[EXOFFI FREELANCE] Love in Time – (Chapter 6)

LIT2.jpg

Title                 : Love in Time [Chapter 6]

Author             : Ariana Kim

Cast                 : Kim Ara

Kim Jongin

Oh Sehun

Park Hana

Genre              : Family, Romance, Angst, School Life

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary         : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar? Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer       : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. Hargai kerja keras penulis J FF ini pernah dipublish di blog pribadi author ffsekaiexo88.wordpress.com

 

HAPPY READING XD

.

***

.

“Sepertinya tidak akan ada yang berjalan dengan baik mulai sekarang…”

.

***

.

Chapter 6

 

Cukup lama Ara terdiam di tempatnya berdiri, bahkan setelah mobil hitam itu menghilang dari pandangan matanya. Otaknya terlalu lelah untuk bisa bekerja setelah semua yang telah terjadi. Dirinya benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Terlalu banyak kekecewaan yang ia telan bulat-bulat hingga ia tak sanggup lagi. Hatinya yang rapuh, kini sudah mengeras layaknya batu yang tak akan goyah bahkan jika diterjang ombak ratusan tahun. Ara sudah tahu perihnya kesakitan dan ia sudah lelah dengan semua ini. Ia ingin mengakhiri semuanya secepat mungkin.

Dirinya hampir saja ambruk ke lantai jika tak ada tangan kekar yang menahan lengannya. Ara menoleh ke samping dan mendapati Sehun berdiri, dengan tangan yang memegang lengannya dan wajahnya yang penuh tanda tanya. Buru-buru Ara melepaskan tangan itu dan menghapus air matanya. Ia tidak ingin Sehun melihat hal itu, terlebih ia berada dalam tubuh Jongin dan akan sangat buruk jika lelaki itu sampai tahu.

“Eoh, kau menangis?”

Terlambat. Sehun sudah lebih dulu melihat dan tak ada alasan bagi Ara untuk mengelakknya. Ia hanya menundukkan kepalanya dan menautkan kedua jari telunjuknya – kebiasannya jika sedang kebingungan.

“Jongin, apa yang terjadi?” Sehun kembali bertanya, memaksa lelaki di hadapannya ini untuk menatap matanya.

‘Oh, sial. Kenapa lelaki ini harus muncul disaat yang buruk seperti ini?’ batin Ara sambil menutupi wajahnya agar Sehun tidak melihatnya.

.

.

“Jongin, bicaralah. Tidak apa-apa, kau bisa menceritakannya padaku.” Sehun membuka suaranya. Ara menoleh dan mendapati Sehun tengah menatapnya. Kini mereka tengah duduk di kursi panjang yang ada di koridor. Sekolah sudah cukup sepi karena kebanyakan dari mereka langsung pulang setelah jam pelajaran berakhir.

“Bukan hal yang buruk. Kau tidak perlu tahu.” Ucap Ara dingin. Kini air matanya sudah tidak keluar lagi, tergantikan oleh matanya yang sembab.

“Jika itu bukan hal yang buruk, lantas mengapa kau menangis?” Sehun masih belum menyerah. Ia memaksa lelaki di sampingnya ini untuk bercerita. Ini aneh, selama bertahun-tahun ia bersahabat dengan Jongin, ini kali pertama ia melihat lelaki itu menangis. Bahkan dulu saat Ibunya meninggal, Jongin tidak menangis. Lalu apa yang terjadi pada lelaki itu?

“Memangnya penting bagimu untuk tahu kenapa aku menangis?! Kurasa itu bukan urusanmu.” Lanjut Ara dengan kesal. Ia tidak mau ada orang yang sok peduli padanya. Terlebih, sekarang dirinya ada di dalam tubuh Jongin dan mendapati Sehun melihatnya menangis dengan wajah Jongin, jelas-jelas membuatnya sedikit kesal. Ia hanya tidak ingin semua ini semakin rumit. Dan Sehun hanya menambah masalahnya saja.

“Yak, kenapa kau bicara seperti ini padaku?” Sehun mulai tersulut emosinya. Ia sebagai sahabat berniat baik untuk membantu Jongin, tapi nyatanya lelaki itu malah bersikap begitu menyebalkan padanya. “Aku tahu kau sedang dalam suasana hati yang buruk, tapi kau tidak seharusnya memperlakukanku seperti ini, Jongin!”

Ara terhenyak mendengarnya. Ia sadar sikapnya barusan sudah kelewatan. Tapi bisa kau bayangkan jika kau berada di pihak Ara? Kau tidak mengenal orang itu dan tiba-tiba dia bertanya mengenai kondisimu dan memintamu untuk menceritakan semuanya? Terlebih Ara adalah orang yang introvert. Ia tidak terbiasa dengan perhatian orang lain dan tidak suka dengan itu. Seharusnya Sehun bisa memahaminya. Semua orang tidak seperti yang ia bayangkan.

“Diamlah. Kau hanya memperburuk keadaan!!” Ara sangat kesal mendengar apa yang Sehun ucapkan. Ia berdiri dan menatap lelaki itu penuh amarah. “Kau tidak tahu apapun mengenai diriku, Oh Sehun. Lagipula kita tidak saling mengenal dan berhentilah bersikap sok peduli padaku. Aku juga bukan Jongin yang kau kenal!!” sambungnya. Wajahnya kini merah padam menahan amarah. Dan setelah mengatakan itu, Ara pergi meninggalkan Sehun yang menatapnya penuh tanda tanya.

“Bukan Jongin yang kukenal katanya?”

.

.

