[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You (Chapter 10)

IMG_20170305_172231

 

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 10

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

“Whoa! Ini dia gadis yang baru berken-”

Bukan karena tersedak sesuatu atau seorang penculik tiba-tiba menghampiri lantas membekap mulut Jong In dengan tangan kosong yang menjadi sebab mengapa perkataan pria itu terhenti di tengah jalan, melainkan tangan putih Sehun menghentikan pria berkulit kecoklatan itu bicara lebih lanjut. Mengingatkan pada sahabatnya tersebut bahwa Hyojin bisa saja kembali melancarkan aksi ‘semburan air suci’ teruntuk mereka hanya karena kata ‘kencan’.

“Kau penyelamatku.” Gumam Jong In berterima kasih yang lalu memutuskan untuk duduk di sebelah Hyojin yang nampak lesu. “Sepertinya tak berjalan lancar ya?” tanyanya dengan hati-hati.

“Perlukah aku menulis buku panduan untuk ‘tidak bertanya padahal sudah tahu jawabannya’?” sarkas Hyojin seraya menyesap sirup gingseng kiriman ibunya.

Jong In memasang ‘muka masam’-nya dan tak bertanya lagi, lebih memilih mendatangi kedai eomuk yang tak jauh dari taman tempat mereka singgah saat ini daripada terus disalahkan oleh Hyojin atas kencannya yang dianggap gagal.

“Sialan!, sepertinya bocah itu memang berniat mengerjaiku!” Hyojin mulai bercerita. Sehun yang ditinggal oleh Jong In mau tak mau harus menjadi pendengar setia bagi gadis yang sedang dalam mood buruk tersebut.

“Iya, pasti benar!. Itulah mengapa si Park-sialan itu langsung menerima tawaranku untuk menjadi kekasihnya! Pasti dia cuma ingin mengerjaiku kan?!”

Sehun cuma bisa mengendikan bahu ketika wajah kesal Hyojin terarah padanya. Mendapat jawaban yang tak sesuai ekspetasinya, Hyojin makin sebal, tangannya mengepal hendak memukul Sehun namun tak jadi, mengingat pria itu terlalu tampan untuk dipukul.

Sehun menghela nafas dan mulai memberi masukan, “Sebenarnya kau memang mencintai Park Chanyeol atau tidak?”

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?, aku tak mau menjawab!” seru Hyojin, antara malu dan perasaan campur aduk lainnya.

“Kau pernah sangat menyukainya, bahkan sampai pria itu berkelana selama beberapa tahun pun kau masih menunggunya-”

“Kata siapa aku menunggunya?” potong Hyojin cepat.

Sehun memberikan tatapan datarnya pada gadis itu seraya menjawab, “Kau menunggu, jika tidak mana mungkin kau pergi ke bandara sejak pagi untuk melihat kepulangan Chanyeol secara diam-diam.” Pria itu memijit pelipisnya sebelum melanjutkan, “Dengarkan aku dulu sampai tuntas baru berkomentar. Atau aku akan menyusul Jong In, memesan jajjangmyeon dan hanya memberimu acar.” Ancamnya dengan nada serius, membuat nyali Hyojin menciut seketika.

“Aku sebagai orang yang berada di ‘lingkungan’ kalian pun turut bingung sebenarnya. Kau menyukai Chanyeol, dan Chanyeol menyukaimu -entah itu kebenaran atau bukan. Tapi seperti ada sekat diantara kalian, ada spasi, jarak, yang memisahkan dua insan super konyol ini.” Sehun mengusap rambut Hyojin, “Kau mengajaknya berpacaran karena alasan lain, melindunginya serta keluarganya dari ancaman Lee Dae Ryeong. Aku mengerti meski sejujurnya aku benci alasan bodohmu itu. Dan untuk Chanyeol?, entah kenapa pria itu masih belum benar-benar mengerti akan perasaannya padamu.”

Hyojin menunduk lesu, hanya untuk beberapa detik karena ia tak ingin membuat temannya khawatir akan keadaannya yang semakin memburuk akhir-akhir ini.

