[EXOFFI FREELANCE] Dream – (Ficlet)

dream poster.png

Title: DREAM | Author: reniilubis | Cast: EXO’s Kim Minseok, OC’s Reen | Rating: Teen | Length: Ficlet

Disclaimer: All casts are belong to their self and God

 

 

Happy reading~^^

 

Reen POV

 

Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bernafas dan berdoa dalam hati. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan dengan tangan dan kaki yang diikat, mata tertutup, dan mulut yang disumpal? Sementara aku mulai menggigil karena udara mulai menyaingi dinginnya ruangan tempat aku berada. Suara daun berterbangan menyapa daun telingaku. Membuatku bertanya-tanya, di manakah aku sekarang?

Tiba-tiba, dentang jam membelah sunyi. Aku celingukan, mencari sumber suara. Namun sia-sia, karena aku kehilangan jejaknya, dan aku tak bisa melihat apapun.

Kain biru kehitaman yang sedikit transparan yang menutup mataku membuat aku sedikit bisa melihat, menandakan aku berada di sebuah ruang minim cahaya. Tapi di mana? Gudang? Kamar? Atau…

Segera kuenyahkan pikiran negatifku, dan memikirkan sesuatu yang lebih positif. Aku ingat kalau beberapa hari lalu aku sempat menonton sebuah film bersama Nayoung, adikku. Film itu benar-benar menarik karena ada banyak sekali makhluk hijau kerdil di sana. Tapi aku lupa namanya. Nayoung sangat meny—

 

‘kriet’

 

Itu suara pintu di depanku. Iya, pintu itu terbuka. Aku pun mendongakkan kepalaku. Berharap si pembuka pintu mau melepaskan ikatanku.

“Mmphh! Mmhhh—mmphhh!” Ah, sial. Kenapa mulutku harus disumpal seperti ini?

Kemudian suara rendah dan sedikit serak menusuk telingaku.

“Jangan memaksa berbicara jika mulutmu disumpal.”

Aku tidak peduli dan terus meronta. Aku sedikit yakin bahwa pria di depanku ini adalah yang membawaku kemari.

Pria itu mendecakkan lidahnya kesal. “Ck. Kau harus berbuat baik agar diperlakukan dengan baik! Bukankah orang tuamu mengajarkan itu?”

Jantungku berdetak tak karuan. Terlalu cepat. Cukup cepat untuk membuat nafasku terengah-engah. Sementara suara serak itu terus mengoceh soal kehidupan dirinya yang hancur. Ayahnya selingkuh dan pergi entah kemana. Ibunya bunuh diri dengan meneguk pestisida. Dan adiknya pergi, dipenjara karena kasus pengedaran narkoba. Dan dia sekarang hidup sendiri di sebuah mansion besar di tengah kota yang ia sebut dengan nama ‘Polo’. Dan pria itu berkata bahwa aku juga sedang disekap di sebuah ruangan di dalam Polo.

Dan tiba-tiba, pria itu melepas kain penyumpal mulutku. Membuatku segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Entah kenapa, tapi sedari tadi aku merasa paru-paruku tertekan dan sulit bernafas untuk beberapa saat.

“Sudah bisa bernafas dengan lega?” tanya pria misterius itu.

“Sudah—hahh—lumayan. Hhh… terima kasih.” Jawabku sedikit terengah-engah.

“Hm.”

Kemudian hening, tapi aku merasakan sebuah pertanyaan melintasi otakku.

“Kapan kau akan melepaskanku?”

Namun hening yang mendominasi kembali, bersama dengan aroma Wine yang menyengat dan desah nafas yang memburu.

 

*

*

*

 

“Siapa namamu?” tanyaku di sela keheningan di antara kami.

Sudah sekitar satu minggu—menurut hitungan pria ini—sejak aku disekap di dalam Polo. Selama itu pula kegelapan selalu menyelimuti pandanganku karena kain penutup mataku tak pernah dilepas. Pria itu cukup baik, dan itu sangat tak terduga.

“Ah, sudah seminggu kita saling berbicara namun belum saling mengenal. Namaku Minseok. Kim Minseok.” jawabnya sambil kembali meneguk minumannya.

Aku tersenyum tipis—sangat tipis, namanya terdengar sangat bagus.

“Dan kau?” tanyanya balik.

“Reen.” jawabku. “Aku haus. Bolehkah aku meminta minum?”

“Air? Teh?”

Wine.”

“Jangan harap.”

“Baiklah, air saja.”

“Oke, Wine juga tak apa. Aku hanya bercanda tadi.”

“Tapi sejujurnya aku tidak terlalu menyukai Wine.”

“Kau ada keturunan Rusia?”

Aku mengernyit. “Analisis bodoh. Tentu saja tidak.”

“Aku punya Soju.”

Good. Berikan segelas penuh padaku.”

Aku meneguk minuman itu dibantu Minseok.

“Hmm, ini menyegarkan. Thanks, Minseok-ssi.” ujarku setelah menghabiskan Soju pemberian Minseok.

 

*

*

*

 

“Minseok-ssi.”

“Hm?”

“Mengapa kau mengurungku di sini?”

“Hm?”

“Aku bertanya mengapa kau mengurungku disini? Apa telingamu kau sumpal dengan sesuatu?”

“Kau… merasa terkurung?”

“TENTU SAJA!! Mata tertutup? Kaki dan tangan diikat? Kau pikir ini bukan pengurungan? Ini benar-benar sangat menyiksa!”

“Hmmm…”

“Ayolah, Minseok-ssi.”

