[EXOFFI FREELANCE] Dear Lady (Chapter 1)

dear-lady-req.jpg

DEAR LADY

~

Finder_Hanwu

|| Chapter || AU? Romance? Hurt? || T ||

Park Chae-Young (BlackPink) as Rose Parker

Oh Sehun (EXO) as Christopher/Sehun

Xi Luhan (EXO)

Other cast

Disclaimer:

Hallo! Cerita ini murni dari pemikiranku yang tiba-tiba(?) muncul disaat asam lambungku naik(?). tidak ada unsur copas atau plagiat. Aku mencoba membawakannya dengan gayaku sendiri.

Typo everywhere!

Do you ask me? https://ask.fm/Finderwu14

Poster By: https://posterfanfictiondesign.wordpress.com/designer-2/available-designer_kyuoung/ @ https://posterfanfictiondesign.wordpress.com/

-Happy Reading-

Summary: You know that you drive me crazy. But it’s one of the things I like and that’s the way you turn me on. Cause I know you need it.

@@@

And I have a long memory to I fuse it back together

.

.

.

               Semua menatap terkagum pada menara tinggi menjulang  seakan menusuk langit. Kemilau cahaya singkat mangkir diujung besi kokohnya.

Eiffel Tower.

               Tak heran banyak turis berkunjung untuk melihat bahkan naik tinggal diatas sembari menghirup indahnya kota paris. Faktanya bagi penduduk lokal atau wisatawan, kota terindah ini disebut daftar awal bagi pasangan kekasih untuk kencan atau kesenangan bagi mereka. Sangat ramai sekali dan elegan.

               Terlihat gadis yang tengah duduk sembari memperhatikan  tingginya puncak Eiffel. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Dalam pikirannya ia bertanya-tanya, ‘Sebegitu kuatnya pesona menara ini?’

pikirannya mulai berselancar jauh kedalam menerobos ingatan masa lalunya.

“Ayo!” teriak bocah laki-laki itu sembari memegang tangan kecil bocah perempuan.

Bocah lelaki itu menyeret  senang tangan sang bocah perempuan sementara sibocah perempuan juga nampak tersenyum polos. Mereka berjalan menerobos kerumunan pengunjung.

Mereka berhenti didepan menara ini. bocah laki-laki masih tak ingin melepaskan genggamannya pada tangan sang bocah perempuan. Mereka menatap kagum pada fokus tinggi dihadapan mereka. Tak menghiraukan banyak orang yang melintas. Kondisi sekitar mereka memang telah ramai.

Sang bocah laki-laki menoleh pada samping kanannya. Ia tersenyum lebar. Sang bocah perempuan. Merasa diperhatikan, si bocah perempuan itu turut mendongak  pada si bocah laki-laki. Ia terpesona dalam senyuman bocah laki-laki yang memegang posesif tangannya.  Bocah laki-laki ini memang lebih tua darinya dan ia juga tinggi.

Ia merasa nyaman dan lega. Sang bocah perempuan mengerjapkan matanya mungilnya lalu tersenyum manis. lebih manis dari coklat belgia kesukaannya. Mungkin begitu pikir sang bocah laki-laki. Eiffel tower, Tak bergerak dan tak bicara menyaksikan dua bocah polos untuk mereka tersenyum.

               Gadis itu tersenyum  sendu. Tapi sirat akan kekecewaan. Ia lupa sebagian kelanjutannya. Kemudian ia menunduk. ia betah berlama-lama disini walau semakin lama ia tingal, sebuah kekosongan menjajah suasana hatinya.

               Ia memperhatikan wisatawan yang berlalu lalang. Ia bangkit kemudian menghembuskan nafas. ia baru tahu kalau sedari tadi ia menahan nafasnya pada sepotong ingatan monokromnya.

              Terlihat dari name tag miliknya, gadis ini bernama ‘Rose Parker’. Gadis  berusia 18  tahun. Selama itu pula –sebanyak  ia melewati obyek tinggi,Eiffel tower –ruang hatinya kosong dan ingatan lalunya terpotong. Rose bingung. Mungkin saja ia merasa lain.