***

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Jongin belum bisa terlelap hingga saat itu. Ia sudah mencoba untuk tidur namun pikirannya melayang entah kemana. Bangkit dari tidurnya, Jongin melangkah dan membuka pintu kamarnya. Ia memperhatikan pintu kamar yang Ara tempati, yang sejak tadi tertutup. Dari luar juga terlihat jika lampunya sudah dimatikan. Namun entah kenapa Jongin merasa khawatir.

Akhirnya setelah cukup lama berperang dengan hatinya, Jongin melangkah keluar dan mendekati kamar Ara. Ia berdiri di depan pintu cukup lama, hingga tangannya perlahan bergerak mengetuk pintu. Sekali. Dua kali. Tak ada jawaban.

“Ara, kau sudah tidur?” tanyanya cukup keras, namun tak ada jawaban sama sekali.

Jongin mulai gusar. Ia memberanikan diri memegang gagang pintu dan memutarnya. Ternyata Ara tidak mengunci pintu kamarnya dan ia cukup lega akan hal itu. Dengan hati-hati Jongin melangkah masuk dan menekan tombol saklar. Saat memasuki ruangan yang biasanya ia tempati sebagai kamar tidurnya, Jongin tak menemukan siapapun disana.

Pikiran Jongin semakin tidak tenang. Ia mengacak-acak isi kamar hendak mencari Ara namun tak menemukannya. Langkahnya membawanya ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu. Ia membukanya dan rasanya ia hampir pingsan saat itu melihat pemandangan mengerikan yang ada di depannya. Saudara kembarnya tengah berdiri di depan wastafel dengan tangan kanan yang memegang pisau dan bersiap menyanyat pergelangan tangan kirinya.

“Astaga!! Kim Ara, kau gila??!!!!”

Jongin memekik dan langsung mendorong Ara hingga pisau itu terjatuh ke lantai. Ara terkejut melihatnya. Ia memegangi kepalanya yang sakit akibat terbentur dinding kamar mandi dan menatap Jongin penuh amarah. Lelaki itu selalu mengacaukan hidupnya. Tak peduli dengan kehadiran Jongin di dekatnya, Ara bangkit dan mencoba mengambil pisau yang letaknya tak jauh darinya. Jongin yang menyadari hal itu, langsung menendang pisau itu hingga terseret keluar dari kamar mandi.

“Yak, Kim Jongin!!” Ara berteriak marah. Ia mendekati Jongin dan mendorong tubuh lelaki itu hingga jatuh terjerambab ke lantai.

“Kim Ara, sadarlah!! Kau tidak seharusnya melakukan itu!! Jangan gila!!” Jongin langsung bangkit dan menghampiri Ara yang kini terduduk di lantai kamar mandi. Dilihatnya gadis yang kini berada dalam tubuhnya itu terlihat lemah dan menyedihkan. “Ara…” Jongin berusaha menyentuh pundak gadis itu namun segera ditepis oleh Ara.

“Rasanya aku ingin mati saja. Kenapa semua ini tak kunjung berakhir??!!” Ara berkata dengan suara seraknya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak. Jongin yang tidak mengerti apa yang sudah terjadi, menatapnya penuh kebingungan. Ia tidak tahu apa masalah gadis itu hingga mencoba untuk bunuh diri.

“Wae? Kenapa kau seperti ini?” Jongin merendahkan suaranya. Ia mencoba menarik tangan yang menutupi wajah gadis itu dan menyuruh gadis itu untuk menatapnya. “Ceritakan saja padaku..”

Ara menatap Jongin melalui mata cokelat lelaki itu. “Sejak kapan kau peduli padaku? Sejak kapan kau ingin tahu apa yang tengah aku rasakan?”

Jongin terhenyak mendengarnya. Perkataan Ara itu cukup menyinggung perasaannya, tapi ia membenarkannya. Ditundukkannya kepalanya, dan ia mencoba bertanya pada hati nuraninya. Ya, sejak kapan ia peduli pada saudara kembarnya? Pernahkah ia memikirkan gadis itu barang sedetikpun? Dan jawabannya adalah tidak. Jongin tidak terlalu peduli pada gadis itu, bahkan saat melihat gadis itu meraung-raung menangisi jasad Ibu mereka yang hendak dimasukkan ke liang kubur. Saat itu Jongin hanya diam dan menatapnya tanpa ekspresi. Ia hanya fokus pada kesedihannya sendiri dan tak berniat melihat seseorang yang lebih terpuruk darinya. Jongin begitu egois dan tak berperasaan. Jongin yang saat itu masih terlalu muda.

“Kau diam karena tidak bisa menjawabnya ‘kan?” Ara kembali berkata, kini tangsinya sudah mulai reda. “Aku sudah kehilangan semuanya sejak hari itu. Tidak ada lagi yang aku miliki di dunia ini.” Sambungnya.

“Eoh?” Jongin bingung dengan apa yang dikatakan Ara.

“Sejak perceraian Ayah dan Ibu, aku sudah kehilangan semuanya. Ayah yang menghilang setelah mereka bercerai, Ibu yang menjadi seseorang yang tak ku kenal, dan Kakak yang aku sayangi pun mendadak membenciku. Aku tidak tahu apa salahku. Dan sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi padaku.”

Jongin diam, tak mampu berkata apapun.

“Kau yang kuharapkan bisa berbagi keluh kesah, karena aku tahu kau juga merasakan bagaimana sakitnya kehilangan. Tapi kau justru menjauhiku dan hidup dalam duniamu sendiri. Kau tidak mau berbicara denganku untuk waktu yang lama. Kau bahkan tidak bersedih saat Ibu meninggal.”

Mendengarnya, membuat Jongin ingin menjerit sekuat tenaga. Tidak. Ia sangat bersedih bahkan merasa benar-benar sedih hingga tak tahu bagaimana mengekspresikannya. Ia tidak bisa menangis, karena ia sudah lelah menangisi hidupnya yang berubah setelah perceraian kedua orang tuanya.