“Bukannya ingin membuatmu sedih -meski sebenarnya aku juga sangat paham kalau kau belum siap berpacaran dengan siapapun itu, tapi aku tak mau kau terlalu berharap dan menjadi sakit hati akan pilihanmu sendiri.” Sehun merangkul bahu gadis disampingnya tersebut.

“Ya, ya, ya aku mengerti.” Ujar Hyojin pura-pura tidak peduli dengan konsekuensi apapun yang Sehun maksud, “Jadi, kau akan memesan jajjangmyeon?. Aku mau kimbab, bibimbab dan Americano!”

“Yak! mau kau apakan semua makanan itu?!” seru Jong In yang kembali dengan sekantung makanan ringan, minuman bersoda sekaligus tiga tusuk eomuk yang masih hangat. “Mau menampungnya sebagai lemak dipinggulmu?”

Hyojin mendengus, hendak balik menyindir pria bermarga Kim itu tapi berbagai macam makanan yang Jong In bawa lebih menggiurkan daripada memukul seseorang, setidaknya itu yang ada di dalam pikiran Hyojin yang sel laparnya menang dari sel-sel lainnya. Gadis itu mengambil sekaleng soda dan sebungkus jajanan kesukaannya, duduk di bangku taman bersama Jong In. Sementara Sehun pergi memesan jajjangmyeon serta pesanan makanan dua manusia lain yang tengah kelaparan itu.

“Kau punya tugas apalagi dengan si Park Jiyeon itu?”

Pertanyaan Jong In disela kegiatan makan mereka membuat Hyojin menaikan sebelah alis bingung.

“Darimana kau tahu?”

Jong In menunjuk lima orang mahasiswi termasuk Jiyeon yang berjalan kearah mereka. Hyojin menoleh, makin bingung karena keberadaan mahasiswi paling populer di jurusan kedokteran -bahkan jurusan lain- bersama empat orang ‘teman’ yang selalu mengikuti kemanapun Jiyeon berada saat di kampus.

“Eoh? Ji -ah maksudku sunbae-nim, ada keperluan apa?” tanya Hyojin begitu Jiyeon and the gank sudah berada di hadapan gadis itu, memasang wajah jengkel serta salah satunya menenteng tas ransel. “Dan bagaimana tas itu ada di tanganmu?” tingkat kesopanan Hyojin berkurang drastis begitu ia sadar kalau benda yang dibawa teman Jiyeon itu miliknya, yang sebelumnya dia letakan dalam loker dengan keadaan terkunci.

“Benar kan! Tas ini miliknya!” bukannya menjawab pertanyaan Hyojin, teman Jiyeon tersebut malah berseru keras kepada Jiyeon dan mahasiswi lainnya.

*Hyojin POV*

“Benar kan! Tas ini miliknya!”

Gadis itu minta dihajar kepalanya supaya sadar ya?. Bagaimana dia masih memastikan milik siapa tas itu padahal barang itu kuletakkan dalam loker dengan namaku!. Dia mencurinya kah? Tidak-tidak, pencuri bodoh macam mana yang setelah mengambil kemudian mendatangi pemiliknya!. Yang tolol itu aku karena tidak segera menegur mereka yang membawa barang milik orang lain seenaknya!.

“A-”

Belum aku sempat mengatakan satu kata, mereka sudah melempar ransel hadiah dari Rae Mi tahun lalu. Kurang ajar! Apa sih maksudnya?!.

“Yak!”

“Yak! sebaiknya kau segera minta maaf pada Jiyeon!, dia sudah berbaik hati tidak melaporkanmu pada polisi!”

“Kenapa aku harus minta maaf? Memangnya apa kesalahanku?!”

“Gadis jalang ini masih belum sadar juga rupanya!. Masih mau mengelak hah?!”

Sial, ini bukan waktu yang tepat untuk cari gara-gara dengan mereka. Yang pertama aku harus menyelamatkan ranselku yang tergeletak itu. Ugh… kasihan, kau pasti kedinginan di tanah yang lembab itu ya?. Hu hu hu, mari-mari kemari anakku sayang~

“YAK! MAU MATI YA?!”

T-t-t-t-aaaaasku… hadiah istimewa dari Kang Rae Mi… ransel mini yang kuberi nama heli… sekarang ternoda oleh kaki sialan teman-teman Jiyeon!!!.

