[EXOFFI FREELANCE] Let’s Fall For Love (Oneshot)

LETS FALL FOR LOVE

LET’S FALL FOR LOVE – FireWind924
Oneshot || Zhang Yi-xing (Lay) & Wu Jia-yi || Marriage-life || PG-15 || Other Cast : Zhao Li-yin, Xiu-min (EXO), Ren Jia-kai

Summary :
Daripada membuang waktu untuk membenci, bukankah lebih baik belajar untuk mencinta? Sesekali, kita harus ramah kepada takdir.

Disclaimer :
Cerita ini murni dari pikiranku. Aku hanya ingin berbagi imajinasi, silakan dinikmati dan diapresiasi dengan bijak (

***

Mata sayu milik Yi-xing terpekur menatap cangkir putih berisi Americano yang tak lagi berasap. Ia berkedip satu kali sebelum akhirnya beralih menghadapkan wajah kepada gadis yang duduk di depannya. Seketika ia merasa kesunyian mengelilingi kanan kirinya, padahal kafe itu tidak terlalu sepi saat ini. Musik yang sejak tadi mengalun tiba-tiba terasa senyap di telinganya. Mata, hidung, bibir, Yi-xing memperhatikan dengan seksama pahatan wajah ayu gadis itu. Gadis yang saat ini melihatnya dengan raut datar dan mata yang berkaca-kaca. Bibir mungil merah bata itu terkatup rapat. Sungguh, Yi-xing sangat membenci suasana ini. Detik selanjutnya, bibir gadis itu terbuka, kembali bersuara.
“Kurasa, apa yang kukatakan tadi sudah cukup jelas. Kita sama-sama terluka dalam hubungan ini. Jadi, lebih baik kita akhiri saja.” Suaranya lirih, ada sedikit getaran dalam nadanya. Gadis itu menahan tangis. Gadis yang akan menjadi mantan kekasihnya jika tawaran perpisahan ini mendapat kata sepakat. Yi-xing bisa membaca perasaan gadis itu. Dia juga tidak menginginkan perpisahan ini.
Yi-xing menghela napas dan menghembuskannya cepat, berusaha menghilangkan rasa sesak. Ia masih menyayangi gadis itu, masih mencintainya. Sungguh ia mengutuk perjodohan sial itu dalam hati. Andai saja ayahnya tidak membuat janji terkutuk itu dua puluh tahun yang lalu, tentu tidak seperti ini jadinya. Ia masih betah mengamati wajah gadis itu seperti sedang menghafal setiap garisnya. Sementara sang pemilik wajah masih menatapnya menuntut jawaban. Ya, gadis itu butuh kepastian.
“Baiklah. Ayo kita putus.” Akhirnya Yi-xing mengucapkan kalimat itu. Ia bersumpah demi apapun bahwa dirinya merasa seperti tenggelam di laut dalam tanpa tabung oksigen, sangat sesak.
Gadis itu tersenyum. “Hah, aku lega sekarang.”
Bodoh. Yi-xing tersenyum tipis, merasa bersalah dengan kepura-puraan gadis itu. Gadis yang sudah dua tahun menjadi kekasihnya dan kini harus berpisah. Ya, kali ini takdir sedang tak besahabat dengannya.
“Zhang Yi-xing.” Masih dengan tersenyum gadis itu mengucapkan namanya. “Aku bersyukur Tuhan telah mengizinkanku terlibat dalam pertemuan ini. Bisa bertemu denganmu, mengenalmu, dan mungkin pernah menjadi orang yang istimewa untukmu, semuanya adalah hal yang membahagiakan untukku.” Dan cairan bening itu akhirnya keluar dari persembunyiannya. “Terima kasih untuk semuanya.”
“Aku juga berterima kasih padamu, Zhao Li-yin.”
Kini mantan pasangan itu saling melempar pandang. Tidak ada lagi jemari yang bertaut. Hanya ada senyuman sebagai sepasang kawan. Langit gelap semakin pekat di luar sana. Dan perlahan tapi pasti, air langit jatuh satu-satu menghambur daratan. Agak banyak, semakin banyak. Gemuruh guntur mulai berbisik di sela-sela awan. Aroma tanah basah menguat dan pepohonan mulai melambaikan daunnya dibelai angin.