“Kau tidak menjengukku saat aku dirawat di rumah sakit. Kau bahkan malu untuk mengakui jika aku adalah saudara kembarmu hanya karena aku pernah dirawat karena masalah kejiwaan. Kau mengatakan pada semua teman-temanmu jika kau adalah anak tunggal dan kedua orangtuamu sudah meninggal. Kau menyuruhku untuk bersembunyi di kamar seharian penuh saat teman-temanmu bermain ke rumah.” Ara menghentikan kalimatnya, dan mengambil nafas sejenak. “Lalu, setelah melakukan semua itu, kau tiba-tiba datang dan menyuruhku untuk menceritakan semuanya padamu? Kenapa kau begitu jahat padaku?”

“Ara… Mianhae, jeongmal mianhae..”

Jongin seolah menjadi tokoh jahat disini. Ia sudah banyak menyakiti gadis itu tanpa ia sadari. Ia membenci gadis itu tanpa tahu bahwa luka yang ditimbulkan dari perceraian itu sama-sama menimbulkan bekas yang mendalam bagi keduanya. Ia terlalu memikirkan dirinya dan kesakitannya tanpa peduli bagaimana nasib gadis itu. Ia merasa benar-benar buruk. Sangat buruk. Maka direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Ia ingin Ara merasakan bagaimana tulusnya permintaan maafnya.

.

FLASHBACK ON

.

Hujan yang turun deras malam itu tidak menyurutkan rasa bahagia yang membuncah dalam diri anak lelaki itu. Senyuman terus terukir di bibir mungilnya sejak ia keluar dari mobil dan kini berjalan memasuki rumahnya yang super besar dengan tas punggung yang dijinjingnya. Ia membuka pintu rumahnya dan tak menemukan siapapun di dalamnya. Melangkah lebih jauh, namun tetap tidak menemukan siapapun. Ia merasa aneh. Hari belum terlalu malam namun rumahnya sudah sangat sepi. Kemana Ayah, Ibu dan saudara kembarnya? Kenapa lampu-lampu masih menyala jika tidak ada siapapun disana?

Wajahnya yang masih polos dan penuh keingintahuan membawanya naik ke lantai dua, tempat dimana kamar kedua orang tuanya berada. Sepanjang lorong ia tak menemukan siapapun, bahkan pembantu rumah tangga tak terlihat satupun sejak ia memasuki rumah. Ia merasa aneh.

Sesampainya di depan kamar orang tuanya, anak lelaki itu mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Ia mengetuknya lagi dan lagi, namun hasilnya tetap nihil. Seperti menyerah, ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Kakinya membawanya ke kamar yang terletak di sudut ruangan, ia membuka pintunya dan menemukan seorang gadis kecil tengah meringkuk di atas tempat tidurnya.

“Ara, dimana Ayah dan Ibu?” tanyanya. Suaranya menggema di udara dan membuat gadis kecil itu mendongakkan kepalanya hingga memperlihatkan wajahnya yang memerah penuh air mata. Anak lelaki itu tertegun.

“Jongin..” Panggil gadis kecil yang dipanggil Ara. Ia mengusap air matanya dengan kasar dan terisak. “Jong, apakah sekarang semua ini sudah berakhir?”

Anak lelaki yang bernama Jongin itu tidak mengerti sama sekali. Ia baru tiba di Seoul beberapa jam yang lalu setelah hampir dua tahun menghabiskan waktunya dengan belajar di Kanada. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Yang ia tahu, Ibunya meneleponnya seminggu yang lalu, memintanya untuk pulang ke Korea dan menetap di negara kelahirannya. Jongin sangat senang dan langsung memutuskan untuk pulang beberapa hari setelah kepindahannya diurus oleh sekretaris Ibunya. Namun apa yang ia dapati kini, ia tidak menemukan Ayah dan Ibunya, dan justru mendapati saudara kembarnya tengah menangis di dalam kamar. Sendirian pula.

Apa yang sebenarnya terjadi?

 

“Jongin, kurasa kita sudah berakhir sekarang.”

 

FLASHBACK OFF

.

.

.

.

“Jong…”

Lamunan Jongin terhenti saat Ara menarik ujung jaket yang ia kenakan. Jongin menatap Ara yang tengah berbaring di sampingnya. Setelah hal-hal penuh emosi yang mereka lalui, akhirnya mereka setuju untuk saling memaafkan. Lagipula mereka saudara dan sudah sepatutnya untuk saling mengasihi satu sama lain.

Jongin menunggu gadis itu untuk berbicara. Ditatapnya Ara dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat gadis itu tumbuh dengan banyak kesedihan di hidupnya, membuat Jongin semakin sadar betapa jahat dirinya selama ini. Ia benar-benar menjadi sosok kakak yang jahat, yang hanya menyusahkan adiknya saja. Ia benar-benar gagal menjalankan pesan terakhir Ibunya untuk selalu menjaga Ara. Ia merasa benar-benar bodoh.

Setelah mengetahui bahwa kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai tanpa alasan yang tidak ia mengerti, terlebih setelah mereka bertiga tinggal di rumah Nenek, ia menjadi anak pembangkang. Ia memusuhi Ibunya dan Ara, yang membuatnya jauh dari Ayah. Ia benar-benar marah, dan tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran Ibunya. Terlebih setelah bercerai dengan Ayah, Ibunya sering pulang malam dalam keadaan mabuk dan hal yang membuatnya sangat terpukul adalah saat Ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggak semua obat penenang yang dokter berikan untuknya.