“Heh pencuri! Pasti sedih ya karena tas yang kau gunakan untuk menyimpan barang curian sekarang kotor!”

Tidak, aku tidak boleh diam saja. Meski tak ada barang berharga yang mudah rusak dalam ransel itu, tapi itu hadiah pemberian Rae Mi. Bahkan jika aku membeli dengan uangku sendiri, aku tak sudi antek-antek Jiyeon merusaknya setelah menuduhku tak karuan!.

“Siapa yang mencuri?, dari tadi kalian bicara apa HUH?!”

Jong In melempar satu buah makanan ringan kearah mereka, “Hentikan omong kosong kalian sebelum aku patahkan tulang leher masing-masing orang!” ancamnya dengan wajah bringas, yang tiba-tiba mengingatkanku akan masa lalu dimana pria ini masih menjadi preman sekolah yang ditakuti. Ha ha ha! Aku hampir lupa kalau sahabatku ahli dalam menakuti orang.

“Pencuri dan preman, relasi yang cukup bagus.”

Akh! Orang-orang ini semakin membuatku muak!. Apalagi si Jiyeon itu cuma diam saja.

“Oke, oke, sebelum berlangsungnya pertumpahan darah, sebaiknya kalian jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi sampai kalian datang padaku, melempar tasku dan menginjaknya lantas menuduhku sebagai pencuri.” Ujarku menahan kesabaran.

“Masih pura-pura polos rupanya. Padahal Jiyeon hampir kehilangan kalung berharga pemberian mendiang ayahnya karena pencuri sepertimu!”

“Kalung apa?! Dan siapa yang kau sebut pencuri dasar brengsek!”

Aku mengangkat tanganku yang terkepal kuat, hendak memukul empat gadis menyebalkan dan satu wanita yang sok menjadi korban itu. Sampai aku ingat berapa uang yang harus aku keluarkan di kantor polisi sebagai uang jaminan untuk Jinhyo. Aku tidak punya simpanan lagi, bahkan biaya kuliahku pun telah direnggut oleh bocah bodoh yang tak tahu cara balas dendam itu.

“Dengar ya, gadis bebal yang berteman dengan orang lain hanya demi uang!. Punya bukti apa kalian sampai menuduhku yang mencuri kalung Jiyeon, huh?!”

“A-apa?!. Yak! coba lihat ke dalam tasmu itu!. Awalnya kami tak mengira kalau kau yang mencurinya, tapi berdasarkan apa yang Jiyeon katakan, akhirnya kami memeriksa lokermu dan menemukan kalung itu berada disana!”

Baik, baik. Bahkan jika kau belum pernah melihat serial detektif mana pun atau tak pernah mengalami kejadian kriminal semacam ini, setidaknya jangan perbodoh dirimu dengan menelan mentah-mentah perkataan orang lain. Apalagi jika itu dari Jiyeon, Park Jiyeon yang mencurigakan.

“Ooh, jadi jika kalung itu ada dalam tasku maka aku pencurinya?”

Arrgghhh kenapa sih dengan orang-orang ini?!. Tidak cukup untuk membuatku menderita sekarang menambah masalah lagi?. Apa aku harus menjadi seseorang yang mengurung diri di kamar dan tak pernah bersosialisasi dengan manusia semacam mereka?. Kalau aku menghilang dari dunia ini baru mereka akan puas dan berhenti menghakimiku?. Memangnya apa salahku? Kenapa mereka senang saat orang lain susah-

Oh ada telepon, “Ya halo?” dari Sehun rupanya. Pantas dia belum kembali sejak pamit memesan makanan.

“Gawat. Kelas dosen Im. KUIS MENDADAK!”

Tidak perlu mendengar penjelasan lebih lanjut dari Sehun, aku segera menyambar tasku, mengacak-acak isinya untuk mengeluarkan kalung -apalah itu- tanpa menyentuhnya. Kata conan sih supaya tidak meninggalkan sidik jariku disana. Setelah itu aku memungut kembali buku cetak untuk mata kuliah dosen im beserta dua pena lantas menarik Jong In supaya ikut pergi denganku karena dia juga mengambil kelas yang sama.