***

Sinar itu menyilaukan sepasang mata yang pemiliknya masih terlelap bergumul selimut. Pria bertubuh atletis itu duduk perlahan kemudian menyibak selimut lalu bangkit dari pembaringan. Ia menatap ke sekeliling kamar yang didominasi warna cokelat susu itu. Ada kemeja, celana lengkap dengan dasi yang masih terlipat di sofa kecil tak jauh dari ranjang. Tak hanya itu, sebuah kopor berukuran tidak terlalu besar berwarna perak berdiri di dekat sofa itu. Yi-xing memperhatikannya satu per satu. Ia baru ingat ada perjalanan dinas ke Osaka siang ini.
Pria bermata teduh itu melangkahkan kakinya keluar kamar. Ia berjalan menuju dapur dan disambut aroma kopi pagi yang asapnya masih mengepul di atas meja makan. Seorang wanita ayu berambut cokelat sebahu menghampirinya dengan membawa piring berisi dua lembar roti panggang di tangan. Wanita itu tersenyum padanya. “Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak? Duduklah.”
Yi-xing menarik satu kursi dan duduk sesuai dengan apa yang dikatakan wanita itu. “Aku tidur sangat nyenyak. Kau?”
Wanita itu tersenyum. “Aku juga tidur dengan nyenyak, berkat pelukanmu.” Kemudian menempatkan diri di kursi di hadapan Yi-xing. Berbeda dengan Yi-xing, dia sarapan dengan susu segar meski sama-sama makan roti panggang. “Apakah lenganmu baik-baik saja. Sepertinya aku terlalu lama tidur di lenganmu.”
“Kurasa baik-baik saja. Masih bisa digerakkan.” Yi-xing memijat pelan lengan kanannya.
Ia mengambil cangkir berisi kopi buatan wanita itu, menyeruputnya pelan, merasakan pahit manisnya cairan hitam itu. Indera perasanya menerima dengan baik, segalanya terasa pas. Kemudian ia mengoles roti dengan selai buah stroberi kesukaannya lalu menggigit dan mengunyahnya lahap.
“Semuanya sudah kukemas. Kau tinggal membawanya saja.”
“Ya, terima kasih. Kenapa kau melakukannya? Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Yi-xing menggigit lagi rotinya.
Senyum itu kembali mengembang. “Itu sudah menjadi kewajiban seorang istri.” Wanita itu kembali meminum susunya dengan mata yang terus menatap Yi-xing.
“Wah, sejak kapan Wu Jia-yi menjadi rajin begini?”
Mata indah itu menyipit seolah sedang berpikir keras. “Emmm…sejak menjadi istrimu? Hahaha.” Wanita itu tertawa. Dan tawa itu menular pada Yi-xing.
“Oh, ya, kau ingin kubelikan apa di Osaka?”
Jia-yi tersenyum. “Aku sedang tidak menginginkan apapun, yang penting kau kembali dengan selamat.” Oh, sangat klise. Jia-yi bahkan hampir tak percaya kalau kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri.
Yi-xing hampir tertawa, “Dari mana kau mendapatkan kalimat seperti itu?”
“Aku hanya sedang ingin berkata begitu. Kenapa? Menggelikan, ya?”
“Tidak juga. Aku senang mendengarnya.” Pria itu kembali tersenyum menciptakan lesung di pipinya. Yi-xing melihat jam di layar ponselnya. “Oh, sudah jam segini.” Ia menghabiskan kopinya. “Aku mandi dulu.”
“Mau kusiapkan air hangat?”
“Tidak usah.”
“Oh, kemeja yang akan kau pakai sudah kusiapkan di dekat ranjang.”
Yi-xing bangun berdiri. Ia melangkah mendekati istrinya. Tangan kekarnya terangkat mengelus pelan kepala wanita itu. “Aku tahu.”
Dan Wu Jia-yi hanya tersenyum menatap suaminya.
Kopi pagi, susu segar, roti panggang dan tawa renyah mengawali hari ke 90 mereka menjadi sepasang suami istri. Sungguh pagi yang hangat. Ya, mereka memutuskan untuk menerima perjodohan ini dengan lapang dada.

