OBLIVIATE [1] ● PLAN by Heena Park

obliviate

Mia hanya berjuang untuk Baekhyun.

Meskipun harus kembali sebagai seseorang yang bukan siapa-siapa, ia tidak masalah.

.

A Fanfiction

by

Heena Park

.

Byun Baekhyun-OC’s-Kim Joonmyeon a.k.a Suho

Others.

.

Romance-Action-Crime-Marriage Life-Adult

PG-17-Multichapter

.

Notes : FanFic ini juga aku share di WATTPAD

.

.

CHAPTER 1 ● PLAN

Sudah hampir dua jam berlalu dan aku belum juga dipanggil untuk wawancara. Memang antrean pendaftar calon asisten pria bernama Suho ini tidak main-main panjangnya, dan baiklah, otakku terus berpikir kenapa pendaftaran seperti ini dilaksanakan di sebuah kelab malam?

Aku bahkan tidak tahu apa yang akan dikerjakan oleh asistennya, melihat bagaimana cara pria itu melakukan test wawancara bodoh di tempat yang tak wajar sudah membuat pikiran negatifku beterbangan.

Ayolah, apalagi yang diinginkan pria seperti dia kalau bukan hal itu? Asisten apanya, pasti dia hanya mengada-ada!

Tapi baiklah, kucoba meyakinkan diri bahwa apa yang kulakukan ini hanyalah bagian dari sandiwara. Aku tidak benar-benar menginginkannya, aku hanya ingin mencapai tujuan utamaku melakukan semua hal gila ini.

Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan, Suho rupanya menyewa kelab malam hanya untuk kebutuhannya, atau mungkin dialah yang memilikinya? Entahlah, aku tidak begitu peduli. Sepanjang antrean hanya terlihat para wanita dengan berbagai macam gaya, tentu saja mereka berusaha menonjolkan kecantikan serta kemolekan tubuhnya, bahkan wanita berambut ombre di sampingku sudah empat atau lima kali membetulkan dandanannya.

Sementara aku?

Dress sialan bewarna hitam yang mau tak mau mengekspose sebagian tubuhku benar-benar tidak nyaman. Aku tahu semenjak kedatanganku beberapa waktu lalu para bodyguard di tempat ini sudah melemparkan pandangan tertarik padaku. Yah, mungkin kalau aku gagal dalam test wawancara ini mereka akan memangsaku.

Ditambah lagi heels setinggi lima belas senti yang menghiasi kakiku hingga serasa kaku. Aku memang bukan gadis tomboy tapi berpakaian seperti wanita murahan juga bukanlah gayaku.

“Sofia Hailey.”

Ah, rupanya aku dipanggil.

Segera kubergegas memasuki ruangan di belakang dua orang bodyguard serta seorang wanita berparas cantik yang bertugas memanggil calon peserta test wawancara. Percayalah, lagi-lagi bodyguard itu melihatku, mereka bahkan tak malu melemparkan tatapan mesum seperti itu. Memalukan!

Aku hampir tergelak menatap sosok pria yang langsung menyambutku kala melangkah ke ruangan. Tatapannya tajam, ia duduk di sofa yang tepat menghadap ke pintu, bahkan dalam satu garis lurus.

Ia tampan, sangat tampan, kelihatannya pria berpendidikan tinggi. Kemeja hitam yang membalut tubuhnya juga terlihat mahal.

Kim Suho.

Papan nama di atas mejanya menuliskan itu, otomatis senyum kemenangan tergambar di wajahku begitu saja.

Miss. Hailey.”

Ia memanggil namaku, sontak aku berjalan mendekat dan duduk di hadapannya. “Yes, sir.”

Ia mengamatiku dari ujung rambut sampai ke dada karena bagian bawahku tertutup oleh meja kerja. Selama beberapa saat ia kelihatan menimang-nimang sebelum kembali mengucapkan beberapa patah kata.

“Dari mana asalmu?”

Aku memang bukan orang Korea murni. Ibuku berasal dari Perancis, sementara ayahku dari Korea.

“Canada, sir.”

Jelas aku harus berbohong padanya, mengatakan yang sebenarnya sama saja dengan bunuh diri.

“Katakan, apa keahlianmu?”

“Keahlian?” Aku terdiam, sebenarnya keahlianku sangat banyak. Aku bisa menggambar, berkuda, menyanyi, menari, memasak, menembak, memanah, bermain catur, banyak yang kukuasai.

Pria itu bangkit dari kursinya dan berjalan ke belakangku. Ia kemudian mendekatkan wajahnya kepadaku dari samping. “Bagaimana dengan menembak?”