Jongin benar-benar terpukul saat itu dan menjadikan Ara sebagai objek kekecewaannya. Ia yang sejak kecil merasa dibedakan oleh kedua orangtuanya, ia yang selalu dinomorduakan dan terlebih saat orangtuanya mengirimnya ke Kanada untuk sekolah disana, Jongin merasa terbuang. Ia benar-benar ketakutan berada di tempat yang asing baginya. Sudah berulang kali ia meminta Ayahnya untuk membawanya pulang namun selalu ditolak oleh Ayahnya. Dan akhirnya setelah penantian panjangnya, Ibunya menyuruhnya untuk kembali ke Korea. Jongin pikir, Ibunya sudah mulai sadar jika anaknya tidak hanya Ara, dan merasa bersalah telah berlaku tidak adil selama ini. Jongin pikir, ia akan bahagia setelah kembali ke Korea. Namun nyatanya, semua itu hanyalah impiannya yang tidak akan pernah terwujud. Keluarganya hancur di depan matanya dan bayang-bayang kekecewaan menari-nari di wajahnya. Jongin hancur. Hatinya benar-benar hancur.

“Jongin, kau menangis?”

Tangan Ara terulur mengusap air mata yang mengalir di wajah Jongin, membuat lelaki itu sadar dan langsung menghentikan tangan Ara. Ia kembali menatap gadis itu, perasaannya campur aduk sekarang.

“Kumohon jangan lakukan ini lagi, Ara. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau juga meninggalkanku.” Kata Jongin, air matanya lagi-lagi luruh.

“Uljima.” Ara berusaha tersenyum. “Seharusnya kau tidak menghentikanku. Aku ingin pergi menemui Ibu, Jong.” Sambungnya.

“Wae? Ibu sudah tenang di sisi Tuhan, Ara. Biarkan dia mengawasi kita dari tempatnya berada.”

Ara menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Tidak, Jong. Aku merindukannya. Aku ingin terus berada di sampingnya dan memastikan dia baik-baik saja.”

Air mata kembali jatuh membasahi wajah Jongin, ia mengusapnya dengan cepat. “Ibu sudah baik-baik saja. Dia bahagia disana. Jika kau terus seperti ini, Ibu akan sedih.” Kata Jongin, ia memegang tangan Ara kuat-kuat. “Tolong berjanjilah padaku, kau akan hidup dengan baik mulai sekarang. Aku akan selalu di sisimu. Bahkan saat seluruh dunia memusuhimu, aku akan melindungimu dan memastikan kau baik-baik saja.”

“Jinjja??” Ara tersenyum. Ia mengulurkan jari kelingkingnya.

“Ne.”

Jongin menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Ara. Senyum terukir di bibirnya. Hatinya tiba-tiba membuncah penuh rasa haru. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Sudah lama ia tidak bercengkerama dengan saudaranya seperti ini. Ia merasa sudah membuang-buang waktu yang telah Tuhan berikan kepadanya. Melihat keadaan Ara sekarang, membuatnya sadar akan sesuatu. Selama ini ia salah. Sikapnya benar-benar salah dan tidak seharusnya seperti itu.

Seharusnya ia ada di sisi Ara saat gadis itu dalam keadaan terpuruknya. Kondisi Ara benar-benar buruk setelah kematian Ibu. Sama halnya dengan dirinya, hanya saja ia lebih kuat dan rasional dalam memikirkan segala hal. Berbeda dengan Ara yang tumbuh dengan limpahan kasih sayang, mental gadis itu langsung jatuh. Kejiwaannya terganggu dan ia jadi sering mengamuk. Bahkan tak segan Ara melukai tubuhnya sendiri hingga membuat Jongin frustasi.

Kondisi keluarganya yang berantakan, ditambah dengan saudara kembarnya yang harus menjalani terapi kejiwaan membuatnya muak dan marah. Ia benci pada semuanya. Ia sangat membenci Ara yang telah mengambil seluruh kasih sayang dari orangtua mereka. Dan ia membenci Ara yang membuatnya malu dan harus menyembunyikan gadis itu jika teman-temannya bermain ke rumahnya. Dan sekarang ia sadar jika semua tindakannya itu salah. Yang Ara butuhkan saat itu bukanlah terapi, melainkan kasih sayang dan perhatian darinya. Ia yang saat itu masih sangat muda dan naif, tidak berpikir panjang dan egonya mengalahkan hati nuraninya. Jongin menyesal sekarang. Jongin ingin menebus kesalahannya. Jongin ingin membuat Ara bahagia.

Dan tanpa mereka berdua sadari, Nenek ternyata sejak tadi memperhatikan interaksi kedua saudara kembar itu. Ia menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan bunyi, dan senyum bahagia tersungging di bibirnya.

.

.

***

.

.

Sinar matahari yang mengintip malu-malu dari celah korden menerpa wajah gadis itu yang tengah tertidur dengan lelap. Merasa terganggu, ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Ia membalikkan badannya, berusaha mencari posisi yang nyaman untuk meneruskan tidurnya namun tangannya tak sengaja menyenggol sesuatu di sampingnya. Setengah malas, ia menyingkirkan selimut yang menutupi wajahnya dan matanya terbuka perlahan. Dalam pandangan matanya yang masih setengah terbuka, ia melihat saudara kembarnya tertidur lelap di sampingnya. Gadis itu mengucek matanya hingga terbuka sepenuhnya.

“Jongin…” panggilnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia mendorong tubuh Jongin dengan kedua tangannya, bermaksud untuk membangunkan lelaki itu dan menyuruhnya untuk pindah ke kamarnya.

“Ehhmmmm”

Jongin hanya bergumam, tidak berniat untuk bangun. Ia justru membalikkan tubuhnya hingga Ara hanya bisa melihat punggungnya yang lebar.

“Jongin, bangun. Pindahlah ke kamarmu sendiri.”