***

Xiu-min belum berniat mengalihkan pandangan dari wanita yang duduk di depannya. Wanita cantik dengan rambut sebahunya yang diikat jadi satu ke belakang menyisakan rambut-rambut pendek yang menutupi sebagian dahinya. Wanita itu meminum minumannya dengan santai. Sesekali mata indahnya menatap ke arah luar jendela menikmati langit sore yang teduh. Xiu-min memperhatikan gerak tangan yang sedang menaruh cangkir di atas meja kemudian kembali menatap wajah ayu itu.
“Bagaimana pernikahanmu?” Bibir Xiu-min sudah gatal ingin menanyakan hal itu. Wanita dengan cardigan cokelat tua itu hanya berbicara basa-basi sejak pertemuan mereka sepuluh menit yang lalu.
Mata gadis itu menerawang kemudian membalas tatapan Xiu-min. “Baik-baik saja. Semua berjalan sebagaimana mestinya.” Senyumnya mengembang tipis.
“Jadi, kau mulai menikmatinya?”
“Ya, aku mulai menikmatinya.”
“Bukankah awalnya, kau sangat menentang pernikahan ini?” Xiu-min benar-benar merasa seperti seorang reporter yang mendesak narasumbernya. Entah mengapa ia begitu penasaran dengan kehidupan sahabatnya itu.
Lagi, wanita itu tersenyum. Xiu-min menyipitkan mata dan mengerutkan dahinya lalu perlahan ikut tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi tanpa melepas pandang dari wajah wanita itu. “Bila dilihat dari raut wajahmu, sepertinya kau benar-benar sudah menerimanya, Wu Jia-yi.”
Jia-yi mengelus gagang cangkir putih itu dengan ujung jari telunjuknya. “Kau benar. Aku mulai menerimanya. Bahkan semalam aku tidur di pelukannya.”
Ia tersenyum ketika mengingat kembali kejadian itu. “Aku memang sempat membencinya. Tapi sekarang, aku merasa sudah membuang waktuku sia-sia. Daripada terus membenci, lebih baik aku belajar menerimanya. Aku tidak mau menyiksa perasaanku sendiri. Kurasa, dia juga begitu.” Ada jeda sebentar. “Kami sama-sama berkorban untuk pernikahan ini. Dia juga terluka, maka aku tidak boleh hanya memikirkan perasaanku sendiri.”
“Jadi, kau benar-benar sudah melupakannya? Kekasihmu itu? Oh, mantan kekasih maksudku.” Dan kini Xiu-min merasa seperti seorang penyidik di kantor polisi.
“Mana mungkin? Tentu saja aku tidak melupakannya, tapi aku hanya menjadikannya sebagai kenangan.”
Jia-yi menatap langit dari jendela kafe ini. Sore yang indah. “Itu adalah bagian dari hidupku. Salah satu cerita dari sekian bab kehidupanku. Aku tidak akan melupakannya.”
“Apakah saat ini kau merasa bahagia?”
Wanita itu mengangguk. “Ya, aku bahagia.” Dan tersenyum. Ia menghela napas dan menghembuskannya pelan lalu meminum lagi minumannya. Tiba-tiba ia merindukan seseorang.
Xiu-min juga mengangkat cangkirnya. “Syukurlah kalau begitu.” Diminumnya kopi itu, “Kapan dia akan kembali dari perjalanan dinasnya?”
“Besok malam.” Jia-yi menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudian menyilangkan kaki.
Xiu-min tersenyum. Ia turut bahagia dengan apa yang dialami sahabatnya itu. Sahabat yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Ia benar-benar menyayanginya sebagai adik, mengingat dirinya adalah anak tunggal. Sebagai wanita? Tidak mungkin. Xiu-min sudah memiliki bidadarinya sendiri. Ponsel pria itu bergetar.
“O, permaisuriku menelepon!”