Demi apapun! Ia sangat mendominasi keadaan hingga terasa mencekam. Aku bahkan seolah tak mampu menggerakkan kepala untuk sekedar menengok. Kutelan salivaku perlahan dan menggeleng, “Saya tidak bisa menggunakan benda seperti itu, sir.”

Bravo!

Aku harus memanipulasi segalanya. Aku hanya gabis biasa—sangat biasa—yang hanya memiliki keahlian seadanya.

“Saya…bisa memasak, menjahit dan menari, sir.”

Ia menyeringai mendengar jawabanku kemudian menarik tubuhku untuk berdiri dan mendorong punggungku keluar dari ruangan ini. Sebelum menutup kembali pintunya, Suho berucap, “glad to see you, Miss. Hailey.”

 

 

“Noona!”

Aku hampir melompat saat mendengar teriakan dari belakang. Taeyong—tetangga sekaligus pria yang sering membantuku—berlari menghampiri ke halaman sambil membawa sebuah amplop coklat.

Aku mendecak, “Jangan lari-lari seperti itu. Kau bisa tersandung nanti,” ujarku mengingatkan. Yah, walau usia kami hanya berbeda dua tahun namun sikap kekanakan masih melekat erat dalam diri Taeyong.

“Ada apa?” ucapku lagi.

Taeyong mengangkat amplop coklat di depan mataku. “Ini, seseorang menitipkan surat ini padaku, katanya sangat penting.”

Surat?

Segera kuambil amplop tersebut dari genggaman Taeyong dan membukanya perlahan. Tidak ada alamat pengirim di amplop, mungkin di dalam, entahlah. Aku langsung membulatkan mata begitu mengetahui bahwa surat ini datang dari Suho. Ya, pria yang kala itu melakukan wawancara padaku.

“Diterima? Apa kau melamar pekerjaan, noona?”

Rasanya aku ingin melompat dan mengatakan pada seluruh dunia bahwa kerja kerasku selama ini berhasil! Aku menengok dan menggoyang-goyangkan kedua bahu Taeyong kencang. “Aku berhasil! Aku berhasil mendapatkannya!” teriakku antusias, sementara Taeyong yang awalnya kebingungan berakhir dengan mengikuti gerakanku, ia ikut tertawa bersamaku walau tak tahu apa yang tengah kami bicarakan sebenarnya.

Ini awal yang bagus!

Bahkan sangat bagus!

Aku tidak menyangka akan berhasil!

Mia Alexandra Savannah, bersabarlah sebentar lagi keinginanmu akan menjadi kenyataan!

 

 

First Day.

Kami bertiga memasuki sebuah rumah yang sebenarnya lebih cocok dibilang istana. Pagar tinggi besar menutupi seluruh bagian rumah, aku bahkan tak bisa melihat seperti apa bentuk rumah ini dari luar gerbang.

Omong-omong, mengenai asisten yang kubicarakan tempo hari, aku sempat berpikir hanya akan ada satu orang yang berhasil, namun aku salah, rupanya ada aku, Lucy dan Jisoo yang diterima.

Aku ingin bertanya pada mereka tentang pekerjaan asisten di tempat ini tapi tidak jadi karena mungkin mereka akan merendahkanku dan menganggapku bodoh, baiklah, aku hanya harus mengikuti arus dan bersikap seolah tahu segalanya.

Welcome, girls.”

Seorang wanita cantik keluar dari balik pintu. Mulai dari cara berjalan hingga pakaiannya kelihatan sempurna, ia wanita yang berkelas, tapi tunggu dulu, kenapa wanita berkelas bekerja di tempat ini?

“Perkenalkan, saya Katrina Guadalupe, mentor kalian selama satu bulan ke depan.” Ia berhenti sebentar dan mulai berjalan mendahului kami. “Asisten dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan asisten perkantoran. Kalian harus mengikuti Tuan kemanapun, tentu saja tidak bersamaan. Dalam satu Minggu, kalian harus bekerja dua kali, jika mendapat kesempatan spesial dan Tuan memilih salah satu dari kalian, maka kalian akan bekerja selama tiga hari.”

Aku masih tidak mengerti dengan apa yang harus kukerjakan, sungguh.

“Kalian harus menuruti apapun yang diinginkan Tuan.” Ia berbalik secara tiba-tiba. “Dan kalian dilarang keras untuk menyentuh Tuan sedikitpun, kecuali beliau-lah yang menyentuh kalian.”