“Yak Lee Hyojin!, kau tak berniat membalas mereka? Mau kabur dan menerima tuduhan mereka begitu saja?” tanya Jong In sambil menghentikan langkahku.

“ADA KUIS DADAKAN DARI SI BOTAK IM, BODOH!”

Baik Jong In maupun para gadis gila itu mendengar jelas teriakanku. Kami lantas berlari memasuki gedung universitas, menghiraukan masalah apa yang sebelumnya sedang dibahas. Karena kalian tahu, kuis dadakan dosen Im lebih penting dari apapun… lebih menyeramkan daripada sepuluh mayat berjalan tanpa kepala!.

*Author POV*

“Hosh… Jiyeon-ah… hah, apa tak masalah membiarkan Lee Hyojin begitu saja?”

Jiyeon menaruh jari telunjuknya diatas bibir, mengisyaratkan pada temannya itu untuk tidak membuat kegaduhan di kelas. Apalagi dosen Im sudah berada di mejanya, mengatur beberapa kertas yang merupakan kertas ujian untuk mahasiswa-mahasiswanya.

“Ki-kita bicarakan nanti saja… hosh… lagipula aku masih belum yakin ka-kalau Hyojin pelakunya.”

Teman Jiyeon berdecak sebal, mengalihkan pandangannya dari Jiyeon, kembali fokus mendengarkan penjelasan dosen Im sebelum kuis dimulai.

“Jiyeon-ah, kau itu terlalu baik pada orang lain.” Gumam temannya pelan.

Jiyeon terdiam, terlihat tak mengacuhkan sindiran gadis berkuncir dua yang duduk disampingnya, mengerjakan soal-soal esai didepannya dengan khidmat. Walau sebenarnya, dalam hati, dari lubuk yang paling dalam, gadis itu tersenyum puas.

***

Leader-ah! Kau yakin fakultas hukum ada disini?”

Mira mengambil nafas sebelum berbalik dan menunjukkan senyuman penuh keyakinannya pada Lee Young. Gadis yang lebih muda dari Mira itu menghampirinya dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

“Sebentar lagi sampai kok.”

“Katakan padaku. Kau kemari bukan hanya untuk mencari dompetmu kan?, tapi kau ingin bertemu dengan Sehun lagi kan? Kan? Kan?!” tanya gadis itu. memandang Mira dengan tatapan tajamnya seraya memojokkan kawannya tersebut.

Mira menelan ludah susah payah. Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Lee Young, sang penggemar -garis keras- Oh Sehun. Bahwa Mira memang harus bertemu Sehun sesuai perjanjian mereka dimana Mira akan melaporkan informasi yang ia dapat mengenai Park Yoora kepada Sehun. Meskipun Mira sendiri tak mengerti kenapa pria yang terkenal tampan itu butuh untuk menyelidiki seorang wanita.

“Yak! Jang Mira!”

Dan yang paling berbahaya adalah apabila Lee Young tahu kalau Sehun sedang penasaran pada seorang wanita, yang kualifikasinya lebih baik dari gadis itu sendiri.

“Bisa-bisa aku yang dihukum pancung oleh kedua belah pihak… eh salah! Maksudnya ketiga belah pihak. Cantumkan si Park Yoora itu pula bila dia tahu kalau aku sedang menyelidikinya.” Gumam gadis itu.

“Apa kau bilang?!” mari berharap Lee Young tak mendengar perkataan Mira yang sebenarnya diucapkan dengan super pelan itu.

“Memangnya kau dengar apa yang ku katakan tadi?”

“Tidak.”

Mira dapat bernafas lega sekaligus mendengus jengkel.

“Kalau tidak dengar, jangan mengagetkan orang lain seperti itu!”

“Memang kenapa kau harus terkejut?” Lee Young berhenti sejenak sebelum meneruskan, “Aha… kau pasti menyembunyikan sesuatu ya kan? Kan? Kan?”