***

Pria bertubuh tinggi tegap itu keluar dari kamar hotelnya dengan pakaian santai. Ia melangkah menuju pintu yang ada di seberang pintu kamarnya. Ujung telunjuknya menekan tombol bel, memanggil penghuni kamar itu. Arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya ia lirik, sudah waktunya makan siang. Masih belum ada tanda-tanda pergerakan dari pintu di hadapannya saat ini. Ia menekan lagi tombol bel itu tiga kali, merasa kesal karena dibiarkan menunggu.
Cklek!
Pintu itu terbuka. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil menatap sosok yang berdiri di ambang pintu.
“Hei, Zhang Yi-xing! Kenapa kau lama sekali?”
Yi-xing hanya tersenyum. “Aku baru selesai mandi.” Ia maju selangkah lalu menutup pintu. “Jia-kai, kita akan makan siang dimana?”
Mereka berjalan bersama menuju elevator. Tanpa menunggu lama, pintu besi itu terbuka. Kedua pria itu segera masuk. Tidak ada siapapun di dalam kabin besi itu. Jia-kai menekan tombol angka satu. Sementara Yi-xing membenarkan kerah jaketnya.
“Kita makan di hotel saja. Setelah itu siap-siap untuk pulang.” Jia-kai memandang ke arah Yi-xing lalu kembali menghadapkan wajahnya ke depan. Hening. Tapi kemudian Jia-kai kembali menoleh pada atasan sekaligus sahabatnya itu. “Yi-xing.”
“Ada apa?”
“Apa kau pernah mendengar kabar dari Li-yin?”
“Tidak. Kenapa? Kau pernah?”
“Mmm… aku pernah mendengar dari seorang teman, katanya Zhao Li-yin tinggal di Amerika sejak tiga bulan yang lalu.” Jia-kai melirik wajah Yi-xing, memperhatikan ada tidaknya perubahan raut dari wajah tenang itu.
“Oh, begitu.” Komentar yang sangat singkat dari bibir seorang Zhang Yi-xing.
“Dia juga akan menikah dalam waktu dekat ini.”
Wajah itu masih bertahan dengan raut datar. “Syukurlah kalau begitu. Lalu?”
“Ya, kupikir, mungkin saja kau masih ingin tahu tentang apa yang dilakukan Zhao Li-yin setelah kalian berpisah. Jadi, aku memberimu informasi tentangnya.”
Yi-xing menatap wajah sahabatnya. Tangannya terangkat menepuk pelan bahu tegap itu. Ia tersenyum tipis. “Terima kasih atas informasinya.”
Ting!
Pintu itu terbelah. Kedua pria tampan itu segera keluar melangkah menuju tempat dimana perut mereka bisa terisi sebelum kembali ke tanah air.