Kali ini Ara sedikit meninggikan nada suaranya. Ia bangkit hingga posisinya setengah berbaring dengan tangan kanan yang menjadi tumpuan tubuhnya. Tangan kirinya yang bebas ia gunakan untuk menyentuh bahu Jongin dan menggoyang-goyangkannya hingga lelaki itu merasa terganggu dan berbalik menghadap Ara.

Tapi, tunggu dulu.

Ara merasa ada sesuatu yang berbeda kali ini.

“Diamlah. Ini hari Minggu dan biarkan aku bangun tengah hari nanti!” Kata Jongin dengan sebal. Ia hanya menatap Ara sebentar dengan matanya yang setengah terbuka dan kembali merebahkan dirinya di kasur.

Ara menutup mulutnya saking terkejutnya. Bukan karena perkataan Jongin barusan, tapi lebih kepada apa yang tengah matanya lihat dan dirinya rasakan. Ia terkejut, bahagia sekaligus tidak percaya. Dilihatnya tubuhnya lagi. Rambutnya, wajahnya, tangannya, badannya, kakinya.. Semuanya adalah dirinya. Matanya beralih pada sosok lelaki yang tengah tidur di depannya. Sekali lagi Ara menutup mulutnya. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Jongin.

“Jong, kau harus lihat ini. Kau pasti tidak akan percaya dengan semua ini.” Kata Ara histeris. Jongin menutup telinganya dengan bantal merasa terganggu dengan suara cempreng Ara namun bantal itu dengan cepat disingkirkan oleh Ara.

“Huft… Apa lagi sekarang??!!”

Merasa benar-benar terganggu, Jongin bangkit dan menatap gadis itu sebal. Namun sedetik kemudian otaknya sudah bisa bekerja dengan baik dan ia mengerjapkan matanya.

“A-Ara, apa kau memikirkan apa yang tengah aku pikirkan?” tanyanya dengan wajah sedikit berseri.

Ara mengangguk dengan antusias. “Tentu. Kita sudah kembali, Jong.” Teriaknya, membenarkan apa yang dipikirkan oleh Jongin.

Seperti Ara, Jongin juga memperhatikan tubuhnya. Ia yakin matanya masih sehat dan ia tidak salah lihat. Itu adalah tubuhnya, benar-benar tubuhnya dan ia telah kembali. Ditatapnya Ara yang tengah tersenyum padanya. Ya, ia tidak salah lihat dan sekarang ini mereka telah kembali pada tubuh mereka masing-masing. Jongin menatap Ara tidak percaya.

“Jongin…” Ara memekik histeris. Ia menghambur memeluk Jongin. “Aku tidak percaya kita sudah kembali lagi.”

Jongin membalas dengan memeluk gadis itu. Disandarkannya dagunya pada bahu dan gadis itu. “Kita memang sudah kembali. Terimakasih, Tuhan. Akhirnya kau mendengar doa kami juga.” Katanya dengan mata tertutup. Ia tengah menikmati kebahagiaan yang baru didapatkannya. Kembali pada tubuhnya adalah suatu kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun.

Ara melepas pelukannya dan menangkup wajah Jongin dengan kedua tangannya. “Terimakasih, Jongin.” Katanya dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan.

“Berterimakasihlah pada Tuhan.” Ucap Jongin. “Kau percaya ‘kan jika Tuhan akan selalu bersama kita dan mendengarkan doa kita?” Ara mengangguk. “Saat kau merasa dunia ini begitu kejam padamu, ingatlah kepada Tuhan. Setidaknya hanya Dia-lah yang mampu meringankan beban di hatimu.”

Mendengar apa yang dikatakan oleh Jongin, membuat bibir Ara terangkat membentuk senyuman. Sekali lagi ia memeluk saudara kembarnya itu dengan penuh kebahagiaan. Namun gerakannya terhenti saat sesuatu terlintas dipikirannya.

“Oh, kuharap kau tidak pernah meminta sesuatu yang aneh lagi pada Tuhan.” Kata Ara, kini nada bicaranya sudah berubah. Tidak seperti tadi yang ceria.

Jongin diam dan mengamati perubahan ekspresi di wajah Ara.

“Wae? Kenapa diam saja?” Tanya Ara sambil bangkit dari tempat tidur. Ia baru sadar jika ia tidur di kamar Jongin semalam.

“K-Kau…”

“Kenapa denganku? Kau terkejut menyadari jika aku masih cantik walaupun baru bangun tidur, huh?” tanya Ara, membuat Jongin menepuk jidatnya dengan kesal. Ia sudah salah percaya jika gadis itu akan berubah. “Wae?” Ara merasa kesal melihat tingkah Jongin.

“Aish.. kupikir kau sudah berubah.” Kata Jongin, menunjukkan kekecewaannya. Padahal baru beberapa menit Ara menjadi gadis manis yang begitu baik, tapi sekarang gadis itu berubah menjadi menyebalkan.

“Berubah bagaimana maksudmu?” Tanya Ara kebingungan. Dan ia menyadari sesuatu. “Oh, hei. Aku tidak berniat untuk berubah sedikitpun. Tapi aku bersyukur akhirnya kita bisa kembali lagi. Setidaknya kau membuatku percaya jika Tuhan memang benar-benar ada. Dan kau adalah saudara kembarku yang paling baik. Aku mencintaimu, Jongin.” Kata Ara dan dengan cepat ia mengecup pipi Jongin lembut, membuat Jongin terkejut setengah mati.

“Yak!! Kau gila!! Benar-benar gila!!” Teriak Jongin saat gadis itu keluar begitu saja dari kamarnya. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.

.

.

***

.

.