“Aku tidak-”

Sebelum Mira dapat menyelesaikan sanggahannya pada tuduhan Lee Young. Panggilan teman mereka mengalihkan perhatian keduanya dimana seorang gadis dengan tinggi semampai, rambut panjang kecoklatan, berparas cantik dan sedikit terlihat seperti gadis eropa. Wanita yang cantiknya seperti model itu adalah teman baik Mira dan Lee Young, sedang berbincang dengan tiga orang pria yang masuk dalam daftar tampan bagi Mira.

“Ah, kadang aku merasa berada di dunia yang berbeda dengan Kimberly.” Ujar Mira dengan nada sedih yang dibuat-buat.

“Iya, Kimberly di dunia manusia, kau di dunia ghaib!” ledek Lee Young sebelum Mira semakin larut pada khayalannya. “Ayo cepat kesana!. Sepertinya Kimberly bertanya pada mahasiswa kampus ini karena mengira kau tersesat, dasar ketua tidak berguna!”

“Yak! yak! yak! kau… Bang Yongguk?”

Lee Young berbalik, kembali memberikan tatapan curiga pada Mira sekali lagi.

“Siapa Bang Yongguk?. Kenapa sepertinya kau punya banyak sekali rahasia sih?”

Mira tersenyum, misterus. Lantas menggeleng dan merangkul gadis yang lebih muda sekaligus lebih pendek darinya tersebut. Mengajaknya untuk kembali melanjutkan langkah, menghampiri Kimberly -teman mereka, juga tiga orang pria lain yang salah satunya dia kenal baik itu.

“Oh, ini teman-temanmu?” tanya pria berambut pirang yang terlihat begitu senang sejak Kimberly menghampirinya. “Salam kenal, namaku Choi Jun Hong!”

“Kau bertanya soal jalan atau mengajak mereka berkenalan sih?” sarkasme dari Lee Young membuat Jun Hong salah tingkah, pun merasa kesal pada sikap jutek gadis itu padahal dia hanya berusaha terlihat sopan pada teman-teman Kimberly. Wanita yang tiba-tiba saja menjadi incarannya.

“Sudahlah Jun Hong…” Himchan menepuk bahu juniornya itu agar lebih tenang menghadapi gadis yang baru dia temui itu, “…aku merasa dia sebelas banding dua belas dengan Hyojin.” Lanjutnya berbisik.

Jun Hong yang mengerti pun menjaga jarak dengan Lee Young, sebisa mungkin tak terlibat percakapan menyebalkan dengan gadis yang jauh lebih pendek darinya itu.

“Woi! Bang Yongguk!”

Yongguk yang tadinya sibuk bermain ponsel akhirnya mendongak begitu suara cempreng seorang gadis memanggil namanya dengan nada bicara yang sombong -menurutnya.

“Lama tidak berjumpa ya?” senyum miring Mira terukir. Sesuatu yang baru untuk dua temannya serta hal yang nampak serupa dengan Bang Yongguk menurut Himchan dan Jun Hong yang sudah terlalu sering melihat seringaian Yongguk.

“Choi Mira?” pria yang memiliki gaya rambut baru itu kembali menunjukkan ciri khasnya, “Oh salah, haruskah aku menyebutmu Jang Mira sekarang?”

“Ya, dan aku salah memanggilmu. Harusnya sekarang Kim Yongguk ya?”

Pandangan mata yang sama, seringai yang serupa. Meski memiliki wajah yang berbeda, namun masing-masing teman dari dua orang tersebut sama-sama memiliki perasaan yang tak nyaman berada di sekitar Mira dan Yongguk.

***

“Yak! Lee Hyojin!”

Gadis yang dipanggil namanya itu mengacak rambut kesal sebelum akhirnya berbalik untuk kembali menghadapi para mahasiswi yang sejak tadi memojokannya tanpa alasan yang jelas. Ia meminta Sehun dan Jong In pergi saja ke kelas berikutnya, toh dia merasa bisa menyelesaikan masalah konyol ini sendirian.

“Apa? Kau mau aku bertanggung jawab pada hal yang tak kulakukan?”

“Ya ampun! Masih keras kepala juga!” gadis berkuncir dua itu memandang Hyojin dengan tatapan remeh, “Sudah jelas kalung itu ada di tasmu! Dan tas itu sendiri berada dalam lokermu yang terkunci. Jadi mana mungkin ada orang iseng yang membuatmu disalahkan!”