***

Jia-yi membuka pintu kamarnya dan segera menghambur ke ranjang. Ia duduk di tepinya menghilangkan rasa pegal pada pergelangan kakinya setelah membereskan rumah. Ia bisa saja menyewa asisten rumah tangga, tapi lebih baik dikerjakan sendiri menurutnya. Lagipula, ia tidak bekerja dan memiliki banyak waktu luang. Tanpa sengaja ia melihat foto pernikahannya yang ada di atas meja nakas di samping tempat tidur. Ia dan Yi-xing tersenyum lebar dalam foto itu meski belum ada cinta di antara mereka. Benar-benar aktor yang baik.
Jia-yi meletakkan kepalanya di bantal yang biasa dipakai Yi-xing, berharap bisa menghirup aroma pria itu. Matanya terpejam. Ia benar-benar merindukan pria itu. Ia merindukan suaminya. Pria yang sempat ia benci karena menikahinya. Memang bukan salah pria itu. Dan juga bukan karena keinginan pria itu mereka bersatu. Semuanya karena perjanjian yang dibuat para orang tua ketika mereka masih kecil dulu. Ya, orang tua mereka bersahabat. Jia-yi dan Yi-xing juga berteman, tapi mereka memiliki kehidupan masing-masing. Keduanya hanya bertemu ketika ada pesta yang digelar kolega orang tua mereka.
Dan sekarang perasaan itu berubah perlahan tapi pasti. Ia melihat jam yang terpasang di dinding kamar. Sudah hampir malam. Yi-xing akan sampai dalam waktu beberapa jam lagi. Jia-yi langsung bangun dan keluar dari kamar. Ia harus segera bersiap untuk menyambut suaminya.

***

Jarum paling kecil itu terus berpindah titik menunjukkan waktu terus berjalan. Yi-xing menghembuskan napasnya lelah. Belum ada tanda-tanda Jia-kai turun dari kamarnya. Dan Yi-xing sudah menunggu selama setengah jam di lobby. Awas saja kau Ren Jia-kai. Benar-benar kawan yang menyebalkan. Pria itu menghentakkan kakinya sebal. Ia bangkit dari duduknya berniat menyusul Jia-kai di kamarnya. Itu adalah niatnya, sebelum langkahnya terhenti ketika melihat sosok cantik yang berdiri sekitar tiga meter di depan matanya. Zhao Li-yin.
Wanita itu hanya berdiri menatapnya. Yi-xing juga melakukan hal yang sama. Keduanya hanya saling melempar pandang seperti sama-sama terkejut. Wanita itu menoleh ke samping sebentar lalu kembali melihat Yi-xing. Senyumnya mengembang perlahan dan tangannya terangkat melambai ke arah Yi-xing, tapi tetap pada tempatnya.
Yi-xing tersenyum. Kakinya terasa berat untuk sekedar melangkah menghampiri gadis itu. Ia bahkan masih setengah percaya kalau sosok itu benar-benar Zhao Li-yin. Sekelebatan bayangan masa lalu menari di pikirannya. Gadis itu pernah sangat ia cintai. Gadis itu pernah bahagia bersamanya. Sampai akhirnya menangis ketika mereka terpaksa harus berpisah.
Ada seorang pria mendekati Li-yin. Penampilan pria itu menggambarkan sosok yang baik. Tangan pria itu langsung merangkul bahu Li-yin yang mungil. Li-yin tersenyum pada pria itu. Lalu mengangguk seperti sedang menjawab ajakan pria itu untuk pergi.
Yi-xing masih memperhatikannya dari jauh. Ia teringat kata Jia-kai saat mereka di dalam elevator. Gadis itu akan segera menikah. Ia bisa melihat Li-yin menoleh ke arahnya. Mungkin gadis itu bermaksud mengucapkan salam perpisahan. Sementara dirinya masih tersenyum seperti orang dungu. Ia meneguhkan hatinya sekali lagi untuk menyimpan kenangan bersama gadis itu sebagai bagian dari masa lalu.
“Maaf membuatmu menunggu lama.”
Suara Jia-kai membuatnya tersadar. Ia berbalik menghadap sahabatnya. Jia-kai sudah siap dengan kopornya. Tapi Yi-xing hanya menatapnya datar. Pria berdagu lancip itu mengernyitkan dahi, heran dengan reaksi sahabatnya itu.
“Jia-kai, aku sudah melihatnya.”
“Melihat apa?” Jia-kai terlihat sangat heran.
“Penggantiku. Calon suami Zhao Li-yin.” Dan entah mengapa, ia benar-benar merasa lega sekarang. Ia benar-benar bisa bernapas lega. Tiba-tiba muncul seseorang dalam pikirannya, Wu Jia-yi.

