Chanyeol menoleh kemudian menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. “Tidak apa baek.” Kata Chanyeol berusaha tersenyum lalu melangkah keluar bersama Mingyu yang masih bungkam.

Lima belas menit berbicara serius Mingyu dan Chanyeol kembali masuk ke dalam café itu. Saat mereka akan duduk, tiba-tiba Baekhyun berdiri. Di wajahnya terlihat jelas bahwa Baekhyun sedang sangat marah.

“Mau kemana Baek?” Tanya Chanyeol saat Baekhyun melangkahkan kakinya menjauhi meja itu.

“Mencari Rin.” Jawab Baekhyun dingin.

“Kita cari bersama hyung.” Ucap Mingyu dengan setenang mungkin.

“Tidak usah, aku bisa cari sendiri.” Jawabnya dingin lalu meninggalkan dua orang laki-laki disana.

Saat Baekhyun hendak keluar dari café itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah nama yang tak asing terlihat dilayar ponsel itu. Baekhyun terdiam, butuh waktu beberapa detik hingga ia bisa mencerna nama seseorang yang tertulis disana.

“Rin-a.” Jawab Baekhyun setelah ia bisa mencerna semuanya.

Chanyeol dan Mingyu yang melihat Baekhyu tiba-tiba terhenti di depan pintu keluar di café itu hanya bisa terdiam. Entah mata mereka berdua berkaca-kaca mendengar Baekhyun menyebutkan nama wanita yang begitu mereka kenal.

FLASHBACK ON

“Park Sung Rin, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau bekerja lagi?” Chanyeol menatap serius gadis yang tengah duduk dengan kepala tetunduk.

“Aku harus dapat uang.” Jawabnya singkat. Sebuah jawaban yang menambah rasa penasaran Chanyeol.

“Untuk apa? Kenapa kau butuh uang? Apa kakakmu sedang krisis?” Tanya Chanyeol lagi, karena yang Chanyeol ketahui semenjak Mingyu, kakak Rin itu debut dialah yang membiayai semua kebutuhan Rin dan melarangnya untuk kerja lagi.

Rin menggeleng, “Dia tidak sedang krisis. Ia juga tidak tahu aku kesini dan bekerja.” Jawab gadis itu pelan.

Chanyeol mengerutkan alisnya, “Lalu kenapa kau butuh uang?”

Rin mengigit bibir bawahnya, “Aku sakit Chan dan aku butuh uang agar aku bisa sembuh.” Ucap Rin gemetar, menahan air mata yang sudah siap jatuh.

Chanyeol diam, ia seketika teringat pikiran buruknya tadi. “Tidak mungkin.” Ucapnya dalam hati.

“Kanker lambung stadium akhir.” Kata gadis itu hampir berbisik, namun masih bisa terdengar oleh Chanyeol.

Tangan dan kaki Chanyeol gemetar, mata besarnya memerah. Bibirnya tidak sanggup untuk bicara, lidahnya terasa kelu.

“Hanya kau dan Mingyu yang tahu tentang hal ini.” Ucap Rin lagi masih menunduk menunduk.

“Aku akan beritahu Baekhyun.” Kata Chanyeol cepat, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang dimatanya.

“Jangan! Jangan beritahu Baekhyun. Kumohon rahasiakan hal ini dari Baekhyun.”Kata Rin mendongakkan kepalanya, menatap Chanyeol yang tengah kalut dengan semua hal yang ia dengar hari ini.

Chanyeol yang masih tidak percaya dengan semua hal yang dikatakan oleh Rin hanya bisa mengacak rambutnya kasar. “Kenapa? Kenapa tidak boleh? Kenapa aku harus merahasiakannya pada Baekhyun?” Tanya Chanyeol gusar.

“Karena aku tidak mau membuatnya khawatir. Aku tidak ingin memberatkannya lagi.” Jawab Rin sambil menggigit bibir bawahnya.

“Rin-a, bukankah dengan merahasiakannya Baekhyun akan semakin merasa sedih?” Ucap Chanyeol sedih.

Rin diam. Ia menatap es teh dihadapannya dengan tatapan kosong. Rin memang belum mendapatkan jawaban untuk pertanyaan ini.

“Biarkan aku yang memberitahunya oppa.” Kata Rin pelan. “Aku akan memberitahunya. Tapi tolong, sampai aku mengatakannya jangan katakan apapun mengenai masalah ini.” Katanya lagi.

Chanyeol menatap iba Rin yang kini sudah berlinang air mata. Ia kemudian membawa gadis itu kedalam pelukkannya, menggosok-gosok punggungnya berharap ada sedikit beban yang pergi dari bahu mungilnya.

FLASHBACK OFF

Ne, oppa.” Ucap Rin disana, masih dengan nada yang sama. Nada yang selalu ia gunakan saat tahu kekasihnya sedang mekhawatirkannya.

“Kau dimana?” Tanya Baekhyun khawatir.

“Aku di apartemen, oppa. Maaf aku pergi ke seoul tanpa memberitahu kalian, rencananya aku ingin membuat sebuah kejutan. Tapi, sepertinya aku malah membuat kalian semua khawatir.” Jawab kekasihnya tenang. Baekhyun terdiam, air mata itu perlahan mengaliri pipinya. “Oppa, kenapa menangis?” Tanya Rin kali ini.

Baekhyun kemudian mengusap airmatanya cepat. “Dari mana kau tahu aku menangis Rin? Aku tidak menangis kok.” Jawab Baekhyun berusaha menenangkan dirinya.

“Aku telah mengenalmu sejak lama oppa. Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja.” Ucap Rin setelahnya.

“Euhm… kau memang harus baik-baik saja Rin. Ku harap kau tidak menyembunyikan apapun dariku.” Kata Baekhyun sambil menatap lurus kedepan, menatap seorang gadis mungil yang sedang mengintipnya dari balik pohon besar. “Aku merindukanmu Rin.” Kata Baekhyun lagi kemudian berjalan keluar, menghampiri seorang gadis itu yang sudah berlinang air mata sama seperti dirinya.

TBC

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life – (Chapter 15)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s