Hyojin tertawa sinis, “Ya, lokerku terkunci dan kuncinya masih ada padaku sejak jam istirahat. Karena itu, tolong jelaskan bagaimana kalian bisa mencurigaiku sebagai pelakunya dan bagaimana cara kalian membuka lokerku?”

Gadis berkuncir dua itu terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Hyojin maupun membalas nada bicaranya yang menyebalkan. Sebagai korban yang sebenarnya, Jiyeon maju selangkah, berniat menenangkan perdebatan yang kini menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya karena mereka tengah bersiteru di dalam kelas.

“Hyojin-ah, maaf kalau kami membuatmu sakit hati. Aku juga tak mau asal menuduhmu, jadi tolong jelaskan kenapa kalung milikku bisa berada dalam tasmu yang dikunci dalam loker?”

Wajah murung dan memelas dari Jiyeon pastinya sanggup meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Baik pria maupun wanita, bahkan, bila dosen Im masih berada di kelas dan menyaksikan semuanya, maka beliau pun akan membela gadis itu dan memojokkan Hyojin.

“Sebelum kau bertanya seperti itu, kenapa tidak kau jawab dulu pertanyaanku?. Bukankah itu cikal bakalnya kau dan teman-temanmu menuduhku sebagai pencuri?”

Jiyeon terdiam, namun masih mempertahankan ekspresi sedihnya dan membuat orang-orang yang berada pada pihak gadis itu makin menyalahkan Hyojin. Meskipun mereka tak membantu menyelesaikan masalah Jiyeon sama sekali.

“Te-teman-teman melihatmu… mendekati mejaku… me-mereka bilang kau bertindak mencurigakan… karena itu…” Jiyeon menunduk dalam, beberapa orang dapat melihatnya menitikan air mata. Hingga akhirnya ia mendongak, menunjukkan pipinya yang basah. “Maaf Hyojin-ah!, aku tak punya pilihan lain. Ka-kalung itu satu-satunya pengingatku pada mendiang ayah. A-aku…” kata-kata gadis itu digantikan dengan tangisan sesenggukannya.

Hyojin menghela nafas panjang. Merasa begitu buruk karena bisa terkena masalah dengan Jiyeon serta antek-anteknya yang menyebalkan. Padahal Hyojin sendiri masih memiliki masalah lain, baik soal keluarganya maupun percintaannya. Ia tak mau satu kampus makin membencinya, apalagi rumor soal dia menggunakan kekuasaan Lee Dae Ryeong telah beredar sejak ia berada di universitas tersebut.

“Hah~ aku bisa gila!”

“Hyojin-ah!”

Kedatangan Chanyeol yang menerobos gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang mengerumuni Hyojin makin membuat gadis itu tertekan.

“Ada apa ini? kau membuat masalah lagi ya? Hari ini hari kencan kita yang kedua, aku sengaja minta izin pulang lebih awal dan dosen Sung setuju. Kau… sudah siap kan?”

“Sejak kapan kau jadi super cerewet sih?”

Chanyeol mengerutkan kedua alisnya, “Aku? Cerewet? Yang benar? Ah perasaanmu saja mungkin!”

“Permisi~ kami sedang ada urusan dengan Lee Hyojin?”

Chanyeol berbalik, memandang Jiyeon dan teman-temannya satu per satu. “Oh, aku pernah mengenalmu!. Euh… siapa namamu?” tunjuk Chanyeol pada Jiyeon yang tangisnya berubah menjadi ekspresi terkejut.

“Pa-Park Jiyeon…”

“Woah! Kita punya marga yang sama!” seru Chanyeol nampak sumringah. Ia pun kembali menghadap Hyojin, “Jadi, kau sudah siap pergi?. Setelah ini tak ada kelas kan?”

Hyojin mengangguk ragu-ragu, masih heran dengan kelakuan Chanyeol yang makin hari makin aneh. Pria itu segera menggamit lengan Hyojin, menariknya keluar dari kerumunan. Tapi salah satu teman Jiyeon, masih si gadis berkuncir dua, menahan dua insan kabur begitu saja.