Jongin masih tidak habis pikir dengan tingkah Ara. Gadis itu seperti memiliki kepribadian ganda. Dalam beberapa detik saja ia bisa berubah menjadi baik dan detik berikutnya menjadi dirinya yang begitu menyebalkan. Jongin pikir hubungannya dengan Ara akan baik-baik saja setelah apa yang terjadi semalam. Nyatanya mereka masih tetap sama, hanya saja mungkin dirinya yang sudah mulai berubah sekarang. Kadar kebenciannya pada gadis itu sudah menurun sedikit demi sedikit dan itu berkat hal buruk yang akan gadis itu lakukan. Rasanya benar-benar aneh bahkan saat memikirkan jika mereka sempat bertukar tubuh sebelumnya. Ini tidak masuk akan namun ia bersyukur semuanya telah kembali seperti sedia kala.

Setelah mandi dan berpakaian, Jongin turun dan menemukan Nenek tengah duduk di ruang keluarga. Dihampirinya wanita tua itu yang tengah membaca koran dan ia mendudukkan dirinya berhadapan wanita itu. Matanya menatap sekeliling dan perhatiannya langsung tertuju pada Ara yang tengah sarapan di meja makan tak jauh dari tempatnya berada.

“Hush.. hush.. Pergilah kau!!” Ara berteriak pada sesuatu dan melemparkan sedikit serealnya untuk mengusirnya. Jongin merasa penasaran dan terus mengawasinya. “Bibi, tolong usir kucing itu jauh-jauh dariku. Aku benar-benar membencinya.” Sambungnya dan menyuruh Bibi Nam yang sedang mengepel lantai untuk membantunya.

Jongin sedikit tersenyum. Bisa-bisanya Ara membenci kucing padahal dulu ia sangat menyukainya. Bahkan ia meminta Ayah untuk membelikannya kucing persia dan sekarang gadis itu membencinya? Benar-benar menggelikan.

“Baik, Nona.” Kata Bibi Nam dan meletakkan alat pel ke dekat dinding. Ia menghampiri kucing kecil yang berdiri di dekat meja makan dan mencoba mengusirnya. “Pussie, keluarlah dan biarkan Nona Ara menyelesaikan sarapannya. Hush.. hush..” Katanya pada kucing itu. Jongin tidak tahu jika ada kucing di rumah ini. Mungkin itu kucing peliharaan salah satu pelayan di rumah ini.

“Yak, jika begitu caranya kucing itu tidak akan pergi.” Seru Ara dan dengan cepat ia menyiram kucing itu dengan segelas susu panas yang ada di atas meja.

BYUUURRR

Hal itu sontak membuat Jongin dan Bibi Nam terperanjat. Bagaimana bisa ada orang yang tidak punya hati sampai menyiram seekor kucing kecil dengan susu yang masih terbilang panas itu? Dari tempatnya berada, Jongin bisa mendengar geraman kucing itu yang berlari ke halaman belakang. Jongin syok setengah mati dibuatnya.

“Apa yang kau lihat? Sepertinya serius sekali.” Tanya Nenek sambil meletakkan koran yang belum selesai ia baca. Beritanya tidak ada yang menarik dan Nenek juga tidak kuat membaca terlalu lama.

“Oh, itu.. Nenek tidak melihat apa yang barusan Ara lakukan?” tanya Jongin, membuat Nenek langsung menoleh ke samping dan mendapati Ara sudah tidak ada di meja makan.

“Kemana gadis itu? Barusan aku masih mendengar suaranya.” Nenek mencari-cari keberadaan Ara.

“Dia pergi ke kamarnya setelah menyiram seekor kucing dengan segelas susu yang masih panas dan menumpahkan mangkuk yang berisi sereal ke meja makan.” Jawab Jongin dengan ekor mata yang terus memperhatikan bagaimana susahnya Bibi Nam membersihkan sisa sereal yang sengaja ditumpahkan ke atas meja. Jongin hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Oh, gadis itu benar-benar.” Nenek memegangi kepalanya yang terasa sakit setelah melihat apa yang terjadi. Ia benar-benar dibuat pusing dengan ulah Ara.

Jongin mendekati Nenek dan mengecilkan volume suaranya. “Nenek, sepertinya kau harus menjadwalkan terapi lagi untuknya. Kurasa setelah hampir gila, dia juga memiliki dua kepribadian yang saling berlawanan. Kupikir dia seorang psikopat.” Kata Jongin yang membuat Nenek terkejut.

“Yak, hentikan omong kosongmu.” Tegur Nenek.

“Aku tidak berbohong. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.” Jongin membela dirinya. “Terserah kau mau percaya atau tidak, cepat atau lambat dia pasti akan membuat kekacauan lagi di rumah ini..” sambungnya setengah memperingatkan. “Oh, aku ada janji dengan temanku siang ini. Nenek, aku akan memakai mobil yang di garasi.”

Setelah Jongin pergi, Nenek terdiam di tempatnya. Ia benar-benar pusing menghadapi ulah kedua cucunya itu.

.

.

***

.

.

Beberapa hari kemudian semua sudah kembali seperti sebelumnya. Mereka berdua sudah kembali ke dalam tubuh mereka lagi dan tak ada lagi beban pikiran yang menghantui mereka. Ternyata memang benar, semua ini telah ditakdirkan oleh Tuhan dan mereka tak bisa mengelaknya. Bahkan mereka tidak tahu kenapa mereka bisa kembali lagi ke tubuh mereka lagi sedangkan sudah banyak cara yang mereka lakukan namun tak membuahkan hasil. Berulang kali mereka memikirkannya namun tak ada satupun jawaban yang masuk akal untuk menjawabnya. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk tak mempermasalahkan hal itu, lagipula mereka pasti tidak akan bertukar jiwa lagi, dan kemungkinan untuk hal itu sangatlah kecil.

