[EXOFFI Facebook] Bitch Burn (Vignette)| Jo Liyeol

17498451_1284600408324007_135923306468955089_n

Jo Liyeol’s present ©2017

Tittle : Bitch Burn ( you started first, damn )

Cast : Park Chanyeol, Oh Nayoon (YOU/OC), Oh Sehun.

Warning! : OCC || AU || T+ || Typo || Vignette

Genre : School life—Slice of life.

Let’s begin!

__________________________________________________________

Debum langkah menggema di sepanjang koridor. Oh Nayoon, gadis itu terbirit kencang sekali menembus potongan ubin yang ditapakinya tanpa lelah.

Matanya memicing tanpa peduli, wajahnya sudah memerah dan gulungan di puncak kepalanya bergoyang-goyang nyaris lepas. Di lorong yang panjang buat kesekian kali ia menoleh ke belakang, mendapati siswa itu masih mengejarnya tanpa ampun.

Graham Nayoon bergemelatuk kesal, “Bangsat!” mengumpat tipis dilanjut kembali fokus mempercepat laju larinya.

Sedangkan di belakang sana, Park Chanyeol dengan segenap ketampanannya melebur dalam emosi jiwa. Almamater sekolahnya tersampir di bahu, ujung kemeja yang ia kenakan lepas dari celana—ini celana training omong-omong; bahan katun seragam sekolahnya entah ia kemanakan, dan surai di kepalanya berantakan bukan main.

Demi menggeret Nayoon ke lubang neraka, ambassador sekolah ini rela mengejar gadis itu sambil bertelanjang kaki persis orang gila.

Aksi kucing-kucingan mereka sebenarnya dibulai hanya karena masalah sepele. Di mana Chanyeol beserta kawan-kawan klub basketnya siang tadi sedang sibuk berkumpul di lapangan indoor, memperebutkan bola demi mencetak nilai individual. Dan Nayoon muncul membawa paperbag berisi roti isi juga sebotol air mineral; gadis cantik yang dikenali satu sekolah adalah siswi urakan dan luar biasa barbar. Ini sebab mengapa di masa SMUnya Chanyeol menghindari anak itu, cukup kenal, tanpa mau bergaul lebih dekat.

Tapi rasionalitas berkata beda tatkala kenyataan menyatakan; bahwa gadis itu saudara kembar sahabatnya, Oh Sehun; ambassadour lain yang berada dalam satu eskul dengannya. Maka ini penyebab baru mengapa Chanyeol mesti mau bergaul lebih dekat dengan Oh Nayoon.

Walau justru hal ini yang menjadikannya anak lelaki paling idiot satu semesta.

“Dapat kau!” seruan si Park mengudara ketika jemari panjangnya berhasil mencengkram kerah belakang Nayoon. Mendorong gadis itu hingga terpojok di dinding kosong.

Si Oh mendongak menghindari wajahnya menyium tembok, ia memberontak namun yang ada kedua lengannya dicengkram dan terkunci kuat di belakang punggungnya sendiri. Oke, ia merasa seperti bandar narkotika yang digerebek pasukan khusus sekarang.

“Sialan! Biadab kau, Park Chanyeol—lepaskan! Berani-beraninya—YA!” racauan gadis itu terhenti saat Chanyeol menyentak cengkramannya tanpa perasaan. Membuat gadis itu menghimpit dinding makin dalam.

Sumpah, ini kali pertama ia memperlakukan anak perempuan begini kasar. Sepanjang hidup Chanyeol sangat menghargai kaum ibu beserta titisan hawa yang lain, tapi tolong … kecualikan buat Oh Nayoon!

“Berikan ponselmu!” Chanyeol menggeram, amarahnya sudah berada di puncak ubun-ubun. Genggamannya makin menguat membuat Nayoon mendesis sakit—peduli setan, kalaupun tangan ramping gadis ini remuk dalam satu cengkramannya, sungguh Chanyeol sama sekali tidak peduli.

“Tidak akan!” jawaban gadis itu menyalak tak mau kalah, “Sampai perutmu sembelit juga tidak akan aku kasih! Mampus saja sana!”

Sialan, gadis ini mau mempermainkannya hah?

Chanyeol memiliki kontrol diri yang sangat baik. Tapi tidak tau ke mana perginya artian itu tatkala emosi menggerayap saat ini, “Perempuan sinting! Kubilang berikan!” ia berteriak tanpa alih-alih, wajahnya memerah di penghujung kesal.

Namun tanpa gentar atau sekedar gemetar tipis di tubuhnya, Nayoon justru membalas ikut emosi, “Dengar—akan kuadukan kau pada Sehun! Lepaskan aku!”

Chanyeol menggemeratakkan grahamnya, memicing sinis dan kembali menyentak Nayoon menghantam dinding, “Brengsek, kau yang cari masalah duluan!”

Gadis itu mengaduh tipis, tidak sudi memekik atau bahkan menjerit meski tubuhnya terasa nyeri luar biasa. Haram baginya membuat anak lelaki semacam ini merasa menang, “Apa? Aku? Kau yang mulai, Park! Kau yang menumpahkan bekal yang kubuat untuk abangku!”