“Tidak dengar ya?. Kami masih punya urusan dengan Lee Hyojin!”

Chanyeol mengedipkan mata beberapa kali sebelum menatap kekasihnya, “Kau punya urusan dengan mereka?” tanyanya dengan wajah serius yang dibuat polos.

Hyojin yang salah tingkah dengan genggaman tangan mereka menjawab dengan tersendat-sendat, “Tidak… tapi…”

“Dia bilang tidak.” tegas Chanyeol pada teman Jiyeon tersebut. “Juga, sebaiknya kau tidak memaksa sebelum punya bukti yang konkrit.” Imbuhnya tanpa senyuman seperti sebelumnya.

“Kalau begitu, permisi!” ucapnya, melenggang pergi dengan Hyojin dibelakangnya, “Adios amigos!”

“Hah?! Apa-apaan sih orang itu?!”

“Kekasihnya kah?. Sama anehnya!”

“Berwajah lugu berhati setan.”

Jiyeon menoleh pada seorang gadis berambut sebahu yang memeluk beberapa buku cetak, berkacamata, dan memakai pakaian yang orang Seoul sebut kuno.

“Itu kan yang kalian pikirkan tentang Hyojin dan Chanyeol?” tanya gadis itu, meletakkan tas selempangnya di kursi tempat biasa dia duduk, mengabaikan orang-orang yang bergerombol dan masih membahas soal dua orang terdekatnya tadi.

“Memangnya siapa kau? Temannya? Atau penjilat cucu Lee Dae Ryeong?”

Sindiran itu justru membuat gadis tersebut tersenyum, “Kenapa aku harus menjilat… pada ayahku sendiri?”

***

“Aku tidak mengerti, kenapa kau suka sekali membuat masalah dengan orang-orang berbahaya yang ada di kampus sih?!”

“Siapa? Jiyeon?”

Chanyeol menghentikan langkahnya, berbalik pada Hyojin yang berada beberapa meter dibelakangnya hanya untuk menyentil dahi gadis itu.

“Yak! sakit!”

“Supaya kau sadar!” sentak Chanyeol, beruntung koridor sepi jadi mereka tak menjadi sorotan publik. “Dulu Bang Yongguk, sekarang Jiyeon. Kau pikir dengan mendekatinya, kau bisa merubah wanita itu dan menjadikannya temanmu?”

“Aku tak pernah berniat menjadikannya teman. Sudah terlalu banyak orang yang berada disekitarku dan mengetahui seluk beluk masa laluku.” Jawab Hyojin tak acuh. “Aku mau beli ice cream, kau mau?” ia mengalihkan pembicaraan.

Chanyeol meraih bahu gadis itu, membuatnya menatap langsung kedua mata Chanyeol yang nampak serius.

“Jiyeon orang yang berbeda. Aku dulu satu angkatan dengannya, sebelum kau masuk ke kampus ini. Dia berbahaya, selain dari golongan chaebol dia juga seorang cleptomania.”

Alis Hyojin terangkat sebelah, “Hah?!”

“Kau pasti tahu maksudnya mengingat kau adalah seorang mahasiswi jurusan psikologi. Belum satu semester di jurusan hukum, Jiyeon hampir dikeluarkan dari kampus karena ketahuan mencuri barang-barang milik mahasiswa lain. Selain itu dia juga menuduh temannya sendiri sebagai pelakunya hingga mahasiswa tersebut harus diskors.” Chanyeol mulai bercerita, “Saat semester kedua barulah kelakuan buruk gadis itu diketahui karena masih banyak pencurian yang terjadi, dan akhirnya dipindahkan oleh keluarganya ke jurusan kedokteran dan menghapus segala berita mengenai Jiyeon.”

“Bagaimana mahasiswa itu membiarkan dirinya dituduh tanpa membela diri?”

“Entahlah…” Chanyeol melanjutkan langkahnya diikuti Hyojin dibelakang yang masih setia mendengar cerita pria itu. “…mungkin karena kekuasaan keluarganya, atau Jiyeon memang pandai melakukannya.”

“Dan kenapa kau menceritakan ini padaku?. Padahal kau bisa saja mendapat masalah dengan si Jiyeon itu.”