Ara menutup bukunya bahkan sebelum ia membaca habis satu halaman. Ia mencibir. Buku yang dibacanya benar-benar tidak berbobot dan sangat membosankan. Lantas ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju rak yang penuh dengan buku-buku tak jauh di depannya. Ia meletakkan buku yang barusan dibacanya ke tempatnya semula dan melihat-lihat buku yang lainnya. Pandangannya teralihkan pada salah satu buku yang berada di rak atas. Ia berjinjit untuk mengambilnya, namun tangannya sama sekali tidak bisa menggapainya.

Tapi Ara tidak menyerah sampai disitu, ia terus mencobanya walaupun jari kakinya terasa sakit karena ia paksakan untuk menjadi tumpuan. Ia ingin sekali membaca buku itu karena judulnya sangat menarik dan tidak ingin menyerah begitu saja. Ia terus mencoba menggapainya sampai ada sebuah tangan yang ikut terulur dan mengambil buku itu. Ara terdiam, ia merasakan hangatnya deru nafas yang menerpa tengkuknya. Ia berbalik, dan matanya langsung tertuju pada sosok lelaki di depannya.

Sedikit terkejut, Ara mundur beberapa langkah namun punggungnya terbentur rak buku di belakangnya. Matanya masih terus beradu dengan mata lelaki itu hingga membuat Ara gugup karena tidak biasanya ia melakukan kontak mata sedekat itu dengan orang lain. Namun ia sudah tidak bisa mundur lagi karena tak ada ruang di belakangnya dan kini ia hanya berjarak lima belas sentimeter dengan lelaki itu. Cukup dekat bahkan untuk bisa merasakan kehangatan yang ditimbulkan dari nafasnya.

“Apakah buku ini yang ingin kau ambil?” lelaki itu membuka suaranya sambil menyodorkan sebuah buku bersampul biru laut yang memang sejak tadi ingin diambil Ara.

Ara menatapnya sebentar. Tanpa membaca name tagnya pun ia sudah tahu siapa lelaki itu. Lelaki jangkung berkulit seputih susu dan memiliki tatapan tajam dengan wajah yang cukup rupawan. Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun, sahabat Jongin. “Iya. Terimakasih.” Ucapnya sambil menerima buku itu.

Sehun tersenyum, begitu manis dan penuh dengan ketulusan. “Oke. Aku senang bisa membantumu.” Jawabnya lalu melangkah pergi.

Ara hanya bisa diam sambil menatap kepergian Sehun. Ia melihat buku itu dan kembali menatap Sehun yang sudah keluar dari perpustakaan. Ini cukup membingungkan bagi Ara. Pasalnya ia tidak pernah berbicara dengan Sehun, kecuali saat dirinya menjadi Jongin – itu perkara lain. Hanya saja ia dan Sehun tidak saling kenal dan tidak memiliki alasan untuk sekadar mengucap beberapa patah kata. Terlebih mengingat kejadian beberapa hari lalu yang begitu menyebalkan bagi Ara. Tapi, Ara berpikir positif. Tidak ada salahnya seseorang menolongmu walaupun kau tidak mengenalnya sama sekali. Yah, itu sudah sering terjadi namun tidak bagi Ara. Selama ini ia selalu memasang lampu merah bagi setiap orang untuk menolongnya.

.

.

***

.

.

“Hei, Jongin. Kau tidak lupa membelikanku minum ‘kan?” Yian bertanya saat Jongin masuk ke dalam kelas dengan satu kantong plastik di tangannya. Ia mendekati meja di sudut kelas dan mendudukkan dirinya pada kursi yang masih kosong.

“Tentu saja. Aku membelikan sesuatu untuk kita.” Ucapnya dan ia mengeluarkan semua yang ada di dalam kantong itu, mulai dari botol-botol minuman dingin dan beberapa camilan untuk mereka makan.

“Banyak sekali yang kau beli.” Kata Baekhyun dan ia langsung membuka satu bungkus camilan kesukannya.

“Tumben kau mentraktir kami.” Chanyeol berkata setelah meminum hampir setengal botol minuman bersoda.

“Yak, memangnya aku tidak boleh melakukannya? Awas saja ya jika kalian merengek padaku dan memintaku untuk mentraktir kalian lagi.” Canda Jongin yang langsung dibalas tatapan permintaan maaf dari Chanyeol.

“Yah, tapi benar apa yang Chanyeol katakan. Sepertinya kau sedang bahagia hari ini.” Kata Yian menengahi.

“Tidak juga.”

“Oh, apa kau baik-baik saja waktu itu?” Tanya Sehun tiba-tiba yang mengalihkan perhatian mereka.

“Memangnya aku kenapa?” Jongin balik bertanya, merasa kebingungan.

“Waktu itu hari Jumat sepulang sekolah…” Sehun menghentikan ucapannya saat Jongin menyela.

“Hari Jumat aku langsung pulang begitu pelajaran berakhir.”

“Bukankah kau-“

“Wae?”

Sehun terdiam. Ia mencoba mencerna kembali semuanya. Waktu itu padahal jelas-jelas ia melihat Jongin dan berbicara langsung dengan lelaki itu. Memang agak aneh sih melihat Jongin menangis seperti itu terlebih bagaimana lelaki itu memperlakukannya. Tapi Sehun hanya berpikir pasti Jongin sedang dalam suasana hati yang buruk dan tidak mampu mengendalikan emosinya. Jadi ia tidak mau mempermasalahkannya hari itu dan berniat untuk menanyakan langsung setelah keadaan Jongin membaik.

“Yak, Oh Sehun. Kenapa diam saja?” Jongin kembali bertanya, ia sangat penasaran dengan apa yang akan Sehun katakan.