               Dirinya tak terlihat seperti penduduk lokal Paris. Ia memiliki paras wanita Asia. Dan ia berterimakasih pada Ayahnya, Mr.Teustavious Parker, yang menurunkan gen rambut pirang dan kulit putih padanya. dikelasnya, Rose terlihat mencolok karena kulit putihnya.

               Rose bangkit dan berjalan meninggalkan area Eiffel Tower. Ia tidak mengenakan mantel tebal selutut miliknya karena cuaca Paris kali ini mendukung dirinya berada diluar. Ia begitu menyukai musim panas –berharap liburan musim panasnya segera tiba. Rose jalan kaki menuju apartementnya yang hanya memakan waktu 15 menit.

                Kala Rose tiba di Apartement-nya, ponsel berdering. Rose meraih ponselnya disaku blazernya dan memasuki lift. Ia memencet tombol menuju lantai 5.

Hallo” Ucap Rose dalam telfon.

“Rose” Rose yakin jika suara diseberang sana adalah Ayahnya.

“Papa”

… … …

“Seluruh berkas sudah disiapkan?”

“Sudah.” Sehun langsung menerima dan memeriksa isinya. Dahinya berkerut dalam ketika menelaah  setiap klausul yang ada. Setelah lama, ia mendongak menatap datar sekretarisnya.

“Aku harap rencana ini berhasil dan bersih.” sungguh ucapan yang penuh penekanan dan terdengar seperti… ancaman? Sehun dapat melihat raut wajah ketakutan sekretarisnya. Walaupun si sekretaris menunduk dan berusaha menyembunyikan raut wajah tegangnya. Sehun menyenderkan bahunya pada kursi kekuasaannya lalu melempar map keatas meja.

“Kembali bekerja” Sang sekretarispun menunduk hormat lalu berlalu keluar dari ruang Bos-nya. ia tidak tahan jika harus berlama-lama diruangan ini untuk menghadap pada Bos-nya.

              Sehun meraih ponselnya dan mulai mengetik sesuatu disana. Ia menelfon seseorang. Baru 4 detik ia menunggu, Sehun mendecak kesal. Apa pria ini tidak bisa menunggu sebentar agar panggilannya terjawab? Tidak! Sehun, tidak bisa menunggu. Lagi pula, ini bisa membuang waktunya.

“Ada apa, Sehun?” Sehun terhenyak kala seorang diseberang sana bersuara. Sehun bangkit dari kursinya dan menatap suasana kota dibawah gedungnya.

“Bagaimana? Kau sudah mendapat informasi terbaru, Luhan?”

“Oke. Satu jam lalu, aku baru mengirim mata-mata dan kini mereka sedang beraksi. Bersabarlah. Tapi, aku ingin kau tahu!” Sehun menautkan alisnya. Ia menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh rival-nya ini. ia masih menatap hiruk pikuk kota.

“Tell me! All of, Luhan!”

“Ini bukan ide bagus. Tapi kuyakin 100% bahwa Dia menetap di Paris  saat ini.”

              Sehun membelakkan matanya. Nafasnya memburu dan tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras dan  terlihat diwajah ‘tampannya’.

             Pria ini bangkit. Ia menyambar jas hitamnya dan kunci mobil lalu menghilang dibalik pintu ruangannya Mengacak-ngacak rambut hitamnya yang sedari rapi menjadi berantakan. Tapi percayalah, jika ‘itu’ membuat Sehun semakin tampan dan Errr…

              Sang sekretaris-nya, terlonjak kaget. Tiba-tiba saja bos-nya meninggalkan ruangannya. Pria itu sudah tahu jika hari ini tak ada rapat penting. Tapi, dengan seenak bokongnya Sehun pergi dan ia tak tahu harus memberi alasan apa pada karyawan lain jika tahu Bos-nya tidak ada.