***

Yi-xing sudah berada di dalam mobilnya menuju rumah. Langit sudah gelap ketika ia sampai. Kuda besi itu terpaksa harus berhenti sejenak karena lampu lalu lintas yang berubah merah. Mata lelahnya menatap ke luar jendela mobil. Hujan sudah berhenti, tapi masih ada gerimis tipis yang turun. Yi-xing mengambil ponselnya. Ia ingin menelepon seseorang.
Dengan rapi, Jia-yi meletakkan dua piring berisi daging bistik masakannya itu di atas meja makan. Ia tampak santai dengan baju hangat abu-abu dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat ke belakang seperti biasa. Ponselnya berdering.
“Halo?”
“Halo, kau sedang apa?”
“Aku sedang merapikan meja makan. Kau sudah sampai?”
“Ya, aku dalam perjalanan menuju rumah. Apa yang kau masak?”
“Kau akan tahu nanti. Cepatlah kembali sebelum semuanya dingin.”
“Ya, aku sudah semakin dekat.”
“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Kututup ya?”
“Tunggu dulu.”
Terdengar suara pintu dibuka. Jia-yi menoleh kaget. Hanya dia dan Yi-xing yang tahu kode pintu rumah ini. Tiba-tiba ia merasa takut. Ia berjalan keluar dapur mendekat menuju pintu.
“Ada seseorang yang membuka pintu rumah kita.” Jia-yi mengecilkan volume suaranya.
Tidak ada jawaban.
“Halo? Yi-xing?” Suaranya mulai terdengar takut.
Tidak ada jawaban.
“Yi-xing?”
Tetap tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gemerisik.
“Kau tidak perlu takut. Itu aku.”
Seketika Jia-yi terpaku di tempatnya. Kini pria itu berdiri di depannya dengan senyuman dan ponsel yang masih ditempel di telinga. Pria itu menurunkan ponselnya, mengakhiri panggilan. Jia-yi juga menurunkan tangannya. Matanya berkedip-kedip. Sepertinya ia masih sedikit terkejut.
“Aku pulang.” Suara lembut Yi-xing membelai telinganya yang rindu. “Tanganku masih dua.” Pria itu mengangkat tangan kanannya. “Kakiku masih bisa berdiri dan berjalan.” Satu-satu Yi-xing melangkah pada Jia-yi. “Mataku masih bisa melihatmu. Berarti aku pulang dengan selamat `kan? Sesuai permintaanmu.”
“Ya, kau benar.” Ucap Jia-yi tanpa beranjak.
“Kenapa? Kau tidak mau memelukku?” Dan selanjutnya, pria itu merentangkan kedua tangannya.
Dan Jia-yi menyambutnya. Tanpa ragu ia mendekap tubuh kokoh itu. Yi-xing mengurungnya dalam pelukan. Akhirnya Jia-yi dapat menghirup aroma pria itu. Aroma yang ia rindukan. Dan ia mencintainya.
“Sebegitu rindukah?”
Ia bisa merasakan dagu Yi-xing menyentuh puncak kepalanya. Pria itu melepaskan pelukannya. Mereka saling menatap. Yi-xing mendekatkan wajahnya perlahan, mengecup lembut bibir istrinya. Mereka tersenyum.
“Aku sangat merindukanmu.” Bisik pria itu membuat Jia-yi merinding.
Dan Yi-xing mengecup bibir mungil itu lagi. Kali ini dengan sedikit lumatan. Tangan kekarnya meraih tengkuk Jia-yi dan mulai memainkan lidah di mulut istrinya.
Malam hampir larut. Daging-daging itu dibiarkan dingin hingga pagi menjelang. Kerinduan membuat mereka melupakan potongan-potongan tenderloin berbumbu itu. Gerimis masih turun dengan setia mencumbu pucuk-pucuk daun, jatuh ke tanah dan pasrah diinjak kaki ataupun terlindas ban karet. Dan mereka telah memutuskan untuk saling jatuh cinta.

**

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Let’s Fall For Love (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s