“Tidak ada. Aku pasti salah waktu itu.” Jawab Sehun seadanya. Ia kembali terdiam, dan saat memikirkannya lagi, semuanya menjadi tidak masuk akal. Sebenarnya, siapa yang waktu itu ia lihat menangis dan berkata begitu kasar padanya jika bukan Jongin? Apa Jongin memiliki semacam kepribadian ganda atau dia memiliki saudara kembar? Entahlah, Sehun bingung.

.

.

***

.

.

“Oh Sehun.”

Sehun yang tengah berjalan menuju kelasnya terhenti setelah mendengar seorang gadis yang memanggil namanya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Jihyun berdiri tak jauh darinya. Sehun menghentikan langkahnya dan menunggu gadis itu berbicara, sepertinya ada yang ingin ia sampaikan.

“Kenapa kau tidak menghubungiku?” tanya Jihyun to the point. Sehun mengerutkan keningnya. Memangnya ada kepentingan apa ia menghubungi Jihyun lagi? Lagipula mereka sudah tidak ada urusan apapun dan Sehun juga sudah tidak punya nomor ponsel gadis itu sejak lama.

“Wae?” Sehun menyuarakan isi hatinya. Jihyun nampak terkejut.

“Apa kau tidak menerima sesuatu dariku?” Jihyun kembali bertanya.

Sehun mengerti kemana arah pembicaraan gadis itu. “Oh, maksudmu surat yang kau selipkan di lokerku tempo hari?” tebaknya dan Jihyun mengangguk. “Aku sudah membacanya, lalu kenapa lagi?”

Jihyun terdiam. Ia memikirkan kalimat selanjutnya yang cocok untuk ia ucapkan. “Apa kau tidak mempunyai kesan apapun terhadap surat itu?”

“Kesan?” Sehun berpikir. Ia tidak pernah memikirkan kesan apa yang akan ia berikan pada sebuah-surat-yang-ia-temukan-di-pagi-hari-terselip-di-lokernya itu. “Tidak.”

Jihyun nampak kecewa dengan jawaban Sehun. Ia mengurucutkan bibirnya dengan sebal, Sehun masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Lelaki itu masih cuek dan tidak peduli padanya. “Kenapa tidak? Padahal ‘kan aku sudah menuliskan bahwa aku ingin kita bersama lagi.” Akhirnya ia mengatakan dengan gamblang maksud dari suratnya waktu itu. Harusnya, jika Sehun adalah lelaki yang normal, ia akan segera menghubungi Jihyun setelah menerima surat itu.

“Lalu kau ingin aku menjawab apa? Aku belum memikirkan hal itu, Jihyun. Lagipula itu sudah sangat lama dan aku tidak berniat untuk mengorek kenangan di masa lalu.” Jawab Sehun. Ia tidak ingin bicara panjang lebar dengan gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana, namun tangan Jihyun lebih cepat menahannya.

“Tunggu, kita belum selesai!”

.

.

.

Setelah memastikan bahwa buku itu benar-benar menarik untuk dibaca, Ara memutuskan untuk meminjamnya. Ia melangkah keluar dari perpustakaan dengan riang. Matanya tertuju pada halaman pertama buku yang mampu mengalihkan seluruh perhatiannya dari sekelilingnya. Ia sudah hanyut seutuhnya ke dalam cerita dari buku itu dan tak memperhatikan langkahnya.

 

BRUKKK

 

Buku yang tengah dibacanya terjatuh saat tubuhnya menabrak seseorang di depannya. Ara hampir saja jatuh jika tak ada tangan yang dengan cekatan menangkap tubuhnya. Dengan perlahan Ara membuka matanya yang beberapa detik lalu tertutup karena takut merasakan sesuatu yang menyakitkan akan mengenai tubuhnya. Matanya langsung membulat sempurna setelah melihat siapa orang yang menolongnya dan terlebih ia merasakan sebuah tangan yang melingkari pinggangnya.

“Gwaenchana??”

Ara tidak mampu menjawab. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan apakah penglihatannya ini benar atau salah. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, terlebih saat jarak antara dirinya dan lelaki itu begitu dekat. Pikiran Ara melayang, ia bingung. Kenapa dalam sehari ia harus berhadapan dengan Oh Sehun???

.

.

.

.

TBC

 

 

Yeay~~ ini adalah chapter 6 J akhirnya aku bisa update setelah beberapa minggu menghilang karena kesibukan yang tiada hentinya 😀 Gak mau panjang lebar, makasih yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. Aku tunggu kritik dan sarannya J

 

Ariana Kim~J

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Love in Time – (Chapter 6)

  1. Jongin dan ara sudah kembali ketubuh mereka masing-masing, persaudaraan mereka juga sudah membaik walaupun kepribadian ara gak berubah sama sekali.
    Kak, update nya jangan lama-lama soal nya gak sabar nunggu kelanjutan dan kisah mereka lagi.

    • Gumawo udah mau baca dan komen.. Hehe, aku gak janji bisa update cepet atau gak, soalnya aku juga sibuk, apalagi kalo idenya tiba-tiba aja menghilang.. Tapi aku seneng ada yg suka dg ceritaku, jadi semangat deh 🙂

  2. Akhirnya Ara dan Jongin udah kembali ke tubuh mereka masing masing. Tapi updatenya agak cepet dong kak soalnya bikin gak sabar buat baca kelanjutannya. Apalagi Sehun dan Ara sudah saling nyapa. Uuhhh gak sabar ~ keep writing 🙂

    • Aku juga seneng Jongin sama Ara udah kembali lagi ke tubuh mereka masing-masing. Soal update aku gak bisa janji, pinginnya sih tiap minggu update, tapi gimana lagi aku jg sibuk soalnya.. Tapi makasih banyak ya kamu nyempetin waktu baca ffku yg super absurd ini.. 🙂 Next cha tungguin ya, aku usahain cepet kok 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s