              Sehun memencet tombol lift dan masuk kedalam.  Ia berada dilantai 10 kantornya dan menekan angka 0 sebagai basement. Lift terbuka dan ia berjalan cepat melewati area basement mobil.Ia mengemudikan Lykan Hypersport Silver nya lalu melaju meninggalkan basement kantor. Super car asal timur tengah yang dikemudikan Sehun melaju dengan kecepatan 350.9 km/jam. Jalanan Paris sepi dari kendaraan, hanya beberapa pejalan kaki disepanjang trotoar jalan.  Lykan silver itu berhenti di depan pintu utama sebuah mansion. Sehun melirik jam tangan hitamnya. 10 detik waktu yang sehun gunakan untuk menuju tujuannya. Fabulous, sehun!

Sehun melangkah dan membuka pintu tanpa seizin sang pemilik.

“Apa ini rekor terbarumu,eum?”

              Sehun menoleh kesumber suara. Pria dengan kemeja putih dan celana hitam ini meneguk champagne-nya hingga tak tersisa. Sehun menghampiri pria tersebut dan duduk disofa. Pria itu menghela nafas berat lalu melihat sehun yang duduk disofa. ‘Itu Luhan’.

“Dia ada di Paris dan…” Luhan mulai angkat bicara dan Sehun menyelanya. “Bagaimana bisa? Kenapa aku tidak tahu?”

              Luhan menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Sehun tahu jika ia belum memberitahui pria ini? Bahkan pria dihadapannya ini gila kerja, man! Luhan mengumpat tak jelas takut-takut Sehun mendengarnya.

“Karena aku belum memberitahumu!” ucap Luhan sakartis. Ia memutar bola matanya. Sehun berdecak kesal. Tentu saja ia tersinggung.

“Ada 2 kemungkinan. Pertama, ia tahu jika target menetap di Paris. Kedua, karena ia tahu targetnya adalah kelemahanmu. Aku khawatir jika kemungkinan kedua itu benar adanya,” Lanjut Luhan. Tampangnya berubah serius. Ia meringis memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.

              Sementara Sehun, menatap datar beberapa berkas yang tergeletak dimeja. Ia sedang menahan amarahnya. Dan, ia juga merasa kecolongan. ia kini berada di Paris, tapi ia tak pernah kelewatan dalam hal ini. bagaimana bisa? Apa ia tidak bisa bergerak ditempat lain? Sehun merasakan pening dikepalanya.

“Aku harus maju mendahuluinya, Luhan! I won’t let go!” sungguh apapun tolong pria ini! amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Matanya berkilat tajam dan garis rahangnya mengeras. Ia mengatur nafasnya yang memburu.

              Luhan merinding usai Sehun berucap. Aura kelam seakan mencekik lehernya bahkan ia harus menahan nafas sesaat.

“What you are waiting for?” Luhan melempar selembar kertas keatas meja. Sehun meraih kertas itu dan menilisik isinya. Matanya membulat kala membaca kertas itu. ia melirik kearah Luhan yang menatapnya angkuh dengan tangan yang ia lipat didepan dadanya. What!

‘Kumerasa mati tiap hari

Menunggumu

Dan sepanjang ku percaya

Aku akan menemukanmu

Waktu t’lah menggiring

Satu langkah lebih dekat

Hatimu kepadaku

Aku mencintaimu’

TBC

Note:

Apa iniiii…!!!

Gaje? Aneh? Kaga nge-fell? Gak maksud?  (author mau pingsan) *plak*

Bener-bener diluar rencana!!! Duuuh! *pegang kepala sembari berdoa* (moga sehun selamatin eyke) *bugh* ups… maaf ya. Sebenarnya bukan gini alur nya, but why? Why? Why? (gue mulai sinting yaks)  (gue rada puyeng ni kepala) semoga kalian terhibur atau malah bertambah kejebur sumur karna mencoba mengerti nih cerita *plak* *bughbugh* aku pengen update seminggu sekali ato 2 kali. Doaian aja ya ^ogah dah^

Thanks for your attention!!!

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s