Chanyeol berhenti sekali lagi, namun tidak menoleh sama sekali sambil menjawab pertanyaan Hyojin.

“Karena aku ingin melindungimu.”

Pipi Hyojin memanas. Dia bahagia mendengar pernyataan Chanyeol yang begitu manis. Tapi entah mengapa di tengah kebahagiaan itu ia masih merasa tak nyaman pada perubahan sikap Chanyeol. Seperti momen manis itu dibuat-buat oleh sang kekasih. Kakinya mundur beberapa langkah, menatap punggung Chanyeol lantas berlalu. Meninggalkan pria tinggi yang kebingungan akan tingkahnya.

“Siapa yang melindungi siapa coba?” lirihnya dengan mata berair.

‘bruk’

“Aishh! Brengsek macam mana yang berjalan tidak melihat sih?!”

Umpatan gadis itu terhenti saat mengenali orang yang menabraknya hingga jatuh tersebut. Seorang pria, yang cukup tinggi, berwajah tampan dan berkulit putih. Mengulurkan tangannya seraya memperlihatkan ekspresi khawatirnya untuk Hyojin yang telah ia tabrak. Sebelum gadis itu sempat menerima uluran tangan beserta simpatinya, pria tersebut memasang senyuman manis dengan lesung pipinya yang menawan.

“Kau baik-baik saja?”

Hyojin mengabaikan uluran tangan itu, lebih memilih untuk berdiri sendiri meski bagian belakang tubuhnya serasa mau copot -hiberbolanya Lee Hyojin.

“Normalnya, ekspresi seseorang begitu merasa bersalah karena menabrak orang lain yaitu khawatir, cemas, dan takut terjadi suatu hal buruk pada orang yang ia tabrak juga marah bila dia merasa tak bersalah.” Ujar Hyojin seraya membersihkan celananya yang dirasa kotor, “Bukannya tersenyum dan tebar peson mentang-mentang tampan.”

“Hyojin-ah! Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol memastikan keadaan gadis itu yang tiba-tiba berlari darinya dan tiba-tiba jatuh. “Lalu siapa kau?”

Kim Myungsoo. Nama yang tertulis pada map yang pria itu pegang. Mengingatkan Chanyeol pada nama seseorang yang ada hubungannya dengan insiden Jiyeon di masa lalu. Tapi ingatannya tak begitu jelas.

“Hebat, junior jurusan psikologi sudah semakin keren ya?. Menggunakan ilmu psikologi untuk analisis kehidupan sehari-hari.”

“Darimana kau tahu kalau Hyojin dari jurusan psikologi?” tanya Chanyeol curiga setelah pertanyaan sebelumnya diacuhkan.

“Maaf karena sudah membuatmu terjatuh…” pria itu mengacak rambut Hyojin pelan, “…lain kali juga hati-hati ya?. Sampai jumpa!”

“Wah tidak sopan sekali memegang kepala orang lain!” keluh Chanyeol setelah pria yang disangka bernama Myungsoo itu pergi. Chanyeol menarik rambut Hyojin yang tak mengalihkan tatapannya dari pria tampan itu.

“Matamu seperti mau lepas dari tempatnya!”

Hyojin mendengus, mengabaikan komentar-komentar Chanyeol soal pria tadi yang merupakan senior Hyojin yang baru dia ketahui beberapa hari yang lalu. Kemudian pasrah sebab ditarik kembali oleh Chanyeol, mengikuti rencana pria itu untuk acara kencan kedua mereka.

~To Be Continue~

Holaaaa maaf maaf lama updatenya. Minggu yang lalu sakit dan minggu kemarin ada urusan di kampung. Semoga yang sekarang menghibur.

Dan maaf sekali lagi karena scene Chanjin-nya kurang. Pengen banyakan romancenya tapi keinget kalau masih banyak masalah lain selain cinta-cintaannya mereka.

Okedeh RCL Juseyooooo~~~

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You (Chapter 10)

  1. cieehhh myungsoo udah berani ngacak” rambut hyojin… blm pernah ditonjok kali yaaaa…hahahahah
    chan panas tuhhhh….
    tiap chap yg muncul, selalu ada misteri yaaa….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s