Oke, tidak boleh menyentuh. Lagipula aku juga tidak berniat menyentuh pria itu sedikitpun.

“Selama bekerja kalian harus tinggal di sini seperti yang telah tertulis di surat kemarin. Kalian juga tidak boleh ikut campur dalam urusan keluarga mereka, tidak boleh melawan ataupun mengulur waktu. Bila kalian berani melakukan kesalahan, maka nyawa kalianlah yang menjadi taruhannya.”

Katrina mendekatkan wajahnya padaku dan berbisik, “Dan jangan pernah jatuh cinta pada salah satu anggota keluarga ini, sekali lagi, nyawa kalianlah taruhannya.”

Bulu kuduku berdiri kala Katrina mengatakan segalanya dijamin dengan nyawa. Apakah nyawa manusia begitu tidak berharga bagi mereka?

“Han Jisoo hari Senin dan Kamis, Lucy Kim hari Selasa dan Jum’at, sementara Sofia Hailey hari Rabu dan Sabtu. Sekarang kalian akan diantar ke kamar masing-masing. Miss. Kim, hari ini adalah giliranmu untuk bekerja.”

Kami digiring ke paviliun yang berada tak jauh dari mansion ini. Katrina bilang asisten hanya boleh pergi ke mansion saat tengah bekerja, kami dilarang berkeliaran di sana bila tak berkepentingan.

Kebetulan kamarku memiliki jendela yang langsung menghadap ke sisi kanan mansion. Hal ini tentu cukup menguntungkan bagiku karena bisa mengawasi diam-diam. Walaupun begitu, tetap saja aku akan mencari cara agar bisa tinggal di sana menyelesaikan apa yang kuinginkan lalu pergi.

Ku keluarkan dan kutata pakainku di lemari kayu mahoni bewarna coklat kehitaman ini. Setelahnya, kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan, memastikan kalau tidak ada kamera pengintai ataupun penyadap suara. Oke, aku aman sekarang.

Ku keluarkan ponsel dari saku dan mengirim pesan pada Siwon.

 

‘To : Siwon

kuhArap pekerjaanku bisa MembANtu keuangan keluarga.’

 

Send.

Tak lama kemudian ponselku berdering, cukup mudah ditebak, pasti balasan dari Siwon.

 

‘From : Siwon

TEMUI AKU NANTI MALAM DAN Kita Akan membUat pestA untuK merAyakaN diMulainya pEkerjaaN barumu DengAn semPurnA dan berharap segalanya berjalan lancar Tanpa KesAlahaN agar kAu tidak Lagi dipecAT seperti sebelumNYA.’

 

Senyuman simpul muncul begitu saja di bibirku. Untunglah sampai sejauh ini aku berhasil dan tidak digantikan oleh wanita lain yang mungkin akan mengambil kesempatan untuk menggodanya.

Pfft..

Orang yang bekerja dalam bidang sepertiku memang kelihatan berkelas, tapi sesungguhnya beberapa dari mereka tidak lebih baik daripada jalang.

Hentikan, aku tidak boleh terlalu banyak membatin orang lain. Aku harus fokus pada tujuanku ke sini.

Kuletakkan ponselku di atas kasur lalu membuka gorden jendela. Aku hampir melompat ke belakang kala kedua mataku mendapati sosok yang selama ini begitu kurindukan. Seseorang yang akhirnya memaksaku melakukan semua ini, seseorang yang dulu kukira telah pergi, seseorang yang bertahun-tahun lalu sempat mengisi hari juga hidupku.

Dan kini ia tengah berdiri di sana, di pinggir kolam renang sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku. Celana putih berpadu dengan kemeja biru muda kelihatan cocok di badannya. Lelakiku yang sempurna.

Wajahnya tak berubah, kulitnya tak berubah, bahkan rambutnyapun juga masih menggunakan gaya yang sama. Namun….apakah perasaannya padaku juga tidak berubah? Atau dia telah melupakanku untuk waktu yang lama?

 

 

TO BE CONTINUED

Iklan

21 pemikiran pada “OBLIVIATE [1] ● PLAN by Heena Park

  1. waahh dari pesan ke siwon ada pesan lai. wkwkwk pesan dalam pesan alat apa yg dimaksud. aku langsung baca pas tau cast baekhyun aw aw ku tunggu kelanjutan yg ini. semangat

  2. Apa lelaki itu baekhyun ? Apa hubungan mia sama lelaki itu ? Apa mia punya maksud sendiri dengan melamar erja sebagai asisten suho ?
    Ditunggu chapter berikutnya .

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s