“Apa lagi kali ini?”

“Lepaskan aku, mari kita berteman saja.”

“Kau percaya halusinasi, Reen-ssi?”

“Ayolaaahh! Jangan mengalihkan pembicaraan, Minseok-ssi!”

“Kau percaya bahwa kau adalah halusinasiku, Reen-ssi?”

Hening memaksa otakku bekerja lagi setelah selama seminggu lamanya disekap disini.

Aku… halusinasi Minseok? Benarkah?

“Aku nyata, Minseok-ssi. Aku nyata. Aku yakin aku manusia.”

“Bagaimana kala—”

“APA?!”

“Tidak. Lupakan saja.”

 

*

*

*

 

Selama seminggu terakhir, aku terus memikirkan pertanyaan Minseok. Benarkah aku hanya halusinasinya?

Tidak. Tidak mungkin. Aku manusia. Aku ciptaan Tuhan yang terbuat dari tanah juga. Aku benar-benar makhluk beridentitas manusia. Aku bukan bayang semu hasil proyeksi gila otak yang kelelahan menerima kecurangan hidup.

‘Apa kau benar-benar yakin kalau kau adalah manusia?’

Ya! Ak—

‘Siapa yang bisa menguatkan argumenmu?’

Ah. Ti-tidak ada. Tapi aku yakin aku benar-benar manusia!

‘Kalau begitu, bagaimana kalau misalnya Minseok adalah khayalanmu?’

 

*

*

*

 

“Reen?”

“…”

“Hei, Reen-ssi. Aku punya—”

“Kau khayalanku?”

“Apakah itu pertanyaan atau pernyataan?”

“Kau khayalanku?”

“Kesimpulan yang menarik.”

“Minseok-ssi!”

“Kau lapar? Haus?”

“Kau… khayalanku?”

“Kau pernah mendengar tentang—“

“Minseok-ssi, kalau memang benar kau khayalanku, lepaskan penutup mataku sebentar. Aku ingin melihatmu secara langsung untuk memastikan kau itu nyata atau memang hanya khayalanku.” Minseok terdiam.

“Lepaskan penutup mataku, Minseok-ssi. Biarkan aku melihatmu hanya untuk sebentar saja.”

“Dan kalau kau sudah melihatku?” tanya Minseok dengan suara tenang, Reen bisa merasakan harum tubuh Minseok yang kini mendekat ke arahnya, berjongkok di hadapannya yang kini duduk terikat di atas lantai.

“Setelah aku melihatmu, kau bisa kembali menutup mataku. Aku hanya ingin melihat wajahmu sekali saja dan memastikan kalau kau adalah manusia sepertiku.”

“Baiklah.” Ujar Minseok santai, tapi entah kenapa jantung Reen berdegup dengan kencang. Ia menjadi gugup dan panik disaat yang bersamaan.

Reen bisa merasakan tangan Minseok menyentuh kepalanya, ia melepaskan ikatan kain tersebut dan menarik penutup mata itu hingga kini matanya terbebas. Reen mengerjap perlahan-lahan, rasanya matanya terlalu perih untuk menerima cahaya disekitarnya akibat matanya yang selalu ditutup sejak seminggu belakangan ini.

Reen mendongakkan kepalanya dan seketika ia terperangah, ia mematung selama beberapa detik saat mata indahnya melihat seorang pria tampan di hadapannya yang kini tengah tersenyum.

“M-Minseok-ssi…” Reen hendak menyentuh wajah sempurna itu, namun tersadar tangannya terikat dengan kuat dan tidak bisa bergerak bebas.

“K-kau nyata, M-Minseok-ssi…”

Reen sempat menahan nafasnya saat wajah Minseok mendekat ke arahnya, Minseok menatap fokus bibir Reen dan detik berikutnya Reen bisa merasakan bibir tipis itu menempel di atas bibirnya. Reen mematung, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Setelah sadar bahwa semua ini nyata, Reen dengan perlahan memejamkan matanya dan mulai menikmati ciuman lembut Minseok di bibirnya, dan sesekali ia membalasnya. Dan setelah beberapa menit terlarut dalam ciuman lembut itu, Reen membuka matanya dan kaget luar biasa saat….saat…..kini ia sedang berada di kamarnya! Ya, benar-benar di kamarnya!

Reen menoleh ke kanan dan ke kiri, ia masih berada di atas tempat tidurnya. Ia juga memeriksa kedua tangannya, sama sekali tidak terikat oleh tali apapun seperti yang baru saja ia alami. Reen bangkit dari posisi berbaringnya dan menelisik seluruh ruangan tempat ia berada, ini memang kamarnya.

Lalu yang baru saja terjadi—apa yang baru saja terjadi? Itu benar-benar terasa nyata, dan—

Reen meraba bibirnya dengan ibu jarinya, ciuman itu juga terasa sangat nyata. Minseok juga terasa sangat nyata.

Reen mengusap wajahnya dengan kasar, entah kenapa ia merasa kecewa telah terbangun dari tidurnya—merusak mimpi indahnya.

 

 

E

N

D

~~END~~

 

 

Note: FF super telat buat Umin wakakakakak XD Udah telat, gaje pula /plak/

Semoga suka ya ~

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Dream – (Ficlet)

  1. Jadi intinya mah Minseok teh cuma khayalan begitu yang abis diciyum malah bangun tidur begitu? Kezam.. Wwkwkwkwk..

    Makasih Reni akunya dibikinin FF lagii, aku reblog yaaa.. >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s