Si Park mengernyit, dahinya bergaris-garis tidak terpukau. Merasa heran sejenak sebelum akalnya kembali sembuh, “Syaraf otakmu sudah kacau, hm? Itu cuma roti yang diisi selada!” ia mengambil jeda buat bernapas, mengendalikan pompa dadanya yang berdentum keras sekali, “Dan kerana itu, kau memotret selangkanganku yang kau siram air mineral?! Demi ayam! Kepalamu itu isinya apa, hah?!”

Nayoon diam sejenak tatkala gemas sendiri buat menggigiti bibir bawah serampangan, sesaat, sebelum bersungut-sungut murka, “Ya! Setidaknya aku buat itu dengan perasaan! Kau mau tanggung jawab kalau Sehun mati karena makan siangnya kaubikin mencium lantai?!”

Yang disambut seruan tak kalah kencang dari Chanyeol, “Sehun malah bakal mati kalau sampai roti gosong penuh perasaanmu itu masuk ke pencernaannya!”

Nayoon mendengus—sialan, bedebah jelek ini mau meremehkannya hah?!

Sepasang obsidian gadis itu sudah membara-bara atas emosional. Kembali menggerakkan tubuhnya brutal buat melepas diri, namun sama sekali tak bekerja karena kekuatan Chanyeol sungguh jauh di atasnya. Hingga ia menghela napas napas berat dan berhenti brontak, “Tau apa kau?!”

“Dia sahabatku!”

Jawaban yang sukses mengundang bola mata Nayoon berputar culas. Dengan sama tak terpukaunya siswi itu membalas jengah, “Dia abangku!”

Namun timpalan kesal Chanyeol justru membuat dadanya bergerumuh, “Kau perempuan gila biang onar!” jeda saat Nayoon dapat rasakan si Park memicingkan mata penuh cela di belakangnya, “Aku kasihan padanya punya adik kembaran sepertimu,” mendecih tipis sekedar berkata dalam intonasi penuh sindir sambil mengagguk-angguk sok paham, “Pasti hidupnya sulit sekali.”

Perkataan yang mengumandangkan jiwa kanibalisme Nayoon menyala-nyala, “Bangsat—lepas!” kembali berontak sekuat tenaga dengan isi kepala yang mendidih, “Kuhajar kau, Park! Awas saja!”

Sejenak Chanyeol sempat terpukau dengan bagaimana kekuatan Oh Nayoon; nyaris membuatnya kepayahan menahan gerak gadis itu. Namun sebagai lelaki, kekuatan dominannya sama sekali tak sudi tergoyah. Maka ia maju selangkah makin menghimpit tawanannya, sebelah tangan yang mencengkram kerah Nayoon sengaja ia lepas buat bertumpu di tembok sebelah kepala siswi itu. Mengunci pergerakan si Oh tanpa jengkal sama sekali, terjepit tembok di depannya dan raga Chanyeol di belakang. Dan siswa Park itu memperparah keadaan dengan berbisik di sisi telinganya penuh ejek, “Coba saja kalau bisa!”

Lalu hening menggelayut mana kala Nayoon terus berontak dari Chanyeol yang tak terbantahkan. Di sisi lain entah mengapa melihat usaha gadis ini yang kelewatan, mengundang senyum tipis terkulim di bibir si Park tanpa sadar.

Chanyeol masih membiarkan Nayooon melakukan seribu satu usahanya, sampai di mana ia merasa bahwa kelakuannya terasa berlebihan buat seorang gadis ramping tak berdaya. Jadi ia menghela napas sejenak, mengambil keputusan dewasa buat menyudahi kekanakan mereka, “Terakhir kali. Janji bakal kulepaskan, dan aku akan mengampunimu,” jeda, lagi-lagi ia memajukan kepala berbisik kesal di telinga kiri si Oh, “Tapi berikan ponselmu pada—“

“Park Chanyeol!”

Kalimatnya tersela saat vokal familiar itu mengambil alih atensi mereka. Lantas Chanyeol menarik wajah buat menoleh ke sumber suara dari arah lain telinga kiri Nayoon, dan gadis dikungkungannya hanya mendelik dari wajahnya yang mendongak ke langit-langit.

Hanya untuk mendapati Oh Sehun yang membeku di tempat, dengan pandangan menerawang teruntuk mereka.

Chanyeol mengedip sesaat, masih mencoba memahami ada apa dengan ekspresi kawannya. Sampai di mana ia juga Nayoon sadar bersamaan, kalau posisi mereka bisa mengundang kesalah pahaman ambigu yang fatal.

Terbukti dari auman Sehun tiba-tiba menggema di sepanjang koridor, “Brengsek! Apa yang kau lakukan pada adikku, hah?!”

Pada akhirnya mereka digeret ke kandang intelijen anak-anak basket. Chanyeol yang menjadi terdakwa, dituntut dengan sadis oleh Sehun atas kelakuannya. Dan Nayoon yang seakan menjadi korban, bersila di sebelah si Park untuk mengaku telah dilecehkan seperti apa.

Tapi keduanya cuma bisa bungkam dan menggeleng ketakutan di bawah emosi Oh Sehun yang menyala-nyala dramatis, mendominasi isi lapangan indoor beserta seluruh anggota klub dalam lingkup afeksinya.

.

.

.

finish.

Personal blog; Jo Liyeol’s Fantasy [ https://joliyeol27.wordpress.com/ ]

[31-03-2017]

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI Facebook] Bitch Burn (Vignette)| Jo Liyeol

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s